luigi torelli
Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya. penulis tidak mengambil keuntungan material apapun atas pembuatan karya; ditulis hanya untuk kesenangan. perhatian: ini adalah fiksi penggemar historikal; meski mengandung unsur sejarah, tetap ada aspek-aspek bersifat rekaan di dalamnya
Pairing/Character: Romano/Liechtenstein; OC!Roma, Norway, Hungary, OC!Indonesia. Genre: Adventure/Family/Romance. Rating: T. Other notes: WWII!AU, Naval Army, Regia Marina.
(Luigi Torelli bersinggah di Sabang.)
Lovino merasa tak perlu tahu apa alasan kerja sama dan pertukaran antara Italia dan Jerman. Namun ia punya telinga, dan Lukas adalah mesin berpikir dan selalu berada di dekatnya, dia jadi turut memasukkan hal ini ke dalam pikirannya.
Katanya, Jerman kekurangan personel, sementara mereka terus aktif menghasilkan kapal dalam jumlah masif. Analisis Lukas sementara. Lovino mempercayainya begitu saja karena tak ada ide lain yang lebih logis di dalam kepalanya.
Dan Luigi Torelli menjadi salah satu bagian dari tujuh kapal selam yang akan dibuat menjadi alat transportasi Poros. Cocok untuk pelayaran panjang menuju Jepang, begitu kata para perwira atasan yang membuat Lovino merenung dalam hati. Luigi Torelli sudah beberapa kali kena hantam pengeboman, dan ia bisa berdiri lagi dan lagi, dipercaya lagi dan lagi, hingga saat ini.
Juni 1943 adalah jadwal keberangkatan. Sempat terlintas dalam pikirannya, akan jadi permulaan musim panas yang baikkah, dengan mereka melintasi Samudra Hindia? Memikirkan dunia yang genting, Lovino tidak berani membuat prediksi apapun.
Lovino tidak punya akses terhadap apa saja bahasan perwira atasan tentang kerja sama pelayaran tersebut, tetapi sekali lagi, ada Lukas. Seorang intel lebih dipercaya untuk mendengarkan dalam rapat ketimbang perwira pangkat rendah sepertinya.
Hal yang Lukas bawa di H minus sekian sebelum penetapan akhir tanggal keberangkatan adalah hal yang tidak disambut Lovino dengan baik.
Lukas menghamparkan sebuah gulungan kosong di tengah-tengah ruang tidur darurat, saat yang lain sudah tidur. Dia menyalakan satu lilin lagi karena lampu di dalam sana terlalu suram untuk sebuah penjelasan penting. Ia, Lovino, dan Francisco berkumpul di atas tempat tidur gulung milik Lovino dan Lukas membawa sekeping papan sebagai alasnya menulis. Francisco bertiarap mendengarkan sambil mengangguk-angguk karena kantuk.
"Mereka akan mulai melakukan modifikasi besok," terang Lukas sambil menggoreskan pensilnya membentuk gambar kapal. "Ada banyak perubahan yang mengejutkan. Kapal selam kita akan menjadi pembawa barang."
"Modifikasi?" Francisco bangkit. Duduk bersila meski matanya tidak terbuka penuh.
"Bagian sini, sini, diubah." Lukas menggambar cepat bagian senjata di dek dan peluncur torpedo, kemudian mencoretkan tanda silang besar di kedua bagian tersebut. "Akan dijadikan tempat penyimpanan bahan bakar."
"Penyimpanan bahan bakar katamu?!" Lovino segera di-hush cepat oleh Francisco karena teriakannya membuat seorang rekan menoleh dengan mata mengantuk. "Apa jadinya kita tanpa torpedo?!"
"Ceritanya tidak selesai sampai di situ?"
Francisco bisa lebih mampu menguasai dirinya. "Ada bagian yang diihilangkan lagi?"
Lukas bergantian memandangi kedua rekannya. "Bagian dari hidup kita."
"Cih." Lovino mendengus keras lalu membanting gulungan jaketnya yang selalu menjadi bantalnya selama ini. "Pasti ruangan kru. Dan soal toilet. Aku bukan peramal tapi aku yakin bagian itulah yang akan dihilangkan terlebih dahulu. Oh Tuhan, aku harus punya karung kotoran mulai dari sekarang. Semoga ada ikan-ikan yang mau memakannya kelak ketika aku membuangnya setiap satu minggu sekali."
Francisco nyaris terbahak.
"Baterai pertahanan dihilangkan, dan tentu saja, ruang kru."
"Nah, benar, 'kan? Kita akan hidup di dalam neraka di tengah-tengah air yang seharusnya menjadi bagian dari surga." Lovino, yang mencoba meredam rasa marahnya dengan berbaring dengan tangan tersilang sebagai bantalnya.
"Sisa senjata yang kita punya sebagai pertahanan hanya senjata 13.2 mm ini." Lukas menunjukkan satu bagian gambar. "Aku tidak yakin hal ini bisa melindungi kita dari pembom Amerika."
"Kapal itu adalah bis kita menuju kehidupan selanjutnya," seloroh Lovino tanpa berpikir dua kali. Yang berikutnya terjadi adalah pergolakan dalam dirinya sendiri. Seakan hal barusan adalah konsekuensi yang siap ia terima, ia mengucapkannya begitu gampang dan sejurus kemudian dia menyesalinya.
"Apa saja yang akan kita angkut?" Francisco benar-benar berbanding terbalik dengan cara Lovino menghadapinya.
"Amunisi, raksa ... bom. Aku hanya tahu itu. Dan mungkin ahli dari Jerman—dan kudengar seorang perwira dari Jepang."
Francisco menatap kosong pada kertas tersebut. "Percayalah, sebelumnya aku adalah seorang yang optimis. Namun di sini aku benar-benar tidak yakin."
Lukas tak menanggapi. Lovino memunggungi mereka berdua dan pura-pura tertidur. Tidak ada lagi diskusi setelah itu. Semua sama-sama tahu mereka tak mungkin bisa lari dari apapun.
