"GEGE! WO AI NI!"
Wu Yi Fan & Huang Zi Tao
Warning:
Yaoi/Boys Love
With mature content..
If you don't like the pairing, you can close this page immidiately..
You've been warned baby...
.
.
.
Yifan terkekeh pelan. Mengacak gemas surai jelaga Zitao yang terlihat menggemaskan kala bingung. Meraih dagu Zitao hingga pemuda cantik itu sedikit mendongak untuk menatapnya.
"Pemuda tampan yang tak sengaja kau tabrak saat mengantarkan kopi... Itu aku.."
.
.
.
"Zi! Tolong antarkan pesanan ini ke meja nomor empat!"
"Baik hyung!"
Zitao berseru cepat setelah mendapat perintah dari Minseok. Mengeringkan kedua tangannya yang basah dan meraih nampan dengan secangkir kopi dan croissant hangat di meja server. Membawa papan tipis itu cepat menuju meja yang terletak di sebelah pintu masuk.
Namun karena terburu-buru, pemuda ini tak mendengar bel yang berdenting. Membuat tubuhnya menabrak sosok tinggi yang baru saja masuk hingga isi nampan itu berserakan dan menodai pakaian sang tamu.
"Astaga! Maafkan aku! Sungguh maafkan aku Tuan!"
Berujar dengan panik yang kentara pada suaranya. Zitao terlihat mencoba membersihkan noda kopi yang menempel pada jas khaki sosok tinggi di depannya. Mengutuk kebodohannya yang lalai dan menyebabkan kekacauan di cafe ini.
Tap
Sebuah sentuhan lembut menghentikan gerakan tangan Zitao. Membuat pemuda cantik ini mendongakan kepalanya. Memandang penuh kekaguman sosok bersurai pirang yang lebih tinggi darinya itu.
"It's okay... Kau tak perlu sampai bertindak seperti ini..."
Pria itu sangat tampan. Wajahnya terlihat asing. Seperti bukan berasal dari dataran asia. Netranya tajam dan alisnya tebal. Hidungnya bangir dan kontur wajahnya sempurna. Tegas, dingin, dan sedikit arogan.
"Tapi Tuan... Pakaianmu kotor karena aku..." ujar Zitao merasa tak enak hati. Kembali membungkukkan tubuhnya meminta maaf.
"Sudahlah... Tak masalah... Daripada meminta maaf, akan lebih baik jika kau membereskan.. Sedikit kekacauan yang kau buat.."
Sosok itu tersenyum kecil. Meraih bahu Zitao tanpa sungkan agar tak terus meminta maaf padanya dan menepuknya pelan. Setelahnya berjalan kearah meja kasir dan menatap sederet menu yang ada.
"Aku sedang terburu-buru... Bisakah kau berikan dua Mocha Ice Blended untukku?" ujarnya sedikit tergesa pada Baekhyun yang tersenyum ramah padanya.
"Tentu saja.. Take away?"
"Yes please.."
Sedikit mengusap noda pada jasnya seraya kembali memandang Zitao yang terlihat sibuk mengepel lantai dan memunguti pecahan gelas di lantai. Tersenyum saat melihat pemuda cantik itu tampak melarang seorang bocah kecil yang hendak melintas, dan justru menggendongnya agar tak harus melewati pecahan porselen yang masih berserakan di lantai.
"Tuan.. Ini pesananmu... Dua Mocha Ice Blended take away... Dan dua roti cokelat hangat sebagai permintaan maaf kami..." ujar Baekhyun seraya menyerahkan sebuah paper bag pada si tampan ini.
"Ah, terima kasih banyak..."
Menyerahkan kartu kreditnya pada si cantik Byun di hadapannya, pemuda ini pun bergumam terima kasih. Melangkah cepat menuju pintu dan menyempatkan diri untuk menghampiri Zitao yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Kau berhutang ganti rugi atas noda di pakaianku.. Huang Zitao..." ujarnya dan senyum nakal pada parasnya. "Akan kutagih saat kita bertemu lagi.. Sampai jumpa..."
Dan Zitao hanya biisa terdiam di tempatnya. Sibuk mencerna ucapan si tampan yang kini terdengar menyebalkan di telinganya. Mengumpat kecil kemudian kembali melakukan tugasnya.
