Bagi seorang Takigawa Chris Yuu, Sawamura Eijun memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan psikiater manapun yang ia tahu.
Chris mengingat saat pertama kali ia dan Sawamura bertemu. Bagaimana juniornya itu menolak dengan sepenuh hati perintah pelatih untuk berlatih dengan Chris. Bagaimana Chris sendiri membalas dengan komentar pedas dan memberinya menu latihan sendiri di gulungan kertas.
(Chris melewatkan bagaimana kedua bahu Eijun akan menegang dan kedua tangannya akan terangkat untuk menutupi telinga namun terhenti di tengah jalan, kedua tangannya lalu terkepal seolah berusaha menahan agar mereka tidak bergerak kemanapun)
Chris tidak terlalu memperhatikan apapun (ia tidak peduli) karena dunianya kehilangan warna bersamaan dengan Chris yang kehilangan kemampuan atletiknya. Para psikiater itu mencoba, mereka telah mencoba sebisanya, karena ayahnya menginginkan Chris tersenyum seperti biasa tidak lebih tidak kurang seolah senyuman itu adalah keajaiban. Dengan tidak mengejutkan, tidak ada satupun dari mereka yang berhasil.
(Begini, ayahnya meminta keajaiban; namun bagaimana bisa ia membuat keajaiban jika sang ayah bahkan sama sekali tidak percaya keajaiban itu ada dan menghalangi jalannya untuk menuju keajaiban tersebut?)
Lalu Sawamura Eijun jatuh menimpa kehidupannya. Ia mengeluh, tertawa, menangis, membentak, perkataannya sama sekali tidak disaring ("Aku tidak akan pernah menjadi pemain tidak berperasaan sepertimu!"); Eijun adalah lompatan energi yang tidak bisa Chris ikuti, terlalu melelahkan bahkan jika Chris hanya melihatnya dari kejauhan. Saat itu Chris masih tidak mengerti (lagi, tidak peduli) kenapa Eijun mampu bertindak sebagai magnet bagi tim. Chris pun tidak berminat untuk mencari tahu.
.
.
Pertandingan melawan Koku-Shikan datang dan warna-warna dunia kembali menghampirinya, keajaiaban menghampirinya. Chris bisa menghirup aroma matahari musim panas, riuh rendah penonton, tatapan meremehkan dari tim lawan dan simpati dari bench. Persetan dengan semua pandangan simpati itu, Sawamura tersenyum lebar di depannya dan di dalam kedua manik emas itu Chris menerima pesannya; 'percayalah padaku, juga, pada dirimu sendiri.' Sawamura mempercayainya sepenuh hati dan tatapan lurusnya (tanpa rasa simpati, tanpa kasihan dan kekhawatiran) yang penuh fokus dari mound di sana mengembalikan dunianya.
Oh jadi begini, Chris pikir kala tersenyum di balik helm pelindung dan berjongkok di tempatnya, inilah alasannya Eijun mampu menarik semua orang. Bagaimana tidak dengan manik penuh determinasi dan tatapan penuh fokus yang ia miliki disana?
Miyuki sangat beruntung—seluruh tim Seidou beruntung, untuk memiliki seorang Sawamura Eijun di pihak mereka.
"CHRIS-SENPAI MEMUJIKU! DIA AKHIRNYA MEMUJIKU!"
Samar-samar, (hashtag)-Chris-senpai-protection-team kembali bangkit dari reruntuhan ketika melihat senyuman samar Chris di lapangan.
.
.
Chris menyadari kedua mata Eijun sembap, seolah habis menangis, tetapi rambutnya basah dan sebuah handuk kecil melingkar di pundaknya. Mungkin itu hanya perasaannya, Chris pikir, mana mungkin Eijun akan menangis saat ia baru saja dipilih menjadi anggota tim reguler? Tidak mungkin ia menangis setelah berhasil melangkah lebih dekat menuju impiannya—kan?
Tangan kanannya bergerak, kepalannya dibuka, menunjukkan sebuah liontin berbentuk globe mini berwarna emas (hampir cokelat) keruh, Chris mengerjap dan meyadari kanju 'Takigawa—Yuu' terukir di atasnya.'
"Ini—jimat untuk Chris-senpai."
Jika ia bingung, Chris tidak menunjukkannya sama sekali. Senyumnya justru melebar kala ia mengambil jimat itu. Dengan jarak yang cukup dekat, lampu yang menggantung di atas lorong asrama, Chris yang memperhatikan, yang akhirnya peduli, melihat bahwa Eijun terlihat gugup. Matanya kembali berubah menjadi mata kucing dan keringat (atau air?) mengalir dari dahinya.
Chris melingkarkan liontin itu menjadi gelang di tangan kanannya; kedua manik emas Eijun melebar seiring dengan mulutnya yang terbuka, jelas terkejut.
"Terima kasih, Sawamura."
Chris berani sumpah ada bintang yang mendadak muncul dan background yang berubah menjadi lebih terang saat Eijun mengangguk, cengirannya lebar, dengan "Yup!" singkat dari mulutnya.
.
.
Kehilangan Tanba karena cedera memang sebuah kejadian yang sangat tidak disangka, memang, dan Chris tidak bisa bilang hal itu sama sekali tidak berdampak pada tim Seidou yang sekarang. Terutama pada teman-teman seangkatannya yang lain. Meskipun mereka terlihat yang paling tenang, Chris memperhatikan bagaimana bahu Yuuki lebih tegang dari biasanya, Isashiki menggertakkan gigi lebih sering, bahkan Ryuunosuke memainkan jemarinya sesekali.
