luigi torelli

Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya. penulis tidak mengambil keuntungan material apapun atas pembuatan karya; ditulis hanya untuk kesenangan. perhatian: ini adalah fiksi penggemar historikal; meski mengandung unsur sejarah, tetap ada aspek-aspek bersifat rekaan di dalamnya
Pairing/Character: Romano/Liechtenstein; OC!Roma, Norway, Hungary, Czech, Slovakia, Belarus . Genre: Adventure/Family/Romance. Rating: T. Other notes: WWII!AU, Naval Army, Regia Marina.

(Orang-orang baru dan rencana baru; Erika dan Erzsi masih mengelilingi Eropa dengan misi mereka sendiri. Dan Lovino akan menemukan dunia barunya.)


.

.

catatan pembuka: sekadar mengingatkan, bahwa adanya unsur kamp konsentrasi (sebagai bagian dari sejarah gelap kemanusiaan) di karya ini bukanlah untuk menjustifikasi, menggunakan untuk romantisasi, atau berbagai hal yang tak berkaitan dengan kemanusiaan lainnya. tujuan utamanya hanyalah untuk mengingatkan tentang sejarah; tentang kesalahan manusia, tentang kerusakan yang diperbuat manusia pada sesamanya sendiri di muka bumi—and that's the main purpose of history – to stop humans from doing the same mistakes again and again.

.

.

.

.


"Hei, hei. Lihat."

Erika mengintip dengan mata yang sedikit terbuka. Masih membuat mereka berdua menganggap dirinya tidur.

"Kenapa, sih? Masih ngantuk, tahu."

"Sepertinya kita benar-benar akan ke Auschwitz."

Erika melirik Erzsi. Masih tidur. Ia pun bergerak sedikit, mengubah posisi menjadi lurus ke depan untuk memperhatikan mereka berdua lebih jelas.

"Begitu ... apa kau benar-benar yakin pamanmu ada di sana?"

"Paling tidak, kita bisa bertemu Natalya. Dia kemungkinan besar berada di sini."


Turun dari stasiun, ada sebuah mobil bak terbuka yang menunggu. Irena dan Daniel sengaja menyisihkan diri dan mengambil tempat duduk paling ujung. Erika pun sengaja menunggu, berkode dengan Erzsi agar mereka berempat duduk berhadapan saja.

Irena dan Daniel dengan mudah mengerti gelagat kedua senior tersebut, tetapi mereka bukan pula keberatan. Mereka diam saja, menunggu Erika dan Erzsi berdua memulai suatu pembicaraan. Namun pada akhirnya, mereka berempat sama-sama diam hingga tiba di perkemahan Palang Merah untuk mengumpulkan dan mendistribusikan barang-barang.

Erika membantu mengambil tas-tas yang berisi perban dan berbagai obat-obatan kecil dan dia berpisah dengan Erzsi yang menuju tenda khusus stok makanan. Di dalam tenda itu barang dikelompokkan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan disisihkan untuk perjalanan-perjalanan selanjutnya.

Saat sedang memasukkan obat-obatan ke dalam kotak, suara kecil mendekatinya. "Kita benar ke Auschwitz."

Tak perlu menoleh untuk menyadari siapa si pembicara. "Dari siapa kau mendengarnya?" Erika hanya melirik sedikit.

"Di luar. Aku bertanya pada kepala rombongan yang sudah berkemah di sini selama dua hari menunggui kita. Nanti sore kita akan berangkat."

Erika hanya mengangguk kecil. Ia memperhatikan diam-diam, kerja Irena cepat juga. Dia mengelompokkan obat-obat dengan sangat cepat tanpa memperhatikan dulu nama-namanya, meski kebanyakan dari botol benda itu mirip, hanya berbeda di warna penutupnya. Dia orang yang bisa dipercaya.

"Erika."

"Ada apa?"

"Siapa Lovino?"

Erika menoleh cepat dengan mata tak berkedip. Irena mengulum senyumnya sambil memandangi dengan tatapan menggoda. Sejurus kemudian dia tak bisa menahan kikikannya. "Aku ingin tahu. Lagipula kalian sudah mengorek informasi soal Natalya dariku, 'kan?"

Tak Erika pikirkan celetukan Erzsi saat itu akan menjadi hal yang tersangkut di Irena. Erika membiarkan suasana hening beberapa saat tetapi pada akhirnya, lirikan dan lirikan Irena membuatnya sadar, dia ditagih.

"Dia ... teman masa kecilku. Sekarang sedang dinas militer di Regia Marina, kru radio. Kami sama-sama kehilangan separuh hidup kami saat gempa terjadi di Italia saat kami baru lulus sekolah menengah. Aku kehilangan kakakku ... dan dia kehilangan kakek dan saudara kembarnya ..."

"Oh ...," Irena menghela napas. "Aku turut berduka."

"Terima kasih." Erika berhenti sebentar mengemasi barang-barang tersebut, tertegun, mengucapkan nama kakaknya untuk mengenang dan mengenang lagi—tanpa bosan, sesuatu yang selalu biasa dia lakukan di waktu-waktu kosong saat kenangan bersama Lovino pun tak menutupi kekosongannya.

