luigi torelli
Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya. penulis tidak mengambil keuntungan material apapun atas pembuatan karya; ditulis hanya untuk kesenangan.
Pairing/Character: Romano/Liechtenstein; Switzerland, Italy, Ancient Rome. Genre: Adventure/Family. Rating: T. Other notes: WWII!AU, Naval Army, Regia Marina.
(Erika dan Lovino, tiga belas tahun, mencoba menata kembali hidup yang kacau. Dimulai dari tenda pengungsian yang sesak.)
Lovino terbangun tiba-tiba. Dan menemukan selimut tipis menutupi tubuhnya hingga leher. Dia langsung duduk, napasnya tak karuan. Bibirnya menggumam, ada kata-kata yang aneh dan sesekali menyebut Feli, Kakek, hingga napasnya teratur.
Dia sendirian di sisi kanan tenda. Sebelah kiri penuh dengan ibu dan anak-anak yang saling bergulung dan berkemul di bawah kain lusuh yang tipis.
"Erika ... Erika!" dia tanpa sadar menyebut nama itu dan bergegas keluar. "Feliciano ... Feliciano! Basch!" dia juga berteriak ketika sampai di depan tenda dan menyingkap pintunya.
Api unggun menyala-nyala kecil di depan barisan kemah tersebut. Lovino terdiam mendapati Erika yang duduk meringkuk di hadapan api, dengan dagu bertopang pada lututnya. Dia tidak terlalu ingat apa saja yang terjadi, dia menggelengkan kepalanya karena mimpi-mimpi barusan menghalanginya untuk berpikir jernih.
"Erika," dia duduk di samping gadis mungil itu. "Kenapa ... kau di sini?"
Erika tak memerhatikan api yang memercik dan hampir mengenai kakinya yang tak memakai alas sama sekali. Matanya tetap memandang ke kegelapan, mencari sesuatu yang tidak tampak. Lovino mengaduh ketika jarinya nyaris menyentuh ujung kayu bakar yang berbusa, getahnya menggelegak tanpa henti.
"Erika ..."
"Aku menunggu Kakak ... dia berjanji akan menyusul ... bukankah begitu, Lovino? Kau juga mendengar janjinya, bukan?"
Lovino tersentak. Basch. Basch tidak ada di sini. Lalu dia mengingat laut. Oh, laut ... dan sekoci. Lalu teriakan putus asa dan panik serta Feliciano yang terjerembab. Feliciano ... dan Kakek. Kakek yang tak kembali setelah berpamitan di tengah malam.
"Lovi ... kau menangis."
Lovino kembali tersadar saat Erika menyekakan pipinya.
"Tenanglah, adikmu pasti akan menyusul."
Mereka berdua menatap api yang menari.
Tidak ada seorang pun yang datang hingga Erika terkantuk-kantuk dan jatuh ke bahu Lovino. Seseorang menghampiri mereka, lentera di tangannya, mengetuk pundak Lovino dari samping.
"Nak, untuk apa kalian berdua duduk di sini? Masuklah, ayo."
Lovino mengerling pada Erika. Dia mengembuskan napas panjang.
"Akan kuangkat gadis itu ke dalam. Tenda kalian yang mana?" penjaga tersebut lalu meletakkan lampu di balik punggung Lovino, lalu pelan-pelan mengangkat Erika. Ditunjuk Lovino yang mana tenda mereka, dan dengan hati-hati dia membawanya masuk.
"Pak ...," Lovino menghentikan lelaki itu di pintu tenda. "Kita ... di mana?"
"Masih di daerah Castiglioncello, Nak. Kau tidak jauh-jauh dari kampungmu sendiri."
Lovino menyergah, "Kau tahu di mana kakekku? Fabrizio ... Fabrizio Vargas! Atau adik kembarku, Feliciano?"
Lelaki itu terdiam, lama, membiarkan Lovino menunggu dengan tangan terkepal hanya untuk mendapatkan jawaban, "Tidak, Nak. Aku tidak tahu kakekmu. Tidurlah dulu, kita bisa mencari beliau besok."
Lovino masuk dengan enggan.
Erika tidak terbangun. Lovino menaikkan selimutnya, dan tidur berhadapan dengan gadis itu. Dia teringat wajah Basch saat mendorong mereka untuk menyelamatkan diri duluan. Serta cara matanya memandang mereka, cara dia berbicara meyakinkan bahwa dia akan datang.
Dan Erika yang benar-benar percaya.
Dia menggemeretakkan giginya. Airmata yang hangat mengalir turun di pipinya.
Tenda itu nyaris kosong. Hanya Lovino yang masih bertahan dengan kantuk yang masih menggantung di matanya. Dia mengerjap cepat, menggaruk-garuk kepalanya dengan keras agar dia segera terbangun sepenuhnya.
