luigi torelli

Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya. penulis tidak mengambil keuntungan material apapun atas pembuatan karya; ditulis hanya untuk kesenangan.
Pairing/Character: Romano/Liechtenstein; Ancient Rome . Genre: Adventure/Family/Romance. Rating: T. Other notes: WWII!AU, Naval Army, Regia Marina.

(1939, perang dunia dimulai, Erika memutuskan jalannya sendiri. Musim panas 1940, Lovino berpamitan pada Erika untuk pergi bertugas ke laut lepas.)


Lovino langsung melemparkan dirinya ke kasur dan menyerang bantal dengan wajahnya. Kaki dan bahunya mungkin akan rontok jika dia diminta berlari atau berenang barang satu putaran saja lagi. Sendi-sendinya barangkali sedang merajuk sekarang.

"Hei, gaya berenangmu tadi hebat juga. Belajar dari mana?"

Lovino menoleh enggan, bunyi tubuh yang dijatuhkan di atas kasur hingga berderit di sampingnya terdengar sedikit mengusiknya.

"Itu hanya gaya bebas. Aku tidak pernah tahu apa saja gaya berenang yang bagus. Yang penting aku mengapung dan bergerak."

"Tidak bangga dengan urutan nomor dua?"

"Itu hanya kebetulan." Lovino lalu bergulung. Dia mengangkat alisnya, barang-barang si kawan masih belum dibuka dan berserakan di lantai, satu tas kecilnya rebah dan ranselnya tersisip di bawah kasur. "Jadi kau, ya, yang tadi pagi dipindahkan dari divisi angkatan udara itu?"

"Ha, ya—benar." Dia maju. Mengulurkan tangan, senyumnya hangat dan ramah, "Pablo Pavarotti. Ayahku tiba-tiba berubah pikiran dan langsung meminta agar aku masuk angkatan laut saja."

"Lovino Vargas," sambut Lovino, enggan dan parau. "Heh. Sepertinya orangtuamu punya posisi, kaubisa pindah-pindah dengan gampang."

Pablo mengangkat bahu sambil duduk kembali di tepian ranjangnya, sambil melepas kaos kaki dan melemparkannya ke atas tasnya. "Cuma bagian dari Regia Marina. Aku tidak akan bilang pangkatnya."

"Aku juga tidak butuh itu," senyum Lovino miring, disambut tawa oleh Pablo.

Tiba-tiba Pablo mengerjapkan mata sambil menatap Lovino lekat-lekat. Lovino menyambut tatapannya curiga.

"Tunggu. Kau ... Vargas?"

"Ya, kenapa?"

"Rasanya pernah dengar ..." Mata Pablo berkeliling lalu singgah di lemari kecil tempat barang-barang Lovino, seolah mendapatkan jawabannya di sana. Dia tidak langsung bicara.

"Memangnya di mana?"

"Oh—tidak. Lupakan saja. Jadi ... kau berasal dari mana?"

Lovino menjawab sekadarnya, tetapi saat Pablo tak melihat, dia melempar pandangan sedikit curiga. Ia merasa tak tahu atas hal yang seharusnya ia tahu. Tetapi diam saja, dan mulai memejamkan matanya. Tidur mulai akan menjadi langka mulai dari sekarang, dan membuang waktu untuk mengobrol tak penting sudah jauh dari prioritas.


Lovino masih di antara sadar dan tidak ketika mendengar bunyi bak-buk-bak di kamarnya, juga dari arah luar. Dia masih mendengar suara Erika yang samar-sama datang di dalam mimpinya. Dia mengerjapkan matanya dengan cepat dan mendapati Pablo tengah mengikat tali sepatunya. Pablo mendongak saat Lovino bangun dengan terhuyung-huyung.

"Lupakan mandi! Cepat, kita diminta berkumpul!"

"Ini ... pukul berapa?" Lovino masih mengerjap-ngerjap lemah.

"Satu jam lebih cepat daripada waktu yang biasa. Cepat!" Pablo membuka lemari di antara tempat tidur mereka dan melemparkan seragam Lovino. Bagian celana menampar wajah Lovino hingga dia mengaduh parau.

Lovino memakai semuanya dengan perlahan dan sesekali nyaris terduduk, dan ia biarkan Pablo pergi.

Ternyata pemuda itu tak benar-benar meninggalkan Lovino meski ia telah membanting pintu. Dia kembali setelah beberapa langkah maju kemudian menggedor pintu, "Jangan lengah! Ayo!"

Lovino menggelengkan kepalanya lalu membereskan semuanya dengan gerak cepat—yang sedikit ceroboh. Sempat tertukar sepatu kanan dan kiri juga memasang sabuk dengan terbalik. Pemuda itu kemudian langsung berlari mengekori Pablo.

Tidak ada yang aneh dengan ritual upacara rutin itu. Dilengkapi dengan inspeksi barak, yang tak terlalu mengejutkan dan hanya menemukan beberapa tamtama yang menyembunyikan pisau kecil di dasar tas atau di bawah kasur.

Kecuali, suatu hal.

Sesaat setelah dibubarkan, wakil komandan meneriakkan satu nama,

"Lovino Vargas, ikut ke kantor administrasi!"

Lovino, yang pikirannya sempat melayang ke dunia lain, tersentak. Pablo meliriknya, dan dia memandang dengan mata hampir membeliak.

Dan barisan pun dibubarkan. Pablo meninggalkannya begitu saja.

Dalam langkahnya menuju ruangan yang diperintahkan, dia berusaha mengingat isi tasnya. Dia tidak membawa pisau, ia ingat persis. Bahkan di rumah dia dan Erika, mereka hanya punya satu pisau dan tidak mungkin Erika membiarkan Lovino menyusupkan benda itu ke sela-sela bawaannya. Atau mungkin ada yang menjahilinya?

Mengisengi di level yang mengerikan, bisa jadi. Dia melangkah lebih cepat untuk mencari tahu.

Ada lebih banyak petugas daripada biasanya. Dia masuk dengan memberikan hormat, dan mereka membalas seperti biasanya pula. Tidak ada yang membuat Lovino lebih terkejut lagi, sejauh ini.

Seseorang memintanya untuk masuk ke ruangan yang lebih jauh. Melewati selasar yang tidak didekorasi dengan apapun, kecuali foto besar Il Duce. Atasannya, yang Lovino tebak adalah seorang sersan satu, membukakan pintu di ujung lorong.

Ruangan yang lebih mirip sebuah tempat kurungan itu gelap. Hanya Ada satu meja dan kursi. Penerangan tidak memadai, tetapi ada banyak orang di sana, mengelilingi meja yang kosong. Jantung Lovino mulai berdetak tak karuan. Ia menelan ludahnya saat melangkah masuk.

Sialsialsial. Apa salahku?

"Lovino Vargas."

Mata Lovino langsung berkilat saat melirik kepada pemilik suara. Dari insignia di pakaiannya, dia tebak orang ini adalah sersan mayor.

Lovino memberi hormat. "Siap, Sersan Mayor!"

"Duduk."

