Chapters 4 : date
Disaat yang ketiga gadis itu sedang berpelukan, sehun terus memandang ke arah luhan. "gadis itu… jadi luhan namanya. Luhan. Sepertinya aku akan terus mengingat nama itu mulai dari sekarang" ucap sehun dalam hati memandang lurus kea rah luhan yang lagi-lagi sedang tersenyum.
Ketiga gadis itu akhirnya melepaskan pelukannya dan mereka tertwa dan mengobrol hal-hal sederhana. Sampai akhirnya luhan tidak sengaja mengalihkan pandangannya ke arah sehun dan tersentak.
"eh… kau.."
MY TRUE LOVE
Story by kiranaaaaa
Cast(s):
Sehun, Luhan(gs), YoonA, Donghae, Wu Yifan
Official pairing, crack pair
Genre : drama, romance
Rated : T
Length : chapters
"eh, kau kan yang waktu itu di sungai han" luhan menunjuk sehun dengan jari telunjuknya.
Baekhyun memandang kea rah luhan dengan rasa ingin tau, "kau mengenal sehun, lu?"
Luhan menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan baekhyun, ia mengedikkan bahunya acuh dan berkata, "aku tidak mengenalnya, kami hanya tidak sengaja bertemu di sungai han saat aku bermain dengan anak-anak" dan hanya di jawab "ohh" tidak hanya oleh baekhyun tapi juga yang lain yang berada di sana.
"baiklah. Aku dan baekhyun akan jalan-jalan sekitar sini sebentar, kalian nikmati waktu kalian, oke?" chanyeol merangkul bahu baekhyun dan berjalan meninggalkan yang lainnya.
"kalau begitu, kami juga. Byebyee" kali ini pasangan kaisoo yang pergi. Sekarang tinggallah luhan dan sehun berdua karena Irene yang pergi masuk ke dalam booth.
"ehm, hai" sehun menyapa luhan terlebih dahulu. "aku sehun dan kau?" sehun mengulurkan tangannya dan di sambut oleh luhan yang juga menjulurkan tangannya sehingga mereka berkenalan dengan berjabat tangan.
"aku luhan" jawab luhan kikuk. "untuk yang waktu itu, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf, saat itu aku terlalu buru-buru sehingga tidak melihat jalan." Luhan memegang tengkuknya dan kembali merasa tidak enak karena kejadian saat itu.
sehun hanya tersenyum maklum dan menggelengkan kepalanya, "tidak apa, itu kesalahanku juga yang memegang handphone saat berjalan." Sehun tersenyum dengan hangat setelahnya.
Luhan sedikit tersentak dan menahan nafas melihat senyum sehun yang hangat, membuatnya juga turut mengembangkan senyum. Dengan riang luhan berkata, "baiklah kalau begitu, kita impas. Sama-sama salah dan sama-sama telah memaafkan. Bagaimana?"
"yaya baikklah" jawab sehun menggoyangkan tangannya –sok- acuh. Sehun melihat-lihat keramaian yang ada sekitarnya, membuatnya tertarik untuk ikut berkelilingi dan menikmati festival yang di adakan kampusnnya ini. "ayo berkeliling, sangat sayang melewati keramaian ini dengan hanya berdiri di sini"
"jadi sekarang kau ingin mengajakku berkencan?" luhan menaik-turunkan alisnya menggoda sehun dengan nada sing a song nya.
Sedangkan sehun menaikkan alisnya memandang luhan bingung dan menjawabnya dengan gumaman "hmm?" dan semakin terhenran-heran karena luhan yang memukul lengannya pelan sambil tertawa canggung
"haha.. bercanda. Ayo jalan"
Luhan berjalan terlebih dahulu tanpa menunggu sehun yang sekarang berjalan di belakangnya. Sehun memperhatikan luhan yang berjalan dengan riang sembari menyapa beberapa orang yang dikenalnya. Tanpa sehun sadari bibirnya terangkat sedikit, tersenyum sangat tipis melihat luhan yang terlihat begitu bahagia seperti idak ada beban.
