Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Art Not A Crime © Furasawa99

.

.

Happy Reading!

.

.

Mobil sedan yang dikemudikan Neji baru berhenti di depan sebuah bangunan. Deidara yang duduk di jok sebelah Neji mengerutkan dahi bingung begitu menyadari rupa dari tempat yang mereka tuju. Bagaimana mungkin Uchiha Itachi tinggal di bangunan yang lebih terlihat seperti,

"Ini pasti panti asuhan lumutan yang sudah lama tak beroperasi, hm." Gumaman Deidara barusan memang tak bisa dibantah.

Neji sendiri juga masih mengedarkan pandangan manik lavendernya mencoba menemukan tanda-tanda penghuni rumah. Dia bahkan belum melihat tanda-tanda mobil Gaara akan tiba. Mungkinkah dia salah alamat?

CTAK

Suara hentakan suatu benda membuat Hyuuga muda itu membulatkan matanya seketika. Segera Neji menatap intens Deidara yang masih bergeming di sebelahnya. Deidara yang diberi tatapan tak biasa jelas segera meneguk ludah. Ada apa ini? Mungkin itu yang ditanyakan di dalam hati pemilik manik cornflower blue itu.

Sampai akhirnya Neji buka suara, "Ayo keluar dari sini."

DUAR

.

.

.

Gadis bersurai semerah berry lekas meloncat dari semak-semak tempat sebelumnya bersembunyi dan berlari mendekati mobil yang baru meledak. Dahi gadis itu mengernyit dan jemarinya membenarkan posisi kacamatanya lantaran tak menemukan apa yang dicarinya. Benar saja, mobil sedan yang baru diledakannya kini terbakar tanpa ada siapa pun di dalamnya. Hyuuga Neji dan Deidara sudah keluar dari mobil untuk menyelamatkan diri. Sedangkan Karin, gadis itu melipat tangannya di dada seolah berpikir, 'Kemana mereka kabur?'

SET

Uzumaki Karin meneguk ludahnya gelagapan bersamaan dengan lensa kacamatanya yang berkilat. Keringat dingin mengucur deras bersamaan dengan wajahnya yang berubah pucat pasi. Ini terjadi sejak seseorang muncul di belakangnya dan mendekatkan pistolnya tepat dengan posisi seolah hendak menembak kepalanya.

"Uzumaki Karin, aku masih mengingatmu, omong-omong. Kau sepupu Uzumaki Nagato yang masih punya koneksi dengan Uchiha Itachi, bukan?"

Karin meringis mendengar tebakan Neji yang terbilang tepat. Deidara yang sebelumnya berdiri di belakang Neji dan Karin, kini melangkah untuk berdiri berhadapan dengan Karin. Lelaki berambut pirang itu segera mendapat tatapan tajam dari gadis yang berada dalam penanganan Neji.

"Dimana Itachi, hm?" tanya Deidara mencoba kalem. Mencoba mengenyahkan ketakutan yang sebelumnya dirasakan akibat ancaman ledakan.

"Dia ada di tempat lain. Menunggu orang-orang yang juga sedang memburunya," jawab Karin yang justru menyeringai.

"Rupanya dia sengaja membuat kita terpisah, hm!" gumam Deidara yang menyesal karena mobil yang ditumpangi mereka mendahului milik Gaara.

.

.

.

"Aku tidak bisa menggunakan pistol. Kita cuma berdua," gumam Sakura yang gagal menyembunyikan nada ketakutan di suaranya.

Sejak turun dari mobil dan dihadapkan dengan sosok Uchiha Itachi, pemilik manik emerald itu sama sekali tak melepas genggaman kedua tangannya dari lengan kiri Gaara. Sedangkan tangan kanan Gaara kini bersiap mengacungkan pistol.

Itachi yang berdiri lima meter dari mereka hanya membuat langkah pendek dengan tatapan datar yang memandang lurus kepada Gaara. Gaara dan Sakura baru keluar mobil sejak ban mobil mereka pecah ditembak sosok Uchiha itu. Mata hijau Gaara masih tak lepas dari mata Itachi. Yang Gaara pastikan saat ini bukan bagaimana dirinya nanti. Tapi, bagaimana Sakura nanti.

"Masuklah ke mobil. Biar aku lawan dia sendiri."

