luigi torelli
Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya. penulis tidak mengambil keuntungan material apapun atas pembuatan karya; ditulis hanya untuk kesenangan. perhatian: ini adalah fiksi penggemar historikal; meski mengandung unsur sejarah, tetap ada aspek-aspek bersifat rekaan di dalamnya
Pairing/Character: Romano/Liechtenstein; OC!Roma, Hungary. Genre: Adventure/Family/Romance. Rating: T. Other notes: WWII!AU, Naval Army, Regia Marina.
(Luigi Torelli merapat di Bordeaux setelah Lovino mencoba berdamai dengan kehidupannya sendiri. Erika tidak bisa lari dari dunia yang tak pernah adil.)
Lovino menyandarkan keningnya pada tembok baja yang dingin. Semua orang telah tidur, kecuali yang berjaga di depan mesin komunikasi dan ruang pengawas. Kamar terasa semakin sempit, langit-langit terlihat merendah dan tempat tidur meninggi. Klaustrofobia ini makin menggiling mentalnya.
Francisco, lucunya, bertukar ruang dengan teman di seberang tempat tidur Lovino dan sekarang mereka berhadapan. Punya masalah pribadi dengan teman sekamarnya, katanya, dan desas-desus yang beredar adalah karena orang yang 'dimusuhi' Francisco itu dulu pernah merebut tunangannya. Namun Lovino sangsi. Francisco dari Roma, sangat dekat dengan Vatikan, sementara orang yang dimaksud anak Piedmont tulen. Dugaannya jadi menjurus ke masalah pribadi yang lain; dengan dirinya.
Yang bisa saja berarti Francisco ingin mengawasi dirinya.
Satu minggu setelah dinas militer, Lovino ingin melompat keluar dari tabung ini dan berenang menuju daratan Italia.
Saat-saat timbul ke permukaan adalah waktu yang paling dinanti. Lovino bergegas keluar ruang kerja, bahkan yang pertama menaiki tangga saat Kapten mengatakan lewat letnan asistennya bahwa keadaan mereka aman untuk menampakkan diri di atas laut lepas.
Ia menghampiri dek dan menapaki pelan-pelan tepian kapal saat kecepatan kapal terasa menurun. Tempat itu begitu sempit untuk dipenuhi kru-kru, desainnya yang langsing dan tak berbirai membuat siapapun tak bebas untuk menikmati angin laut. Namun meski hanya dengan berdiri dengan bersilang tangan, Lovino merasa sedikit lebih hidup.
Tak ada daratan terlihat, tetapi alam bebas cukup untuk memenuhi harapan pandangannya.
Jika bercerita tentang laut di depan Lovino, ada lebih banyak bayangan tentang Kakek yang datang ke depan mata Lovino. Kakek mengajarinya tentang laut, sedikit tentang berenang, ikan-ikan dan pelayaran. Laut adalah 'dunia lain tempat', kata Kakek, yang punya lebih banyak misteri daripada penjelajahan di atas daratan.
Dia sekarang mengarunginya, tetapi ia merasa kosong. Seharusnya dia bisa berbahagia. Menjelajah apa yang sebelumnya cuma bagian dari mimpi-mimpi dan dongeng sebelum tidur dari Kakek. Namun sekarang dia bukan lagi berada di atas kotak besi tua berselimut kelabu di tepi pantai, bukan juga di dalam bilik dengan dua potong lilin di atas piring usang. Dia benar-benar mengarungi laut ...
... tetapi ini bukan seperti yang dia bayangkan.
"Pasti kau melamunkan kakekmu."
Lovino menepis tangan Francisco dari bahunya. "Omong kosong."
"Kita bicara serius, Prajurit."
Francisco menyilangkan tangan di hadapan pembatas.
"Aku merasa hidup dengan sia-sia."
Francisco tak menyahut. Lovino juga tak berminat mendesaknya.
"Aku merasa tersesat. Aku benar-benar bingung. Aku bergabung pada—"
"—pada pihak yang membunuh kakekmu. Jangan tegaskan itu lagi karena aku bosan mendengarnya. Hal itu bahkan tertulis di wajahmu, tahu." Francisco mencoba untuk tidak tersenyum seorang diri. Tak sopan, dan dia mencoba menjaga dirinya di dalam batas. "Pernahkah kakekmu melarangmu untuk bermimpi? Pernahkah dia memaksamu untuk menghindari banyak hal yang kauminati? Dia memang hidup untuk ideologinya, untuk Italia yang dia impikan, tapi dia tak mau mencampuri hidupmu. Juga adikmu. Dia tidak ingin menarik kalian ke dalam lingkaran berbahaya. Dia hidup dan mati untuk melindungi kalian dan apa yang kalian inginkan sebagai diri sendiri."
Lovino mendesis. Dia mengacaukan rambutnya lalu mundur. Dicegat oleh kelanjutan pembicaraan Francisco,
"Sebelum kau mengetahui sepak-terjang kakekmu, apa yang lebih dulu kaumiliki?"
Lovino menarik napas dan menahannya kuat-kuat. "Cita-citaku."