Luhan membalikkan kepalanya kebelakang melihat sehun yang berjalan sedikit di belakangnya, dengan menggerutu kecil luhan menarik lengan sehun sambil bergumam, "kau ini jalan lama sekali". Sehingga saat ini luhan dan sehun berjalan berdampingan. Tidak bertahan lama sampai luhan kembali melepaskan tangannya dari lengan sehun dan berlari ke arah salah satu booth yang menjual headband.
Dengan paksaan dari luhan, sehun berakhir menggunakan headband dengan kuping serigala di atasnya. Dan luhan sendiri menggunakan headband dengan tanduk rusa di atasnya, tadinya luhan ingin memakai yang berbentuk kuping kelinci, tapi sehun berhasil memaksanya menggunakan yang rusa. "yang bentuk tanduk rusa ini, lebih cocok untukmu, kau itukan rusa", begitu katanya.
Tidak sampai di situ aja, sehun dan luhan kembali melanjutkan jalan-jalan mereka. Tidak ada ada lagi situasi canggung di antara keduanya, mereka bahkan mengobrol layaknya teman lama. Walaupun sebenarnya hanya luhan yang mendominasi percakapan. Ia terus mengoceh tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Entah membicarakan mengenai fesfival, mengenai booth-booth yang bahkan mengenai wajah sehun yang datar dan kurang ekspresif. Sedangkan sehun hanya mendengarkannya dengan sabar dan sesekali menimpali.
"oh. Buble tea. Sehun, ayo kita beli buble tea, aku sudah lelah berjalan dan sekarang aku butuh minum." Tanpa mendengar jawaban dari sehun, luhan berlari ke untuk membeli minuman favoritenyaa itu. dan sehun tidak tertarik untuk mengikuti luhan kali ini, dirinya mengistirahtkan kakinya dengan duduk pada bangku panjang yang ada dis dekatnya. Dari tempatnya duduk sehun masih bisa melihat luhan dengan jelas bahkan masih bisa mendengar suara luhan yang berteriak bertanya mengenai rasa yang disukainya.
"coklat" dengan berteriak juga sehun menjawab luhan. Bisa sehun liat luhan yang mengangkat jarinyaa membentuk tanda "ok". Sehun memerhatikan luhan dengan intens dan tersenyum melihat tingkah luhan yang terlihat sangat ceria. Sehun menggeser tubuhnya agar luhan bisa ikut serta duduk bersamanya di bangku saat dilihatnya luhan yang berjalan mendekat ke arahnya.
luhan menyerahkan buble tea tepat ke depan wajah sehun. Sehun mendelikkan matanya sebal sedangkan luhan yang merasa berhasil mengganggu sehun tertawa dengan lebar. Luhan mendudukkan tubuhnya di sebelah sehun, menghabiskan buble tea mereka dalam keterdiaman. Walau hanya ada kesunyian namun tidak ada suasana awkward di antara mereka. Sehun dan luhan tersenyum di dalam keterdiaman mereka.
Tidak jauh dari tempat luhan dan sehun duduk, seorang pria tinggi terlihat sedang kebingungan seperti mencari sesuatu. Ia berjalan ke arah salah satu booth milik temannya dan bertanya, "hei, apa kau melihat luhan? Aku tidak melihatnya sedari tadi".
Pria yang sedang merapikan perak-pernik boothnya itu, membalikkan tubuhnya kebelakang dengan tersenyum ia menjawab, "hei yifan! Kau mengagetkanku" ucapnya memukul lengan pria yang bernama yifan itu pelan dan melanjukan, "luhan ya? Tadi aku melihatnya pergi ke membeli buble tea bersama seorang pria"
Pria itu – yifan- kaget mendengar kata "bersama seorang pria" yang keluar dari mulut temannya itu, ia berpikir siapa pria yang bersama dengan luhan. " pria? Siapa?"