"Tao!" Huang Zitaooooo!"
Tubuh semampai Zitao terlonjak kaget. Menatap bengis Baekhyun yang berkacak pinggang di sebelahnya.
"Apa?! Kenapa berteriak begitu?!" ujarnya sewot pada patner mungilnya. Mengutuk kebiasan si centil Byun yang sangat suka meneriakinya.
"Kau yang kenapa! Kupanggil dari tadi tidak menyahut! Kau tahu, kau benar-benar terlihat seperti orang gila... Melamun saja dari tadi dan membiarkan aku bekerja seorang diri!"
"Aku tidak melamun!" elak Zitao kala Baekhyun mengintimidasinya dengan tatapan tajam bak pembunuh.
"Ya ya ya.. Kau tidak melamun.. Hanya diam dengan tangan yang mengaduk-aduk latte hingga tak berbentuk... Hebat sekali!"
Melirik kearah cangkir dihadapannya, pada akhirnya Zitao hanya dapat menghela nafasnya pelan. Sedikit mencebikkan bibir uniknya kala melihat tampang pongah Baekhyun.
"Memikirkan si Kris, Kris itu lagi heum?"
"Sejujurnya, awalnya aku sangat tidak ingin manusia itu mampir di pikiranku... Hanya saja, ada sesuatu hal darinya yang benar-benar mengganggu sampai-sampai aku harus merelakan dia menginvansi otakku..."
Senyum nakal Baekhyun terbit pada paras cantiknya. Menodongkan sebuah sendok dihadapan wajah Zitao yang jelas lebih tinggi darinya. Membuat si pemuda panda sedikit memundurkan tubuhnya.
"Apa? Dia berhasil merebut keperawananmu heum? Atau kalau boleh kubenarkan.. Keperjakaan holemu itu?"
"Y-yak! Baekhyun sialan! Mati saja sana!"
.
.
.
"Baru pulang... Wu Yifan?"
Sapaan pelan bernada dingin itu membuat kedua tungkai panjang pemuda bersurai brunette ini berhenti melangkah. Memaksanya untuk membalikkan tubuh tingginya dan menatap seorang wanita cantik dengan paras angkuh yabg bersedekap tak jauh darinya.
"Ya Mom... Aku menginap semalam dirumah Chanyeol..."
"Benarkah? Kau menginap dirumah Chanyeol sedangkan semalam pemuda itu sedang berkencan dengan kekasihnya..."
"Aku bahkan sering menginap disana meski Chanyeol pergi berhari-hari Mom... Come on..."
Pemuda SMU ini terlihat kesal. Bosan harus terus-menerus bersikap sebagai anak baik-baik yang jelas terlalu mengekangnya. Bahkan untuk sekedar pergi bersenang-senang saja ia harus memutar otak agar ibunya tak tahu.
"Baiklah aku mangerti... Kalau begitu, bisa kau jelaskan... Siapa Huang Zitao?"
Niat Yifan untuk kembali melangkah menaiki undakan tangga rumahnya urung sudah. Sepasang manik tajamnya menatap tak suka sang ibu. Kedua jemarinya terkepal erat untuk melampiaskan emosinya.
"Apa penting bagimu untuk tahu siapa Huang Zitao Mom?"
Nyonya Wu tersenyum. Melangkahkan kedua kaki jenjang berbalut heelsnya menuju sang putra yang terlihat begitu kesal padanya. Pias khawatir sedikit nampak pada wajahnya kala melihat memar pada wajah Yifan, namun dengan cepat ia kembali tersenyum dingin.
"Kau tahu dengan jelas kalau aku melarangmu untuk menjalin hubungan bodoh yang dinamakan dengan berkencan, pacaran, atau apapun itu... Aku memintamu untuk fokus belajar agar bisa menjalankan perusahaan mendiang Daddymu kelak..." ujar Nyonya Wu tenang. "Aku tak ingin melihat sekolahmu kacau hanya karena pelayan cafe itu..."
"Siapapun Zitao dan apapun hubungannya denganku, Mom tidak berhak untuk mengusiknya..."
"Aku tidak bilang kalau aku akan mengusiknya Wu... Namun jika hal itu dirasa perlu, aku bisa melakukan hal yang lebih dari sekedar mengusik ketenangan pemuda itu..."