Untuk kali ini, Gaara mengatakannya tanpa menatap langsung Sakura yang berdiri di belakangnya. Mata hijau Gaara masih tetap dengan tajamnya memastikan bahwa langkah kaki Itachi tak menunjukkan tanda-tanda ancaman apa pun untuk Sakura. Itu sebabnya, untuk kali ini Sakura hanya menanggapi dengan anggukan tanda mengerti. Gadis bersurai soft pink itu lekas berlari meninggalkan Gaara menuju mobil.

DOR

JLEB

Sakura yang baru membuka pintu mobil segera menoleh ke asal suara tembakan. Sakura menangkupkan mulutnya dengan satu tangannya seolah tak percaya. Dia terkejut menyadari Gaara yang memulai tembakan ke dada Itachi.

.

Gaara mengerutkan dahi heran. Dia bingung bagaimana bisa Itachi hanya berjongkok sebentar dan mengangkat peluru yang tertancap di dadanya dengan mudahnya? Terutama sedikit darah yang mengucur dari tubuhnya, juga bukan hal yang diduga oleh Gaara.

Di bawah mega kelabu, Itachi segera bangkit. Sesekali dirinya meringis akibat hambusan angin yang bagai menyayat lukanya. Tak lama kemudian, sosok Uchiha yang masih tak lepas dari tatapan Gaara itu tertawa lepas. Itu membuat Gaara semakin bingung.

"Hey, apakah kau serius mau melawanku dengan pistol itu?"

DEG

Pertanyaan sinis Itachi sukses membuat manik azure lawannya terbelalak. Gaara segera memperhatikan pistol yang ada di genggamannya. Benar saja, rupanya dia salah ambil pistol. Pistol yang diambilnya ini adalah pistol yang biasa dipakai untuk memberi luka peringatan semata seperti yang dipakai untuk menembak pencuri atau semacamnya. Ini bukan pistol dengan peluru yang biasanya langsung membunuh para buronan polisi.

.

Sakura yang kini duduk bergeming di jok belakang mobil semakin menunduk. Tangannya sesekali mengacak rambutnya dengan gelisah. Dia bingung. Dia merasa ingin membantu untuk kali ini. Sampai akhirnya sebuah koper silver di sisinya menarik perhatiannya, mata hijaunya pun terpicing bersamaan dengan rasa penasaran yang mendadak muncul. Tangan gadis bersurai soft pink itu tanpa sungkan membuka koper itu.

Shotgun. Senjata aparat yang satu itu membuat Sakura mengerjapkan matanya tanpa memudarkan binar dari manik hijau penuh antusias itu. Dalam keadaan seperti ini, dia merasa Gaara memang bukan aparat biasa. Melawan pembunuh dengan persiapan senjata sebanyak ini, tentu akan memukau banyak perempuan. Haruno Sakura juga perempuan. Dan dia tak bisa memungkiri itu.

DOR

"Argh!"

Sakura segera menoleh kembali pada arah duel. Yang benar saja, peluru yang ditembakkan Itachi tepat membuat pistol yang menjadi senjata tunggal Gaara terhempas begitu saja. Gaara segera menggerakkan tangan kanannya untuk meraih satu lagi senjata miliknya, pisau lipat cadangan yang memang disimpan di dalam saku celananya. Namun seketika konsentrasinya buyar dan atensinya beralih pada sebuah suara langkah kaki mendekat.

"Gaara-kun!"

DOR

Meleset. Peluru yang ditembakkan Sakura dari shotgun yang dibawanya tidak tepat sasaran. Tentu saja itu membuat tangan adik Sasori itu semakin bergetar bersamaan dengan mata hijaunya yang menatap tajam Itachi. Rahang Sakura gemertak geram. Serangan dadakannya tak sesuai apa yang diharapkan. Padahal tinggal dua meter lagi dari tempat Gaara berdiri; Sakura berniat memberikan shotgun pada Gaara setelah menjatuhkan Itachi. Namun kini sosok Uchiha itu hanya menyeringai tipis. Kemudian, Itachi kembali mengacungkan pistolnya ke arah gadis yang memegang shotgun. Satu lagi alasan untuk Gaara mengepal erat tangannya cemas.

DOR

"Jangan!"

.

Deidara membeku di tempat. Kurang dari tiga menit lalu dirinya bersama Neji dan Karin tiba di tempat Gaara berhadapan dengan Itachi. Tanpa disadarinya, Neji yang berdiri di depan Karin yang kedua tangannya diikat kini mengepal kedua tangannya erat.