"aku tidak tau, aku tidak pernah melihatnya di kampus kita, mungkin dia tuan rumah acara ini"
"ok kalau gitu. Aku pergi" yifan pergi meninggalkan booth temannya dan berdiri di tidak jauh dari situ. Ia mengedarkan matanya melihat di mana tempat buble tea berada. Yifan mengerngitkan dahinya bingung saat tidak melihat luhan di booth buble tea seperti kata temannya.
Yifan berjalan mendekat ke arah booth buble tea, di pertengahan jalan ia melihat luhan yang sedang duduk tidak jauh dari situ. Ia melihat luhan yang sedang mengobrol dan tertawa bersama seorang pria. Seorang pria yang ia ketahui sebagai anggota dari band "exodus", seseorang yang tadi ia lihat memainkan bass di atas panggung. Tapi bagaimana ia bisa mengenal luhan? Bahkan mereka terlihat seperti teman lama jika dilihat dari cara mereka mengobrol dan tertawa dengan nyamannya.
Yifan memandang tidak suka ke arah mereka berdua, lebih tepatnya kea rah sehun yang bisa membuat luhan tertawa dengan lepasnya. Luhan terlihat dengan ceria, dan dirinya tidak suka melihat itu. hanya dirinya saja yang boleh dekat dengan luhan dan membuat dirinya tertawa. Ia berjalan mendekat ke arah luhan dan sehun dengan wajahnya yang mengeras. Lalu dengan cepat ia mengontrol ekspresinya menjadi lebih bersahabat dan memanggil nama luhan.
"Lu" ucapnya menyentuh bahu luhan dengan lembut. Luhan menolehkan kepalanya memandang kearah yifan. "aku mencarimu sedari tadi, dan kau asik-asikan bersantaii disini"
Luhan tersenyum memandang ke arah yifan, "maafkan aku yifan" ucapnya dengan nada yang tidak benar-benar menunjukkan rasa bersalah. Luhan memandang ke arah sehun saat ia mendengar sehun yang terbatuk kecil untuk mengalihkan perhatian luhan kembali padanya.
"oh iya yifan, kenalkan ini sehun. Oh sehun, dia mahasiswa kampus ini, dan dia teman baruku" luhan memerkenalkan sehun ke yifan dan begitu juga sebaliknya mengenalkan yifan ke sehun sebagai temannya.
Yifan dan sehun berjabat tangan dengan canggung, namun aura ketidaksukaan sangat terasa di sekitar keduanya. Walaupun ada rasa lega di hati sehun mendengar jika yifan hanyalah temannya saja, bukan kekasihnya seperti yang sehun pikirkan seminggu yang lalu dan beberapa saat lalu. Hhh… ia merasa bodoh sekarang karena menganggap yifan sebagai kekasih luhan dan membuat dirinya urng-uringan selama seminggu, bahkan sampai melupakan yoona kekasihnya.
Mengingat yoona membuat sehun tersentak. Ia merasa bersalah kepada yoona karena telah tertarik kepada wanita lain. Tapi dengan cepat sehun membuang perasaannya tersebut dan menyakinkan dirinya jika ia hanya berteman dengan luhan tidak ada yang lain.
.
.
.
Tidak ada kegiatan berarti yang sedari tadi luhan lakukan, ia hanya berbaring di atas kasurnya. Ia memandangi handphonenya intens, saat ada pemberitahuan adanya pesan masuk, dengan semangat luhan segera membukanya. Kadang ia akan tersenyum, lalu tertawa kecil. Terlihat nama sehun di layar ponselnya, rupanya ia sedang saling mengiriim pesan dengan sehun. Luhan berbaring telentang menatap langit-langit kamarnya, ia tersenyum mengingat kebersamaannya yang dengan sehun.