Saat dia menyingkap pintu, keramaian sudah tampak. Beberapa anak membawa piring makanan dan beberapa lainnya, yang ada di gendongan ibunya, memakan roti-roti kecil. Dia memandang sekeliling, mendapati dapur umum tak jauh dari tendanya. Setelah memicingkan mata dan mengabaikan orang-orang tertentu, dia menemukan Erika di tengah-tengah para ibu yang sedang mengolah adonan roti.
Erika kemudian diminta membawakan beberapa piring makanan ke tenda-tenda tertentu.
Dihampirinya saat gadis itu berjalan kembali ke dapur umum.
"Eh, Lovino ... selamat pagi," dia tersenyum, seolah tak ada apa-apa. Kemudian seseorang yang menyuruhnya tadi kembali memberikan piring padanya.
"Selamat ... pagi ..."
"Antarkan ini ke tenda sebelah sana, ya. Di dalam sana adalah orang tua yang sudah tak bisa berjalan lagi karena kelelahan. Kasihan dia. Dan ada seorang anak yang demam juga di tenda itu. Isi piring ini lebih banyak karena dia berbagi dengan ibunya."
Erika mengangguk. Lovino memandang bingung, tetapi kemudian mengambil salah satu piring dari tangan Erika.
"Kubantu."
"Hmm," Erika kemudian menoleh. Sebentar saja, kemudian kembali lagi pada Lovino. "Aku membantu mereka memasak. Kakak suka masakanku ... jadi barangkali Kakak, saat datang nanti, akan menyukai makanannya seperti biasanya saat di rumah."
Lovino menjahit mulutnya dengan keheningan. Matanya menatap nanar isi piring yang lebih banyak ini.
Dua piring telah diantarkan. Erika berhenti sebentar, menatap area kosong yang menjadi jalur keluar-masuk para pengungsi. Penuh harapan, penuh keinginan, disertai senyuman. Lovino menggeram kesal dan mengepalkan tangannya. Dia berlari meninggalkan Erika, menuju tenda paling ujung. Menyingkap pintunya dengan kasar,
"Feli! Kakek!" dia berhenti dan terengah-engah di depan pintu tenda yang kosong itu. "Kak Basch!" dia memekik tak karuan. Lalu berlari lagi, mengulangi hal yang sama untuk tenda-tenda berikutnya. Terkadang dia menemukan tenda yang berisi, dan hanya mendapatkan tatapan bingung dari pengungsi yang sakit atau terlalu tua dengan napas mereka yang kacau karena terkejut.
"Feliciano!" dia berlari tak karuan arah, menuju tenda-tenda terakhir. Menyingkap pintunya dengan tergesa dan berteriak lagi, "Mana adikku?!" napas yang tak teratur. "Kakek! Kakekku mana?! Kakak temanku di mana?!"
Tidak ada. Dia mengambil langkah seribu lagi. Dengan lantang dan garang dia mengacaukan pengungsian, "Kakeeeek! Feli! Kak Basch!"
Dia berlutut di depan tenda terakhir. Tidak ada satu pun yang memberinya petunjuk, lebih-lebih keberadaan ketiga orang tersebut. Dia menggeram keras dan meninju tanah, dan teriakannya berubah menjadi isakan. Dia tersedak, meraung, hingga dia sadar dia terlihat seperti anak yang memalukan yang bakal ditertawakan kakeknya. Andai saja kakeknya ada di sini.
"Lovino!"
Mendengarnya, Lovino lekas bangkit dan menyeka matanya keras-keras. Erika menghampiri dengan dua piring penuh yang baru di tangan.
"Ayo, makan dulu ... di sana," tunjuk Erika, ke bagian tengah tempat tadi malam mereka menghabiskan waktu hingga tertidur.
Lovino digiring Erika pelan-pelan. Sudah ada satu piring di sana, dan Lovino mengerutkan kening saat duduk dan menyadari benda tersebut.
"Untuk siapa ini?"
Erika tersenyum kecil sambil meletakkan satu buah piring di depan kaki Lovino yang bersila. "Kakak. Siapa tahu dia akan datang. Harus kusisihkan sebelum persediaan habis."
Napas Lovino memburu lagi. Matanya yang masih merah menatap sangar, "Kakakmu tidak akan kembali! Begitu pula adik kembarku dan Kakek!" betul-betul nyaring hingga Erika bergeming dan tercengang mendengarnya.
Lovino berdiri, "Mereka tidak akan pulang!" tambahnya, keras dan gemetar, "Mereka meninggalkan kita!" dan dia pun berlari kencang, tak mau menoleh, menembus orang-orang yang sedang membangun semangat lagi dengan sedikit sarapan. Dia tak peduli bapak tua yang nyaris ditabraknya. Terus saja dia mengayunkan langkah menjauhi area perkemahan darurat.