Dini hari menjelang pagi, Lovino menyelinap keluar dari barak. Pelabuhan hanya berjarak sekian langkah, dan dari ambang pintu pun dia sudah bisa menemukan kapal tersayangnya yang bersandar.
Kapal itu mulai dijamah.
Ia tak mau menjadi terlalu melankolis, tetapi gejolak di dalam dada dan perutnya benar-benar mendorongnya untuk menghentikan segala perencanaan dan pengubahan. Kapal itu sudah menjadi rumahnya selama tiga tahun dan ketika semua orang menganggukkan kepala untuk mengubahnya, Lovino tidak yakin apakah keadilan benar-benar bisa tegak oleh tangan manusia biasa.
Kapal itu, meski penuh sesak dengan bau-bauan aneh dan ruang yang tak seberapa untuk kru yang sekian banyak, sudah mencuri hatinya. Lovino mulai mengerti ikatan hati seorang pelaut selain kepada perairan dan horison yang luas. Kapalnya. Jika dia adalah seorang bujang, maka si kapal adalah istrinya. Jika ia sudah punya istri, maka kapallah anaknya. Dan jika dia sudah mempunyai anak, maka si kapal adalah sahabat sejatinya. Di mana lagi kesehariannya mengalir selain di dalam tabung mengapung itu? Kepada dinding mana lagi kerinduannya tumpah? Tidak, tidak satu kendaraan pun dapat menggantikannya.
Lovino berpaling sambil menelan ludahnya yang pahit.
Ia kembali ke tempat tidur dan melangkahi seluruh orang yang masih tertidur. Dia melewati Francisco yang meletakkan tangannya di atas jurnal, lalu Lukas yang menggenggam sebuah jurnal yang terbuka, sebuah foto menyembul dari halaman agak ke belakang.
Lovino membungkuk untuk mengamati foto tersebut. Menariknya sedikit hingga jelas seluruhnya.
Foto tiga orang. Wanita berambut panjang bergelombang, seorang bayi kecil yang masih menutup matanya, dan Lukas sendiri tanpa senyumannya. Namun dari cara wanita di sampingnya berekspresi, senyum puasnya itu, Lovino tahu, ada banyak kebahagiaan yang tersimpan di balik raut dingin Lukas.
Lovino kembali ke kantung tidurnya.
Setidaknya, meski tubuh kapal kesayangannya telah runyam, dia masih punya alasan untuk tidak membunuh kepercayaan dalam hatinya.
Masih ada orang yang ia cintai di luar sana, yang barangkali tak akan suka jika dia terus-terusan menyesali kebobrokan dunia.
Pemuda itu kembali menyusup ke peraduannya, dan tertidur sambil membayangkan masakan apa yang akan Erika buat esok pagi, dan tugas apa saja yang akan dia hadapi di bengkel kerja. Roti apakah yang akan ia dapat sebagai upah. Atau dongeng masa kecil apalagi yang akan Erika ceritakan padanya, dengan suara halusnya dan tatapannya yang masih antusias pada tema peri-peri, di sore hari bersama secangkir susu hangat yang encer dan hambar.
Ada satu orang insinyur yang turut serta dalam pelayaran Luigi Torelli menuju Jepang, dan ternyata ditambah seorang asistennya dan dua orang mekanik dari orang sipil yang dimiliterisasi. Lovino hanya berkenalan sekadarnya dengan sang insinyur, tetapi asistennya lebih mumpuni dari segi penampilan maupun kemantapan berbicara. Ia terlihat dewasa—sampai-sampai Lovino salah mengira siapa yang pangkatnya lebih tinggi.
"Ludwig Beilschmidt," ucap lelaki itu saat menjabat tangan Lovino.
Lovino menjawabnya dengan cara biasa, tetapi akhirnya mau juga menjawab pertanyaan basa-basi lelaki tersebut, "Aku sudah bersama kapal ini sejak awal karirku."
"Senang berkenalan denganmu." Tidak ada senyum di wajahnya, tetapi Lovino yakin orang ini sangat optimis dengan kerja sama Italia dan Jerman. Entahlah, terlihat begitu saja di mata dan bahunya yang tegap sekali.
Ketika sesi perkenalan itu selesai dan tanggal kepergian sudah diumumkan, Lovino berbisik pada Lukas, "Bagus sekali. Ruang yang lebih sempit, personel yang bertambah. Aku akan sangat menyukai pelayaran ini."
Francisco berceletuk dari samping, "Lebih banyak orang dalam kamar, lebih hangat."
"Diberkahilah otakmu, Fran!" sumpah-serapah sarkastis Lovino meluncur keras, "Seolah kau tidak pernah mengeluh kepanasan saja di dalam tabung berkarat itu!"
Lukas betah berdiri di antara mereka berdua—Lovino yang menyalak dan Francisco yang tertawa seolah lupa beban—dan lelaki itu menatap kapal mereka dengan mata kosong. Dia pamitan dengan kalimat yang hanya membuatnya mendapatkan lirikan dari yang lain, "Aku akan menulis surat untuk Ennis dan Emil."
Lovino berhenti mengomel secara tiba-tiba. Dia mengikuti jejak Lukas. Barang satu-dua kalimat tak apa, sebelum dia berangkat begitu jauh. Entah Erika akan membacanya atau tidak, entah perempuan itu sedang sibuk denan apa sekarang—ia tak peduli. Yang ia peduli hanyalah kenyataan bahwa menuliskan tentang dirinya bisa membuat dirinya lebih lega, tenang, dan mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Mereka bertiga tak seruangan maupun sekamar dengan Ludwig, meski ada pengurangan tempat yang ternyata benar-benar terjadi. Seperti biasa, kabar dari Lukas selalu akurat. Membuat dia dan kedua kawannya tak begitu akrab dengan lelaki itu. Yang mereka ketahui hanyalah anak itu baru memulai wajib militernya, setelah salah satu kakaknya mengalami cedera dan tidak bisa melanjutkan karir militer di bagian infanteri. Dia punya banyak saudara, sebagian 'pergi' dari Jerman, sebagian terluka, dan satu orang meninggal dunia.