Napas Neji memburu tak karuan. Sejak berlari dari tempat mobilnya meledak, pikiran Neji semakin kalut tak karuan dengan apa yang dilihatnya di tempat ini. Mata ungunya hanya bisa menatap tajam Itachi yang tak melepas atensinya dari Gaara yang masih memeluk Sakura yang terkapar di atas tanah dengan luka tembak.

.

Hembusan napas gadis bersurai soft pink itu semakin parau. Gaara terus menggumamkan nama gadis malang dalam dekapannya itu. Ini yang selalu Gaara takutkan. Namun naas ini pun sudah terlanjur terjadi.

Sakura mengeluarkan silinder timah panas yang melukai perutnya dengan tangannya. Kini gadis yang napasnya tersengal-sengal itu sudah bersimbah darah. Entah mendapat kekuatan darimana hingga gadis Haruno itu mengulas senyum. Dia meletakkan peluru yang baru ditariknya dari tubuhnya, dan menjatuhkannya di atas aspal tempatnya dibaringkan.

TING

Pemilik manik azure yang bagai tak berkedip itu kini mengusap pelan rambut Sakura. Manik azure itu memunculkan pantulan timah panas yang tergeletak di atas aspal; yang sama sekali tak melepas perhatiannya. Tanpa Sakura sadari dada Gaara seolah memanas. Tidak ada yang tahu jika pemuda Rei itu sudah terlampau geram. Dan itu bisa menjadi penyebab Gaara berkomitmen kuat untuk mencukupkan perlawanan Itachi.

"Para dokter akan datang," ucap Gaara sebelum beranjak dan mengambil shotgun yang sebelumnya dibawa Sakura.

Sakura masih membalasnya dengan senyuman. Tanpa memudarkan senyum manisnya sejak Gaara membaringkannya untuk menahan luka di tepi aspal. Demi apa pun Gaara ingin sekali menggendong gadis malang itu menjauh dari lokasi. Mengingat tidak sedikit ketegaran yang sudah Gaara lihat dari gadis yang kini terkapar lemas dengan napas tersengal. Naas duelnya yang segera dilanjutkan membuatnya hanya bisa membawa Sakura beristirahat di tepi jalan.

Jujur, di saat seperti ini bukan hanya dokter lah yang Gaara butuhkan. Kalian ingat bahwa di pihak Gaara saat ini hanya dua yang memegang senjata, bukan? Dan lagi, belum tentu Neji yang memegang pistol bisa menggunakan pistol tersebut dengan baik. Pikiran Gaara semakin tak karuan.

Namun di sisi lain pemilik marga Rei itu kembali mengingat kondisi Sakura. Sakura tak akan terluka jika Uchiha nekat itu tak melakukan apa-apa padanya. Dan kini, fokus Gaara hanyalah untuk membalas Itachi. Dan dengan itu pula Gaara mengarahkan shotgunnya pada Itachi. Dengan posisi yang sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda keraguan, jemari lihai itu bersiap menembak lawan.

DOR DOR DOR

Tiga peluru sekaligus Gaara tembakkan. Berharap sedikitnya satu peluru tepat sasaran.

.

.

.

"Peluru itu mungkin sudah membunuh Sakura andai dirinya tak mempunyai keberanian untuk mencabut peluru itu sendiri."

Gaara yang duduk di bangku tunggu koridor lantai pembedahan mengusap wajahnya yang gusar. Menurut dr. Konan, Haruno Sakura bisa diselamatkan selagi para medis didatangkan tanpa terlambat. Dan kini, Gaara hanya tinggal menunggu pembedahan selesai. Jujur saja, Gaara sendiri juga tegang bukan main saat tembakannya benar-benar meleset.

FLASHBACK

DOR

DOOM

DUAR

Peluru pertama Gaara pupus berlentingan dengan peluru yang baru ditembakkan Itachi. Dan dua peluru lain meleset dengan pergerakan lihai yang dilakukan Itachi saat menghindar. Jelas saja ini berbeda jauh dengan saat Gaara melawan Hidan.

Uchiha Itachi kembali mengacungkan pistolnya ke arah Gaara.