Adalah pantai, tujuannya. Dia masih sesugukan. Memegangi lututnya, berpijak di atas pasir yang basah dan ombak pun sesekali menjilati tapaknya.
"Kakek! Feliciano! Kak Basch!" suara burung berkoak dari kejauhan menyahutinya, lalu debur ombak. "Kakeeeek!"
Lalu dia terduduk.
Menatap pantai hingga siang menjelang. Dia lupa apa itu rasa lapar. Dia tidak bisa makan apapun.
Ketika dia tiba kembali ke perkemahan, dia berpapasan dengan Erika di dekat bekas perapian. Mereka saling melihat satu sama lain. Erika mengedipkan mata lebih cepat. Lovino memandangnya, bertanya-tanya apakah gadis itu sudah mengerti sesuatu.
Sepertinya tidak. Sangkaannya begitu mudah dan singkat. Lantas dia berlalu, meninggalkan Erika yang masih bertanya-tanya. Dia berlari keluar area perkemahan lagi, setelah memandangi tenda dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya.
Dia kembali di akhir jam makan malam, secara kebetulan. Angin pantai sudah membuatnya merasa menciut dan perutnya bergejolak kelaparan. Beberapa ibu muda langsung menariknya ke dapur umum dan memberikannya isi piring yang lebih banyak. Ia tak membawa piringnya ke mana-mana, dia makan di depan tungku.
Dan Erika tidak diketemukan di manapun, kecuali—
—di dalam tenda. Meringkuk di bawah selimut.
Lovino duduk di sampingnya, memeluk lututnya dan memejamkan mata. Erika bodoh karena berharap, sebutnya berkali-kali dalam hati, hanya untuk membenarkan sikapnya sendiri. Tetapi kemudian dia luruh dalam rasa pedihnya sendiri. Dia lantas merasa terlalu bodoh karena mengutuk Erika yang masih percaya. Bagaimana jika Kakek dan Feli masih hidup di satu tempat di luar sana?
Dia gemetaran.
Tapi bagaimana jika mereka benar-benar menghilang?
"Lovino ..."
Lovino menelan ludah lalu membuka matanya perlahan.
"Kakak ..."
"Terserahmulah," Lovino mendesah malas. Berdebat tidak akan membawa Basch ataupun Feliciano kembali.
"... Kakak mungkin memang tidak akan kembali ..." gadis itu bangun, beringsut. Memeluk kakinya sendiri. Dingin sekali bahkan di tenda yang berdesakan. Erika menatap nanar pada orang-orang di dalam tenda, sudah banyak yang tidur nyenyak. Dia kemudian menunjuk salah satu pengungsi, yang sendirian di hadapan mereka dan menutupi kepalanya dengan kain yang buruk. "Ibu itu ... anak laki-lakinya, lebih besar daripada Kakak, juga tidak kembali ..."
"... Begitu ..."
"Banyak yang merasa kehilangan ..."
"Termasuk kita," Lovino merebahkan kepalanya keras-keras ke bantal. Lovino, jangan langsung tidur setelah makan, nanti kau jadi—Lovino menghentikan pikirannya sampai di situ. Ingatan tentang Kakek akan lebih membuatnya sakit dibandingkan dengan tidur setelah makan banyak.
Dia mendengar bunyi halus Erika meletakkan kepalanya di atas bantal yang sangat lunak dan tipis. Lovino membiarkannya beberapa waktu hingga kemudian dia mendengar suara tangisan. Sesugukan yang berusaha disembunyikan di balik tangan. Ia bangun dan menengok.
Perempuan ini pasti tak pernah tidur tanpa kakaknya. Lalu dia bergeser, lebih dekat, namun tak melakukan apapun hingga dia tenggelam di dalam kantuknya sendiri.
Pagi itu Erika bermata sembab. Sangat merah, hingga Lovino nyaris tak mengenalinya lagi ketika bangun tidur. Lovino menatapnya perih.
"Kau begitu bersedih, ya ...," Lovino bersandar pada dinding kain kemah yang begitu lusuh. "Apa kaubisa tidur tadi malam?"
Erika tetap terlihat tenang saat melipat selimutnya. Dia diam sekian lama. Lovino harus memandangnya hingga akhirnya gadis itu menjawab.
"Aku tidur terpisah dari Kakak sejak tiga tahun lalu."
Lovino merasa payah. Salah, salah, terkaannya salah.
"Kakak menyuruhku untuk berani. Dia ingin agar aku menjadi perempuan yang kuat. Aku merasa biasa saja hingga akhirnya ... aku sadar ... Kakak mendidikku untuk saat-saat seperti ini," dia menyapu pipinya, "aku merasa sakit karena hal itu benar. Aku harus menghadapinya lebih cepat dari yagn kukira ..."