"Dan dia tak melarangnya. Aku tidak perlu menegaskan berkali-kali bahwa dia membenarkanmu untuk melakukan apa saja yang kaumau. Dia mati untuk melindungi masa depanmu. Jika dia tidak suka kau berada di sisi yang berseberangan dengannya, maka saat itu dia tidak akan mau menyerahkan dirinya."
Mereka kini berjarak lebih jauh. Lovino kehilangan hasrat untuk menatap dunia terbuka. "Satu hal terakhir, Fran. Sebelum kita mengakhiri topik ini dan aku ingin menutup cerita tentang Kakek selama-lamanya."
"Katakan saja."
"Dari mana kautahu semua ini, tentang penembakan Kakek dan motifnya untuk mati menjadi martir bagiku dan adikku?"
Mereka bersitatap dengan cara yang tidak biasa. Francisco sangat serius dan Lovino bisa saja mengamuk jika dia tidak sedang berada dalam periode dinas.
"Bagaimana kalau kubilang aku berada di tempat penembakan kakekmu?"
"Kau—" sambar Lovino, segera berhenti dua langkah di depan pemuda itu sebelum dia benar-benar lepas kendali mencekik Francisco. Dia menahan dirinya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya.
"Tidak. Aku bohong." Francisco tampak tak bersalah. Sejurus kemudian dia tersenyum miring, sangat tipis, tetapi tetap membuat Lovino berjengit.
"Jangan main-main, bangsat ..." Lovino melepaskannya dengan berbisik. Ia merasa cukup puas dengan sumpah-serapahnya. "Bedebah kelas kakap."
"Aku tahu karena ayahku, suami dari keponakan kakekmu, berada di tempat eksekusi. Dia menjadi saksi. Secara tidak sengaja."
"Maksudmu—"
"Ayahku datang ke tenda penampungan untuk mencari dan menyelamatkan keluarga Vargas. Dia mengikuti orang-orang berbaju hitam yang mencurigakan—dan dia melihat dengan mata-kepalanya sendiri."
"Lalu ayahmu menceritakannya padamu? Tsk. Kehidupan memang kurang ajar."
"Ya, memang kurang ajar," tukas Francisco, ia mengangkat bahu. "Buktinya, setelahnya Ayah dikejar-kejar mata-mata. Sepuluh hari setelah menyaksikan hal itu, tiga hari setelah ia pulang ke rumah kami di Roma, dia ditembak mati saat pulang bekerja."
Mendadak Lovino merasakan gumpalan yang sangat besar menyumbat tenggorokannya. Ia menggeleng-geleng tak sadar, tak percaya hingga dia terengah-engah.
"Kau tidak salah dengar."
Francisco meninggalkan dek lebih dahulu.
"Sebelah sini, Erzsi—atau Erika! Tolong aku!" Arianna berteriak dari ujung ruangan.
Ruang sempit empat kali empat meter itu seketika penuh ketika penumpang-penumpang kereta yang sakit dilarikan ke sana. Jumlahnya tak sedikit, hingga semuanya berhimpitan dan berbagi tempat berbaring atau duduk. Beberapa mengalah, dengan susah payah mencoba bersandar saja dan membiarkan yang lebih sakit berbaring di kakinya.
Erika membiarkan Erszi menghampiri Arianna. Seorang anak kecil di hadapannya muntah-muntah dan Erika terus membantu memijat punggungnya.
"Erika, bantu aku!" suara Erzsi nyaris tenggelam di dalam keributan. Dua-tiga paramedis yang baru berdatangan.
Arianna memberi isyarat tepukan pada pundak Erika dan mereka bertukar pandang.
"Bantu Erzsi. Pasien itu berbahasa Italia dan terus meracau—Erzsi sendiri tidak bisa mengerti."
"B-baiklah ..."
Ketika dihampirinya orang yang ada di hadapan Erzsi—sebagai satu-satunya orang yang berada di tempat tidur. Napasnya tersengal, tubuhnya begitu kurus dan kakinya luka, yang mana telah membusuk. Keadaan kamp yang tidak steril membuat lalat-lalat berdatangan mendekati luka itu, semakin banyak ketika Erika tiba. Ia meracau seperti yang dikatakan, tetapi bukan itu yang Erika perhatikan.
Rambut orang itu pirang, sedikit panjang, matanya sayu—seperti mata Basch saat dia sakit tifus dahulu, saat Erika berada di tingkat ketiga sekolah dasarnya.
Erika meyakinkan diri bahwa ini bukan kakaknya, mendesak dirinya untuk percaya. Hidungnya berbeda, tubuhnya pun tak sama, model wajahnya tak sama. Dia dekati Erzsi dan dia temani laki-laki itu. Bicaranya memang tak karuan, kening Erzsi mengerut bingung, tetapi Erika meyakinkan sahabatnya, tenanglah, aku akan mencoba.
Napas lelaki itu semakin memendek. Matanya liar, tetapi sejurus kemudian menuju ke atas dan dia meracau semakin cepat, semakin tak jelas hingga berakhir saat napasnya sampai di tenggorokan dan semuanya pun berhenti begitu saja.
Napas Erika juga tertahan. Dia baru saja menyentuh luka di kaki lelaki itu untuk membersihkannya.
"Semoga Tuhan menerimamu ...," Erzsi menyimpulkan dengan getir. Tangannya juga gemetar saat dia menutupkan kelopak mata si lelaki malang.
