luigi torelli

Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya. penulis tidak mengambil keuntungan material apapun atas pembuatan karya; ditulis hanya untuk kesenangan. perhatian: ini adalah fiksi penggemar historikal; meski mengandung unsur sejarah, tetap ada aspek-aspek bersifat rekaan di dalamnya
Pairing/Character: Romano/Liechtenstein; OC!Roma, Hungary. Genre: Adventure/Family/Romance. Rating: T. Other notes: WWII!AU, Naval Army, Regia Marina.

(Seseorang diselamatkan dari kapal Norwegia. Erika meresapi kenyataan tak menyenangkan saat berkeliling kota.)


"Kau benar-benar terlihat sakit. Jangan memaksakan diri."

Erika menatap Erzsi dengan sungkan dan enggan. Kereta melaju meninggalkan kota yang sudah menggores hati Erika dengan kasar, hatinya masih tertinggal di belakang. Di lengannya menggantung lemah badge Palang Merah berdasar putih yang sudah mengusam dan berlumpur, dan Erika tak peduli apapun.

"Ini pengalaman pertamamu. Jangan menganggapnya sebagai sesuatu yang melukai hidupmu."

"Erzsi ... aku benar-benar ... bukan, bukan ketakutan ..." Erika merapatkan kelopak matanya, bersandar pada kursi kereta api yang tampaknya melambat, atau dunia sekitarnya yang memang berubah, tetapi tak seorang pun di antara mereka berdua yang mempermasalahkan. "Ini benar-benar ... mengerikan."

"Kau seperti baru melihat dunia saja." Erzsi juga turut bersandar. "Bersiaplah untuk hal yang lebih besar lagi, Erika. Dunia itu seperti ini. Bukan kita saja yang hidup di dalamnya. Kita punya kekuatan, orang lain juga punya kekuatan. Semuanya sama-sama bergerak dan sama-sama melakukan hal untuk mereka—yang seringkali berbenturan satu sama lain. Dan semua yang terjadi ini, adalah salah satunya karena tangan-tangan orang selain dirimu."

Erika merenungkannya. Menelan ludah berkali-kali hanya untuk kembali merasakan gumpalan di kerongkongannya itu kembali muncul berulang-ulang.

"Tapi tenanglah, semua itulah yang membuatmu kuat dan siap untuk masa depanmu. Masa depan boleh jadi lebih berat daripada yang kaualami sekarang, tetapi percayalah padaku, ada hal besar yang menyenangkan pula menantimu di depan sana."

Erika melihat Erzsi mengeluarkan sesuatu dari dalam tas tangannya, yang juga berlogo palang berwarna merah. Ia berhenti berkedip beberapa saat. Gelang.

"Ini pemberian suamiku. Dia buat beberapa hari sebelum keberangkatanku."

Erzsi tak pernah sumringah seperti kali ini. Erika memutuskan untuk menyimak, kepalan tangannya mulai melonggar.

"Dia ikut dinas militer di awal perang sebagai pasukan infanteri. Penyerangan ke Polandia membuatnya cacat karena kaki kanannya harus diamputasi, dan mata kirinya buta karena pecahan kaca. Dia dipulangkan dalam keadaan setengah sadar, dan aku sudah menyerah pula saat itu."

Kepalan tangan Erika mencengkeram roknya.

"Aku sudah berpikir dia akan mati. Tetapi dia hidup. Gilbert hidup." Erzsi menghirup napas dalam-dalam dan memejamkan matanya, menggapai suaminya di antara warna phosphene yang membanjiri pandangan gelapnya. "Gilbert bisa bangkit. Kenapa aku tidak? Dia mencoba menata hidupnya, dia berjalan dengan bantuan kaki buatan, dan meski buta separuh, dia mencoba memahat, suatu hobi masa kecilnya, dan dia bisa menjualnya. Gelang ini adalah pahatannya." Erzsi mengangkat benda itu, terbuat dari kotak-kotak kayu kecil berwarna eboni yang diukir sedemikian rupa, yang dirangkai dengan benang besar. Samar-samar terlihat inisial di bagian persegi panjang bagian atas gelang, G dan E.

Erika menebak-nebak, seperti apa wajah lelaki itu, yang dipuja Erzsi meski dari kejauhan. Lelaki itu terlalu beruntung.

"Dia berterima kasih pada perawat-perawat yang membantunya untuk tetap tersadar dan sembuh. Ceritanya membuatku ingin menjadi seseorang yang memberi harapan hidup pada orang lain. Karena bantuan perawat, suamiku tetap seperti Gilbert yang sebelumnya. Pada awalnya aku takut meninggalkannya dan takut dia juga tak mau melepasku ... tetapi ketika kami berdiskusi bersama, dia melepasku dengan ringan hati. Dia memperbolehkanku pergi, dan dia tetap di rumah dengan pahatan-pahatan kesayangannya."