Lovino menatapnya dari samping. Rambut panjang Erika, telah kusut dan kacau. Jalinannya yang biasanya rapi dan terjuntai hingga separuh tubuhnya, kini tak berbentuk seperti mahkota yang baik lagi. Lovino mengulurkan tangan untuk merapikannya, sekadar menyampirkannya ke punggung Erika agar jalinan rambut itu tidak mengganggunya.
"Apa yang lebih kautakutkan daripada kehilangan kakakmu?"
Erika menoleh, menatapnya. Lama hingga Lovino merasa ingin menangis entah untuk alasan apa. Atau mengamuk. Dan menggeram keras.
"Sendirian."
Lovino berkedip. "Tapi sekarang, kau tidak sendirian, bukankah begitu?"
Ada senyuman terbit. Simpul, lengkung kurus yang tidak begitu tampak.
Selepas makan pagi, Lovino berjalan ke arah yang berlawanan dari tenda.
"Ke mana?"
Lovino sadar gadis itu akan membuntutinya. Dia tak perlu memastikan apapun; karena dia tahu saat ini sekarang dia harus menemani dan ditemani Erika ke manapun dia pergi.
"Suatu tempat ..."
Erika mengangguk lalu berlari menyusul.
Di sepanjang perjalanan tidak ada satupun di antara mereka yang berbicara. Lovino begitu tegang, sementara Erika hanya menunduk sedari awal.
Rumah-rumah yang hancur belum ada yang diperbaiki. Pantai semakin jauh dari punggung mereka, namun desa tidak memberikan satu pun suguhan yang menarik selain kerusakan, jalanan yang kotor, atau rumah yang tinggal kerangka. Lovino merasa tenggelam di dalam kota mati. Apakah Il Duce yang sering Feliciano katakan itu benar-benar akan datang menolong? Dia secara tak sadar mengepalkan tangannya.
Erika mengenal jalan ini. Dan dia mendekat pada Lovino, namun tak bersuara sedikit pun. Dia berhenti di sebuah mulut jalan sempit, mematung di samping pot bunga besar yang pecah dan batang kecil yang mengering. Lovino terus berjalan.
Dan pemuda itu berdiri di depan sebuah reruntuhan yang telah mulai dirapikan. Lovino menatap sebuah potongan daun jendela yang ditumpuk paling atas di onggokan reruntuhan dan tiang-tiang kayu yang patah.
Lovino menendang potongan kayu terdekat. Dia menarik napas dalam-dalam untuk kemudian memekik keras-keras, memanggil kakeknya hingga jatuh berlutut dengan keras. Tetapi dia tidak menangis kali ini. Dia hanya menghabiskan suaranya hingga serak dan kehabisan napas. Dia berdiri lagi dan meninggalkan gaung-gaung tak jelas di antara sederet rumah yang remuk.
Dia terbawa pada permainan bola yang dilakukan di gang yang becek. Kakek yang tertawa di ambang pintu. Erika yang merawat bunga. Feliciano yang tak begitu becus menendang bola. Dan Basch yang baru pulang bekerja.
Dia berlutut lagi dan mengambil sekepal tanah. Melemparkannya ke sembarang tempat. Dia ingin mengingkari airmata yang lagi-lagi mengalir di pipinya, tetapi dia dipojokkan oleh kenangan-kenangan itu lagi, sehingga dia tak sempat memikirkan apapun tentang airmata.
Ia hanya ingin Kakek dan Feliciano kembali. Seburuk apapun kehidupan yang akan menanti. Dia hanya tidak ingin ditinggalkan sendirian!
"Lovino."
Napasnya tercekat di tenggorokan.
Dia dihampiri dengan pelan. Erika tak datang dengan tangan kosong.
Bunga itu memang layu. Erika pun tak memberikannya pada Lovino. Dia merontokkan satu per satu kelopaknya yang telah lemah. "Ini bunga yang kubeli sendiri ... dua tahun yang lalu. Menggunakan uang tabunganku. Kusisihkan dari uang jajan yang diberikan Kakak."
Lovino memandang kelopak yang berjatuhan.
"Kita harus pergi dari sini."
Erika mengangkat kepalanya. Matanya membulat. "A-apa?"
Lovino duduk di atas tumpukan batu. "Aku akan bekerja. Kita harus hidup, Erika. Kita harus melakukan sesuatu. Dan kita harus meninggalkan tempat ini segera. Ada banyak kenangan buruk di sini ... dan kita harus mencari sesuatu yang baru. Kau masih ingin melanjutkan hidupmu, bukan?"
Erika mengangguk lemah. Sekarang dia memegangi bunga yang tak berkelopak, yang melengkung layu dan mulai membusuk.
"Kau juga harus pergi ke London. Kita butuh uang untuk tiket kapal dan membeli barang-barang yang harus kaubawa."
