luigi torelli

Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya. penulis tidak mengambil keuntungan material apapun atas pembuatan karya; ditulis hanya untuk kesenangan.
Pairing/Character: Romano/Liechtenstein; Switzerland, Italy, Ancient Rome. Genre: Adventure/Family. Rating: T. Other notes: WWII!AU, Naval Army, Regia Marina.

(Lovino, Feliciano, Erika bersekolah dan waktu berlalu. Erika berniat pergi ke Inggris, Feliciano dan Lovino ingin berpisah jalan ke sekolah seni dan teknik. Mudah? Tidak seorang pun bicara begitu.)


Buku yang Feliciano pegang hampir terjatuh ketika dia memasuki gang. Ada kakeknya terlihat, dia tak mampu menahan keinginan untuk melonjak gembira. "Kakeeeek!"

Lovino cuma menggeleng-geleng melihat adiknya nyaris terjerembab di ujung teras setelah hampir menjatuhkan bukunya ke tumpukan daun kering. Feliciano langsung menghambur ke pelukan kakeknya. Lovino tak peduli itu, tetapi Kakek menunggunya sambil merentangkan salah satu tangannya. Mau tak mau anak itu berlari kecil dan menuruti sambutan Kakek yang kemudian mengangkat mereka berdua bersamaan tinggi-tinggi.

"Tadi Kakak disuruh membaca ke depan kelas!" Feliciano menunjuk, "Lalu kami belajar tentang Il Duce dan Parade ke Roma! Il Duce pemimpin yang besar, ya? Aku tidak sabar untuk belajar lagi besok!"

"Oh, ya? Lovi, benar, kau membaca di depan kelas? Kaubisa melakukannya?"

"Hmph," Lovino mencengkeram sudut buku tulisnya, "... sedikit."

"Tidak apa-apa. Baru hari pertama, tidak perlu terlalu sedih. Oke?" Kakek pun menurunkan mereka berdua. "Kakek tadi membeli ikan yang kalian suka dan baru saja akan memasaknya. Sekarang kalian pilih, mau membantu Kakek memasak atau mengulangi pelajaran di sekolah tadi?"

"Belajar!"

"Memasak!"

Kakek memandang mereka berdua bergantian. "Eh? Bicaranya bergantian, dong. Siapa yang ingin apa, tadi?"

"Aku mau memasak! Memasak! Memasak!" Feliciano melompat-lompat. Bukunya terabaikan meski jatuh ke sudut teras. "Memasak olahan ikan seperti apa, Kek? Aku ingin tahuuu!" sambil menarik-narik ujung pakaian kakeknya dia melengkingkan suara nyaring sekali.

Kakek sudah tahu jawabannya, "Jadi, Lovino, kaumau mencoba membaca buku apa kali ini?" anak itu pasti masih merasa malu, pikirnya sambil tersenyum simpul.

Lovino menarik buku dari dalam bajunya, dari balik kemeja putih yang berkerut dan tak diselipkan di salah satu bagiannya. Buku tentang kapal itu lagi, Kakek pun tersenyum. Seharusnya ia menyadarinya, buku itu seharusnya terlihat tanpa terlalu repot menerawang pakaiannya. Lelaki itu mengacak rambut Lovino, "Belajarlah, Nak. Di kamar atau di ruang tengah, silakan. Ada roti sisa tadi pagi, makanlah sambil belajar jika kaumau."

Kakek dan Feliciano masuk lebih dahulu. Lovino memungut buku Feliciano yang tadi dia tinggalkan di ujung beranda. Pintu yang kayunya telah terkelupas dan memunggungi jalanan yang tak merata itu pun ditutupnya kemudian. Dia pergi ke atas, membuka jendela dan membiarkan decitnya menusuk telinganya. Ia benci itu. Karat sialan, engsel tak becus. Tapi menagih perbaikan rumah pada kakeknya hanya akan membuat wajah lelaki itu berkerut murung—dan Lovino benci jika hal itu terjadi.

Tidak perlu roti untuk belajar. Lovino hanya butuh satu halaman dari Buku Kapal Laut untuk membuatnya lupa rasa lapar.


Lovino bangun lebih siang, Feliciano meninggalkannya. Kelas masih belum terlalu ramai, Lovino rasa dia beruntung.

"Pe-ra-wat. Se ... se ..."

Lovino berhenti di samping bangku yang menempel pada dinding kelas. Lalu melongok dan membuka matanya—yang masih mengantuk—lebar-lebar. "Seseorang. Seseorang ... yang me-mem ..."

"Membantu."

Dua anak itu berpandangan. Lovino mengalihkan pandangannya beberapa kali. Tak ada yang mengajarinya soal cara bertingkah di hadapan anak perempuan, dan dia kesal. Erika, di sisi lain, cuma memandangi saja dengan mata hijaunya yang Lovino rasa, kadang-kadang, begitu kosong, tapi bisa pula terlalu dalam itu.

"Lovino, selamat pagi." Erika pun melepas bukunya dan membiarkannya di pangkuan.

"Ya—ya, selamat pagi!" Lovino melongok lagi. "Buku apa itu?"

"Kakak yang membelikan ini." Dia menutupnya lalu mengelus sampulnya. "Aku melihatnya di tempat seseorang yang berjualan di tepian pasar. Ini buku yang bercerita tentang pekerjaan orang-orang dewasa."

"Mana, kulihat." Lovino melompat ke bangku, Erika bergeser memberikannya ruang. Dia menaruk bukunya di atas kaki kanannya dan kaki kiri Lovino.

"Lovino nanti ingin jadi apa?"

Lovino menggembungkan pipinya sebentar. Dia hanya mengikuti nalurinya saja untuk menunjuk salah satu gambar. Apapun itu, asalkan Erika mendapatkan jawaban.

"Po-li-si ...," Erika mengangguk-angguk. "Polisi, ya? Kakak pernah bercerita beberapa hal tentang polisi. Apa kaumau menjadi penjaga Il Duce?"