Erika melihat senyuman Erzsi yang begitu dalam artinya, begitu lebar dan bercahaya. Wanita yang sama adalah wanita yang pasti, berbulan-bulan lalu, meraung di hadapan tubuh suaminya yang berlumuran darah. Erika tidak bisa berkata apa-apa.

"Kau pasti melewati sesuatu yang berat dalam petualanganmu, tapi pasti ada hal yang membuatmu tersenyum setelahnya."

Erzsi pun memasang gelang itu di tangannya. Erika mengingat Lovino dan pelukan terakhir mereka, yang entah terjadi di hari atau bulan apa—tetapi Lovino seperti sedang tersenyum padanya di depan matanya.

Pemuda itu sedang apa sekarang?

Erika menyeka ujung matanya. Mungkin karena Lovino yang entah di belahan bumi mana, atau Erzsi yang sedang mengelus gelangnya dan menyadarkan Erika kekuatan kasih, atau malah barangkali karena keduanya.


Erika berpindah ke samping Erzsi, Erzsi tak mau mengeluarkan sebuah lembaran yang sangat dijaganya dari tas, untuk alasan yang tak begitu dimengerti.

"Ini suamiku." Wajahnya, ketika bercerita, penuh rona yang bersinar-sinar. "Rambutnya pirang nyaris putih. Matanya sangat jauh berbeda dengan adiknya. Tapi aku suka."

Ada sepasang manusia di atas tanah yang lapang tak berumput di kertas hitam-putih itu. Potret mereka yang sedang tertawa lebar membuat Erika juga turut tersenyum. "Sepertinya dia orang yang lucu. Benarkah?"

"Lucu yang menyebalkan," Erzsi bersungut-sungut. "Kaupunya foto bersama Lovino?"

"Kami ...," risih, "... tidak pernah berfoto berdua. Kamera adalah hal asing untuk kami. Kami hanya pernah satu kali berfoto bersama teman-teman sekelas di sekolah, tapi foto itu sudah hilang karena gempa."

"Hm, tidak apa-apa. Yang penting kau mengingat wajahnya di kepalamu." Erzsi tertawa gemas, Erika memaksakan diri untuk menjawabnya dengan senyuman manis. Dia benar-benar sedang ingin memejamkan mata. Barangkali ada Lovino, menunggunya di ruang mimpi.


Lovino mengusap wajahnya dua kali. Tanpa memandang lawan bicaranya, dia bergumam, geletar sedikit terdengar. "Apa nama kapalnya?"

"Ck. Kau bagian komunikasi, mendengar nama kapal itu berkali-kali, lupa juga ternyata." Decihan. "Ida Knudsen. Norwegia. Berdasarkan database yang kupegang ..." Francisco merogoh sakunya, buku catatan kecil selalu tersimpan di sana. Ketika dia membolak-balik isinya, Lovino menghempaskan diri ke atas kursi. Membungkuk sedemikian rupa hingga kepalanya menatap tubuhnya sendiri.

"Oh, dibuat tahun 1925 di Denmark."

"Kau itu prajurit atau mata-mata?"

Francisco duduk di sudut meja radio sambil memain-mainkan bukunya di udara. "Dua-duanya. Aku senang mengumpulkan data tentang kapal. Mau coba lihat-lihat?" Ia lalu melemparkan buku tersebut. Lovino tak mau mengacuhkan barang sesaat pun. Buku itu jatuh ke dekat kakinya.

"Kautahu berapa kru yang tewas dari sana?"

"Mana aku tahu. Memangnya aku berada di kapal itu?" sinis Francisco dibuat-buat, tetapi dia tersenyum miring, makin membuat Lovino dongkol. "Kenapa kau kelihatan kecewa sekali, Lovi? Atau sedih? Kau ini kenapa? Kau juga tidak ikut menembakkan torpedo, kau cuma duduk di depan radio, kau hanya menerima dan meneruskan perintah, lalu mengurai beberapa kode—kenapa bersikap seolah kau pendosanya? Beginilah kehidupan militer, Tuan Manja."

"Tapi aku turut membantu semua ini terjadi!"

"Siapa yang bilang?"

Lovino bangkit, matanya menantang Francisco tapi lawan bicaranya bergeming tanpa rasa bersalah. Lovino sudah akan mencengkeram kerah seragam Francisco tetapi dia masih punya kekang untuk emosinya. Dia mengalihkan kekesalannya dengan menghajar permukaan meja. "Mana sisi kemanusiaanmu?!"

"Mana juga sisi kemanusiaanmu? Kalau kita tidak turut bergerak, siapa yang tahu berapa korban yang akan dilahap tentara-tentara lawan di daratan di belakang sana?" Francisco bersungut-sungut, tetapi dia masih tetap menguasai dirinya jauh lebih baik daripada cara Lovino. Alisnya bergerak naik menanyai Lovino yang makin mematung. "Kita penjaga. Kita pergi dengan mengemban tugas sebagai pengaman. Kenapa kau begitu cengeng?"