"Kau tembak Gaara, aku tembak dia, Itachi." Neji berujar lantang sebelum Itachi menarik pelatuknya. Pemilik manik lavender itu mendekatkan pistolnya di kepala Karin.

"Jatuhkan pistolmu, hm!" titah Deidara setelah mendapati Itachi batal menembak.

Segera pistol Itachi melayang ke atas tanah. Ancaman halus itu cukup untuk membuat Itachi mengalah. Namun ekspresi tak wajar yang dilihat Deidara dari wajah pembunuh itu membuat Deidara tetap menatap curiga.

.

"Ittai," rintih Sakura begitu ambulans yang dipanggil Gaara telah tiba dan memunculkan sejumlah dokter yang siap membawanya.

Mendengar rintihan gadis malang itu tentu membuat Gaara meringis. Beberapa saat kemudian, tanpa diduga, Neji yang sudah menghempaskan tubuh Karin ke arah Deidara kini sudah berdiri di sebelahnya. Hyuuga muda itu berucap tanpa melepas perhatiannya dari Itachi yang mengangkat kedua tangannya yang kosong, "Gaara, izinkan aku bertanya pada Itachi sebentar."

Anggukan pemilik manik azure itu membuat Neji kembali melanjutkan langkahnya. Kini kurang dari satu meter jarak di antara jaksa dan pembunuh itu. Neji mengacungkan pistolnya ke arah Itachi, sebagai ancaman selama sesi pertanyaan.

"Uchiha Itachi, apakah kau yang membunuh Shisui? Jawab ya atau tidak."

"Ya," balas Itachi tanpa menunjukkan perlawanan. Satu tangannya kini merogoh kantongnya.

Gaara meneguk ludah sejenak, dia terlanjur bingung dengan ekspresi Neji yang sedikit tersentak karena jawaban cepat Itachi.

"Apakah kau dan Hidan adalah orang yang diperintah untuk membunuhku?" tanya Neji lagi. Sesi tanya-jawab ini sukses membuat Gaara melempar pandangan pada Neji dan Itachi bergantian.

"Ya," jawab Itachi lagi. Sampai akhirnya Itachi memberi jawaban kedua, entah kenapa Gaara kembali mengarahkan shotgunnya ke arah Itachi.

Apakah ini sudah direncanakan?

Neji memejamkan matanya sebentar. Napasnya yang sempat memburu kini dia coba buat kembali teratur. Ini semua demi lurusnya jalan pikiran interogator agar bisa menerima informasi terbaik kalau pun ini akan menjadi interogasi terakhirnya. Ya, interogasi terakhirnya.

"Kenapa nii-san ada di sini? Ayo ikut main."

"Ya, tunggu sampai jiwa tegarnya melemah oleh kepedihan dan raganya rusak oleh luka."

"Kematian Shisui juga termasuk balas dendamku atas kematian kakakku."

Neji kembali membuka matanya. Untuk kali ini, senyuman sedih terulas di bibir pemilik manik lavender itu. Terputar kembali di benaknya berbagai percakapan khayalannya dalam mimpi, dan juga kata-kata Hidan yang penuh perlawanan. Ya, jika dipikir-pikir lagi, sudah cukup panjang jalan yang dilewati Neji dalam penanganan kasus mengingat bukan pertama kalinya juga dia berhadapan dengan Itachi dan Hidan. Dua anak dari panti asuhan yang sempat membuatnya iba, sekaligus membuatnya benci akan kejahatan mereka. Ya, sudah banyak juga hal yang dijalani Neji. Dan sepertinya dia cukup memiliki clue dalam penanganan kasus ini. Setidaknya satu clue ini akan mempengaruhi keberhasilan kasus, dengan atau tanpa adanya Neji saat pengadilan kelak.

"Pertanyaan terakhir, apakah ayah angkatmu, Kakuzu, CEO Akasuna Corp. yang dipercayakan Chiyo baa-sama selama ini adalah dalang dari penyerangan mansion Hyuuga sekaligus pelaku pencucian uang yang mengatasnamakan Sasori? Jawab ya atau tidak."

Gaara menurunkan tangannya yang masih menggenggam shotgun. Mata hijaunya kembali digulirkan untuk memandang Itachi dan Neji secara bergantian. Itu terjadi tepat setelah manik azurenya mendapati Itachi yang membuang muka seraya berdecih.

Mungkinkah?