"Mom!""
Nyonya Wu mengangkat sebelah tangannya. Tanda tak ingin dibantah. Tak ada lagi senyum pada paras cantiknya. Menyisakan tatapan tajam yang sama persis dengan milik Yifan.
"Bersihkan luka-lukamu dan bersiaplah... Malam ini aku akan mengajakmu makan malam... Tak ada penolakan atau kau akan tahu akibatnya Wu..."
Dan wanita itupun berlalu begitu saja. Menyisakan Yifan yang terdiam dengan segala emosi yang melingkupi hatinya.
.
.
.
"Jadi... Dia sudah mengenalmu sejak lama?"
Baekhyun bertanya disela-sela kegiatan mereka membersihkan cafe. Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam dan itu berarti mereka hampir selesai dengan pekerjaan mereka.
"Ummm... Kau ingat pria pirang yang tidak sengaja kutabrak waktu itu?"
"Pria asing dengan banyak piercing ditelinganya itu?! Astaga..."
Zitao menggangguk pelan. Menata piring dan cangkir pada rak yang ada. Banyak hal yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Belum lagi Yifan yang hadir dalam hidupnya.
"Sepertinya akan lebih baik untukku untuk menjaga jarak dengannya... Hidupku bukan hanya untuk bermain-main dengan bocah SMU..."
"Yeah... Memang sepertinya takdirmu itu berdiri sendiri... Kau terlalu introvert tahu... Aku tahu itu hakmu... Hanya saja, terkadang sekuat apapun superhero, mereka tetap membutuhkan bantuan saat menghadapi musuh... Begitu juga kau Tao..."
Pemuda panda ini menatap dalam sepasang manik Baekhyun. Agak merasa "tertampar" oleh ucapan sahabat bermulut pedasnya itu. Pasalnya sangat jarang bagi seorang Byun Baekhyun untuk bicara serius padanya.
"Aku hanya ingin yang terbaik untuk sahabat manisku ini... Lakukan apa yang membuatmu bahagia baby panda... Dan masalah keluargamu di Cina... Sempatkanlah untuk sekedar menengok mereka... Semarah-marahnya mereka padamu, mereka takkan membuangmu... Hmm?"
Baekhyun mengusap lembut surai kelam Zitao. Tersenyum pada sahabat pandanya yang dibalas dengan anggukan kecil. Hanya ini yang dapat ia lakukan untuk Zitao. Meskipun mereka bersahabat dekat dan sangat mengenal satu sama lain, namun baginya mencampuri kehidupan si cantik itu bukan lagi haknya.
"Baekbee!"
Menoleh kearah jendela, Baekhyun dan Zitao saling melempar senyum. Membalas lambaian Chanyeol yang berada diluar cafe.
"Aku duluan ya Zitao sayang... Banyak kegiatan yang harus kulakukan bersama Yoda tersayangku itu... Pai~~~"
Zitao mencibir pelan kala Baekhyun mengecup gemas pipinya. Namun toh pada akhirnya ia tetap tersenyum kala sahabatnya itu melambai heboh saat memasuki mobil mewah si tampan Park.
Sepeninggal Baekhyun, Zitao pun merapikan barang-barangnya. Bersiap untuk pulang kerumahnya.
Melangkahkan kedua tungkainya setelah mengunci cafe Minseok, pemuda panda ini sedikit mendongakan kepalanya. Menatap hamparan langit gelap yang berhias sedikit bintang.
"Tao-er... Lihat bintang-bintang itu..."
"Memangnya ada apa dengan bintang-bintang itu Ma?"
"Bintang-bintang itu saling berjauhan dan terkadang muncul sendiri-sendiri... Tapi mereka tetap bersinar... Apapun yang terjadi..."
"Kau harus bisa seperti bintang... Meskipun sendirian dan kadang tertutup awan, kau tidak boleh kehilangan cahayamu... Mengerti sayang?"
"Aku mengerti!"
Tertawa lirih dalam kesendiriannya. Sepasang manik Zitao meneteskan air matanya. Ia benar-benar merindukan keluarganya. Dirinya merasa tak sanggup tinggal jauh dari rumah, namun tekanan berat yang diberikan oleh kakeknya membuatnya merasa putus asa.