"Tcih." Lovino menubruk bahu Francisco, tetapi dia tidak pergi dari ruangan. Ia menempelkan keningnya pada jendela kecil yang kotor.

Francisco menghadap ke arahnya. "Selalu ada dua sudut pandang dalam suatu hal. Kauingin berdiri di mana?"

"Tapi—"

"Apa yang terlihat, biarlah terlihat. Yang ada dalam hatimu, tetap pelihara." Francisco berlalu. Juga sengaja menyenggol bahu Lovino dengan keras.

Dini hari di dalam laut tak juga terlihat lebih hidup daripada saat siang hari. Pandangan Lovino berubah dan ia menemukan kakeknya sedang berdiri di ambang pintu dan tangan tersilang di depan dada. Tersenyum padanya sambil bertanya, "Kenapa kau begitu ingin menjadi pelaut, Lovi?"

Lovino ingat masa itu, ketika Kakek membuatkannya sebuah kapal-kapalan dari peti-peti kayu tipis yang dirombak. Dia masuk ke dalam kapalnya dan mengacungkan tangan dan membuat gerakan salut, lantas berpaling pada tiang kecil seakan ada bendera di sana. Dia menatap bangga ke kejauhan, yang hanya sebatas dinding rumah yang berjamur dan bersarang serangga-serangga bisu. "Aku ingin menjadi penyelamat! Aku ingin jadi pahlawan dengan kapalku sendiri!"

Ia melihat seekor ikan yang jauh sekali, hanya terlihat dari gerakan ekornya. Lalu dinding Luigi Torelli. Dan ia berpaling, ada mejanya. Ruangan yang sunyi dan dia semakin diusik oleh bau-bauan yang membuat sesak. Bangku-bangku miring dan pipa-pipa membentuk labirin di langit-langit, hingga serabut kabel yang disambungkan ala kadarnya. Sama sekali tak sama dengan dinding batu dan abu sisa perapian di ujung kapal dari kayu peti, atau tiang rendah yang dipasangi kain sisa bahan pakaian yang lusuh. Namun rasanya ... ada yang sama.

"Kenapa harus naik kapal, bukankah pahlawan bisa berwujud apa saja?"

"Karena naik kapal itu keren!"

Lovino bersandar di jendela. Lantai baja yang kelabu di bawah kakinya semakin kotor. Pola kaki Francisco masih terlihat, dia datang dengan tapak kaki sedikit basah. Debu bergumul di sudut meja, di samping radio besar itu dan juga di sudut ruangan pengap itu.

Ada serumpun kabel yang kusut di dekat headset yang ia geletakkan begitu saja di sudut meja. Dia mendekatinya lalu merunutnya pelan-pelan. Pikirannya kosong separuh. Dibawa Kakek yang entah bersemayam di sana, atau barangkali sudah tersisip jauh di dalam lautan, bersama jasad-jasad pelaut musuh yang dibombardir kapalnya.

Sunyi sekali.


"Yang ini sudah ... kain kasa sudah ... obat diare sudah ... Erika, kurasa kewajiban kita sudah di tangan kita semua."

Erika memeriksa tas yang hanya ia genggam sedari tadi. Matanya menghitung, lalu mengangguk tanpa menatap. "Iya, sudah lengkap."

Erzsi berhenti sebentar. Erika mengedipkan mata beberapa kali.

"Kita pulang?" tawar Erzsi. "Sebenarnya aku punya beberapa hal yang harus kucari untukku sendiri." Erzsi menimang-nimang dompet kecilnya, bunyi uang receh bergemerincing. "Aku perlu pakaian untukku sendiri. Mantelku sudah benar-benar tidak bisa dipakai lagi. Kainnya menipis dan tambalannya sudah tak tertolong. Apa kaumau ikut?"

"Ah ..." Mata Erika berputar. Beberapa penjaga berseragam Jerman berkeliaran, senjata laras panjang di tangan dan sesekali mata mereka memicing tajam. Tidak ada yang ditakutkan dari mereka, Erika sadari itu, selama badge ini ada di lengannya dan dia tidak berbicara macam-macam.

"Aku tidak apa-apa sendirian. Kau pasti capek jalan ke sana-ke mari. Tadi malam tidur terlambat, 'kan?"

"Aku ingin berkeliling, sebenarnya. Melihat-lihat. Tidak apa-apa, 'kan?"

"Tentu saja tidak ada yang melarang, Erika." Erzsi menepuk-nepuk punggung Erika gemas. "Asal jangan lupa jalan pulang, oke? Jangan bicara pada seorang tentara pun jika tidak perlu."

"Hm. Sampai jumpa, Erzsi."

Erika menuju ke kiri, dan Erzsi menghilang di perempatan. Antwerp dijaga dengan ketat, meski beberapa penjaga hanya duduk-duduk di depan toko-toko kosong dengan obrolan-obrolan yang begitu cepat melebur di udara, berganti dengan topik-topik lain yang hampa dan hanya sebagai cerita pengisi waktu.