Satu-satunya kesempatan Lovino bisa berbicara dengan Ludwig adalah saat mereka kebetulan duduk bersebelahan di lantai saat sarapan.
"Saya tertarik dengan Jepang. Jalan sebagai prajurit yang saya pilih, ternyata memang bisa mengantarkan saya pada negara penuh budaya itu," suaranya begitu formal dan hormat, Lovino merasa dirinya dan anak baru ini benar-benar timpang.
Dirinya yang serampangan terasa bak reremahan roti di ujung sebuah meja makan sementara Ludwig adalah potongan kue mewah di tengah-tengah meja dan hanya boleh diambil sedikit-sedikit oleh orang terhormat. Lihat saja, saat ini dia adalah favorit perwira-perwira Italia. Dia ditanyai dan dipuji. Bukan pula artinya Lovino iri. Ia hanya ingin cepat-cepat tahu, bagaimana nasib lelaki ini. Barangkali sebentar lagi naik pangkat dan mendapat mendali cross karena kehebatannya menarik hati para petinggi dengan kharismanya meski dia tak pernah tertawa?
Lovino cepat sekali bosan sampai-sampai dia pergi kembali ke ruangannya, di mana Francisco dan Lukas sedang mengobrol serius sambil duduk. Kedua orang itu melewatkan sarapan karena mereka rasa mereka sudah benar-benar bosan dengan roti dan memilih untuk makan sisa daging kering kalengan.
Ia bergabung dengan menarik kursi dari pinggir. Kursinya, di hadapan radio, diduduki Lukas.
Mereka berdua menjadi hening saat Lovino memandang mereka bergantian.
"Heh."
Francisco menumpukan sikunya pada permukaan meja. Jari-jarinya dijalin di depan wajah. Francisco tak pernah terlihat sebagai orang yang berpikir keras dan merenung, tetapi Lovino melihat pemuda ini semakin hari, semakin menjadi lain.
"Kalian benar-benar tidak senang dengan teman-teman baru, ha? Lebih memilih makan di sini."
Tak ada yang menjawab. Francisco berdeham sekian menit kemudian setelah Lukas mulai mengetuk-ngetukkan kakinya.
"Menurutmu, perang ini akan dibawa ke mana?"
Lovino melirik, berhenti sebentar memperbaiki beberapa kabel yang ditariknya dari mesin yang terbuka.
Lukas menyilangkan tangan di dada. "Jerman semakin mengintervensi."
Francisco berbicara lagi dengan suara rendah, "Akarnya sudah melilit kita. Jika mereka hancur, kita turut hancur dengan cepat. Jika kita berusaha melepaskan diri dari mereka dan menuju tujuan kita sendiri, aku tidak yakin mereka akan melepaskan kita begitu saja."
Lovino memandangi kabel-kabelnya lagi. Ada resistor yang putus tertimbun gumpalan kabel, tetapi dia tak langsung berniat mengambil benda-benda untuk memperbaikinya. "Dunia tidak lebih aman dengan kerja sama ini. Hanya itu yang kupikirkan."
Erika didorong terlebih dahulu dan kemudian Erzsi. Erzsi menabrak punggung Erika dan segera menuju pintu berjeruji tetapi petugas berbaju hitam legam sudah terlebih dahulu menguncinya. Erzsi mengguncang-guncang jeruji hingga seluruh jemarinya kemerahan, sembari memekik penuh harapan,
"Roderich, ayo, tolong bukakan ini untuk kami! Kami melakukannya untuk—"
Erika memperhatikan bagaimana pemuda itu meletakkan telunjuknya di bibir dengan gestur amat pelan dan dia mempertahankannya begitu lama. Seolah mengulur waktu untuk menatap Erzsi. Perasaan Erika berkata lain dari sebuah ketakutan belaka.
"Roderich! Roderich! Mari kita bicara—" Tetapi terlambat. Lelaki itu benar-benar meninggalkan mereka berdua, ditelan gelapnya selasar dan Erzsi pun menendang jeruji dengan kasarnya.
Wanita itu berjalan lesu ke sudut ruangan dan meringkuk. Melipat kakinya tinggi-tinggi dan mendesah berat. Erika berjalan dari bagian tengah dengan ragu-ragu dan takut. Matanya menjelajahi ruangan yang lembab dan gelap, hanya mendapat bantuan dari cahaya dari selasar yang jauh, serta kaca kecil di atas yang menerima sedikit sinar dari lampu dari halaman belakang. Bau tidak enak sudah bukan fakta yang mencengangkan. Ada ukiran yang abstrak di dinding batu yang juga sudah terkoyak, seperti sudah dipahat, dan di sudut-sudutnya berlumut. Erika mengerutkan hidungnya sembari mendekati Erzsi. Ketika dia berjongkok di depan Erzsi, wanita itu menggerutu,
"Aku kecewa dan marah bukan karena kita ditangkap. Aku sadar ini adalah risiko dari awal."
"Lalu?"
"Aku marah karena aku merasa dikhianati." Matanya menjadi tajam dan ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Erika panik. "Erzsi—"
"Yang itu tadi mantan tunanganku. Roderich."
Erika kehilangan kata-kata, rahangnya menggantung.
"Roderich! Kembalilah! Kau sahabat terbaikku! Bukakan penjara ini untuk kami! Kau adalah orang yang paling kupercaya setelah Gil, tahu! Makanya, bukakan!" Airmata Erzsi merebak dan dia menghentikan teriakannya hanya untuk menghantamkan tangannya pada dinding yang basah.
Erika menghindar sebentar. Sudah sekian tahun ia belajar bahwa mendekati Erzsi yang sedang mengamuk adalah salah satu keputusan yang buruk.
Ia menghampiri pintu dan memegangi jerujinya, melongok ke kiri dan kanan.
Ada banyak ruang penjara lain yang ukurannya serupa, meski berada di posisi yang berselang-seling di kiri dan kanan koridor; tak ada ruang yang saling berhadapan satu sama lain. Namun tak ada suara. Tak ada wajah yang juga melongok. Sepi. Kantor di depan juga hanya diisi oleh tiga orang, jumlah yang hanya ia lihat sekilas saat digiring dengan paksa.