Bagaimana seorang Huang Zitao dituntut untuk belajar dan berhasil meraih pendidikan terbaik untuk dapat menjalankan perusahaan. Dan Zitao bukanlah seorang anak yang senang dikekang. Ia memutuskan untuk mengikuti tes program beasiswa untuk dapat berkuliah di jurusan seni dan berhasil.
Meninggalkan kampung halaman dan sejuta peraturan sang kakek demi mengejar impiannya sendiri. Sayangnya semuanya hancur dan sia-sia. Entah apa yang terjadi ia pun tak tahu. Beasiswanya dicabut untuk alasan yang tidak ia ketahui dan tak ada jalan baginya selain bertahan.
Awalnya Zitao merasa akan baik-baik saja. Toh ia memiliki pekerjaan yang cukup untuk membiayai hidupnya meski pas-pasan. Namun yang menjadi permasalahannya kini adalah, ayahnya jatuh sakit dan sepertinya sang kakek ingin menghukumnya lebih lama dengan membatasi aksesnya untuk tetap berhubungan dengan kedua orangtuanya.
"Pada akhirnya... Bintangpun hanya akan menjadi serpihan debu di semesta..." bisiknya lirih. "Benar kan Baba? Mama?"
"Setidaknya mereka bersinar sampai akhir... Tak redup meski pada akhirnya meledak dan tak meninggalkan seberkas cahayapun..."
Tubuh Zitao terlonjak kaget. Menoleh cepat saat merasakan rangkulan hangat pada bahu sempitnya. Yifan disana. Disisinya dengan setelan jas mewah dan parfum mahal yang menguar dari tubuh tingginya.
"K-kau... Untuk apa kau kemari?"
"Tentu saja mengantarmu pulang... Tidak baik bagi pemuda manis sepertimu untuk pulang sendirian saat hari sudah teramat larut seperti ini..." ujar Yifan dengan senyum santainya.
"Cih! Daripada preman-preman, aku lebih mmenghindari manusia mesum sepertimu!"
"Ya.. Ya.. Ya... Terserahmu saja ge.. Yang jelas aku akan tetap mengantarmu pulang dengan selamat kerumah mungil kita..."
Zitao terlihat menatap tajam Yifan yang masih asyik bersiul seraya tersenyum di sebelahnya. Namun tiba-tiba saja pandangannya berubah menjadi sedikit heran saat melihat bekas kemerahan pada pipi tirus pemuda tampan itu.
"Kau pakai blush on?"
"Hah?"
"Pipimu.. Merah..." ujar Zitao menunjuk pipi Yifan. Hendak menyentuh tapi tak bisa karena pemuda tampan itu lebih dulu menahan jemarinya.
"Ckk... Tentu saja tidak..."
Mengeratkan rangkulannya pada bahu Zitao. Membuat jarak mereka terlampau dekat hingga dapat merasakan detu nafas masing-masing. Yifan menatap dalam sepasang manik kelam Zitao. Membuat yang lebih tua menelan salivanya gugup.
"Ini bekas lipstik wanita cantik yang mencium pipiku di pesta tadi..." ujar si tampan Wu dengan alis yang turun naik. Menggoda Zitao.
"Dasar brengsek! Menjauh dariku sana!" kesal Zitao seraya mendorong tubuh tinggi Yifan. Mengundang tawa lepas dari pemuda tampan itu.
"Ya! Zitao ge! Jangan merajuk seperti itu! Aku hanya bercanda!"
"Stay away from me!"
"Ayolah ge.. Pemuda cantik pantang merajuk..."
"Talk to my ass!"
"Baiklah kalau kau tetap keras kepala... Aku akan memaksa!"
"Yaaaa! Wu Yifan! Berhenti memelukku bodoh!"
"Nyonya... Anda... Baik-baik saja?"
Butler kepercayaan keluarga Wu ini bertanya pelan. Memandang sang Nyonya lewat spion mobil yang mereka kendarai. Beralih pada sang Tuan Muda yang berada cukup jauh di depan mereka.
"Aku baik-baik saja Pak Lee... Hanya sedikit pusing dengan tingkah bocah itu yang keras kepala..."
