Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Art Not A Crime © Furasawa99

.

.

Happy Reading!

.

.

Dahi Shisui mengernyit mendengar laporan dari Shino bahwa seseorang berjubah tiba di kantor kepolisian Konoha untuk menemuinya. Tanpa pikir panjang, Shisui melangkah menuju halaman depan kantor tempat lelaki berjubah menunggu. Derap langkahnya semakin pelan begitu sudah sekitar dua meter dari lelaki misterius itu. Setelah celingukan sebentar, Shisui berdehem berpikir bahwa sosok yang menunggunya akan berbalik menghadapnya.

"Pertemukan aku dengan Haruno Sasori."

Nahas, Shisui mengerjapkan mata bingung mendengar titah dari sosok itu. Lelaki berjubah itu bahkan tak berbalik memandangnya.

"Siapa kau? Apakah kau pihak keluarganya?" tanya Shisui mencoba memancing. Kemudian, indera pendengarannya mendapati helaan napas dari sosok itu.

"Kau bisa anggap aku sebagai penasihat keuangannya. Aku harus bertemu dengannya."

.

.

.

Derap langkah antusias terdengar dari lapangan parkir kantor polisi Konoha. Gadis bersurai soft pink yang baru keluar dari sedan maroon itu tersenyum cerah pagi ini. Sejak sejam yang lalu dia sudah sangat semangat untuk bertemu kakaknya. Raut riang sudah pasti kentara di wajah cantiknya. Tanpa pikir panjang Sakura menuju receptionist.

"Shino-san, aku mau bertemu nii-san." ucap Sakura begitu mendaratkan tangannya di atas meja receptionist kantor kepolisian.

Di belakang Sakura, lelaki bersurai merah maroon berjalan menyusul. Aburame Shino mengangguk sekilas dan segera meraih buku tamu. Kemudian, jarinya mendekatkan kacamatanya untuk memperjelas.

"Seseorang datang menemuinya tiga puluh menit yang lalu. Kalian bisa menemuinya di kamar rawat kantor polisi."

Sakura mengernyit bingung.

"Kamar rawat?" ulang Sakura dengan nada khawatir.

"Jangan khawatir. Dia hanya demam kemarin dan sekarang sudah mulai pulih. Itu biasa untuk seseorang yang terhitung bulan akan menjalani sidang akbar." jelas Shino yang mengklarifikasi.

Berselang beberapa lama, Gaara langsung bergerak menggenggam telapak tangan Sakura membawanya mengikutinya. Tanpa Sakura sadari, Gaara sedang harap-harap cemas menduga-duga siapa yang datang menjenguk Sasori. Gaara berharap sosok yang menjenguk Sasori masih belum pergi.

BRAK

"Deidara-san?!"

"Sasori nii-san!" Sakura menghambur memeluk lelaki bermata sayu yang duduk di tepi ranjang.

Pemilik manik emerald itu tak menyadari keterkejutan Gaara begitu melihat sosok yang berdiri di sisi ranjang.

FLASHBACK

Merasa sosok itu memang harus menemui Sasori, Shisui membawanya ke kamar tempat Sasori dirawat. Lelaki yang masih tak menurunkan tudung jubahnya terus memandang sekeliling koridor kantor kepolisian dengan manik cornflower bluenya. Di perjalanan menuju kamar rawat, Deidara mencoba membuka percakapan.

"Hei, apakah kau berpikir Sasori itu benar-benar koruptor, hm?"

"Iie. Kalau dia koruptor, untuk apa ada orang yang dengan sadisnya melakukan percobaan pembunuhan jaksa yang notabene adalah yang menjatuhkan hukuman?" ucapan Shisui membuat Deidara tersentak. Lagi-lagi pembunuhan ini. "Tapi, aku selalu percaya pada hukum. Sehebat apa pun pembunuh menyembunyikan bukti, pasti itu tetap percuma. Dan bersamaan itu pula aku yakin sang pakar ekonomi itu akan menyelamatkan semuanya dalam kasus ini. Bukan cuma Sasori, semua penegak hukum bahkan Gaara dan Neji pasti akan merasa dihargai jika sang pakar ekonomi itu membantu memecahkan kasus ini. Dan juga, dengan demikian diharapkan orang-orang yang sudah mati atau mungkin akan mati dalam penanganan kasus ini tak akan mati sia-sia."