"Jadi kalian tinggal bersama seperti aku dan Daniel?"

Erika mengangguk pelan. "Aku bekerja di klinik dan dia bekerja di tempat perbaikan radio, sambil meneruskan sekolahnya. Dia berangkat tahun 1940."

"Mmm, hmm." Irena tampaknya sudah selesai dengan stok obat yang menjadi bagiannya. "Aku dan Daniel sama-sama berhenti sekolah sejak ayahku meninggal dunia. Aku meneruskan usahanya, dan Daniel, yang juga kehilangan ibunya yang sakit-sakitan sejak dahulu, ikut tinggal bersamaku. Rumahnya dijual karena utang-utang ibunya."

Erika terdiam, sangsi pada dirinya sendiri karena rasa curiga yang sempat ditujukan pada Irena. Lebih banyak persamaan daripada perbedaan di antara mereka.

"Pamanku adalah satu-satunya orang yang bisa membuatku merasa 'lebih hidup' selain Daniel. Aku tidak ingin membiarkannya hilang begitu saja ... aku harus tahu sesuatu di baliknya."

Erika tak punya jawaban lain. Dia biarkan pembicaraan itu menguap di udara, hingga seorang datang ke pintu tenda dan mengatakan soal makan siang, agar mereka bisa segera berangkat ke kamp.


Perjalanan masuk ke dalam Auschwitz berjalan seperti biasa. Sama menyedihkannya ketika masuk ke dalam kamp-kamp lain sebelumnya, sama mirisnya ketika melihat orang-orang kurus kering yang kelaparan dan menyerbu mobil bantuan seolah cuma di situlah hidup mereka bergantung.

Erika tak mau memikirkan lebih banyak hal selain memberikan bantuan makanan dan kesehatan apa adanya. Seorang anak yang menghampirinya dan bertanya apa itu makanan kaleng sempat membuat matanya berair, hingga ia harus mengusapnya berkali-kali, tetapi anak itu mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan,

"Kenapa Kakak menangis? Hidup Kakak bahagia, bisa ke sana dan ke mari sesuka Kakak. Aku yang tinggal di sini, dan tidak boleh ke manapun, tidak menangis, Kak."

Erika memeluk tubuh ringkih itu, membiarkan dirinya menangis di hadapan teman-temannya maupun sesama penghuni kamp di sekitar anak tersebut.

Erika tak mau mengira-ngira apa saja yang mereka alami dan apa-apa yang akan terjadi pada mereka—menghadapi apa yang ada di depan wajahnya saja sudah membuat dia mematung. Saat melepas anak itu untuk kembali ke baraknya, ia melambaikan tangan dengan tatapan kosong. Apa yang barusan dilihat dan didengarnya seolah begitu sureal, seakan terlalu menyedihkan untuk menjadi nyata tetapi terlalu mudah untuk disentuh dan dilihat jika dia adalah mimpi.

Pembagian logistik itu begitu dibatasi dan sebentar sekali sampai-sampai hampir tak semua barang bisa selesai dibagikan. Ketua rombongan memerintahkan pulang tetapi Irena dengan cepat menyusulnya. Erika, yang kebetulan berada di sampingnya, langsung menyusul.

"Apa kita tidak akan ke Birkenau?"

"Tidak perlu. Pihak Auschwitz sendiri yang akan membagi bantuan itu ke Birkenau. Tugas kita sudah selesai."

"Tapi yang kita bagikan di sini tadi begitu sedikit!" Irena tak bisa menahan dirinya. "Auschwitz besar, penghuninya banyak—kita tidak bisa mempercayakan pembagian itu pada pihak dalam!"

Ketua rombongan menyipitkan matanya dan memandang Irena baik-baik. Erika membaca suasana dan langsung menyela, "Maaf, Irena hanya ingin mencari tahu tentang keluarganya di Birkenau ... jadi dia begitu ingin pergi ke sana."

Ketua menggeleng. "Sayang sekali, Nak, kita juga harus mengikuti aturan. Kita bisa mengatur perjalanan ke Birkenau, tetapi harus mengurus beberapa hal dengan pihak penjaganya, yaitu para Schutzstaffel dulu."

"Apakah ada rencana untuk berbicara dengan SS?"

"Kita ... akan melihatnya nanti. Yang penting hari ini kita selesai dengan tugas kita. Masih ada logistik yang tersisa di dalam area perkemahan, jadi kita bisa mengaturnya."

Meski cukup melegakan, Irena tetap mendesah kecewa saat Ketua pergi dan ia pun menghadap pada Erika.

"Tidak apa-apa, 'kan?"

"Tetap saja ... aku ingin segera mengetahuinya." Bahu Irena melemas.

"Selalu ada waktu yang tepat untuk sesuatu, Irena. Kita pulang dulu ..." Erika mencoba menggiring Irena dengan mendorong bahunya. "Yang kaucari juga, Natalya ... dia bekerja di mana? Di kamp atau ..."