Erika menggeleng cepat dan menyergah dengan suara lebih keras, "Aku tidak akan pergi sendirian. Aku ... aku telah melupakan hal itu. Aku tidak mungkin pergi ... kalau kau sendirian di sini ..."
Lovino tertegun. Berkedip cepat dia di hadapan Erika.
"Dan Lovino ... kau masih ingin melanjutkan sekolahmu, bukankah begitu?"
Lovino mengambil kepingan batu yang kecil, entah bekas bagian dinding sebelah mana ini. Dilempar-lemparkannya ke udara lalu ditangkapnya lagi dengan sigap.
"Apa kau masih ingin menjadi seorang pelaut?"
Merenung. Lovino menelan ludah. "Sesuatu yang mengacaukan kehidupan kita adalah perselisihan. Kerusuhan. Yang mungkin akan berujung pada perang suatu saat nanti," suaranya bergetar karena trauma, Erika tak menyaksikan tangannya yang terkepal. "Aku ... harus jadi seseorang yang mengusahakan sesuatu untuk perdamaian. Aku ... akan masuk angkatan laut."
Sebagai jawaban, Erika tersenyum.
"Ayo kita kembali ke perkemahan," Lovino beranjak, sedikit enggan. "Untuk yang terakhir kalinya. Kita harus memikirkan pergi ke mana dulu."
Erika menurut. Dan dia mengekori Lovino dengan langkah cukup cepat.
Ada yang aneh di perkemahan. Semua orang berkumpul di tengah-tengah dan Lovino menjadi begitu ragu untuk masuk. Dia menahan Erika di balik punggungnya sambil berbisik, "Nanti dulu."
Erika menggenggam pakaian Lovino di bagian punggung. Lovino menatap tanpa berkedip. Ada orang yang membawa senjata di tengah-tengah sana, sedang berbicara dengan suara yang tidak terlalu lantang. Napas Lovino mulai terengah-engah.
"Sedang apa kalian di sini? Ayo, cepat ke sana. Kalian pengungsi juga, 'kan?"
Lovino mundur beberapa langkah. Lelaki yang menegur mereka memang tak terlihat garang, tidak terlalu tua, namun Lovino tetap, mau tidak mau, teringat pada apa yang terjadi pada suatu malam beberapa hari setelah gempa tempo hari. Apalagi, pakaian lelaki itu hitam-hitam, sama seperti yang berbicara di tengah sana.
"Jangan takut. Hanya diminta mendengarkan sesuatu. Ayo, ikutlah ke barisan," ia mendorong Lovino cukup keras, anak itu terbawa.
Lovino menggenggam tangan Erika kuat-kuat. Tidak, tidak akan ada satu pun hal yang terulang, dia berbisik pada dirinya sendiri. Dia bawa Erika ke barisan paling ujung, berdiri di paling belakang. Dia tak bisa menyimak dengan baik sejak wal, dan ia sama sekali tak mengerti apa yang mereka bicarakan, hingga sesaat kemudian terdengar perintah, "Pilih! Sekarang!"
Dari ujung lain, orang-orang berpakaian seragam memilih beberapa pria. Jumlah laki-laki sangat sedikit di sini, hingga mereka bisa sampai dengan cepat ke ujung tempat Lovino dan Erika berada.
"Anak ini juga." Salah satu dari mereka menarik Lovino.
"Aku mau dibawa ke mana?!" Lovino bersikeras tidak mau melepaskan tangan Erika.
"Jangan berisik, Nak," nada kalimat itu tenang, "ikut saja ke barisan sana," tunjuknya pada sederetan pria—yang kebanyakan sudah tua—di tengah-tengah.
"Aku tidak—"
"Heh, yakin anak ini dimasukkan? Tubuhnya kurus dan kecil, tidak akan terlalu membantu. Biar dia membantu di dapur umum saja bersama temannya ini."
Lovino memandangi waspada orang-orang yang sedang menatapnya lekat-lekat. Dia merapatkan diri pada Erika dan sekarang memegang kedua tangan gadis itu kuat-kuat.
"Ya sudah. Tidak jadi. Jadi, kita hanya mendapatkan belasan orang?" orang-orang itu meninggalkan Lovino dan tak peduli lagi. Mereka bertiga saling menggumam sambil meninggalkan barisan dan menuju ke tengah-tengah lapangan lagi.
Erika menenangkan Lovino yang gemetaran dengan menyentuh bahunya, "Tidak apa-apa ..."
Lovino mengatur napasnya. Seorang ibu di sampingnya sedikit merunduk ke arahnya.
"Il Duce akan membangunkan kembali rumah-rumah kita di desa seperti sediakala. Tapi dia butuh beberapa pria untuk bergotong-royong bersama tentaranya."
Jika bisa, Lovino ingin mendudukkan diri sekarang juga. Kakinya sudah telanjur gemetaran dan sekarang melemah.