Bulu kuduknya bergidik membayangkan nasib orang-orang yang seharusnya berada di sini. Era perang, tawanan dan kolaborator pasti banyak. Sayang sekali, penjara ini sepertinya bukan tempat untuk orang-orang seperti itu.
Memikirkan tempat yang 'sebenarnya' bagi mereka membuat Erika mundur dari pintu.
Dia kembali ke sisi Erzsi dan turut menekuk kakinya, melekatkan dagunya pada lututnya yang lembab karena keringat. "Bagaimana setelah ini, Erzsi?"
Suara Erzsi parau, "Aku tidak tahu." Dia mendongak dan memeriksa seluruh dinding. Dia terpaku sebentar memandangi kaca di atas kepala mereka. Terlalu tinggi untuk dipanjat, dan juga tidak mungkin dipecahkan dengan tangan kosong, kaca itu terlalu tebal. Tidak ada sepotong pun batu yang Erzsi harapkan di tepian-tepian ruangan, meski ada beberapa bagian dinding yang tak lagi utuh.
Erika menunduk. Erzsi menarik napas panjang.
"Di saat-saat seperti ini ... cara yang terbaik adalah dengan mengingat seseorang yang kita sayangi."
Erika menoleh dan menyadari bahwa Erzsi menatap dinding di seberang mereka dengan geram. "Kau pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya?"
"Hal paling parah hanya saat aku ditawan oleh tentara Jerman ... di misi-misi pertamaku. Saat itu aku berjalan sendiri di area tempat mereka sweeping dan lupa memakai badgeku. Aku ditahan tiga jam—hal yang benar-benar buruk untuk aku yang baru keluar dari kehidupanku yang biasa."
Semangat di mata Erika terus melenyap. "Tapi kalau mengingat orang-orang yang kita cintai ... kita hanya akan semakin sakit, Erzsi. Dan putus asa ... karena mungkin kita tidak dapat melihat mereka lagi selamanya. Juga tentang kenangan-kenangan kita ... tidak ada yang bisa terulang lagi, dan itu menyakitkan."
"Tapi kita sudah melewati banyak hal berat di belakang sana bersama mereka—dan kita bisa bertahan. Hal seperti itu mendorong dirimu untuk tetap yakin, bahwa pasti selalu ada jalan."
Erika tak memberikan jawaban.
Erzsi mendongak lagi. Mungkin lebih kepada menahan apa yang akan tumpah dari ujung matanya. "Saat itu, aku baru saja meninggalkan Gil yang cacat. Aku benar-benar takut—bagaimana seandainya jika Wehrmacht tak percaya pada pengakuanku dan tak ada teman yang akan menolongku? Mereka barangkali akan menyiksaku—bahkan membunuh. Siapa yang akan mengurus Gil? Gil memang punya banyak saudara—tetapi mereka tinggal di daerah yang terpisah. Dia memang punya adik yang sering berkunjung pada kami—tetapi aku yakin hanya hitungan hari Lud akan dipanggil dinas militer untuk menggantikan Gil yang sudah tidak bisa pergi lagi. Gil akan benar-benar sendirian—dan itu membuatku ngeri. Aku kemudian bertahan, tetap yakin, dan berusaha tetap terlihat berani di hadapan mereka. Karena jika kita terlihat lemah, kita akan semakin tertindas."
Erika memejamkan matanya. Dia sering menyaksikan Lovino termenung di meja makan dengan tugas-tugas sekolah yang terbengkalai—hanya karena kakeknya dan saudaranya. Ia juga sering dihibur Lovino ketika dia merasa benar-benar kecil di dunia yang tanpa kakaknya.
Mereka sudah melewati ribuan hari bersama—dan jika dipikir lagi, semua itu bukanlah hal ringan.
Tiba-tiba semangatnya patah lagi. "Tetapi kali ini memang kita bersalah ..."
Erzsi bangkit dan kembali berteriak di depan, "Roderich! Kau satu-satunya harapanku! Kautahu aku siapa dan kita bisa membicarakan ini!"
Jawabannya hanyalah gema suaranya sendiri.
Erika memejamkan mata sambil memikirkan cara. Dia tahu hal itu mustahil, tetapi setidaknya masih ada cara yang bisa ditempuh, nanti, jika seorang petugas datang dan dia harus mengemukakan alasan tertentu sebagai pertahanan diri. Dia mencoba terus menyusun kata-kata hingga ia mengantuk—terpejam dan menjatuhkan kepalanya di atas lekukan kaki di depan dadanya.
Ia mendengar bunyi kunci pintu dalam kegelapan saat ia terlelap. Kemudian tarikan pada tangannya dan teriakan, "Erika, cepat bangun! Erika!"
Dan tarikan itu semakin keras hingga membuat ia terguncang.
"Erika!"
Lampu yang terang di depan pintu yang terbuka ternyata bukanlah mimpi. Erika linglung dan matanya berkunang-kunang, ia terhuyung-huyung saat Erzsi membantunya berdiri kemudian memapahnya. Lampu itu—yang disandarkan pada dinding selasar—semakin menyata di matanya.
"Aku sudah meminta mereka untuk patroli di sektor yang jauh. Kalian beruntung tak banyak orang yang berada di sini."
Erika berkedip cepat, lalu memandang Erzsi. Dia menghapus sisa air matanya.
"Cepatlah pergi dari sini, jauh-jauh. Mereka tidak terlalu mengenali wajah kalian."
"Maafkan aku yang sempat marah dan ragu padamu—"
Roderich menggeleng, meyakinkan. "Aku tidak apa-apa." Namun tatapannya sedikit sedih. "Sebelum itu ... aku harus melakukan sesuatu. Aku mohon maaf."
Mata Erika dan Erzsi terbelalak saat Roderich mengeluarkan sebilah pisau dari balik punggungnya. Namun lelaki itu dengan cepat meminta maaf, "Teman-temanku bukanlah orang yang baik dan akan membiarkan tahanan begitu saja. Harus ada sesuatu yang membuat mereka percaya."