Memasuki kota terasa begitu melegakan setelah sekian lama berkeliling ke kamp-kamp pekerja atau dusun-dusun kecil yang terisolir setelah dilindas tank-tank penghancur. Erika menemukan keping-keping harapannya kembali. Ia merasa sedikit lebih hidup.

Bohong jika dia tidak stress karena menemukan orang-orang malang yang begitu bahagia meski hanya mendapat selembar selimut tipis tua bekas, tak sedikit yang bertambal. Rumah-rumah mereka rusak karena pertempuran kilat, tetapi mereka tak punya pilihan. Kota memberi Erika sedikit pencerahan; bahwa masih ada bagian di bumi yang menyala dengan harapannya.

Erika hanya menyusuri jalan besar, yang lengang, yang masih menunjukkan sisa-sisa perang, terutama di wajah orang-orang yang melintas, yang ketakutan ketika berkontak mata dengan para tentara yang berpatroli.

Erika terhenti sebentar di samping sebuah bangku panjang yang separuhnya penuh karena bawaan seorang laki-laki yang merangkai bunga di ujungnya. Sebuah kardus terbuka, banyak mawar merah di dalamnya dan seperangkat peralatan seperti kawat, benang, gunting besar, serta kain-kain dan pita kecil berserakan di dalam.

Lelaki itu begitu santai menangani bunga-bunganya. Erika memperhatikan sambil berdiri, berharap lelaki itu tak menyadari sama sekali. Wajahnya begitu teduh dan sabar, dan Erika menerka barangkali orang ini tujuh-delapan tahun lebih tua darinya.

Dia menggunting duri mawar, lalu membersihkan batangnya, memotong batangnya sedikit, lalu menyatukan beberapa mawar yang sudah bersih lainnya menjadi seikat bunga dengan pita tipis dan kawat yang menyatukannya. Dia melakukan hal yang serupa dengan mawar-mawar lain, kali ini ia memilih mawar yang lebih besar dan panjang.

Yang menarik perhatian bukan mawarnya, tetapi tangannya yang bekerja. Memandanginya lama-lama membuat Erika tak tahan juga, pada akhirnya memberanikan diri untuk mendekati dan bersuara.

"Tuan ..." Kemudian ia tersadar. Menggunakan bahasa Italia di Belgia adalah kekonyolan pertama yang ia perbuat hari ini.

Lelaki tersebut mendongak. Tersenyum dengan mudahnya. Erika mundur malu-malu.

"Oh, hai. Perempuan Italia di Belgia, begitu susah menemukannya!" Dia lalu meletakkan kotaknya di bawah dan membersihkan bangku panjang itu dengan tepukan tangan. "Duduk, silakan saja. Maaf berantakan."

"A-Anda bisa?"

"Masa kecilku dihabiskan di Sisilia. Aah, ada yang bisa kubantu, Gadis Mungil? Jangan malu-malu. Aku Antonio!" dia mengulurkan tangannya.

"Erika." Erika menyambutnya, masih terkaget-kaget tak percaya. "Maaf, tapi sayalah yang ingin membantu Anda. Tangan Anda ... dan terlebih Anda sedang bekerja. Apakah tidak apa-apa? Perbannya terlihat sangat basah dan lengket, Tuan Antonio, benar-benar tidak sehat."

"Oh ..." Antonio melirik lengan Erika, dan baru menyadarinya. "Kau anggota Palang Merah, ya, astaga, maaf baru menyadarinya!" Ia menaruh mawar di tangannya ke atas pangkuan dan mengelus pelan luka bakar yang melebar di sepanjang tangan kanannya, mulai dari sekitar bawah telapak tangan hingga mendekati siku. Mengelupas dan terkoyak di beberapa bagian, di sela balutan yang tak rapi. Perbannya tidak diganti entah sejak kapan.

"Saya bisa membantumu. Maaf, sebelumnya, bolehkah saya melakukannya?" Erika menyiapkan tasnya.

Antonio menyodorkan tangannya. "Boleh." Dan sementara Erika melakukan tugasnya, Antonio mulai bercerita. "Aku ceroboh. Saat mengambil air panas dari panci, tangan kiriku—entah bagaimana—menumpahkan air itu ke tangan kananku. Obat-obatan sekarang mahal dan stoknya semakin sedikit. Aku hanya bisa mengobati sebisaku, sementara aku harus bekerja. Syukurlah aku bisa menggunakan tangan kanan dan kiriku dengan imbang."

"Seharusnya Anda ke rumah sakit, Tuan Antonio. Luka parah seperti ini harus ditangani. Infeksi akan mengundang penyakit lain," tukas Erika halus, sambil membubuhkan salep untuk luka bakar seadanya.

Tampaknya dia tak punya beban hidup, tawanya sangat renyah. "Aku tahu. Istriku juga bilang begitu. Tetapi kurasa aku baik-baik saja."

Erika menggeleng pelan. Antonio dia biarkan saja memandangi pekerjaannya, terlebih ketika dia membalutkan perban yang bersih hingga tiga lapis.