"Apa semua polisi menjaga Il Duce?" Lovino memiringkan kepala. Rasa penasaran kini saling berkilat di antara dua mata.

"Tidak ... tahu." Bahu kecil terangkat. "Tapi ... mungkin saja ..."

Lovino memandang gambar pilihannya. Termangu. "Kenapa Il Duce harus dijaga polisi juga, ya? Dia 'kan orang dewasa yang hebat ..."

Erika baru saja membuka mulut, namun dari dalam kelas Feliciano menyambar mereka berdua, "Selamat pagiii, Kakak! Selamat pagi, Erikaaa!"

Feliciano langsung menarik keduanya untuk masuk. Lovino enggan diseret, hanya ingin mengekor di balik Erika yang menggenggam bukunya erat-erat saat Feliciano memegang tangannya sambil berlari.

"Kekhawatiran Paman tidak benar."

"Aha ha ha ha ha, dasar aku ini. Sepertinya mereka memang baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, huh? Mereka sudah siap dengan dunia sekolah dan kurasa inilah saatnya untuk membiarkan mereka mencoba hidup mereka sendiri."

Dua orang yang mengawasi dari kejauhan itu pun perlahan bergerak meninggalkan pagar. Kakek meneruskan jalan di perempatan, sementara Basch pamit untuk berbelok ke kanan, ke arah tempatnya bekerja di toko pemasok tepung terbesar di salah satu desa pesisir Italia.

Kakek bersiul di sepanjang perjalanan ke pasar dan merasa bahunya lebih ringan. Dia selalu berprasangka kedua cucunya terlalu kecil untuk memahami bagaimana cara bertahan di sekolah sejak hari pertama mereka menjadi siswa, namun prasangka tetaplah prasangka. Kadang-kadang dia tidak hidup.


Kakek sedang tidak di rumah. Feliciano sedang bereksperimen di dapur dengan sisa-sisa telur dan tepung. Lovino sedang tak ingin peduli dengan bau masakan dan terutama ... mandi tepung. Feliciano tak pernah bisa membawa semangkuk tepung dengan benar tanpa terjerembab minimal satu kali setiap memasak.

Sang Kakak mengasingkan diri dengan bermain dengan potongan-potongan kayu sisa kegiatan pertukangan Kakek tempo hari. Kakek memperbaiki jendela kamar di atas, yang berarti Lovino tak akan mendengar lagi decitan menyebalkan setiap kali dia butuh cahaya untuk membaca di sore hari. Ia tidak pernah meminta, tetapi sepertinya Kakek pernah mengamati dia menggerutu sambil menghajar daun jendela saat bunyi gerakan engsel berkaratnya terdengar.

Lovino mencoba membuat suatu bangunan dengan potongan kayu tersebut, namun dia sadar dia tak bisa menghasilkan apa-apa jika tidak memakai pemotong.

Yang artinya, permainan ini selesai sudah.

Kakek belum memperbolehkannya menggunakan gergaji, palu atau benda-benda serupa saat Kakek tidak ada di sekitarnya. Kakek menyimpannya entah di mana. Barangkali di atas lemari yang tak bisa Lovino jangkau di gudang sempit berdebu di belakang dapur, atau di puncak bekas tangga menuju loteng yang saat ini menjadi tempat menumpuk peti-peti peralatan memancing yang barangkali juga sudah rapuh dan tak berguna.

"Tidak berguna," gumam Lovino sambil menendang salah satu potongan.

Main bola tidak mungkin. Tanpa teman, bola akan terlihat kusam dan semakin membosankan. Sementara Feliciano lebih peduli pada tepung dan telur. Mata Lovino lalu menyapu sekeliling gang.

Hanya ada Erika. Duduk dengan kaki menjuntai di teras samping, berdampingan dengan pot bunga krisan putihnya yang mungil, dan sebuah buku di pangkuannya, terbuka di bagian tengah. Erika mungkin mau diajak main tangkap-lempar, tetapi Lovino tidak mau ambil resiko dicekik Basch. Apalagi jika dia terlalu bersemangat dan membuat bola mencium jidat atau ubun-ubun Erika. Bisa-bisa dia demam tiga hari. Perlahan dia menghampiri Erika saja, berharap perempuan itulah yang bisa menciptakan permainan.

"Hei."

"Ah, selamat sore, Lovino."

"Sore." Lovino duduk di bagian teras yang berpasir. "Buku apa itu?"

"Joanna si Perawat." Erika pun memperlihatkan sampulnya. "Ceritanya seru."

"Oh, buku cerita ..." Lovino sesekali mendelik pada isi buku. Sedikit-banyak dia dapat menangkap maksud jalan cerita, sepotong-sepotong. Intinya tentang seseorang yang baik hati dan suka menolong, mungkin seperti itu. "Kau ingin jadi perawat, ya?"

"Hu-um." Erika mengangguk lalu tersenyum. "Menolong orang lain itu, kata Kakak, sangat baik. Dan sepertinya ... membuat orang-orang yang menangis karena terluka menjadi tersenyum kembali itu sangat menyenangkan."

"Aku takut luka." Lovino memberengut. "Aku pernah terjatuh dan lututku berdarah. Aku benci melihat darah."

"Kalau Lovino terluka ... panggil saja aku. Aku akan menolongmu." Gadis kecil itu menatap dengan mata penuh binar. Seakan cita-citanya sudah begitu pasti dan dia punya seribu satu lilin harapan yang tidak akan pernah mati. "Aku akan jadi perawat yang baik."

"Tapi jangan marahi aku saat aku terluka ..."

"Tidak akan," Erika menjawab ramah, dan terkekeh pelan saat melihat pipi Lovino yang menggembung. "Lovino, saat besar nanti ingin jadi apa? Benar-benar polisi, ya?"

Lovino menggeleng cepat. "Aku lebih ingin berkeliling dunia. Dengan kapal!"

"Kalau tidak salah ... namanya pelaut. Benarkah?"

