Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Art Not A Crime © Furasawa99
.
.
Happy Reading!
.
.
Aku membuka mataku. Silau. Entah kenapa mataku terasa berat untuk membuka. Aku pun mengucek kedua mataku dengan tanganku, dan mengerjapkannya beberapa saat. Setelah merasa lebih normal, kuedarkan pandanganku ke sekitarku.
Tawa. Telingaku mendengar suara tawa. Aku yang masih terduduk di tempat asing dan serba putih ini mulai memaksakan tubuhku untuk bangkit walau tertatih.
"Yugito nee-san, lihat! Gelembungku lebih besar."
DEG
Suara itu. Kini kusadari diriku melangkah tertatih, sepertinya kakiku pincang. Tapi, sejak kapan? Setelah mencoba tak terlalu menghiraukan keherananku, aku pun segera berjalan ke sumber suara. Aku kenal suara itu. Itu suara...
"Hinata-chan."
Seketika kuhentikan langkahku. Mata unguku membulat sempurna melihat dua perempuan yang berdiri beberapa meter di seberangku. Aku melihat wanita bersurai dark khaki yang menyebut nama itu mengusap rambut Hinata lembut.
Tidak mungkin. Aku kenal perempuan itu, aku mengenalnya. Ya, dia Nii Yugito. Dia teller di salah satu cabang bank swasta berpengaruh di Konoha yang kala itu bercabang di seberang gedung Akasuna Corp. Dan dia sudah mati. Dia mati dalam kebakaran yang didalangi perampok. Dan dia juga pahlawan. Dia teller yang gugur saat evakuasi nasabah dan karyawan bank yang terbakar kala itu. Nii Yugito bahkan merupakan satu-satunya karyawan yang terluka sebelum gedung dibakar. Dia satu-satunya yang melakukan perlawanan pada Hidan, salah satu perampok licik yang kala itu sempat menyandera segelintir nasabah sebelum gedung dibakar. Dan sekarang aku melihatnya bersama Hinata. Mereka berdua dengan wajah pucatnya mengenakan pakaian putih panjang sedang bercanda tawa dengan asyiknya meniup gelembung. Mataku menyendu melihat luka di wajah Yugito dan noda darah di punggung pakaian Hinata. Kuingat memang punggung Hinata lah yang ditikam Hidan menyebabkan kematian adik sepupuku itu. Dengan tubuh bergetar, aku mencoba menunduk, hendak melihat pakaian yang kupakai.
Piyama. Rupanya aku tak berpakaian sama dengan mereka. Ataukah aku hanya sedang berada dalam mimpi?
"Neji nii-san." Praktis aku mendongak. Hinata dan Yugito kini berdiri tepat di depanku. Melihat Hinata, aku merasa seperti sedang bercermin. Mata ungunya yang berkaca-kaca -entah sejak kapan- menatapku sedih, sama halnya aku. "Kenapa nii-san ada di sini? Ayo ikut main."
Aku membulatkan mataku tertegun. Aku hanya membalasnya dengan gelengan lemah. Aku tau ini belum waktuku. Kemudian kulihat Yugito menggenggam bahu Hinata.
"Hinata-chan, Hyuuga Neji akan menyusulmu nanti. Percayalah," ujar Yugito sambil tersenyum hangat pada Hinata. Hinata hanya mengangguk lemah sambil tersenyum. "Ya, tunggu sampai jiwa tegarnya melemah oleh kepedihan dan raganya rusak oleh luka."
Aku membeku di tempat. Kalau boleh mengadu, sebenarnya aku pun sudah lelah. Tapi tidak bisa dipungkiri aku pun belum terluka. Aku sadar aku harus menghormati Yugito, Hinata, dan Shisui yang menikmati goresan luka sebelum menemukan kematian mereka. Aku pun tersenyum pahit. Ingin rasanya tertawa. Menertawakan dunia dan diriku yang begitu lambannya menuntaskan kasus menyedihkan ini.
Tapi tidak. Yang harus kulakukan sekarang adalah membuka mata. Memastikan bahwa semuanya bisa jadi lebih baik. Ya, aku akan bangun dari tidur
.
.
.