"Aku tidak tahu pasti. Dia salah satu yang kucari. Dia tiba lebih dulu di Polandia dan aku membutuhkan banyak informasi yang pasti sudah banyak didapatkannya di sekitar sini."

Mereka berjalan pelan menuju mobil Palang Merah, Daniel sudah menunggu di sana dan Erzsi mengejar mereka berdua dari belakang.


"Aku tidak bicara pada siapapun." Irena memandang ke dinding tenda, yang kehitaman dan berdebu serta berbekas lipatan di sana-sini. "Aku hanya tidak ingin menambah lukaku sendiri."

Erika diam saja meski ia punya cerita. Wajah anak itu, yang dipeluknya dan menghiburnya dengan kata-kata yang membuat hatinya runtuh, semakin samar di ingatannya. Semoga kau selamat sampai akhir, Sayang, dan ia cuma bisa merapatkan matanya, tak ada lagi yang bisa ia lakukan setelah ini.

"Daniel, apa yang kautemukan di sana—"

"Irena? Irena!"

Empat pasang mata langsung tertuju pada pintu tenda yang disingkap. Irena yang memekik dan langsung berdiri, "Natalya!"

Erika dan Erzsi saling berpandangan. Daniel juga berdiri, di belakang Irena.

"Di mana kautinggal? Kenapa bisa menemukanku di sini?"

Datar jawabannya, dan Natalya bukan seperti orang yang Erika duga, "Aku melihatmu keluar dari area Auschwitz." Matanya, yang ungu dan dingin serta membuat Erika tertahan sebentar, berputar memandangi sisa orang di tenda—cuma Erika dan Erzsi. "Aku harus bicara padamu."

Erika dipandangi lagi. Irena memahami suasana. "Oke, tapi bisakah aku mengajak mereka? Erika dan Erzsi, anggota Palang Merah. Mereka teman baruku dan kita bisa percaya pada mereka."

Membaca gerak-gerik dan raut wajah Natalya, Erika bisa yakin bahwa perempuan itu setuju.

Jawaban yang tajam, "Baiklah. Bisakah kalian meminta izin untuk keluar dulu? Aku tidak yakin kita bisa bicara di sini."

"Aku yang akan bicara." Erzsi bangkit. "Tunggu sebentar."

Dengan Erzsi yang bangkit, Irena dan Erika yakin mereka akan bisa keluar dengan cepat. Irena mengajak Natalya keluar dan menunggu di depan area perkemahan.

Lima menit kemudian, Erzsi menemukan mereka dan memberikan kode yang merupakan kabar baik. Ia berjalan paling belakang dan Natalya mengatakan bahwa ada sebuah toko roti yang bisa menjadi tempat minum kopi di luar sana, tak seberapa jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Tak ada yang bicara di sepanjang perjalanan.

Natalya memimpin di depan dengan langkah yang cepat. Rambut pirang platinanya terurai begitu saja di punggung, sedikit kusut dan tak terpotong rata di beberapa bagian. Blus biru tuanya yang tebal dan mencapai lutut dengan lengan tanggung hingga siku kelihatannya bukan barang murah, pikir Erika, tetapi jelas sekali kain itu telah dipakai berhari-hari, berkali-kali, berulang-ulang tanpa pengganti.

Satu-satunya yang tidak memesan apapun di kedai itu hanya Natalya. Dia kelihatan begitu tak sabar untuk menyampaikan beritanya.

"Kautinggal di mana, sebenarnya? Kenapa tidak menghampiriku saja tadi?"

"Sepuluh meter dari gerbang Arbeit Macht Frei itu. Tadi tidak sempat."

Erika menyimak pula sambil mengunyah roti pelan-pelan. Perempuan itu sangat hemat bicara dan tegas untuk ukuran Erika, pikirnya, dan imej perempuan yang tenang dan perhatian yang sempat dipikirkannya saat pertama kali mendengar tentang Natalya pun luntur sudah. Ia semakin sadar ia tak pintar dalam memperkirakan seseorang.

"Aku sudah tinggal di sana dan datang ke kedua tempat untuk membantu memasak—tapi ini jarang—atau menjualkan kain dan bahan sepatu untuk petugas penjaganya untuk diolah oleh penjahit mereka di dalam sana. Apa yang kukhawatirkan memang benar ada di sini," suaranya kemudian merendah, " Aku menemukannya dua hari lalu. Fakta sebenarnya. Kakek, bibi dan pamanku, seperti yang diceritakan sepupu jauhku Toris dan temannya Feliks ... memang berakhir di Birkenau."

"Ada apa di Birkenau?" Daniel menarik kursi lebih dekat ke meja.

Natalya melirik kiri dan kanan seperti tatapan mata-mata. "Pemusnahan Akhir. Orang-orang tertentu dimasukkan ke dalam kamar gas saat tiba, setelah mengalami perjalanan dengan kereta yang panjang sekali, dari berbagai asal."