"Kakek juga bilang begitu." Lovino menyepak pasir halus di dekat kaki kanannya. "Berdiri di atas kapal membuatku tambah gagah!" dia menepuk-nepuk dadanya, lalu tertawa saat memandang Erika.

Erika menyahut dengan tawa kecil.


[ 1934 ]

Kakek sedang berbicara dengan wali siswa yang lain. Lovino membiarkannya lalu menghampiri Erika. Feliciano? Biarkan saja. Entah apa ocehannya. Mungkin tak jauh-jauh dari keinginannya untuk masuk sekolah tingkat tinggi apapun asalkan bisa mempelajari satu (atau mungkin keduanya) dari hal berikut; satu, seni lukis—dua, kejuruan khusus memasak. Walau Lovino tak yakin apakah ada Istituto tecnico yang menyediakan jurusan memasak. Kalau seni lukis, mungkin ada di Liceo artistico. Sisanya, Lovino tak peduli, begitu dia bilang pada teman-temannya, karena adik kembarnya itu pasti bisa mengurus dirinya sendiri.

Dia menghampiri Erika. Perempuan itu melirik dan menyadari kedatangannya, membuatnya menghentikan pembicaraannya dengan teman-temannya.

"Kau akan ke mana setelah ini?" Lovino pun duduk di sebuah bangku, sepotong papan yang hanya cukup untuk tiga orang.

Erika tersenyum manis. Lovino memiringkan kepalanya. Selama bertahun-tahun sekolah bersama, dia merasa terlalu biasa dengan kehadirannya. Keseharian membuatnya tidak sadar pertumbuhan mereka, perkembangan mereka, dan apa saja yang terjadi. Baru di hari kelulusan ini, dia menyadari Erika telah tumbuh menjadi remaja yang masih memelihara senyum polos nan teduhnya.

"Aku ingin pergi ke Inggris."

Kening Lovino berkerut, lalu diikuti dengan matanya yang membulat lebar. "Inggris?"

"Kau masih ingat cita-citaku?"

Kata-kata meluncur begitu saja dari mulut Lovino, seakan ia telah menghafalnya di luar kepala, "Perawat."

"Benar. Kata Kakak, dulu ada paman dan bibi yang tinggal di sana dan bercerita tentang pekerja kesehatan. Dan kalau ternyata aku tidak bisa menjadi perawat, aku bisa menjadi seorang bidan. Dan Inggris adalah tempat yang tepat, kata Kakak. Inggris punya peraturan khusus untuk bidan. Negara itu termasuk pelopor di dunia untuk bidang itu ... dan pasti ... pendidikan di sana sudah pasti bagus." Matanya tampak berbinar dan penuh optimisme.

Bahu Lovino melemas. Ia memandang pangkuannya. Sesaat kemudian, tanah. Dan kembali pada Erika. Dia tersenyum pada apapun yang berada di hadapannya. Mungkin masa depan itu tinggal sejengkal lagi di depan hidungnya. Seakan dia hanya tinggal mengangkat jari dan dia akan mendapatkannya.

"Jadi kau akan tinggal bersama paman dan bibimu?"

Gelengan. "Paman dan Bibi sudah pindah ke Roma."

"Kakakmu juga akan pergi ke Inggris?"

Anggukan.

Lovino melamun. Rumah di depan gang akan kosong. Teman bicaranya berkurang satu. Itu terdengar biasa jika dia mendengarnya delapan tahun lalu, saat rumah itu pertama kali dihuni setelah ditinggal dan berdebu bertahun-tahun oleh pembuatnya. sekarang rasanya benar-benar berbeda dan tiba-tiba saja dia berharap Inggris tak sejauh yang dibayangkan.

"Lovino?"

"Eh—ya?"

"Masih ingin jadi pelaut?"

Menutupi perasaannya, Lovino mengangguk sangat cepat. "Aku akan segera mendaftar menjadi pelaut!"

"Tapi umurmu masih tiga belas. Apa yang akan kaulakukan?"

"Aku ... mungkin akan mengikuti apa yang Kakek bilang. Masuk ke Istituto tecnico tecnologico. Ada jurusan mekanika di sana ... mungkin, kata Kakek, akan berguna jika aku bekerja di kapal. Kapal membutuhkan orang-orang yang bisa memperbaiki sesuatu. Jadi mungkin aku akan lebih mudah masuk angkatan laut jika aku memilih itu."

"Bagus sekali ... berjuanglah, Lovino. Aku mendoakan semoga kau berhasil." Erika meletakkan tangannya di atas tangan Lovino, dia kembali mengangguk.

"Ah—ya ... ya ..." Lovino menarik napas dalam-dalam, membuang pandangan, "Terima kasih. Semoga ..." dia menelan ludah, "Erika juga."


"Tidak biasanya lebih cepat, Lovino," sindir Kakek sambil tertawa, ketika Lovino mengangkat piringnya lebih dulu daripada yang lain.

Lovino hanya mencibir. Dia segera menuju ke belakang dan mencucinya, sedikit terburu-buru. Ada hal yang memaksa dirinya dari dalam untuk menyelesaikan apa-apa yang harus dia lakukan lebih cepat dari biasanya. Setelah menaruh piring dengan posisi ala kadarnya di samping bak cuci, dia melesat ke luar. Tak dipedulikannya guyonan Kakek.

Besok Erika akan berangkat. Dia menembus gang dengan harapan dia akan tetap memiliki hari-hari yang menyenangkan di masa-masa terakhir. Masih ada momen yang menyenangkan tersisa. Dia merasa aneh mengapa dia begitu menginginkan ini, tetapi, tidak ada alasan lain, dia hanya mengikuti arus kehendaknya sendiri. Yang muncul begitu saja dan seperti baru tersadar bahwa Erika cukup berharga untuk hari-harinya.

Di tengah-tengah gang dia berhenti. Segera dia melesat kembali ke dalam rumah.

"Ada apa?" Kakek membereskan meja bersama Feliciano.