Mata Lovino memberontak dari rasa takutnya. Dia pandangi satu per satu bintara yang mengelilinginya. Semuanya sersan. Hanya dua orang yang dalam posisi istirahat di pojok kanan ruangan—berseberangan dengan pintu—yang merupakan tamtama. Namun, mereka pun kopral kepala. Masih jauh di atas dirinya. Mereka bertiga bertemu mata sesaat, Lovino lekas-lekas mengalihkan perhatian. Dia mulai merasa panas dan napasnya tak begitu teratur. Telapak tangan yang dia letakkan di atas kaki mulai mendingin, dia menggosokkannya ke celana dengan cepat. Semoga mereka tak melihat.

Mereka semua bersenjata lengkap. Bahkan salah seorang di antaranya, Lovino lihat memegang suatu benda seperti pemecut. Lovino semakin sering menahan napasnya.

Keheningan yang menciutkan itu pun mulai luntur.

"Kau putra dari Leonardo dan Patricia Vargas?"

Lovino berusaha untuk tidak gagap, "Benar."

"Kapan terakhir kali kau bertemu dengan mereka? Apa saja yang mereka ajarkan kepadamu?"

"Mereka sudah meninggal dunia sejak usia saya dan adik kembar saya baru dua tahun. Mereka tidak meninggalkan apapun. Saya bahkan tidak tahu apa saja yang pernah mereka katakan pada saya."

Sang penanya berpandangan dengan rekan di kirinya. Rekannya mengangguk.

"Yang mengasuhmu?"

"Kakek saya."

"Fabrizio Vargas?"

Lovino mengangguk. Mau tak mau. Terancam. "Benar."

"Apa pekerjaan dia?"

"Kakek bekerja di tempat pelelangan ikan ..."

"Apa dia sering keluar di tengah malam?"

Mata Lovino menghindari sersan, tetapi akhirnya kembali memandang lagi setelah dia yakin. Ia harus berani, ia tidak boleh terlihat terpojok di sini. Nalurinya mulai bangkit. "Aku tidak tahu."

Meja dipukul, beruntung tak terlalu keras. "Apa saja yang dia ajarkan padamu?"

Lovino berhenti berkedip. "Satu-satunya yang beliau ajarkan adalah membaca dan memasak—untuk adikku."

"Apa saja yang kaubaca?!"

Lovino mulai gugup, ini semua dirasanya mulai terlalu jauh dan mencurigakan. "Buku-buku yang dibeli di pasar. Buku-buku tentang makanan untuk adik saya, dan buku tentang kapal laut untukku ..."

"Ada kemungkinan dia tidak pernah membuat buku sendiri," seorang sersan dua yang tadi bersandar di dinding maju dan mendekat pada si sersan mayor. "Dia pernah memberikan buku yang dia buat sendiri?!"

"Tidak."

Seorang maju lagi. Dia sejak tadi berdiri di dekat para kopral. "Tadi kaubilang kaupunya adik kembar. Di mana dia sekarang?"

Perut Lovino bergejolak, dadanya mulai terasa makin penuh sesak. "Dia menghilang ... di sebuah kerusuhan di tempat penampungan sementara setelah gempa tahun 1934."

"Siapa namanya?"

"Feliciano Vargas ..."

Hening lagi. Dahi mereka semua berkerut seolah kata-kata barusan adalah hal yang membuat mereka harus merumuskan sesuatu yang berat. Seseorang membuat keputusan setelahnya,

"Tetap di sini hingga kami kembali."

Semua petugas pergi kecuali dua orang kopral di sudut, yang mengawasi Lovino dari sudut matanya. Keringat dingin mulai luruh dari keningnya. Lovino menunggu dengan gelisah, dia ingin menggoyangkan kakinya untuk menghilangkan stres, tetapi dia tertekan oleh rasa segan. Semenjak masuk akademi, dia mulai menyadari betapa dunianya yang sebelumnya, meski kekurangan di sana-sini, masih memberi ruang kebebasan yang besar bagi jiwanya.

Seandainya terjadi sesuatu setelah ini, dia akan menyesali keputusannya.

Lima menit kemudian, mereka datang satu per satu.

Sersan mayor berdiri tepat di depan mejanya.

"Kau kami bebaskan. Sepertinya kau tidak tahu apa-apa. Tetapi jangan kira kami tidak mengawasimu. Sekali saja kau melakukan hal mencurigakan, kami akan menindakmu. Ada beberapa mata-mata yang tak mungkin kau ketahui di antara kalangan prajurit seangkatanmu. Jangan berani bertindak seperti kakekmu."

"Siap, Sersan Mayor!"

Lovino dibiarkan keluar tanpa dikawal.

Ia mengepalkan tangannya di sepanjang perjalanan kembali menuju baraknya. Tiba-tiba saja dia merasa masa kecilnya begitu penuh kebohongan dan dia terlalu polos. Kakek bukan orang yang suka menyimpan rahasia, begitu yang ia ketahui selama belasan tahun memahami hidup. Bahkan Kakek tidak pernah menyembunyikan fakta berapa jumlah uang yang dia punya baik di dompet maupun di dalam lemarinya.

Memangnya siapa Kakek sebenarnya?

Seperti anak kecil saja. Tidak tahu apa-apa.

Lovino menggeram.


Pablo sedang membereskan tempat tidur saat Lovino masuk kamar. Lovino langsung duduk dan mengembuskan napas panjang, yang berisik dan penuh rasa kesal.

"Bagaimana?" Pablo pun duduk pula. "Apa saja yang mereka tanyakan tentang keluargamu? Dan bagaimana cara kau menjawabnya?"

Lovino tertegun. Dia pandangi Pablo yang tampaknya hanya penasaran; tidak bermaksud lebih. Lelaki itu segera bangkit. Pablo tiba-tiba sadar dan tersentak lalu menutup mulutnya dengan kepalan tangan.

"Apa kaubilang tadi? Kenapa kautahu mereka menanyakan tentang keluargaku?" ia mengepalkan tangannya dan berdiri di antara tempat tidur mereka. "Kau adalah mata-mata yang mereka maksud, ya? Mengakulah!"

"A-apa? Mata-mata?" Pablo terperangah. "Bu-bukan! Aku bukan mata-mata. Aku tahu karena—"

Terlambat, Lovino telah mencengkeram kerah seragam Pablo. "Mata-mata!"

Pablo mengelak dan menepis tangan Lovino, "Bagaimana bisa aku menjadi seorang mata-mata sementara aku juga baru dipindah ke sini? Aku tahu tentang keluarga Vargas dari ayah dan pamanku, jadi tolong jangan curiga dulu—"

"Apa tadi kaubilang? Apa? Ayah dan pamanmu?!"

"Sabar dulu," Pablo meninggikan suaranya. Dia mulai terlihat tak suka dan tegas. "Mau mendengar ceritaku atau tidak? Sebelum itu kau harus berhenti dulu menuduhku mata-mata para sersan!"

"Cepat katakan."