Cukup. Kata-kata penuh makna dan harapan itu membuat Deidara meneguk ludah. Deidara menunduk dalam sambil mengeratkan kepalan tangannya.

FLASHBACK END

"Aku tahu siapa yang harus diperiksa dalam kasus ini, hm." ucap Deidara tiba-tiba.

Seketika Sasori, Gaara, dan Sakura menaruh perhatian pada pemilik manik cornflower blue.

"Darimana kau tahu siapa yang harus kau periksa?"

"Jadi, kau baru percaya kalau kakakku bukan pelakunya?"

"Sebenarnya siapa kau yang datang dan mengaku-ngaku sebagai penasihat keuanganku?"

Abaikan pertanyaan Sasori barusan. Deidara berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Gaara dan Sakura.

"Mimik datarnya, mata sayunya, dan deru nafasnya lah yang menyatakan kalau dia sendiri tak tau apa-apa, hm. Dan aku tak pernah percaya dengan mudahnya pada orang yang tak pernah kulihat, hm." Deidara menjawab dua pertanyaan sekaligus.

FLASHBACK

Shisui memutar knop pintu kamar rawat Sasori. Sebelum benar-benar mendorong pintu agar terbuka, Shisui mendecih. Kenapa sosok itu tak kunjung menurunkankan tudung jubahnya, mungkin itu yang dipikirkan Shisui sekarang.

"Wakatta, hm." Merasa sangat ditunggu, akhirnya sosok berjubah itu menggerakkan tangannya untuk membuka jubahnya.

Shisui sedikit mengernyit melihat cat kuku lelaki itu.

'Sok berseni sekali dia.' gumam Shisui dalam hati.

"Watashi no namae wa Deidara, hm. Mantan pemimpin keanggotaan Badan Intelijen Iwa spesialis kasus perekonomian negara, hm." Deidara memperkenalkan diri setelah menurunkan tudungnya dan memandang Shisui yang mengerjapkan mata tak percaya. Shisui paham betul badan intelijen yang Deidara maksud. Itu adalah badan intelijen khusus bentukan Oonoki saat terjadi masalah perekonomian akbar di Iwa beberapa waktu lalu. Dan dalam kasus besar itulah nama Deidara sempat harum.

'Dia datang? Kupikir Gaara yang akan menjemputnya.' tanya Shisui dalam hati.

"Kau lama, hm!" Deidara mendahului Shisui membuka pintu.

Deidara menghampiri sosok yang terbaring di atas ranjang. Derap langkahnya cukup untuk membuat sosok yang tertidur itu terbangun.

"Sakura-chan, apakah itu kau?"

DEG

Deidara menghentikan langkahnya seketika. Napasnya serasa tercekat mendapati sosok yang akan dihampirinya menyebut nama itu. Nama gadis yang kemarin datang bersama Gaara. Gadis yang menangis meminta Gaara berhenti memohon padanya. Pada dirinya yang dengan acuh tak acuh menolak ajakan kerja sama.

Kini, Deidara berdiri di sisi ranjang menatap Sasori yang sedang duduk bersandar.

"Sasori-san, buktikan padaku kalau kau tak bersalah, hm." ucap Deidara pelan.

Sasori yang tak menyangka ada orang asing menanyainya hanya menggeleng lemah.

"Aku tak punya pilihan. Aku juga tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk membela diri."

Gubrak

Deidara merasa ingin terjungkal dalam waktu yang sama.

"Kau ini bodoh atau apa, hm?" sahut Deidara sewot. 'Tapi kau memang tak bohong, hm.' imbuhnya dalam hati. Deidara dapat menyadari nada kejujuran saat Sasori mengatakannya.

Sasori hanya menggaruk belakang kepalanya dengan kikuk. Dia seperti tak bisa apa-apa saat ini.