Pak Lee tertawa pelan. Menolehkan kepalanya dan tersenyum pada wanita cantik yang menjadi majikannya selama dua puluh tahun terakhir.
"Namanya juga anak muda... Selama Tuan Muda tidak berbuat hal-hal yang buruk, tidak ada salahnya kan membiarkan mereka bersama?"
Nyonya Wu hanya dapat menghela nafasnya pelan. Sedikit memijit pelipisnya kemudian menyenderkan tubuhnya pada sandaran jog yang ia duduki.
"Hhhh... Sudahlah... Kepalaku sakit karena terus memikirkannya... Ayo kita pulang Pak Lee.."
"Baik Nyonya..."
Dan mobil mewah itupun melaju. Cepat melewati Kris dan Zitao yang asyik berjalan di pedestrian seraya tertawa.
.
.
.
"Rumahku bukan tempat penampungan... Dan juga, jika kulihat-lihat kau cukup kaya untuk sekedar menyewa apartemen pribadi yang pastinya lebih mewah dari tempatku ini... Tuan Muda Wu yang terhormat..."
Yifan terkekeh pelan. Melepas dasi dan jas yang seakan mencekiknya dan membuangnya kesembarang arah. Menyisakan kemeja hitam yang digulungnya sebatas siku dengan dua kancing yang terbuka.
Surai brunettenya yang tadinya tertata rapi kini terlihat sedikit berantakan. Sepasang iris setajam elangnya sibuk memperhatikan Zitao yang mengoceh dihadapannya. Mabuk karena beberapa botol soju yang pemuda cantik itu tenggak beberapa saat lalu.
"Kenapa para orangtua selalu saja bertingkah konyol hanya untuk memenuhi ambisi mereka sendiri huh?"
"Belajar... Menjalankan perusahaan... Menikah dengan gadis cantik bertata krama tinggi dan anggun, juga terpandang..."
"Kau tahu kakekku bilang apa saat aku akan berangkat ke Korea Selatan waktu itu?"
"Jika kau berani melangkahkan kakimu keluar dari negara ini, kakek pastikan kau akan merasakan hal paling sulit dalam hidupmu hingga pada akhirnya kau kembali dan memohon maaf pada kakek..."
"Tidakkah kau berpikir bahwa pria tua itu sedikit kejam padaku Fanfan?"
"Dia bahkan menutup semua akses bagiku untuk menghubungi mama dan baba! Itu sudah keterlaluan kan?"
Wu Yifan mendesah pelan kala Zitao mengguncang-guncangg tubuhnya dengan paras menggemaskannya. Bibir pemuda panda itu mengerucut lucu dan hidungnya memerah. Sepasang onyxnya basah dan berkaca-kaca.
"Tahan dirimu Wu... Tahan dirimu..."
"Ummm ge.. Sebaiknya kita tidur saja... Kau sudah terlalu mabuk..."
"Aniyoooo~~~ Aku tidak mabuk Wu~~~ Aku hanya... Hanya kesal... Dan marah..."
"Pada kakekmu?"
Zitao menggeleng pelan. Merebahkan kepalanya dipangkuan Yifan. Memandang kosong dengan isakan tertahannya.
"Aku marah pada diriku sendiri... Kenapa aku begitu egois? Kenapa aku tidak bisa menekan sifat keras kepalaku dan sedikit berlapang dada untuk mengikuti keinginan kakek dan ayah..."
"Hiks.. Hiks... Aku.. Hiks.. Memang pantas.. Hiks.. Dihukum..."
Pemuda tampan ini memilih bungkam. Mengusap pelan surai kelam Zitao yang berada dipangkuannya. Membiarkan pemuda cantik itu menangis sesuka hatinya.
"Penyesalan memang selalu datang belakangan kan ge? Nasi telah berubah menjadi bubur... Tapi menurutku belum terlambat jika ingin memperbaiki semuanya... Asal tekadmu kuat, mungkin hati kakekmu akan luluh..."
"Benarkah?"
Si cantik beranjak dari pangkuan Yifan. Menatap penuh harap sepasang manik teduh pemuda yang lebih muda darinya.
"Tentu saja... Kau hanya perlu jadi ombak untuk mengikis kerasnya batu karang..."
"Lalu kenapa... Kau... Bersikap baik padaku Fanfan?"
