Mungkin akan lebih baik jika nanti aku izin dengan suamiku untuk membuat itu semua, jika itu Naruto-kun apa dia akan mengizinkan aku menanam semua jenis tanaman seperti ini. Sepertinya dia akan mengizinkan, Naruto-kun kan orang yang baik dan selalu berpikir positif./"Ah, bagaimana kalau pergi bersama Hinata-chan saja. Bukannya Hinata juga ingin mengunjungi Neji?"/"Yosh, kami pergi dulu Ino" kata Naruto/"Jaa Naruto, Ganbatte Hinata-chan" teriak Ino saat Naruto dan Hinata mulai meninggalkan toko bunganya./

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

And the story "About You" belongs to Me

Naruto Uzumaki x Hinata Hyuuga

Rate : T/T+

Genre : Hurt/Comfort, Romance

Warning : Typo merajalela, OOC, Mainstream

Mereka berdua berjalan seiringan. Seirama. Baik Hinata dan Naruto, keduanya belum ada yang ingin memecah kesunyian yang tercipta. Namun entah mengapa dua ninja hebat Konoha ini seperti merasakan kenyamanan tersendiri, seakan diam tidak mengganggu mereka dan tidak membuat mereka canggung satu sama lain.

"Hinataa , Narutoo" seakan sudah mempunyai ikatan tersendiri, Hinata dan Naruto menoleh secara bersama ke arah sipemanggil tersebut.

"Oi Kiba, Shino, ada apa?" Tanya Naruto saat Kiba dan Shino mendekat

"Kalian berdua mau kemana? Pergi kencan nee?" Tanya Kiba secara tiba-tiba. Otomatis pertanyaan Kiba itu memunculkan perempatan siku didahi Naruto dan menyebabkan wajah Hinata sudah memerah semerah tomat kesukaan Sasuke.

"Bodoh. Apa yang kau bicarakan ttebayo. Aku dan Hinata hanya berjalan bersama"

"Untuk pergi kencan?" Tanya Shino dengan nada yang tidak berdosanya.

"Bukan seperti itu. Aarrgh kalian ini. Hinata-chan, sebaiknya kau saja yang menjelaskan kepada dua orang bodoh ini" pletak, tak tanggung-tanggung, Kiba langsung menjitak kepala Naruto hingga menimbulkan 2 benjolan berurutan disana.

"Itaii .."

"Ano Kiba-kun, Shino-kun, aku dan Naruto akan mengunjungi Neji-nii dan Hokage-sama juga Kushina-sama" jawab Hinata pelan karena merasa tidak enak hati melihat Naruto yang serba salah didepan teman setimnya.

"Ohh, jadi kau akan memperkenalkan pacar mu pada orang tua mu Naruto?" Tanya Shino

"Heii Hinata bukanlah pacarku ttebayo. Kenapa kalian berdua ini terus saja menggodaku, sudahlah Hinata, ayo kita tinggalkan saja kedua orang ini" kata Naruto dan berjalan mendahului Hinata yang masih terdiam.

Hinata POV

Sekarang aku sedang berjalan bersama Naruto-kun, lelaki yang selama ini kuimpikan, lelaki yang selama ini kudambakan. Mungkin, apa ini pertanda mimpi tentang Neji-niisan tadi malam? Ah sudahlah, mau itu benar atau tidak yang pasti sekarang aku sangat bahagia. Tapi kenapa semenjak tadi Naruto-kun diam saja, tidak biasanya dia diam seperti ini. Apa Naruto-kun tidak senang jalan bersama denganku. Bagaimana kalau dia bosan? Bodoh Hinata bodoh, kenapa aku malah menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan Kami-sama untukku.

"Hinataa , Narutoo" Sepertinya itu suara Kiba, dan tebakanku ternyata benar. Mereka berdua sekarang sedang berjalan menghampiri kami.

"Oi Kiba, Shino, ada apa?" Tanya Naruto

"Kalian berdua mau kemana? Pergi kencan nee?" Tanya Kiba secara tiba-tiba. Sontak mendengar pertanyaan Kiba membuatku malu. Bisa-bisanya dia menanyakan itu pada Naruto-kun. Bagaimana kalau Naruto-kun tahu perasaanku. Pasti ia akan menjauhiku, dan jangan sampai itu terjadi.

