"GEGE! WO AI NI!"
Wu Yi Fan & Huang Zi Tao
Warning!
Yaoi/Boys Love
Don't like? Don't read!
You've been warned babe...
.
.
.
.
"Cari semua informasi tentang pemuda yang bernama Huang Zi Tao.. Segala tentangnya.. Kau mengerti?"
"B..baik Nyonya.."
Pria berjas itupun pergi meninggalkan ruangan itu. Menyisakan si wanita cantik yang memandang foto seorang pemuda manis bersurai jelaga pada layar smartphonenya.
"Huang Zi Tao.. Aku ingin tahu.. Siapa kau sebenarnya?"
.
.
.
Kriiiiiiiiiiiiiiiiing!
Bunyi beker yang begitu nyaring mendominasi apartemen mungil ini. Mengusik ketenangan tidur seorang pemuda cantik yang tampak nyaman dalam dekapan lengan kekar yang melingkupi tubuh rampingnya.
Menggeliat pelan, si cantik bernetra sekelam malam ini mulai mengerjap. Menyesuaikan terang yang ada kemudian melirik sekilas kearah nakasnya. Dimana sebuah beker berbentuk kepala panda terpajang dengan apiknya.
"Ughhh... Jam enam..." lenguhnya pelan.
Hendak bangkit namun gerakannya tertahan oleh sepasang lengan yangg melingkupi tubuhnya. Membuatnya membola dan hendak berteriak, namun urung begitu saja kala melihat paras si pemilik.
"Yi.. Yifan..."
Menatap pahatan sempurna wajah pemuda yang usianya lebih muda lima tahun darinya itu. Memuji bagaimana sosok itu terlihat begitu sempurna bahkan kala terlelap. Juga dengan memar samar yang entah mengapa membuatnya terlihat dewasa.
"Ada yang salah dengan wajahmu itu bocah..."
Mengacak-acak surai brunette Yifan. Membuatnya tak teratur dan menggulung. Namun entah mengapa, wajah itu tetap mempesona.
Tap
Seketika tubuh Zitao membeku. Jantungnya berdebar keras kala dengan tiba-tiba Yifan menahan jemarinya. Menatapnya dengan sepasang darkchoco yang memikat.
"Tidak baik mengganggu orang yang sedang tertidur ge..."
Zitao gelagapan. Berusaha menarik jemarinya yang hanya berujung sia-sia karena sepertinya pemuda tampan bermarga Wu itu tak berniat melepaskannya.
"Le..lepaskan Yifan..."
Tersenyum tampan, Yifan justru membawa jemari itu pada bibir tebalnya. Mengecup satu per satu kuku lentik si cantik tanpa dosa.
"Y..ya!" pekik Zitao dengan wajah merona. Mendorong kepala bersurai brunette itu menjauh kemudian menatapnya bengis.
"Jangan menatapku seperti itu ge... Aku hanya mengecup jemarimu.. Bukan melecehkanmu.." kekeh Yifan santai.
"Lagipula.. Kau terlihat menyukainya.. Terbukti dari wajahmu yang merona.."
"Apa yang baru saja kau katakan bocah?!"
Pletak!
Sebuah pukulan telak kembali mendarat pada puncak kepala Yifan. Membuatnya memekik kesakitan dengan kedua tangan yang mengusap bagian yang terasa nyeri.
"Minggir! Aku mau mandi! Rapikan tempat tidur ini... Kuharap sudah selesai sebelum aku keluar dari kamar mandi atau kau takkan dapat jatah sarapanmu!"
Brak!
Pemuda Wu ini meringis kecil. Menatap pintu kamar mandi yang ditutup dengan amat kasar oleh si cantik Huang. Terkekeh pelan kala mendengar gerutuan samar dan pekikan sebal dari ruang pribadi itu.
"So cute..."
.
.
.
"Apa menu sarapan kita pagi ini ge?"
Pemuda Wu ini bertanya seraya mengusap surainya yang basah. Ia baru saja selesai mandi dan beruntung dapat menyelesaikan tugas yang diberikan Zitao tepat waktu hingga tak perlu melewatkan sarapan paginya.
"Aku hanya punya sereal, roti, selai, dan susu.. Makan apa yang kau inginkan..."
Zitao berujar dengan netra yang tertuju pada layar ponselnya. Sesekali meraih benda persegi itu kemudian mengetik beberapa kalimat. Berbalas pesan.
