"Hiks .. hiks .. Nii-san, kaa-san, kenapa aku menjadi lemah seperti ini? Maafkan Hinata karena hari ini aku batal menemui Nii-san... aku .. aku kangen kalian, hiks .. hiks"/"Kini aku mempunyai banyak teman yang mendukungku.."/apa Hinata serius mencintaiku? Aku hanya takut jika dia hanya bersimpati seperti yang lain ttebayoo, aku takut jika saat aku berharap, aku malah ditinggalkan seperti dahulu saat aku dicampakan oleh seluruh penduduk desa, kau tahu kan bagaimana rasanya tidak dianggap. Aku takut .." Naruto menghela nafas"Aku tidak pantas untuknya"/
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
And the story "About You" belongs to Me
Naruto Uzumaki x Hinata Hyuuga
Rate : T/T+
Genre : Hurt/Comfort, Romance
Warning : Typo merajalela, OOC, Mainstream
Saat kegelapan mulai menyelimuti malam. Hanya akan ada bintang dan rembulan yang bersinar. Konoha, negara api yang sekarang jauh berkembang pesat dibandingkan saat dulu kala. Tidak hanya bulan dan bintang yang bersinar, namun deretan lampu-lampu toko pun mulai menghiasi dan menyinari gelapnya malam. Seorang gadis berjalan tertunduk lemah, matanya sembab menandakan ia sudah menangis seharian, siapa lagi kalau bukan Hinata. Sepertinya setelah menangis dihutan tadi, Hinata tidak sadar bahwa ia tertidur.
"Hinata" suara itu berhasil mengalihkan pandangan Hinata. Dan sebisa mungkin Hinata tersenyum dan berhenti melangkah, menunggu si pemanggil menghampirinya.
"Kau habis dari mana?" Tanya seorang kunoichi berambut merah yang mulai mendekat, Sakura namanya.
"Danau, Sakura-chan ingin pergi kemana?" Tanya Hinata lembut
"Aku ingin ke ichiraku, kau mau ikut?" Tanya Sakura.
Hinata pun tersadar bahwa daritadi siang perutnya belum terisi oleh apapun. Dan dapat dipastikan, bahwa makanan dirumahnya sudah habis diberikan ke para maid yang ada. Tapi, ichiraku bukanlah tempat yang ingin Hinata datangi sekarang, karena pasti mengingatkannya pada sosok Naruto yang gemar sekali pergi kesana.
"Aku ..."
"Temani aku ya, please. Aku yang traktir, bagaimana? Atau kau mau makan dimana?" Tanya Sakura antusias
"Apa tidak apa-apa Sakura? Aku rasa .. hm .. terlalu berlebihan"
"Ayolah Hinata, aku sangat bosan hari ini, temani aku ya"
"Baiklah kalau begitu" jawab Hinata pasrah, ia tidak tega membiarkan Sakura memelas lebih kepadanya.
Akhirnya mereka berdua pun pergi ke kedai ichiraku. Setelah memesan satu mangkuk ramen pedas untuk sakura dan satu mangkuk ramen sedang dengan ekstra naruto untuk Hinata, mereka pun melahapnya. Kuah ramen buatan paman Teuchi memang dapat membuat siapa saja fresh seketika. Tidak terkecuali Hinata, baru beberapa suapan wajah Hinata memerah oleh uap hangat yang berasal dari ramennya.
"Hinata .."
"Ya Sakura"
"Apa ... kamu menunggu Naruto?" Hinata tersentak mendengar pertanyaan Sakura yang tiba-tiba. Bukan malah menjawab namun Hinata hanya terdiam sembari menunduk ke arah mangkuk ramennya yang belum setengahnya habis.
"Jadi benar ya dugaanku, kau memang menyukai dia. Sejak kapan?" Tanya Sakura lagi.
"Itu sejak .. "
"Oi Hinata , Sakura .. " Sakura langsung menoleh seketika saat orang yang sedang dibicarakan malah datang. Sedangkan Hinata, ia hanya terdiam dan wajahnya memerah seketika. Kali ini dia belum benar-benar siap menemui sang jinchuriki itu.