Pablo tak mau melihat mata Lovino. "Ayah dan pamanku anggota Kemeja Hitam. Mereka sering mengadakan pertemuan di rumahku. Merekalah salah satu bagian dari Il Duce untuk menangani orang-orang yang berlawanan ideologi dengan negara. Mereka juga sering membicarakan keluarga Vargas. Kalau tidak salah dengar ... siapa, ya, namanya. Fabrizio dan Leonardo ..."

"Kakekku ... Kakek! Dan Ayah! Ayahku!" dia maju lagi dan melakukan hal sama pada pakaian Pablo. "Apa yang ayah dan pamanmu lakukan pada keluargaku?! Keluarga Vargas? Jawab!"

"Aku tidak tahu! Lovino, lepaskan aku!" dia menampar lengan Lovino kali ini, dan dia ikut berdiri. "Aku tidak tahu apa saja yang mereka lakukan! Entah represif, hanya sekadar mengasingkan, mana aku tahu! Mereka semua merahasiakan misi bahkan di depan anak-anak dan istri mereka sendiri!"

Lovino menatap tak percaya. Mundur lalu terduduk hingga tempat tidurnya berderak. Pemuda itu menunduk dan mengacak rambutnya, lalu menopangkan kepalanya.

"Dunia ini tidak secerah yang kaupikirkan, tahu. Apalagi di zaman seperti ini. Kita belum lama merdeka. Kita tidak seperti Amerika Serikat, atau Inggris yang sudah bisa berpijak kuat di bumi sejak berabad-abad lalu. Negara kita sedang mencari jati dirinya, dengan cara dipimpin oleh orang-orang yang ... entahlah. Kita tidak pernah tahu isi kepala mereka. Tetapi semua itu bisa tercermin lewat tindakan mereka. Jadi dengan adanya semua ini, kaubisa menyimpulkan, bukan, kita hidup di zaman apa?"

Lovino menggerutu, meracau. Pablo menggeleng lalu melangkah keluar.

"Bagaimanapun, aku bukan lawanmu. Aku tahu kau berasal dari keluarga yang dikejar-kejar keluargaku. Tapi bukan berarti aku perlu membencimu karena alasan pertalian darah dengan ayah dan pamanku." Pablo membuka pintu. Sebelum decit ditutupnya daun pintu itu lagi, dia bersuara pelan, "aku bukan mata-mata. Aku kawanmu."

Lovino mendesis, matanya memandang pada kekosongan.

Setidaknya Pablo tahu bahwa aku akan dipanggil oleh mereka dan ditanyai soal keluarga. Dia pasti tahu lebih banyak.


Anak yang baru saja dimintai obat penurun demam oleh ibunya pun pulang setelah dipeluk Erika. Lelaki mungil itu akan menangis ketika Nyonya Ella memanggil Erika untuk membujuknya bahwa dia tidak akan disuntik.

"Sepertinya kau memang punya aura yang hanya bisa dilihat oleh anak-anak." Nyonya Ella menulis sesuatu di dalam jurnalnya yang telah penuh dan dipenuhi oleh potongan-potongan kertas. "Dan anak-anak menyukainya. Kau harus bersyukur."

"Lovino juga pernah bilang begitu," ucap gadis itu lembut sambil tersenyum, membereskan tempat tidur pasien. "Katanya, barangkali karena aku tidak pernah bisa memarahi seseorang."

"Itu bagus." Nyonya Ella pun menutup bukunya. "Hei, Erika, mau kutawari sesuatu yang menarik?"

"Apa itu?" Erika pun mendekat lalu duduk di kursi pasien, di hadapan sang pemilik klinik.

"Mm. Kau sebelumnya ingin jadi perawat sungguhan, bukan? Bagaimana kalau kau bergabung saja dengan Palang Merah? Lovino juga sudah masuk dinas ketentaraan. Dan kalau tidak salah ingat," wanita dengan rambut pirang bergelung itu pun bersandar, kerut wajahnya makin tampak ketika dia tersenyum, "kalian berjanji untuk sama-sama berjuang di jalan masing-masing setelah ini, benar begitu?"

Erika mengulum bibir bawahnya. "Ya ... bagaimana cara masuknya?"

"Aku akan membantu."

"Tetapi ... mungkin nanti saja ... aku sangat berterimakasih, sebenarnya, tapi aku menunggu Lovino mendapatkan posisi dinas dahulu baru aku akan meninggalkan desa ini."

Nyonya Ella tertawa kecil. "Kau memang wanita setia."

Erika berpura-pura menjadikannya biasa.


.

{ 1939 ]

"Berita itu benar." Sebuah koran dijatuhkan di hadapan Lovino, di samping piring makan siangnya. Pablo duduk di hadapannya sambil menggeleng dan menggosok kepalanya yang yang baru saja dicukur nyaris plontos. "Jerman sekarang sudah menginjak Polandia."

Lovino menelan pasta yang tadi tertinggal di ujung bibirnya. Matanya memindai cepat berita yang memenuhi separuh halaman depan suarat kabar harian tersebut. Belum sempat dia mencerna seluruh isinya, Pablo sudah melanjutkan dengan begitu pesimisnya,

"Kita pasti akan ditugaskan untuk sebuah misi besar yang berbahaya. Kautahu bagaimana perang, 'kan? Aku mendengar banyak cerita tentang Perang Dunia I dari ayahku. Dia menggambarkan banyak hal yang ia lakukan dengan patriotik, tapi aku menganggapnya tak lebih dari mimpi buruk."

Makan siang mendadak mendidih di dalam perut Lovino. Namun ia berusaha tetap terlihat tenang di hadapan Pablo. "Kakek jarang menceritakannya padaku."

"Mengerikan, percayalah. Gas klorin, peperangan parit, blok sentral ... bah. Jangan minta aku menceritakan ulang padamu bagaimana detilnya, apalagi saat Pertempuran Somme yang ayahku turut berpartisipasi langsung bersama beberapa sepupunya dari Prancis. Semua sepupunya mati dan cuma Ayah yang bertahan hanya dengan kaki berlubang karena peluru."

"Kau baru saja menceritakannya ulang," cetus Lovino dengan kening berkerut. "Tapi kita belum jadi apa-apa. Kita buah yang belum matang. Untuk apa khawatir?"

Pablo menepuk lengan kursinya, pemilik restoran tersentak lalu memandang. "Kau bodoh, ya? Ah, iya, maaf, aku lupa, kakekmu tidak bercerita banyak. Harusnya aku sadar kau bukan berasal dari keluarga yang dekat dengan ketentaraan," ucapnya sedikit sinis. "Ada hal yang biasa disebut 'pengiriman untuk misi dalam perang'. Perang membutuhkan jutaan prajurit dan itu artinya yang baru masuk—dan mendapatkan cukup pelatihan—akan dikirim atas nama negara."

Lovino meletakkan koran tersebut. "Cepat atau lambat hal seperti ini pasti akan terjadi ..."

"Kenapa?" Pablo duduk tegak. "Apa yang kaukatakan tadi?"

"Tidak." Lovino pun bersandar, telah lupa pada pasta. "Bukan apa-apa ..."

"Kau meramalkan sesuatu, ya?"

