luigi torelli

Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya. penulis tidak mengambil keuntungan material apapun atas pembuatan karya; ditulis hanya untuk kesenangan. perhatian: ini adalah fiksi penggemar historikal; meski mengandung unsur sejarah, tetap ada aspek-aspek bersifat rekaan di dalamnya
Pairing/Character: Romano/Liechtenstein; OC!Roma, Norway, Hungary, England, Seychelles, Germany . Genre: Adventure/Family/Romance. Rating: T. Other notes: WWII!AU, Naval Army, Regia Marina.

(Erika mulai bertugas di Inggris, dan Lovino mendapat atasan baru.)


Pada awalnya Jepang yang mengambil alih kapal, itu yang ia dengar karena ia sama sekali tak mengetahui prosesnya. Sedari berita penyerahan itu sampai pada pengendali kapal mereka, perwira-perwira Jerman, mereka ditahan di dalam sebuah ruangan yang dijaga dan mulai diperlakukan seperti orang-orang yang bukan tentara berpengalaman.

Namun pada akhirnya Jerman yang memegang mereka, dan bendera Nazi pun mulai menunjukkan tanda-tanda kehadirannya di sekitar kapal. Bendera kedua di Luigi Torelli, Lovino mengembuskan napas panjangnya. Ia langsung merindukan hijau-putih-merah yang dulu ia tempelkan di dinding belakang ruang radionya.

Lovino menatap tegang perwira Jerman yang membariskan mereka di pelabuhan dalam penambatan darurat itu. Satu-dua orang telah ditarik dan diberdirikan di sisi lain. Lukas tampak begitu tenang di sampingnya, sementara Francisco tak bisa juga menyembunyikan ketegangannya.

Lovino lantas berpikir tentang pendidikan seorang mata-mata; apa mereka dididik untuk tenang dalam segala situasi, hingga mereka tetap bisa merasa seolah pelucutan ini adalah hal biasa untuk mereka?

Bahu Lovino sampai terasa sakit karena tegang saat perwira Jerman—beserta Ludwig membuntuti—mendekat padanya. Napasnya sampai tertahan.

"Yang ini mata-mata jenius. Biarkan dia bersama kita," perwira dengan dialek Jerman yang sangat kental itu mengedikkan dagu ke arah Lukas, berbicara pada atasannya yang tak bisa berbahasa Italia. "Dan yang ini," tambahnya, menunjuk wajah Francisco, "kudengar bisa berbicara lima bahasa. Bahkan dia juga sedikit-sedikit bisa berbahasa Jepang, yang kuketahui."

Mata Lovino terbelalak. Francisco tak pernah menceritakan hal itu sedikit pun.

Terlalu banyak berpikir, ia tak sadar orang-orang itu sudah berdiri di hadapannya.

"Yang ini ... sudah, kirimkan saja dia ke kamp tahanan. Dia tak bisa kita andalkan."

Lovino menelan ludahnya dan berusaha untuk tetap berdiri tegak meski kakinya lemas. Ia beradu pandang dengan Ludwig saat itu juga dan ia ingin meninju wajah lelaki itu entah karena alasan apa.

"Maaf, Komandan. Jika saya boleh memberi saran, sebaiknya jangan. Orang ini teknisi radio yang handal. Dia juga satu tim dengan mata-mata dan ahli bahasa yang satu ini. Menyatukan mereka di dalam tim kita akan memperkuat performa UIT-25," Ludwig membuat Lovino lagi-lagi terbelalak. Si perwira tinggi berhenti dan mempertimbangkan sambil menatap objek pembicaraan mereka, membuat Lovino setengah bergidik setengah risih. Lama sekali dia dinilai dengan cara seperti itu sampai-sampai Lovino berpikir hal menyebalkan ini takkan punya akhir.

"Baiklah. Kita gunakan dia, tapi awasi dengan baik."

"Siap," Ludwig mengangguk hormat.

Lovino tak tahu pada akhirnya dia harus berterima kasih pada orang itu. Mereka bertatapan lagi ketika kru lain diseret menuju barisan yang akan dikirim ke kamp tawanan.

