luigi torelli

Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya. penulis tidak mengambil keuntungan material apapun atas pembuatan karya; ditulis hanya untuk kesenangan. perhatian: ini adalah fiksi penggemar historikal; meski mengandung unsur sejarah, tetap ada aspek-aspek bersifat rekaan di dalamnya
Pairing/Character: Romano/Liechtenstein; Germania, Hungary. Genre: Adventure/Family/Romance. Rating: T. Other notes: WWII!AU, Naval Army, Regia Marina.

(Erika berangkat menuju Paris, sementara Lovino telah berada di laut lepas.)


Pablo sudah menghilang dan tempat tidurnya sangat rapi saat Lovino membuka mata. Hingga akhir pun, pemuda itu tak bisa mengalahkan waktu bangun Pablo. Dia bertanya-tanya apa saja yang dilakukan pemuda itu, selalu bangun sebelum waktu yang minimun peraturan asrama.

Lovino duduk di tepi tempat tidur sambil memegangi kepalanya. Mencoba memperhatikan kamar dengan caranya sendiri. Tas-tas Pablo, yang tadi malam berjejer di depan lemari, sudah lenyap. Yang tergantung di balik pintu hanya tinggal satu.

Lelaki itu berjalan lemas menuju tempat handuknya berada.


Lovino mengekori kelompoknya saat memasuki area pelabuhan. Ia melihat banyak pemuda berseragam sepertinya, setiap satu di antara mereka dikerumuni oleh paling tidak tiga orang. Ada yang menepuk-nepuk pipi si prajurit, ada yang memeluknya, bahkan beberapa saling mencium.

Pablo tidak terlihat. Lovino maju ke ujung dermaga, menanti akses menuju tangga dibuka. Suratnya barangkali baru di tengah perjalanan menuju Erika—jadi sudahlah. Tak mengapa dia sendirian. Dari awal takdirnya memang harus ... sendirian. Dia menghela napas saat memikirkannya lebih jauh.

Ia memandangi orang-orang dan insignia mereka yang sama dengan apa-apa yang melekat pada tubuhnya. Regia Marina. Suatu nama; suatu cerita. Kalimat yang pertama kali diejanya, sekian belas tahun lalu. Di tengah remangnya lilin tua yang disulut Kakek, di dekat jendela yang sering berderit-derit. Melalui buku tua dia menemukan dunianya.

Dunia yang dibayar dengan banyak nyawa—jika dia memandang semuanya dari sisi pesimisme dan sinisme. Kakek. Feliciano. Basch.

Namun Erika tidak boleh. Ia mengepalkan tangannya erat-erat.

Jika lebih lama menatap seragamnya sendiri dan insignia yang seharusnya dia banggakan, dia merasa telah dikhianati dan mengkhianati. Dikhianati negara, tetapi kemudian dia mengkhianati kakeknya. Hidup adalah ironisme, hidup adalah perputaran yang memabukkan, hidup adalah dilema yang silih-berganti, bergilir mengundang gamang. Negara membantah Kakek dan membungkamnya, tetapi kemudian dia bergabung dengan institusi negara dan berperan untuk hal yang dulu ditentang Kakek.

Lovino ingin lari tetapi tidak menemukan tujuannya. Apa yang akan ia lakukan di rumah? Ia sudah kadung bermimpi dan mewujudkannya. Lebih dari seribu petak cara sudah dia tempuh—membakar semuanya hanya demi masa lalu yang tak bisa diubah lagi adalah kegilaan nomor sekian yang pasti semakin mengacaukan hidup. Kakeknya tak pernah suka sesuatu yang sia-sia—

—hingga pada akhirnya Lovino hanya bisa menyalahkan keterlambatannya untuk tahu.

Sekarang yang ia miliki hanya Erika.

Tetapi dia seorang adalah seorang yang akan bertaruh nyawa di lautan nanti. Lantas siapa yang kelak akan menjaga Erika jika dia ... mati?

Lovino menangkupkan wajahnya. Ia membiarkan airmatanya leleh. Kau memang tidak berguna.

"Hei, Bung."

Lovino tak peduli wajahnya masih basah saat mendongak.

"Oi ... menangis jangan sendirian," ucap lelaki yang datang. Ditariknya tangan Lovino lalu dirangkulnya pemuda itu. "Sampai jumpa nanti. Jangan bersedih. Berjuang di kapalmu, ya."

"Brengsek kau. Diamlah, jangan sok menasihatiku. Memangnya kaubisa menasihati dirimu sendiri? Kau menangis dengan konyolnya, bodoh," sumpah-serapahnya meluncur saat ia menepuk-nepuk punggung rekannya dengan keras. Ia tertawa saat kembali menatap wajah Pablo, yang juga basah. Dari balik punggung pemuda itu terlihat empat orang menyusul dengan langkah pelan, wajah-wajah yang pernah satu-dua kali Lovino lihat wajahnya di foto yang iseng Pablo tunjukkan. Ibu, ayah, dan sepertinya pacarnya, jika bukan kakaknya.

"Sudahlah. Si cengeng tidak usah teriak cengeng. Kita berbeda kapal kali ini, kita juga berbeda tujuan. Entah kapan kita akan bertemu, tapi aku yakin suatu waktu kita akan bisa melihat satu sama lain lagi."

"Kalau kita masih punya waktu ..." Lovino melepaskan diri dan menatap kawannya dengan mata yang sendu. "Kalau masih punya kesempatan ..."

"Jangan bicara begitu, bodoh. Paling tidak kita bisa saling bertemu di alam baka," selorohnya ringan sambil meninju pundak Lovino.

"Brengsek. Aku ingin langsung ke surga saja daripada bertemu denganmu lagi di alam peralihan. Sudah, sana. Ibumu kelihatannya ingin memelukmu lagi."

"Jaga dirimu, Mulut Besar."

"Jaga dirimu juga, Kepala Batu."

Lovino membiarkan Pablo pergi. Tangga-tangga telah dinaiki oleh pasukan-pasukan dengan ransel gembung raksasa mereka. Lovino memutuskan untuk membaur lagi dengan kelompoknya setelah menoleh ke arah Pablo yang masih berbicara dengan adiknya. Ketua rombongannya mengarahkan mereka pada kapal yang ada di ujung, dari tiga kapal yang bersandar di pelabuhan.

