"GEGE! WO AI NI!"
Wu Yi Fan & Huang Zi Tao
Warning!
YAOI/BOYS LOVE
DON'T LIKE? DON'T READ!
You've been warned babe...
.
.
.
.
"Terima kasih..." ujar Yifan setelah mengakhiri kecupan manisnya.
Kembali menyandarkan tubuhnya pada sofa dan memejamkan matanya. Mengabaikan Zitao yang masih melongo idiot di pangkuannya.
Twich! Twich! Twich!
Bagaikan adegan dalam komik. Seketika perempatan imajiner muncul di kepala Zitao. Mengungkapkan betapa sebalnya pemuda dengan blackpearl menawan ini pada bocah SMU di hadapannya.
"Mati kau Wu Yifaaaaan!"
Bletak!
"Aaaaarrrrrrgggghhhhhhh!"
.
.
.
Zrashhh!
Hujan deras turun membasahi kota Seoul. Membuat udara menjadi semakin dingin dan memberikan efek malas pada sejumlah orang. Namun sayangnya tidak bagi pemuda ini.
"Iya Baek... Aku mengerti... Tugasnya sedang kukerjakan..."
Zitao berujar dengan dagu yang mengapit ponsel dan jemari yang menari diatas keyboard. Menatap layar monitor di hadapannya yang menampilkan deretan huruf tiada akhir.
"Jangan katakan kalau kau sedang bersama Chanyeol saat ini?!"
'Ughh.. Mau.. Eung.. Bagaimana lagi Tao... Kau kerjakan.. Agh.. Saja bagianmu.. Sisanya.. Akan kukirim lewat email...'
"But Baek! Yaaak!"
Tuuuuuuuuuuuut
Sambunngan telpon itu diputus secara sepihak. Membuatnya kesal setengah mati, namun tak dapat berbuat apapun.
Pemuda cantik ini melirik kearah jam panda yang tergantung pada dinding kamarnya. Sudah pukul tujuh malam dan hujan masih turun dengan derasnya.
"Apa bocah itu sudah pulang?" gumamnya.
Memori Zitao mulai memutar kejadian beberapa jam lalu. Kala Kris mengecup bibirnya...
"Mati kau Wu Yifaaaaan!"
Bletak!
"Aaaaarrrrrrgggghhhhhhh!"
Dengan sadis pemuda berkantung mata ini memukul kuat puncak kepala Yifan. Bangkit dari pangkuan si tampan dan menatapnya tajam.
"Kau... Beraninya berbuat seperti itu padaku..." desisnya tajam seraya menunjuk wajah tampan yang babak belur dihadapannya.
"Wae? Aku hanya berterima kasih padamu.. Kenapa kau jadi marah dan memukulku?"
"Tidak ada seorangpun yang berterima kasih dengan mencium bibir seseorang yang baru dikenalnya! Gosh! Kau cari mati ya?!" amuk Zitao.
Yifan terdiam. Menatap dalam wajah Zitao yang merona entah mengapa. Beralih pada telunjuk lentik yang mengacung di depan hidungnya.
Menyeringai tipis, jemari lebar pemuda ini pun manggenggam pergelangan tangan Zitao yang menunjukknya. Menatap si cantik dengan menggoda.
"Ooh.. Come on ge.. Kau bahkan menawarkan satu set sex saat aku membantumu pulang.. Dan itu saat awal pertemuan kita.. Benar kan?"
Dengan gerakan menggoda, pemuda tampan ini mengecup ujung telunjuk Zitao. Menatap kedalam blackpearl yang membola cantik di hadapannya.
"Keluar dari rumahku sialaaaaaan!"
Buagh!
"Arghhhhhh!"
Bruk!
Suara benda terjatuh yang cukup kencang itu menyadarkan lamunan Zitao. Pemuda ini segera bangkit dari duduknya. Melangkah cepat menuju sumber suara tersebut berasal.
Membawa sepasang kaki jenjangnya menuju pintu utama apartemen mungilnya. Memutar kunci dan menggenggam handle pintu itu. Mendorongnya pelan dan-
"What the fuck! Yifan kau tak apa?!"
Memekik kencang kala melihat tubuh Yifan yang jatuh terduduk di depan pintunya. Berjongkok cepat dan meletakkan telapak hangatnya pada kening pemuda tampan itu.