Il Duce menepati janjinya—kata beberapa orang. Rumah-rumah mulai dibangun dengan bahan yang sederhana namun layak, dan dengan banyaknya tentara yang membantu, perlahan-lahan bangunan yang rusak kembali berdiri dalam beberapa hari.
Selesai sepenuhnya dalam waktu setengah bulan untuk gang tempat tinggal mereka. Dan menyusul tempat-tempat lain di hari-hari berikutnya. Desa itu hidup kembali, dengan nyawanya yang baru.
Namun tak pernah sama lagi.
Setelah menghabiskan dua minggu yang monoton di penampungan—dengan segala hal membosankan yang berulang dan itu-itu saja, Lovino memutuskan untuk segera ke rumahnya setelah ada kabar.
Erika tidak meninggalkan Lovino ketika anak itu mengamati rumah lamanya yang baru dari teras. Anak itu tak berkata apa-apa, namun matanya kosong, terlebih ketika menyentuh pintu yang berkilat. Tidak pernah ada yang sama lagi di rumah ini meski bangunannya begitu mirip dengan yang lama. Lovino merasa tidak ingin memasukinya, tidak ingin melihatnya lama-lama—tetapi kehidupan tentu tidak pernah mau memberikannya kesempatan untuk berhenti bergerak, maupun ruang untuknya melarikan diri.
Dia menyadari Erika masih berada di belakangnya dari bayang-bayang yang tercetak di daun pintu.
"Kau tidak ke rumahmu, Erika?"
Erika menunduk.
Lovino menatapnya penuh rasa simpati dan mengerti. Mereka tidak pernah bisa berdiri dengan cara yang sama lagi setelah ini. Dia berbalik dan menyentuh kepala Erika. "Aku mengerti perasaanmu. Bagaimana jika ...," dia pun menggigit bibirnya, sejenak merasa sedikit gila dengan ide ini. Tetapi, seperti yang pernah dia katakan sendiri, mereka harus tetap hidup, dengan cara yang harus mereka pecahkan sendiri. "... Kita tinggal di rumah ini saja? Aku juga tidak yakin bisa tinggal di rumah dua tingkat ini sendirian. Rumah ini jadi terlalu besar untukku."
Mereka sama-sama mengerti bahwa luka-luka masih menganga di dalam diri mereka. Erika mengangguk tanpa pemikiran lebih panjang.
"Ada dua kamar di atas. Kaubisa memilih yang kaumau."
Anggukan lagi. Lovino kemudian menghadap pintu lagi, membuka knopnya perlahan.
Rumah ini berbau kayu dan batu yang baru. Tercium begitu asing dan membuat Lovino pusing. Tidak ada apapun di ruang tengah, kecuali sebuah lemari lama yang diperbaiki oleh para pembangun, serta sebuah meja kecil yang ditemani dua kursi. Semuanya berasal dari perabot lama yang diperbaiki ala kadarnya.
Ia menyusuri tangga sempit yang anak tangganya pendek-pendek itu. Derap kaki Erika terdengar lebih bernyawa daripada caranya melangkah.
Debu menyambut Lovino saat kepalanya menyembul dari lubang tangga tersebut. Kedua pintu kamar terbuka, tidak memperlihatkan apa-apa selain lantai yang belum disapu. Rumah ini begitu kosong, namun Lovino tak punya ide apapun untuk mengisinya. Menghidupkannya kembali. Mendapatkan rumahnya lagi tidak pernah ada di pikirannya, dan benar saja, ketika menginjak tempat yang sama lagi dia tidak bisa merasakan sedikit pun hal yang memuaskan, membahagiakannya sepenuhnya.
"Aku dengar, katanya akan ada beberapa bantuan dari pemerintah," Erika bersuara pelan lalu ke sudut ruangan. Ada sebuah sapu yang ditinggalkan oleh tukang bangunan.
"Seperti kasur, misalnya?"
"Mungkin. Paling tidak malam ini sudah diberikan, begitu kata seorang perempuan dari gang dari seberang jalan."
"Oh ...," Lovino lalu mematung di hadapan kamar yang menghadap ke tangga. Susunan kamar rumah ini sangat berubah, dia hanpir-hampir tak bisa mengenalinya lagi, tetapi sudahlah. Itu bukan masalah besar. Lebih baik begini, dia tidak ingin mengingat lebih banyak lagi kenangan manis yang terasa pahit itu.
Pemuda itu kemudian kembali mendekati tangga. "Tidak apa-apa kutinggal sendirian?"
"Kaumau pergi ke mana?"
"Aku harus mencari pekerjaan," Lovino menyandarkan bahu kirinya ke tembok. Lalu menoleh lagi pada Erika. "Kita harus tetap hidup, bukan?"
Erika mengeratkan genggaman pada sapunya. "Kau benar ... baiklah. Pergilah. Hati-hati ... semoga berhasil."