Lovino menelan gumpalan menyesakkan di kerongkongannya. Regia Marina. Dunianya. Ia melangkah dengan kaki yang tak sepenuhnya merasa benar, dengan tubuh yang masih merasa salah arah. Tetapi dia biarkan saja waktu berlalu dan ia membawa dirinya menuju pertaruhan hidup dan matinya.

Anak tangga demi anak tangga ditapakinya sambil menatap sekeliling. Prajurit lain melambaikan tangan pada keluarganya, pada para pengantar yang masih menyisakan rasa tak rela melepas di mata mereka. Saputangan dilambaikan, tangan diayunkan mengucapkan selamat tinggal yang tak terdengar.

Lovino memaklumi dirinya sendiri. Seandainya ada Erika di bawah sana pun, ia tak mungkin berpikir dia bisa terus menempuh langkah mendekati kapal. Dia tak akan bisa melihat gadis itu sendirian.

Lovino memegang kancing seragam yang terdekat dengan jantungnya. Kalaupun darahku akan berhenti mengalir di kapal ini, semoga Erika tidak pernah menyingkirkanku sedikit pun dari pikirannya.

Sesaat ia berhenti di tengah-tengah perjalanan. Mendongak untuk menatap nama dunia barunya.

Luigi Torelli.


Erika menerima surat itu pada minggu berikutnya, pagi-pagi sekali sebelum dia berangkat ke rumah Nyonya Ella. Ia menghabiskan banyak waktu hanya untuk menatap huruf demi hurufnya.

Terutama bagian terakhir. Lovino tak pernah mengatakan apapun tentang hubungan mereka, tidak pula pernah menggambarkan seperti apa masa depan mereka. Bukan, bukan, bukannya Erika merasa telah menemukan pencerahan pula setelah kalimat tersebut diucapkan secara tak langsung, malah semuanya sekarang terbaca lebih buram setelah keberangkatan Lovino. Namun ia merasa lebih tahu ke mana ia harus melangkah. Apa yang harus dilakukan. Seberapa jauh lompatan yang harus dicoba.

Karena Lovino pun, yang dengan caranya sendiri mencintainya, memberikan jalan kebebasan untuknya. Dunia, sesempit apapun, masih terasa lebih luas jika diarungi tanpa rasa sakit dan dengan kebebasan tanpa rantai di kaki. Lovino memberikan hal kedua padanya dan Tuhan telah menitipkan hal pertama untuknya.

Erika tahu apa yang harus ia lakukan.

Ia mencium surat itu pelan sebelum melipatnya kembali.

Dan membawanya ke dalam tasnya.


"Nyonya."

"Ya, Erika sayang?"

Botol-botol obat yang kecil telah tersusun rapi. Erika menatap semuanya sekali lagi sebelum memastikan dia tidka melakukan kesalahan dalam pengurutannya. Erika pun menghadap padanya dan tersenyum sopan.

"Aku ingin bergabung dengan Palang Merah besok. Apa kau mengizinkanku?" Ia menatap penuh determinasi.


Erika menemukan bahwa kota itu memiliki wajah yang begitu berbeda dengan yang terakhir kali dia perhatikan. Bagaimanapun, wajah itu adalah wajah berbelas-belas tahun lalu. Ingatannya sudah tertimpa, pun kotanya telah berganti rupa.

Roma. Mengingatkannya pada tangan Basch yang tak lepas menggenggamnya saat mereka berkeliling untuk mencari tahu. Mencari tahu hal yang tak ia ingat lagi dengan jelas. Yang ia ingat hanyalah mereka kemudian menemukan jalan menuju desa tempat tinggalnya, pantai yang begitu asing dan aroma yang pernah membuat Erika takut.

Peta yang diberikan Nyonya Ella sangat sederhana dan ala kadarnya. Wanita itu bahkan tak mencantumkan stasiun-stasiun dan tempat bernaung yang sekiranya dapat membantunya, tetapi Erika merasa takdir telah mengantarnya tanpa membuang waktu. Jalan yang dituliskan dia temukan hanya dengan setelah dua kali berkeliling.

Ia menyusuri alur-alur yang diminta. Jalan-jalan yang diberikan cukup rumit dan berkelok, dia harus sering-sering berhenti di berbagai titik untuk memastikan dia tidak keluar jalur.

Setelah tersesat dan bertanya dengan terbata-bata pada bapak tua berkumis yang bungkuk dan bertongkat, Erika menemukan gang yang dialamatkan Nyonya Ella.

Rumah itu sesuai dengan ciri-ciri yang diberikan. Berwarna putih kusam dengan pintu hitam. Di pintunya tergantung papa nama.

Joachim Beilschmidt.

Ia mengetuk dengan cincin kuningan di tengah-tengah pintu, dan mengalihkan mata dari hiasan kerbau bertanduk lengkung di cincin itu, yang membuatnya sedikit merinding. Basch tak pernah meletakkan hiasan apapun yang berhubungan dengan binatang di rumah, satu-satunya hewan yang Erika sukai hanya kucing. Itu pun karena Lovino yang kerap mengajak kucing jalanan menginap di dalam rumah, terutama setiap kali hujan turun.

Sedikit lagi dia mengetuk untuk yang ketiga kalinya, pintu akhirnya dibukakan.

Erika tercenung dan menggenggam tangan di depan dadanya.

Orang ini sama sekali tidak terlihat seperti seorang dokter yang digambarkan Nyonya Ella. Rambut pirangnya yang panjang terikat longgar dan ujung rambutnya tersampir ke bahu kanan. Ada sejumput rambut yang dianyam di sebelah kiri namun sangat tak rapi.

"Siapa kau?"

Erika menahan napasnya. Bayang-bayang wajah Basch dan Lovino berkelebat di depan matanya. Berurusan sendiri, apalagi di lain kota pasti adalah hal yang terakhir yang akan mereka berdua biarkan Erika melakukannya. Terlebih orang asing ini, yang ia rasa begitu jauh dari harapannya, tetapi malah lebih dekat pada ketakutannya.