Roderich, dengan tangan yang lain, lalu mengeluarkan perban dan menaruhnya di atas telapak tangan Erzsi yang digenggamnya. Ia mengangguk pada wanita itu.
Ia menorehkan luka pada lengan atas Erzsi hingga wanita itu berteriak. Cukup dalam sepertinya. Erika yang menatap seluruhnya pun memberanikan diri, sebab dari tatapan Roderich, lelaki itu sepertinya akan melakukan hal yang sama padanya. Setelah melukai wanita itu, Roderich menggigit pangkal pisaunya sementara tangannya membalutkan perban kuat-kuat pada luka tersebut.
Erika dengan sukarela menyerahkan tangannya pada Roderich. Lelaki itu mengucapkan permintaan maaf dalam bisikan saat ia melukai lengan kanan Erika. Ia melakukan hal yang sama untuk gadis itu, bahkan memastikan ikatannya rapi dan menepuk pelan sekitar luka tersebut untuk menenangkan Erika.
Pisau tersebut dia selipkan lagi di tempatnya tanpa membersihkan sisa darahnya. Yang berikutnya dia mengeluarkan pistol dari pinggangnya.
"Tolong menyingkir."
Erika dan Erzsi berdiri di samping Roderich dan menyaksikan lelaki itu menembak dinding penjara sebanyak dua kali di posisi yang berbeda. Sejurus kemudian dia masuk ke dalam dan mencipratkan darah dari pisau dan salah satu tangannya yang tidak bersarung ke sekitar lubang.
Ketika ia berbalik, ia mengedikkan dagu ke arah pintu keluar.
Erzsi sempat terpaku sesaat. Hingga Roderich harus meyakinkannya lagi.
"Pergilah. Segera pulang setelah ini. Suamimu menunggumu."
"Kau—"
Roderich berjalan maju. "Tentu saja aku tahu."
"Dan kau?"
Roderich menggeleng. "Aku ingin segera pensiun dari pekerjaan ini. Uangku sudah cukup. Aku ingin bermusik di Wina saja. Biola tuaku sudah benar-benar berdebu."
"Kau sungguh-sungguh tidak ingin menikah? Aku bisa membantu mencarikan seorang wanita yang akan membuatmu benar-benar senang. Aku akan sangat senang melihatmu bahagia, Roderich, sungguh."
"Sepertinya aku tidak diciptakan untuk menikah." Roderich memasang sarung tangannya lagi. "Erzsi, jangan buang waktu. Di mana kautinggal?"
"Di utara tempat ini. Sekitar tujuh blok, berbelok ke kanan dan terus hingga bangunan tak ada lagi—di ujung sanalah kami berkemah."
Roderich tampak berpikir untuk beberapa saat. "Ambil jalan memutar lewat timur. Kurasa seseorang kukirimkan untuk berpatroli di daerah utara. Perlu kugambarkan peta?"
"Tidak, terima kasih. Kami ingat jalannya karena kami sering berkeliling. Terima kasih banyak, Roderich," Erzsi berucap dengan suara gemetaran, dan ia maju, merangkul leher pemuda itu. Hanya sesaat, tetapi Erika bisa melihat ketulusannya.
Erika juga turut mengucapkan hal yang sama sebelum ia ditarik Erzsi berlari dengan cepat menyusuri koridor, kemudian keluar dari markas polisi yang kecil itu dengan langkah seribu yang lebih lekas lagi. Erzsi tak menoleh lagi ketika melarikan diri.
Saat baru keluar dari sana, Erzsi berbisik, "Semoga yang lain benar-benar percaya bahwa kita sudah dibunuh."
"... Semoga ..."
Sementara berlari, Erzsi meremas lengannya, tetapi tak sedikit pun hal itu melambatkan langkahnya.
Ketika yang lain bertanya soal tangan mereka, Erzsi hanya beralasan bahwa mereka dirampok oleh anak-anak jalanan di sebuah gang yang sepi. Karena tidak bisa memberikan apapun, mereka jadi dilukai, begitu tambah Erika dengan terbata-bata. Tak ada yang protes, hanya ada beberapa yang membantu mengobatinya.
Mereka berdua menyingkir saat yang lain sudah mulai tidur. Erika keluar dari tenda dan menemui Erzsi yang sedang membenarkan letak kayu-kayu bakar.
"Jadi ...," mulai Erzsi, "apa yang akan kita lakukan setelah ini? Meneruskan atau ...?"
Erika menggeleng. "Aku tidak berani mengambil risiko lagi. Yang barusan ... sudah benar-benar membuatku merasa akan mati," lirih sekali suaranya, sampai Erzsi harus menepuk-nepuk punggung Erika untuk memastikan anak itu tak begitu trauma.
"Tapi aku juga tidak enak pada Natalya—" tambah gadis mungil itu, lebih kepada menyanggah dirinya sendiri.
"Dia tidak mengetahui ini, Erika, dan kalaupun dia tahu ... aku tidak yakin dia akan diam saja. Dia pasti melarang kita—kalau kita memikirkan cara dia beraksi selama ini."
Erika meringkuk lagi. Lengannya masih sakit, dan dia merindukan Lovino serta rumah hangat mereka.
Erzsi menatap api. Semoga Gil tetap hangat di rumah.
Setelah menghitung hari di kalender, Lovino sadar kali ini sudah masuk akhir musim panas. Akhir Agustus. Ia tiba-tiba merasa hidupnya sudah lebih dari luar biasa—hanya dengan melihat perjalannya ke timur kali ini. Pertengahan bulan ini mereka juga menghadapi satu lagi hal mengejutkan yang—sekali lagi—membuat Lovino sadar bahwa nyawanya bisa dicabut kapan saja.
Luigi Torelli benar-benar diincar Inggris, kemudian kehabisan bahan bakar. Beruntung, masih panjang nyawa mereka, masih panjang pula kehidupan yang harus mereka jalani sehingga gangguan-gangguan tersebut tidak ditakdirkan untuk membakar habis Torelli. U-Boat Jerman memang membantu—tetapi Lovino bahkan hingga saat ini tak berpikir dia mesti berterima kasih pada Ludwig.