"Aku lupa mengambil buku yang harus kuberikan." Derap langkah Lovino di tangga lebih berisik daripada suaranya sendiri. Begitu pula dengan bunyi engsel pintu kamarnya. Satu-satunya engsel yang beres di rumah ini sepertinya hanya jendela kamar mereka—benda itu yang terbaru dan Kakek tidak pernah memperbaiki yang lain lagi.

Buku tua itu dipeluk Lovino setelah dia ambil. Erika pasti perlu ini, pikirnya, dan dia lari lebih cepat lagi.

Hanya untuk berhenti di ambang pintu. Getaran terasa di bawah kakinya, dan daun pintu tampak bergoyang. Serbuk kayu menghujani kepalanya.

"Lovino, keluar!" pekik Kakek. "Feli, ikuti kakakmu!"

Lovino berpegangan pada bingkai pintu. Feliciano berlari ke arahnya dan memegangi lengannya sambil meringis. Getaran terus terasa.

"Keluar!" Kakek berteriak lagi dan menyeret mereka yang kebingungan. Ada bunyi nyaring, seperti kayu yang terjatuh dan menimpa meja.

Lovino menoleh sekilas dan melihat meja makan mereka telah ambruk dan lemari di dekat tangga bergoyang hebat. Salah satu palang di langit-langit jatuh dan menimpa tangga, membuat salah satu anak tangganya remuk. Dia tidak ingin melihat lebih banyak lagi dan menutup matanya sambil berlari.

"Basch, ke depan!" seru Kakek, membuat Lovino membuka matanya lagi.

Erika berada di dekapan Basch dan mereka sama-sama pergi ke bagian luar gang. Semua orang panik dan yang Lovino dengar adalah teriakan ibu-ibu dan tangisan anak-anak yang lebih menyakitkan daripada bunyi reruntuhan yang terdengar. Sembari berlari, Lovino masih merasa tanah bergoyang di bawah tapaknya. Dia mulai terengah-engah namun Kakek terus membawanya berlari, beriringan dengan Basch dan Erika. Feliciano tak henti-hentinya memekik panik.

"Sudah, aman." Kakek terengah-engah. Dia melepaskan kedua cucunya dan dia memandangi sekeliling. Getaran masih terasa, namun tidak sehebat yang pertama terasa.

Lovino merosot terduduk sambil bersandar di kaki Kakek. Feliciano mulai diam dan mengelap keningnya.

Lovino melihat sebuah rumah ambruk. Lalu sebuah lagi bergoyang hebat dan tiangnya mulai patah. Satu lagi, yang kecil, terperosok ke dalam tanah. Dia terkesiap ketika rumah yang lain juga rubuh dan menimbulkan asap debu yang besar.

"Kak, aku takut ..."

"Setidaknya ada Kakak di sini."

Lovino menoleh. Basch juga terduduk di belakang Kakek. Erika dipeluknya. Lovino menarik napas lalu merangkul Feliciano yang sepertinya mulai menangis.

"Ssh, jangan menangis, Jelek. Kau tambah jelek kalau menangis. Kau masih punya kakak dan kakekmu, lalu kenapa kau menangis?"

Feliciano memeluknya lebih erat dan Lovino menarik napas panjang. Awalnya dia hanya berniat untuk tetap terlihat kuat di depan Feliciano, tetapi setelah dia mengingat buku-bukunya dan apa yang ia tinggalkan di rumah, dia menunduk dan meringis juga hingga pipinya basah.

"Sudah berakhir." Lovino mendengar suara lirih Kakek. "Apa semua orang lengkap? Tidak ada yang meninggalkan siapapun di rumahnya?" dia bertanya dengan nyaring pada yang lain, sekumpulan orang yang juga panik dan ribut.

Kaum ibu semakin ribut dan berhamburan meninggalkan kumpulan. Ini masih jam sekolah, dan para pria kebanyakan sudah pergi bekerja. Sontak, tanah lapang yang sempit itu pun kehilangan separuh orang.

"Kalian tidak terluka?" Kakek membungkuk ke arah dua cucunya. Lantas, pada Basch, "Kalian berdua, bagaimana?"

"Kami baik-baik saja." Basch, yang sudah berpakaian rapi untuk bekerja di hari terakhirnya, mengibaskan celananya dan membersihkan lengan Erika. "Sudah, Erika, kita aman."

Erika berdiri dan terhuyung-huyung, Feliciano membantunya berdiri tegak. Lovino memandang sekeliling—yang telah rata. Rumah-rumah menjadi onggokan kayu dan debu mulai membuat kabut. Masih terdengar satu-dua bangunan yang ambruk setelah guncangan itu reda, menyerah untuk berdiri setelah tiang-tiangnya hancur.

"Tunggu sebentar dulu," Kakek menenangkan, terutama cucu-cucunya dan Basch serta adiknya. "Aku takut ada gempa susulan."

Basch menepuk-nepuk kepala adiknya. Lovino melepaskan diri dari kerumunan. Melihat-lihat sekeliling, kehancuran di sepanjang jalan. Hanya bersisa satu-dua rumah yang cukup besar dan kokoh untuk bertahan.

"Kakaak, Kakak ke mana?" Feliciano langsung menyambar bahu Lovino.

"Lepaskan! Aku tidak akan pergi jauh," Lovino mengelak. Menghempaskan tangan Feliciano yang mengait lengannya. "Aku hanya melihat-lihat!"

Feliciano tetap membuntut meski Lovino berjalan lebih cepat. "Jadi ini yang namanya gempa, ya ..."

"Begitulah," Lovino berhenti pada satu titik, di hadapan sebuah rumah yang rusak separuh, ambruk sebagian dan sebagian terasnya menjadi setumpuk rongsokan. "Mengerikan ..."

"Tapi setidaknya kita masih bersama, 'kan, Kak?"