Tidak ada sidang. Para insan bidang kehakiman itu terlalu murah hati hingga meringankan Hidan yang terbaring sakit agar tak perlu menghadiri sidang. Deidara yang geram pada kemurahan hati hakim yang terlampau lemah dalam penegakan hukum pun membuat Gaara menuruti titahnya untuk melakukan wawancara sendiri di kamar rawat Hidan.
Sakura, Gaara, Deidara, dan Neji kini berdiri mengitari ranjang pemilik manik magenta yang matanya masih terpejam. Gaara menyikut lengan Deidara pertanda menanyakan apa yang harus dilakukan. Tanpa menerima jawaban, Gaara membulatkan mata tak percaya melihat tangan Deidara dengan santainya menjambak helaian kelabu itu.
"Argh! Lepaskan!" Hidan mengerang dan menepis tangan Deidara dari rambutnya.
Sakura bahkan sempat berdecak kagum melihat keberanian Deidara yang dengan blak-blakan menjambak rambut pasien rumah sakit besar ini. Lain dengan Neji yang melongo dan Gaara yang menggeleng pasrah.
"Aku tau kau pura-pura tidur, hm!" omel Deidara berang.
Praktis tepukan tangan Sakura membuat semua perhatian jatuh padanya, "Sugoi, Deidara-san! Kau sangat jantan dalam menangani pelaku kejahatan."
'Lelaki yang hobi jambak rambut begitu di persimpangan lampu merah kan banyak,' gumam Gaara yang menatap Sakura datar. "Ehem, bisa kita mulai mengajukan pertanyaan?"
Neji merasa Gaara yang bertanya begitu juga meliriknya pada saat yang sama. Pemilik manik lavender itu pun menghela napas panjang. Neji melangkah mantap mendekatkan diri ke sisi ranjang Hidan yang masih memasang tampang kesal.
"Jawab aku hanya dengan kata iya dan tidak, mengerti?" Neji melipat tangannya di depan dada. Hidan hanya memutar bola mata bosan. Neji yang enggan ambil pusing segera mengajukan pertanyaan.
"Kebakaran Konoha Bank beberapa tahun silam itu, apakah ada hubungannya dengan Akasuna Corp.?"
Manik magenta Hidan membulat terkejut. Begitu juga Gaara dan Deidara yang menganga tak percaya. Mereka tak berpikir bahwa Neji akan menanyakan itu.
"Ke-kenapa kau tanya itu, huh? Itu bukan hal penting," balas Hidan sebelum membuang muka.
Deidara memicingkan matanya, mulai menganalisis suasana hati Hidan saat mengatakannya. Gaara dan Sakura hanya diam menyimak dua rekannya yang sudah memulai tugasnya.
"Jawab ya atau tidak."
"Cih, itu tidak penting-"
"Atau aku akan kirim para ahli untuk mengotopsi jenazah Yugito. Akan kami cari perampok yang mungkin bisa kami wawancara."
Sakura membulatkan matanya tak percaya. Jika dia tak salah, saat dia menonton acara berita beberapa tahun silam, jenazah Yugito adalah yang paling hancur. Jenazah Yugito pula jenazah satu-satunya yang tak diotopsi kala itu. Ya, sebut saja Neji yang juga menjadi jaksa pada kasus lama itu yang bersikeras agar jenazah pahlawan gugur seperti Yugito tak diotopsi demi penghormatan pada mendiang. Namun kini pernyataan mengejutkan keluar dari lisan Neji yang sepertinya serius dalam ancamannya untuk Hidan.
Hidan menunduk dalam. Rahangnya mengeras, tangannya mencengkeram erat ujung selimut. Hati kecilnya mengaku tak tega membuat jasad korban kasus lamanya harus diungkit-ungkit kembali.
"Katakan ya atau tidak, Hidan. Aku tau kau tak mau ganggu arwah Yugito, hm."
Pernyataan Deidara tak bisa dibantah. Sakura menggigit bibir bawahnya dan menunduk. Perkataan Deidara seperti mengetuk hati. Gaara masih menatap Hidan datar. Di matanya, mimik keras Hidan berubah lunak. Perlahan, Hidan melonggarkan cengkeramannya dari selimut.
"Hidan, kau dapat salam dari Nii Yugito."
