Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Art Not A Crime © Furasawa99
.
.
Happy Reading!
.
.
Brak
Prang
Tanpa sengaja Sakura menggeser bingkai foto keluarga yang diletakkan di sisi telepon. Bersama itu juga Sakura menjatuhkan teleponnya. Sakura terkejut. Dua lelaki yang sejak tadi mengetuk pintu rumah telah mendobrak kasar pintu itu. Tubuh Sakura bergetar, dia kaget bukan main. Dia juga tak tau apa yang harus dilakukannya sekarang. Walau begitu telinganya tetap mendengar suara Gaara yang terus memanggilnya dari seberang telepon. Sakura ingin menjerit, namun melihat tatapan menusuk dari dua sosok di depannya membuat suaranya seolah enggan keluar melewati tenggorokannya. Salah satu lelaki berambut klimis itu tampak menyeringai begitu mengacungkan pisau lipatnya. Mata Sakura membulat melihat noda darah pada pisau lipat kecil itu.
"Mati kau!"
Dor
.
.
.
Sakura membuka matanya. Dia merasa sudah pingsan sejak mendengar bunyi tembakan timah panas mengejutkannya. Iris emerald gadis yang terbaring di atas sofa ini membulat memandang sosok yang duduk di sofa di depannya. Seorang perempuan sedang sibuk memasukkan peluru ke dalam pistolnya.
"K-kau? Inuzuka Hana kakaknya Kiba?" tanya Sakura ragu.
Sosok wanita itu mendongak dan tersenyum ramah. Dia segera mengemas kembali pistol-pistolnya kemudian memandang Sakura lagi.
"Hai'. Aku diminta Gaara menjaga kediamannya dari luar sampai dia pulang."
"Kau seorang polisi? Dan kau benar-benar diminta untuk menjagaku di sini?" tanya Sakura setengah tak percaya.
"Ini bukan sekedar diminta. Apa yang aku lakukan adalah melindungi kediaman Gaara sebagai tim penyidik dimana adik tersangka kasus Akasuna Corp. tinggal sementara." jelas Hana yang sontak membuat Sakura menunduk. Dia merasa sedih manakala kasus kakaknya disebut.
Beberapa saat kemudian, Gaara turun dari lantai atas disusul Temari yang terus memandangnya dengan raut penyesalan.
"Maaf karena aku meninggalkan Sakura sendiri. Aku janji itu tak akan terjadi lagi." ucap Temari sambil menyusul Gaara ke ruang tamu tempat Hana dan Sakura duduk.
"Kau bisa pulang sekarang, Hana-san. Arigatou gozaimasu." ucap Gaara yang tak mengindahkan ucapan Temari.
Hana beranjak bangun dan mengangguk paham.
"Ngomong-ngomong, mereka berdua berhasil lari." ucap Hana yang langsung disusul gumaman bingung Sakura dan Temari.
"Soal itu, untuk ke depannya itu urusanku." sahut Gaara kalem. Pandangan iris azurenya diarahkan menatap Sakura. "Sakura-san, lekaslah tidur. Besok pagi kau ikut aku pergi. Kita harus-"
"Kapan aku bertemu Sasori nii-san? Aku yakin dia bukan pelakunya. Aku harus bertemu dia." Sakura menginterupsi. Dia sudah sangat gemas dengan kejadian-kejadian beberapa hari ke belakang. Dia benar-benar ingin bertemu kakaknya setelah cukup lama di sini.
Gaara memijat pelipisnya bingung. Dia bingung mau mulai darimana penjelasan untuk gadis yang berisik itu.
"Kami semua juga sedang urus kasus percobaan pembunuhan Jaksa Hyuuga Neji, Sakura-chan. Hari ini puluhan penghuni mansion Hyuuga termasuk Hyuuga Hinata merenggang nyawa lantaran mempertahankan kebenaran kasus ini. Kau harus tenang, Neji hanya akan menjatuhkan orang-orang yang benar-benar bersalah," Hana menghela napasnya lelah. Mata tajamnya memandang Sakura dalam. "Kau juga harus paham betapa khawatirnya kami karena pembunuhan ini. Ini ancaman."
Sakura kembali tersentak. Sakura mana tahu kalau dua orang tadi benar-benar pembunuh? Sakura juga tak tahu kalau pembunuhan ini juga keberlanjutan dari kasus Akasuna Corp. Sakura terkejut bukan main. Dia bahkan tak percaya jaksa yang notabene menjatuhkan setiap tersangka pelanggaran hukum pun diancam sejauh ini. Seadil itukah sosok Hyuuga Neji itu hingga sangat dibenci oleh para penjahat yang sebenarnya? Dan sehebat itukah intelegensi seorang Rei Gaara sampai-sampai para pembunuh datang untuk mengancamnya guna mencegah penyelidikan berjalan lancar?