"Kau mendengarnya lalu bertanya lagi!" hardik Lovino dengan hidung berkerut. "Dasar kau."

"Aku hanya memastikan, hah, kau menjijikkan sekali." Pablo tak bernafsu lagi untuk memesan makanan. Hari bebasnya rusak sudah. "Apa yang membuatmu mengatakan itu?"

Lovino mengangkat bahu, "Entahlah," ucapnya lalu menenggak air putih yang banyak. "Aku hanya mengatakan apa yang ada di kepalaku. Aku melihat apa yang dilakukan pemerintah pada kita, dan apa saja yang mereka bentuk ... hal itu rentan memicu terjadi perang."

"Kau cukup cerdas juga membaca suasana."

"Pekerjaanku bukan cuma memperbaiki radio, bedebah. Aku juga mendengarkannya!"

"Untung kita sedang bebas. Jika tidak, sudah kuperkarakan mulutmu itu ke bagian kedisiplinan," Pablo berucap sambil menunjuk mulut Lovino. Tetapi dia tertawa singkat setelahnya. "Sepertinya waktu kita beraksi sebentar lagi tiba. Ke laut mana kita akan berangkat, ya? Jujur saja, waktu kecil aku takut pada laut karena aku tidak bisa berenang dan pernah tenggelam di sungai di desa nenekku di Prancis. Mana tahu nasibku akan jadi seperti apa."

"Semoga kau tidak mempermalukan Italia dengan tenggelam di pinggir pantai," selorohnya sambil tersenyum miring. Dia mendorong piring pastanya ke tengah meja. "Aku tidak nafsu makan lagi. Kita pulang?"

"Pasti gara-gara berita perang. Dasar rapuh. Nanti saja, ah. Kita ke kantor pos dulu. Aku ingin mengirim surat untuk nenekku."

Lovino yang telah berdiri mengangkat alisnya. Benar juga. "Aku ikut."

Di perjalanan, dia sudah merancang kata-kata yang akan dia tulis di atas kertas yang akan dia layangkan ke rumahnya di desa.


Erika melipat kembali kertas tersebut. Nyonya Ella menyadari senyuman getirnya, sesuatu yang langka.

"Apa itu dari Lovino?"

"Iya." Erika lalu berdiri sambil menyisipkan kembali suratnya ke dalam amplop lalu dia selipkan ke dalam tasnya. "Tukang posnya pagi-pagi sekali mengetuk pintu. Aku terkejut."

"Apa katanya? Sepertinya isi suratnya panjang. Apa kabarnya baik-baik saja?"

"Dia baik-baik saja. Sehat. Dia bercerita banyak tentang hari-harinya ... padahal dia baru saja mengirimiku surat minggu lalu."

"Berarti ada sesuatu yang penting sehingga dia menulis surat lagi. Atau dia hanya terlalu kangen padamu, Sayang?" Nyonya Ella mengulum senyumannya. Dia jadi tertawa setelah Erika menutupi senyuman malu-malunya.

"Sebenarnya ada hal penting ...," Erika berucap tanpa memandangi atasannya. "Tentang hal yang baru-baru ini terjadi. Dan karena itulah, dia sepertinya akan ditempatkan segera, kata teman-temannya."

"Penyerangan Jerman atas Polandia, ya?" Nyonya Ella menghela napas. "Aku juga mendengarnya. Dan aku yakin Eropa sepertinya juga akan tenggelam di peristiwa yang kurang lebih sama. Jerman adalah kekuatan besar Eropa. Perluasan kekuatan mereka bisa mengganggu stabilitas—terlebih jika saingan lain seperti Rusia dan Inggris turut turun tangan." Dia tampak cukup gelisah, tangannya digosokkan satu sama lain berkali-kali.

"Dan jika yang Anda dan Lovino pikirkan terjadi ..." Erika lalu menatap langit-langit sebentar. "Aku sepertinya harus bergerak juga."

"Apa yang membuatmu berpikir begitu, Nak? Bukankah lebih aman jika kau tetap berada di rumah dan menjaga dirimu?" Dari senyumannya, Nyonya Ella begitu kentara sedang mengetes Erika.

"Aku tidak ingin Lovino berjuang sendirian ..." Ia menatap pangkuannya sendiri. "Dan aku juga tidak ingin diam saja. Aku adalah perempuan lemah sejak dulu—dan aku selalu dilindungi. Mendiang kakakku, kakek Lovino, mereka semua terus melindungiku dan aku tidak dapat melakukan apa-apa ketika mereka akan pergi dari hadapanku. Aku tidak ingin menjadi orang yang tidak bisa mengusahakan apapun."

Nyonya Ella menjangkau kepala anak itu, mengelusnya, menyeberangi meja. "Aku suka jawabanmu, Nak."

"Hidup kita adalah wewenang kita sendiri. Aku percaya tangan Tuhan selalu ada, tetapi kita bebas memilih apapun yang ingin kita lakukan. Hal baik dan buruk adalah hasil perbuatan tangan kita. Ada hal yang bisa kita ubah dan tidak, aku ingin mengubah hal yang aku tidak tahu ..."


Di rumah, Erika membaca lagi surat Lovino. Sepenggal demi sepenggal. Mengamati bagaimana cara Lovino tertawa lewat kata-katanya. Berkata bahwa dia rindu masakan Erika karena masakan di asrama seringkali terlalu monoton dan kurang asin. Mengamati huruf-huruf seakan Lovino-lah yang berbicara tepat di depan matanya, dengan satu kaki bertumpu di atas kaki lain dan salah satu tangan menggenggam gelas dengan teh setengah panas yang selalu dikutuknya. Wajah Erika tersenyum, alam bawah sadarnya tersenyum—begitu menenangkan dan mengantarkan moodnya ke puncak terbaik.

Dia belum memikirkan balasannya. Dia lebih memikirkan apa yang harus dia lakukan setelah ini. Banyak hal yang tidak terduga akan terjadi.

Dan satu-satunya ide yang terpikirkan adalah saran Nyonya Ella yang berhubungan dengan palang merah.

Segera diambilnya kertas setelah ia yakin. Erika menuliskan sedikit basa-basi lantas langsung mengatakan kehendaknya. Bagian dari hatinya berharap perang besar yang mereka takutkan tidak akan terjadi, tetapi setidaknya mereka punya cara untuk mengantisipasi.

... Sebagai penutup, Lovi,

aku merindukanmu.


Balasan Erika tiba dua minggu kemudian di barak Lovino.

Lelaki itu memeluk kertasnya hingga tertidur.


Dan kertas itu jatuh saat Pablo mengguncang tubuhnya dengan bentakan yang menggelegar. "Bangun, bodoh! Kau telat! Cepat, yang lain sudah berkumpul di lapangan. Tidak ada waktu untuk mandi!" Pablo mengeroyok Lovino dengan seragam dan atributnya. Melempari pemuda itu sampai dia terjatuh ke bantal lagi akibat hantaman ikat pinggang yang mengenai pelipis.

"Tambahan. Ada desas-desus inspeksi barak dadakan pagi ini!"