Ia menatap laut. Mengulang nama Luigi Torelli di dalam kepalanya—yang saat ini hanya tertinggal sebagai bagian dari ingatan saja. Ia memejamkan mata dan mengingat saat ia mengukir nama Luigi Torelli di sudut meja, beberapa bulan atau tahun yang lalu. Tiga tahun ia menghuninya, tiga tahun ia menjadi sahabatnya—

—dan hari ini semuanya sudah berganti. Lovino mengepalkan tangannya erat-erat. Menyakitkan, entah tangannya atau bagian lain.

Orang-orang yang tadi dipisahkan langsung digiring menjauhi pelabuhan. Lovino berharap bisa berlari dan memeluk mereka semua bergantian—tetapi tak seorang pun dari mereka yang menoleh, seakan pamitan bukan hal yang perlu karena dipikir oleh mereka semua ini hanya berlangsung sebentar.


Mereka bertiga memulai semuanya sebagai bawahan, dan semuanya tetap sama meski pemimpin dan pengendali telah berganti. Mereka sudah terbiasa disuruh oleh perwira atasan, menerima komando, mendapat perintah dari mereka, yang mana selalu ada batas di antara mereka, dan sekarang pun tak begitu berbeda dengan cara yang telah lalu.

Lovino menatap dua kawannya saat pelayaran di Asia Tenggara itu dimulai untuk pertama kalinya dengan bendera Reich Ketiga.

Ia tersenyum kecil sekilas, menggeleng untuk kemudian memandang kosong pada radionya lagi.

Setidaknya mereka masih memiliki satu sama lain. Kebersamaan terasa jauh, jauh lebih baik daripada jerat asing yang sekarang membelenggu mereka.

Namun apalah kesulitannya, jika memang mereka memulai diri sebagai yang dikomando dan bukan yang memerintah?

Musim dingin—musim hujannya Asia Tenggara, tepat pada puncaknya, Lovino berpikir bahwa semua ini masih lebih baik daripada kebebasan mereka dirantai dan diminta kerja paksa di kamp tawanan. Meski Luigi Torelli sudah berganti nama—setidaknya isinya masih sama. Minus bahasa Jerman yang kini mengudara, dan dia harus berbagi tugas dengan seorang yang lancar berbahasa Jerman untuk berkomunikasi. Ia hanya kebagian bidang mekanika radio dan itu artinya dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama kedua kawannya.

"Biar aku saja yang mengabari."

Lovino mendongak, dan akhirnya bangkit dari kursinya. Terkadang ia masih lupa bahwa dia sudah tidak berada di posisi yang sama lagi—tetapi setidaknya keramahtamahan (yang kaku)—bisa membuatnya jauh lebih toleran.

"Lukas ada di ruang kendali. Dia butuh kau, memikirkan pola penataan ruang karena kita akan membawa lebih banyak barang," kata kru pengganti itu, dengan bahasa Italia yang sedikit cacat.

"Baiklah."

Lelaki di depannya mengangkat alis sebagai bentuk basa-basi.

Lovino berjalan namun berhenti sebentar. Mengedikkan dagunya sesaat ke arah radio. "Perlakukan dia baik-baik, Ludwig."

Tanpa ia duga, Ludwig tersenyum kecil sambil menarik kursi untuk dia duduki. "Tentu saja."

Dunia mungkin mengkhawatirkan, tetapi ada lebih banyak hal yang bisa membuat manusia berterima kasih.


Sekian bulan rehat diisi dengan pelatihan bahasa Inggris, karena Joachim datang dan mengatakan bahwa mereka akan bekerja di salah satu rumah sakit di Inggris sebagai sukarelawan, belajar, dan mungkin kelak akan dikirim ke daerah-daerah yang berhasil dikuasai Inggris.

Erika mengisi waktunya lebih banyak dengan berlatih bersama Erzsi, dan membantu Erzsi melupakan suaminya di rumah yang ia rasa sudah terlalu lama ia tinggalkan dan begitu inginnya ia pulang. Lelaki itu menolak. Memintanya mengikuti kata hati dan itu artinya Erzsi akan tetap berkeliling, karena perempuan tahu Gilbert baik-baik saja di sana dan dia masih begitu ingin mengulurkan tangannya untuk lebih banyak luka.