"Ini hari sabtu.. Apakah kau tidak berniat untuk pergi jalan-jalan?" tanya pria ini seraya melahap serealnya.
"Tidak... Aku punya banyak tugas kuliah.. Nanti sore aku harus pergi ke cafe Minseok hyung untuk menjalankan shift malam.."
"Jadi kau hanya akan menghabiskan hari ini dengan belajar dan bekerja? Begitu? Hah! Membosankan!"
Prak!
Zitao meletakkan ponselnya dengan kasar. Menatap tajam Yifan yang duduk di hadapannya, kemudian menodongkan garpu pada pucuk hidung bangir pemuda itu.
"Dengar Wu... Aku tak pernah memaksamu untuk tinggal disini.. Kau boleh pergi jika merasa bosan.. Ingat, kau yang menyembahku untuk menginap disini.. Jika kerjamu hanya membuat aku merasa kesal, kau tahu pasti letak pintu utama apartemenku.."
Yifan terdiam. Mendapati Zitao yang terlihat begitu serius membuat darahnya berdesir. Memacu kerja jantungnya untuk berdebar lebih cepat.
"Aku tak pernah menyangka kalau Tao ge ternyata bisa terlihat menawan jika sedang serius seperti ini!"
"Ekhem.. Arrasseo... Arrasseo.. Jangan marah begitu.. Aku kan hanya menilai kalau kegiatanmu cukup membosankan untuk dilakukan pada hari libur seperti ini.. Kau terlihat jelek jika marah ge.."
Drrt.. Drrt..
Getar ponsel itu membuat perhatian Zitao teralihkan dengan cepat. Bergegas meraih benda tipis itu, kemudian melangkah menjauh dari Yifan untuk sekedar menjawab panggilan yang ada.
"Yeoboseo..."
"Selamat pagi Tao-er... Lama tidak berbicara denganmu.."
"A..ah.. Paman Wang? Apa kabar?"
"Kabarku baik Tao... Kau sendiri bagaimana? Apakah Korea menyenangkan?"
"Ya.. Seperti yang paman tahu.. Aku kuliah dengan baik disini... Bagaimana kabar baba dan mama? Apakah mereka baik?"
Terdengar helaan nafas di sebrang. Membuat Zitao meremat ponselnya kuat. Menggigit bibir bawahnya pelan untuk menghalau kegundahan hatinya.
"Keadaan disini kacau Tao.. Kondisi Presdir Huang semakin memburuk.. Ibumu bahkan lebih banyak menghabiskan waktunya dirumah.. Perusahaan mengalami penurunan kinerja.."
Bagai dihantam batu cadas besar. Tubuh Zitao melemas. Meremat kuat ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih.
Perlahan air mata mulai jatuh membasahi pipinya yang serupa porselen. Terisak tertahan.
"Paman..."
"Ya Tao?"
"Bisakah kau pesankan tiket pesawat untukku? Aku akan pulang untuk menemui baba dan mama..."
"Kau ingin pulang?"
"Ya.. Biar bagaimanapun, mereka membutuhkan aku... Aku putra mereka.."
"Paman mengerti perasaanmu Tao.. Tapi kau tahu sendiri kan kalau Tuan Besar tidak mengijinkanmu menemui mereka?"
Zitao terdiam. Meremat dadanya kuat kala pria di seberang melibatkan sosok kakeknya dalam percakapan mereka.
"Baiklah... Aku titip orangtuaku pada paman.. Tolong kabari aku jika terjadi sesuatu.."
"Tentu saja Tao.."
-pip-
Sambungan telpon itu terputus. Seiring dengan tubuh Zitao yang terjatuh seraya terisak tertahan. Memukul kuat dadanya yang terasa nyeri.
"Are you okay?"
Tepukan pelan pada bahunya membuat Zitao mengangkat kepalanya perlahan. Mendapati Yifan yang berjongkok dihadapannya seraya menatapnya cemas.
"A..aku.. Aku.."
Grepp
"Tak apa... Menangislah... Jangan menahannya sendirian.."
Pemuda Wu itu memeluk tubuh semampai Zitao dengan erat. Menepuk lembut punggung berbalut kaus itu pelan. Berusaha menenangkan hati pemuda bersurai kelam itu.
"Apa.. Hiks.. Hiks.. Apa yang harus aku lakukan Yifan? Hiks.. Hiks.. Aku.. Aku.."