"Nona Erika sendirian saja?"

"Tadi bersama temanku." Erika memastikan tidak ada celah, namun juga meyakinkan dirinya bahwa perban itu tak terlalu ketat untuk Antonio bergerak. "Aku ingin berjalan-jalan sendiri."

"Mmm, begitu."

Erika tak begitu pandai dalam berbicara, ia sadar, tetapi perubahan harus tetap terjadi; atau dia tidak akan bertahan. Suatu hal yang pernah coba dikatakan Lovino saat mereka menghabiskan malam dengan insomnia di meja makan.

"Anda sendiri, memang terbiasa bekerja di tengah sini, atau ...?"

"Ooh, aku menunggu istriku," dia nyengir, lucu ketika melihat gigi-geliginya yang rapi dan matanya yang tertutup seperti lekuk sayap camar senja hari itu. "Dia baru akan pulang satu jam lagi. Dia bekerja sebagai tukang masak di ujung sana," tunjuk Antonio, kira-kira pada sela di antara dua bangunan berbendera. "Kemarin ada insiden penembakan oleh tentara yang berpatroli, aku tidak ingin membahayakannya dengan membiarkannya pulang sendirian atau ketakutan."

"Saat-saat seperti ini memang mencekam ..."

"Benar sekali." Mata Antonio kosong. "Orang baik, di sekitarku, malah semakin susah dicari. Semuanya ketakutan dan menyembunyikan diri, juga semakin pelit dalam menolong karena kebutuhan yang mendesak." Pandangannya beralih pada Erika. "Suatu saat nanti, ketika aku dan istriku punya anak, aku akan menamainya Erika. Boleh?"

"Ah, Tuan Antonio—kenapa begitu? Sa-saya—"

"Sudah kubilang, susah sekali mencari orang baik di saat ini, di sekitarku." Dia mengangguk-angguk dan kerlingan matanya berbicara tentang harapan. Dia kembali menatap jalur yang sekiranya menjadi tempat istrinya menapak pulang. "Aku dan Emma memutuskan untuk tidak punya anak hingga keadaan aman. Membesarkan seorang anak di saat-saat seperti ini bukanlah waktu yang tepat, menurut kami. Kami ingin dunia yang baik dan lebih tenang untuk menyambutnya ..." Suaranya menjadi serak, tetapi ketika terdiam, dia tersenyum.

Erika mengiyakan dalam hati.

"Jadi, Nona, terima kasih sekali perbannya. Dan obatnya." Antonio mengelus-elus kain tipis tersebut. Diambilnya bunga tiga tangkai. "Maukah menerima mawar ini?"

"Jangan, Tuan. Saya sudah seharusnya membantu orang-orang yang memerlukan saya tanpa meminta imbalan ..."

"Kau tidak memintanya. Aku yang memberi. Ini, tidak apa-apakah? Aku tidak punya uang di sakuku, hanya ada sedikit di rumah jika kau benar-benar membutuhkannya. Kauboleh ikut kami pulang setelah ini."

Gestur Erika masih menolak, namun Antonio memaksanya dengan halus. Ditariknya tangan gadis itu dan ditaruhnya ketiga tangkai mawar tersebut, masih dengan senyuman meyakinkan.

"Tapi ini adalah pekerjaan Anda—"

"Aku merangkai bunga untuk tokoku sendiri. Jangan dipikirkan, aku benar-benar ingin menghargaimu."

"Baiklah ..." Erika menatap bunga itu, dengan kedua jari dia telusuri kelopak beludru halusnya. "Terima kasih ..."

"Teruslah berbuat kebaikan, ya, Nona." Antonio mengambil tangan Erika dan menyalaminya berkali-kali. Erika cuma bisa berpikir tentang masa depan yang tak jauh di depan wajahnya; tentang malam ini, tak berani memikirkan langkah-langkah yang sangat jauh dari tempat dia berada. Apakah dia masih bisa berbuat kebaikan seperti yang Antonio minta? Dunia semakin tak aman, ancaman terus memuncak membabi-buta bahkan bisa muncul dari gang tersempit sekalipun. Semakin Antonio menjabat tangannya, semakin dia khawatir.


Ketika menemukan Francisco di ruang kendali, dia tidak berhasil berbicara apapun pada sepupunya itu.

"Aku sedang dibutuhkan di ruang medis. Cepat, jangan menghalangi jalanku."

"Apa yang lebih penting daripada membantuku menciptakan kode baru?" Lovino berjalan menyusul Francisco dengan langkah yang sama terburu-burunya, menyusuri gang sempit yang hanya bisa dimuati dua orang berdesakan.

"Lupakan dulu kepentinganmu selama lima menit. Ada seseorang di ruang medis yang tidak bisa berbahasa Italia dan kita mesti tahu apa yang akan kita lakukan untuknya." Francisco hanya berbalik sebentar, kemudian pergi meninggalkan Lovino yang tergugu sesaat.