Erika menelan ludah. Dia menarik tangannya yang memegang saputangan.
"Apa yang beliau katakan tadi, Erika?"
"A—aa ... di-dia ingin agar kita ... menjaga adiknya ... kurang lebih begitu ... dia terus mengulangi hal itu ... lalu dia juga ingin ... agar adiknya tetap sehat dan ... tidak dibunuh ..."
"Begitu ..." Erzsi pun menarik selimut tipis hingga ke wajah jenazah. "Mari kita cari yang mana adiknya."
Hingga Erzsi mengumumkan di tengah-tengah ruangan, Erika masih bergeming.
Saat sekeliling telah sunyi dan jam malam telah diterapkan, petugas penjaga mempersilakan paramedis untuk keluar dari kamp dan kembali ke tenda mereka, dua ratus lima puluh meter dari lokasi. Erzsi mencari-cari Erika—hingga harus mengecek wajah teman-temannya satu per satu. Penerangan amat menyedihkan, hanya dua orang yang memegang suluh, banyak dari mereka harus terjebak berkali-kali di lumpur di sepanjang jalan pulang.
Erika berada di paling depan. Erzsi menghampiri dengan cepat dan meraih bahu gadis itu—yang ternyata begitu kaku dan dingin.
"Kau diam terus sejak tadi, Erika ... sesuatu mengganggumu?"
Erika menggeleng ragu.
"Erika, serius."
Airmata Erika meleleh.
Erzsi pelan-pelan merangkul bahu Erika. "Ini ... kali pertamamu menghadapi pasien yang meninggal, kah?"
Tak diiyakan, tak juga disanggah, tetapi Erzsi paham dengan mudah.
"Aku juga seperti itu di kali pertamaku ..."
Erzsi mengangguk maklum. Erika terus berjalan tanpa membiarkan dirinya dikenai cahaya. Temannya membawa suluh mendekatinya, tetapi ia tetap menunduk. Kakinya dilahap lumpur, dia menariknya begitu saja. Tak mau tahu pada kaus kaki yang bernoda hingga lewat dari mata kaki.
"Ia mengingatkanku pada Kakak ..."
Erzsi mencoba menebak apakah cara kematian kakak laki-laki Erika sama dengan lelaki itu, tetapi dia sama sekali tak berani bertanya. Ia melepaskan Erika dan membiarkan gadis itu menutup bibirnya rapat-rapat.
Erika mencelus, kenapa aku harus berada di sini?
"Aman," simpul Lovino. Dilepaskannya headset lalu diletakkannya di atas meja sambil memberikan kode jempol pada rekan radioman-nya. "Aku tidak menerima sinyal yang indikasinya berbahaya untuk kita. Yang terdekat hanya ada satu armada patroli Inggris."
"Hanya satu armada?"
Lovino mengangguk. "Sejauh pengamatanku."
Rekannya berdiri dan melapor. Lovino masih duduk di depan meja komunikasi lalu menatap peralatan, tombol-tombol, serta kabel yang mencuat di beberapa bagian. Ia menggerak-gerakkan jarinya gelisah sementara menunggu kepastian dari ruangan lain. Sesekali dia melepaskan tegang dengan menggemeretakkan jari-jarinya—yang tak lagi berbunyi karena terlalu sering dipatahkan.
"Kita sedang bergerak menyelinap." Rekannya kembali, tak disadari oleh Lovino karena matanya terus-terusan melupakan sekeliling, hanya terpejam seolah dia bisa membaca teks doa saat menutup mata. "Semoga menjadi malam yang baik," lanjutnya, ketika Lovino membuka mata dengan terkejut.
Lovino membebaskan dirinya dari lilitan kabel headset, berdiri lalu menaiki tangga kecil. Tangga penghubung itu seharusnya disekati pintu, tetapi kali ini semua kru terlalu sibuk untuk sekadar memperhatikannya. Lovino bahkan tak lagi melihat para kelasi sedari tadi siang, semuanya sibuk di bawah.
Selang sekian lama hanya bersandar di puncak tangga dan melupakan hasratnya untuk pergi ke ruangan lain, Lovino akhirnya mencari jendela terdekat. Memperkirakan tempat mereka berada.
Ia hanya bisa menyaksikan gelapnya malam di dalam gelapnya lautan, dan berharap Angkatan Laut Inggris tak begitu beruntung mendeteksi keberadaan mereka.
Lovino sudah mampu merasakan dekatnya Selat Gibraltar dengan mereka. Hidungnya nyaris menyentuh kaca jendela, ia berharap bisa mencium bau laut dengan cara yang sama lagi dengan yang sering ia nikmati bersama Kakek bertahun-tahun yang lalu.
Namun sepertinya sekarang bau laut tak lagi sama, semenjak ia menjejak Luigi Torelli—tidak, tidak, bahkan sebelum itu. Semenjak awal tahun, sejak ia mendengar bahwa gejolak Eropa begitu parah dan dramatis serta menyedihkan, entah mengapa dia merasa alam tak lagi ramah seperti yang di masa lalu.
Laut sekarang berbau darah.
Lovino mengenyahkan pikiran-pikiran itu, lalu fokus kembali pada lautan seluas pandangannya bisa menikmati.