"Baiklah, silahkan tulis pekerja Akasuna Corp. yang kau kenal. Tulis semua namanya di kertas ini, hm." titah Deidara sambil menyodorkan secarik kertas dan sebuah pena dari saku jubahnya.

"Semuanya? Err, apakah kau tak bermaksud menyuruhku menulis nama orang lain yang pantas jadi terduga?" tanya Sasori ragu.

"Kalau tak tahu apa-apa, diam saja, hm! Aku yang tahu harus apa setelah itu, hm!" bentak Deidara yang langsung membuat Sasori melaksanakan titahnya.

Selama Sasori menulis, Deidara menatapnya lekat-lekat. Deidara memperhatikan setiap pergerakan lelaki bermata sayu itu. Tanpa Sasori sadari, Deidara tetap akan mengambil nama tertentu di kertas itu sebagai sampel terduga. Deidara akan melihatnya. Pemilik manik cornflower blue itu akan melihat bentuk tulisan tertentu yang merujuk pada terduga pelaku. Karena bagaimana pun, pandangan psikologis Deidara turut berperan dalam penanganan kasus ini.

FLASHBACK END

"Sakura, siapa yang menjagamu selama aku di sini?" tanya Sasori mengalihkan topik pembicaraan.

"Selama nii-san di sini, aku bersama Gaara dan Temari nee-san," jawab Sakura sambil tersenyum memandang Gaara. Namun kemudian pemilik manik emerald itu menunduk. "Tapi, aku mau nii-san cepat bebas dari sini. Aku tak mau terlalu lama merepotkan mereka." imbuhnya lirih.

Melihat itu, Gaara hanya diam. Baginya, ketidakadilan ini memang membuat Sakura jadi lebih dewasa. Namun tetap dia tak tega manakala gadis itu bagaikan terjebak di dalam sangkar. Tak bisa kemana pun demi mencegah kemungkinan buruk terjadi. Namun itu semua demi kebaikan semuanya.

"Kalian tenang saja. Sasori akan bebas. Mulai sekarang Deidara psikolog spesialis kasus keuangan juga di sini membantu," Gaara melirik lelaki bersurai pirang yang memandang selembar kertas yang dituliskan nama-nama oleh Sasori. "Bukankah begitu, Deidara-san?" ujar Gaara meyakinkan.

Sakura, Sasori, dan Gaara terus memandang Deidara yang masih diam. Lelaki pirang itu kini mengetukkan penanya di papan alas seakan-akan sedang menganalisis sejumlah nama. Kemudian, manik cornflower bluenya diedarkan memandang Sasori.

"Sasori-san, apa jabatan Hoshigake Kisame dalam perusahaan, hm?" Pertanyaan Deidara tentu membuat Sakura dan Gaara ikut memandang Sasori.

"Kisame? Dia itu cuma general manager divisi logistik." jawab Sasori kalem.

"Bagaimana dengan Hidan, hm?" tanya Deidara lagi.

Sasori membelalakkan matanya mendengar nama itu. Kemudian, alisnya tertaut dan menatap datar Deidara.

"Dia itu cuma office boy di gedung ekspor-import. Aku tulis namanya bukan berarti dia orang yang penting dalam perusahaan." jawab Sasori heran. Dia berpikir Deidara terlalu aneh hingga mencurigai nama Hidan. Padahal Sasori sendiri tak punya firasat dan gestur tertentu saat menulis namanya.

"Siapa yang merekrut Hidan sebagai office boy? Apakah kau tau, hm?" tanya Deidara lagi.

Sasori bersedekap seraya mendongak seolah menerawang. Manik cornflower blue di hadapannya terus memandangnya lekat-lekat bahkan sampai detail gesturnya sekali pun.

"Ah, Kakuzu. Kakuzu adalah komisaris perusahaan. Dia adalah pemegang saham yang paling dihormati dan belum lama ini pemilik perusahaan mengangkatnya sebagai CEO. Sebelumnya dia mengusulkan Hidan menjadi OB di sana secara cuma-cuma."

GREP

"Cih, mana ada perekrut OB cuma-cuma menjabat menjadi CEO, hm?" Deidara menarik kerah baju Sasori.