"Apa maksudmu?" tanya Yifan bingung. Pasalnya sejak bertemu sampai sekarang, Zitao selalu acuh akan dirinya.
"Kau itu... Orang pertama yang mengerti diriku... Kau... Adalah orang pertama yang melihat sisi jelekku... Dan kau keras kepala kau tahu..."
"Kau itu menyebalkan... Kau membuat aku kesal karena tidak bisa berhenti memikirkan wajah jelekmu itu... Ughhh..."
Pemuda tampan ini menghela nafasnya pelan. Sejak pertama kali bertemu di cafe Minseok, Yifan sudah merasa bahwa hatinya telah tertambat oleh si mata panda. Sikap Zitao yang polos dan lembut (di awal) membuatnya tertarik dan ingin terus melihat pemuda itu.
Sampai akhirnya, rasa suka diam-diamnya mendapat jalan dari Tuhan. Terima kasih banyak pada sahabat bertelinga lebarnya yang memaksa dirinya untuk clubbing di malam tahun baru itu.
Sampai kapanpun ia takkan bisa mendekati Zitao jika bersikeras tetap tinggal dirumah.
"Karena aku mencintaimu... Zitao ge..." ujarnya pada akhirnya.
"Aku... Jatuh cinta padamu... Pada sikapmu... Pada parasmu... Pada semua yang ada pada dirimu..."
Zitao terlihat terkejut. Mencari kebohongan dalam sepasang netra Yifan di hadapannya. Berusaha menolak kenyataan yang dilontarkan pemuda itu.
Namun sayang, yang ia temukan hanyalah sebuah kesungguhan. Dan hatinya tak dapat menolak. Dirinya, tak lagi dapat menahan segala kekeraskepalaannya untuk mencoba menjauhi pemuda Wu itu.
Maka, dengan senyum kecil yang terbit pada paras cantiknya, Zitao meraih kedua pipi tirus si tampan Wu. Menangkupnya, kemudian mempertemukan belah bibir mereka dalam sebuah ciuman manis. Membuat yang lebih muda sedikit terkejut, namun membalas pada akhirnya.
"Mungkin akan terdengar memuakkan tapi... Aku pun mencintaimu... Fanfan..." bisik Zitao kala tautan bibir mereka terlepas.
Yifan tak membalas. Hanya kembali meraup bibir mungil itu. Membungkam dengan pagutan dan lumatan kasar. Seakan menjadi pelampiasan atas segala perasaannya.
Telapak Yifan bergerak menahan tengkuk Zitao. Menyesap kuat bibir bawah pemuda cantik itu demi mendapatkan akses untuk mengeksplor lebih. Membuat si surai kelam melenguh pelan seraya meremat kuat kemeja pemuda tampan dihadapannya.
"Y-yifan... Unghhh..."
"M-mianhae... Jeongmal mianhae..." bisik Yifan lirih. Meraih tubuh Zitao dalam dekapannya kemudian menggendongnya tanpa memutus ciuman mereka.
Melangkah cepat menuju satu-satunya kamar yang berada di flat mungil itu, Yifan merebahkan tubuh Zitao diatas ranjang. Mengukungnya dan menatap sepasang manik indah itu dengan gurat sesal yang mendalam, kemudian berbisik dengan amat sangat lirih.
"Mianhae... Ge... Aku tak dapat menahannya lagi..."
Zitao memekik pelan kala bibir tebal Yifan kembali membungkam miliknya yang membengkak. Mendesah lirih saat lidah runcing pemuda tampan itu mulai menerobos masuk. Melilit miliknya dan menyapa deretan gigi mungilnya.
Mereka kehilangan kendali atas segalanya. Membiarkan naluri yang bekerja dan mengesampingkan segala resiko yang mungkin saja terjadi. Katakan jika kewarasan telah lenyap dari otak Yifan karena nyatanya pemuda itu benar-benar tak perduli jika pengalaman seks pertamanya dilakukannya di usia sekolah dan bersama seorang pemuda cantik yang lebih tua lima tahun darinya.
Memutus ciumannya, pemuda tampan ini mulai bergerak. Turun menjajal area pipi, rahang, dan leher mulus Zitao. Meninggalkan jejak saliva dan noda yang tak terhitung banyaknya.