"Hei!" Lovino nyaris menabrak dinding saat berbelok di tembok baja yang penuh selang-selang berisi kabel dan kotak-kotak kecil kendali. "Dia berbahasa apa?" lalu dia tertegun lagi. Dari mana orang asing datang?

Namun dia mengurungkan diri untuk bertanya. Dia melipat kertas yang isinya masih berupa corat-coret buntu dan memasukkannya ke dalam saku.

Ruang medis berada tepat di bagian atas ruang komunikasi. Lovino hanya bisa sampai di depan pintu karena keluar-masuknya kru membuat tempat itu sesak, terutama karena pintunya yang kecil dan kurus.

Lovino menyaksikan Francisco mendekat kepada pasien yang sudah duduk. Mereka berbicara dengan lancar satu sama lain—dan tampak semuanya baik-baik saja. Di tengah keramaian dan orang yang mondar-mandir, sayup-sayup Lovino bisa mendengar bahasa Jerman yang dituturkan oleh Francisco dengan cepat dan dijawab dengan ala kadarnya oleh si pasien berambut pirang.

Erika. Lovino menggeleng cepat. Bukan saatnya untuk mengenang bagaimana cara Erika mengucapkan beberapa kalimat-kalimat Jerman saat ia memasak di malam-malam pertama mereka hidup bersama untuk menghidupkan kembali kakaknya. Lovino diajari sedikit-sedikit sejak itu, tetapi sangat terbatas karena Erika pun merasa kemampuannya sudah terkalang daya ingat.

Di samping itu, saat sekolah, ada sedikit lebih banyak literatur Jerman yang ia peroleh dari pemilik toko radio, karena beliau pendengar berita ulung dan selalu mencari koran-koran bekas berbahasa Jerman untuk memuaskan hasratnya akan berita dunia terutama perkembangan Jerman, negara dari para pendahulunya.

Pasien itu juga bisa berbahasa Inggris rupanya, patah-patah, dicampur Jerman, dan ditambah lagi dengan suaranya yang pelan dan datar, pembicaraan itu malah terlihat seperti wawancara yang hampa.

Lelaki itu rupanya hanya berharap dia bisa diselamatkan dengan cara yang baik—tidak dilepas dengan perahu karet saja. Empat rekannya masih belum sadarkan diri, dan dia tidak mau teman-temannya diperlakukan seenaknya.

Kumpulan orang di ruang tersebut perlahan berkurang. Francisco minta agar lelaki itu beristirahat saja dan dia bisa ditemui kapan saja di ruang komunikasi, ruang tidur, atau ruang kendali.

Seseorang nyaris menyenggol pundak Lovino. Dia hampir meneriaki orang itu jika tidak sadar dengan cepat bahwa orang itu adalah Kapten. Mereka ditinggal bertiga—minus teman-teman dari yang terluka itu—dan Francisco berbicara pelan dengan Kapten. Mereka bertiga sama-sama mengangguk pada akhirnya.

Alis Lovino berkedut. Terlebih ketika Kapten menyalami tangan Lukas dan berkata sangat pelan—tetapi Lovino berhasil menangkap kalimatnya, Selamat datang kembali. Dalam bahasa Italia.

Apa-apaan itu?!

Yang ditunggu Lovino akhirnya keluar. Lovino jadi kehilangan hasrat untuk membicarakan sandi.

"Kapten memutuskan untuk menawan beberapa orang untuk keperluan yang hanya dia dan Tuhan yang tahu. Dia salah satu kru dari Ida Knudsen yang diselamatkan dari total lima orang. Letnan Satu Lukas Bondevik. Orang Norwegia asli, tapi bahasa Jermannya cukup bagus. Entah bagaimana. Jadi tambah rumit begini." Francisco berhenti sebentar di hadapan Lovino. "Tadi kaumau mengajakku untuk apa?"

Meski enggan, akhirnya Lovino mengeluarkan lagi kertas sebelumnya. "Barangkali ini akan memakan waktu beberapa jam ke depan. Kau juga sedang kosong, ha? Kita butuh pembaruan sandi baru, baik untuk kita satu sama lain maupun yang akan dikirimkan ke pusat. Akan kita koordinasikan ke ketua komando dan rapatkan dengan petinggi setelah ini, jika selesai malam ini juga."

Alis Francisco bergerak. "Baiklah. Ayo."


Lovino dan Francisco baru sadar mereka menghabiskan waktu tiga jam di dalam ruang komunikasi saat seseorang mencoba membuka pintu. Jam dinding ada di dekat pintu, tidak ada yang mau peduli sebelumnya.

"Masuk saja. Tidak usah mengintip," Francisco berseloroh dengan bahasa Jermannya yang sedikit dibumbui dialek dan nada ala Italia.

"Aku diminta untuk memanggilmu. Kau dibutuhkan di ruang kendali."