"Hinata, apa kau sudah tidak sakit lagi?" Tanya Naruto saat melihat Hinata
"Loh, Hinata, apa kau sakit?" Tanya Sakura yang heran dengan pertanyaan Naruto "Jangan asal sembarangan bicara Naruto!" Ujar Sakura
"Tidaak Sakura, tadi pagi Hinata memang benar-benar sedang sakit. Hmm sepertinya .." kata Naruto sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"Anoo aku tidak apa-apa Naruto, Sakura" jawab Hinata pelan
"Tuh, jangan main asal bicara .."
"Nee nee .. sudahlah, jadi kalian disini hanya berdua? Aku gabung ya" kata Naruto dan malah duduk diantara Hinata dan Sakura.
"Naruto no baka" guma Sakura ketus.
"Paman, aku pesan ramen ekstra pedas yang jumbo ya, jangan lupa tambah naruto yang banyaaak"
"Pesanan mu sama dengan Hinata loh Naruto" kata Sakura meledek
"Wah, benarkah? ternyata Hinata suka naruto ya?" Tanya Naruto. Blush Hinata yang ditanya seperti itu makin salah tingkah, wajahnya sudah merah seperti tomat bahkan lebih merah dibanding tomat.
"Um .. i-iya a-aku suka naruto" kata Hinata pelan.
"Kalau aku, kamu suka ga? Aku juga naruto loh Hinata-chan" kata Naruto dengan puppy eyesnya sembari menoleh ke arah Hinata
Hinata yang memandang itu terpesona dan tidak bisa berkata apa-apa.
"Aku .. "
"Ini Naruto pesanannya" ujar Ayame, anak dari paman Teuchi pemilik kedai ramen terkenal di konoha ini.
"Wah, arigatou, baiklah Itadakimasu" kata Naruto dan langsung makan ramen yang baru saja dihidangkan. Melupakan pertanyaan dan pernyataan yang tertunda tentang Hinata.
Sakura hanya memandang bosan Naruto yang kini kekenyangan setelah menghabiskan 3 mangkuk ramennya. Dan Hinata hanya bisa memandang Naruto takjub. Mungkin inilah sumber kekuatan dari sang jinchuriki, ramen 3 mangkuk jumbo yang ekstra pedas. Entah bagaimana nantinya Naruto akan kuat dengan gejolak panas diperutnya, Hinata tidak begitu mengerti.
"Sakura , Naruto, sebaiknya aku pulang duluan ya, sudah malam, pasti tou-san dan Hanabi mencariku" kata Hinata dengan sopannya
"Ah, bagaimana kalau Naruto mengantarkanmu saja? Lagipula, rumah Naruto dan mansion Hyuuga kan searah, benar kan Naruto?"
"Iya Hinata-chan, bagaimana?" Tanya Naruto
"Hm tidak apa-apa, aku bisa pulang sendiri" jawab Hinata pelan. Hinata hanya tidak ingin kejadian siang tadi terulang. Cukup mengingatnya saja sudah membuat Hinata mulai merasakan kecewa, bagaimana jika nanti ada yang menanyakan lagi saat ia dan Naruto berjalan bersama.
"Yasudah aku duluan, jaa nee Sakura, Naruto" kata Hinata dan pergi tanpa menunggu komentar yang akan Sakura layangkan dan jawaban dari Naruto
Pagi dikonoha berjalan seperti biasa, terutama teramat sangat biasa untuk seorang Naruto Uzumaki. Bedanya hari ini ia harus menemani Tuan Hokage keenam sekaligus senseinya itu yaitu Kakashi melihat perkembangan pembangunan desa Konoha didaerah terpinggir dan yang paling ujung diantara daerah yang lain.
"Bagaimana Kakashi-sensei? Apa kita sudah selesai?" Tanya Naruto yang entah keberapa kali pada hokage keenam ini.
"Belum Naruto, sebentar lagi. Kau harus membiasakan dirimu seperti ini kau tahu? Karena pekerjaan Hokage tidak hanya menjaga desa saat perang terjadi, namun disaat-saat seperti ini kau juga sebaiknya menyempatkan untuk mengontrol setiap sudut desa" jawab Kakashi dengan bijak
"Huh, sudah 300 kali sensei menjawab seperti itu"
"Baka, itu juga karena sudah 300 kali kau menanyakan hal yang sama Naruto" jawab Kakashi yang sudah mulai kesal.
Dan mau tidak mau, Naruto hanya mengikuti senseinya itu berjalan berkeliling desa. Dan seperti para hokage lainnya ataupun para pemimpin desa lainnya, Kakashi cukup populer dikalangan warga Konoha.