Dirinya ragu Zitao pernah memuaskan laki-laki lain selain dirinya seperti apa yang diucapkan pemuda itu saat pertama kali mereka bertatap muka. Nyatanya pemuda bermata panda itu bersikap terlalu submisif. Mengerang dan mendesah pelan meminta lebih. Pasrah dan terlalu menikmati apa yang mereka lakukan kini. Entah karena dorongan hasrat atau efek soju pada tubuhnya.
"W-wu... Yifan!"
Pekikan kuat kembali meluncur dari celah bibir Zitao. Terengah kala pemuda diatasnya seakan tak memberikan jeda. Menyapa puncak dadanya dengan sebuah pilinan kuat. Membuat tubuhnya membusung bak busur dengan jemari yang meremat helaian surai Yifan.
"Kau terlalu indah untuk sekedar kudeskripsikan ge..."
Melucuti helaian kain yang menempel pada tubuh dibawahnya, tampaknya pemuda Wu ini sudah benar-benar tak sabar untuk segera menuntaskan hasratnya. Menyapa kejantanan Zitao yang telah terbangun dan memberikan pijatan pelan disana.
Suhu ruangan itu meningkat drastis. Begitu panas karena lenguhan, pekikan, dan erangan kuat si pemilik kala sang tamu memanja ereksinya. Sepasang netra Zitao menatap sayu. Jemari lentiknya bergerak menahan lengan Yifan. Bibirnya terbuka dan meraup oksigen. Terengah karena tak dapat mengimbangi permainan amatir pemuda tampan itu.
"L-langsung saja... K-kepalaku sakit..."
Mengangguk mengerti, pemuda Wu ini melepas sabuk yang melingkar di pinggangnya. Juga celana dan brief pendek yang dikenakannya. Membebaskan ereksinya dan menempatkannya pada cincin merah muda Zitao yang panas.
Menempatkan dua kaki jenjang Zitao pada bahu lebarnya, Yifan mendorong dirinya untuk masuk. Sama sekali tak memberikan waktu bagi si manis untuk mempersiapkan diri.
Menulikan diri dari erangan, makian, dan lengkingan suara Zitao pada telinganya. Punggungnya terasa perih kala Zitao menggores cukup dalam disana. Namun ia membiarkannya. Memilih untuk menikmati ekspresi yang terlukis pada paras merona dibawahnya.
Saat merasa bahwa dirinya telah terbenam sempurna pada tubuh itu, Yifan mulai bergerak. Menumbuk dan menghentak. Bergerak cepat bagai kesetanan dengan bibir yang kembali membungkam Zitao dalam ciuman kacau.
Pemuda cantik ini hanya dapat menikmati. Ikut bergerak dan mengejar tempo. Membuat bunyi basah dari suara kulit yang beradu. Juga kecipak liur yang menyatu.
Menarik selimut hingga membalut tubuh telanjang mereka. Yifan mempertahankan posisinya. Hanya tak ingin tubuh kekasihnya dinikmati langit kelam diluar sana. Presetan dengan besok, presetan dengan perjanjian yang dibuatnya dengan sang ibu. Presetan dengan semuanya.
Zitao menjerit dan Yifan menggeram. Bentuk pelepasan mereka atas orgasme hebat yang datang disaat yang hampir bersamaan. Menutup permainan gila mereka malam itu dengan melepaskan tautan tubuh mereka.
"Mianhae..." bisik Yifan lembut. Mengusap dahi Zitao yang basah.
Yang lebih tua menggeleng pelan. Masuk dalam dekapan Yifan. Menyembunyikan wajah meronanya dan memejamkan kedua netranya. Berujar dengan amat lirih sebelum rasa kantuk benar-benar merenggut kesadarannya.
"Wo ai ni... Wu Yifan..."
.
.
To Be Continue
.
.
Holaaaa!
Udah berapa abad ini ff gadilanjut?
Hihihi...
Myane Myane...
Penyakit kronisku emang yang suka pending-pending ff lama dan ngepostt ff baru...
Intinya sih, aku mau kelarin utang-utangku pada readers tercintah...
Gomawo untuk kaliam yang udah baca..
Baik dengan atau tanpa review...
Chuu~~~