"Kau pasti bercanda,"
"Rei-san, itu pasti mustahil. Nii Yugito sudah mati. Dia salah satu teller bank yang mati dalam kebakaran bank yang dirampok Hidan."
Hidan mengusap wajahnya yang gusar. Neji mengangkat sebelah alisnya melihat tubuh Hidan bergetar hebat. Hidan pun menatap Neji dan Gaara bergantian. Dengan manik magenta yang menatap lekat-lekat, Hidan mengangguk lemah.
FLASHBACK
"Apa kita harus melakukan ini?" Hidan menatap ragu pada masker putih di genggamannya.
Nagato, lelaki berambut semerah berry segera mengenakan masker yang senada dengan milik Hidan.
"Ini permintaan tuan besar. Aku harap kau tak lupa sebesar apa jasanya yang sudah membiayai hidup kita semasa panti asuhan hingga kita kuliah."
Mendengar jawaban itu, kilau manik magenta itu bagai meredup. Nagato, kakak yang sudah diasuh bersamanya sejak di panti asuhan memang tak kenal kebaikan dan keburukan jika sudah menyangkut balas budi. Dan entah kenapa perasaan Hidan jadi tidak enak kali ini. Nagato memang begitu ambisius dalam membalas budi. Tidak peduli walau apa yang dilakukannya dengan menuruti tuannya adalah hal yang salah. Dan untuk pertama kalinya, ada rasa takut dalam hati kecil Hidan.
.
DOR
JLEB
"Nagato nii-san!"
Hidan menatap nanar Nagato yang mencengkeram dadanya. Manik magenta lelaki bersurai kelabu itu berkaca-kaca. Dengan tertatih, Hidan yang beberapa saat lalu sudah melepas maskernya, kini melangkah mendekati Nagato yang terduduk bersimbah darah. Seketika, Hidan menjatuhkan pisaunya -yang baru dipakai merobek pelipis Yugito- dan memeluk tubuh Nagato yang menatap lantai keramik dengan mata ungu yang menyendu.
"Aku akan mati," gumam Nagato pelan. Kekehan miris menyusul setelah gumaman itu.
Hidan menggeleng cepat, "Tidak, nii-san. Bukankah kita akan pulang membawa hasil rampokan setelah ini?"
Sontak Nagato terbatuk dan mulutnya mengeluarkan darah. Suara lelaki bersurai semerah berry itu semakin parau. Rintihannya akan luka timah panas di dadanya membuat Hidan menjatuhkan air matanya. Bukan ini yang Hidan inginkan. Sejak awal menjadi kakak-adik di panti asuhan, Hidan tak pernah mau Nagato berada dalam posisi seperti ini. Kenapa harus Nagato, pikirnya. Nagato sudah berbuat banyak untuk mengabdi pada 'tuan besar'.
"Tidak. Kepala polisi itu sudah membunuhku." Nagato mengulas senyum ramah pada lelaki berbulu mata lentik yang berdiri terengah-engah satu meter dari mereka dengan memegang pistol. "Hidan, bawa hasil rampokannya. Uhuk!"
Hidan melonggarkan pelukannya dan menatap tajam Uchiha Shisui, satu-satunya polisi yang menembus masuk gedung bank beberapa saat lalu. Shisui hanya menatap waspada pada Hidan dan Nagato. Hidan mengepalkan tangannya erat.
"Uhuk! Dan berjanjilah tidak bunuh siapa pun orang di gedung ini."
Bruk
Manik merah dengan 3 tomo milik Shisui membulat sempurna. Kedua tangannya yang menggenggam pistol serasa bergetar tatkala kalimat terakhir Nagato menggema di telinganya.
Hidan segera menyeka air di pelupuk matanya dan melepas blazernya. Diletakannya blazernya untuk menutupi kepala Nagato yang telah dibaringkannya. Rahangnya mengeras geram dan matanya mendelik tajam pada penjuru lobby gedung. Para karyawan dan nasabah yang berdiri tegang di deretan counter lobby -tempat mereka disandera- kini menatap Hidan miris. Terutama saat melihat Nagato yang terbaring tak bernyawa di dekat Hidan.