Sepi sekali di sini.
Erika, sedang apa kau di sana?
Senyap sekali ketika Mayor mengumpulkan beberapa kru penting di ruangan utama kapal. Semuanya menatap tegang, dan Lovino, yang bersembunyi di balik Kapten, dengan tangan tersilang di balik punggung, menanti dengan was-was tanpa mengedipkan mata barang sebentar.
"Kita berhasil menyelinap dengan aman."
Sorak-sorai digantikan senyuman tipis dan anggukan dari beberapa atasan pada koleganya.
Bordeaux telah menunggu di depan sana. Perjalanan masih panjang, memang, tetapi menaiki satu anak tangga lebih baik daripada bertahan memandang.
Di Bordeaux, tanda-tanda musim gugur telah terlihat di langit ketika mereka keluar dari perairan. Kapten berperintah melalui bawahannya bahwa mereka akan disiapkan untuk turun di pelabuhan terdekat. Lovino tak berprasangka apa-apa.
Lovino mendengar kekalahan Prancis dan menyerahnya mereka pada pihak yang dahulu mereka tekan di Perjanjian Versailles. Hutang mereka pada Hitler telah dibayar, begitu kata sesama koleganya saat bercerita tentang Prancis yang begitu mudahnya ditelan oleh rasa takut pada Nazi.
Cukup memalukan untuk kelas negara seperti Prancis, simpul salah satu temannya, tetapi Lovino tak ambil pusing dan tak memikirkan apa-apa. Keadaan selalu berbalik, hanya masalah pada waktu yang kadang-kadang membuat manusia tak sabar, begitu komentarnya sambil berbisik pada yang lain. Tampaknya Francisco mendengarnya, dan mereka sempat saling lirik dengan aura tak menyenangkan saat Lovino selesai menggumamkannya, tetapi tak terjadi apapun yang penting setelah itu. Hubungan mereka tidak jelek, tetapi tidak juga menjadi bagus setelah apa yang terjadi di dek.
Ternyata, perintah sebelumnya adalah angin segar.
"Kita akan bergabung dengan armada Italia lain di Bordeaux." Kemudian tambahan yang membuat kebanyakan prajurit langsung merayakannya dengan menyulut rokok bersama-sama dalam rona bahagia, "Diberikan libur dua hari di daratan."
Di Bordeaux, sudah ada beberapa armada yang tiba lebih dulu, beserta dengan peleton-peleton prajurit yang mencari angin di atas kapal-kapal mereka. Kru Luigi Torelli, setelah dibubarkan usai pidato singkat ketua ekspedisi mereka, langsung menyeberangi jarak kecil antara kapal dengan dermaga. Mereka menginjak kayu pelabuhan seakan satu tahun telah berpisah dari daratan.
Kru-kru kapal lain yang tampaknya telah menanti kedatangan mereka menyambut dengan tangan terbuka, rangkulan hangat, dan rokok ala Prancis yang dibagi-bagi berikut dengan sulutan api cuma-cuma—yang diakhiri dengan jabat tangan familiar.
Lovino melangkah saat kapal sudah hampir kosong, hanya menyisakan beberapa petinggi yang berbicara serius mengenai strategi. Ia tersenyum tetapi tak seorang pun dibiarkannya melihat senyumannya lama-lama. Dipandanginya sekeliling dengan puas.
Orang-orang berkumpul dengan yang lain, yang barangkali adalah teman satu pelatihan atau satu barak. Reuni di mana-mana, beberapa bahkan mulai membicarakan soal wanita dan tempat-tempat khusus yang sekiranya paling tersembunyi. Darah muda yang menggelegak, Lovino menyeringai, lalu mempertanyakan apakah dia sendiri normal? Dia tidak tertarik.
Matanya masih berkeliling ketika telinganya menangkap pembicaraan setengah berbisik dari dua orang perwira rendah yang berjalan di belakangnya, bagaimana wanita-wanita Prancis? Lovino melirik saat dua orang itu terkekeh-kekeh melewatinya dari sebelah kanan.
Sebelah kiri cukup berisik dengan tawa para perwira yang entah bercanda apa—tetapi Lovino sayup-sayup mendengar panggilan yang berbeda sendiri dari keramaian.
"Yo! Kau mendengarku tidak?!"
Derap kaki mendekat. Lovino berhenti. Sejenak, termangu, hingga kemudian dia disambar dari kiri dengan pelukan ganas.
"—Sial kau! Pablo?!"
Pablo tertawa keras sambil menepuk-nepuk punggung Lovino. "Kita bertemu lagi, Lelaki Sinting! Astaga, tidak kuduga!"
"Kurang ajar, seandainya aku tahu aku akan bertemu kau di sini, aku tidak akan turun!"
Mereka lalu tergelak bersama. Pablo masih memukul punggungnya berkali-kali.
"Haaah. Udara Prancis. Kali kedua aku menghirupnya," mulai Pablo saat mereka mulai berjalan lagi, tanpa tujuan yang berarti.
Lovino mengangkat bahu. "Aku baru pertama kali."