Suara bergetar Feliciano membuat Lovino tertegun. Dia menoleh dan mendapati adiknya sedang tersenyum. Mendadak dia ingin melupakan apapun dan hanya ingin memandangi bagaimana adiknya tersenyum. Kapan terakhir kali dia memerhatikan senyuman Feliciano? Itu salah satu hartanya. Rumah telah runtuh, segala yang ia miliki tertimbun debu dan rusak, tetapi Feliciano masih berdiri di belakangnya. Dia kehilangan ayah dan ibunya sebelum dia mengenal siapapun, hanya suara berisik Feliciano dan tawa Kakek yang membantunya memulai hidup. Dia bisa protes atas banyak hal, atas hidupnya yang terlalu sederhana dan keras, tapi dia punya satu alasan untuk berhenti.

Bahu Lovino melemas. Dia menepuk-nepuk punggung Feliciano. "Diamlah."

Feliciano merangkul Lovino. Ia tersentak saat Kakek memanggil dari kejauhan,

"Ayo kita melihat rumah!"


Rumah mereka tersisa separuh. Lantai dua sudah tak punya jejak, dan lantai satu penuh dengan barang-barang yang berjatuhan dari lantai dua. Lovino bisa melihat tiang kasurnya, mencuat di antara barang-barang yang sebelumnya ada di bawah tangga, sebuah tempat paling asing di rumah.

Lovino berjalan agak ke samping. Berdiri tercenung di situ dan mencoba mengenali benda-benda yang ada.

Sebuah daun jendela jatuh di dekat kakinya. Dia berjongkok dan memerhatikan.

Ini jendela yang diperbaiki Kakek dulu. Sebuah benda dengan engsel paling waras di rumah. Kakek tak pernah memperbaiki yang lain. Barangkali karena pinggangnya sakit setiap kali setelah bertukang, atau mungkin bisa pula karena dia tak punya sisihan uang untuk membeli perlengkapan baru. Dia menyentuh jendelanya. Jendela yang selalu melihatnya membaca, dengan engselnya yang tak lagi berisik.

Lovino benci menangis tetapi untuk turut merasakan kerja keras Kakek atas jendelanya, dia lupa rasa bencinya. Dia berlutut dan memukul jendela itu berkali-kali, meringis dan meraung hingga menarik perhatian Kakek.

"Sudahlah, Lovino, kita bisa membeli buku-buku yang lain." Kakek membantunya berdiri. "Nanti kita temukan yang baru lagi, ya?"

Lovino berdiri dengan susah-payah. Ia akan terlihat konyol di depan adik yang sering ia ejek cara menangisnya—dan terutama, Erika. Sial. Dia pun lekas-lekas menyeka mata dan pipinya.

"Basch, bagaimana?" Kakek masih merangkul Lovino. "Kau tetap akan pergi besok?"

Basch menggeleng. "Tidak dalam keadaan seperti ini, Paman." Basch menatap rumahnya yang juga tinggal sebagian. "Barang-barang kami juga tidak bisa diselamatkan. Lagipula, begitu buruk kelihatannya jika aku pergi ke tempat yang lebih baik, sementara Paman dan semua sedang kesusahan di sini."

Lovino mendengarkan saksama. Begitukah keharusan tanggung jawab orang dewasa? Yang harus tahu tempat dan suasana sebelum memutuskan sesuatu untuk dirinya sendiri? Dia pun memandang Erika, yang tampaknya tak menolak keinginan Basch. Hanya mengangguk lemah.

"Lalu, kita akan tinggal di mana, Kek?" Feliciano terdengar gemetar.

"Sebentar lagi pasti ada bantuan. Lapangan yang tadi cukup luas untuk kita semua, bukan?" Kakek bertanya pada dirinya sendiri, matanya berkeliling, ia menghitung dalam hati orang yang berada di sana untuk memperkirakan jumlah pengungsi.

"Kukira cukup," Basch mengamini. "Bahkan mungkin untuk satu desa ini. Kita lihat gempa ini seluas apa kehancurannya."

"Mungkin sangat luas. Di sini saja terasa kuat sekali." Kakek merangkul kedua cucunya.

"Apa Il Duce akan menolong kita?" Feliciano mengguncang Kakeknya sebentar.

Kakek mengembuskan napas. Terdiam sejenak. Lantas mengangguk, sedikit ragu. "... Ya. Dia akan membantu ..."


Setengah hari, bantuan datang. Dan dengan bantuan orang-orang di kampung tersebut, puluhan tenda sudah berdiri di lapangan yang tak jauh dari pantai pada senja hari. Satu tenda cukup untuk tujuh hingga sepuluh orang. Feliciano juga Lovino tentu dengan cepat sekali menggamit Erika agar satu tenda dengan mereka.

Para ibu memasak bersama-sama—sesuatu yang membuat telinga Feliciano berdiri. Dia menghilang begitu mendengar kabar itu, menyerbu dapur umum, dan Kakek membiarkannya saja.

"Erika."

"Ya, Lovino?"

Lovino menekuk kakinya. Mencium lututnya sendiri. Namun matanya tetap mengarah pada lawan bicaranya, yang sedang menatap balik dengan mata yang teduh, tak kehilangan cahayanya meski hal besar baru saja terjadi.

"Lovino takut?"

"... Sedikit," ia cemberut.

"Tidak apa-apa, itu tidak akan terjadi lagi."

Lovino mengerjap. "Kau tidak jadi ke Inggris. Kau sedih?"

Erika menggeleng. "Aku bisa pergi ke sana lain kali."

"... Berarti kau benar-benar akan pergi?"

Erika menatap ke pintu tenda, lalu kembali ke Lovino lagi. Menggantung. Lovino jengah, Erika sendiri bingung tanpa tahu cara mengatakannya.

Pintu tenda disingkap, "Ayo, makan dulu. Feliciano sudah menunggu kalian di luar sana."

Lovino dan Erika bangkit bersamaan. Mereka bertatapan lagi, namun kali ini mereka bertukar anggukan.