Perlahan, Shisui mengangkat satu tangan kanannya memberi isyarat pada polisi yang berdiri di belakangnya.
"Tangkap dia," ujar Shisui namun seketika Hidan menancapkan pisau lipatnya di counter membuat semua atensi jatuh padanya.
"Terlambat. Aku akan bakar gedung ini."
"Tapi rekanmu yang sudah mati pun tak mau kau membunuh siapa pun!" balas Shisui tak terima. Dia bersikeras untuk membuat Hidan menyerah. Ingin dicukupkannya perampokan ini. Dia tak mau jatuh korban.
"Aku tidak peduli," balas Hidan datar.
Mereka tak tau saja, Hidan terlanjur sakit mengingat Uzumaki merah itu harus pergi. Lagipula, baginya, tidak ada alasan untuk Nagato mengatakan begitu.
"Tapi kau tidak mungkin membakar mayat kakakmu disini kan?!" ucapan bernada sakratis itu cukup untuk membuat Hidan membulatkan manik magentanya.
Dia pun menoleh pada sumber suara yang tak lain adalah Nii Yugito. Alis Hidan tertaut menatap wanita yang pelipisnya luka itu masih berani angkat bicara. Belum cukupkah sayatan penuh ancaman itu?
"Iie. Itachi akan menyusul dan membakar gedung ini. Dan kalau kau berani bicara, aku bisa membunuhmu sambil menunggunya."
Ucapan Hidan yang terdengar santai membuat Yugito yang dihampiri Hidan melangkah mundur. Walau begitu, tatapan tajam wanita bersurai dark khaki itu tetap tak melunak. Shisui yang melihat pergerakan Hidan hendak menarik pelatuk pistolnya.
"Setidaknya hormati dulu jasad kakakmu! Dia bahkan menitipkan keselamatan para korban padamu."
"Aku tak punya alasan untuk mengikuti wasiatnya yang itu. Dan aku juga tak mengerti kenapa dia berwasiat begitu!"
"Dia begitu karena dia-"
SET
Shisui membulatkan matanya untuk kesekian kalinya, tangannya yang akan menarik pelatuk seketika membeku. Yang benar saja, Hidan meletakkan mata pisaunya tepat di depan leher Yugito, di depan pembuluh darah terpenting dalam hidup Yugito.
"Jika ingin membunuhku, setidaknya jangan membunuh rekan maupun para nasabahku di sini. Mereka punya keluarga yang mungkin menunggu mereka pulang." Yugito nekat mengeluarkan kata-kata. Tatapan dingin Hidan masih tetap sama sebelum Yugito melanjutkan kalimatnya, "Lain dengan aku yang tak punya siapa-siapa sejak dilahirkan."
DUARR
FLASHBACK END
"Kematian Shisui juga termasuk balas dendamku atas kematian kakakku. Sejak di panti asuhan, aku, Itachi, dan Nagato nii-san selalu sama-sama. Sejak Nagato nii-san pergi, aku dan Itachi punya dendam yang sama," jawab Hidan pelan.
Deidara menatap sang pemilik manik magenta datar seolah tak terkejut. Sakura menghela napas kasar dan menatap Hidan tak percaya.
"Kau membunuh Shisui karena dendam itu?" Sakura menarik kasar kerah baju Hidan.
Mata hijaunya menatap tajam manik magenta yang kini membuang muka enggan membalas tatapannya. Tangan Sakura kokoh mencengkeram kerah lelaki bersurai kelabu itu. Gadis bersurai soft pink itu tak habis pikir kalau Hidan melakukan semua ini atas dasar pembalasan dendam.
Hidan menepis kasar tangan gadis itu dan beranjak bangun. Dia berdiri dengan menatap tajam Sakura yang kini menatapnya dengan mendongak; tubuh Hidan lebih tinggi dari Sakura. Gadis bersurai soft pink itu mulai membuang muka enggan menatapnya.
"Kau tidak akan mengerti. Kau tidak tau apa-apa jika tak melihat sendiri kakakmu dibunuh-"
"Tapi aku melihat sendiri adikku dibunuh olehmu."