"Demam.. Dasar bocah brengsek! Benar-benar menyusahkaaaaaan!" pekiknya kesal.
Mendengus sebal seraya merangkul tubuh tinggi Yifan. Memeluk pinggang pemuda blasteran itu dan menyangga lengannya pada bahunya. Membawa sosok itu memasuki apartemennya menuju satu-satunya kamar yang ada.
Merebahkannya diatas ranjang dan melepaskan atribut yang menempel pada tubuh tegap itu.
"Sialan! Sialan! Sialaaaan!" umpatnya. "Aku tidak mungkin kan menggantikan pakaiannya?!"
"Tapi kalau tidak diganti, demamnya akan bertambah parah..."
Mengigit bibir bawahnya kuat. Perlahan Zitao pun menarik nafasnya. Mengatur debaran jantungnya yang menggila dan wajahnya yang perlahan memanas.
Menggarahkan jemari lentiknya pada kancing celana sekolah Yifan. Hendak membukanya namun-
Tap
Sreet
Greppp
"Kyaaaa-mphhh!"
"Jangan berteriak ge.. Telingaku sakit mendengarnya.."
"Mphhhh! Mpphhhhh-aaaaah!"
Zitao berhhasil menjauhkan telapak Yifan yang menutup mulutnya. Menatap tajam pemuda tampan yang tengah memeluknya seraya memejamkan kedua netranya.
"Kau-"
"Cukup biarkan seperti ini ge... Aku.. Hanya butuh pelukanmu.."
Seketika Zitao terdiam. Wajahnya merona dan debaran jantungnya semakin menggila. Menatap wajah Yifan yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya membuatnya sulit bernafas.
"Yifan.. Lepaskan aku..."
"Tidak mau.. Kumohon.. Tetaplah seperti ini.. Rasanya nyaman..."
Zitao menyerah. Membiarkan Yifan memeluk tubuhnya. Merebahkan kepalanya pada dada telanjang pemuda SMU itu. Mendengarkan debaran jantung yang cepat.
'Apakah.. Debaran itu.. Untukku? Yifan'
.
.
Hujan sudah berhenti sejak satu jam yang lalu dan pemuda cantik ini memutuskan untuk memasak makan malam. Dugaannya tentang Yifan yang demam benar-benar meleset. Jauh dari perkiraannya.
"Berhenti bermalas-malasan idiot! Bantu aku menyiapkan makan malam!"
Si cantik ini tampak kesal. Bagaimana tidak? Yifan, pemuda berusia tujuh belas tahun itu terus menerus melakukan hal tidak penting yang benar-benar membuatnya harus mengontrol emosi.
Setelah merajuk dan memohon untuk menginap -dengan alasan takut dimarahi orangtuanya-, pemuda bersurai brunette itu hanya menghabiskan waktu di depan televisi dan mengunyah seluruh isi toples camilannya. Mengabaikannya yang sibuk berkutat di dapur demi membuat makan malam.
"Tapi ge.. Ada acara musik yang seru di televisi!"
"Bantu aku atau kau takkan kuberi makan malam!"
Mendecih pelan, Yifan pun memutuskan untuk membantu. Menghampiri Zitao yang sibuk mengiris potongan sayuran.
"Apa yang perlu kubantu?" tanyanya malas.
"Cuci saja fillet ayamnya.. Nanti biar aku yang memotong-motongnya..."
Pemuda tampan ini mengangkat sebelah alisnya. Menatap jejeran bahan masakan yang berada diatas meja pantry.
"Kau hanya membuat ramyeon?" ujarnya setengah tak percaya.
"Memangnya apa lagi yang kau harapkan dariku? Uangku pas-pasan dan aku harus berhemat untuk hidup di Seoul.. Sisa gajiku kuhabiskan untuk membayar sewa apartemen dan kuliah..."
"Orangtuaku dengan berat hati melepaskan aku ke Seoul karena dapat beasiswa.. Tapi harapan tidak sesuai dengan kenyataan... Orang-orang kaya mensabotase semuanya dan aku kehilangan kesempatan... Kau tahu, aku nekat mendaftarkan diri untuk membiayai kuliahku seorang diri.. Aku tak mungkin bisa pulang ke Qingdao.. Apa yang harus aku katakan pada mere-"
Cups~
Kedua manik Zitao kembali membola. Entah sejak kapan Yifan menarik kedua bahunya dan kembali mencium bibirnya.