Yang pertama kali Lovino pikirkan adalah kertas barusan. Dia tak sempat balas menghardik Pablo dan segera meraba-raba lantai dengan matanya yang masih tak sadar lingkungan. Ditemukannya, diremasnya untuk memastikan, dan membawanya dekat-dekat ke mata untuk memastikan tulisan Erika.

Dia masukkan kertas itu ke dalam saku seragam bahkan sebelum ia mengenakannya.


Terberkahilah wajah Lovino yang bertingkah begitu serius saat komandan mengatakan beberapa poin tentang aturan baru asrama—sehingga dia tidak dicurigai meski sedang memikirkan balasan apa yang paling tepat untuk surat yang masih terlipat kusut di dalam sakunya—selamat dari pengacak-acakan ruangan yang sedang berlangsung di kamar-kamar di seberang mereka.

Jika seseorang mengatakan bahwa mabuk hanya punya urusan dengan minuman; maka salahkanlah. Selembar kertas bisa melempar seseorang ke awan, memindahkan pikiran dari jiwa dan raganya.


Surat-menyurat tetap berlangsung, meski dengan interval tak tentu dan panjang yang kadang tak imbang antara si penerima dan pengirim. Namun tak ada perubahan yang berarti.

Tetap berlangsung hingga seribu sembilan ratus empat puluh.


Surat kesepuluh Erika masih dipeluk Lovino saat Pablo membangunkannya dengan cara yang tak pernah dia lakukan sebelumnya.

"Lovino ... Lovino ..."

"Hmph. Diamlah. Aku sedang berpikir ...," racau Lovino serak.

"Bukan waktunya untuk berpikir. Kita dipanggil."

"Kita ...? Mungkin hanya kau. Kau 'kan pintar dan punya nilai tinggi untuk segala aspek latihan fisik. Kenapa aku yang rendahan ini juga diajak, hah? Cepat pergi, aku ... masih ... haaah ... berpikir ..." Pemuda itu menggulung di dalam selimutnya dan menarik bantal untuk ditaruh di atas kepalanya.

Pablo menggulingkan tubuh Lovino. "Cepat. Ini penting sekali. Ada surat pemanggilannya segala. Dan sebagai catatan, wahai Lovino yang agung tapi brengsek, saat ini masih pukul tiga pagi jadi mustahil ini bukan hal yang penting untuk kelangsungan hidup kita."

Lovino mengerjapkan matanya malas. Bergerak sedikit, mata dibuka, jam dinding terlihat. Pablo tidak bohong—semoga dia tidak merancang teori konspirasi hingga rela memanjat dinding dan mengubah waktu.

"Berhenti memeluk surat dari kekasihmu itu dan bacalah surat ini. Lima menit lagi kita sudah harus berkumpul di tengah lapangan."

Lovino terdiam dengan kedua mata setengah terbuka. "... Lima menit?!" Dia bangun mendadak seperti dirasuki roh. "Kurang ajar, kenapa baru bilang sekarang?!"

"Suratnya baru diberikan sepuluh menit lalu!"

Lovino menendang selimutnya lalu melompat membuka lemari seperti ingin menghajarnya. Kertas masih dipegangnya dan segera dimasukannya ke saku seragam yang masih tergantung rapi. "Memangnya surat apa itu?" Dia hanya melirik pada Pablo, yang ternyata hanya tinggal memakai sepatunya.

Pablo menempelkan surat barusan ke pipi Lovino, Lovino menangkisnya hingga nyaris mengenai dagu Pablo dengan pukulan yang cukup tak mengenakkan.

"Kita dapat surat tugas untuk pertama kalinya."

Gerakan Lovino berhenti saat ia memasukkan lengannya ke seragam. "Tugas?"

"Battlefield commission."

Napas Lovino tertahan.

"Ini bukan waktunya untuk terheran-heran. Pakai bajumu sekarang!" Pablo melangkah lebar-lebar dan menanti di mulut pintu.

"Siapa saja yang mendapat surat itu?" Lovino mengancingkan pakaiannya dengan terburu-buru. Satu kancing timpang, dia mengulangi semuanya sambil berseloroh gamang sekaligus kesal.

"Mana kutahu. Tapi sepertinya banyak. Pakta Tripartit bukan hal main-main. Hal itu mengonsumsi lebih banyak tentara daripada yang seharusnya. Coba saja bayangkan, seandainya kita tidak bekerja sama, kita tidak akan menghadapi medan yang lebih besar lagi dan kita hanya berkonsentrasi pada urusan kita sendiri—"

"Masa bodoh dengan Pakta Tripartit!" Lovino menubruk bahu Pablo dan langsung melebarkan pintu dengan kasarnya. Dia nyaris membantingnya jika Pablo tak menahan. Lelaki itu melangkah lebar-lebar di selasar dan mengabaikan tembok-tembok yang seolah menggerayanginya dengan pertanyaan; apakah yang akan terjadi selanjutnya, ke manakah dia akan dilempar—

—dan dia tak sabar bukan karena dia antusias.

Dia tak sabar karena harapan-harapannya terus hidup dan menjilati bagian dalam diri. Harapan semoga dia tidak perlu pergi jauh-jauh dari Italia—dan dengan itu dia bisa segera mengabari Erika.

Dan mereka bisa menjalani hidup mereka dengan damai. Dengan cita-cita yang telah sampai pada muaranya.


Di lapangan, mereka dihitung. Pukul tiga tepat, jumlahnya genap. Lovino menyaksikan dengan mata yang tajam bagaimana para atasan mengulangi hitungan mereka, bercakap-cakap dengan suara rendah, lalu menunjuk-nunjuk tulisan di dalam kertas yang lipatannya begitu rapi dan bersegel.

Semuanya berhenti saat salah satu dari mereka, yang paling tua dan berwajah penuh wibawa tetapi keras di saat yang bersamaan, maju mendekat pada para tamtama. Ia didampingi oleh seseorang, yang berdasarkan insignia di bahunya, Lovino sadari dia adalah seorang letnan dua.

Mata Lovino membelalak saat tahu bahwa orang besar yang mengarahkan matanya pada dia dan teman-temannya adalah seorang mayor. Tanpa kata, mereka membagi-bagi pasukan. Hanya berbekal lirikan pada nama yang tertera pada seragam dan bantuan dari selembar kertas yang dipegang si letnan. Mereka memisahkan Lovino dan Pablo—kedua tentara muda itu cuma saling lirik, tanpa berani mengangkat bahu sebagai isyarat.

Perhatian Lovino lekas teralih saat dua orang perwira tersebut berhenti di hadapannya dan si letnan berujar singkat, "Awasi anak Vargas ini baik-baik."

Lovino mengerutkan dahi. Namun saat mayor menatapnya balik, dia segera memajang raut tegas. Dia ingin mengangkat tangannya untuk menghormat, tetapi diurungkannya saat dia tahu lelaki itu tak akan peduli.