Deidara yang sebelumnya berdiri jauh dari tiga lelaki itu kini berlari menghampiri mereka. Mengabaikan Uzumaki Karin yang masih terduduk di jalan dengan tangan terikat tali tambang yang sejak awal diikat lelaki bersurai pirang itu. Manik cornflower blue itu lekas membola sejak berhadapan dengan Itachi. Mimik wajah Itachi yang baru dianalisanya membuatnya sedikit tersentak. Sekejap kemudian Deidara mengangkat telunjuknya, menunjuk Itachi dengan jemarinya yang entah didasari oleh apa hingga bergetar. Tentu Gaara dan Neji segera mendelik memandang Deidara.

"Te-tebakan Neji benar, hm! Kau anak asuh Kakuzu, hm! Kau, Hidan, dan Nagato..." Deidara menggantung kalimatnya.

Entah sudah berapa Hz frekuensi getaran bibir lelaki pirang itu, Gaara sendiri hanya mengernyit menanti akhir penjelasan Deidara.

"Kalian bertiga anak asuh Kakuzu, hm! Hidan membunuh penghuni mansion Hyuuga karena dia, hm! Kau membunuh Shisui juga karena titah dia, hm! Kau pembunuh!"

SET

JLEB

Hyuuga Neji mengalihkan pandangannya dari Deidara. Manik lavender itu bagai meredup tepat saat saraf optiknya mengimpuls luka di tubuhnya. Perlahan, mata ungu yang semakin sayu itu menatap lelaki bersurai gelap di hadapannya. Manik onyx dan lavender itu pun bertemu. Jarak wajah mereka terhitung hanya sejengkal. Neji dapat melihat raut wajah kesedihan yang disembunyikan Itachi. Dengan demikian Neji hanya menggigit bibir bawahnya, menanti pergerakan berikutnya dari Uchiha muda itu.

CROOT

Itachi enggan membuka matanya selama mencabut pisau lipatnya dari perut Neji. Dia berani bertaruh jika dia sudah menancapkan pisaunya cukup dalam ke perut Hyuuga muda itu. Manik onyx itu sama sayunya kini. Mata hitam Itachi memandang sendu kilap darah yang melumuri dari mata pisau hingga tangannya. Dan kemudian memandang perut Neji yang sudah dia buat luka.

BRUK

"Neji!" gumam Gaara saat menyambut tumbangnya tubuh pria bersurai panjang itu.

Napas Hyuuga Neji semakin terputus-putus. Tidak memungkinkan untuk membuat para medis mengevakuasinya. Deidara hanya melempar tatapan tajam dan sumpah serapah pada Itachi. Sampai akhirnya, Deidara merebut shotgun Gaara dan berdiri. Pemuda bersurai pirang itu mengarahkan senjatanya pada Itachi. Gaara mendelik sekilas melihat apa yang sedang dilakukan Deidara.

"Kenapa kau selicik itu, hm?!"

"Deidara, cukup!" Gaara segera menarik sebelah lengan Deidara. Mencegah niat Deidara yang mungkin akan dengan sembarangan menembak.

"Tapi dia sudah-"

DOR

BRUK

"Kau menembaknya?" tanya Gaara tanpa mengalihkan pandangannya dari Itachi yang terbaring kaku di atas aspal.

Deidara yang berdiri di sebelah Gaara hanya menggeleng dengan ekspresi wajah tak percaya, "Aku bahkan tak tekan tombol apa-apa, hm."

Geez, sejak kapan ada tombol untuk menembak pada senjata api? Deidara benar-benar tak pintar memakai senjata. Tapi, siapa yang menembak Itachi?

Derap langkah mendekat ke arah Gaara dan Deidara berdiri. Ini lebih seperti mendengar langkah kaki seseorang yang mengenakan sepasang wedges. Tanpa ragu, Deidara menoleh mendahului Gaara. Terlanjur penasaran dengan sosok yang baru saja mengakhiri hidup Itachi.

"Kudengar pasukan penanganan kasus khusus punya hak untuk membunuh pembunuh."

"Kalian kembali, huh?" Gaara menanggapi gumaman wanita bersurai coklat itu tanpa menoleh.

"Saya, Inuzuka Hana, dan sederet anggota pasukan khusus kembali menerima tugas, Rei-sama."