Lovino beranjak keluar setelah membiarkan Erika berjalan terlebih dahulu. Tanah sekitar basah, sempat terjadi hujan setelah gempa tadi pagi. Lovino membuntuti Erika dan sempat berteriak 'awas' ketika gadis itu nyaris menginjak kubangan yang dalam. Dia putuskan untuk berjalan bersisian dengan Erika yang masih mengepalkan tangannya hingga saat ini. Entah masih takut, entah ini karena Basch, yang sedang membantu warga lain, jauh darinya, atau apapun. Tapi jika alasan kedua yang benar, Lovino pun memaklumi. Dan semakin merapat pada Erika. Memutuskan menjaga anak itu sebelum dia pergi.

Dan sekeliling, Lovino tak ingin memerhatikannya lekat-lekat. Semua ini adalah kesedihan.

Bencana.


Lovino mencoba untuk tak mengeluh meski ini hari ketiga mereka berada di tenda tanpa perkembangan apapun. Tidak ada kabar soal rumah yang dibangun kembali.

Heh, memangnya siapa yang mau membuang uang begitu banyak cuma untuk rumah orang-orang yang tak dikenal, yang hancur karena bencana yang bukan ulah siapapun? Lovino mendengus. Kakek juga tak punya uang untuk membuat kembali sesuatu yang sama untuk mereka bertiga. Lupakan soal buku—dan bujukan Kakek tempo hari. Untuk satu ruangan baru pun ia tak yakin Kakek punya biaya.

Feliciano sempat menghiburnya dan bilang bahwa Il Duce, orang besar di Roma sana, pasti punya sesuatu untuk mereka. Feliciano mencoba bersabar menunggu.

Dia tidak bisa tidur malam ini. Feliciano sudah mendengkur. Basch, di bagian seberang, sudah tidur telentang dengan tenang dan satu selimut dengan adiknya yang tidur miring. Dia bolak-balik dengan gelisah, ikut memikirkan soal rumah. Pikiran itu begitu mengusik meski dia tak menginginkannya.

Selimut Kakek bergerak. Dan lelaki itu bangun. Lovino pura-pura tidur.

Dia mengintip lagi sesaat kemudian. Kakek berdiri di pintu tenda, menengok kiri dan kanan. Lovino lekas-lekas bangkit.

"Kakek," dia berbisik, "Ke mana?"

Kakek tersentak. Dia menoleh, tersenyum, namun senyumnya aneh. "Lovino, tidurlah lagi."

"Ke mana, Kek?"

"Ada urusan sedikit, Lovi. Tidurlah, ya." Dia menghampiri Lovino, dengan hati-hati dia melangkahi kaki-kaki yang lain. "Jangan khawatirkan Kakek. Kakek akan segera kembali."

"Tapi ke mana?" Lovino berbisik keras, satu kakinya menghentak tak sabar.

"Ke tenda lain, tenda teman-teman Kakek. Kakek ingin membicarakan sesuatu."

"Aku boleh ikut?" dia menarik ujung baju Kakek.

Kakek menggeleng. "Kau di sini saja. Jaga Feliciano dan Erika untuk Kakek, ya?"

Bibir Lovino bergetar ketika Kakek mengelus rambutnya. Perasaan ini begitu aneh. "Apa Kakek pergi untuk membicarakan soal rumah baru dengan yang lain?"

Kakek menarik napas, lalu mengangguk saja. "Kurang lebih seperti itu. Berbaringlah lagi, Cucuku. Jangan berpikir yang aneh-aneh." Kakek mendorong Lovino untuk kembali ke bantalnya.

Lovino menurut. Namun dia memandangi pintu tenda sekian lama sampai kantuk menjemputnya dan membantunya melupakan Kakek.


Lovino terbangun karena suara keributan dan tembakan. Sejenak, ketika dia baru benar-benar bisa membedakan kenyataan dan mimpi, teriakan Feliciano atas namanya membuatnya bangun tiba-tiba.

DOR! DORR!

"Kakaaak! Kakek mana?!"

"Feli! Lovi! Ke sini!" Basch berteriak dari luar.

Feliciano menyeret kakaknya. Lovino terlilit selimutnya sendiri sebelum akhirnya tergopoh-gopoh mengikuti adiknya. Suara tembakan lagi, mereka berdua berteriak. Basch langsung menarik tangan Feliciano dan membawa mereka berlari.

Di antara suara teriakan orang-orang berpakaian hitam dan membawa senjata yang begitu tegas dan keras itu, dia bisa mendengar, "Mana lagi yang menjadi kolaborator?! Satu kubu dengan Fabrizio Vargas?" dan tembakan lagi.

Mata Lovino membulat, "Kakek!"

"Sssh!" tegur Basch keras. Dia meletakkan telunjuk di bibirmu. "Jangan sebut nama kakekmu dulu sebelum mendengarkan penjelasanku. Kau juga, Feli!"

"Tapi kapan kau akan menjelaskan?" teriak Lovino, kerusuhan mulai terjadi di balik punggungnya, "Kakek! Ini soal Kakek! Ke mana Kakek?!"

"Diam dulu, bisa atau tidak?!" teriakan Basch membuat suaranya sendiri parau dan pecah.

Lovino menoleh lagi, tak peduli keributan lain yang dibuat adiknya. Di belakang sana ada orang-orang yang berteriak,

"Apa yang kalian lakukan di sini? Kalian mengacaukan kami yang sudah menderita ini!"

Tembakan nyaring ke udara. Lovino menyaksikan orang yang berteriak itu jatuh berlutut karena syok, wajahnya pucat.

"Jangan banyak bicara, kecuali jika kau mengatakan tentang Fabrizio Vargas!"

Tembakan ke atas lagi. Orang itu jatuh pingsan. Lovino tercekat napasnya.

Basch berhenti tepat setelah mereka sampai di tepian kompleks pengungsian. "Dengar, kalian berdua," dia harus menyela kata-katanya sendiri karena keributan dan teriakan semakin mengusik, "jangan mengaku kalian adalah Feliciano dan Lovino Vargas. Katakan saja nama belakang kalian adalah Zwingli untuk beberapa waktu. Kakek kalian telah menitipkan kalian padaku."