Zitao tak dapat berujar sepatah katapun selain isakan. Meremat kaus yang dikenakan pemuda Wu itu kuat. Menumpahkan tangisnya pada dada bidang Yifan.
"Aku akan membantumu mencari solusi atas semuanya ge.. Tak apa.."
Yifan tahu, saat melihat Zitao menangis, sesuatu yang buruk pasti terjadi. Karena ia mengenal Zitao dengan baik. Tanpa pemuda cantik itu sadari.
Ia selalu berdiri. Di tempat yang tersembunyi. Menatap sosok cantik dalam dekapannya ini dari kejauhan.
Dan kali ini, ia takkan pernah membiarkan Zitao bersedih lagi.
.
.
.
"Mau cerita padaku tentang masalahmu ge?"
Setelah puas terisak dan menumpahkan tangisnya, Zitao hanya berdiam diri. Menurut saat Yifan memakaikan mantel pada tubuhnya dan membawanya keluar dari apartemennya.
Dalam perjalanan mereka, Yifan tak pernah sekalipun melepaskan genggamannya pada jemari Zitao. Bahkan hingga kini mereka sampai dan duduk di tepi sungai besar yang menampilkan kilau air yang diterpa sinar mentari.
"Aku tak apa Yifan.. Aku hanya-"
"Memaksakan diri untuk selalu tegar?"
Pemuda cantik bernetra kelam ini menoleh. Mendapati pemuda Wu yang menatap tajam dirinya. Seakan hendak menelanjanginya.
"Kenapa kau berujar seperti itu? Atas dasar apa kau mengatakan hal itu padaku?" desisnya dingin. Membalas sorot mata Yifan tak kalah tajam.
"Karena aku selalu memperhatikanmu ge.. Tanpa kau sadari.. Aku mengenalmu jauh sebelum kita bertemu.. Aku.. Paham segala sikapmu.."
"Kau selalu berusaha terlihat baik-baik saja.. Kau selalu membantu temanmu bahkan untuk pekerjaan yang kau sendiri tak mampu melakukannya.. Kau.. Memaksakan dirimu untuk terlihat baik.."
"Kau.."
"Aku belum selesai ge.." potong Yifan cepat. "Bisakah kau berhenti berpura-pura untuk menjadi kuat? Bisakah kau menjadi sosokmu apa adanya? Sosok yang kulihat pada saat kita pertama bertemu? Sosok yang mengoceh saat kubawa pulang dalam keadaan mabuk? Bisakah?"
Pemuda Huang ini menatap tak percaya pada Yifan. Bingung atas sikap pemuda tampan itu yang seolah mengenal baik dirinya. Bahkan jauh lebih baik dari dirinya sendiri.
"Siapa kau sebenarnya bocah?!"
Zitao beringsut menjauh. Tubuhnya gemetar. Seketika, nyali dan segala keberaniannya menguap. Seiring dengan pemuda Wu yang terus menatapnya.
"Kenapa kau bisa tahu segalanya tentangku Yifan?! Jawab aku!"
Yifan menghela nafasnya pelan. Niatnya ingin meminta Zitao untuk menceritakan masalahnya berakhir dengan pemuda cantik itu yang ketakutan.
Siapapun akan merasa takut jika berdekatan dengan seseorang yang bersikap seperti maniak seperti dirinya.
Dengan perlahan Yifan melangkah mendekati Zitao. Merengkuh tubuh ringkih itu lembut kedalam dekapannya. Mengusap sayang punggung sempit pemuda cantik yang masih ketakutan itu.
"Apakah kau tidak mengingatnya ge? Satu tahun yang lalu... Di cafe tempatmu bekerja?"
Zitao mendorong dada bidang yang mendekapnya pelan. Menatap sepasang darkchoco milik pemuda Wu dihadapannya tak mengerti.
Yifan terkekeh pelan. Mengacak gemas surai jelaga Zitao yang terlihat menggemaskan kala bingung. Meraih dagu Zitao hingga pemuda cantik itu sedikit mendongak untuk menatapnya.
"Pemuda tampan yang tak sengaja kau tabrak saat mengantarkan kopi... Itu aku.."
.
.
.
To be continue...
.
.
.
Yoo!
Ini juga lama ya updatenya...
Maklum, namanya juga hilang data...
Jadi mesti ngetik ulang..
Review jangan lupa!
Chu~