"Gomen. Aku terlalu egois," Sakura menunduk dalam. Digigitnya bibir bawahnya pertanda menyesal. "Aku turut berduka atas kematian korban pengancaman yang tak manusiawi itu." imbuhnya lirih.
"Daijoubu. Besok kau temani aku temui pakar ekonom jenius di kota Iwa ya?" Gaara menepuk pelan pundak gadis beriris emerald itu.
"Pakar ekonom?" ulang Temari yang tak mengerti.
"Ya, pakar ekonom."
.
.
.
Di bawah terik matahari tengah hari, seorang lelaki bersurai pirang sedang berlari dengan seringaian lebar terpatri di bibirnya. Manik cornflower blue itu sesekali mendelik memastikan sejumlah orang di belakangnya berhenti mengejar. Benar saja, di bawah langit cerah Kota Iwa, untuk kesekian kalinya sosok itu berbuat ulah. Sosok yang biasanya melukis di atas kanvas sambil duduk di tepi jalanan kota, kini menyeringai puas karena sukses membuat pemilik toko yang temboknya dicoret-coret olehnya berlari terengah-engah mengejarnya. Seringaian itu semakin menukik tajam begitu mata birunya mendapati pemilik toko bunga yang mengejarnya kini berhenti.
Setelah beberapa lama ditinggal kabur 'Seniman Iwa' yang semakin menjauh, sang pemilik toko menghela napas kasar. Sedangkan gadis berambut hitam yang duduk di cafe outdoor tempat pemilik toko berhenti, terus memandangnya heran.
"Apa yang terjadi?" tanya Kurotsuchi yang mulai berjalan mendekati pemilik toko yang sedang mengatur deru napasnya.
"Cih, dia melukis gambar aneh di sembarang tempat lagi." jawab pemilik toko yang wajahnya semakin kusut. Kurotsuchi hanya mengangguk sekilas sambil ber-oh ria. Tak lama, ponsel gadis beriris onyx itu berdering.
"Moshi-moshi."
[Aku baru memasuki Kota Iwa. Beritahukan padaku ciri pakar ekonom itu.] ucap lelaki di seberang telepon. Kurotsuchi membulatkan matanya tak percaya.
"Nani? A-anda benar-benar akan memulai penyelidikan dengan bantuannya, Rei-sama?"
[Kurotsuchi, aku sudah katakan semuanya pada saat rapat kepolisian, bukan? Cepatlah! Aku sedang mengemudi.] Kurotsuchi mengangguk paham.
"Pakar ekonom itu adalah Deidara. Dia berambut pirang dikuncir kuda dengan warna mata biru. Sekedar informasi, aku baru saja bertemu dia-"
Tut tut tut
Lelaki yang bingung kenapa percakapan teleponnya berakhir segera melepas ponsel dari telinganya dan dipandangnya simbol pesan masuk yang menginformasikan bahwa pulsanya baru saja habis. Dan bersamaan itu pula iris azurenya membulat begitu menyadari mobil yang dikendarainya akan menabrak seseorang.
Ckiiit
Sakura tersentak. Dua insan beriris hijau itu sama-sama terkejut. Jika Gaara tak segera menginjak pedal rem sudah pasti seseorang yang berlari di tengah jalan itu tertabrak. Di depan sedan maroon Gaara, lelaki yang nyaris ditabraknya menatap mobilnya horror. Seolah terkejut karena hidupnya nyaris berakhir oleh sebuah sedan yang dikendarai oleh seseorang yang tanpa disadarinya sedang mencarinya.
Duagh
Krak
Deidara melesat pergi dengan kekehan puas. Dia baru saja melempar kaleng pyloxnya ke kaca depan mobil maroon itu. Songong? Oh, tentu.
Sakura yang melihat retakan kaca mobil di depan matanya hanya melongo. Gaara yang mendecih kesal tak pikir panjang untuk melajukan mobilnya mengejar lelaki berambut pirang itu. Mendengar ponselnya berdering, Gaara berdecak sebal sebelum menginjak pedal rem. Diangkatnya income call dengan wajah kusut.
[Rei-sama, apakah anda pengemudi mobil maroon dengan nomor polisi wilayah Konoha yang kacanya baru saja dilempari kaleng pylox?]
