"Ano Naruto .." kata Hinata yang wajahnya sudah sepenuhnya merah. Debaran dijantungnya makin terasa, membuatnya takut kalau Naruto bisa mendengar detak jantungnya yang makin keras/"Arigatou Hinata, kau selalu saja bisa membuatku bangkit .."/"Apa?! Neechan, Naruto-nii apa yang kalian lakukan?!" Teriak seorang gadis yang sudah berkacak pinggang dengan wajahnya yang sangar didepan pintu ruang tamu/"Akan aku adukan pada Tou-san"

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

And the story "About You" belongs to Me

Naruto Uzumaki x Hinata Hyuuga

Rate : T/T+

Genre : Hurt/Comfort, Romance

Warning : Typo merajalela, OOC, Mainstream

Hinata dan Naruto hanya menunduk saat Hanabi berdiri didepan mereka. Kini Hinata dan Naruto seperti dua orang anak kecil yang sedang dimarahi ibunya karena main dan tidak tidur siang. Terlebih lagi Hinata, wajah nya bukan saja memerah karena malu dipeluk Naruto namun sudah bertambah menjadi takut, takut kalau Hanabi benar-benar mengadukan kepada ayahnya.

"Jadi, jelaskan padaku Hinata-neesan apa yang kau lakukan dengan Naruto-nii" kata Hanabi yang mulai menginterogasi Hinata.

"Anoo .."

"Sepertinya kau salah paham .." jawab Naruto menyela apa yang ingin dikatakan Hinata. Bukan karena Naruto mengabaikan kesopanannya, namun terlebih karena Naruto kasihan melihat Hinata yang sepertinya bingung menjawab pertanyaan Hanabi.

"Aku tidak bertanya pada Naruto-nii, Hinata-neechan, sekarang jelaskan padakku"

"Itu ..."

"Tadi kami hanya berbicara, dan aku terlalu terbawa emosi jadi ..."

Hanabi memandang tajam Naruto yang selalu saja menyela perkataan yang akan Hinata katakan. Dan sontak saja, melihat tatapan tajam dari Hanabi, Naruto sedikit gentar dan membuatnya secara refleks memegang tangan Hinata, bukan, bukan hanya memegang namun menggenggam.

"Hem .. lepaskan tanganmu dari kakakku, Naruto. Jangan berpikir kalau karena aku lebih muda darimu dan kau sekarang pahlawan Konoha, aku akan mendiamkan kau mendekati Hinata-nee. Tidak akan"

"Hanabi .." Hinata langsung memandang Hanabi dengan pandangan memelasnya. Dan Hanabi yang melihat Hinata seperti itu hanya meneguk ludah, tidak tega sebenarnya, tetapi ia harus memberi pelajaran ke bocah kuning itu karena telah memeluk kakaknya tercinta.

"Hinata-nee sekarang masuk saja kekamar, aku ingin berbicara dengan Naruto-nii"

"Tapi ini bukan seperti yang kau kira"

"Nee-san" Gumam Hanabi berat. Naruto yang melihat sepertinya akan terjadi pertengkaran jika ia tidak menengahi pun akhirnya bersuara.

"Tidak apa-apa Hinata, aku .. aku juga ingin mengobrol dengan Hanabi, dan sebaiknya kau istirahat saja"

"Naruto-kun" Hinata memandang Naruto lembut. Ah kenapa semuanya jadi serumit ini, pikir Hinata.

Akhirnya Hinata pun menuruti perkataan Hanabi walau tetap saja hatinya tidak rela jika Naruto hanya berdua saja dengan Hanabi. Ya walau bagaimanapun, Naruto kan tetap orang yang Hinata cintainya dan Hanabi juga sekarang sudah gadis jadi wajar kalau Hinata merasa sedikit .. hm apa namanya ... cemburu.