"Berhentilah mengoceh ge.. Lihat apa yang kau lakukan pada sayuranmu itu..." ujar Yifan setelah memutus ciumannya.
"Astaga sayurankuuuu!"
Pemuda tampan ini terkekeh pelan. Memandang Zitao yang terlihat pundung meratapi sayurannya yang tak lagi berbentuk. Efek karena terlalu bersemangat menceritakan keluh kesahnya.
'Kau terlalu menarik Tao ge.. Dan sepertinya, aku mulai menyukaimu...'
.
.
"Jadi.. Kau bersekolah di Seoul karena ibumu memiliki saham di perusahaan besar disini?"
"Yeah.. Begitulah... Ia sibuk mengurus ini itu... Aku pun sibuk di sekolah... Jadi jarang bertemu..."
Setelah acara memasak yang berujung kegagalan, mereka pun memutuskan untuk menelpon layanan pesan antar makanan. Memesan jajangmyeon dan pizza.
"Anak orang kaya.. Pantas sikapmu menyebalkan seperti itu..." dumal Zitao seraya mengunyah potongan pizza entah yang keberapa. Menatap tajam Yifan yang sibuk mengganti saluran televisi secara random.
"Harta tidak bisa membeli kebahagiaan ge.. Kau mengatakan seolah-olah kekayaanlah yang membuat aku bersikap seperti ini.."
"Memang! Dari drama yang aku tonton di televisi, setiap orang kaya itu menyebalkan.. Sesukanya dan mau menang sendiri... Sama sepertimu..."
"Terserahmu saja ge... Hoaaahhhmmm.. Aku mau tidur..."
Menguap pelan, pemuda tampan itu menyenderkan kepalanya pada bahu Zitao. Memeluk pinggang rampingnya tanpa perduli dengusan sebal dari si cantik bermata panda itu.
"Yifan.. Yak.. Yak!"
Sia-sia.
Si tampan Yifan benar-benar tak menggubrisnya. Terlihat nyaman dengan posisinya saat ini. Membuat Zitao berdecak pelan.
Netra pemuda ini menatap teduh wajah Yifan. Terlihat polos kala memejam. Membuatnya tak dapat menahan diri untuk menyapa pahatan tampan itu dengan jemarinya.
"Dasar bocah kurang ajar.." kekehnya pelan.
Perlahan pemuda itu menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Memejam dan membiarkan suara lirih televisi mendominasi. Menyerahkan kesadarannya dan mulai memasuki alam mimpi.
.
.
"Where's my son?"
Wanita cantik nan elegan ini berujar dingin pada pria bersetelan jas dihadapannya. Memutar pelan gelas wine dalam genggamannya.
"Tuan Muda tidak pulang hari ini Nyonya.. Beliau menginap di rumah Tuan Muda Park.."
"Begitukah? Begitukah?"
Prang!
Dengan kasar, wanita itu melepar gelas winenya ke dinding. Membuat kaca itu pecah dan berhamburan di lantai.
"Kau pikir aku bodoh?! Sudah jelas jika Chanyeol berada di hotel bersama kekasihnya! Dasar tidak becus!"
Ding
Mendudukkan tubuh rampingnya di singgasananya, wanita ini pun menghela nafasnya pelan. Meraih smartphonnenya dan membuka sebuah pesan yang ada. Mengembangkan senyuman menawannya.
"Kumaafkan kesalahanmu kali ini.. Aku punya tugas baru untukmu..."
" Tugas apa Nyonya?"
"Cari semua informasi tentang pemuda yang bernama Huang Zi Tao.. Segala tentangnya.. Kau mengerti?"
"B..baik Nyonya.."
Pria berjas itupun pergi meninggalkan ruangan itu. Menyisakan si wanita cantik yang memandang foto seorang pemuda manis bersurai jelaga pada layar smartphonenya.
"Huang Zi Tao.. Aku ingin tahu.. Siapa kau sebenarnya?"
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
Makin aneh nggak sih?
Turut berduka atas gempa di Taiwan..
Bersyukur Puji Tuhan Zitao baik-baik saja...
Jangan lupa reviewnya yaa...
Mwwaaaaah!