"Sa-saya Erika Zwingli, yang bekerja pada Nyonya Ella."

"Masuk." Pintu pun dilebarkan begitu saja. Lelaki itu mundur. Erika mengintip isi rumah sebentar sebelum memastikan semangatnya untuk melangkah masuk.

Rumah ini sangat lengang. Hanya ada tiga kursi di ruang tamu yang menyambutnya. Yang menghiasi dinding hanyalah satu lukisan sekelompok prajurit abad pertengahan berbentuk persegi panjang besar. Perapian berbata merah kusam ada di ujung ruangan, dengan kayu yang sudah separuhnya menjadi abu.

"Ella pernah bercerita tentang kehidupannya lewat beberapa surat. Termasuk seorang perawat pemula yang bekerja padanya." Joachim duduk pada kursi tunggal.

Erika duduk pelan-pelan pada kursi yang membentang panjang di bawah lukisan.

"Aku baru saja mengirimkan dua kelompok sukarelawan untuk Palang Merah ke Jerman kemarin. Seandainya kaudatang lebih cepat, kau mungkin bisa ikut mereka. Kau sudah cukup mahir dalam mengobati, bisakah kupercayai?"

Erika mengangguk pelan. Kedua tangannya masih terkepal di atas pangkuan.

"Setidaknya untuk luka-luka ringan dan pertolongan pertama?"

"Ya ... Nyonya Ella sudah mengajari saya banyak hal tentang itu. Saya juga ... dimintanya menghafalkan beberapa jenis obat-obatan. Terutama yang berhubungan dengan penahan sakit."

"Baik." Joachim mengangguk pelan. "Apa kaupunya pilihan tempat? Sebelumnya, sudah tahu tugas-tugas yang akan sukarelawan lakukan, Nona Zwingli?"

"Mengunjungi kamp-kamp tahanan atau kamp konsentrasi, begitu yang kudengar. Saya bersedia ditempatkan di mana saja."

Alis Joachim bergerak naik dengan tenang. "Besok atau lusa aku akan berangkat ke Prancis. Bersedia ikut denganku, jadi kaubisa bergabung dengan sukarelawan yang baru saja kukirim dua bulan lalu ke sana?"

"Saya bersedia."

Hening sesaat, sebelum akhirnya lelaki itu bertanya dengan suaranya yang semakin dalam, "Apa motifmu melakukan ini semua? Mohon maaf sebelumnya, tapi aku harus selalu tahu apa saja yang anak buahku lakukan dan dasar-dasarnya."

Erika menarik napas dalam-dalam, berusaha agar tak terdengar. "Saya hanya ingin mengikuti jejak orang-orang yang saya sayangi. Ada yang berkorban untuk orang lain, dan ada yang berjuang keras untuk dirinya sendiri dan saat menjaga orang lain. Saya ... ingin membalas perbuatan baik mereka dengan berbuat baik pada orang lain."

Joachim menyimpulkan dengan singkat. "Ada satu kamar yang kosong di atas. Tinggallah di sana dan persiapkan dirimu. Kuantarkan kau ke sana."

Di perjalanan menuju ruangan itu, sedikit-sedikit Erika bisa memahami. Joachim punya ruangan besar yang khusus di tengah-tengah rumah yang berfungsi sebagai ruang rawat. Di dekat tangga kayu cokelat tua dengan pagar yang licin, ada meja besar bercat putih yang meski telah kusam, dihiasi oleh botol-botol obat kecil yang serupa dengan milik Nyonya Ella. Bau obat pun tercium saat mereka melewati ruangan pertama yang terdekat dengan tangga. Pintunya terbuka sedikit, dan Erika mengintip. Gudang obat, tanpa jendela dan hanya diterangi lampu tembok yang suram.

"Silakan. Ruangan ini sudah sangat sering dipakai oleh sukarelawan-sukarelawan yang menunggu keberangkatan. Terlalu luas untuk ditempati seorang diri, memang, tapi kuharap kau menerimanya. Aku tidak punya ruangan lain."

"Tidak apa-apa. Sebelum ini saya juga tinggal sendiri. Saya sangat berterima kasih atas bantuannya."

"Hm. Sampai jumpa besok pagi. Aku bekerja di sana. Ruang obat lain." Joachim mengedikkan dagu ke arah seberang. Pintu ruangan itu tertutup rapat dan ada tulisan jangan ganggu dalam bahasa Italia juga Jerman tergantung di pintunya yang berwarna cokelat terang.

Ah, bahasa Jerman. Erika sudah sangat kesusahan berbicara dengan bahasa itu lagi, ia rasa, selain daripada memahaminya pelan-pelan, sedikit-sedikit. Sejak Basch pergi, tidak ada lagi yang sesekali mengajaknya berbahasa Jerman di waktu-waktu luang.

Joachim meninggalkannya. Erika memasuki ruangan dengan perasaan lebih yakin dari saat ia berdiri di hadapan pintu beberapa menit lalu.

Kamar itu ruangan terluas menurut pengamatan Erika. Kasur tingkat berbaris di berbagai sisi, dan ada banyak jendela. Sayangnya, lampu hanya ada satu di tengah-tengah, yang sudah pudar juga dirubungi serabut-serabut putih yang bergumpal juga kusut. Ruangan jadi semakin temaram, terlebih senja sudah semakin mengintai di luar sana.

Baru saja ia meletakkan tasnya di samping tempat tidur yang menurutnya paling dekat dengan lampu, Joachim mengetuk pintu.

"Ini. Sebelum aku lupa. Aku sering kelupaan hal-hal kecil menjelang keberangkatan. Pakai selalu di manapun kau berada nantinya, di pakaian apapun dan bahkan saat tidur. Benda ini identitasmu dan penolongmu."

Sepuluh lembar kain berpindah tangan kepada Erika.

Kain putih dengan palang merah cerah di tengah-tengahnya. Dipandanginya terus-terusan hingga Joachim pergi dan menutupkan pintu kamarnya.

Hei, Lovino,

apa kau juga sedang mengenakan topi putihmu dengan bangga? Aku juga akan memakai benda yang serupa nilainya di tanganku.