Tampan. Harus luhan akui sehun memiliki wajah yang tampan. Bahkan lebih tampan dari sahabatnya yang digilai banyak wanita karena ketampanannya. Apalagi saat sehun sedang tersenyum, ia sangat suka saat sehun tersenyum. Entah mengapa berada di samping sehun membuatnya nyaman, ia bisa dengan mudah tertawa dengan lepas. Dan dirinya tidak sabar agar malam cepat berlalu dan pagi datang dengan cepat, ia tidak sabar untuk bertemu sehun besok. Berkencan? Bolehkah luhan menyebutnya begitu?
Dirinya akan sangat senang jika begitu, memikirkan akan kembali bertemu dengan sehun dan menghabiskan waktu bersama membuat dirinya tidak sabar. Seperti ada kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya. Namun dirinya belum benar-benar yakin dengan apa yang dirasakannya kepada sehun. Jujur saja, ini pertama kalinya ia merasakan hal yang seperti ini. Selama ini dirinya selalu bersama yifan, sahabatnya dan tidak ada sedikitpun perasaan lebih untuk yifan selain perasaan sayang kepada teman. Namun kepada sehun luhan seperti merasakan perasaan lebih dari seorang teman.
Aaakkkhhhh… luhan berteriak kecil dan tertawa seperti orang tidak waras.
"yaampun… ada apa denganku" luhan berkatanya pada dirinya sendiri, ia memegang kedua pipinya menggunakan jari telunjukknya. "dan pipi ini, kenapa tidak bisa diam sih, jangan tersenyum, jangan tersenyum" dengan pelan luhan menusuk pipinya hingga masuk ke dalam mulut dan membuat bibirnya menyerucut agar berhenti tersenyum. Tapi tetap saja, ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri dan kembali tersenyum.
"hhh… padahal aku baru bertemu padanya hari ini, tidak mungkinkan aku sudah jatuh cinta padanya?" lagi-lagi luhan bertanya pada dirinya sendiri dan menjawabnya sendiri pula. "tidak. Tidak mungkin seperti itu. aku hanya tertarik saja untuk berteman dengannya. Lagipula, tidak mungkin pria seperti oh sehun itu tidak punya kekasihkan? Pasti banyak gadis-gadis yang menyukainya dan mengejar-ngejarnya. Dan tidak mungkin juga dia itu suka gadis seperti aku ini. Hhh…"
Dan seperti harapannya, Ia tidak lagi tersenyum malah menghela nafasnya, entah mengapa memikirkan sehun memiliki kekasih membuatnya lemas, apalagi jika sehun benar-benar memiliki kekasih?
.
.
.
"hai, apa kau menunggu lama?" sehun datang dan menepuk pundak luhan yang sedang duduk di kursi taman dan memerhatikan anak-anak balita yang sedang bermain bersama orang-tua mereka. Luhan tersentak dan mengangkat kepalanya memandang sehun yang jauh tinggi di atasnya. "oh hai sehun".
"apa kau menunggu lama?" sehun mengulangi pertanyaannya dan memposisikan dirinya duduk di kursi di samping luhan. Luhan menganggukkan kepalanya dan mmemandang sehun dengan kesal. Namun melihat raut wajah sehun yang memandangnya dengan tatapan menyesal membuat luhan merubah raut wajahnya dan tersenyum jahil.
"kau membohongiku?" sehun mendengus tidak percaya saat melihat menganggukkan kepalanya tanpa rasa bersalah, dengan kesal ia menggelitik pinggang luhan. Luhan yang tidak tahan geli, bergerak-gerak menghindari sehun, walau begitu ia tidak berhenti tersenyum dan tertawa.
"sudah, sudah hentikan. Aku mengaku kalah" luhan memohon kepada sehun dan tanpa ia dsadari iamengeluarkan deer eyesnya yang membuat sehun melepaskannya dengan mudah.