"Detilnya, Natalya?"

Natalya memejamkan mata, untuk sesaat dia terlihat begitu ketakutan dan Erika tak menduganya.

"Yang perempuan dicukur habis rambutnya. Barang-barang mereka disita. Aku ... detilnya ... entahlah. Kurasa aku tidak bisa menceritakannya lebih detil lagi," ia menggeleng sambil menekan pelipisnya. "Yang jelas ... musnah," kepalanya menggeleng lagi mengabaikan hal-hal yang membuat wajahnya semakin getir. Suaranya gemetar untuk sesaat, "Aku ... ah. Mereka sudah tidak ada di sini lagi." Pejaman matanya begitu rapat dan bibirnya digigit.

Erika benar-benar ingin merangkul bahu wanita itu. Dia yang tadi terlihat begitu tangkas sekarang hancur sesaat.

"Aku benar-benar tidak bisa berada di sini lagi. Aku harus segera pulang ke Amerika."

"Hei, bukankah kita berjanji untuk—"

"Tidak ada alasan lagi untukku!" Dia menahan napasnya. "Semua yang kucari sudah tidak ada!"

"Tapi ... bukankah kita sudah membicarakan ini?" Irena memegang kedua tangan Natalya. "Kita sudah setuju untuk berkeliling Eropa untuk melakukan sesuatu demi perang ini?"

Pandangan Natalya kosong, sebentar tertunduk. "Aku hamil."

"Ha—Nat?! Serius—"

Daniel dan Irena sempat berpandangan, mata mereka masih terbelalak.

"Alfred bahkan menikahiku secara mendadak, diam-diam, empat hari sebelum tanggal keberangkatannya. Dan dia yang benar-benar menginginkan seorang anak. Katanya ... agar jika dia tidak bisa pulang, masih ada separuh dirinya yang tertinggal padaku."

Erika berpandangan dengan Erzsi, yang tampak paling tidak nyaman karena jari-jemarinya tak sabar mengetuk-ngetuk meja.

"Kakak perempuanku juga memintaku untuk kembali ke Amerika, dia sudah menemukan tempat yang nyaman pula di Vancouver. Paling tidak aku datang padanya, atau kembali ke rumahku—atau rumah Alfred." Natalya kemudian duduk tegak. "Aku belum bisa berjuang untuk lebih banyak orang saat aku punya hal yang lebih penting untuk kuperjuangkan."

Irena kemudian menepuk punggung tangan Natalya dengan lembut. "Kami mengerti—tapi, selamat, ya. Senang sekali mendengarnya. Jaga dirimu baik-baik, Natalya. Kenapa tidak cerita saja soal pernikahan kalian?" Irena mencoba mencerahkan suasana dengan tawanya. "Ah, sudahlah, kau memang penuh rahasia, Nat. Kapan kau akan pulang?"

"Secepatnya. Sebelum orang-orang tahu aku adalah keturunan Rusia asli. Selama ini aku memakai nama belakang Alfred," hela napas. "Mungkin besok."

Irena secara tak sengaja berpandangan dengan Erika. Merasa dipersilakan, Erika pun bertanya, "Maaf, Natalya ... boleh tahu apa yang kalian rencanakan?"

Pandangan Natalya membuat Erika tersentak.

"Kami sudah mencurigai adanya hal yang tidak beres dengan adanya orang-orang tertentu yang hilang tanpa jejak. Terutama ketika Ivan, kakakku, yang bertugas di militer Rusia, memberitahu soal rencana pemusnahan etnis tertentu yang menjadi pembicaraan para intel."

"Kami ingin memperingatkan orang-orang tentang hal ini," tambah Irena, "diam-diam, dengan gerakan yang tak terbaca, agar orang-orang tahu dan waspada."

Natalya dan Irena sama-sama mengangguk.

Kalimat datar Natalya membuat Erika lagi-lagi meneguk ludahnya sendiri, "Bisakah kalian melanjutkan harapan kami?"

Dengan ragu Erika bertanya pada Erzsi lewat tatapan mata. Namun Erzsi tak kelihatan gentar maupun keberatan. Ia mengangguk pada Erika yang mengulum ujung bibir bawahnya.

"Baiklah ..." Erika habis kata ketika melihat Natalya memberikan senyumnya sekilas, begitu efemeral dan tipis.

"Mereka adalah Palang Merah yang kerap berkeliling Eropa juga. Dan sepertinya ... aku juga akan melakukan hal yang sama bersama Daniel. Jadi kau bisa mengandalkan kami."

Erika juga Erzsi tak bicara lagi hingga pertemuan itu usai, dibubarkan hanya dengan salam singkat dari Natalya dan janji Irena untuk mengirimkan surat suatu saat nanti, ketika Natalya kemungkinan telah sampai di Amerika.

Ketika Natalya pergi ke arah yang berlawanan, Erika menoleh untuk terakhir kalinya, saat yang lain sudah menatap ke depan dan memikirkan cara agar mereka bisa ke Birkenau setelah ini.