Mereka berdua berhenti di belakang. Lovino menatap sekeliling, mengalikan baris dan banjar dari kelompok-kelompok yang telah dipisah-pisah. Ada empat puluh lima orang. Semuanya telah rapi. Tugas mereka telah selesai, dan pembicaraan mereka tampaknya kedengaran lebih menarik daripada menduga apa yang akan mereka lakukan pada dirinya setelah pembagian ini.

"Jadi totalnya ada sepuluh anak yang bisa di teknik. Namun hanya tiga yang menguasai radio."

"Di bagian mana saja tadi anak-anak itu?"

"Satu untuk kelompok tiga, lalu berikutnya di tujuh dan sepuluh. Yang bisa teknik mesin lebih banyak, dan masing-masing kelompok mendapat satu. Kelompok lima malah mendapat dua. Pemilihan penempatan teknisi mesin adalah secara acak, sementara itu untuk yang radio dilakukan sedikit lebih banyak analisis. Penempatan di kelompok tiga, tujuh dan sepuluh didasarkan pada jenis armada tempat mereka berposisi nanti: kapal selam dan perusak. Bahwa komunikasi cukup penting untuk pelaporan dan statistik perang yang bisa digunakan untuk propaganda adalah dasar yang digunakan untuk pertimbangan penempatannya."

"Baik. Aku mengerti."

"Dan soal anak Vargas itu—"

Lovino menahan diri untuk tidak menoleh. Ia menelan gumpalan di kerongkongannya dengan keras.

Suara itu merendah, Lovino harus menutup mata untuk mendengarkannya. "—dia teknisi radio, membuat dia mudah dikenali dan diawasi. Jika ada hal yang mencurigakan dari gerak-geriknya, dia bisa dengan mudah ditindak."

"Dia cucu Fabrizio Vargas, bukankah begitu?"

"Benar. Dan putra dari Leonardo Vargas. Tapi kita berharap dia bukan pemberontak bawah tanah yang keras seperti ayahnya. Sejauh ini performanya sangat bagus dan dia tidak pernah melakukan kenakalan yang signifikan. Dia sering terlambat tapi tidak pernah dikenai detensi berat. Kurasa dia bisa dikendalikan dan berbeda dari pendahulunya."

"Bagus." Bunyi langkah yang mendekat membukakan mata Lovino. Saat dua orang itu berlalu, dia tidak bisa berhenti menatap mereka.

Lovino mencoba melemparkan dirinya ke masa lalu. Apa yang membuat kakeknya seolah buronan hitam yang sudah menyuntikkan doktrin buruk pada dirinya? Dia tidak pernah memikirkan hidup Kakek karena—menurut mata kepalanya sendiri—hidup Kakek tak pernah lebih rumit daripada perumusan harga ikan dan jenis tangkapan. Dia tak pernah mempermasalahkan apapun kecuali garam yang habis begitu cepat karena salah satu dari si kembar Vargas adalah maniak sup asin. Atau barangkali, sesekali, cuaca yang buruk mempengaruhi tangkapan dan harga. Dia tak pernah mempersoalkan beban sedikit pun di hadapan cucu-cucunya—

—tetapi ...

Tangan Lovino menggulung. Bagaimana mungkin seseorang dalam hidupnya tak mempunyai beban sama sekali? Beban itu pasti ada di suatu tempat. Disembunyikan karena beberapa hal.

Kakek ...

"Kelompok tujuh. Kapal selam jenis Marconi: Luigi Torelli."

Lovino tersadar. Memperhatikan tempatnya berada, dia ada di bagian ketujuh.

Pablo diliriknya. Pemuda itu berdiri tegap sambil menatap ke depan, dengan jarak tujuh langkah dari kanannya. Seolah mengerti panggilan, Pablo kemudian melirik melalui ekor mata. Lalu mengangguk dengan isyarat.

Mereka berpisah tugas.

Mendadak Lovino merasa begitu sendirian—

—dan dibohongi.


"Akhirnya hari ini datang juga. Haaah, aku tidak pernah benar-benar bermimpi aku bisa meninggalkan tanah Italia. Aku akan sangat merindukannya." Pablo mendesak sebuah buku ke dalam tasnya. Menjejalkannya di antara seragam-seragam yang dilipat dan digulung sembarangan. "Ayahku pasti akan memelukku bangga dan tersenyum untuk pertama kalinya padaku dalam enam tahun ini. Tapi kurasa ini bukan kebanggaan besar. Dia tersenyum karena siap menerima surat bahwa anaknya bisa saja mati di lautan."

Pintu lemari dibanting.

"Oi, Lovino. Tidak berniat mengirimi surat pada pacarmu itu—"

"Katakan padaku lebih banyak tentang keluarga Vargas."

Pablo menoleh, masih menunduk di hadapan tasnya. Ia menemukan Lovino bercangkung di hadapan pintu lemari yang berkeriut-keriut tak tertutup sempurna.

"Kau akan pergi bertugas, kenapa masih mempermasalahkan hal yang akan kautinggalkan?"

"Aku tidak akan pergi sebelum aku mengetahui tentang keluargaku!" lelaki itu berdiri dan berjalan ke arah Pablo. "Katakan apapun yang kauketahui."

Pablo berdiri tegak. Menghadap Lovino dengan kerutan di kening. "Aku sudah mengatakan apa yang kuketahui. Aku tidak bicara apa-apa selama ini bukan berarti aku menyembunyikan sesuatu—kau jangan bertingkah bodoh!"

"Kau pasti tahu sesuatu!" Lovino mencengkeram kerah pakaian Pablo. "Aku yakin kau lebih tahu dari yang kusangka," suaranya mengeras dan dia mengguncang tubuh Pablo. "Tidak usah merasa kasihan padaku. Katakan saja. Aku sudah muak dengan sekelilingku yang bertingkah seolah tak ada apa-apa padahal aku adalah bagian dari sebuah hal besar yang membuat panik banyak orang!"

"Jaga emosimu, brengsek. Dengan kelemahan ini kau akan menjadi yang pertama kali mati di medan perang," tegas Pablo sambil menepiskan tangan Lovino. "Hanya karena masalah keluargamu jangan buat musuh melihat kelemahanmu, tolol."

"Katakan hal itu jika kau duduk di tempatku menjalani kehidupanku!" Lovino menunjuk wajah Pablo secara langsung.

Pablo tertawa sinis. "Maka berdirilah di posisiku, ketika seorang sahabat menuduhmu berbohong padahal kau adalah orang yang juga paling ingin tahu hal yang membahayakan sahabatnya."

Kesenyapan mendadak menyerbu ruangan. Tangan Lovino jatuh perlahan. Bahunya melemas tetapi matanya masih panas; masih ada yang membara di sana.

"Kita akan diberangkatkan lusa. Siang ini hingga besok ada kesempatan untuk bertemu dengan keluarga. Ayah atau pamanku akan datang. Akan kupastikan sesuatu. Sebelum itu, cepatlah tulis surat untuk pacarmu." Pablo mendorong bahu Lovino sebelum kembali pada tas dan berbagai persiapan pribadinya.