"Ha, kau memang tidak pernah keluar dari Italia seumur hidupmu, bukankah begitu?" Pablo masih tertawa bahkan saat Lovino melibas bagian belakang kepalanya. Matanya mendelik pada toko pelabuhan di kejauhan, di tengah-tengah keramaian yang nyaris menenggelamkannya. "Omong-omong, mau rokok?"
Lovino menatap kawannya yang tak memegang apa-apa. "Mana, memangnya?"
"Kaupikir aku merokok?"
Kerut-kerut kening Lovino melengkung sepert parit. "Memangnya kau pikir aku juga?!"
Tawa meluncur lagi.
"Kupikir kau sudah berubah saat menemui laut," komentar Pablo. "Ternyata kau masih Lovino yang sama."
"Banyak yang terjadi. Bahkan belum sebulan aku berada di sana. Aku mengetahui lebih banyak hal dari yang seharusnya."
"Berlayar memang memberikan kita lebih banyak pengalaman. Aku juga, Bung."
"Tidak, ini tidak seperti yang kaualami. Atau kaupikirkan. Juga ... orang lain alami." Lovino menggaruk kepalanya, untuk sesaat sorot matanya kosong. "Ada beberapa hal yang harus kuceritakan."
"Ayo, katakan saja."
"Yaaa, itu pun jika kau tidak sibuk dengan wanita." Lovino menapaki tanah pelabuhan yang keras, terlihat asing meski di setiap jengkalnya.
Pablo berhenti melangkah. Ia meninju lengan Lovino setelah sadar maksud singgungan Lovino. Rekannya mengaduh sambil menatapnya jijik.
"Menurutmu aku juga jadi hobi wanita sekarang? Penyakit berkeliaran di tempat-tempat gelap seperti itu, tahu!"
"Aku bersyukur kau masih menggunakan logikamu." Lovino memutar bola matanya. "Kau, sudah berapa lama berada di sini?"
"Baru tiba tadi malam. Libur sampai besok siang."
"Oke, baiklah, artinya kau pasti sudah tahu tempat duduk-duduk yang baik agar kaubisa mendengarkan semuanya dengan tenang."
"Ada di sebelah—"
"Apakah tempatnya tertutup dan kita bisa bercerita tentang hal-hal yang rahasia?"
"... Kurasa aku tahu."
Pablo menggiringnya keluar dari area penambatan sauh-sauh kapal, hingga kapal-kapal mereka tak lagi terlihat, ditutupi bangunan-bangunan kecil namun memadati pelabuhan Bordeaux yang tampak sedikit kehilangan nyawanya.
Kedai kecil yang gelap dan bau dipilihkan oleh Pablo. Dia langsung menuju meja paling sudut sebelum seorang pria mabuk yang sempoyongan mengambilnya untuk semakin menyengsarakan keadaannya yang telah hancur. Ia hanya memesan kopi pahit untuk mereka berdua.
Tanpa menarik napas terlebih dahulu, Lovino terburu-buru memulai ceritanya. "Di dalam kapal itu, aku punya keluarga."
Segala tentang Francisco ditumpahkannya dengan suara berbisik.
"Apa kaubisa menerimanya dengan baik—setelah tahu semua itu?" Pablo tak pernah seserius ini, tidak pula ketika dia menghempaskan koran di kafe pada suatu waktu, setelah membaca berita tentang penyerangan Jerman terhadap Polandia tahun lalu.
"Mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa mengulang hal-hal yang telah lalu dan tugasku hanya ... hanya melanjutkan hidupku seperti yang kumau ... di jalan yang telah kupilih." Lovino menggenggam jari-jarinya sendiri dengan erat, tenggorokannya menahan agar suaranya tidak gemetaran, tetapi dia tetap gagal. "Karena nyawa ini sudah dilindungi oleh Kakek. Aku tidak boleh menyia-nyiakannya dengan menjadi gila hanya karena nyawa yang tidak bisa ditarik lagi."
Pablo mengusap wajahnya. Dia beri waktu Lovino untuk diam.
Setelah Lovino mampu menguasai dirinya, tangannya sudah rileks dan wajahnya tidak lagi ketakutan seperti dihantui, Pablo mengangguk—isyarat bisu untuk meyakinkan bahwa pemuda itu bisa melanjutkannya.
"Aku sudah menemukan caraku sendiri untuk hidup. Aku memutuskan untuk tidak menyinggung apa-apa lagi tentang keluarga Vargas bersama Francisco. Dan mungkin ... ini kali terakhir aku menceritakan ini padamu. Jangan tanyakan apa-apa lagi. Kumohon."
Pablo menepuk pundak Lovino, tidak dengan keras seperti yang seharusnya dia lakukan. Permohonan adalah hal yang baru akan Lovino suarakan saat nyawanya terancam, dia sadar itu, dan ia tahu bagaimana harus bersikap.
"Aku akan melangkah lagi. Namun ... masalahnya tidak sampai di situ saja."
"Ada apa lagi?"
Lovino menyela dengan memanggil pelayan dan meminta makanan. Sepotong roti untuk dirinya. Ia menawari Pablo dengan delikan singkat, tetapi Pablo menggeleng menjawabnya.
Sesudah roti yang dipanggang tiba di meja, dan pelayan itu cukup jauh untuk mendengar bisikannya, Lovino membungkuk sedikit. Sengaja dia menggantung lama-lama hingga Pablo tak sabar dan alisnya nyaris berkait satu sama lain. "Apa masalahmu, Lovi?"