Ia jadi terpikirkan sesuatu.

Suatu saat nanti, ia ingin menamai anaknya Natalya, dengan ejaan ala Italia dan diucapkan dengan dialek Italia Selatan.


Ucapan itu akhirnya meruntuhkan harapan mereka, "Tidak bisa."

Bahu Erika melunglai, Erzsi kelihatan ingin berdecak tapi tidak jadi, sedangkan Irena yang paling gusar. Daniel memilih diam saja.

"Schutzstaffel tidak mengizinkannya. Mereka beralasan masih banyak stok di Birkenau dan baru beberapa minggu lalu pasokan datang dari Jerman. Lagipula kita sudah menyalurkannya ke Auschwitz, seperti yang mereka katakan sebelumnya, mereka akan mengurusnya sendiri untuk ke Birkenau."

Percuma mendebat dua kali. Erzsi pun tak membela kepentingan Irena lagi, dan mereka semua sama-sama tahu.

Hal ini diungkit lagi oleh Erika saat mereka berjajar di ujung tenda.

"Lalu apa yang akan kaulakukan setelah ini?"

Irena, yang kelihatannya sejak tadi tak ingin tidur, menatap langit-langit rendah tenda untuk beberapa waktu sebelum menjawab.

"Apa akan pergi lagi sesuka hatimu?"

Satu lirikan. "Kau bisa menebakku."

"Apa yang akan kukatakan pada Ketua?" bisik Erika, nyaris mendesis pada ujungnya.

"Aku tidak ingin merepotkanmu dengan memintamu mengatakan apapun."

Erika memejamkan mata, hanya untuk membukanya lagi ketika Irena memanggilnya.

"Bagaimana bisa kau tahan berpisah dengan Lovino? Aku bahkan mendengarmu mengatakan namanya saat kautidur." Irena mengulum senyumnya sejadi-jadinya. "Kautinggal begitu lama bersamanya, kau hidup seperti aku dan Daniel ... tetapi, kau mampu ... aku tidak bisa memikirkan bagaimana seandainya aku harus melepas Daniel." Terdengar embusan napas yang panjang ketika Irena menanti jawaban. Matanya masih terbuka dan berharap kegelapan langit-langit tenda bisa menenangkannya.

"Dia lebih berhak memiliki mimpinya daripada aku."

"Bagaimana jika dia gugur di medan perang?"

Erika mencengkeram selimut tipisnya. "Maka ... biarkanlah ... tidak ada yang bisa aku lakukan lagi ..."

"Kau pasti akan bersedih, bukan? Kau mencintainya atau tidak? Aku tidak peduli cinta apakah itu, entah sebagai pengganti kakakmu atau orang yang akan kaumiliki di masa depanmu—tetapi aku yakin dia, bagimu, sepenting Daniel bagiku."

Erika menarik napas panjang. Tidak dijawabnya. Irena membiarkannya.

"Selamat malam, Erika. Mimpilah yang indah, agar kita tidak terlalu terbawa oleh suasana dunia yang sedang mengerikan ini."

Erika menutup mata tetapi tidak memilih untuk segera tidur. Tak lama kemudian, dia mendengar napas yang teratur dari rekan yang tidur di sebelah kanannya.


Ketika Erika membuka mata, dia langsung duduk, dan sisi tempat Irena tidur kosong. Ia segera bangkit dan mencari di luar tenda. Tangan kanannya gemetar ketika keluar, teringat tentang suatu waktu ketika tenda berdiri, orang-orang panik, dan bagian-bagian yang hilang dalam hidupnya. Dan dia mau tak mau menampar dirinya sendiri dari dalam untuk meyakinkan bahwa dirinya telah bergerak jauh dari semua hal traumatis.

Kau sudah bangkit, jangan terjerembab lagi.

Dia berbalik dan mendapati Erzsi baru kembali dari tenda Ketua. Dihampirinya dan begitu mereka berhadapan, Erzsi menggeleng.

"Mereka sudah pergi."

"Kapan?"

Erzsi melirik kanan dan kiri. Banyak anggota yang bersliweran, lantas ia memberi isyarat. Erika tak mengangguk meski memahami, dibuntutinya Erzsi hingga ke ujung perkemahan yang sepi.

"Dini hari tadi. Aku terbangun saat ia sudah berdiri di depan tenda. Dia menyuruhku diam." Erzsi pun meletakkan telunjuk di bibirnya. "Dan aku kejar dia sampai ke luar area ... yang gelap sekali. Irena dan Daniel sudah pergi."

Mata Erika semakin sayu. "Seharusnya aku tahu itu ..."


Truk sudah berbelok dan mereka semakin jauh dari sektor Auschwitz. Erika, yang berada paling dekat dengan dinding penyekat antara anggota dan pengemudi, berbisik pada Erzsi, "Apa yang akan kita lakukan setelah ini?"

"Kita akan pergi ke utara Austria, tak terlalu jauh dari sini. Mauthausen-Gusen," bisik Erzsi sambil menangkupkan tangannya di depan telinga Erika.

