Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Art Not A Crime © Furasawa99

.

.

Happy Reading!

.

.

FLASHBACK

[From: Gaara

Agendaku hari ini adalah menyelidiki latar belakang Hidan. Deidara akan ada di kantorku untuk mendengar percakapan dan menganalisa nada kejujuran narasumber. Kau pergilah bersama Neji ke KIL untuk menerima hasil uji lab.]

Usai membaca pesan masuk itu, Shisui yang sempat menghentikan mobilnya di pinggir jalan kawasan Konoha Street yang masih sepi -karena masih fajar- segera menginjak pedal gas. Shisui mengendarai sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sisi jalan. Sudah cukup lama sejak terakhir kali dia ke KIL, dan satu kasus ini menuntutnya untuk ke sana lagi. Padahal jika melihat kasus yang ditanganinya sebelum-sebelum ini, dia tak harus menjadikan KIL sebagai lab. forensik pengujian barang bukti.

Langit masih dipenuhi semburat indigo. Jalanan yang gelap dan sejumlah lampu jalan yang redup tak mempengaruhi jalan mobilnya.

DOR

Manik onyxnya membulat sempurna. Uchiha Shisui segera keluar dari mobilnya. Dia menatap horror pada lubang kaca mobilnya. Tangannya meraih pistol di dalam saku jasnya. Tanpa ragu, diacungkannya pistol itu dengan kedua tangannya ke setiap sisi. Mata tajamnya terus mendelik kesana kemari mencoba menemukan pelaku.

"Siapa kau? Tidak perlu bersembunyi!"

DEG

Manik onyx Uchiha muda itu kembali terbelalak. Hanya dengan memutar posisi tubuhnya ke belakang, seseorang dengan seringaian lebar berdiri di depannya menyambut tatapan tajamnya. Pemilik manik magenta yang sukses membuat Shisui mengernyit bingung sama sekali tak melunturkan seringaian lebarnya. Sedangkan tangan kanannya masih menggenggam pistol yang setengah dikantongi di saku depan celananya. Setelah menyimpulkan bahwa sosok berambut klimis itulah yang menembak kaca mobilnya, Shisui tak sungkan menggerakkan ibu jarinya untuk menarik pelatuknya. Walau sedikit bergetar, Shisui meneguk ludah sebelum benar-benar menarik pelatuk pistol itu.

JLEB

.

Hyuuga Neji yang sedang berdiri di depan cermin mulai memakai kacamata hitamnya. Ya, paduan keren dari jas mocca, kemeja biru nebula dan rambut panjangnya yang dikuncir kuda membuatnya merasa samarannya cukup sukses. Neji diminta Gaara untuk ke lab. forensik bersama Shisui hari ini. Dia baru akan mengambil ponsel di mejanya untuk mengabarkan Uchiha itu, namun dering ponsel pertanda pesan masuk membuatnya membaca pesan itu dulu.

[From: Shisui

Kau pergilah sendiri. Aku ada masalah dengan perutku. Kupastikan kita akan tetap bertemu di KIL.]

.

"Kau mematahkan tulang selangka teman lamamu sendiri, huh? Kuat sekali tikamanmu itu." Hidan menyeringai puas melihat keadaan korbannya kini terbaring lemah di atas ranjang.

Itachi hanya menatap datar Shisui yang tidur berbalut perban di sekitar pangkal lengan kirinya. Beberapa saat yang lalu Itachi telah sukses menikam Shisui dari belakang sebelum Hidan benar-benar diserang tembakan timah panas.

Kini mereka bertiga berada di sebuah motel yang tak jauh dari Konoha Street. Sejak membawa Shisui yang sudah bersimbah darah, Itachi hanya mengompres luka Shisui seadanya. Ya, sebelum itu terjadi, Shisui dibuat tak sadarkan diri dulu dengan menempelkan sapu tangan yang sudah beraroma khas sari bunga lakspur. Tepat setelah Shisui pingsan, barulah dia dibawa ke hotel.

"Jadi, sudahkah kau kabari Hyuuga itu?"

Hidan mengangguk. Sejak awal, seringaian puas itu tetap saja tak hengkang dari bibirnya.

"Bagus. Sebaiknya kita tinggalkan dia. Racun bunga lakspur tak akan bertahan lama. Walau begitu, tetap saja luka parahnya akan membuatnya merenggang nyawa." Itachi beranjak meninggalkan kamar.

"Eh? Memangnya bomnya sudah kau letakkan?" Hidan menoleh ke perut Shisui yang dilingkari sabuk lebar dan bening. Dia menyeringai melihat selempeng benda seukuran jam tangan berada pada sabuk itu.