Bagaimanapun juga, segugup apapun para anggota kelas tiga, mereka tetap terlihat profesional, membawa para kelas dua dan kelas satu kembali tenang. Minus seorang pitcher kelas satu yang terlihat luar biasa gugup dan panik.
Furuya terlihat tenang—memang sulit mengetahui apa yang picther stoic itu sebenarnya rasakan, tetapi Chris tahu ia gugup barang sedikit ketika mengetahui statusnya sebagai starting pitcher untuk pertandingan selanjutnya. Selain itu, Furuya bersemangat; ada api imajiner di belakangnya dan itu pertanda bagus.
Sawamura, entah kenapa, justru sebaliknya
Mood-nya seolah bergerak dari bersemangat menjadi gugup, lalu panik, lalu tiba-tiba ia murung sambil menjambak rambutnya frustasi. Kuramochi menendang pinggangnya, jelas tidak tahan melihat roller-coaster emosi bernama Sawamura Eijun, sementara Haruichi Kominato berusaha menenangkannya. Miyuki Kazuya juga berusaha menenangkannya—dengan ejekan.
"Diam kau, Bakayuki! Aku juga mengerti ini salahku!" Eijun meraung, lapangan hampir kosong, matahari terbenam, dan anggota yang tersisa menatap Eijun seolah ia adalah dewa yang baru turun dari langit akibat teriakannya beberapa detik lalu.
Ekspresi si junior berubah dari marah menjadi panik—mata kucing itu lagi—lalu ia menutup mulutnya dengan kedua tangan dan matanya melebar horror, seolah baru menyadari sesuatu. Miyuki mengernyit serius, dan mulutnya terbuka untuk menyatakan sesuatu,
"Sawamura—"
"AAH! CHRIS-SENPAI! Disitu rupanya! Sudah kucari dari tadi!"
Chris mengerjap, terkejut, Sawamura menunjuknya rusuh dan berlari kecil menuju ke arahnya. Jelas-jelas mengabaikan Miyuki yang menyipitkan matanya kepada mereka berdua, seolah sebal karena diabaikan.
"Oh ya? Ada apa, Sawamura?" Sulit untuk tidak tersenyum di depan Sawamura; dan seolah menular, senyuman Sawamura ikut melebar saat melihat senyumannya.
"Apa aku boleh ikut menjenguk Tanba-senpai nanti?"
Chris mengernyit samar (samar, karena Chris tidak tega marah di depan Eijun) sambil bergumam tidak setuju.
"Sawamura, kau harus lebih fokus pada pertandingan."
Bahu Eijun menegang sesaat. Namun Chris terus melanjutkan, "Kau mengkhawatirkan terlalu banyak hal, Sawamura. Yang lain jadi khawatir padamu."
Eijun menggerutu—Chris tidak bisa mendengarnya, kecuali 'miyuki' 'tahu' dan 'menyebalkan.' Chris menghela napas, "Kalau kau ingin memberikan sesuatu, atau mengatakan sesuatu pada Tanba, aku bisa menyampaikannya untukmu."
"Terima kasih, Chris-senpai!"
Chris masih tidak tahu darimana kilauan bintang dan background yang kerap-kerlip yang muncul di sekitar senyuman Sawamura berasal.
Esoknya, Sawamura memberikan sebuah kotak kecil pada Chris, meminta Chris memberikan kotak itu ke Tanba
.
.
"Sawamura."
"Oooh! Tanba-senpai! Selamat pagi!"
"...pagi."
Sementara para anggota tim baseball Seido melongo karena melihat Tanba menyapa seseorang duluan (serius, ini perkembangan!), Sawamura tersenyum lebar—dengan efek kerlap-kerlip, pula, batin Chris. Rasanya Chris bisa mengerti kenapa Tanba gugup mendadak.
"Senpai ada perlu apa denganku?"
"Liontin ini," Tanba menunjukkan sebuah liontin berwarna kuning keruh berbentuk tetesan air kepada Sawamura yang langsung berbinar. "Terima kasih."
Kuramochi dan Ryuunosuke sama-sama memotret momen dimana Tanba tersenyum lembut pada Sawamura.
.
.
Takigawa Chris Yuu sulit berpikir, penanya sulit bergerak, seolah gelang berliontin di tangan kanannya menjadi sangat berat. Liontin itu terlihat kehilangan warna saat Chris mencoba menghampiri Eijun dan masalah yips yang dialami olehnya.
.
.
Sawamura Eijun memberikan liontin lain untuk Kawakami. Chris hampir melihat air mata Eijun menggenang di depan kedua manik keruhnya—Kawakami pun pasti menyadarinya; bagaimana mungkin seseorang yang sedang terluka seperti Eijun justru mengkhawatirkannya?
Liontin itu diterima Kawakami; Chris melihat Kawakami menghela napas lega saat melihat Eijun tersenyum. Meskipun itu hanyalah sebuah senyuman kosong.
.
.
Eijun menggenggam liontin ungu miliknya—bagaimana bisa ia menyembuhkan diri sendiri ketika sebagian besar bagiannya telah hilang?
.
.
.
.
Next Chapter: Kominato Haruchi
A/N: Saya nggak tahu ini masih layak baca apa nggak
Nulis chris is hard
Apalagi pas review baca ulang DnA isinya emang 90% pertandingan and i feel like i lost so so so soooo many things to write. Sorry for the inconvenience. Hope you enjoy this :"