"Tuan hokage-sama ..." dan ya, setiap perjalanannya pasti ada saja yang menjerit histeris terlebih para gadis-gadis yang baru melihat Kakashi secara dekat dan langsung. Terlebih sekarang didekat Kakashi ada Naruto, sang pahlawan perang dunia ninja kemarin yang cukup populer dan menjadi idaman baru setiap gadis-gadis di desa Konoha.
"Apa masih lama Kaka .."
"Hokage-sama" ucapan Naruto terhenti saat ada seorang Shikamaru Nara yang sekarang sedang berjalan ke arah mereka
"Hoi Shikamaru" sapa Naruto
"Sedang apa kau disini Naruto?" Tanya Shikamaru dan melirik kearah Naruto juga Kakashi
"Oi kau tidak lihat, aku sedang menemani Kaka hm maksudku Hokage-sama memantau desa" jawab Naruto
"Dan kau sendiri?" Tanya Kakashi pada Shikamaru.
"Hm sedang melihat rusa-rusa yang membosankan" jawab Shikamaru dengan nada malasnya
"Dan yang kau bawa itu apa?" Tanya Naruto yang pandangannya terfokus kearah gumpalan di tangan Shikamaru
"Oh ini, ya tadi aku bertemu Hanabi yang baru mengambil balsam klan Hyuuga dan dia menitipkan ini karena langsung menjalankan misi"
"Balsam?" Pikiran Naruto pun melayang saat ujian chuunin, saat Hinata memberinya Balsam yang katanya guru Kurenai itu adalah obat khas klan Hyuuga
"Hm kalau begitu, sini biar aku saja yang mengantarkan itu" kata Naruto tiba-tiba.
Sontak saja perkataan Naruto membuat Shikamaru dan Kakashi langsung memandangnya heran.
"Hei Naruto, kau kan sedang menemaniku" kata Kakashi
"Dan lagipula, urusanku sudah selesai dengan rusa-rusa itu, jadi tidak masalah Naruto" jawab Shikamaru santai.
"Jangan suka menolak perbuatan baik seseorang Shikamaru, tidak apa-apa, aku saja ya yang mengantar, dan pasti Kakashi-sensei juga tidak keberatan. Iya kan sensei?" Kata Naruto. Kakashi yang melihat Naruto tidak seperti biasanya itu pun akhirnya mau tidak mau menyetujuinya. Dan soal Shikamaru, melihat Kakashi sudah menyetujui pun, akhirnya ia juga melepaskan titipan itu ke Naruto.
.
.
Naruto berjalan dengan riangnya ke arah tujuannya yaitu mansion Hyuuga.
Naruto's POV
Setelah Shikamaru memberikan titipannya kepadaku, akhirnya aku bisa terbebas dari menemani guru Kakashi yang membosankan itu. Haha, pasti mereka berdua tidak percaya kalau aku memakai alasan ini untuk kabur dari Kakashi-sensei. Tapi, apa ini tadi kata Shikamaru? Balsam? Apa ini obat yang sama yang diberikan Hinata saat itu ya?
Ah, entah kenapa memikirkan Hinata membuat perasaan ini tidak karuan saja. Sudahlah, mungkin karena Hinata adalah saudara Neji dan karena itu mungkin aku terus memikirkannya.
Berbicara soal Neji, aku jadi ingat saat-saat aku melawannya. Dan saat aku mengambil sedikit darah Hinata dan mengacungkan padanya. Yang entah bagaimana, bagiku itu seperti janji darah untuk menjaga Hinata.
"Naruto-kun"
Ah, eh kenapa Hinata disini? Aku kembali melihat sekelilingku, ternyata aku sudah berada di mansion Hyuuga. Dan Hinata sudah berdiri didepan gerbang, mungkin ingin pergi.
Normal POV
"Ini Hinata, aku .. membawa ini" kata Naruto menunjukan apa yang dibawanya dan memberikannya ke Hinata.
"Arigatou, Naruto-kun bertemu Hanabi?" Tanya Hinata
"Tidaak, hm maksudku tadi Shikamaru yang bertemu Hanabi dan menitipkannya padaku"
"Hontou ni, arigatou, apa kau mau masuk dulu?" Tanya Hinata sopan
"Apa kau mau pergi?" Tanya Naruto yang balik bertanya.
"Anoo, tidak, aku hanya ingin membuang ini" kata Hinata dan membukakan gerbang mansion.