"Oh astaga." Francisco mendelik pada Lovino sebentar. Lovino cuma mengangkat bahu. Lelaki itu akhirnya berdiri dan menepuk-nepuk kertas olahan mereka. "Kita lanjutkan nanti, satu jam nanti, barangkali."

"Hm." Lovino kembali mengacak-acak kertas dengan coretannya.

"Masuklah, Lukas. Mereka belum memberimu ruangan, 'kan? Kaubisa bercerita beberapa hal dengan Lovino—jika dia bisa mengerti," Francisco menahan senyuman sambil melirik pada rekannya.

"Ich spreche Deutsche. Obgleich ... nicht gut Deutsche ..."

Francisco mencibir sambil melebarkan pintu untuk Lukas.

Lelaki itu hanya duduk di kursi yang ditinggalkan Francisco. Dia cuma diam saja. Lovino diam-diam menggeser kursinya sedikit, mencari tahu apa yang dipandang Lukas. Matanya sangat kosong dan sepertinya dia menemukan dunia lain di dalam mesin radio besar yang menempel ke dinding.

Pintu dibuka lagi. Sedikit mengganggu Lovino yang baru bisa mulai berkonsentrasi.

"Satu pesan dulu sebelum rapat." Francisco mendorong pintu agar kepalanya muat menyembul. "Lukas, satu tempat tidur gulung akan diberikan padamu di kamar yang sama dengan Lovino, juga aku. Minta tolong padanya saja nanti, ya."

"Aku bisa tidur di ruang medis."

"Tidak bisa," sanggah Francisco. "Terlalu sempit. Seorang penjaga harus turut tidur di sana untuk empat temanmu yang masih sangat lemah."

Francisco pergi. Lovino secara tak sengaja berpandangan dengan Lukas. Pemuda itu mendelik-delik, mencari ide. Pada akhirnya ia hanya berkata singkat, putus-putus dan sengau pada Lukas, "Ikut aku ... setelah selesai ..."

"Ja."


Lovino mengajak Lukas ke kamarnya setelah dia berjanji pada salah seorang atasan akan datang ke ruangannya setelah atasan tersebut selesai membahas rute perjalanan untuk misi-misi yang akan datang. Dua jam lagi, katanya, dan Lovino pada akhirnya tidak punya pilihan selain mengajak anak baru itu mengobrol sedikit-sedikit.

"Aku tidur di sini." Lovino menunjuk bagian atas. "Di situ Francisco." Ia mengedikkan dagu ke arah berseberangan. "Kami ..." Berhenti. Erika, datanglah ke sini! Lalu dia menggaruk kepalanya. "Begitulah. Ini kasur gulungnya. Selamat ... datang."

Lukas hanya mengangkat alis. Lovino mulai bersyukur sedikit-sedikit tentang kedatangan lelaki ini. Dia pendiam dan rasanya berbicara banyak padanya juga akan buang-buang tenaga. Baguslah, tidak merepotkan. Lebih banyak orang seperti Lukas di muka bumi barangkali akan membuat dunia lebih damai dan simpel.

Lovino duduk di ranjangnya, bagian bawah. Tempat rekan sesama kru radionya tidur. Hanya ada mereka berdua di ruangan dan dia merasa semakin dungu. Kembali ke ruang komunikasi terasa bukan sebagai pilihan yang baik. Berlama-lama di ruangan sempit sudah membuatnya tercekik, apalagi di tempat yang harus dia hadapi tiap hari dan dia dirubung kabel-kabel yang lebih rumit dari persoalan dunia.

Ia mengusap kepalanya. Ia baru mandi kemarin sore, sepertinya masih belum bisa hingga esok hari. Kesegaran harus dicari dengan cara lain.

Lukas duduk di tepian tempat tidur yang belum sempat dibereskan. "Finally I can reside in peace ..."

Lovino mendongak kaget. Menghardik, "Kau berbahasa Inggris dengan lancar!"

Mata Lukas membuka rendah. "Kau juga mengertinya dengan baik."

"A-aku ..." Lovino menghindari tatapan Lukas, "Aku sering mendengarkan siaran berbahasa Inggris saat bekerja di toko radio dulu."

Lukas menyilangkan tangan di depan dada. Dia menutup mulut.

"Dan aku juga sering belajar di perpustakaan sekolahku, dengan buku-buku berbahasa Inggris. Aku tidak ingin menghabiskan waktu istirahat dengan hal apapun karena aku tidak punya uang dan aku harus bertahan dengan hidupku sendiri."

Lukas memaklumi. Matanya sedikit lebih bersahabat sekarang. "Istriku orang Irlandia. Tentu saja aku bisa berbahasa Inggris."

"Oh, kau seorang suami?" Lovino lantas berdiri, memanjat tangga dan duduk berjuntai di tepian kasurnya sendiri.

"Seorang ayah."

"Hoo." Pasti lebih tua dariku. "Wajib militer memang menyusahkan. Ketika kita tidak ingin melepaskan diri dari orang tersayang, kewajiban memaksa."

"Aku pergi tanpa paksaan."