"Sabuk itu terdiri atas gel dengan molaritas rendah. Shisui tak akan menyadari kalau ada benda itu melingkar di perutnya. Sebaiknya kau saja yang pakaikan kembali kemeja dan jasnya," titah Itachi yang praktis direspon oleh cibiran Hidan.

FLASHBACK END

Dengan ekspresi yang masih menunjukkan rasa kantuk, Rei Gaara turun dari lantai atas -tempat kamarnya- untuk sarapan. Di dapur, dia tidak melihat kakaknya sama sekali, sepertinya sedang mandi. Dia pun berjalan mendekati meja makan dan menarik satu kursi untuknya duduk. Sakura yang sedang mengiris tomat untuk isian sandwich menoleh pada Gaara yang baru disadarinya tiba di sini. Gadis bersurai soft pink itu pun mengulas senyum ramahnya.

"Ohayou, Gaara-san. Apa agendamu hari ini?"

Gaara yang baru disodorkan sarapannya pun meneguk susunya sebentar.

"Entahlah. Mungkin untuk hari ini aku akan pergi dengan Deidara mencari orang terdekat Hidan untuk minta keterangan. Orochimaru bilang salah satu alumni Konoha University fakultas sains adalah orang terdekat Hidan yang mungkin bisa membantu," jawabnya sebelum menggigit sandwichnya.

Sakura membulatkan mulutnya pertanda mengerti. Kemudian pemilik manik emerald itu melepas apronnya dan menarik kursi untuk ikut makan pagi. Gaara yang sedang mengunyah halus rotinya hanya mengulas senyum tipis. Merasa bersyukur karena belakangan ini Sakura bisa menganggap rumahnya sebagai rumah sendiri.

"Boleh aku ikut?"

"Uhuk! Uhuk!" Gaara tak habis pikir Sakura akan melontarkan pertanyaan itu tiba-tiba. Terlebih kilau dari manik emerald yang penuh antusias itu membuatnya tersedak sendiri. Gaara pun meneguk minumnya. "Sakura-san, sebaiknya kau disini saja. Kau tak harus ikut-ikutan, sungguh."

Namun gadis berhelaian permen kapas anti lengket menggeleng kuat. Dia memasang raut wajah sebal dan menatap Gaara kesal.

"Lagipula kan hanya bertemu temannya Hidan. Aku juga tak mau terus diam di rumah, Gaara." Sakura mengeluh dengan bibir yang dipautkan.

Gaara menghela napas pasrah.

"Gunakan mantel tebal. Pastikan kau membawa payung, dan juga ponsel. Bersumpahlah kalau kau tak akan jauh-jauh dariku dan juga ponselmu."

.

.

.

Derap langkah memasuki lobby membuat perhatian beberapa orang di sana terletak pada lelaki berambut panjang tergerai dengan jas biru gelap dan balutan celana bahan berwarna sama. Hyuuga Neji kembali mendatangi gedung laboratorium raksasa itu. Dirinya tak terlalu menghiraukan proses olah TKP yang terjadi di sekitar tempat ledakan kemarin. Yang ingin dilakukannya hari ini hanyalah mengambil hasil uji DNA rambut yang tak sempat diambilnya. Neji pun melangkah mantap menghampiri receptionist.

"Aku harus mengambil hasil uji lab. Aku punya surat pengantar dari Rei Gaara selaku pemimpin penyelidikan. Bisakah aku menerimanya segera?" Neji menatap receptionist itu lekat-lekat. Kemudian sang receptionist segera mengamati data di komputer.

"Apa kode uji lab-nya?"

Neji paham laboratorium raksasa ini tak sembarangan memberikan hasil pengujian pada tamu yang datang. Dia menggeser irisnya secara horizontal mencoba mengingat kode pengujian yang pernah di-sms Gaara. Kemudian jemarinya digerakkan untuk melepas kacamata hitam sekaligus mengakhiri penyamaran.

"2192."

Melihat iris lavender khas yang dimiliki Neji, receptionist itu pun tersentak. Namun kemudian wanita itu mengangguk. Kemudian matanya diarahkan untuk kembali memandang Neji sambil mengulas senyum ramah.

"Hyuuga-sama, seseorang akan datang menyampaikan pada anda hasilnya. Silahkan tunggu sebentar," ujarnya sambil mengarahkan tangannya menunjuk dengan sopan ke arah salah satu sofa di lobby.

Neji hanya mengangguk sekilas kemudian duduk di sana.

.

.

.