"Bodoh. Apa yang kau bicarakan ttebayo. Aku dan Hinata hanya berjalan bersama" jawab Naruto-kun cepat. Ada rasa sedikit kecewa dihatiku saat Naruto-kun membantah itu semua. Apa memang tidak ada harapan untukku pergi kencan dengannya? Tidak Hinata, Kami-sama kenapa aku jadi berani untuk bermimpi setinggi ini.

"Untuk pergi kencan?" Tanya Shino lagi, kenapa Shino bahkan harus ikut-ikutan menggodaku.

"Bukan seperti itu. Aarrgh kalian ini. Hinata-chan, sebaiknya kau saja yang menjelaskan kepada dua orang bodoh ini" Dan yah seperti kuduga, pasti Naruto-kun membantah dengan cepat itu semua. Lihatlah Hinata, bahkan Naruto-kun tidak membiarkanmu sedikit saja berharap bahwa kalian bisa pergi kencan berdua

"Itaii .." Tidak, bagaimana Kiba bisa memukul kepala Naruto-kun. Kalau .. kalau Naruto-kun gegar otak bagaimana, kalau Naruto-kun terluka aku pasti tidak akan segan-segan memastikannya menjadi kelinci percobaan jutsu terbaru klan Hyuuga.

"Ano Kiba-kun, Shino-kun, aku dan Naruto-kun akan mengunjungi Neji-nii dan Hokage-sama juga Kushina-sama" jawab ku pelan merasa tidak enak karena Naruto-kun mulai mengerucutkan bibirnya karena tindakan Kiba. Pasti dia sudah kehabisan akal untuk membantah semuanya. Aku hanya tidak ingin Naruto-kun kapok untuk berjalan bersamaku lagi

"Ohh, jadi kau akan memperkenalkan pacar mu pada orang tua mu Naruto?" Tanya Shino. Jangaaan Shino, kenapa hari ini Shino begitu menyebalkan, Kami-sama

"Heii Hinata bukanlah pacarku ttebayo..." Deg. Perkataan Naruto selanjutnya tidak kudengar. Yang kutangkap hanyalah Naruto membantah secara mentah-mentah itu semua. Apa ini pertanda bahwa Naruto-kun benar-benar tidak melihatku. Apa ini pertanda bahwa aku memang tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk bersanding dengannya.

Kumohon, airmata ini jangan menetes. Kenapa hati ini terasa sesak. Apa yang dikatakan Naruto-kun benar, kami memang tidak mempunyai hubungan apa-apa, tapi kenapa hati ini seperti tidak menerima. Neji-niisan, kenapa aku harus merasakan perasaan seperti ini lagi. Bahkan rasa sakit ini lebih parah dibandingkan saat Naruto-kun mengakui Sakura didepan Hokage-sama saat itu. Kami-sama, kumohon, kuatkanlah hatiku.

End Hinata POV

"Hinata-chan ..." Hinata tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah Naruto yang berdiri didepannya, dengan diiringi tatapan iba dari Kiba dan Shino

"Ah Naruto-kun, sepertinya aku lupa, hari ini Tou-san menyuruhku membawakan bekal untuk Hanabi, jadi .. maaf, aku titipkan ini saja untuk Neji-nii ya" ujar Hinata pelan dengan senyum yang dipaksakan

"Umm seperti itu ya, yasudahlah, mau gimana lagi, Hiashi-san pasti akan mencekikku jika aku memaksamu untuk menemani menengok tou-san dan kaa-san"

"Ya, jaa-ne Naruto-kun, Kiba-kun, Shino-kun" kata Hinata dan pergi secepat mungkin.

Ketiga orang ninja yang ditinggalkan Hinatapun masih melihat kemana arah perginya sang kunoichi tersebut hingga ia menghilang dari pandangan mereka.