Andainya saja ia bisa menulis surat saat ini.


Erika tidak mengeluarkan banyak barang semenjak kedatangannya. Dia hanya tinggal mengangkat tas kecil yang ada di dekat lemari.

Joachim memintanya untuk turun pukul delapan pagi. Dia sudah akan beranjak dan membawa benda tersebut tetapi berhenti sebentar saat tak sengaja mematut diri di depan cermin.

Kain itu.

Dia merasa dia harus mengenakannya mulai dari sekarang.

Ketika benda itu sudah melekat di lengannya, dia berhenti lagi sebentar di depan kaca yang sama dan memikirkan lebih banyak hal daripada yang seharusnya membebani pikirannya. Logonya hanya 'sekadar' palang merah di atas kain putih, dibalutkan pada tangan dan tidak dipakai mencolok di depan pakaian. Kecil, sederhana, cepat kotor, dan cepat dilupakan. Tetapi beban yang lebih besar melekat di sana, sebuah tanggung jawab. Sebuah cara untuk menyatakan rasa kemanusiaan yang sederhana, sang putih, namun berani seperti merah.

Erika menemui Joachim yang juga baru saja keluar dari ruang obatnya.

"Keretanya berangkat setengah jam lagi. Kita sarapan di jalan saja."

"Baiklah, Tuan."


Perjalanan kereta menuju Paris akan sangat panjang, kata Joachim. Erika tak mau jauh-jauh dari lelaki itu meski dia teramat segan.

Jaochim tak berkata-kata cukup banyak di sepanjang perjalanan, dia lebih sering menyibukkan diri dengan buku, dan Erika menyuruh dirinya sendiri untuk banyak-banyak tidur.

Namun setelah setengah hari perjalanan, Erika tidak bisa tidur lebih banyak lagi. Dia memandangi jendela dan dunia yang berlalu di sampingnya. Sekelebat pohon yang begitu cepat berganti dengan rumah-rumah yang lewat bagai kilat. Mereka mulai meninggalkan Italia dan rumah nyamannya pun telah begitu jauh tertinggal di belakang. Dunia luar begitu asing, terlebih Paris yang akan dijelangnya. Sedangkan di sana ... dia akan menjadi orang yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bertemu dengan orang baru, tak begitu sempat membentuk ikatan persahabatan apalagi persaudaraan, serta menjauh dari ketenangan dan tentu saja terjun ke dalam pondok bahaya yang berlorong-lorong seperti labirin.

"Tuan ...," panggilnya, setelah memastikan Joachim tidak tidur di balik bukunya.

"Ya."

"Apakah menurut Anda ... saya pantas?" Ia menatap takut-takut, mata hijau bundar besarnya mulai berair tanpa ia sadari dan kendalikan. Dengan ragu-ragu, dia melanjutkan, "Saya penakut. Dan saya tidak pernah bepergian keluar kota sendirian sebelum ini. Saya ... takut saya tidak bisa melakukan hal-hal yang seharusnya saya lakukan ..."

Joachim meletakkan bukunya di pangkuan dan melepaskan kacamatanya. Ia memperhatikan tubuh Erika dari atas hingga bawah, terutama pada kedua tangannya yang terkepal di atas kakinya yang duduk rapat.

Bunyi duk dari buku yang ditutup mengejutkan Erika—meski begitu pelan dan Joachim tak bermaksud kasar. Lelaki itu masih tak berubah wajah dan cara bicaranya, "Nak, di masa muda aku bukanlah Joachim Beilschmidt yang orang-orang kira. Aku tinggal di perkotaan dan aku adalah anak seorang bangsawan.

Aku tidak biasa melakukan semuanya sendiri. Ayahku pergi dalam perjuangannya di Perang Dunia I. Ibuku juga tewas di kancah peperangan karena salah sasaran. Dia perawat yang bekerja dengan sukarela. Aku adalah anak tunggal, aku tidak bisa diam saja dalam kesepian meski masih banyak orang yang bisa melindungi dan melayaniku."

"Jadi ... Tuan bergabung dengan Palang Merah?"

"Aku masuk sekolah kedokteran dan berharap aku bisa seberani orangtuaku. Aku mengalami serangan emosional di saat-saat pertama tanpa mereka, tetapi aku tidak bisa mempertaruhkan masa depanku yang lebih emosional lagi jika aku terus berdiam diri."

"Begitu ..." Erika memandangi pangkuannya.

"Masa depanmu terlalu besar untuk ketakutanmu. Keberanianmu lebih berharga untuk dipertahankan daripada keraguanmu."

Kereta mulai melambat. Stasiun persinggahan sudah terlihat. Joachim menawarkan minuman untuk Erika, tetapi Erika menggeleng. Mereka tetap diam saja hingga setengah penumpang berganti dengan orang-orang yang punya tujuan lain.

Dari sini, perang sama sekali tidak terlihat. Erika merenungkan kata-kata Joachim, melekatkannya ke pikiran terdalam dan membawanya tidur.


Tiga hari, setelah berbagai hal yang terjadi di perjalanan, ringan dan besar—tetapi setidaknya tidak begitu besar hingga membuat Erika ketakutan dan berniat pulang—Paris menyambut mereka dengan cuaca yang mendung dan sedikit kurang bersahabat.

"Tidak apa-apakah jika kita hanya berjalan kaki? Tempatnya tidak terlalu jauh dari sini. Tidak ada jalur kereta, tanggung."

"Boleh saja."

Erika membiarkan Joachim berada beberapa langkah di depannya. Erika menggenggam tali tasnya dengan lebih kuat. Paris selalu dibayangkannya sebagai kota yang penuh dengan modernitas dan pakaian-pakaian indah—tetapi lihatlah. Perang telah mengubah wajahnya. Paris yang ia pikirkan tidak sesepi ini, sepesimis ini. Petak-petak jalanan terlihat begitu kesepian. Dengan orang-orang yang begitu takut dan terburu-buru melangkah di atasnya, mereka terlihat semakin menyedihkan.

Tak sedikit orang yang mengamatinya dan Joachim. Baru Erika perhatikan lelaki itu telah mengenakan tanda Palang Merahnya juga. Letaknya sedikit miring, gerakan berjalan lelaki itu begitu cepat.