Ha, memangnya siapa dia? Dia memang orang Jerman tetapi bukan berarti dia yang mengisikan bahan bakar untuk mereka secara langsung.
Francisco dan Lukas sudah tidur. Lovino tak berniat untuk tidur—lagi-lagi.
Arus hangat mengalir di luar. Lovino bisa merasakan mereka sudah mendekati tujuan di daerah tropis, meski dia tak bisa melihat apapun. Ia memutuskan keluar kamar, dan menuju ruang radionya meski kali ini bukan gilirannya berjaga di sana.
Di depan pintu kamar, di selasar sempit itu, ia berpapasan dengan salah satu kru lain. Ia mempersilakan pemuda itu duluan, tetapi dia berhenti di depan Lovino. Ia tersenyum, sesuatu yang tidak Lovino perkirakan.
"Kita sudah tiba di Sabang."
Pelabuhan Sabang seolah membukakan dunia yang baru untuknya. Daerah tropis benar-benar kelihatan dari pohon-pohonnya yang rimbun. Lovino tertinggal sekian langkah dari kedua kawannya.
Pelabuhan ini penuh akan orang-orang yang tak pernah dilihatnya, baik dari perawakan hingga cara mereka memandang. Setahu Lovino, tanah yang mereka pijak juga sudah sedari lama disentuh tangan-tangan asing, tetapi orang-orangnya masih begitu lama memandangi mereka yang asing seakan tak ada yang seperti mereka bertiga di antara kehidupan orang-orang itu.
Lovino melihat kapal Jepang di kejauhan, barangkali baru berangkat saat mereka berlabuh. Dialek yang khas terdengar dari kuli-kuli panggul dan pedagang yang berjejer di luar area pelabuhan. Lovino sesekali berhenti lagi dan lagi untuk memandangi orang-orang yang berdagang, yang berbicara dengan cepat.
Dunia ini begitu berwarna, tetapi ada orang-orang yang ingin membuatnya menjadi satu warna saja.
Asap dari makanan yang dijejerkan di depan toko-toko membuat Francisco berhenti.
"Hei. Aku rindu masakan dari daratan. Ayo."
Masuk ke dalam kedai itu, mereka disapa oleh seorang pelayan wanita ramah yang sedikit tergugu ketika Francisco kelepasan berbahasa Italia.
Lovino menyenggol Lukas dan akhirnya lelaki itu mendeham. Dia mencoba bahasa Inggris, yang ternyata direspons dengan baik oleh wanita tersebut. Lukas hanya meminta 'best food' dan wanita itu mengangguk, lantas dengan tangkasnya pergi ke belakang.
"Memangnya kaupunya uang, jadi minta yang terbaik segala?" Lovino menyelutuk ketika mereka mengambil tempat duduk tepat di samping jendela kayu yang terbuka lebar.
"Habiskan gajimu untuk kesenangan," Francisco menimpali sambil terkekeh. "Kapan lagi kau merasa senang dalam hidupmu, selain dengan makanan, dalam kehidupan kita yang sangat membosankan di dalam botol baja yang menyelam itu?"
Lovino mengalah dengan diam saja. Ia melirik sesekali pada pintu di mana perempuan tadi masuk—dan tiba-tiba saja wanita itu keluar. Ia tersenyum pada ketiga pembeli tersebut saat berjalan cepat menuju bagian teras dan berbicara pada seseorang yang mengipasi daging-daging yang ditaruh di atas pemanggang dengan bara yang bisa dilihat Lovino dari tempat duduknya.
Mereka cukup lama membicarakan banyak hal hingga akhirnya perempuan tersebut datang dengan tiga piring makanan.
"Ini disebut sate," perempuan itu—mengejutkan bagi mereka bertiga—bisa berbahasa Inggris dengan lancar. "Ini adalah daging yang dipanggang dan diberi bumbu. Silakan, Tuan-Tuan."
Francisco yang senyumannya paling lebar di antara mereka. Lovino memutar bola matanya cuek dan kemudian memandangi deretan daging yang disatukan dalam tusukan-tusukan tipis tersebut.
Setelah menaruh tiga gelas kopi di antara mereka, perempuan tersebut berucap, "Selamat menikmati. Silakan panggil saja saya jika ada yang kurang." Dia juga tersenyum, membuat Francisco juga tersenyum.
"Ah, Nona!"
"Ya, Tuan?"
"Duduklah di sini bersama kami. Ceritakan tentang tempat ini."
"Ah, apakah tidak akan mengganggu?"
"Kami butuh cerita tentang dunia luar," tambah Francisco. "Sekian bulan di dalam kapal selam Italia membuat kami mabuk. Aku Francisco. Dia Lukas, dan yang di seberang ini adalah Lovino. Dia tidak bisa berbicara denganmu, tapi aku yakin dia mengerti," Francisco begitu senang mengejek Lovino. "Ini adalah bekas daerah Hindia Timur milik Belanda, bukan?"
Lovino memukul tangannya sambil bergumam, aku bisa, bodoh, tetapi Francisco tetap tak peduli dan terus tertawa.
"Benar, Tuan Francisco." Perempuan itu akhirnya menarik kursi ke arah mereka. Wajah ramahnya membuat Lovino merasa sedikit aman. "Saya Ayu. Omong-omong, Anda semua adalah pembeli yang pertama kali makan di dalam sini setelah sekian lama. Saya sangat senang, terima kasih banyak."
"Ow, kau cukup lama menutup tempat ini, Nona?"
Ayu tersenyum lagi, "Saya berasal dari Jawa, dan tempat ini adalah milik saudara jauh saya. Tempat ini baru dibuka lagi semenjak saya datang satu bulan lalu. Kebanyakan orang hanya membeli dengan porsi sedikit, dan membawanya pulang. Kehidupan kolonialisme memang sangat ekstrem, kadang-kadang." Ia menatap ketiganya bergantian. "Ah, kaget, Tuan-Tuan? Saya memang bisa berbahasa Inggris karena kakek saya pernah bekerja dengan perwira Inggris beberapa waktu lalu ... dan saya juga pernah bekerja di salah satu kantor afdeeling Belanda sebelum datang ke sini."