"Hei Kiba, Apa Hinata tidak apa-apa? Sepertinya hari ini ia sedang sakit" kata Naruto

"Maksudmu apa?" Tanya Kiba bingung

"Hmm semenjak tadi aku berjalan dengannya, Hinata tidak berbicara sedikitpun ttebayo, dan dari di toko bunga milik Ino saat bertemu denganku, muka Hinata sangat merah seperti kepiting rebus. Apa itu tidak apa-apa?" Tanya Naruto

Jelas Kiba dan Shino sudah biasa melihat Hinata seperti itu. Saat hal-hal yang berkaitan dengan Naruto mulai bersinggungan dengan gadis itu, pasti Hinata dengan responnya yang cepat akan memerah. Bukan karena flu, lebih tepatnya karena ia terlalu menyukai bocah kuning itu.

Menjadi teman setim Hyuuga Hinata sedari lama membuat Kiba dan juga Shino paham apa yang dirasakan oleh Hinata. Bahkan orang yang pertama kali bertemu pun pasti akan mengetahui bahwa Hinata menyimpan perasaan mendalam untuk Naruto. Namun, mereka berdua tidak habis pikir, bagaimana Naruto bisa sesantai itu atau bahkan tidak tahu dan tidak peka dengan perasaan Hinata terhadap dirinya.

"Mungkin ia flu" jawab Shino sekenanya agar Naruto tidak curiga. Ya, baik Shino ataupun Kiba keduanya sangat menjaga privasi Hinata. Mereka berdua telah sepakat untuk tidak membocorkan perasaan Hinata ke Naruto karena mereka tidak ingin mencampuri urusan hati orang lain, terutama orang yang sudah mereka anggap seperti adik perempuan mereka sendiri.

"Yasudahlah mau gimana lagi, kalian berdua temani aku menemui kaa-san dan tou-san yaa!" Ujar Naruto seenaknya

"Apaa?! Tidak tidak, kami ingin latihan hari ini, ditambah kami ingin bertemu guru Kurenai dan juga Mirai-chan" kata Kiba

"Temani aku ya Kibaaaa, Shinoo"

"Tidak, aku juga harus menjemput Akamaru yang sedang bersama Mirai" kata Kiba lagi

"Lainkali saja Naruto, jaa-nee kami pergi dulu" kata Shino dan secepat kilat melompat melewati pepohonan dan disusul dengan Kiba.

"Yasudahlah mau gimana lagi, tou-san, kaa-san, aku datang ttebayo"

.

.

Airmata tidak berhenti turun walau telah dipaksa untuk berhenti. Berkali-kali gadis itu sesegukan untuk menahan semua perasaan yang memaksa untuk dikeluarkan. Pandangan matanya menyiratkan akan kekecewaan. Hanya dia yang berirama senada dengan alam ditengah lebatnya hutan.

Selepas perginya ia dari kumpulan ketiga ninja hebat itu, Hinata langsung menuju kearah danau ditengah hutan, danau dimana dulu ia pernah beristirahat saat melakukan misi nya mencari bikochu bersama timnya dan juga Naruto.

"Hiks .. hiks .. Nii-san, kaa-san, kenapa aku menjadi lemah seperti ini? Maafkan Hinata karena hari ini aku batal menemui Nii-san... aku .. aku kangen kalian, hiks .. hiks"

.

.

Pemakaman Konoha

Kumpulan nisan-nisan putih bersih mulai menyambut di depan pintu masuk tempat ini. Tidak ada aura seram dan mencekam seperti pemakaman lain, yang ada hanyalah ketenangan dan damai yang tercipta di pemakaman konoha ini. Selepas perang dunia ninja, para pahlawan yang gugur di medan perang tentu tidak ditinggalkan begitu saja, tetapi mereka dimakamkan selayaknya dan hal ini tidak lepas dari campur tangan seseorang yang kini mulai menghampiri 2 makam yang berdekatan, tidak lain dan tidak bukan orang itu adalah Naruto.