Joachim mengantarnya ke tempat yang terselip di dalam gang, namun cukup besar untuk kelas hunian biasa.

Dan tanpa mengetuknya, Joachim masuk. Dia berbicara singkat sebelum berhenti di depan tangga, "Ikut aku sebentar ke ruangan kepala tim untuk memperkenalkanmu. Jika dia tidak ada di sana, kita langsung ke atas."

Ruangan yang dimaksud ada di dekat sebuah lemari besar yang punya logo serupa dengan yang di tangannya—logo itu begitu besar pada kedua belah daun pintunya. Terkunci rapat dengan sebuah gembok kecil. Erika tertinggal beberapa langkah, Joachim harus menoleh dan berdeham membuyarkan Erika yang sedang memandangi kandelir putih gading yang kotor dan dipenuhi kabang-kabang.

"Bisa kita masukkan dia sebagai bagian terakhir?" Joachim tak duduk saat menghadap perempuan umur tiga puluhan yang, ketika Erika amati baik-baik, tampaknya lebih tua dari penampilannya jika dinilai dari suaranya.

"Yang ke mana? Kita telah memutuskan untuk memecah tim jadi dua, 'kan?"

"Tim mana yang kurang?"

"Yang ke perbatasan Jerman-Prancis lebih sedikit. Ke sana saja? Yang akan berangkat ke sekitar Polandia sudah cukup, tapi lebih banyak orang untuk ke daerah sini akan lebih baik. Masalah kamp konsentrasi, Joachim, bukankah begitu?"

"Front Jerman-Prancis saja. Anak ini masih sangat muda dan ini pengalaman pertamanya. Aku tidak mungkin membiarkannya langsung pergi jauh ke tempat yang sangat asing. Anak ini cukup mampu berbahasa Jerman, tempat yang pertama cocok untuknya."

"Baiklah." Pandangan perempuan itu pun jatuh pada Erika. "Siapa namamu, Nak? Pengalamanmu?"

"Erika Zwingli. Saya ... pernah menjadi perawat pembantu, yang tak resmi, untuk teman Tuan Joachim yang bernama Ella di Italia. Saya harap saya bisa membantu."

"Sudah kutulis. Antarkan dia ke ruangan nomor dua, Joachim."

Joachim mengiyakan dengan isyarat anggukan. Mereka berdua beranjak.

"Tunggu, tunggu. Erika, penyuluhan singkat hanya akan dilakukan dua hari, setelahnya kalian akan diberangkatkan sebagai tambahan ke daerah utara. Belajar yang baik."

"Te-terima kasih, Nyonya. Saya akan melakukannya sebaik mungkin."


"Bekerjasamalah dengan baik," tukas Joachim mengakhiri perkenalan Erika yang ia wakilkan. "Erika, kita berpisah di sini. Barangkali lain kali kita akan bertemu ... dan bekerjalah dengan baik, Nak. Jaga dirimu."

Erika mengangguk khidmat. Suasana kamar kembali seperti tadi, dan setidaknya ada beberapa orang yang peduli padanya; memandang padanya dan tersenyum sambil mengangguk singkat.

"Eh, hei, di sampingku kosong. Mau tidur bersamaku di sini?" sapaan dari sudut ruangan menggerakkan Erika. Bahasa Italianya patah-patah dan dialeknya agak aneh. Perempuan di ujung sana menepuk-nepuk sisi kosong di samping tempat tidurnya.

Ada sekitar dua belas tempat tidur di ruangan besar itu, tetapi hanya empat yang berukuran besar, cukup untuk tiga orang yang kecil. Semuanya telah penuh, satu-satunya yang hanya dihuni tunggal hanyalah yang di ujung agak gelap sana, yang berdampingan dengan lemari-lemari yang dijejerkan. Di atas lemari ada banyak tas dan peti yang bertumpuk tak karuan, debu penuh menyelimutnya. Erika akan mendapatkan bagian sana ... tetapi tidak ada pilihan lain lagi kecuali di ranjang tingkat yang bagian atasnya sebagian diisi tas.

Wanita itu terlihat tak jauh berbeda dengannya, dari segi wajah, dan Erika langsung menemukan kebaikan di senyumannya. Barangkali hanya tubuhnya yang lebih besar—Erika merasa mereka sebaya.

"Aku bagian sini saja." Perempuan itu menggeser dirinya ke sisi dekat lemari.

Erika termangu hingga wanita itu mengulurkan tangannya dan berkata riang, "Erzsébet, Erika. Senang berkenalan denganmu."

"Ah ... ya, ya ... senang juga mengenalmu, Erzs ..."

Erzsébet terkekeh. "Namaku memang susah diucapkan. Jangan merasa malu dan segan. Kau bukan orang pertama. Sebut saja Erzsi." Senyumannya muncul lagi, sama ramahnya. Erika memutuskan untuk membalas dan duduk di sisi lain tempat tidur.


"Jadi ... sebelum ini kau tinggal sendiri? Turut sedih mendengar cerita tentang kakakmu ..."

Erika mencoba untuk tidak menganggap kisah barusan memberatkannya. "Terima kasih. Soal tempat tinggal ... tidak, aku tidak tinggal sendiri. Ada seorang teman dekat yang tidak ingin meninggalkanku sendirian," ucapnya perlahan, tangannya mengusap jari-jari kakinya yang ia gerakkan perlahan di atas tempat tidur untuk mengurangi dingin. Saat mengingat-ingat objek yang ia bicarakan, ia memeluk kakinya semakin erat.

"Oooh, teman dekat! Kedengarannya sangat menyenangkan." Erzsi pun bangkit dan menopang kepalanya, menghadap Erika. "Kalian menikah, ya?"

"Aa—ti-tidak ..." Kuping Erika pun memerah.

"Oops, maaf. Aku menghormati pilihanmu."

"Bu-bukan seperti itu," tutur Erika pelan-pelan sambil menenggelamkan kepalanya di balik lutut. "Ka-kami tetap berteman sampai saat ini. Tidak terjadi apa-apa ..." Merah di telinganya semakin menyala. "... Tetapi aku tahu aku tidak ingin kehilangan dia sampai kapanpun."