Lovino tidak bisa tidur lagi meski dia punya kesempatan. Pablo mengubur diri di dalam selimut, tetapi satu jam setelahnya dia menghilang setelah seseorang memanggilnya, mengatakan bahwa ada tamu yang harus bertemu dengannya.

Pukul tujuh pagi, akhirnya Lovino memutuskan untuk meninggalkan tempat tidur dan menjemput pena juga kertas. Pablo tidak salah—ini saatnya untuk memberitahu Erika. Ia belum tahu ia akan ditempatkan di mana, kapal apa, dan ke mana saja tujuan pelayarannya, tetapi setidaknya satu-dua kalimat pamitan sudah cukup menghibur Erika.

Ada lebih banyak hal yang bisa dia beritahu, termasuk perasaannya yang kacau dan keinginannya untuk berontak pada masa lalunya sendiri—tetapi ia menahan semuanya. Semua itu akan membingungkan Erika, dan ia masih merasa belum saatnya untuk memberitahu di saat dia sendiri masih belum bisa menyatukan keping-kepingnya yang berserakan.

.

.

Aku akan berangkat lusa. Belum dibertahu akan ke mana, tapi aku berjanji akan memberikan kabar secepatnya di manapun aku berlabuh kelak. Aku dipilih secara khusus karena aku teknisi radio—hal ini adalah promosi cepat yang berkaitan dengan status darurat. Battlefield commission. Aku pergi untuk bertugas, dan kuharap kau selalu melakukan yang terbaik pula di sana.

Mungkin setelah ini, kau akan pergi entah ke Inggris atau ke manapun itu, dan kita tidak bisa berbicara seperti ini dengan mudah lagi. Tidak apa-apa. Aku tidak bisa memaksamu untuk menungguku, karena aku tahu kau juga ingin melakukan sesuatu.

Mungkin ini surat terakhirku untuk sekian lama, jika kau juga benar-benar pergi, tetapi aku tahu, aku dan kau sama-sama pergi untuk kemudian pulang kembali.

Suatu saat, kita akan pulang dan bertemu lagi. Aku tahu itu akan terjadi. Dan sebelum kita berpisah untuk waktu yang cukup lama, kukatakan sesuatu.

Aku mencintaimu.

.

Lovino melipat suratnya. Mengambil amplop yang terselip di dalam lemari yang sudah hampir kosong. Dan dituliskannya alamat Erika dengan tangan yang gemetaran.

Sial.

Ternyata rasanya seberat ini.

.


.

Sebelum menitipkan surat itu pada salah seorang petugas di luar pagar, Lovino berhenti di langkah-langkahnya yang lekas itu. Baris terakhir surat mendorong-dorongnya untuk menimbang lagi.

Erika tidak pernah menjadi bagian khusus di hidupnya, setidaknya jika 'khusus' itu memerlukan istilah tertentu. Dia tumbuh bersama Erika—meyakinkannya bahwa cinta adalah hal yang berkembang di antara mereka seiring waktu. Namun, cinta seperti apa? Apa yang akan dia lakukan dengan kata-kata itu setelah ini?

Selebihnya, apakah kata setelah itu ada? Dia akan bertugas ke laut lepas—

—maka setelahnya, Lovino terus berjalan. Membiarkan kata-kata itu seperti adanya. Tidak ada yang pasti, tidak ada yang bisa ditebak, maka sampaikanlah apapun yang ingin disampaikan.


Pablo keluar melalui mulut pintu utama barak, Lovino menjumpainya tanpa sengaja.

"Sudah kukira kau kabur sebelum penugasan. Tempat tidurmu rapi sekali." Jempolnya mengarah ke belakang.

Lovino tertawa sinis, rasa kesal dan ejekan bercampur di suaranya. "Kau mengenalku bukan sebagai seorang pengecut."

"Barusan Ayah menjenguk. Dan tambahan; kita punya waktu untuk pulang pagi ini hingga nanti malam sebelum berangkat."

"Desaku jauh. Makan waktu. Suratku akan sampai lebih cepat." Lovino pun berjalan masuk. "Jangan bilang kau tidak menanyakan apapun pada ayahmu sesuai perjanjian kita."

"Kau mengenalku bukan sebagai seorang pembohong, Vargas. Segera ke kamar atau tempat lain, tempat tidak seorang pun bisa mendengar apa yang akan kubicarakan—atau posisimu akan terancam dan bisa-bisa kau dipermalukan."

"Kamar. Kunci pintunya."

Pablo tertinggal sekian langkah dari Lovino yang menutup mulutnya rapat-rapat, menggulung jemarinya hingga memutih. Pemuda itu bahkan tak bisa menekan ketidaksabarannya dengan membanting pintu saat Pablo baru saja melangkah masuk.

"Jangan marah—"

"Aku akan lebih marah lagi jika kalian menyembunyikan hal yang seharusnya kuketahui sejak dulu."

"Tidak banyak yang bisa kuketahui dari mereka. Rahasia negara lebih penting dari rasa ingin tahu anaknya sendiri. Dan maaf saja, aku harus mengatakan beberapa hal yang tidak penting tentangmu agar dia bisa terpancing bicara soal keluarga Vargas."

"Semoga saja kau tidak membuatku seperti seekor kucing kampung nakal di mata ayahmu."

"Bukan kucing kampung." Pablo duduk di tepi dipannya. "Kucing liar menyebalkan."

Lovino mendecakkan lidah.

"'Aku sekamar dengan anak Vargas. Dia agak nakal, kata-katanya cukup untuk meracuni telinga seorang gadis polos—'"

Ingin sekali Lovino membelah lidah Pablo dan mengganti kata-kata barusan, Lalu kenapa Erika mau bertahan denganku sampai saat ini?

"'—rasanya Ayah pernah bercerita tentang keluarga Vargas. Aku lupa detilnya. Memangnya mereka seperti apa? Kurasa aku harus tahu beberapa hal tentang rekan sekamarku sendiri.' Selanjutnya, yang penting untukmu hanyalah jawaban Ayah. Dengarkan aku baik-baik. Aku malas mengulanginya berkali-kali.

'Ah, keluarga Vargas memang benar-benar masih tersisa, ya? Kukira dengan dibunuhnya Fabrizio waktu itu, riwayat mereka tamat—'"

"Dibunuh, katamu?!" Lovino menatap tak percaya. Dia sudah akan menyerbu Pablo dengan tinju tetapi ditahannya dirinya sendiri.

"Ayahku tidak bilang siapa yang membunuh—dia hanya bilang soal beberapa malam setelah gempa ... dan penyebabnya."

"... Bangsat ..."

"Fabrizio Vargas, selama bertahun-tahun, telah melakukan gerakan bawah tanah pemerintahan Il Duce. Dia menggalakkan provokasi yang menentang kepemimpinan dengan cara-cara ala Il Duce. Dia menolak menghormati dengan alasan-alasan konyol. Putranya, Leonardo Vargas, adalah aktor propaganda melalui tulisan-tulisan kontroversial untuk berbagai koran dan selebaran di bawah nama pena Luigi. Fabrizio berhasil lolos setelah Leonardo dan istrinya ditangkap, dan pergi ke desa pantai, serta mendaftarkan nama berbeda; Giuseppe Cello."