"Sudahlah, Percayakan saja semuanya pada Hanabi dan Naruto, aku kan juga bukan siapa-siapa Naruto" ujar Hinata yang pasrah.

.

.

.

Hanabi hanya memandang Naruto. Dan yang dipandangipun hanya bisa terduduk dengan salah tingkah. Bagi Naruto, kini ia seperti duduk berhadapan dengan Hiashi. Eh tunggu, jika duduk berhadapan dengan Hanabi saja sudah gugup seperti ini, bagaimana nanti jika ia duduk dihadapan Hiashi.

"Baka"

"Eh.."

"Jadi jelaskan padakku semuanya Naruto-nii" kata Hanabi

"Ya seperti yang sudah kukatakan tadi, kami hanya mengobrol Hanabi-chan, dan karena obrolan kami mengenai Neji, aku jadi terlalu sensitif dan Hinata menenangkan" kata Naruto mencoba menghilangkan rasa gugupnya

"Pertama, jangan panggil aku memakai suffix itu, karena aku bukan anak kecil lagi. Dan kedua, kau tidak boleh memeluk Nee-san sembarangan dirumah ini, karena, bagaimana jika yang memergoki kalian tadi adalah tou-san"

"Eh, jadi kalau diluar .."

Bletak, satu pukulan dikepala Naruto cukup mendarat dengan suksesnya.

"Bukan seperti itu, jangan membuat Nee-chan salah paham Naruto-nii" kata Hanabi yang mulai bergetar

"Maksudmu?" Tanya Naruto yang malah bingung.

"Jika Naruto-nii memang tidak bisa membalas perasaan Hinata-nee, aku mohon jangan malah mempermainkan perasaannya seperti ini. Jangan pernah mendekati Hinata-nee dan kemudian malah pergi begitu saja. Jika memang Naruto-nii benar-benar tidak mempunyai perasaan sedikitpun untuk Nee-san ku sebaiknya, Naruto-nii jauhi Nee-san" kata Hanabi. Naruto hanya tertegun mendengar perkataan Hanabi.

Naruto's POV

Apa yang dikatakan Hanabi barusan memang benar. Sangat benar. Tapi bukan berarti aku tidak bisa membalas perasaan Hinata, aku hanya ... belum siap. Dan untuk pilihan menjauhinya pun, aku tidak dapat memastikan namun entah kenapa aku tidak rela jika aku disuruh untuk menjauhi Hinata.

"Maaf Hanabi tapi sepertinya ..."

"Hinata-nee, aku yakin pasti masih menunggumu Nii-san, sampai kapanpun, Hinata-nee terlalu baik, terlalu lembut, dan yang pasti sudah terlalu lama menyimpan semua perasaannya padamu, sebenarnya aku juga memang tidak pantas mengatakan ini karena ini privasi Nii-san dan kakakku, tapi, aku ... aku tidak tega membiarkan Hinata-nee menunggu terlalu lama, aku tidak tega jika Hinata-nee hanya bisa melihat Nii-san dari kejauhan saja tanpa berani mendekat jadi, tolong, jangan permainkan perasaan Nee-san, aku mohon" kata Hanabi yang tiba-tiba berlutut didepanku dengan keadaan yang sudah sesegukan.

End Naruto's POV

.

.

.

Klik, Hinata langsung menoleh kearah pintu kamarnya yang tiba-tiba saja terbuka. Dan terlihatlah Hanabi yang berjalan dengan gontainya kearah Hinata dan langsung mendudukan dirinya ditempat tidur Hinata. Jelas Hinata bingung, Hanabi bukanlah orang yang dengan lancangnya berani membuka kamar orang seenaknya. Terlebih, adat Hyuuga yang terlalu mengagungkan nilai kesopanan pasti membuat Hinata dan Hanabi takut untuk melanggar. Tapi sekarang, pasti ada yang salah dengan Hanabi sampai ia dapat bersikap seperti ini.