Sikap lancang Deidara cukup untuk membuat Sakura mengepal tangan geram. Gadis bersurai soft pink itu baru akan melabrak Deidara sebelum Gaara meraih pergelangan tangannya.

"Sakura-san, jangan emosi dulu." ujar Gaara kalem. Kemudian manik azurenya bergulir ke arah Deidara. "Deidara-san, apa kesimpulanmu?"

Deidara kini melepas cengkeramannya pada kerah baju Sasori. Sasori yang masih memandangnya bingung membuat Deidara muak dengan raut bodohnya. Kemudian Deidara menghela napas kasar.

"Agenda kita besok adalah mencari tau latar belakang Hidan, hm. Dimana tinggalnya, lulusan sekolah dimana, siapa keluarganya, semua bukti yang kulihatlah yang hanya akan membuatku percaya, hm."

"Apa maksudmu?" tanya Gaara yang mengangkat sebelah alisnya.

"Cepat atau lambat, berlarutnya kasus ini akan membuatmu dipertemukan dengan OB rekrutan cuma-cuma itu, hm."

"Kau mencurigai OB?" celetuk Sasori tiba-tiba.

"Aku bisa mencurigai siapa saja, hm. Bukankah aku sudah bilang aku hanya percayai apa yang kulihat?"

.

.

.

Sakura menggerutu sebal. Di dalam mobil Gaara, pemilik manik emerald itu terus memanyunkan bibir ranumnya. Dia merasa hari ini terlalu menjengkelkan, tujuannya untuk melepas rindu dengan kakaknya kini berujung waktunya yang terbuang percuma akibat pembicaraan penyelidikan yang tak dimengerti gadis yang awam akan kriminalitas.

"OB?! Dia membuang waktu kakakku yang mungkin akan dihabiskan untuk mengobrol denganku hanya untuk mencurigai OB?!" umpat Sakura kesal.

Gaara yang duduk mengemudi hanya memutar bola mata bosan. Berselang beberapa saat, dahinya mengkerut heran karena telinganya tak lagi mendengar umpatan dan gerutu gadis di sebelahnya. Saat dia menoleh, matanya membulat melihat keadaan gadis itu sekarang. Ya, gadis bersurai mirip permen kapas itu kini tertidur, memang terhitung dua jam perjalanan mereka ke rumah.

Setelah melewati beberapa belokan, Gaara menginjak pedal remnya begitu mobilnya melewati depan rumah. Sejenak, dipandangnya gadis bersurai soft pink di sisinya yang masih tertidur nyenyak. Pemilik manik azure itu pun tak ambil pusing dan segera menggendong Sakura keluar dari mobil.

Temari yang membuka pintu rumah menyambut mereka dan menitah Gaara untuk membawa Sakura ke kamar. Gaara menyanggupinya mengingat tak tega juga membangunkan pemilik manik emerald itu.

CKLEK

Temari mengulas senyum begitu memasuki kamar Sakura. Terutama saat dia mendapati Gaara menyelimuti Sakura dengan selimut tebal. Dipandangnya lelaki bersurai merah maroon yang tersenyum tipis di tepi ranjang. Temari sampai terkekeh sendiri melihat senyum manis Gaara yang ditujukan untuk putri yang tertidur itu. Gaara yang merasa diperhatikan pun menoleh.

"Temari nee-san, kenapa di sini?" tanya Gaara dengan alis tertaut.

"Eh? Etto, aku..." Temari menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ah, aku mau bilang tadi Neji kesini." imbuhnya lagi.

"Neji?"

FLASHBACK

Temari bersedekap sambil berdiri memandang sejumlah tukang yang dipanggilnya untuk mengganti pintu. Ya, penembakan yang dilakukan Inuzuka Hana tempo hari cukup untuk membuat kerusakan pada pintu rumah keluarga Rei. Kemudian matanya beralih pada lelaki berambut panjang yang berjongkok di depan daun pintu yang rusak dan tergeletak di teras.