Selaan Pemuda Hyuuga disana membuat kata-kata Hidan terpotong. Bentakan Hidan kalah tajam dari bentakan penuh emosi dan rasa dingin dari pemilik manik lavender di sana. Gaara mendekati dua insan yang sempat saling menyulut emosi itu. Pemilik manik azure itu meraih lengan Sakura dan membawanya mundur. Kemudian Hidan tertunduk mengingat kata-kata Neji.
"Hidan-san, tolong katakan dimana Itachi tinggal, hm." Deidara melanjutkan interogasi.
Perhatian Neji, Gaara, dan Sakura praktis tertuju pada pemilik magenta yang berdiri mematung.
.
.
.
Di dalam mobil yang dikemudikan Gaara, Sakura yang duduk di samping Gaara terus memainkan jarinya gusar. Omong-omong, tidak ada Deidara di sini. Deidara ikut di dalam mobil Neji, mereka semua sama-sama menuju lokasi Itachi. Bagaimana pun juga posisi Deidara sebagai psikolog memang berpengaruh dalam wawancara dan membuat menerima informasi dar Hidan jadi lebih mudah.
Gaara yang merasa ada yang aneh dengan gadis di sisinya mencuri pandang curiga. Namun begitu delikan Sakura terhadapnya ditemukan Gaara, membuat pandangan mereka saling bertemu. Gaara pun berdehem demi menghilangkan kecanggungan.
"Ka-kau kenapa, Sakura?"
Sakura gelagapan. Cincin pemberian Sasori yang tersemat di jari tengahnya -yang sebelumnya dimainkannya- nyaris terjatuh. Kemudian, Sakura mengusap tengkuk kikuk.
"Ano, Gaara-kun, etto..." Sakura menggantung kalimatnya ragu. Itu membuat Gaara bergumam 'hn' supaya Sakura melanjutkan. "Err, izinkan aku ikut."
Naas, gelengan kepala berhelaian merah maroon itu membuat Sakura mempautkan bibirnya kesal. Baginya, Gaara terlampau keras kepala.
"Bukankah aku sudah bilang aku tak mau kau terluka? Itachi bisa saja lebih nekat dari Hidan, Sakura."
Sakura memutar bola mata bosan. Sakura tahu Gaara tak mau dibuat khawatir. Sakura pun tahu Gaara tak mau dikhawatirkan orang lain. Namun Sakura tak bisa terima itu kali ini.
"Kau menyebalkan. Mau dilihat dari sisi mana pun tetap saja kasus ini membuatku semakin khawatir. Jangan egois. Izinkan aku membantu!"
Tanpa sadar, Sakura mengeluarkan kata-kata seperti rajukan. Gaara terkikik geli mendengarnya. Dia segera memarkirkan mobilnya di tengah jalan dan menarik rem tangan. Dia merasa harus mengatakan ini pada Sakura.
"Jangan khawatirkan aku. Lagipula siapa aku untukmu? Kau ini berlebihan." Gaara menyelingi kalimatnya dengan tawa yang justru membuat Sakura menatapnya jengkel.
Namun seketika, semburat merah menghiasi wajah gadis beriris emerald itu. Benar juga, siapa Gaara untuknya? Tapi, apakah mengkhawatirkan seseorang harus didasari alasan yang mutlak?
Seketika isi kepala Sakura memunculkan adegan-adegan sebelumnya. Masa-masa Sakura melihat keacuhan dan keangkuhan Gaara terputar kembali. Tak terkecuali saat dimana Gaara turut berempati atas kasus kakaknya dan kediamannya yang disita. Saat dimana Gaara yang enggan kelihatannya enggan memperhatikannya namun diam-diam menjaganya. Menjaganya di dalam rumahnya. Gaara bahkan menitah Inuzuka Hana untuk mengawasi rumah keluarga Rei untuk menjaga Sakura, ingat? Tak jauh dari sana, Gaara yang kala itu pun enggan mengatakan mundur setelah semua anggota kepolisian di bawah naungannya mundur sejak kematian Shisui. Gaara mencoba melakukan yang terbaik dalam kasus ini. Lalu apakah Sakura perlu menanyakan alasan dibalik kepedulian Gaara selama ini? Tidak. Matahari tak pernah butuh alasan untuk menyinari pepohonan sakura di bawahnya.