"Aku mohon Hinata-nee kuat menghadapinya" ujar Hanabi yang langsung merebahkan diri dikasur milik Hinata.

"Hanabi, kau tidak apa-apa?"

Tidak terdengar suara jawaban Hanabi, dan Hinata dengan setia menunggu. Duduk disamping Hanabi yang memejamkan mata. Perlahan Hinata mendengar deru napas Hanabi yang mulai teratur, pertanda Hanabi telah tertidur.

"Hm, entah apa yang kau bicarakan dengan Naruto-kun, tetapi aku tahu kau pasti menyayangiku, iyakan Hanabi? Oyasumi Hanabi-chan" kata Hinata mengecup kening Hanabi dan menarik selimut untuk Hanabi.

.

.

.

Hari ini Hinata kembali latihan dengan anggota tim 8 yang dulunya dilatih oleh guru Kurenai. Seperti biasa pula, latihan rutin setiap seminggu sekali ini diadakan dikediaman Kurenai, tentunya karena ada Mirai yang sedang lucu-lucunya.

"Sudah sekarang istirahat lah dulu, ini ada gyoza , dango dan juga teh untuk kalian" kata Kurenai yang baru saja menyiapkan makanan untuk para muridnya yang sekarang sudah dewasa itu.

"Hei akamaru, tangkap" seru Kiba melempar makanan yang ia bawa untuk Akamaru

"Guk guk" jawab Akamaru

"Wah, sensei tidak perlu repot-repot, seharusnya kami yang membantu menjaga Mirai-chan, bukan malah disuguhi seperti ini" kata Hinata yang menggendong Mirai yang mulai berat.

"Nee-san aa .. aa" kata Mirai mengulurkan sepotong Dango yang belepotan dari tangan mungilnya

"Sensei ini enak sekali, wah pasti sensei membuatnya sendiri" kata Kiba yang mulai histeris.

"Aku hanya iseng, lagipula, terlalu banyak waktu luang untuk dihabiskan berdua saja dengan Mirai, dan oh iya, Shikamaru, Choji dan Ino juga akan kesini nanti" jawab Kurenai

"Memang ada apa sensei?" Tanya Shino.

"Tidak ada apa-apa, hanya ingin menengok Mirai-chan katanya"

Tring .. tring ...

"Itu pasti mereka, tunggu sebentar ya" kata Kurenai dan pergi kedepan.

"Mirai aaaaa" kata Shino memberikan potongan Dango ke arah Mirai. Namun dengan mulusnya Mirai hanya melengos mengacuhkan pemberian Shino.

"Itu terlalu besar Shino-kun" kata Hinata memperingatkan

"Sepertinya Mirai harusnya bersamaku saja Hinata, biar aku lebih mengerti dia" jawab Shino dan mengambil Mirai yang berada dipangkuan Hinata dan menggendongnya. Hinata dan Kiba hanya diam dan bingung memandangi Shino dengan tatapan horor, sedangkan yang digendong hanya bisa tertawa.

"Oi kalian disini juga" sapa Choji.

Shikamaru, Ino, Choji, Hinata, Kiba, Shino yang masih menggendong Mirai dan Kurenai sudah duduk bersama diruang tamu keluarga dikediaman Kurenai.

"Jadi kalian semua sedang tidak ada misi?" Tanya Kurenai.

"Ya begitulah sensei" jawab Shikamaru.

"Hei Shino, kenapa dari tadi Mirai terus digendong saja? Mirai kan sudah bisa duduk sendiri" kata Choji yang memperhatikan Shino. Perkataan Choji pun turut mengundang semua mata kearah Shino.

"Aku kangen" jawab Shino membuat semua yang berada disana memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Heiiiii Mirai-chan masih kecil Shino, sini berikan Mirai kepadakuuuu" kata Ino namun Shino dengan cepat berdiri dan pergi dari ruangan itu.

"Jangan kabuuurrr kau Shinoooo" ucap Ino yang mulai menyusul Shino.