"Neji-kun, kopimu sudah kuletakkan di meja ruang tamu. Kenapa kau tak masuk?" tanya Temari yang menghampiri Neji di teras. Sontak pemilik manik lavender pun berdiri.

"Temari nee-san, apa laporan Inuzuka Hana tentang percobaan pembunuhan yang sukses digagalkan kala itu?" tanya Neji sambil menatap Temari lekat-lekat.

Mendengar pertanyaan kritis jelas membuat Temari tersentak sendiri. Kemudian, sulung Rei itu memijat pelipis sejenak, mencoba mengingat laporan Hana yang diterima Gaara tempo hari.

"Dua pelaku adalah laki-laki. Salah satunya berambut hitam dan satunya lagi penuh uban. Dan lelaki beruban itu adalah yang membawa pisau li- apa?" Temari menggantung kalimatnya sendiri. Tatapan lekat manik lavender di hadapannya tak kunjung lekang bersamaan dengan napas Temari yang seolah tercekat. "Apa yang baru saja kukatakan? Itu bukan uban! Rambutnya memang..." Temari bergumam sendiri.

Praktis, lelaki beriris lavender pun mengulas seringaiannya. Tatapan lekatnya berubah melunak dan menampakkan mimik puasnya.

"Tepat sekali, secara tidak langsung kau baru saja menyimpulkan bahwa pelaku yang menyerang rumah ini adalah orang yang sama dengan yang menyerang kediamanku," Neji memperjelas seringaiannya membuat Temari mengernyit bingung. "Dan tidak menutup kemungkinan bahwa pemilik rambut kelabu ini adalah pemilik rambut yang sama yang juga rontok di TKP percobaan pembunuhanku yang beberapa saat lalu juga ditemukan Shisui sebagai barang bukti." imbuh Neji sambil menunjukkan sehelai rambut bagai benang perak yang kemudian diletakkannya di sapu tangannya yang kemudian dilipat dan dikantonginya.

"Neji-kun, a-apakah itu barang bukti?" tanya Temari yang matanya masih terbelalak tak percaya.

Tubuh Temari bergetar hebat. Baru disadarinya pembunuh Hinata dan penghuni Mansion Hyuuga yang lain adalah orang-orang yang belum lama ini datang dan akan membunuh Sakura. Kemudian, deret giginya gemertak geram. Ditatapnya Neji lekat-lekat. Tawa hambar pemilik manik lavender justru menyambut tatapan penuh rasa cemas itu.

"Jangan kaget jika akan ada lagi yang terbunuh," ujar Neji pelan. "Sidangku berhadapan dengan Sasori untuk menguji tuntutan akan berlangsung kurang dari sebulan. Berikan ini pada Gaara dan suruh dia laporkan hasil lab forensik DNA padaku secepatnya. Aku benci memberi tuntutan tanpa tau dasar buktinya." imbuh Neji sambil menyodorkan sapu tangannya -yang sudah diselipkan sehelai rambut kelabu- kepada Temari.

Walau ragu, Temari segera meraih sapu tangan itu dan menggenggamnya. Dia mengiyakan Neji yang akhirnya pamit pulang. Saat Neji beranjak memasuki mobilnya, Temari yang sedari tadi menunduk dalam akhirnya mendongak.

"Neji-kun!" seru Temari sambil berlari menghampiri Neji yang baru membuka pintu mobil. Neji menanggapinya dengan gumaman. "Walau kau adalah jaksa penuntut Sasori, aku yakin dari hati kecilmu kau tetap mendukungnya. Kau juga tidak percaya kalau dia koruptor kan? Kau akan membelanya kan?" tanya Temari dengan mata berkaca-kaca.

Hati Temari kian terkikis mengingat awal kepedihan kasus ini. Dia tau benar Neji sangat sakit dan berduka kali ini. Walau begitu Temari tetap berharap Neji tetap mampu untuk menahan perlawanan penjahat yang curang itu. Temari percaya Neji tetap akan berpikir positif akan semua yang terjadi dan tak akan langsung melempar tuntutan berat pada Sasori yang bukti kesalahannya sendiri masih minim.