"Hah? Darimana kau tahu?" tanya Gaara gelagapan.
[Anda baru saja mengejar orang yang anda cari.]
"Apa maksudmu, Kurotsuchi?" Gaara mengerutkan dahi.
[Saya sebagai anggota badan kepolisian intelijen perwakilan Iwa akan mempertemukan anda dengannya. Kita bertemu di alun-alun kota malam ini. Akan saya pastikan alun-alun kota sepi dan dijaga aparat kepolisian.]
Tut tut tut
Gaara menjauhkan ponselnya dari telinganya. Pemilik manik azure itu memandang lurus jalanan. Kemudian, lelaki berambut merah maroon itu menghela napas.
Gaara mana tahu kalau lelaki tak tahu sopan santun yang melempar kaca mobilnya dengan kaleng pylox itu adalah pakar ekonom yang dicarinya? Dan lihat sekarang. Dia bahkan akan dipertemukan dengan pengawalan ketat di seluruh alun-alun mengingat ini demi mencegah terjadinya insiden yang sama dengan yang dialami Neji. Sekarang Gaara mengerti. Betapa rapuhnya Neji kala itu. Perlahan, kepalanya ditolehkan memandang Sakura. Sakura yang sejak tadi hanya duduk menghadap sisi jalan, langsung menoleh begitu menyadari Gaara memandangnya. Tak lama, senyuman manis merekah di bibir ranum pemilik manik emerald.
"Gaara-san, nani?" tanya Sakura yang menyambut tatapan Gaara.
Tanpa Sakura sadari, untuk saat ini, lelaki bermata panda itu sedang sangat mengkhawatirkannya.
"Iie. A-aku cuma mau bilang, kita akan menuju alun-alun. Kita akan temui orang yang akan membantu dalam kasus ini." jawab Gaara sekenanya. Segera dia menginjak pedal gas.
"Gaara-san, aku rasa kau tak harus terburu-buru. Santai saja. Lagipula, belakangan ini aku merasa kau sudah berbuat banyak." ujar Sakura pelan.
.
.
.
Di bawah pohon sakura yang kelopaknya beterbangan terbawa angin, seorang lelaki beriris cornflower blue menatap tajam pada seorang gadis berambut gelap yang tersenyum manis ke arahnya. Deidara, pemilik manik cornflower blue itu duduk di atas kursi yang di sisi kanan-kirinya dijaga oleh dua polisi berbusana sama. Kurotsuchi, gadis yang sejak tadi tersenyum kini terkikik geli.
"Oh ayolah, seorang polisi muda yang tak kalah tampan darimu akan tiba untuk menjemputmu. Tunjukkanlah senyum terbaikmu." ucap Kurotsuchi yang sejak tadi menggigit bawah bibirnya menahan tawa.
Sedangkan yang diajak bicara hanya memanyunkan bibir sebal.
"Untuk apa juga aku dijemput, hm? Lagipula, apa-apaan pengawalan yang seketat ini, hm?!" Deidara menggerutu sebal akibat jejeran polisi dengan pengamanan serius berada di sekelilingnya.
Kemudian, Kurotsuchi berjongkok dan mendongak memandang Deidara lekat-lekat.
"Konoha membutuhkanmu. Aku harap kau ingat siapa kau sebelum ini."
Mendengar pernyataan itu, Deidara menautkan kedua alisnya. Mata birunya diarahkan memandang langit. Beberapa saat kemudian, dia membuang muka.
"Cih, aku tak mau dipakai membantu siapa pun, hm!"
Setelah penegasan Deidara yang cukup untuk membuat hening sekitar tempat itu, bunyi derap langkah mendekat. Kurotsuchi yang juga mendengar kini beranjak berdiri. Gadis beriris onyx itu berbalik dan menunjukkan senyum cerahnya menyambut sosok yang juga ditunggunya.
"Rei-sama, selamat datang."
Pemilik manik azure yang diberi sambutan hangat hanya mengangguk sekilas dan melanjutkan langkahnya menuju bangku tempat Deidara duduk.
"Deidara desu ka?" tanya Gaara mencoba ramah. Walau begitu raut dingin dan tegasnya tetap mendominasi.
Pemilik manik cornflower blue hanya membuang muka. Kurotsuchi yang gemas langsung menggerakkan kepala Deidara agar menoleh kepada Gaara.
"HEY! Hmph-"
"Deidara-san, cobalah untuk lebih ramah kepada Rei-sama!" titah Kurotsuchi yang sudah naik pitam.