"Sehun memandang luhan yang sedang berusaha meredakan tawanya dengan tatapan hangat yang ia miliki. Tatapan yang tidak banyak orang bisa mendapatkannya, bahkan teman-temannya sekalipun. Tidak tahan, sehun mencubit pipi luhan dengan gemas dan ditanggapi dengan cemberutan oleh luhan. Melihat raut wajah luhan membuat sehun semakin gemas karena dan mengusap kepalanya dengan lembut membuat luhan tersenyum malnu karenanya.
Tidak ada pembicaraan di antara keduanya, mereka asik memerhatikan anak-anak yang sedang asik bermain bola. Kadang mereka tersenyum melihat tingkah menggemaskan anak-anak itu dan kadang mereka ikut tertawa jika ada yang lucu. Sehun mengalihkan pandangannya ke arah luhan saat mendengar luhan yang tertawa dengan senangnya. "kau sangat menyukai mereka ya?" tanyanya
Luhan menggantikan tawanya menjadi senyuman dan mengangguk menjawab pertanyaan sehun. Ia berpikir beberapa saat, saat sehun menanyakan, "kenapa kau begitu menyukai mereka?".
"kenapa ya?" luhan berpikir beberapa saat dan melanjutkan, " tidak ada alasan khusus sih sebenarnya, mungkin karena aku hanya anak satu-satunya di keluargaku, bermain dengan anak-anak itu membuat aku seperti mempunyai adik-adik kecil lucu yang bisa ku ajak bermain" luhan menjawab pertanyaan sehun namun tatapan matanya tetap melihat kecerian anak-anak yang sedang bermain di depannya.
"kau sendiri? Apa kau punya saudara?" luhan menolehkan kepalanya kepada sehun dan menatap menanti jawaban. Sehun menggelengkan kepalanya, "tidak, aku juga sama sepertimu, aku ank tunggal. Tapi sedari kecil aku sudah berteman dengan chanyeol dan kai, jadi aku tidak begitu kesepian".
Luhan menganggukkan kepalanya megerti, "jadi begitu. Hidupmu pasti sangat menyenangkan"
Sehun memandang luhan bingung mendengar pernyataan luhan, "kenapa?"
"ya. Berteman dengan chanyeol dan kai yang baik dan ramai. Aku sudah bisa memastikan kau tidak pernah kesepian jika di sekitar mereka" sehun mendengus mendengar pernyataan luhan yang konyol menurutnya.
"heh… mereka itu sangat menyebalkan kau tau? Apalagi jika sudah bersama kekasih masing-masing. Mereka akan asik bermesraan dan mengacuhkanku"
"memangnya kau tidak memiliki kekasih sendiri?"
DEG
Detak jantung sehun berdetak tidak enak saat mendengar pertanyaan mendadak yang luhan ajukan. Ia megalihkan pandangannya dan tidak berani memandang ke arah luhan yang menanti jawaban darinya. Hatinya mendebatkan apa yang harus di katakannya, haruskah ia jujur? Namun ia tidak mau luhan menjaga jarak darinya. Namun jika ia berbohong, akan sangat menyakitkan untuk luhan
"aku-"
.
.
.
"NOONA!" seorang anak berteriak dari kejauhan dan membuat luhan mengalihkan perhatiannya dari sehun. Luhan melihat ke bawahnya, ke arah yang anak itu tunjuk. Ternyata bola yang mereka mainkan tertendang hingga berada di bawah kakinya. "noona, lemparkan bolanya" mendengar itu dengan semangat luhan menendang bola yang berada di bawah kakinya. Ia tersenyum saat melihat anak-anak kembali bermain dengan riang.
"sehun, aku haus sekali. Ayo ke caffe di depan sana" tanpa menunggu jawaban sehun, luhan sudah lebih dahulu berjalan meninggalkan sehun yang menghela nafas lega di belakangnya.