"Apa yang terjadi?" Feliciano berpegangan pada kakaknya, "Mana Kakek? Aku butuh Kakek sekarang!"

"Tidak sekarang, Feli, nanti dulu," Basch sendiri terengah-engah. "Kita—"

"Api! Api! Mereka membakarnya!"

Lovino menatap tenda-tenda dengan tak percaya. Beberapa orang berpakaian hitam mulai membakar tenda-tenda yang besar. "Jika tidak ada yang mengaku bekerjasama dengan Fabrizio Vargas, kami akan terus membakarnya!"

Anak-anak dan wanita mulai berlarian ke arah mereka berempat berdiri. Sesaat kemudian tempat itu berubah menjadi kekacauan dan penuh dengan orang yang berdesak-desakan untuk keluar dari lapangan.

"Lari!" perintah Basch. "Lovi, pegangi adikmu!"

"Kakak! Ka-Kakaaak!"

"Feli, pegang tanganku!" dengan susah payah Lovino mencoba menarik adiknya kembali, yang tertelan oleh kerumunan orang-orang yang panik.

"Kakaaaak!" Feliciano pun terjerembab.

Lovino melepaskan tangan Basch yang menariknya, dia melawan arus untuk mencari tangan Feliciano. Namun dia terbawa kembali, nyaris jatuh telentang andainya Basch tidak kembali menariknya. Dia masih bisa melihat tangan adiknya, lalu mengulurkan tangannya kembali, "Feliii!"

"Kakaak!" teriakan itu semakin samar. Orang-orang semakin menutupi pandangan Lovino.

"Feliciano!" teriaknya lantang hingga suaranya benar-benar serak dan habis.

"Lovino! Tarik aku!" dia bisa mendengar Basch dan tubuhnya yang nyaris jatuh pun ditarik kembali.

"Felicianoooo!" tetapi Lovino benar-benar tak bisa melihat adiknya lagi. Tarikan Basch pada tangannya benar-benar menyakitkan.

"Dia akan selamat, Lovi, sekarang yang terpenting adalah menyelamatkan kau dulu! Dia bisa saja menyusul," suara Basch timbul-tenggelam di tengah-tengah keriuhan. "Daripada aku kehilangan kalian berdua, aku akan merasa sangat berdosa pada kakek kalian!"

Lovino memekikkan nama adiknya, namun suaranya tertelan begitu saja.

"Felicianoooo!"

Basch tetap menariknya. Lovino terseret-seret dan kakinya mulai lecet, lututnya telah berdarah karena dia sempat terjatuh lalu ditarik paksa. Dia meraung namun suaranya benar-benar tenggelam.

Mereka tiba di pelabuhan. Dan orang-orang yang telah terlebih dahulu sampai membuat keributan dengan beberapa pemilik kapal, memaksa untuk menaiki kapal mereka. Si pemilik kapal yang kecil tak bisa berbuat apa-apa menghadapi amukan massa yang benar-benar kehilangan kendali, dan merelakan orang-orang berdesak-desakan menaiki kapalnya.

"Kita naik kapal itu!" Basch menarik tangan Erika dan Lovino bersamaan, dan berlari lebih cepat lagi. "Jangan takut!"

Erika menggenggam tangan Basch kuat-kuat. Sementara tatapan Lovino begitu kosong dan dia seperti patung yang menurut saja diseret-seret.

Basch menaikkan Erika terlebih dahulu. Seseorang di atas berbaik hati menarik tangan gadis itu untuk bergabung. Lalu ia membantu Lovino, dan orang yang sama menyambut anak itu. Lantas dia sendiri kemudian mendesak kerumunan untuk bisa memanjat ke kapal dengan tangga tali di samping tangga kayu yang masih sesak.

Beruntung, dia bisa kembali menemukan adik-adiknya itu. Dengan erat digenggamnya tangan mereka berdua dan matanya menyapu geladak, mencari tempat kosong untuk duduk. Kapal mulai terasa oleng, kelebihan muatan, namun orang-orang memaksa nakhoda untuk tetap melayarkan kapal tersebut.

"Mana Kakek?!" Lovino berteriak frustrasi, saat mereka sudah menemukan ruang kosong.

"Dia akan menyusul," Basch memijat keningnya. "Setidaknya kita aman sekarang."

"Aman?!" pekiknya hingga hilang suara, "Adikku! Mana adikku! Kau membiarkannya—"

"Lovino!" bantah Basch, "Sudah kubilang, dia pasti akan selamat! Aku tidak ingin kehilangan kalian berdua jika membiarkanmu bertindak sendiri tadi!"

"Siapa yang bisa menjamin dia selamat?!" Lovino berteriak lagi, kali ini airmata pun turun di pipinya, "Siapa?! Katakan padaku, Kak Basch!"

Basch menutup wajahnya dengan telapak tangan, lalu mencubit pangkal hidungnya keras. "Tidak ada, Lovino. Sama seperti kita di sini. Tidak ada satu orang pun juga yang bisa menjamin kita."

Lovino memandang Basch tajam dan kedua tangannya terkepal kuat. Bibirnya masih bergetar, airmatanya tetap turun.

"Kakak ... Lovino ... hentikanlah ..."

Lovino memandang Erika, dan menyadari gadis itu juga menangis, tangannya yang mencoba menggapai mereka berdua pun gemetar. "Aargh, aku benci ini semua!" Lovino mengamuk, namun setelahnya dia duduk di samping Erika sambil memeluk kedua lututnya. Dan tetap menangis.

"Kita semua merasakannya," ucap Basch pelan kepada keduanya.


Ketika senja mulai turun, Lovino tak bisa melihat daratan lagi. Dia berdiri di samping birai kapal. Tidak ada tanda-tanda kapal lain di belakang mereka, entah ke mana kapal lain yang juga membuat kerusuhan di pelabuhan tadi. Mungkin mereka mencari jalur berbeda.

Dan bisa saja ada adiknya di sana.