Naruto pun yang baru pertama kali datang ke mansion Hyuuga terpesona dengan keindahan taman dipekarangan depan mansion. Hinata memimpin Naruto untuk masuk kedalam ruang tamu mansion Hyuuga. Dan sekali lagi Naruto pun takjub akan kemegahan yang sangat masih menjaga ketradisionalan klan. Dimana-dimana Naruto dapat melihat beberapa kerajinan khas desa Konoha juga khas klan Hyuuga.
"Mau minum apa, Naruto?" Tanya Hinata dengan sopan
"Hm .. apa saja Hinata" jawab Naruto
"Baiklah, tunggu sebentar ya" kata Hinata dan langsung pergi meninggalkan Naruto di ruang tamu.
"Wah, luas sekali dattebayo. Aku tidak menyangka Hinata memiliki rumah sebesar ini" gumam Naruto dan melihat-lihat beberapa foto yang terpajang disana.
Ada dua foto besar, masing-masing milik Hiashi dan Hizashi, dan diantara dua foto besar tersebut ada foto keluarga besar Hyuuga beserta para tetua klan Hyuuga. Dibawah foto-foto itu, ada beberapa foto kecil Hinata yang memakai kimono dan disampingnya ada Hanabi. Dan tidak ketinggalan juga ada foto Neji, walaupun tidak tersenyum dan melihat kearah kamera, Naruto yakin bahwa Neji sangat senang saat difoto.
"Ini Naruto" kata Hinata, Naruto langsung berbalik dan menatap Hinata yang tersenyum.
"Hinata, ini waktu kapan?" Tanya Naruto yang mengundang Hinata untuk melihat foto yang Naruto tanyakan
"Hm sekitar 2 tahun lalu, setahun sebelum perang. Saat aku, Neji-nii dan Hanabi berkumpul. Saat itu, adalah saat-saat terakhir yang juga terindah untuk kami. Neji-nii juga banyak bercerita saat itu, andai saja sekarang Neji-nii masih ada, ah maaf Naruto, aku jadi banyak ..."
"Gomen Hinata"
"Nande?" Hinata bingung atas pernyatan Naruto yang tiba-tiba meminta maaf.
"Maaf karena telah membuat Neji tidak ..."
"Nee bukan seperti itu Naruto, aku tidak bermaksud ..."
"Dengarkan aku, Hinata, andai saja saat itu aku lebih kuat dan tidak lambat mengalahkan bijuu, pasti Neji akan selamat. Aku ... aku hanya ..."
"Naruto-kun"
"Maaf telah membuat Neji tidak ada" ucap Naruto lirih. Hinata mengusap bahu Naruto dan membawa Naruto duduk disampingnya.
"Tenanglah, semua sudah berakhir. Neji-nii juga pasti sudah tenang disana. Tidak ada yang perlu disesali. Maaf karena aku berkata seperti itu membuat Naruto-kun jadi merasa bersalah" kata Hinata mengusap punggung Naruto.
"Aku ..."
"Perhatikan ini baik-baik Naruto-kun, baik aku maupun dirimu, sudah merasakan kehilangan, pernah merasakan kesepian, tapi bukan berarti semuanya itu salah kita , bisa saja semua itu justru agar membuat kita lebih baik. Dan lihatlah Naruto-kun yang sekarang, yang banyak dipuji dan diakui banyak orang. Pasti Neji-nii juga merasa terhormat karena melindungi Pahlawan desa Konoha" kata Hinata lembut, Naruto yang mendengar itu pun menangis terharu.
Sudah dua kali bahkan mungkin yang ketiga kalinya bagi Naruto mendengar perkataan Hinata yang selalu saja berhasil membangkitkan semangatnya. Grep! Secara mengejutkan Naruto memeluk Hinata.
"Ano Naruto .." kata Hinata yang wajahnya sudah sepenuhnya merah. Debaran dijantungnya makin terasa, membuatnya takut kalau Naruto bisa mendengar detak jantungnya yang makin keras.
"Arigatou Hinata, kau selalu saja bisa membuatku bangkit .."
"Apa?! Neechan, Naruto-nii apa yang kalian lakukan?!" Teriak seorang gadis yang sudah berkacak pinggang dengan wajahnya yang sangar didepan pintu ruang tamu
"Akan aku adukan pada Tou-san" lanjutnya lagi
TBC