Lovino menatap tak percaya. "Kaubilang kau punya anak?!"

"Anakku sangat menyukai kisah saga. Juga berbagai kisah kepahlawanan Nordik kuno." Lukas mendongak tinggi-tinggi. "Dia benar-benar ingin melihat ayahnya menjadi seorang pahlawan."

"Apa yang kau dan istrimu ajarkan padanya?!" Lovino terjun begitu saja dari ranjang dan berdiri di hadapan Lukas. "Bagaimana kalau kau mati di dalam ekspedisi militermu dan membuat anakmu kehilangan kesempatannya untuk menikmati kasih sayang ayahnya?!"

"Maka dia akan meneruskan sisa hidupnya dengan kisah kepahlawanan ayahnya yang akan dia ingat dan pelajari sampai mati."

"Sebegitu gampangnya kau membayangkan masa depan?!" Lovino semakin meninggikan suaranya.

"Kenapa kau mempersulitnya saat kau sudah mengerti hidup hanya satu kali?" Lukas mengedipkan mata lambat-lambat. "Berbagai kemungkinan bisa terjadi, kenapa hanya memikirkan yang buruk? Hal buruk memang bisa terjadi. Begitu pula hal baik yang tidak kauduga."

Lovino menutup mukanya, mengusapnya keras-keras. Sial.

Ia berpaling memunggungi Lukas. Erika, Erika. Lagi. Seharusnya dia tidak begitu mengkhawatirkan Erika sekarang dan membiarkan kepalanya dipenuhi perhitungan-perhitungan tentang apa yang akan dihadapi Erika di perjalanannya. Kenapa aku bisa segila ini? Banyak yang belum aku mengerti.

Dia tidak sadar Lukas tetap berada di sana, bergeming, menatapnya yang seperti anak hilang. Mondar-mandir di tengah ruangan seperti orang lupa diri. Kemudian Lovino keluar, meninggalkan Lukas sendiri yang akhirnya hanya menggelengkan kepala.


Di antara tumpukan kertas-kertas yang kusut dan terlipat-lipat—yang sedari tadi dibongkarnya tanpa ampun—akhirnya dia menemukan catatan kecil tentang denah bagian dalam mesin radio. Suara yang diterima mesin itu mulai kacau dan Lovino rasa dia harus memperbaikinya sekarang juga.

"Nih, roti." Francisco melemparkan makan siang itu. Mendarat di atas kertas-kertas lembab yang menguning.

Lovino memandang rotinya dan Francisco dengan cara yang menyedihkan.

"Aku bukan anjing."

"Memang. Makanya, dimakan." Francisco bersandar pada jendela. Menutupi warna biru laut yang sedari tadi ingin sekali dipandangi Lovino, tetapi terhalang oleh berkas-berkas yang menjebak, menelan data pentingnya.

"Lukas bergabung dengan kita."

Lovino membereskan kertas-kertas itu, tetapi berhenti. "Bergabung, katamu?"

"Empat krunya dilepaskan di pelabuhan terdekat nantinya. Namun dia menjadi bagian dari kita. Tahu alasan kenapa dia direkrut?"

"Dia pintar? Bagian dari intelijensi?" Lovino memasukkan berkas-berkasnya ke dalam laci, ditutupnya dengan kasar, dihantam sampai berbunyi keras.

"Salah." Matanya mengikuti arah gerak Lovino yang akhirnya berjongkok di sudut sambil mengunyah. "Dia ahli strategi. Pernah bekerja di kabinet darurat Norwegia."

"Oh."

"Tidak terkejut?"

"Kenapa harus? Bukankah itu hal yang selalu dicari militer suatu negara? Bidak dari musuh pun bisa diambil jika menguntungkan permainan sendiri."

Francisco tersenyum miring. "Pintar juga kau."


Ketika Lovino sedang mencoba mereparasi bagian kabel yang salah di sebelah kiri mesin, Lukas datang ke ruangannya. Dia membawa beberapa berkas, dan meletakkannya di ujung meja Lovino.

"Maaf turut merepotkanmu."

"Hng?" Lovino yang bercangkung mendongak, masih menggigit sebuah obeng.

"Aku belum punya ruangan untuk bekerja, sementara aku ditaruh di sini sampai ruang untukku tersedia di ruang kendali."

Lovino hanya menggerakkan alis. "Mmmm."

Lukas cuma mendelik sesaat sebelum mengerti bahwa Lovino memang tak begitu berkeberatan.

tbc.


note:

Ida Knudsen, adalah motor tanker asal Norwegia yang ditenggelamkan Luigi Torelli di sebuah serangan di malam hari. Dari fakta aslinya (regiamarina dot net), Torelli memang menenggelamkan kapal ini dan 5 kru tewas. Namun bagian lain dari fanfiksi ini, yaitu kedatangan Lukas, adalah murni fiksional, ya, hehehe.

seperti biasa, terima kasih banyak untuk seluuuuuruh pembaca ;A;)/