Dengan tatapan sendunya Naruto duduk bersimpuh di depan makam kedua orang tuanya yang bersebalahan. Baru saja ia menolehkan pandangannya ke arah batu nisan orang yang amat disayanginya, air matanya terjatuh. Terbayang semua perjuangan dan pengorbanan yang orang tuanya berikan saat ia baru pertama kali hadir didunia. Bagaimana sang ayah mencoba menyegel bijuu yang ada didalam tubuh ibunya. Bagaimana sang ayah dan ibunya merelakan nyawa mereka untuk menyelamatkan dirinya. Semua terbayang seolah-olah video yang siap diputar kapanpun ia inginkan. Dan dilanjutkan dengan saat ia harus hidup menyendiri. Bahkan saat ia belum mengetahui siapa kedua orang tuanya, dan kenapa anak sekecil dirinya sudah dikatakan "anak monster" oleh seluruh penduduk Konoha. Saat ia harus dijauhi dan tidak mempunyai teman, hingga sekarang ia dapat memutar balikan semuanya. Semua orang menghormatinya dan segan terhadapnya, dan semua itu tidak lain dan tidak bukan karena kedua orang tuanya yang telah memberinya kekuatan dan keyakinan untuk menghadapi semuanya.

"Tou-san, kaa-san, apa kabar?" Tanya Naruto memulai percakapan. Sejenak ia menutup mata, merasakan angin bertiup seakan pertanda bahwa kedua orang tuanya selalu hadir bersamanya.

"Aku rindu kalian, banyak yang ingin kuceritakan, apa kalian .. kalian merindukanku? Tou-san, kaa-san, sekarang semua penduduk desa tidak menjauhiku lagi, bahkan mereka sangat baik terhadapku. Aku baik-baik saja, kalian jangan cemas" air mata perlahan turun di pipi tan Uzumaki Naruto.

"Kini aku mempunyai banyak teman yang mendukungku, aku juga tidak sering minum-minum, dan soal Jiraya-sensei, sebisa mungkin aku tidak sama mesumnya ttebayo, seperti yang kaa-san bilang, aku .. aku baik-baik saja, hiks hiks , aku hanya .. hanya rindu kalian, aku ingin bertemu kalian tou-san kaa-san. Apa kalian mendengarku?" Naruto tidak henti-hentinya menangis didepan makam kedua orang tuanya, seakan hari itu adalah hari terakhir ia mencurahkan semua keluh kesah yang selama ini ia selalu pendam dari siapapun. Rasa sakit yang tidak ia perlihatkan ke siapapun. Hanya didepan kedua orang tuanyalah seorang pahlawan terkuat konoha seakan merasa seperti anak kecil yang hanya bisa terus saja menangis dan menangis.

.

.

Senja kini mulai datang, matahari pun mulai terbenam. Seharian Naruto dan Hinata menghabiskan waktunya untuk berkeluh kesah melepaskan semua perasaan yang disimpannya begitu saja. Tentu ditempat yang masing-masing berbeda.

"Ah aku lupa tou-san, kaa-san, Hinata menitipkan ini untuk Neji, baiklah aku akan mengunjungi Neji ttebayo" kata Naruto yang sudah bersemangat dan pergi berjalan ke makam Neji.

"Hoi Nejii .. apa kabar? Apa kau betah nee disana?" Naruto mulai membungkukan badannya dan duduk didekat nisan milik sahabatnya itu.

"Konoha sudah aman sekarang, dan soal Hinata, ia menitipkan ini untukmu, pasti kau sangat senang nee mempunyai saudara seperti Hinata. Tapi umm .. sepertinya tadi ia sedang tidak enak badan ttebayo. Aku merindukanmu Neji, Hinata dan Hanabi pasti juga merindukanmu. Oh iya Neji, apa Hinata selalu seperti itu, yaa umm maksudku... selalu bersemu merah saat dekat denganku? Apa dia alergi terhadapku, nee? Ah tidak tidak, Orang setampan diriku pasti justru membuatnya terpesona kan Neji? Tapi apa benar dia tidak apa-apa? Sial, jika kau sekarang masih hidup aku tidak bisa membayangkan ttebayo bagaimana aku menceritakan semua tentang Hinata kepadamu. Aku .. aku hanya ... mengkhawatirkannya. Um Neji, apa Hinata serius mencintaiku? Aku hanya takut jika dia hanya bersimpati seperti yang lain ttebayoo, aku takut jika saat aku berharap, aku malah ditinggalkan seperti dahulu saat aku dicampakan oleh seluruh penduduk desa, kau tahu kan bagaimana rasanya tidak dianggap. Aku takut .." Naruto menghela nafas"Aku tidak pantas untuknya"

TBC