FLASHBACK END

"Besok adalah saat sidang hukuman Sasori. Terpaksa kita tak bisa munculkan Hyuuga Neji dan Uchiha Itachi," lapor Kurotsuchi pada Gaara.

Gaara kembali mengusap wajahnya yang gusar. Dirinya yang tengah duduk di bangku koridor rumah sakit kini beranjak bangun. Helaan napas pelan terhembus dari mulutnya. Wajahnya masih menunduk dengan rambutnya yang menutupi sebagian besar lingkar matanya.

"Bawa Kakuzu ke dalam sidang," ucap Gaara kemudian.

.

.

.

"Yokatta! Rupanya kau sama sekali tak terluka," seru Sakura sambil menepuk kedua tangannya begitu melihat Gaara memasuki kamar rawatnya. Ya, sudah sekitar lima belas menit sejak operasi selesai.

Tak lama kemudian, wajah riang gadis itu berubah drastis. Dahinya berkerut tak terima karena Gaara tak menyudahi ekspresi dinginnya sejak masuk kamar. Gaara yang masih dengan wajah gusarnya hanya melangkah pendek mendekati sisi ranjang.

"Ck, kau kenapa-"

GREP

Sakura yang baru akan mengeluhkan ekspresi dingin pemilik manik azure itu kini justru mengerjapkan mata salah tingkah. Tiba-tiba saja Gaara memeluk gadis yang duduk bersandar pada kepala ranjang. Segera Sakura menghela napas panjang berharap wajahnya yang memerah berubah kembali normal.

"Hey, kau kenapa? Ada apa ini?" Sakura mengulang pertanyaannya. Namun tidak dengan nada sebal seperti sebelumnya, kali ini dengan nada lembut berharap apa pun yang terjadi pada Gaara akan segera berubah menjadi baik-baik saja.

"Neji pergi."

Ya, Gaara pikir dua kata cukup untuk menjadi jawaban atas pertanyaan Sakura. Dan benar saja, manik emerald yang sempat berbinar lantaran keceriaan dan rasa syukur atas kesembuhannya kini berubah berkaca-kaca. Segera Sakura membalas pelukan Gaara dengan cengkeraman lembut pada belakang jaket Gaara. Demi apa pun Sakura sangat berharap Gaara bisa cukup tegar kali ini. Karena Sakura juga mengerti, toh belakangan ini mereka memang sudah melalui banyak hal dalam penanganan kasus ini.

"Dia tidak mati dengan percuma. Ka-kau harus sabar." Sakura sedikit tergagap karena baru menjatuhkan air matanya. Sakura sangat ingin menahan isakan, andai dia bisa.

"Hn, dan dengan demikian Sasori akan terbebas dari tuduhan. Misiku akan selesai. Semuanya akan selesai," ujar Gaara sebelum melepas pelukan mereka.

Terkesan datar saat mendengar kalimat yang Gaara ucapkan. Namun entah kenapa seolah mampu membuat dada Sakura sesak. Sakura hanya menanggapinya dengan anggukan. Enggan memikirkan maksud dari kata-kata Gaara. Jujur saja, jika dituntut berpisah pun sudah pasti akan ada rasa enggan di hati pemilik manik emerald itu.

Gaara sendiri tak terlalu menghiraukan anggukan lemah Sakura. Manik azurenya sekilas memandang semangkuk bubur yang masih beruap yang diletakkan di atas meja nakas. Segera lelaki bersurai merah maroon itu melangkah mendekati meja nakas.

"Kenapa kau belum makan?"

Sakura yang sempat melamun kini terkesiap. Mata hijaunya beralih pada Gaara yang memegang mangkuk bubur.

"Eh? A-aku tak tau ada makanan di situ. Ya, aku memang belum makan," tanggap Sakura sekenanya.

Praktis, Gaara mengaduk bubur jagung itu dan menyendok sesuap bubur dan mengacungkannya di hadapan mulut Sakura.

"Eh?"

"Buka mulutmu," titah Gaara singkat.

Sakura segera membuka mulutnya menyambut suapan bubur dari Gaara. Senyuman manis merekah di bibir Sakura begitu mengunyah lembut bubur di mulutnya. Kemudian Sakura menelannya. Melihat Gaara kembali memberikan ekspresi semuram semula, tentu saja membuat senyum Sakura memudar. Sakura tahu jika masalah yang sudah terjadi di belakang memang sangat berat. Bohong jika Gaara terus tersenyum hangat untuk saat ini. Namun haruskah membuat ekspresi yang membuat senyum siapa pun memudar?