Setidaknya sehun tidak harus mengatakan yang sebenarnya kepada luhan saat ini juga. Ia akan mengatakannya, tapi tidak sekarang, ia membutuhkan waktu. Sehun mempercepat langkah kakinya sehingga ia hanya beberapa langkah lagi di belakang luhan. Ia bisa melihat rambut belakang luhan yang berterbangan karna angin. Ia tersenyum jahil dan memasang seringaiannya.
"akh" luhan menjerit kaget saat merasakan tarikan pada ujung rambutnya, ia menghela nafasnya kesal saat melihat sehun sudah berlari di depannya dan tersenyum dengan jahil. "oh sehun" ia menggertakkan giginya kesal
"yak! Jangan lari kau!" teriaknya dan berlari mengejar sehun yang sudah jauh berada di depanya.
Saat ini keduanya duduk di sebuah meja dekat jendela yag berada di caffe sekitar taman. Mereka mengatur pernafasan mereka yang ngos-ngos-an akibat berlari cukup jauh tadi. Apalagi sehun yang langsung menerima cubitan super maha dahsyat dari luhan.
"huh, kau ini. Rambut itu mahkota perempuan tau!" seru luhan memandang sehun kesal dan semakin bertambah kesal karena tidak ada tanggapan dari sehun. Laki-laki yang duduk di depannya itu hanya asik dan berfokus pada minuman di depannya , seperti anak kecil yang takut minumannya akan diambil jika tidak di jaga. Dengan kesal luhan kembali mencubit lengan sehun dan di tanggapi ringisan sakit oleh sehun.
"baiklah baiklah, aku mengerti tuan putri, aku tidak akan menarik mahkotamu lagi. Puas" luhan tersenyum puas mendengarnya, ia menganggukkan kepalanya senang.
Setelahnya mereka asik menyantap makan siang mereka di selingi dengan obrolan ringan dan candaan yang luhan lontarkan.
"lu" panggil sehun setelah mereka diam beberapa saat, sehun terlihat ragu-ragu untuk mengeluarkan suaranya, namun ia tetap membuka mulutnya dan menanyakan hal yang mengangunya, "kalau aku boleh tau, apa hubunganmu dengan yifan?"
Luhan menatap mata sehun yang terlihat sangat penasaran dengan jawaban yang akan di berikannya. Saat ini luhan sedang meninmbang-nimbang jawaban apa yang akan ia berikan untuk menjawab pertanyaan sehun.
"ehm.. yifan itu sahabatku. Kami sudah saling mengenal sejak junior high School, dia satu-satunya pria yang paling dekat denganku, dan aku sangat nyaman berada di dekatnya. Tadinya ku pikir dia juga menganggapku sebagai sahabatnya, tapi ternyata dia menyimpan perasaan lebih terhadapku. Beberapa waktu lalu dia menyatakaan cintanya padaku, aku-"
"apa? Dia memintamu untuk menjadi kekasihnya?" sehun memotong perkataan luhan karena kaget dengan pernyataan yifan yang sudah lebih dulu menembak luhan. Ia berusaha menetralkan detak jantungnya dan terutama ekspresinya menjadi lebih tenang saat luhan menganggukkan kepalanya dan dan melanjutkan,
"ya begitulah, tapu aku belum menjawabnya. Aku tidak tau apa yang harus kukatakan padanya, aku menyayanginya sebagai sahabatku, namun aku tidak yakin ini lebih dari itu"
"kau sendiri? Tidak mungkinkan kau belum memiliki kekasihkan?" sehun lagi-lagi dibuat shock oleh pertanyaan luhan yang tiba-tiba. pertanyaan mendadak yang berhasil mengalihkan pembicaraan mengenai yifan. Dan pertanyaan yang belum sehun putuskan apa jawabannya.
"ya.. itu.. aku be-"
"sehun" Lagi-lagi perkataan sehun terpotong oleh sesuatu, dan kali ini suara lembut milik seorang wanita yang menghentikannya
Tbc