Lovino tersenyum tipis. Lalu turun setelah mengangguk.
Erika turut tersenyum.
Yang barusan adalah kali pertama Lovino tersenyum setelah sekian lama.
Seluruh langit telah gelap. Lovino berlari membelah jalanan dengan langkah seribu yang nyaris membuatnya terpeleset berkali-kali. Di tangannya ada sebuah bungkusan dari kertas yang berisi roti, dan sesekali dia memeluknya bangga.
Anak itu tertawa hampir di sepanjang separuh jalan pulang. Tak pernah dia sebahagia ini. Dia membelok di gangnya dengan sekali tawa yang lebih keras. Dipanggilnya nama Erika tanpa peduli bahwa itu akan mengganggu anak-anak yang mulai mengantuk. Diterobosnya pintu tanpa mengetuk, sambil kemudian memanggil lagi.
Lovino nyaris menubruk meja makan, kakinya tersandung, namun langsung melupakannya dengan menarik salah satu kursi. Dia kaget ketika menemukan beberapa makanan di atas meja. Erika keluar saat kekagetannya belum pudar.
"Makanan ...? Piring-piring ini dari mana?"
Erika tersenyum sambil meletakkan satu lagi hidangan. "Ada karung di ujung dapur. Setelah kubuka, ternyata isinya beberapa piring dari logam dan peralatan masak yang masih bisa dipakai. Mungkin saat orang-orang membereskan rumah, mereka menemukannya."
"Dan bahannya ..."
"Suatu keberuntungan," Erika duduk di hadapan Lovino. Senyumnya pudar namun tampak. Terbit seperti sabit yang malu-malu. "Seseorang memberikan sedikit uang. Mungkin dia bekerja di pemerintahan."
Sup ikan dan ikan dengan potongan kecil-kecil yang dipanggang. Lovino lupa kapan terakhir kali dia bersemangat untuk makan.
Alis Erika terangkat, "Itu ... roti?"
Lovino tersentak, baru ingat, "Oh, iya ...," tapi dia merasa tak bersemangat lagi untuk itu karena masakan-masakan Erika terasa lebih mewah daripada apapun. "Ada berita baik. Roti itu diberikan oleh seseorang sebagai upah pertamaku."
"Aku akan memakannya," Erika menjangkau benda itu, Lovino membantu mengambilkan. Tanpa diduga, gadis itu langsung membuka kertas pembungkusnya dan mencubitnya, memakannya pelan-pelan sebelum dia menyantap ikannya.
Lovino mengerjap. Kemudian dia tersenyum lagi.
"Berita baiknya?"
Lovino kemudian terkekeh, "Aku ikut bekerja di sebuah tempat perbaikan radio di pasar!"
"Benarkah? Selamat, aku tahu kau pasti bisa."
Dengan lahapnya Lovino memulai makan, "Beliau baru saja membuka tokonya lagi. Pembantunya sebelumnya tidak tahu ke mana ... jadi beliau bisa mempekerjakanku asalkan aku bisa menguasai hal-hal yang dimintanya dalam ... paling tidak dua minggu."
Mata Erika berbinar cerah. Lovino tahu inilah saatnya bangkit, ketika Erika sudah menemukan cara untuk tersenyum kembali.
"Seharian aku mencari pekerjaan yang tepat tapi tidak ada satu pun yang bersedia menerimaku. Dan saat aku sudah akan pulang tadi siang ... tiba-tiba seseorang memanggilku ke dalam bengkelnya. Aku belajar sampai malam dengannya, dan berhasil membantunya memasang beberapa komponen dengan tepat ... dan radionya bisa menyala!"
Senyuman Erika makin berarti. Tawa Lovino makin meninggi. Tawa bangga yang menambal lukanya, sedikit demi sedikit.
Beberapa malam, Lovino bisa tidur dengan tenang. Namun dia tak pernah membiarkan Erika tidur lebih lambat dari dia—dia berjaga hingga gadis itu memasuki kamar dan dipastikannya tidur. Seringkali dia ditemani beberapa alat-alat dan komponen radio, serta rakitan-rakitan setengah jadi.
Dan suatu malam, dia rasa sudah pukul dua belas—hanya dengan mengira-ngira, mereka masih belum memiliki jam—Lovino berhenti bekerja. Erika pasti sudah tidur nyenyak. Lovino tersenyum kecil memandang hasil pekerjaannya, lalu meninggalkannya untuk pergi ke loteng. Sebentar ia sempatkan menengok ke kamar Erika.
Matanya membuka lebar begitu menyadari apa yang ia lihat.
Erika belum tidur. Tidak, tidak, dia tidak tidur sama sekali. Ia meringkuk dan memeluk dirinya sendiri. Ia menangis dengan selimut menutupi mulutnya.
"Erika ..."