"Wah, hidupmu keren," Francisco menanggapi sambil melirik.
Ayu membiarkan mereka makan dengan tenang sesaat. Lovino kelihatan kesulitan menggigit daging paling ujung satenya yang sedikit menjadi arang.
"Tuan-Tuan ..."
Lovino menjawab dengan isyarat alisnya.
"Anda semua berasal dari Italia, 'kan?"
"Orang ini dari Norwegia," Francisco mengedikkan dagunya ke arah kanan. "Tapi ia bekerja untuk Italia."
"Ah, begitu. Saya hanya ingin bertanya ... bagaimana rasanya tinggal di negara yang bebas dari kolonialisme?"
Ketiganya bergantian menatap. Lukas menggeleng dan berisyarat lewat mata, Kalian saja, Norwegia sudah dicakup Jerman bahkan sebelum semua orang sadar bahaya besar kroni-kroni Nazi.
Lovino menyahut, dengan terbata-bata dalam bahasa Inggrisnya yang mendadak patah-patah. Tidak menggunakannya lagi semenjak Lukas selalu mengajaknya bicara dengan bahasa Italia membuatnya kaku. "Hidup di negara yang punya pemerintahan sendiri ... bukan berarti kau akan hidup enak." Ia menyela untuk mengunyah dengan cepat. "Aku harus bekerja sampai malam, dan ... paginya sekolah ... agar bisa tetap makan. Temanku ... harus berhenti sekolah untuk membantu di rumah seorang dokter." Tak sia-sia waktu luang di dalam tabung bertorpedo itu, yang diisi dengan ajaran verbal sebagai asahan dari Lukas, meski sedikit, sesekali cukup untuk mempertajam hal yang mengisi masa sekolahnya.
"Teman?" sela Francisco dengan senyum isengnya. "Jangan percaya, Ayu. Dia maksud istrinya." Lalu ia tergelak sambil memegangi perutnya.
Lovino melempar sebuah tusuk ke piring Francisco. Dan lelaki itu kembali melanjutkan dengan wajah datar. "Kadang-kadang ... kehidupan di tempat lain tidak lebih baik daripada apa yang kaualami."
Ayu tersenyum hambar. Bahunya terangkat sebentar, entah sanggahan apa yang akan dia katakan karena hal itu tak pernah meluncur dari mulutnya.
Lukas akhirnya buka suara. "Kalian sedang berada di bawah kekuasaan Jepang, bukan?"
Ayu mengangguk.
"Bagaimana pendapatmu tentang negara itu? Apakah mereka benar-benar kuat dan tak terkalahkan?"
Ayu menerawang sebentar, menatap pada pohon-pohon yang melambai pelan di luar jendela sana. Seekor ayam melintas, lalu burung menghampiri jendela tetapi segera menukik pergi melihat banyak manusia di sana.
"Di satu sisi, Jepang memang sangat kuat. Melihat bagaimana hegemoni Belanda runtuh hanya dalam hitungan bulan karena mereka, memang sepertinya sulit menemukan celah dari mereka. Kedatangan mereka dianggap sebagian orang sebagai penyelamat ... dan mereka mau bekerja sama dalam beberapa hal dengan kami. Hal itu membuat segalanya jadi membingungkan. Kalian sekutu dari Jepang, bukan?" Ayu menggigit ujung bibirnya. "Kalian incaran Sekutu, kalau begitu. Kalian akan pergi ke mana setelah ini?"
"Jepang," jawab Lukas begitu singkat, suaranya pelan.
"Hati-hati dengan nyawa kalian. Hong Kong masih milik Inggris. Dan ... kita tidak tahu serangan dari Pasifik dalam perjalanan kalian ke sana. Di sana, kita tidak tahu sepak terjang Amerika—daerah sana adalah sasaran empuk. Juga, hati-hati dengan radio. Sekutu bisa saja menyadapnya."
"Aku kru radio," aku Lovino.
"Dan, ya, kami sadar soal itu. Aku dan Lovi sedang mencoba mencari sandi baru, tetapi mengkoordinasikannya dengan orang di pusat kendali sangat susah. Kami baru memikirkan hal ini di perjalanan, dan sudah terlalu terlambat untuk kembali dan memusyawarahkannya," tambah Francisco.
Lukas menatap Ayu dengan mata sedikit menyipit. "Kautahu banyak hal tentang perang, Nona."
Alis Ayu terangkat. Senyumannya sedikit mencurigakan.
"Kau adalah mata-mata, ya?" Francisco turut menyadari beberapa hal yang begitu janggal untuk perempuan desa yang membuka kedai sepertinya. Dia berada di Jawa, tapi untuk apa jauh-jauh ke ujung utara Hindia Timur hanya untuk mengambil alih kedai milik saudaranya, jika bukan untuk suatu tujuan tertentu?
Ayu melirik kiri dan kanan.
"Kami tahu, kau pasti bekerja untuk itu," Lovino mendorong piringnya ke tengah meja. Sudah beres makannya, dan ia rasa ia mengerti kecurigaan kawan-kawannnya hingga ia berpartisipasi dalam investigasi kecil-kecilan ini.
Ayu memandangi semuanya lekat-lekat. Kemudian ia tersenyum kecil lagi. "Aku dididik cara untuk membedakan orang yang berbahaya dan tidak. Dan kurasa ... kalian tidak berbahaya."
Sekali lagi, gadis itu memastikan keadaan dengan melihat ke luar, ke jendela, dan pada jendela di balik punggungnya. Ia lantas kembali pada ketiga pelaut itu sambil meletakkan telunjuk di bibirnya. Suaranya terdengar seperti bisikan setelahnya, "Aku agen ganda untuk Belanda dan Hindia Timur."