"Apa Ketua tahu kepergian Irena dan Daniel?"

"Sepertinya tidak. Dia tidak begitu menyadari kurangnya jumlah yang memang sudah sedikit ini."

Erika memandang teman-temannya yang terkantuk-kantuk. Malam sudah larut ketika mereka meninggalkan perkemahan, dan perjalanan yang tak tentu akhirnya ini dibuat mereka sebagai kesempatan untuk tidur sepuas mereka. Ia sama sekali tidak berharap ia bisa tidur sekarang, atau alam bawah sadarnya akan mengulangi, memutarkan lagi kejadian setelah gempa tahun itu, hanya karena dua orang yang sudah telanjur disukainya pergi begitu saja—yang membuatnya teringat akan luka lama. Trauma itu bangkit lagi.

"Apa kita akan naik kereta lagi setelah ini?" Erika mencoba mengalihkan perhatiannya sendiri.

"Sepertinya. Kita cukup jauh dari tujuan, tapi aku tidak tahu kita akan berhenti di stasiun mana." Erzsi menyandarkan kepalanya di dinding kain yang berbau aneh itu. "Kau tidak tidur?" tanyanya, pelan dan lelah, tanpa melirik.

"Nanti saja. Erzsi, tidurlah. Aku akan membangunkanmu kalau kita berhenti di suatu tempat."

"Hmm."

Sudah Erika kira Erzsi tertidur ketika ternyata perempuan itu bertanya lagi, "Bagaimana dengan permintaan Natalya?"

"Aku ingin melakukan sesuatu."

Erzsi duduk tegak dan membuka matanya. Sekali lagi ia berbisik. "Aku punya ide."

"Apa ... kita akan melarikan diri juga seperti Irena dan Daniel?"

Di tengah-tengah keheningan itu, Erzsi nyaris tertawa geli, kantuknya seakan-akan tak pernah ada sebelumnya. "Tentu saja tidak."

Beberapa orang tersadar dari kantuknya. Erzsi meminta maaf dengan tatapan menyesalnya, lantas mendiamkan Erika sebentar hingga ia rasa suasana sudah cukup aman dan tidak mengundang kecurigaan jika dia berbisik-bisik lagi pada Erika.

"Poster."

Kening Erika mengerut.

Iya—anggukan cepat dan isyarat bibir.

"Tapi aku tidak bisa menggambar—"

"Oh ..." Erzsi berkedip cepat. Ia mengangkat bahu. "Sebenarnya aku juga."

Erika tersenyum kecut.

"Tulisan saja kalau begitu."


Di sebuah rumah yang dipinjamkan untuk tim Palang Merah, Erika dan Erzsi memilih tempat tersudut untuk mulai memikirkan kalimat yang akan dituangkan ke dalam kertas dan ditempelkan di tempat-tempat yang sudah mereka pikirkan.

"Aku merasa seperti petugas propaganda perang," Erzsi menyela suasana yang mendadak hening ketika Erika termenung memandangi secarik kertas kecil yang sudah separuh penuh. "Aku ingat cerita Gil. Dia pernah masuk ke salah satu divisi di kabinet perang partai itu, dan menemui seorang pembuat poster propaganda perangnya yang bahkan bukan seorang anggota partai dan cuma masuk demi uang."

Erika tertarik. "Uang, ya ..."

"Orangtua orang itu benar-benar menderita karena depresi yang melanda Jerman pada tahun tiga puluhan ... makanya, dia bilang dia rela bekerja apa saja asalkan dia mendapatkan uang banyak."

Erika menuliskan sesuatu tanpa meminta persetujuan Erzsi, tetapi wanita itu tak mempermasalahkannya. Erika bertanya lebih jauh, "Bagaimana hidupmu dan hidup Gilbert di masa itu?"

Erzsi menatap kosong lembaran-lembaran yang sudah mereka gumpal. "Ceritanya sangat panjang. Kurasa kau berhak tahu sesuatu."

"Ada apa?"

Erzsi tersenyum kecut. "Aku pernah nyaris menikah dengan seseorang sebelum aku memutuskan hidup bersama Gil."

"... Tidak sampai menikah tapi, 'kan?"

"Tapi aku mencintainya," Erzsi kemudian berdeham, "ralat, pernah mencintainya. Awalnya aku dijodohkan oleh orangtuaku. Dia orang kaya dan kedua orangtuanya punya karir bagus, punya banyak tanah dan usaha, dan masa depan dia kelihatan cerah sekali. Aku juga jadi menyayanginya meski kurasa dia orang yang sangat kaku sebelumnya ... pertunangan kami membuatku bahagia."

"Aku yakin kau masih sangat muda waktu itu," Erika berucap sambil tersenyum kecil. "Kita memang tak mudah melupakan orang-orang yang pernah kita cintai."

"Percaya atau tidak, saat itu usiaku sebelas tahun. Direncanakan untuk menikah saat usiaku empat belas."

"Lantas kenapa kalian berpisah?"