Mendengarnya Erzsi tertawa dan menyembunyikannya di balik bantal. "Ya Tuhan, terima kasih Kau masih menghidupkan remaja-remaja polos dengan cinta yang menarik di muka bumi ini. Sungguh aku senang mendengarnya." Dia pun kembali berbaring dan menatap langit-langit. "Omong-omong soal cinta, aku jadi rindu suamiku. Dia sedang apa, ya, sekarang ..."

"Erzsi sudah menikah?" Erika menoleh dengan cepat.

Kekehan kecil Erzsi sangat menarik. "Iya. Sudah lima tahun. Kami menikah muda ... tapi sepertinya ada masalah hingga kami belum bisa punya anak."

"Oh ... begitu. Semoga ... kalian bisa suatu saat nanti."

"Aku dan dia tak pernah terlalu mempermasalahkan hal ini. Yang terpenting ... ah, kami bisa hidup dengan ... sehat dan baik-baik saja ..."

Alis Erika sedikit bergerak mendengarkan perubahan yang agak kurang familiar untuk cara bicara orang riang sepert Erzsi. Tetapi dia memutuskan untuk tidak menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak ditimbulkan. "Sekarang ... dia di mana?"

"Di Stuttgart, Jerman. Sedang bekerja."

Erzsi tersenyum ke arahnya, namun Erika tak merasa patut bertanya lagi walau dia rasa dia begitu terdesak oleh rasa ingin tahu. Mata Erzsi tampak berbeda.


Mengalami kebingungan dan rasa terasing adalah hal lain. Hal satu lagi yang membuat Lovino terdiam cukup lama dan memandang tak mengerti sekaligus heran adalah setelah perkenalan kru-kru Luigi Torelli. Orang terakhir membuatnya berpikir hingga tengah malam, di atas tempat tidur sempit yang membuatnya tak perlu mengulurkan tangan untuk menyentuh langit-langit.

Tidak ada yang aneh, memang, dan perkenalan orang yang mengaku bernama Francisco Agosti itu berlangsung seperti normalnya—juga setidaknya dia tidak berbohong seperti yang Lovino curigai di detik-detik awal, nama yang tertera di seragamnya adalah sama. Mereka bahkan berjabat tangan setelah barisan dibubarkan karena formalitas bagi mereka tak cukup perlu, kata Francisco, yang mengaku hanya satu pangkat di atasnya dan tampaknya umur mereka tak terpaut jauh.

Namun, senyuman miringnya saat jabatan tangan selesai tidak bisa bergeser dari pikirannya.

Yang terjanggal dari yang terganjil: Lovino merasakan kemiripan pada diri Fracisco dengan dirinya.

Lovino membalik dirinya dan memandang dinding ruang kamar—yang sekarang menjadi sinonim 'ruang mesin'—dan menyangkal dirinya sendiri.

Tidak, tidak mungkin.

Melihat senyumannya, sekali lagi Lovino pikir, tidak mungkin.

Di atas segala kemungkinan yang ada, mana mungkin ...

... Feliciano masih hidup.


Lovino tertidur satu jam kemudian, dan bermimpi hal-hal yang terjadi di masa lampau.

"Kakek ingin sekali mengenalkan kalian pada sepupu-sepupu kalian di luar sana."

"Apa itu artinya kita akan berlibur keluar dari desa, Kek?"

"... Tsk. Perjalannya pasti akan merepotkan."

"Kakak takut, ya?"

"Ah, kalian ini. Perjalanan keluar dari desa itu tak pernah tak menyenangkan! Sebenarnya, perjalanan apa, sih, yang tidak menyenangkan? Semuanya mengasyikkan! Kapan-kapan kita pergi, ya! Mungkin kalau uang Kakek sudah terkumpul, kita bisa ke Roma untuk bertemu dengan saudara-saudara jauh kalian!"

Lovino duduk begitu lama setelah terbangun dan menyadari apa mimpinya.

Ia menggeleng. "Tidak. Mereka semua sudah mati. Lovino, kembali ke dunia nyatamu. Kembali, kembali. Kembali. Sekarang hanya ada kau dan Erika ... jangan tenggelam."

Bukan Lovino yang biasanya, berbicara pada dirinya sendiri dalam gumaman-gumaman yang nyata terdengar di sebuah dini hari yang sepi di atas lautan.

Dia menyelinap keluar sebentar. Ada salah satu kru yang berjaga, tapi tak melihatnya yang mencoba untuk mencari celah agar bisa melihat dunia luar.

Laut. Hanya laut. Bagian dalam laut.

Laut Mediterania tak begitu menenangkan seperti yang dia pernah pikirkan.


Tugas pertama di agenda yang dikantongi Lovino memang hanya berpatroli di Mediterania. Dia, walau merupakan orang yang dipromosikan mendadak ke tingkat letnan dua secara mendadak, masihlah merupakan orang yang kecil di sini. Tugasnya hanya di depan mesin radio dan sesekali memandangi lautan dari jendela si kapal selam—sembari memikirkan apakah keputusannya tepat dan hidupnya berjalan seperti yang seharusnya—atau sudahkah ia melakukan hal paling maksimal yang bisa dia usahakan.

Acara makan dilakukan terpisah. Atasan—Kapten, Mayor, dan Kolonel—makan di tempat yang berbeda. Lovino diberi pengertian bahwa semua itu dilakukan demi menjaga rasa hormat dan wibawa, sebuah jarak yang membedakan dalam arti-arti tertentu. Tidak bermaksud menyambungkannya dengan kesombongan, tentu saja, karena semua itu ada harganya. Para petinggi adalah penanggungjawab nyawa anak buahnya, dan itulah yang 'membedakan' mereka. Jika mereka berakting sebagai rekan biasa, maka rasa tanggung jawab menghilang karena kesetaraan dan mereka akan sibuk pada diri mereka sendiri. Protokol yang telah ditentukan, katanya.

'Kata siapa'—adalah hal yang mengejutkan.

Yang memberitahu Lovino, menceritakan padanya hal-hal kecil nan sepele di dunia militer kelautan, adalah Francisco.