"Iie," Gaara menatap Deidara lekat-lekat. "Aku mau kita bekerja sama. Aku yakin Sasori bukan koruptor." imbuh Gaara to the point.
Kurotsuchi mengangguk mengiyakan. Sakura yang sejak tadi diam kini semakin diam. Dia menunduk dalam. Lain dengan Deidara yang justru tertawa miris.
"Kalau memang dia terduga koruptor kenapa tidak biarkan jaksa atau semacamnya langsung menjatuhi hukuman saja, hm?" tanya Deidara sakratis.
Sakura langsung mendongak. Mata hijaunya memandang Deidara tidak percaya. Kemudian dilihatnya Gaara yang memijat pelipisnya pertanda pikirannya sudah kalut. Dan dilihatnya Kurotsuchi yang memandang Deidara tajam. Jelas saja, Sakura pun sakit hati mendengar Deidara berkata semudah itu. Tapi dirinya sendiri yang tak mengerti seperti apa kasus kakaknya, bisa apa? Mata hijau yang kilau emeraldnya semakin redup itu kini menyendu. Mata Sakura berkaca-kaca tanpa disadarinya. Di saat ada orang-orang peduli seperti Gaara, Sakura justru miris karena juga ada orang tak mau tahu seperti Deidara. Kemudian, Gaara menghela napas kasar.
"Deidara-san, kalau kasus ini berjalan lurus dan benar kalau Sasori pelakunya, untuk apa percobaan pembunuhan jaksa harus terjadi?" balas Gaara tak kalah sakratis.
Mata hijaunya memandang Deidara tajam. Tentu saja kalimat Gaara lebih tajam dibanding pernyataannya. Deidara membulatkan mata tak percaya mendengarnya. Dia baru dengar kasus korupsi bisa berujung pembunuhan seperti itu.
"Apakah kau bohong?" tanya Deidara ragu.
Grep
Sakura menggenggam lengan kanan Gaara. Kedua tangan gadis bersurai soft pink itu bergetar. Gaara menoleh, kemudian dia terkejut mendapati Sakura menggenggam lengannya dengan wajah yang sudah dibasahi air mata. Sakura menangis tanpa suara.
"Cukup. Jangan berbuat apa-apa lagi. Berhenti membuatnya mengatakan yang tidak-tidak tentang Sasori-niisan tak peduli walau benar dia koruptor!" tegas Sakura disusul sedikit isakan.
Gaara balik menatap Sakura sendu. Dengan tangan kirinya, Gaara mengusap surai soft pink di depannya. Membersihkan surai lembut itu dari kelopak bunga sakura yang berguguran. Kemudian, dilepasnya genggaman Sakura pada lengannya. Kemudian tangan kanannya diarahkan untuk meraih telapak tangan kiri pemilik manik emerald.
"Wakatta. Awalnya kupikir caramu memandang setiap orang secara psikologis akan membantu. Tapi kenyataannya kepekaanmu kepada penegakan hukum terlalu minim." ucap Gaara sakratis. Dia bermaksud mengatakannya pada Deidara.
Sedangkan pemilik manik cornflower blue itu hanya menunduk. Membiarkan pemilik manik azure pergi meninggalkan alun-alun Kota Iwa dan raut kecewa Kurotsuchi serta sederet aparat pengawal di sana.
.
.
.
Di dalam sedan maroon yang dikemudikan Gaara, Sakura hanya diam memandang merah mega dari sisi jendela mobil. Dengan Gaara sadari, gadis bersurai soft pink di sebelahnya beralih memandangnya dari pantulan kaca jendela.
"Kenapa memandangku begitu, huh?" tanya Gaara spontan.
Sakura mengerjapkan mata sebentar dan menoleh.
"Eh? Siapa bilang? Untuk apa juga aku-"
"Apakah kau merindukan Sasori?" Gaara menginterupsi.
Sakura mengigit bawah bibirnya. Perlahan, gadis beriris emerald pun mengangguk.
"Bagus. Karena agenda kita besok adalah menjenguknya."
TBC
A/N:
Maaf karena momen GaaSaku & konflik fict ini masih belum seimbang. Fura masih sibuk urus konfliknya dulu. Maklum, Fura bukan author pro seperti kalian. *ditimpuk pisang*
Makasih EchaNM & Bang Kise Ganteng yang review chapter lalu. Makasih juga kalian yang masih baca, huahaha(?)
Ya sudah, Fura pamit. ^-^)/
Mind to Review?