"Gaara-kun, aku makan sendiri saja." Sakura baru akan meraih mangkuk yang dipegang Gaara sebelum Gaara menarik lengannya mundur.

"Iie. Aku sedang ingin menyuapimu."

Segera saja Sakura buka lagi mulutnya saat Gaara akan memberikan suapan kedua. Selagi Sakura menikmati makanannya, suasana ruangan menjadi hening. Kecanggungan kembali menyelimuti dan tentu saja itu membuat Sakura merasa tidak nyaman. Beberapa saat kemudian, Sakura mengalihkan lagi pandangannya kepada Gaara yang baru saja menghela napas.

"Sakura, kenapa kemarin kau melakukan itu? Itu terlalu berbahaya."

Sakura paham arah pembicaraan ini. Gaara mulai mengungkit kenekatan dirinya kemarin. Sakura hanya mengangkat kedua sudut bibirnya, kali ini dia tersenyum kecut.

"Posisimu kemarin membuatku cemas. Kau salah ambil pistol kan? Maka itu aku ke tempatmu dengan shotgun yang kuambil di mobil," jawab Sakura sambil menunduk. Enggan menatap langsung manik azure yang terus memandangnya.

"Bagus. Kali ini kau membuatku tidak tahan denganmu," gumam Gaara yang tentu saja membuat Sakura mendongak dengan raut wajah terkejut. Napas Sakura seolah tercekat begitu mata hijau membolanya menyadari bahwa Gaara meletakkan mangkuk buburnya dan mendekati Sakura dengan ekspresii yang tak terdefinisikan.

.

.

.

Kurotsuchi telah sampai di depan sebuah bangunan. Rumah bernuansa beige yang tak bisa disebut kecil namun juga tak bisa disebut mewah. Ornamen dinding yang klasik dan sudah lewat jamannya seolah mengatakan bahwa bangunan tua itu memang sudah lama tak ditinggali dan tak terurus. Padahal Kurotsuchi sangat yakin jika ini memang rumah dinas CEO Akasuna Corp. Sayangnya saat ditanya, para petugas keamanan lingkungan perumahan mengatakan tidak tahu apa-apa seputar pemilik rumah ini. Ataukah ini sebuah konspirasi? Anggota pasukan khusus seperti Kurotsuchi memang dituntut untuk menaruh curiga pada siapa pun dalam kasus ini.

"Sedang cari siapa?"

Kurotsuchi bergedik kaget saat merasakan seseorang muncul di belakangnya dan menepuk salah satu pundaknya. Saat dirinya berbalik, tidak ada siapa pun selain beberapa pengendara yang lalu-lalang di jalanan perumahan.

"Aku di sini."

Gadis bersurai hitam pendek itu kembali menoleh ke arah sumber suara dan tidak ada siapa pun. Geez, sepertinya cukup tepat alasan untuk membuat bulu kuduk Kurotsuchi meremang. Sekejap kemudian Kurotsuchi memutuskan untuk meninggalkan gedung itu dan mendekati mobilnya yang diparkirkan di depan rumah.

CKLEK

"Aku rasa aku punya petunjuk soal pemilik rumah ini."

Suara itu kembali menelusuk indera pendengaran Kurotsuchi, dan dengan demikian kepalanya menoleh.

"Siapa kau?" tanya Kurotsuchi yang gagal menyembunyikan nada kaget pada kalimatnya.

Bagaimana tidak? Mata hitamnya pun bergulir memandang penampilan wanita yang muncul tiba-tiba itu dari atas kepala hingga ujung kaki. Melihat kaki wanita bersurai dark khaki itu menapak bumi, Kurotsuchi menghela napas lega. Walau tak bisa dibantah dia sempat heran pada luka bakar di tangan wanita berpakaian serba putih itu.

"Pemilik rumah ini sudah tidak tinggal di sini sejak Sasori ditangkap. Tapi aku sering melihatnya di bar Ichiraku," ucap wanita itu tanpa menjawab pertanyaan pertama Kurotsuchi.

Tanpa curiga, Kurotsuchi langsung saja mengambil sebuah buku catatan di saku celananya dan juga sebuah pena.