Lovino mundur. Punggungnya membentur pintu dan dia luruh jatuh ke lantai, matanya kosong tanpa arti.

Giuseppe Cello. Cello. Ia melihat nama itu selalu di buku rapornya, Lovino Cello, dan kata-kata kakeknya yang selalu menyuruhnya menuliskan nama itu setiap kali sekolah meminta sesuatu darinya, tetapi tetap memperbolehkan ia memakai nama 'Lovino' sebagai perkenalan pada teman-temannya. Nama kecil yang baik, Kakek bilang. Itu pemberian ibumu, jangan pernah dibuang, katanya bijak dan tanpa mengundang pertanyaan lebih banyak lagi. Namun karena ketidaktahuannya, dia terus menyebut dirinya sebagai Lovino Vargas karena merasa nama panggilan Kakek lebih cocok untuknya daripada nama dari ibunya.

"Fabrizio selalu mengadakan pertemuan rahasia bahkan setelah dia pindah dan mengganti namanya. Kemeja Hitam berhasil menangkapnya di pengungsian."

Lovino bangkit dan mengarahkan tinjunya asal-asalan—mengenai gerendel dan buku-buku jarinya langsung merah serta berdarah. Dia meraung dan Pablo harus maju untuk menangkapnya. Kakinya masih menendang pintu saat Pablo menyeretnya ke dekat lemari.

"Semuanya buruk! Semuanya brengsek!" Lovino mencoba melepaskan diri dari Pablo. "Semuanya gila! Sinting! Bedebah!" Hingga pada akhirnya Pablo mengalah dan membiarkan Lovino mengamuk—dagunya telah terkena hentakan kepala Lovino. Dia keberatan datang bertugas dengan keadaan babak-belur.

Lovino menuju pintu, tetapi tak mampu membukanya. Dia hanya memukul-mukul daun pintunya, kemudian jatuh berlutut lagi sambil menggumamkan kutukan. Airmatanya bertetesan ke lantai, Pablo hanya berdiri memandangi dari belakang.

Tidak ada hal yang bisa dia lakukan.

Lovino juga tak mampu.


Seisi asrama sangat lengang. Banyak yang menyempatkan diri untuk pulang. Tengah hari sisa musim panas tidak cukup memberi semangat—mendung mulai terlihat di sana-sini.

Pablo memutuskan untuk kembali ke kamar. Lovino mungkin sudah lebih baik, tetapi dia tidak mengharapkan apapun; selain semoga barang-barangnya tidak menjadi sasaran amukan.

Sahabatnya sedang duduk di tepi tempat tidur. Kepalanya tertunduk dan kedua tangan menangkup di dahinya.

"Jika kauingin kabur dan memberontak, masih ada waktu. Sebab akan lebih susah jika kau ingin melakukannya di laut lepas. Aku akan tutup mulut."

Lovino menoleh lemah, tetapi tak berkata apa-apa.

"Aku tidak mengerti seberapa besar rasa kecewamu, tetapi jika kau memilih untuk balas dendam pun ... kekuatanmu tidak akan cukup. Kau melawan puluhan ribu pasukan loyal. Dan bisa saja aku dimasukkan dalam salah satunya karena aku juga bagian dari aparatur negara—meski pangkatku rendahan."

"Balas dendam itu tindakan pengecut. Pembalas dendam adalah tindakan membunuh diri sendiri. Apa yang didapat pembalas dendam setelah dendamnya selesai? Kekosongan. Hidupnya mati. Bukankah bunuh diri adalah sifat orang pengecut juga?"

"Aku bertaruh pasti itu adalah ajaran kakekmu. Dia pasti pemberani karena dia pemikir keras. Pantas saja dia punya nyali membela kepentingannya."

"Jangan sebut kakekku lagi dengan mulutmu itu." Lovino meliriknya garang. Suaranya berat dan mengintimidasi.

"Lovi—"

"Diam. Aku tahu kau bukan pembunuhnya. Pun ayahmu—dia belum pasti menjadi penyebabnya. Tapi aku tidak ingin mendengar nama kakek lagi dari siapapun. Membuatku sangat tidak tenang. Di lain tempat, di atas sana, dia pasti sedih melihatku marah dan mengamuk."

"Lalu apa yang akan kaulakukan setelah ini?"

"Aku tidak tahu."

"Yang tegas."

"Aku tidak tahu."

Pablo berdecak keras. "Apa yang sedang kaupikirkan saat ini?"

"Aku tidak berguna. Untuk apa aku hidup? Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk Kakek, membelanya dan menyelamatkannya—padahal dialah yang membantuku hidup."

Pablo menyilangkan tangannya di depan dada. "Ulangi pertanyaanmu tadi."

"Untuk apa aku hidup?!" ujar Lovino mengeras, tangannya yang masih merah itu menghempas ke tempat tidur.

"Erika."

Kepalan tangan Lovino tiba-tiba melemas.

"Siapa, Erika 'kan namanya? Teman serumahmu, sisa hartamu itu?"

Lovino menatap Pablo tanpa berkedip.

"Terserah kau akan melakukan apa setelah ini. Pergi dari Regia Marina juga tidak apa-apa, tapi kau masih punya satu harapan untuk tidak berbuat konyol. Hiduplah dengan cara yang berbeda dari kakekmu agar kau tidak merasakan penderitaan yang sama. Agar kakekmu bangga bahwa kau bahagia. Mungkin cara pikirmu berbeda dengan prinsip kakekmu—tapi kurasa dia akan tetap senang melihatmu hidup tenang. Dan terutama—Erika. Dia, aku bertaruh dengan insignia yang kumiliki, pasti tidak akan ingin melihatmu menderita."

chapter 5: end.


a/n: mengenai pakta tripartit dan dimulainya perang dunia kedua, pasti udah pada banyak tahu, ya. jadi nanti trivia-trivianya barangkali baru akan ditambahkan saat lovino sudah bertugas di luigi torelli (karena aku mengikuti alur perjalanan luigi torelli sendiri buat plot fiknya).

pablo itu oc, tapi nanti lovino dapat sahabat baru yang tokoh nation, kok. tunggu tanggal kehadirannya ya wwwww

dan maaf kalo kesannya fanfik ini cepet banget (fast-paced) dan singkat ;u; karena aku mengutamakan poin penting dalam kehidupan sebenarnya ehe (lame excuse you lil bastardo)

tambahan lagi: yang ngarepin momen manis langsung romaliech; saya peringatkan—sangat minim. fanfik ini tidak dibuat untuk fluff. ini adventure dan walaupun tag pairing utamanya romaliech, ini lebih dibuat untuk menggambarkan petualangan hidup mereka dan ikatan batin masing-masing. 'tujuan' mereka sama (tergambar di surat pamitan lovi), dan cerita ini ada untuk menggambarkan cara mereka melewati tantangan untuk mencapai tujuan itu; maka dari itulah tag pairingnya mereka.

dan yang terpenting: thanks buat semua reviewer, reader, faver, dan follower ;u;)/