Semuanya berpandangan, tetapi Francisco tampak senang sekali mengetahuinya.
"Aku juga melakukan hal yang sama sebelumnya," Lukas menambahi. "Untuk Italia, di Norwegia." Pertukaran rahasia itu membuat dia sedikit lebih terbuka. "Aku ingin tahu medan di Hindia Timur dan Timur Jauh, karena aku tidak yakin arah perang ini akan aman untuk kehidupan kami yang jauh dari tempat asal kami."
"Kalian takut tidak akan bisa kembali karena ...?"
Lukas tak buang waktu, "Jepang bisa berkhianat pada kami. Dari awal kami tidak yakin Poros benar-benar berjuang bersama. Hanya secuil dari tujuan mereka yang serupa sehingga mereka membentuk pakta aliansi."
"Jerman mengambil alih kapal kami, meski masih memakai kru asli Italia." Francisco lalu menyeruput kopinya yang masih panas. "Hal itu membuat kami semua semakin tidak percaya dengan orang di luar Italia ..." Ia tampak mengawang-awang, lalu menggeleng dengan sendirinya. "Kerja sama, ya, memang kerja sama—tapi aku tidak yakin jika dibilang tidak ada motif lain selain itu."
Lovino bertopang dagu. "Naluri tentara." Lantas ia menarik napas panjang. "Aku ... benar-benar ingin segera pensiun ... dari dunia yang mengerikan ini."
"Dan menikah."
"Fran sialan!"
Gelak tawa menyela ketegangan sebentar.
"Aku mengerti kekhawatiran kalian ... karena aku juga memikirkan hal yang sama terhadap Jepang. Orang-orang atas memang kooperatif dengan Jepang dan Jepang tampak membantu kami dari beberapa sisi—walau aku juga tidak bisa mengabaikan kekerasan yang mereka lakukan di beberapa daerah," ia meringis, "tetapi aku yakin ... tidak selamanya hal-hal menjanjikan yang keluar dari mulut mereka adalah tanpa syarat."
"Menurutmu, apa yang harus kami lakukan?" Lukas kembali melirik, akhirnya dia selesai dengan makanannya.
"Seperti kata kakekku ... selalu perkuat diri sendiri dan selalu carilah celah untuk melarikan diri jika dirasa tak begitu aman lagi."
"Kami berada di laut, Nona Ayu, bagaimana cara kami melarikan diri?" Francisco sedikit bercanda, ingin dia lanjutkan kelakarnya tetapi dia tunda.
Ayu menangkap itu sebagai humor pula ternyata. Ia tertawa kecil, tetapi segera menjadi serius. "Berpura-puralah tunduk dan kooperatif. Setelah menemukan daratan, carilah celah selalu. Memang, menutut banyak berpikir—tetapi karena berpikirlah kita ada, bukankah begitu? Cogito ergo sum?"
Lovino tertegun. Francisco mengangguk-angguk, dan bahu Lukas tampak semakin rileks.
Mereka berpamitan dengan Ayu dengan bersalaman erat-erat. Francisco meminta alamat Ayu tetapi Ayu tidak bisa menjanjikan banyak hal meski ia memberikan kedua alamatnya baik di Jawa maupun di utara sini, karena posisinya yang kerap harus melompat-lompat dari daerah ke daerah.
Sebelum meninggalkan kedai, Lovino berhenti sebentar.
"Kantor ... pos?"
Ayu terdiam sebentar, tertawa ketika ia baru paham. "Kantor pos ada. Agak jauh, tapi masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Ke kiri, ya, lurus saja, lalu di persimpangan kedua, beloklah ke kanan."
Lovino tersenyum lebar. "Terima kasih."
Setelah meninggalkan Hindia Timur, Luigi Torelli kembali bersandar di pelabuhan bekas tempat bercokolnya Britania. Lovino dan kedua kawannya tak banyak menghabiskan waktu di luar barak di luar pelabuhan, dan lebih banyak mengurung diri di kamar—dengan jendela-jendela yang dibuka lebar—dan memuaskan diri dengan tidur dengan udara daratan.
Ketika berada pulau kecil itu, dia tak terlalu mengenali musim di daerah khatulistiwa tersebut. Yang ia tahu hanyalah saat ini barangkali sudah masuk musim gugur jika ia masih berada di utara.
Suatu malam di hari-hari awal persinggahan di pulau baru, ia tertidur begitu saja di atas meja di ujung kamar barak dan bermimpi tangannya dirantai.
Yang pertama kali ia pikirkan ketika tersadar sekian detik kemudian adalah nasib Erika. Ia keluar dari ruangan tersebut karena di sana tak ada siapapun—meski sudah tengah malam buta dan begitu gelap.
Begitu dia temukan, sahabat-sahabatnya, beserta beberapa kru lain sedang berkumpul di depan sebuah radio dan telepon dengan wajah begitu tegang. Beberapa langsung menoleh ketika dia tanpa tedeng aling-aling berteriak, "Ada apa ini?!"
Lukas, yang turut menatapnya, sama sekali tidak menunjukkan raut wajah yang biasa. Francisco menggeleng padanya. Lovino semakin tidak mengerti, dia maju ke depan dengan langkah terburu-buru dan mengulangi pertanyaannya.
"Italia menyerah pada Sekutu."
tbc.
a/n: saya masih mencoba 'berjalan sejalur' dengan nasib luigi torelli di sejarah sebenarnya, rasanya di chapter2 sebelumnya saya ngasih linknya ya? ;u; and soal caranya roderich - i'm a little bit unsure but just consider that it is his (clumsy) way, ya. karena kita tahu ada sisi dari roderich yang memang unfit buat jadi tentara (katakan saja dia memang kena wajib militer dan ya begitulah) so, here it is. pembenaran? he he he iya juga sih but it is needed for the plot.
dan – lusa adalah lebaran, jadi, mohon maaf lahir dan batin yah, semoga kita semua bisa ketemu ramadhan selanjutnya dan kalo saya ada salah (banyak kayanya eheu) mohon dimaafkan ... selamat idul fitri! :D