Berhubung Hidan pernah menjadi mahasiswa cerdas yang mengikuti dua fakultas sekaligus dalam universitas yang cukup terkemuka, Gaara berharap mewawancarai satu dosen -seperti Orochimaru- saja cukup untuk memberikan keterangan yang berguna seputar Hidan. Kini Gaara dan Deidara sedang duduk-duduk di cafe outdoor tempat mereka janjian dengan Orochimaru. Deidara yang mulai bosan pun meneguk air mineralnya. Ya, air mineral. Psikolog muda itu paling enggan meminum air yang memudarkan konsentrasinya di saat-saat seperti ini.

Gaara yang sedang mengaduk lemon teanya kini menoleh antusias pada sosok lelaki berwajah putih pucat yang berjalan mendekati mereka. Lelaki berwajah putih pucat itu berjalan kalem di atas trotoar menghampiri dua lelaki yang sedang duduk menunggunya. Pria tua yang tak lain bernama Orochimaru itu mengulas senyum tipis begitu menarik kursi cafe dari mejanya untuknya duduk. Gaara membalasnya dengan senyuman ramah.

"Selamat datang, Orochimaru-sa-"

"Cepat tuliskan nama teman Hidan yang kau tau dalam kertas ini beserta profesinya pasca lulus, hm!"

Orochimaru mengerjapkan mata memandang secarik kertas dan pulpen yang diletakkan Deidara di dekat tangannya yang dipangku di atas meja. Lain dengan Gaara yang mengernyit mendengar kata-kata Deidara yang menginterupsi sambutannya. Di matanya, sejak awal psikolog pirang yang bekerja sama dengannya saat ini memang bukan pribadi yang sopan. Tapi haruskah Deidara memberi titah se-to-the-point itu?

"Baiklah, aku memahami harapan kalian untuk menuntaskan kasus ini. Tapi bukankah terburu-buru juga bukan hal yang bagus?" ujar Orochimaru sambil menyeringai menatap Deidara. Kini tangannya mulai meraih pena.

"Aku tak buru-buru, hm. Aku hanya tak mau buang-buang waktu, hm," timpal Deidara asal.

Gaara ingin sekali menghantamkan tinjunya pada lelaki beriris cornflower blue itu.

Dan tanpa ambil pusing, Orochimaru bergestur seperti hendak menulis. Iris ularnya digulirkan horizontal mencoba menerawang nama yang akan ditulisnya. Kemudian, tangannya pun digerakkan untuk menggores tinta di atas kertas.

"Tulisannya jelek sekali, hm." Deidara bergumam pelan namun cukup terdengar oleh Orochimaru yang kini alisnya berkedut.

Cukup. Gaara ingin berteriak keras sekarang. Rasa geram, gemas dan ingin menghujat benar-benar memenuhi rongga hatinya saat ini. Namun akhirnya dia memilih untuk menghela napas pasrah.

"Ini." Orochimaru menyodorkan kertas yang sudah diisinya dengan sejumlah nama.

Gaara segera menatap tulisan di kertas yang kini digenggam Deidara. Dia menduga Deidara sedang menganalisa nama untuk ditanyakan pada Orochimaru seputar latar belakangnya.

"Kini aku tau siapa yang harus kita datangi, hm."

Naas pemikiran Gaara kali ini salah. Deidara memahami sebuah nama begitu cepat. Tak lama kemudian, Deidara beranjak bangkit dan mengantongi kertas itu di saku celananya. Dia membungkuk hormat dan pamit.

Gaara yang kini menyimpan rasa bingung tiada tara hanya mengikuti langkah Deidara setelah membungkuk pamit meninggalkan Orochimaru. Geez, bahkan Orochimaru tak ditawari minum sejak duduk di sana. Keterlaluan.

.

.

.

Sakura berdecak sebal. Gadis bersurai soft pink itu kesal. Jelas saja, sudah tiga puluh menit sejak dia ditinggal Deidara dan Gaara di mobil. Gaara berdalih dia akan lebih aman jika tetap duduk manis di sana. Namun tetap saja itu membosankan bagi Sakura.

Tak lama kemudian, manik emerald gadis itu membulat antusias melihat dua lelaki berbeda surai sudah melangkah mendekati mobilnya. Dia pun membuka kunci pintu mobil dan membiarkan dua lelaki itu kini duduk di dua bangku depan. Namun kemudian dahi Sakura mengernyit melihat raut wajah Gaara yang seperti orang kebingungan. Dia berpikir ini bukan seperti biasanya.

"Deidara-san, darimana kau tau soal nama orang yang harus kita cari? Maksudku, bukankah biasanya kau menanyakan latar belakang pemilik nama di kertas itu dulu?" Pertanyaan Gaara sukses membawa atensi Sakura beralih pada Deidara.

"Kau ini berisik sekali, hm. Aku mana tau mau tanyakan nama yang mana. Toh di antara sejumlah nama di kertas itu tidak ada yang bisa kubaca tulisannya, hm. Kau tau sejelek apa tulisannya, kan?"