"Yosh! Terimakasih informasinya. Bisakah aku tahu siapa namamu?" tanya Kurotsuchi sambil menulis informasi yang diterimanya di buku kecil itu. Manik onyxnya sama sekali tak beralih menatap wanita itu.

"Namaku Nii Yugito."

DEG

Tanpa sengaja buku catatan dan pena Kurotsuchi melayang ke atas aspal. Manik onyxnya membola bersamaan dengan kepalanya yang mendongak. Naas wanita bersurai dark khaki itu sudah lenyap dari tempatnya.

BRUK

Kurotsuchi duduk dengan napas terengah-engah dan lututnya menapak di atas bumi. Tubuhnya bergetar hebat tatkala mengingat nama sosok yang menghilang itu. Nii Yugito. Ya, kita doakan saja agar Kurotsuchi tidak jatuh demam seperti atasannya.

.

.

.

Deidara yang baru membuka kasar pintu kamar rawat Sakura kini mengernyitkan dahi curiga pada apa yang akan dilakukan Gaara sekarang. Benar saja, posisi Gaara dan Sakura sangat mencurigakan kali ini. Sakura menganga kebingungan tatkala pemuda bersurai merah maroon itu menggenggam kedua lengan atasnya. Kemudian, tubuhnya seakan-akan merinding tatkala Gaara mengusap pipi kiri Sakura dengan tangan kanannya.

"Sakura, sampai kapan kau mau berbuat sebodoh itu? Kau selalu bodoh."

TWICH

Dahi Sakura berkedut sebal akibat kalimat lembut Gaara. Ya, terlalu lembut hingga membuat Sakura praktis mendorong tubuh lelaki itu menjauh.

"Dasar tidak sopan! Atas dasar apa kau mengatakan kalau aku bodoh, huh?!" ujar Sakura sakratis. Gadis itu masih menatap Gaara sewot.

Gaara yang sempat terhempas ke belakang kini melangkah mendekat dan melipat kedua tangannya di dada, "Kau bodoh karena kau selalu terlampau nekat, Sakura. Sampai kapan kau mau membuatku khawatir?"

Sakura sempat terkesiap mendengar kalimat itu. Benar juga, Sakura memang terbilang ceroboh dan nekat pada saat itu. Namun seketika dirinya berniat membantah, "Kalau aku yang bodoh, lalu kenapa kau jadi khawatir? Siapa dirimu hingga terlampau overprotectif begitu?"

JEGEEER

Bagaikan kilat petir yang menyambar sebagai latar belakang, balasan Sakura sukses membuat keheningan kembali menyelimuti suasana. Sejak awal Sakura memang tak mau mengkhawatirkan siapa pun. Jujur saja, membuat orang lain khawatir juga adalah hal yang membuat diri kita tidak nyaman, bukan?

Deidara yang terlalu bosan karena dua insan di hadapannya berselisih untuk hal sepele begini hanya menggaruk rambutnya frustasi, "Ck, kenapa kalian jadi seaneh ini, hm? Pakai logika saja, hm! Mungkin saja karena Gaara mencintaimu, Sakura, hm!"

SKAK MAT

TBC

A/N:

Kalian pernah nonton Cars 2 atau film atau cerita berbau detektif-detektifan atau mata-mata semacamnya? Di sana ada bom yang berupa logam kecil-kecil macam magnet yang bisa meledak. Itulah bom yang kupakai untuk mobil Neji. Maaf, tak tau namanya. *digampar*

Aku pernah baca di AFF kalau pistol punya level peluru berbeda-beda. Jadi itu alasan Itachi tak langsung mati; Gaara salah ambil pistol.

Serius, aku gak kepikiran soal nama bar yang tepat. Mau nanya ke grup Naruto langganan tapi lagi mau cepet karena kuota terbatas jadi mau gak mau pakai nama itu. Maaf kalau- ya pokoknya maafkan deh ya! X3

Berhubung aku berpikir ch ini banyak anehnya & bikin bingung, kalian bisa banjiri kotak review dengan pertanyaan kok. Sekalian, mau bilang makasih sama Bang Kise Ganteng, AkagamiShimura27, Hinamori Hikari, AkasaunaSs, & Josephine La Rose99 yang review ch lalu. Balasannya ada di PM kecuali anonim.

Pojok Respon:

AkasaunaSs: Ini sudah lanjut. Maaf telat dan makasih reviewnya ^^

Mind to Review?