"Kupikir dengan ikut dinas kemiliteran, aku bisa melarikan diri. Ternyata tidak. Ayah angkatku masih mengawasi lewat sini melalui ...," dia berkata dengan suara lebih rendah kemudian, "... Kolonel."

Lovino tercenung mendengar cerita Francisco yang begitu panjang dan berujung pada cerita tentang 'ayah angkat'. Lelaki itu kembali menggeleng, menolak dirinya sendiri berikut prasangkanya.

Ruang radio semakin pengap. Kabel-kabel yang mencuat dan peralatan yang menonjol di sana-sini tak begitu rumit jika dibandingkan dengan pikirannya sendiri. Matanya sesekali menanar.

Dia memutuskan pada akhirnya untuk bertanya hal pemancing setelah dia mengendalikan pikirannya sendiri.

"Omong-omong ...," katanya, menggantung, cukup lama, sambil meninggalkan posnya. Tidak ada yang perlu dikabarkan karena patroli berkisar pada level aman. Tidak ada ancaman. "... Apa kau pernah mengalami satu kecelakaan yang membuatmu trauma dalam hidupmu?"

"Hmmm ... tidak ada, sejauh ingatanku," jawab Francisco tenang sambil mengangkat bahu. "Kalau cerita tentang meninggalnya orangtuaku bisa disebut kecelakaan traumatis, maka aku akan menjawabnya. Namun mereka juga meninggal karena sakit, bukan kecelakaan, dan aku malah masih ingat wajah dokternya saat mengatakan ."

Tidak, tidak ada manipulasi dalam ceritanya, Lovino memutuskan. Francisco bukan orang yang ia harapkan. Tidak ada hal yang dramatis dalam hidupnya, yang mengantarkan Lovino pada kesimpulan yang ia kehendaki: Francisco adalah adiknya yang hilang.

Namun bagaimanapun dia menyangkal dirinya sendiri, ketika melihat wajah lelaki itu sekali lagi, walau hanya sekilas, dia merasakan kemiripan yang terlalu mustahil untuk sebuah alasan berupa 'kebetulan' belaka.

"Kau, Lovino?"

Lovino menatap peralatan komunikasi dari tempatnya berdiri di samping jendela bundar yang hanya membukakan pandangan pada air laut.

"Lovino."

"Ah—memanggilku?"

"Tentu saja. Aku bertanya balik padamu."

"Kecelakaan, ya ..." Lovino mendengus dalam hatinya sendiri. "Bukan kecelakaan yang aku alami, tapi banyak hal yang membuat trauma. Masa laluku sangat keras dan menyebalkan."

"Tetapi tanpa hal-hal itu, kau tidak akan jadi dirimu sendiri yang sekarang, 'kan?"

"... Kurasa itu ada benarnya." Tetapi Lovino tidak bisa menahan diri untuk tidak menggulung jari-jarinya sendiri. Satu harapannya pupus. Dan dia juga belum bisa melupakan cerita Pablo tentang kepala keluarganya yang hidupnya dirampas begitu saja hanya karena kepentingan dan perlawanan. Bodoh sekali. "Kakekku ... adikku ... dan belakangan baru aku tahu ... orangtuaku ..."

Tidak Lovino ketahui, Francisco tersenyum miring. "Aku tahu."

Lovino tersentak. Ia berbali cepat. "Apa?!"

Francisco mengangkat bahu. Senyumnya semakin tidak menyenangkan untuk dilihat, terutama sekarang Lovino memandanginya lekat-lekat. Memerah telinganya dan jari-jarinya mencetak belahan-belahan menyakitkan di telapak tangannya.

"Aku ke atas dulu. Mengawasi beberapa hal. Ada kelasi yang membuatku jengkel kemarin. Semoga dia bekerja dengan baik."

"Kita belum selesai—"

Francisco berhenti di tangga. "Karena ini memang seharusnya belum selesai, maka kita tunda hingga lain kali, Lovino. Kita masih punya banyak waktu di laut untuk cerita-cerita yang akan membuatmu lebih sadar."

Lovino membuka mulut, tetapi dia mundur, menyadari posisinya.

Namun dia menghempaskan kekesalannya dengan meninju jendela kaca dan menggeram sambil mengacak rambut di atas meja komunikasinya.

"Dunia ini sialan!"


Paris mulai berlalu di jendela Erika. Erzsi di hadapannya sudah sibuk dengan sebuah buku catatan, dan penanya yang gemuk pun menari mengisi buku dengan kertas yang telah menguning.

"Erika." Erzsi menutup bukunya setelah menghabiskan tiga lembar setengah. "Mengantuk, ya?"

"Hm ... tidak." Di hadapannya, Erika pun memeluk tangannya sendiri. Salah satu tangannya mengusap badge di lengan yang lain. "Erzsi ingin bercerita?"

"Aku adalah orang yang tidak tahan untuk diam saja ketika aku sedang tidak melakukan apa-apa," sahutnya sambil terkekeh. "Suamiku kadang-kadang sebal dengan hal ini dan dia menutup wajahnya dengan koran. Dan kulihat kau adalah seorang pendengar yang baik walaupun kau jarang berbicara."

"Lovino juga pernah bilang begitu ..."

"Oooh, jadi namanya Lovino!" Erzsi tiba-tiba antusias. "Apa katanya saat melepasmu ke sini? Apa dia memelukmu? Menciummu?"

"Ti-tidak sampai seperti itu ..." Erika menunduk dan warna wajahnya hanya membuat Erzsi terkikik keras. Erika belum selesai dengan kata-katanya, "Dan dia tidak tahu aku sekarang berada di sini ... dia hanya tahu bahwa aku akan pergi menjadi relawan jika dia sudah berdinas. Dia pergi duluan, dan baru saja surat darinya tentang keberangkatannya sampai padaku, beberapa hari sebelum ini."

"Eh, dinas? Dia terpilih di dinas militer, ya?"

"Dia masuk secara sukarela ..."

"Mmm, Italia, ya. Seandainya suamiku masih berdinas, barangkali mereka bisa bertemu. Jerman dan Italia satu kubu, 'kan? Lovino di mana, angkatan darat, laut, atau udara?"