"Pertunangan itu berjalan di tempat selama enam tahun. Belakangan aku tahu bahwa ternyata dia bukan orang yang berminat pada pernikahan ... jadi kandas begitu saja. Selesai. Aku yang sudah terlalu lelah dibuatnya menunggu mengiyakan saja saat dia bilang dia ingin pergi ke Jerman untuk belajar dan berpisah dariku."

"Kau bahagia bersama Gil sekarang, 'kan?"

Erzsi mengangguk pasti. "Tentu saja. Dia teman bertengkarku yang terbaik. Tidak ada yang bisa mengimbangiku dalam bertengkar kecuali dia, dan bahkan membuatku kalah." Lantas dia tertawa lepas dan kembali teringat pada kertas mereka. "Bagaimana dengan kalimatnya, apa kau sudah punya ide?"

"Ini, lihat. Bagaimana menurutmu?" Erika menyerahkan kertas tersebut, yang sudah dilingkari bagian bawahnya.

Tidak makan waktu lama hingga akhirnya Erzsi menyetujuinya. "Kita beli kertas besok."


Ada waktu libur satu minggu sebelum akhirnya mereka diharuskan untuk bergerak lagi. Ada logistik yang harus ditunggu dari Inggris, dan sedikit terhalang di perjalanan. Sementara menunggu, mereka membuka posko yang diperuntukkan bagi warga sekitar yang membutuhkan makanan atau obat-obatan. Mengeluarkan stok yang tersisa yang tidak bisa diserahkan ke Auschwitz tempo hari.

Erika dan Erzsi mulai menyusup ke gang-gang dan menyisakan beberapa kertas untuk ditaruh di tepian jalan sedikit-sedikit. Bergerak saat hari sudah gelap dengan menyelinap keluar diam-diam dari kamp sendiri-sendiri.

Mereka bahkan, dalam satu hari yang lowong, mereka berhasil menemukan jalan menuju Wina dengan tiket kereta yang murah dan mencoba menjalankan misi mereka pula di sana. Pulang dengan dua puluh lembar kertas yang sudah disebar, mereka meninggalkan Wina dengan tenang esok paginya.

Sebagian orang-orang Austria mulai memperhatikan pesan-pesan tertulis di dinding-dinding tertentu, yang tak jauh dari pusat-pusat keramaian.

Kereta menuju kematian di Auschwitz-Birkenau berkeliaran. Sembunyikan diri Anda.


Erika membeli beberapa lembar kain yang ia butuhkan untuk pakaian barunya di pasar, hari itu, di sebuah pagi yang benar-benar mendung. Austria, terutama Mauthausen, tak pernah memberikan mereka cuaca yang cerah dan bersahabat semenjak mereka tiba, tetapi dia tak pernah mempermasalahkan langit yang kelabu. Erika lebih menyukai ketenangan mendung daripada semaraknya langit cerah.

"Kau membaca iklan itu?"

"Yang mana?"

"Yang katanya menuju Auschwitz itu. Jangan-jangan tetanggaku yang dua minggu lalu menghilang setelah didata, ikut naik kereta itu ... ah, aku jadi tidak ingin naik kereta lagi. Bagaimana jika seandainya kita ditipu?"

"Benar juga ... mereka merazia orang-orang tertentu waktu itu jangan-jangan untuk dikirim ke sana?"

"... Siapa tahu? Aku ingin pergi dari sini saja kalau begitu. Apa yang bisa kita lakukan? Menyelinap diam-diam keluar dari Austria?"

"Mungkin. Yang jelas, kita harus semakin waspada. Aku akan mendiskusikan soal ruang persembunyian bawah tanah dengan anak-anakku."

"Aku juga. Lebih aman. Dan di rumahmu juga ada bibi-bibimu yang 'keturunan' itu, 'kan? Berhati-hatilah sekarang. Kalau ketahuan, bisa-bisa mereka tamat di Auschwitz."

Erika ingin tersenyum, tetapi menahannya. Natalya, hei, dengarlah.


"Aku benar-benar tidak sempat terpikirkan meminta alamatnya." Erika kemudian mundur sedikit untuk memperhatikan kertas yang ia tempel. Sedikit miring, nilainya, tetapi dia mengabaikannya begitu Erzsi menjawab.

"Aku juga." Erzsi pun berjalan. Ia mengedikkan dagu ke arah kiri begitu mereka keluar dari jalan sempit itu. "Tapi kita masih bisa mencarinya di buku telepon, 'kan?"

Bahu Erika melemas lagi, setelah sempat tegak optimis. "Kita lupa menanyakan nama keluarga suaminya ..."

"Ah, iya ..." Erzsi juga turut menyesal. "Dan masalah lain, Irena dan Daniel, satu-satunya cara untuk menemukan Natalya kembali, sudah pergi jauh dari tempat mereka seharusnya tinggal. Kita hanya bisa menunggu ... menunggu takdir," nada bicara Erzsi tak begitu meyakinkan. Ia pun berhenti di depan sebuah perempatan yang gelap, tiang lampunya hancur, hanya tersisa bagian bawahnya. "Di sini lagi."