Satu tarikan napas, tidak seperti sebelumnya.
"Kurasa aku benar-benar jatuh cinta."
Bisa saja Pablo membalik piring di antara mereka atau minimal menciumkan wajah Lovino pada benda itu saat ini juga, jika dia tidak mengingat bahwa Lovino masih memakai seragamnya.
"Sinting!"
Lovino tergelak licik. Pablo mendengus keras dan tangannya begitu gatal untuk menyenggol cangkir kopi Lovino agar isinya yang masih panas mengepul menjamahi tangan si sialan di hadapannya itu.
Setelah tawanya reda, barulah Lovino melanjutkan, "Aku serius, Pablo."
"Berita basi. Aku sudah mengetahuinya bahkan sebelum melihatmu tidur dengan surat-surat dari Erika." Tapi pada akhirnya, dia bisa duduk rileks dan bersandar setelah sederetan cerita yang membuat Lovino menahan dirinya barusan. "Baru benar-benar menyimpulkannya sekarang?"
"Aku tidak yakin selama beberapa waktu." Lovino menggigit rotinya dengan sedikit kasar. "Dan sekarang aku percaya ... aku membutuhkan Erika dengan cara yang tidak pernah sama lagi. Menurutmu ... apakah ini semua tidak terdengar aneh? Aku sudah terlalu terbiasa hidup dengannya sampai-sampai aku lupa bahwa kami tidak bersaudara ... lalu kemudian memikirkan kehidupan pernikahan bersamanya?"
Pablo tertawa sinis. Dia memandang dengan setengah menghina, setengah menertawakan. "Itu namanya hormon masa muda. Aku berani taruhan, dialah yang muncul di mimpi-mimpi dewasamu belakangan ini."
"Bedebah!" Lovino melibas Pablo tetapi menghentikannya setengah jalan. Wajahnya masih merah ketika Pablo menertawakannya habis-habisan.
"Oh, oh, oh, ada yang sedang bingung rupanya. Kenapa kau bingung memikirkan—sementara cinta diciptakan untuk dinikmati, ha? Kau tumbuh bersamanya sejak kalian kecil. Kau merasa biasa, itu biasa. Kau menyayanginya karena dialah satu-satunya harta yang kaumiliki. Waktu membuat semuanya berubah, wajar, 'kan—ketika di saat yang sama kau juga berhasil mengendalikan dirimu sendiri atas kematian kakekmu?"
Pemuda itu menutup separuh wajahnya. "Semua itu terjadi begitu saja. Aku begitu merindukannya tidak dengan cara yang sama seperti aku mengenang Feli. Aku menginginkannya. Aku ingin memeluknya saat kami berjauhan. Aku ingin masa depan yang cerah bagi kami. Aku ingin tidur bersamanya—hentikan dulu pikiran kotormu itu, Benalu—dan aku ... aku tidak ingin melihat dia bersama siapapun selain aku."
Pablo mendengarkan sambil bertopang dagu, berlagak mengantuk. "Aku bukan konsultan cintamu, Vargas."
"Dan aku juga tidak sudi menjadikanmu konsultan, tahu!" Lovino mendecih keras.
Lalu tiba-tiba saja mereka berdua sama-sama diam. Lovino mengatupkan bibirnya tegang. Pablo menunggu, tetapi sepertinya mengerti.
"Walaupun aku tahu ... aku tidak bisa melihat masa depan, apalagi memastikannya. Aku melakukan pekerjaan yang bertaruh nyawa—sangat, sangat rentan," dia mendadak bersuara lirih. "Dan barangkali aku bisa saja meninggalkannya tanpa sempat meninggalkan sepatah-dua patah kata untuk menyampaikan perasaanku. Namun aku sudah telanjur masuk ke sini dan—seperti yang kubilang. Aku tidak mungkin hanya diam saja dan menyia-nyiakan cita-cita yang sudah dipercayakan Kakek padaku."
"Bisa saja pertemuan kalian sebelum kaumasuk barak waktu itu adalah yang terakhir untuk selamanya."
Pablo menunggu Lovino menghajarnya atau minimal meludahinya dengan dampratan, sumpah-serapah. Namun lelaki itu merenung sendiri, kepalan tangannya tegang di atas meja.
"Hei. Jangan mendadak jadi aneh begitu. Mana Lovino yang kukenal?" Pablo menendang kaki Lovino keras-keras.
Pemuda itu cuma bereaksi tak seberapa. Mengaduh yang terdengar seperti mengeluh.
"Ini bukan saatnya bersedih, aku tahu. Sudahlah. Kita selesaikan pembicaraan ini."
"Wajahmu tidak ikhlas. Tulis surat untuk Erika, sana."
"... Surat?"
"Ya, apapun isinya. Tersampaikan atau tidak, setidaknya kau tidak perlu bersusah-payah menahannya di dalam hatimu, bukankah begitu? Kata yang tulus akan tersampaikan pada akhirnya, bagaimanapun caranya. Begini-begini aku kadang-kadang masih percaya pada keajaiban, tahu. Apa kau tidak? Maka kau menghabiskan separuh hidupmu dengan kerugian, terus-terusan memikirkan logika."