"Aku sudah kehilangan adikku dan karyawan mansion yang sudah seperti keluargaku. Setidaknya jika yang kulakukan ini benar, aku harap kau tak akan kehilangan Gaara begitu juga sebaliknya. Sama halnya dengan harapan bahwa Haruno bersaudara itu tak akan saling kehilangan."

FLASHBACK END

Lelaki bermata panda itu jatuh bersandar di dinding dan merosot terduduk. Tubuhnya serasa lemas mendengar cerita Temari tentang kedatangan Neji. Dia akui kini dirinya dan Neji sama rapuhnya. Dan tak bisa dipungkiri dia merasa perih manakala ikut merasakan yang Neji rasakan. Tapi walau harus melalui kisah yang miris, dia tetap akan termotivasi. Tentu, masih ada orang yang akan dilindunginya saat ini.

Sakura. Nama itu terlintas di benaknya. Gadis ceria yang keras kepala itu memang yang paling ingin dilindunginya kali ini.

"Gaara, kenapa kau mau menolongku?"

Iris azure Gaara membulat sempurna. Dia terkejut mendengar suara dari sosok yang berbaring di atas ranjang. Gaara mengusap wajahnya sekilas dan beranjak bangun menghampiri Sakura di tepi ranjang. Gadis bersurai soft pink itu kini duduk bersandarkan bantal.

"Kenapa kau tanya begitu?" tanya Gaara sekenanya. Dia merasa pertanyaan Sakura memang bukan pertanyaan yang perlu diajukan.

"Maaf, memang tak pantas menanyakan alasan kebaikan seseorang. Tapi, aku takut," Sakura menatap Gaara sendu. "Sebagai polisi, apa saja bisa terjadi. Apalagi kasus ini bukan kasus biasa. Aku takut kau..."

"Takut apa? Kau pikir selemah apa aku ini?" sela Gaara dingin.

Sakura tersentak tak sempat melanjutkan. Dicengkeramnya selimut tebal seraya menunduk. Mata hijaunya sudah berkaca-kaca. Tak butuh banyak aksi untuk menjatuhkan liquid bening di sana. Dengan tangan bergetar, Sakura meraih lengan yang Gaara letakkan sebagai tumpuan ranjang, menggenggam lengan lelaki itu kuat.

TES

"A-aku menyayangi Sasori nii-san. Sejak awal selalu ada benang tipis yang membatasi rasa benci dan sayangku padanya. Aku tau aku tak perlu khawatir sekarang karena dia diamankan kepolisian Konoha. Tapi," Sakura terisak. Kemudian mencoba melanjutkan kalimatnya. "Kau mengamankanku, menjagaku, melindungiku, apa pun bisa terjadi. Dan tak wajarkah jika aku takut?"

Sekarang Gaara mengerti. Tatapan datarnya pada Sakura berubah menjadi tatapan iba. Gaara tak berkutik, hanya diam menatap manik emerald yang memperlihatkan kekhawatiran itu. Gaara terlalu sukses menyembunyikan tatapan sendu itu. Dia hanya menatap sendu Sakura dalam keheningan yang bahkan membuat Sakura tak merasa Gaara terlalu memikirkan kata-katanya. Namun Sakura tak peduli. Memikirkan atau tidak, Sakura bersyukur, tetap senang mengingat Gaara tetap di sini.

"Sakura, besok kau pergilah ke Lab. Forensik bersama kakakku. Aku dan Deidara akan memulai penyelidikan besok."

TBC

A/N:

Oke Fura author amatir yang kegajean fictnya tiada tara kambek egein '-')/

Kenapa Nejikuh memanggil Temari dengan suffix itu? Anggap saja Neji menganggap Temari sebagai kakaknya juga ya :v #maksa

Oke izinkan Fura pamit setelah berterimakasih pada echaNM, Chiku Chiku Dei, dan Bang Kise Ganteng yang sudah RnR chapter lalu. Berhubung reviewersnya memang Log In, jadi balasannya di PM ya. Malam minggu ini Fura terlalu ngantuk jadi A/N-nya tak panjang XD

Arigatou kalian yang masih baca~ *bow*

Mind to Review?