Erika mengeluarkan satu dari tiga lembar terakhir. Senja sudah usai waktunya, mengantarkan bulan purnama semakin nampak dan cerah di timur. Erika tertelan bayang-bayang gedung, Erzsi menunggui dengan tenang.

Bayang-bayang yang melingkupi Erika semakin gelap. Erzsi mengerutkan kening.

Ia terperangah, lalu meneguk ludah. "Erika ...," bisiknya, serak.

Lelaki berseragam hitam itu menaikkan kacamatanya. "Jadi kalianlah yang membuatnya, hm."

.

.


.

.

satu musim sebelumnya ...

Lovino menatap potret tiga kawan yang sudah menutup mata, yang dia sisipkan ke dalam jurnal kecilnya. Kemudian beralih pada kapal yang ternyata harus kembali ke markas utamanya lagi.

Salah satu dari tiga yang sudah dilepas jenazahnya adalah rekannya sesama kru radio. Lukas sudah mengatakan padanya bahwa waktu adalah hal duniawi terkuat yang akan menghapus rasa sakitnya, tetapi Lovino, yang sudah kenyang merasakan tahun-tahun berat hanya dengan Erika di salah satu bahunya—dan bahu yang lain menahan beban luka, tahu bahwa perkara ditinggalkan bukanlah hal yang mudah ditutupi.

Mereka berdua memang tak terlalu akrab, Lovino pun menemukan bahwa Francisco bisa lebih menyenangkan—meski dengan segala pertengkaran yang pernah serta selalu terjadi—daripada dia, tetapi tetap saja, mereka menghabiskan waktu nyaris tiga tahun di satu meja, meski kadang dengan jam jaga yang berbeda.

Dia sudah begitu sering menyaksikan kekerasan dan berkali-kali merasakan kehilangan. Hatinya tergetar berkali-kali, tak juga kebal pada kesedihan dan kepergian. Kadang-kadang dia berpikir tentang rasa 'pergi', tetapi mengingat bahwa dia masih punya tanggungan di muka bumi, yang bisa dia lakukan hanyalah bertahan dari segala ketakutan.

"Lovino."

Lovino berpaling. Lukas dan Francisco menunggunya dengan pakaian sipil. Hari ini masih libur, dan malam ini mereka masih memerlukan penyegaran diri setelah pertemuan dengan pesawat yang berujung pada hal yang mengerikan.

"Ya."


Lukas datang, menghempaskan dirinya ke atas kantung tidur yang berantakan. Kamar yang sangat sempit itu dibagi berlima, sekadar menjadi tempat tidur yang seadanya sementara menunggu perintah untuk berlayar. Dari gerak-gerik dan sorot matanya, Lovino sudah bisa membaca, Lukas membawa hal lain selain rasa kantuknya ke dalam sini.

Hanya ada dirinya, Francisco, dan seorang kelasi yang sudah terlelap hanya dengan kantung tidur yang berlubang. Francisco sibuk dengan bukunya, yang dibelinya dari tukang loak di pasar yang tak jauh dari kotak pos tempat Lovino mengirimkan surat kesekian ratus untuk Erika.

"Ada hal yang mengganggumu?" Lovino bertiarap, menyembul keluar dari gulungan kain tersebut.

"Tidak mengganggu, tetapi tidak juga hal yang benar-benar menyenangkan."

"Aku tidak bisa menebaknya."

Lukas melirik. "Prediksiku benar."

"Sudah disuruh menebak kabar, sekarang aku disuruh menebak pikiranmu?" Lovino longsor lagi ke dalam celah kantung tidurnya. "Tidak mau."

"Ada deal antara Regia Marina dan Kriegsmarine. Kita akan dikontrol Jerman."

Lovino mendongak lagi, kali ini ia tercengang agak lama pada Lukas yang kemudian menggulung memunggunginya.

"Aku belum tahu mekanismenya seperti apa. Menurutku, kita akan melintasi lautan lagi untuk mencapai Jepang demi keperluan tertentu Kekuatan Poros."

"Jepang, ya ..." Lovino mengelus pelipisnya. "Rutenya melewati Hindia. Bagus, kita akan masuk Gibraltar lagi. Inggris, Bung. Nyawa siapa lagi yang akan dikorbankan demi semua omong kosong ini?"

tbc.


a/n: ok kalian bisa menambah pengetahuan dengan mencari tahu tentang kamp auschwitz atau mauthausen-gusen. sekadar catatan, nggak semua kamp konsentrasi adalah 'tempat pemusnahan'. ada yang menjadi konsentrasi buruh juga. dan konsep 'pemusnahan akhir' itu baru ada sekian tahun setelah kamp pertama dibangun di era kekuasaan hitler. dan gerbang arbeit macht frei yang dikatakan natalya itu ... memang ada. di sanalah pintu masuknya.

terima kasih untuk semua pembaca, pemberi review, serta seluruh pihak yang mendukung!