.

.

.

"K-O-N-A-N. Nah, yang ini namanya Konan, Gaara-san." Sakura menggoyang-goyangkan pundak kiri lelaki yang duduk di bangku supir.

Deidara yang sedang meneguk air mineralnya kini menatap penuh arti pada Sakura. Sedangkan Gaara yang sejak tadi duduk sambil memainkan ponselnya sejak di-sms Neji segera menoleh pada Sakura. Mobil sedan yang ditumpangi mereka memang sedang terparkir di tepi jalan sejak Gaara fokus menggunakan ponselnya.

"Eh? Kau bisa membacanya?" gumam Gaara setengah percaya. Sakura hanya tersenyum kecut, terhitung bukan pertama kalinya dia diremehkan. "Err, baiklah, terimakasih sudah membacakan satu nama."

"Tapi, KIL itu apa?" tanya Sakura polos.

Deidara dan Gaara yang matanya sama-sama terbelalak kini saling memandang. Kemudian pandangan dua lelaki itu beralih pada gadis yang duduk di jok belakang.

"Darimana kau temukan kata itu, Sakura-san?" tanya Gaara segera.

Sakura yang masih bingung hanya menunjuk santai pada tulisan di bawah nama Konan yang ada pada kertas kusut itu. "KIL? Salah satu sahabat terduga penjahat itu bekerja di KIL?"

.

.

.

Hyuuga Neji yang duduk menggenggam kertas hasil pengujian lab. kini menatap wanita yang duduk berpangku tangan di hadapannya. Lima puluh menit sejak atensinya jatuh pada wanita bersurai cornflower blue yang menjelaskan laporan lab. dengan lugas. Dan yang lebih membuatnya tak percaya, wanita itu adalah wanita bername tag Konan yang tempo hari ditolongnya saat terperosok di tangga darurat.

"Jadi, apakah kau berpikir ledakan kemarin berhubungan dengan hasil uji DNA rambut itu, Hyuuga-sama?" tanya Konan akhirnya.

Neji mengiyakan dengan anggukan.

"Seharusnya aku bersama Shisui pergi ke sini mengambil hasil uji DNA ini. Namun ternyata dia menyusul sebagai pembawa bom bunuh diri di perutnya," ujar Neji dengan intonasi rendah. Konan menutup mulut dengan kedua tangannya tak percaya. "Ya, setidaknya hasil uji lab. yang kau lakukan untuk kami akan memban- Gaara?!"

Neji beranjak bangkit dari sofa lobby. Dia tak habis pikir dua orang yang bekerja sama dengannya malah mendatangi gedung KIL dan kini menghampiri receptionist. Dapat dilihatnya Gaara terus menggenggam pergelangan tangan Sakura sejak masuk lobby.

'Kenapa orang ini jadi over protectif begini sih?' batin Sakura yang sweatdrop. Tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa memasuki gedung besar saja harus dipegangi seperti ini. "Eh? Gaara-san, itu Neji." Sakura menunjuk dengan tangan kanannya.

Gaara yang baru akan menanyakan soal Konan pada receptionist tentu lebih memilih menoleh.

"Gaara, kenapa kau ke sini?" tanya Neji yang kini berdiri di tengah-tengah lobby bersama Deidara, dan Gaara yang masih menggenggam tangan Sakura.

Gaara mengangkat sebelah alisnya memandang kertas yang dipegang Neji.

"Itu hasil tes DNA-nya?" tanya Gaara seketika. Kemudian mata hijaunya kembali memandang Neji. "Aku kesini mencari pekerja KIL yang bernama Konan."

"Konan? Dia itu kan yang melakukan tes DNA rambut itu," gumam Neji ragu.

"Dimana dia, hm?" tanya Deidara to the point.

Neji pun berbalik dan menunjuk ke arah sofa lobby.

"Eh? Kemana orangnya?"

TBC

A/N:

Bagaimana chapter ini? Lebih konyol kah? XD

Asdfghjkl Fura tak bisa buat momen GaaSaku yang 'uwah'. Setidaknya belum bisa untuk saat ini U,U

Selamat Berpuasa bagi yang menjalankan. Dan selamat menunggu lagi untuk chapter berikutnya *ditabok*

Makasih untuk tyassayekti49 & Bang Kise Ganteng yang review chapter lalu. Makasih juga FnF-ers(?) yang masih mengikuti fict ini. Ini fict crackpair, walau aku suka pair ini, di awal-awal aku ragu untuk nulis ini. Tapi rupanya respon kalian merobohkan dinding keraguanku dan memperkokoh pilar kepercayaandiriku XD #NGOMONGAPAINIYAMPON

Oke, love ya,

And mind to review? :3