"Aku harus melihat hal ini, ayo Akamaru" ajak Kiba dan menyusul kearah Ino dan Shino berlari.

"Sensei ..." kata Hinata yang melihat Kurenai diam dengan tatapan kosong.

"Anakku, Mirai-chan, Asumaa. Tidaaaaaaak, Shinoooooooo" Dan tiba-tiba Kurenai langsung pergi, ya kemanalagi, mungkin ia menyusul putri kesayangannya.

"Ah, kenapa jadi seperti ini. Hinata, apa tadi Kurenai sensei tidak memasak?" Tanya Choji

"Kau lapar? Sepertinya tadi masih ada gyoza di ruang tengah dekat taman Choji"

"Baiklah, sebentar aku kesana dulu" puff dan Chojipun menghilang.

Hanya tersisa Shikamaru dan Hinata. Dua orang yang sama-sama tidak suka keributan. Dua orang yang sama-sama nyaman dengan suasana tenang dan sepi.

"Hm Shikamaru-kun apa tidak ikut menyusul mereka?" Tanya Hinata mencoba memecah keheningan, walau bagaimana pun sepertinya Hinata canggung jika hanya berdua dengan seorang lelaki dengan keadaan tenang seperti ini. Terlebih sedari tadi Shikamaru hanya menatapnya, seolah ada yang ingin pria itu katakan.

"Jawab aku dengan jujur Hinata, ada hubungan apa kau dengan Naruto?" Tanya Shikamaru tiba-tiba.

"Eh, ke-kenapa kau bertanya se-seperti itu?" Tanya Hinata yang perlahan mulai menundukan kepalanya, malu.

"Hm, tidak jadi. Kemarin, apa titipannya sudah sampai?" Tanya Shikamaru yang mengalihkan pembicaraan. Hinata hanya mengangguk.

"Kemarin Naruto memaksakku menitipkan titipan itu kedia padahal saat itu ia sedang menemani Hokage-sama"

"Nande? Aku tidak salah dengar kan?" Tanya Hinata yang terkejut.

"Hm sudah kuduga, pasti Naruto tidak bilang. Ya kemarin sebenarnya aku bertemu Hanabi dan melihatnya memakai baju misi, dan melihat bingkisan yang ia bawa. Aku tidak sengaja mendengar percakapannya, dan yaaa sepertinya adikmu itu berhasil membujukku untuk menitipkan itu. Ditengah jalan aku bertemu Hokage dan Naruto, dan ya seperti kubilang tadi, dia memaksaku menitipkan itu"

"Soudesuka .."

Pikiran Hinata pun mulai melayang. Untuk apa Naruto repot-repot memaksa Shikamaru menitipkan hal yang bisa dibilang tidak penting itu untuk diberikan langsung ke Hinata. Apa mungkin Naruto ingin bertemu Hinata? Tidak tidak, ia tidak boleh terlalu jauh untuk mengharapkan hal yang bukan-bukan. Pasti itu karena Naruto jenuh menemani Kakashi dan memilih alasan itu untuk kabur dari tuan Hokage itu.

"Jika kau sekali lagi menculik Mirai-chan, aku tidak segan-segan mengirimmu menemani Asuma, Shino" kata Kurenai yang datang bersama Shino dengan pakaian yang berantakan dan dibelakangnya ada Ino yang menggendong Mirai, dan dibelakangnya lagi ada Kiba dan Akamaru yang tidak kalah berantakannya dengan Shino.

"Hinataaaa, aku padahal tidak ikut-ikutan" adu Kiba kepada Hinata.

"Guk guk" ya mungkin Akamaru juga melakukan hal yang sama dengan tuannya.

"Sudahlah Kiba, aku .. tidak pernah melihat penampilan Shino sampai separah ini" kata Hinata

"Semua ini kulakukan demi Mirai"

"Shinooooooo"

TBC