"Haaah, banyak omong kau." Lovino mulai tergerak uuntuk menghabiskan rotinya walau pelan-pelan. Matanya mulai berapi lagi. "Katakan padaku di mana membeli kertas dan di mana kotak pos terdekat."
"Ha, aku tahu kau tidak akan menolak ide ini!"
Lovino menemukan kertas dan pena di toko di luar area dermaga. Pablo meninggalkannya yang sedang menulis untuk melihat-lihat sekeliling, dan begitu pemuda itu kembali, surat tersebut sudah pergi dari tangan Lovino.
"Ada kotak surat di sebelah sana." Lovino menunjuk ke belakang punggungnya.
"Apa saja yang kautulis?"
Lovino berjengit. "Memangnya penting untukmu? Untuk apa kau mengetahuinya?"
Pablo mendecakkan lidah. Lovino berjalan dengan dua tangan di kepala belakang, bersiul-siul dengan lagu yang ia dengar di kapal, seorang koleganya pernah bernyanyi di suatu malam yang sepi. Entah lagu dari mana, ia pikir lagu tradisional dari pesisir tenggara Italia.
"Apa kau yakin dia akan membacanya?"
Lovino melemparkan pandangan pada titik terjauh yang ia bisa, ke sela-sela bangunan pelabuhan yang diisi oleh pegawai-pegawai keamanan yang sibuk dengan berkas di tangan.
"Suatu saat nanti, dia pasti membacanya." Ada celah rasa gamang, Pablo menangkapnya, namun Lovino tak melanjutkan bicara hal itu lagi, alih-alih mengisi waktunya dengan cerita-cerita yang dia dapat selama berada di Luigi Torelli.
Erika menembus kabut tanpa kawan untuk menuju ke Gurs. Dari kejauhan, dia melihat penjaga yang berkeliling dengan senjata siaga. Ia berhenti sebentar, tangannya terkepal di depan dada. Seseorang yang terseok-seok berjalan keluar ke sayap samping, kaki kanannya sepertinya lebih panjang dari yang kiri, dan dagingnya sangat tipis membalut tulang lengkungnya.
Erika diam sejenak, lebih lama lagi ketika dia melihat penjaga memukul punggung tawanan dengan tongkat panjang yang tipis hingga dia tersungkur. Erika tercekat.
Gadis itu mundur perlahan.
"Erika?"
Perempuan itu geleng kepala untuk menyadarkan dirinya, lalu menoleh.
"Ah, Arianna ...," gumamnya sambil mengatur napasnya.
"Mana Erzsi dan yang lain?"
"Erzsi belum bangun ..."
Arianna memandang sekeliling. Tangannya memeluk sebuah kantong karton besar yang separuh penuh. "Kau benar-benar sendirian, ya." Matanya sedikit memicing menatap wajah Erika. "Kau tidak bisa tidur atau bagaimana?"
"Aku hanya tidur dua jam ..." Erika pun menghela napas. Pandangannya tertumbuk pada tanah dan dia mengabaikan tepukan halus Arianna pada punggungnya.
"Ayo ke dalam. Selalu ada pekerjaan di sana."
Selangkah dua-langkah, gerbang pun menyambut mereka. Arianna mendorong pintu setinggi dua meter, seekor kodok melompat dari genangan ke birai rapuh di sebelah kiri.
"Apa kaupikir semua ini adil, Arianna?"
Arianna melangkahi sebuah genangan besar sementara Erika melingkari pinggirannya.
"Keadilan dalam konsep manusia adalah keadilan semu. Sebab ... ya, yang menjalankannya adalah manusia. Setiap orang punya pandangan yang berbeda."
Jawaban menggantung itu semakin mendesak Erika untuk menentukan pandangannya sendiri. Dengan cara apa dia memandang semua ini? Dengan kata apa dia harus mengatakan pemikirannya sendiri? Terlebih—apa yang dia pikirkan atas semua ini? Atas perang dan penyisihan, atas kekejaman yang dilakukan manusia pada sesamanya sendiri? Apakah ada yang lebih tinggi dari yang lain ketika semua orang punya kelebihan dan kekurangan sesuai porsinya sendiri?
"Erika, sebelah sini."
Erika mundur, menyadari dia salah berbelok. Pintu dapur umum yang dituju Arianna telah terbuka. Beberapa pekerja dengan baju lusuh—Erika kira mereka adalah para intern—menyiapkan tempat masak yang besar. Sekeranjang besar kentang dibawa untuk dikupas.
"Apa ada makanan lain selain itu?" Erika berbisik saat Arianna melangkah masuk dan melewati beberapa pekerja membawa alat-alat pembersih.
"Hanya itu."
Erika mengabaikan perasaannya sejenak. Ia sudah begitu tersiksa dengan pikirannya sendiri hingga ia mulai merasa harus membunuh beberapa di antaranya. "Apa yang bisa kubantu?"
Mata Arianna berkeliling dapur. Dia menggeleng, menggantungkan harapan Erika.
"Tidak di sini. Maukah kau berkeliling barak-barak dan mengecek siapa saja yang butuh bantuan medis? Aku bisa menemanimu jika kau takut sendirian."