Gadis itu tersentak, lalu lekas-lekas menyeka matanya dan tergagap. "Lo-Lovino ..."
Lovino duduk di tepian tempat tidur. Mereka begitu dekat, Lovino bisa merasakan wajah Erika yang panas karena menangis.
"Kakak ..."
"Aku tahu," Lovino mengangguk lemah. "Menangis memang tidak akan membawanya kembali. Tetapi jika itu membuatmu bisa bertahan lebih lama lagi ... lakukanlah."
Airmata Erika luluh lagi. Dia tersedu-sedu, nyaris tanpa suara. "Kakak tidak pernah meninggalkanku setelah Ayah dan Ibu meninggalkan kami. Kakak memang membiarkanku sendiri ... tetapi dia terlalu menyayangiku ... dia tidak pernah lupa menanyakan keadaanku dan memerhatikanku ..."
Lovino mengulurkan tangan dan memeluk Erika. Dia tidak menganggap ini sebagai hal apapun kecuali sebagai cara untuknya memberi simpati dan ketenangan. Dia tidak melibatkan perasaan apapun kecuali rasa ingin memberi harapan hidup. Erika tidak boleh begini. Erika harus tetap bertahan. Erika boleh tetap menyayangi dan merindukan kakaknya, namun Erika tidak boleh runtuh karena itu. Ia ingin memegang Erika sampai kapanpun.
"Aku memang tidak bisa seperti, apalagi menjadi kakakmu. Aku terlalu lemah untuk itu ... tetapi kumohon ... bertahanlah hidup bersamaku ... temanmu ini ..."
Erika mengangguk di dalam rengkuhan Lovino. "Terima kasih ..."
Lovino baru melepaskan Erika setelah dia memastikan gadis itu tak sesugukan lagi.
Baru dia membantu merebahkan Erika, dan menyelimutinya.
Memberikan doa agar mimpi-mimpi indah merekah dalam tidurnya.
Kehidupan baru berjalan dengan caranya tersendiri, hari demi hari, dengan selangkah demi selangkah adaptasi.
Lovino punya jam kerja yang tak terlalu teratur. Kadang dia berangkat pukul sepuluh, kadang pukul sembilan, tergantung banyak atau tidak hal yang harus disambungnya di bengkel kerja. Kadang dia pulang pukul lima sore, kadang pukul tujuh baru tiba di rumah, tergantung seberapa banyak hal yang harus diselesaikannya.
Masih dalam tahap belajar, pemilik bengkel radio masih mengupahnya dengan roti setiap hari, dan sedikit keuntungan, yang tak tentu jumlahnya, setiap seminggu dua kali. Lovino tak keberatan—karena yang ia pikirkan hanya makan dan membangun hidupnya kembali. Bersama Erika. Waktu penerimaan siswa baru masih lama, baru dimulai tahun depan, dia masih memiliki waktu untuk mengumpulkan uang.
Hari ini, Lovino pulang pukul lima. Dengan potongan roti yang besar di tangan dan sebuah tas kecil penuh komponen, yang harus selesai besok pagi.
Hanya untuk mendapati rumah yang kosong.
"Erika?!"
"Erika!"
"Erika ..."
Dia mencoba tenang. Mencoba berpikiran positif. Mungkin Erika hanya membantu tetangga di dapur mereka, membuat beberapa macam kue, dan dia akan pulang dengan sedikit makanan tambahan untuk malam hari mereka. Hal itu kerap terjadi, walau dia hanya tahu lewat cerita-cerita Erika, karena gadis itu tak pernah datang lebih lambat darinya.
Dia duduk menunggu di meja makan sambil membongkar peralatan dan perlengkapan kerjanya. Dia mencoba mengalihkan pikiran dengan memecahkan hal yang belum bisa dia perbaiki saat di bengkel tadi.
Pukul enam, pintu dibuka dari luar.
"Halo. Selamat ... petang."
Lovino langsung berlari menyambut. "Ke mana saja?"
Erika tersenyum kecil, langsung memeluk Lovino sesaat—membuat Lovino tercengang bingung—hingga kemudian melepaskan dan bicara lagi, "Tadi seseorang dari gang seberang memanggilku."
"Untuk?"
"Dia butuh seseorang untuk membantu di kliniknya."
"Si-siapa dia?"
"Seorang perawat ...," Erika meletakkan tangannya di dada, "dan aku bisa belajar sedikit demi sedikit."
Mata Lovino membulat cepat dan bibirnya dengan cepat pula terbuka meluncurkan teriakan, "Whoooaaa!" dan melonjak gembira seorang diri, lantas kemudian menepuk-nepuk pundak Erika. "Keren sekali!"
Erika tersenyum lebih lebar lagi.
Selalu ada cara. Karena kehidupan bukan sebuah kotak tertutup. Kehidupan hanya sebuah labirin.
tbc.