"Sakura, apakah kau melamun?" Sakura terkesiap begitu tangan Gaara melambai-lambai di depan matanya.
"Err, maaf. Aku..." Sakura menggaruk helaian soft pinknya canggung.
"Apakah pertanyaanku membuatmu berpikir keras?" Sakura menatap Gaara tak percaya. Gaara bertanya begitu sambil menatapnya lekat-lekat. Sakura sontak menggeleng.
"Dasar bodoh. Untuk apa aku memikirkan itu?" Sakura meninju lengan pemilik manik azure.
Gaara hanya meringisi pukulan di lengannya sambil tersenyum tipis. Bersyukur dirinya dan Sakura bisa sesantai ini setelah beberapa lama.
"Hey, kalau aku mati, apakah kau akan menangis?" tanya Gaara tanpa melepas tatapan intensnya dari manik emerald di hadapannya.
Sakura segera membuang muka. Duduk bersila di jok mobil dengan pandangan yang dialihkan kepada luar kaca mobil.
"Aku benci saat kau menanyakan itu."
Gaara tersenyum simpul.
"Aku juga membenci pertanyaan itu. Jujur saja, saat kau mengatakan kau ingin menolongku membahayakan dirimu, itu pun membuatku sedih."
Manik emerald itu membulat sempurna. Perlahan, Sakura menoleh mencoba kembali menengok Gaara. Mata hijaunya menyendu bersamaan dengan Gaara yang duduk menunduk di jok mobilnya. Sesekali Gaara menoleh ke arah kaca mobil. Sakura menatap sedih cerminan wajah sedih Gaara yang dilihatnya dari pantulan kaca.
Sakura menggigit bawah bibirnya dan menggenggam bahu Gaara ragu, "Maaf."
"Tidak apa, setidaknya dengan kau tau itu, kau bisa mengerti- eeeeeh?!" Gaara merintih atas telinganya yang dijewer.
"Jangan banyak drama! Pada intinya kau juga tak boleh membuatku khawatir, Gaara-kun! Kau menyebalkan!" Pelaku penjeweran berujar geram.
.
.
.
"Kau mau turun tangan, hm?" tanya Deidara yang duduk di sebelah jok supir, tepatnya di sebelah Neji.
Deidara mengerjapkan mata tak percaya begitu mendengar pernyataan Neji yang mengatakan akan turun tangan melawan Itachi bersama Gaara. Deidara tak pernah berpikir Neji yang sekedar memegang posisi sebagai jaksa yang merangkap menjadi detektif dadakan ingin memegang senjata kali ini.
Neji yang beberapa menit lalu memarkirkan mobilnya di tepi jalan untuk bicara, kini menghela napas.
"Hn, tidak mungkin aku membuat Gaara menghadapi Uchiha itu sendirian. Lagipula psikolog sepertimu pasti tak bisa membantu," ujar Neji sekenanya.
"Hey! Jangan sombong, hm! Memangnya kau bisa pakai senjata?" balas Deidara sewot.
"Cih, kan cuma tarik pelatuk pistol, itu tak sulit."
"Kau ini menggampangkan segala cara, hm. Perasaanku jadi tidak enak," celetuk Deidara sweatdrop.
Deidara tak tahu Neji sedang menyembunyikan ekspresi wajah yang sebenarnya. Mata ungunya tampak santai dan sekalem biasanya namun sebenarnya dia menyembunyikan rasa takut yang besar untuk keberlanjutan kasus ini.
'Kalau boleh jujur, perasaanku pun sama, Deidara-san.'
TBC
A/N:
Di awal itu sudut pandang husbandoku oke. Maaf kalau bikin bingung XD
Kalian bisa anggap Duarr itu sebagai ledakan oke. Kebakaran terjadi diawali ledakan yang didalangi Itachi. Itu artinya Itachi udah datang tapi tak kubuat muncul pfft '3')v
So, bagaimana dengan chapter ini? Woahaha, jadi merasa bersalah T-T
Terimakasih Bang Kise Ganteng, AkagamiShimura27, Brokoro, Josephine La Rose99, Hinamori Hikari yang sudah review chapter lalu. Terimakasih kalian FnF-ers yang masih mengikut fict ini. ^^
Mind to review?