"Angkatan Laut, Regia Marina. Suamimu masih berdinas?"

"Tidak lagi." Tiba-tiba saja senyuman barusan pudar. Erzsi memandangi jendela, pada kaca yang memburam dan daerah sunyi yang mulai dan terus melaju. "Seandainya kereta ini singgah sebentar di Stuttgart, aku ingin sekali pulang. Sayang sekali ..."

"Dia ... baik-baik saja, 'kan, Erzsi?" suara Erika nyaris tidak terdengar. Sejenak kemudian dia menyeseali ucapannya.

"Ya. Baik-baik saja. Saat aku pergi dia ... masih sehat dan bekerja seperti biasa. Semoga dia tak terlalu merindukanku sampai sakit," wanita itu berucap ringan, kemudian disertai tawa.

Erika sedikit lebih lega. "Dia sendirian di sana?"

"Ya. Dia tinggal di rumah kami—yang sangat kecil. Adiknya masih dinas militer, dan kurasa pangkatnya akan terus naik. Sepertinya saat ini dia berada di sekitar pesisir selatan Eropa."

Erika hanya mengangguk-angguk.

"Hei, omong-omong ... kau sudah lama bekerja pada nyonya yang kauceritakan itu?"

"Ah ... aku sudah lupa berapa lama. Yang jelas ... setelah aku lulus sekolah menengah pertama dan Lovino masuk akademi teknik."

"Mmm, cukup lama juga. Kurang lebih sama denganku. Aku juga sudah tidak ingat kapan pertama kali aku mencoba mengobati orang lain. Namun salah satu yang paling kuingat adalah saat sepupuku, yang sekarang tinggal di Finlandia, saat kami kecil. Kepalanya berdarah saat dia jatuh dari pohon. Dan sejak itu aku berpikir bahwa ... menolong orang lain membuatku benar-benar hidup."

"Begitu ..."

"Ya, aku berpikir seperti itu karena ... aku sempat merasa tidak bisa hidup sama sekali setelah orangtuaku pergi meninggalkanku. Aku anak tunggal, dan aku dibiarkan begitu saja bersama sepupuku. Tidakkah itu mengerikan? Ayahku pergi begitu saja di suatu malam musim dingin, dalam keadaan mabuk dan baru saja memukuli adiknya—bibiku yang sekarang tinggal di Praha. Dan ibuku ... dia berkali-kali berselingkuh selama setengah masa pernikahan. Dia langsung menikah begitu dia diceraikan. Aku sangat dibedakan dari anak-anak suami barunya yang kaya hanya untuk mengambil hati lelaki sialan itu."

Mata Erika berhenti berkedip. Mulutnya terbuka sedikit, dan tiba-tiba saja Erzsi terdiam.

"Astaga ... maaf! Aku membuatmu kaget dan ketakutan, kah?"

"Eeeh, ti-tidak! Justru aku ... aku merasa bersalah karena membuatmu harus menceritakan itu ..."

"Hal itu bukanlah lagi luka untukku," Erzsi menyandarkan tubuhnya perlahan-lahan. "Bekas luka, ya, memang ... tetapi aku tidak merasa sakit lagi. Mereka tidak pernah benar-benar menyayangiku, setidaknya dengan cara yang seharusnya dan biasanya dilakukan oleh orangtua. Aku menceritakan ini pada orang lain karena aku tidak ingin ada Erzsi kedua. Aku tidak perlu merasa bersalah pada mereka, karena alasan yang barusan. Lagipula ... meski ada banyak hal sulit yang dilewati, aku benar-benar bahagia aku bisa bertemu suamiku dan hidup bersamanya."

"Mm hm ... kau benar. Semoga ... tidak ada lagi seseorang sepertimu."

"Semoga." Namun Erzsi mengangkat bahu. "Namun, sesakit apapun masa laluku ... aku tetap tidak sanggup menyaksikan sakit orang lain saat aku bertugas. Luka paling parah apa yang pernah kautangani, Erika?"

"Ah ... awal tahun ini. Seorang bapak, tangannya terkena luka bakar yang mengerikan," Erika menceritakannya sambil mendesis. "Dan aku juga pernah menangani seorang anak yang terjatuh dari loteng rumahnya. Kepalanya berdarah ... banyak sekali. Yang membuatku sangat sedih dan takut adalah tangisannya. Dia terlihat sangat menderita ..."

"Persiapkan dirimu. Aku sudah pernah beberapa kali keluar-masuk kamp konsentrasi dan keadaan di dalamnya ... akan membuatmu ..." Erzsi sendiri sapai menutup matanya dan memijat pangkal hidungnya. "Pokoknya, rasa kemanusiaan benar-benar berperan di tugas khusus ke kamp konsentrasi."

"Aku ... akan berusaha."

Entah hanya perasaannya saja, atau kereta ini bertambah cepat membawa tubuhnya, semakin mendekatkan dirinya pada hal yang masih belum terlalu siap dihadapinya.

chapter 6: end.


a/n: sebagai pengingat aja, ini fanfiksi historikal, jadi meskipun ada sebagian hal yang sesuai dengan histori, ada pula rekaannya, hehe. contohnya ruangan radio tempat lovino kerja. di sumber manapun, sejauh yang aku teliti lewat internet, nggak pernah ada fotonya, jadi aku hanya mengandalkan imajinasi di sini—bahwa di samping meja komunikasinya, ada jendela bundar kecil 8"D imaji ruangan kapal selam di kepalaku masih terbatas, tapi cukup terbantu karena buku Shadow Divers (satu buku yang 'mengubah hidupku', bisa kubilang begitu).

and then, don't be hesitate to point out if i made any odd things! terima kasih untuk semua pemberi review, pemijat tombol fave, dan semua pembaca!

dan siapa itu Francisco? dia mirip dengan Italy bersaudara, tapi bukan Seborga. jadiiii, siapa dia?

sssh, let me tell you. awalnya aku bermaksud bikin aph vatican (dia pernah muncul sekali dalam strip hetalia dari himapapa), tapi karena pertimbangan tertentu, kuubah. dia oc; personifikasi dari kota Roma. aph roma. get the point? XD