"Feli ..." Dia mencengkeram kayu kuat-kuat. Lalu memukulnya hingga kepalan tangannya gemetar karena rasa sakit. "Felicianooo!" teriaknya pada lautan. Parau, dia masih nekat melanjutkan, "Kakeeeek!"

Dia mereda karena bersuara membuat kerongkongannya sakit. Lantas dia merasakan tepukan di bahunya.

"Maaf ..."

Memandangi mata Basch yang sangat menyesal, Lovino tidak jadi berteriak. Lelaki itu tak pernah terlihat semenyesal ini. Dia selalu menjadi orang yang Lovino takuti, terlebih ketika dia ingin bermain-main lebih lama dengan Erika. Namun Basch terasa seperti orang yang benar-benar berbeda. Mereka berdua sama-sama terdiam.

"Mereka masih hidup, bukan?" tanya Lovino lemah, masih menatap lautan.

"Percayalah pada harapanmu sendiri." Basch kemudian berdiri di sampingnya. Tetapi dia menelan ludah. "Mereka pasti baik-baik saja di manapun mereka berada ..."

Kapal terasa oleng. Tetapi Lovino tak memedulikannya. Basch mengernyit waspada. "Erika," panggilnya, sambil mengulurkan tangan pada adiknya yang duduk tak jauh dari mereka.

Erika berjalan menghampirinya, namun kapal terasa semakin bergoyang. Basch membelalak lalu segera menggenggam tangan Lovino. "Erika!" dia mengulurkan tangan dan segera menuju adiknya yang sedang berusaha bangkit dari lantai yang miring.

Basch mencengkeram tangan kedua anak itu. Orang-orang di sekeliling mulai panik dan berlarian. Anak-anak menangis. Tidak ada ombak besar namun kapal semakin miring.

"Kakak ... apa yang terjadi?"

"Kapalnya akan tenggelam! Cepat! Cepat! Perempuan dan anak-anak duluan!"

"Sial," Basch bergumam sambil berlari, mencoba menyisir tepian, namun dia kalah. dia terjatuh juga saat mencoba berlari lebih kuat.

"Berpegangan denganku!" Lovino berhasil meraih birai. Dia menyusuri sambil menahan diri, tertatih dan berusaha keras agar tangannya dan tangan Basch tak terlepas.

Basch berusaha bangkit ketika melihat orang-orang di depannya mulai menurunkan sekoci. "Kalian berdua, cepat ke sana!" dia merangkak dan berhasil memegang kayu birai terbawah. Ditariknya paksa Erika agar berpegangan pada tempat yang sama, juga pada tangan Lovino. Kapal mulai terasa imbang saat orang-orang mulai berhamburan ke arah yang berlainan, berebut sekoci di kedua sisi. Mereka bertiga berhasil berdiri tegak, tetapi air terlihat semakin dekat, kapal sudah merendah ke perairan.

"Naik!" perintah Basch, mengangkat tubuh Erika dan memasukkannya paksa ke dalam sekoci yang baru akan diturunkan. "Kau juga, Lovi!" dia mencoba mengangkat lelaki itu, namun gagal.

Lovino berusaha sendiri, memegang tepian sekoci dan menaikkan kakinya di antara orang-orang yang berdesakan memuatkan diri di dalam perahu kecil. Dia berhasil, meski tergencet seorang ibu berbadan besar, dan dengan refleks dia memegang tangan Erika.

"Ayo, Kak!" dia mengulurkan tangan pada Basch.

"Nanti saja! Kalian duluan!"

"Sekarang!" Lovino berteriak.

Basch menolak, "Ibu-ibu dan anak duluan, aku bisa menyusul nanti!"

Sekoci semakin jauh diturunkan, Lovino tak sampai lagi mengulurkan tangannya. Erika memekik memanggil-manggil Basch.

Basch masih menggeleng. "Aku akan menyusul!" katanya, nyaring, dan sesaat kemudian kapal itu miring. Basch nyaris jatuh, Erika memekik, namun dia berhasil berdiri lagi setelah berpegangan. "Aku akan menyusul!" ulangnya lagi, lebih keras.

Sekoci itu berlayar semakin jauh. Benda serupa diturunkan terus, terus, hingga habis dan kapal itu pun semakin oleng, lalu tenggelam ke arah kiri. Masih ada banyak orang yang terlihat di kapal itu saat benda itu kehilangan keseimbangan.

"Kakak ..."

Erika gemetaran. Lovino memandang kosong wajah-wajah putus asa di sekelilingnya. Anak-anak lelah menangis, ibu-ibu menarik napas putus asa dan beberapa menyeka wajahnya.

"Kakak ..."

Lovino tergerak untuk menoleh. Lemah.

Erika duduk meringkuk dan bagian bawah terusannya basah.

Apa yang masih dia miliki sekarang?

Lovino membiarkan matanya basah juga. Lalu dia merangkul bahu Erika.

Apa yang masih dia miliki sekarang?

Erika mencengkeram bagian depan kemeja Lovino lalu Lovino memeluknya dengan kedua tangan.

tbc.


a/n: gempa di fanfiksi ini fiksi ya, guys, tapi faktanya memang ada gempa di italia di tahun 1930 (dua kali, di Irpinia dan Senigallia juga Marche), lalu di tahun 1936 (di Veneto). jadi anggaplah gempa ini adalah satu dari rangkaian gempa itu (apalagi di 1930 itu ada dua gempa, ya).

dan seperti yang kubilang di chapter kemaren, timeskipnya banyak dan cuma nyeritain momen-momen penting dalam hidup mereka. kuusahakan seluruh kejadian terjadi mendekati kejadian di dunia nyata, dengan urutan waktunya, kecuali di beberapa poin yang(kuusahakan) akan kuberitahukan selalu.

trims buat yang udah ngereview: lastriie d'quelless, FairusZ, dan nakashima eru
yang udah ngefave: 11th Autumn, FairusZ, Iharascarl, nakashima eru
yang udah ngefollow: FairusZ, Iharascarl, nakashima eru