Erika memberanikan diri walau hanya dengan separuh nyalinya. "Tidak perlu, terima kasih. Aku ... akan berkeliling sendiri. Selamat bekerja."
"Ya. Jangan takut, Erika."
Erika keluar dari dapur tanpa menutup sempurna pintunya. Ia menyusuri lorong antarbarak yang becek dan lembab—bahkan bau di beberapa titik—sambil menyusuti bulir-bulir di ujung matanya dengan tangannya yang dingin dan gemetaran.
Musim gugur hingga awal musim dingin diisi dengan bolak-balik Bordeaux-lautan, latihan, dan hari-hari kelabu yang dilupakan matahari. Lovino mencoba terbiasa dengan ruang sempit dan kabel-kabel serta gelombang-gelombang mendesis yang selalu mampir di telinganya di setiap kali jam-jam tugas. Di pertengahan musim dingin sempat terjadi sebuah masalah pada motor kapalnya, dan para awak bertahan di base sementara Luigi Torelli diperbaiki, satu bulan berlalu karenanya.
Almanak diganti dan Lovino mulai mempertanyakan suratnya, dan apakah Erika masih berada di desa. Namun bukan itu yang harus berada di posisi satu prioritasnya. Awal Januari ia bertolak ke perairan barat Skotlandia, berpatroli di tempat antah-berantah yang bahkan hanya muncul sesekali di buku sekolahnya.
Ia beberapa kali memikirkan tentang wujud sebenarnya Skotlandia, barangkali ada padang rumputnya; atau bukit-bukit berkastil—tetapi dirinya jauh dari semua itu. Dia tetaplah di laut, dan berbagai tugas di dalam kamar sempit yang dibagi untuk orang-orang, di bawah permukaan air.
Pertengahan Januari, Kapten tiba-tiba memerintahkan sesuatu pada seluruh awak—perintah langsung dari Komandan, kata beliau, karena ada konvoi asing di sekitar mereka.
"Ada enam atau tujuh kapal!" seru letnan di bagian pengintai.
"Semua bersiaga! Kita luncurkan serangan!"
Lovino tidak berbuat banyak. Dia mendengar keributan dan hetakan-hentakan dari tempat duduknya, serta kru-kru yang saling mengomando, dentuman senjata api, deru ombak yang terbawa pertarungan, serta suara pecahan-pecahan dan ledakan yang hanya berlangsung sekian menit tetapi terasa seperti menghabiskan separuh hidup saat mendengarkannya.
Lovino mendengar sorak-sorai dari ruang tengah. Ia termangu sendiri, sementara rekan sesama kru komunikasinya telah pergi ke atas dan mencari tahu.
Kadang-kadang, dia bersyukur dia hanya bertugas di depan piranti. Meski tempatnya sangat berantakan dan kusut serta membosankan karena hanya bertugas utama di atas bangku logam berkarat, setidaknya dia tidak perlu mengangkat senjata sesering yang lain.
Pemuda itu ditinggalkan sendirian begitu lama hingga ia duduk dan melamun sendiri di depan mesin.
"Kapal Yunani dan Norwegia."
Lovino tersadar. Rekannya telah kembali. Matanya berkedip lambat dan malas.
"Dari pengamatanku ... sepertinya ada belasan, atau malah mungkin puluhan kru yang tidak bisa menyelamatkan diri."
"... Apa?"
"Ya, begitulah."
Lovino memegang keningnya, sikunya masih bertopang di atas meja hingga sakit. Yunani, Norwegia ... secara langsung mereka bukan musuh mereka. Norwegia bahkan bukan pihak yang ingin melibatkan diri dalam perang dunia. Lantas ...
... mengapa?
"Apa ... kaupikir ... ini—adil?" pemuda itu bertanya gagap lantas seperti meringis tanpa suara.
"Lovino, orang yang memikirkan tentang keadilan pun kadang tak bisa menemukan keadilan yang sesungguhnya. Sebab dia selalu bertanya-tanya tentang kebaikan dan keburukan yang pantas dari apa yang dilihatnya ... sementara dunia ini seringkali tak terlihat adil bagi para pengamatnya yang juga manusia."
Lovino menutup matanya rapat-rapat. Kakek, apa aku benar berada di sini?
Suatu malam di tengah lautan, Lovino tidak bisa tidur.
Suatu malam di sebuah kamp konsentrasi yang dikunjunginya di Cekoslowakia, Erika tidak bisa tidur.
Lovino ingin melarikan diri.
Erika ingin mencari dunia yang adil dan benar.
Namun di tempat mereka berada, di situlah dunia mereka, dunia yang saat ini masih berdarah-darah dan timpang.
tbc.
a/n: jika ada plothole tolong dikoreksi ya ehehehe. trims juga buat semua pembaca, pemberi review, yang memasukkan ke dalam list following dan favorit, ya. i love you with all my heart! ah iya, fanfik ini kurang lebih bakal belasan chapter ya so bear with me, masih agak panjangan ini ;u;lll
dan tambahan: aku cuma pernah liat gambar luigi torelli dengan kualitas hitam-putih dan belum pernah melihatnya secara langsung. jadi mohon maaf kalo ada ketimpangan dalam desain kapal, ya.