"Aku pernah bercita-cita," Erika berkata, suatu malam, setelah mereka menutup buku tua yang hanya berisi catatan tangan milik Joachim. Ia tersenyum setelah meniup debu-debu dari atas peti mimpi masa kecilnya. "Sekolah ke Inggris."

Erzsi terdiam sebentar, lantas menjentikkan jarinya. "Aku ingat cerita itu! Kau dan ... oh, ya, maaf—lupakan saja—"

"Saran kakakku," senyum Erika. "Tidak apa-apa. Sebut saja namanya. Aku ... tidak takut pada kesedihan lagi." Binar wajahnya begitu sederhana dan bagus, tidak membohongi siapapun.

Erzsi sedikit lebih lega. "Ya. Dan sekarang kau mendapatkannya."

"Bayarannya begitu banyak dan mahal," Erika mengatakannya lebih pelan.

Erzsi menepuk bahu sahabatnya. "Memang terkadang ada bayaran yang berat dan mahal—tetapi tak semua mimpi seperti itu, bukankah begitu? Kau, sejak kecil, selalu ingin hidup bahagia, hm? Kau mendapatkannya setiap hari sekarang. Selalu ada hal yang membuatmu senang, 'kan?"

Erika menutup matanya. Mengulangi lagi apa yang telah dikerjakan di hari ini, bahkan hanya di satu jam ke belakang, ia sudah memiliki hal yang membahagiakan.

"Kau tidak ingin tidur? Besok kita semua harus bangun pagi-pagi untuk membereskan barang, ingat?"

"Mm. Baiklah. Selamat malam dan semoga mimpi indah, Erzsi."

Erzsi hanya mengangguk dan menarik selimutnya hingga ke kepala.


Inggris terlihat di matanya, saat ia menyeberang, seperti sebuah buku yang terbuka. Erika bisa membaca semuanya dengan jelas, seperti apa hidupnya di negara dan kota yang akhirnya bangkit kembali setelah Blitzkrieg kurang lebih empat tahun yang lalu. Kemudian ia mengingat lagi lebih jauh tentang mimpi-mimpinya kurang lebih delapan tahun yang lalu—atau lebih jauh?—tentang tanah Raja dan Ratu yang memiliki kastil-kastil indah. Ia tak pernah lagi keluar dari Italia setelah kedatangannya ke sana, membuatnya bermimpi banyak tentang Inggris.

Sesudah turun dari kapal, tidak ada waktu yang diberikan selain untuk segera menaiki truk yang mengangkut mereka menuju stasiun terdekat. Erzsi menghabiskan waktunya di kereta hanya untuk tidur dan Erika membaca lagi buku-buku latihan bahasa Inggris mereka. Mempraktikkannya dalam hati, dan ia yakin ia bisa membicarakan hal-hal kecil dan cukup mendengarkan pembicaraan besar.

Ketika stasiun tujuan terlihat, Erika menggoyangkan tubuh Erzsi yang seperti menggumam-gumamkan nama Gilbert—dan ia menghentikannya. Tak tega. Biarlah wanita itu bertemu dengannya walau hanya di dalam mimpi.

Erzsi terbangun sendiri ketika orang-orang mulai berdiri dan meninggalkan kereta.

"Oh, kita sudah di London?"

"Hmmm. Selamat datang di tanah Raja." Erika tersenyum kemudian.

Erzsi, sambil mengucek matanya, menggosok-gosok rambut Erika. "Seharusnya kaulah yang menerima kalimat itu, Erika. Bukankah tempat ini tujuanmu sejak lama?"

Erika melangkahi celah sempit di antara lantai kereta dan tepian peron yang sedikit lebih rendah sambil berkata, "Aku sudah menguburkan hal itu sekian lama. Benar-benar melupakannya."

"Tetapi semua ini sama saja dengan mendapatkan apa yang pernah hilang, 'kan?"

Erika, lagi-lagi, cuma memberikan senyuman.


Rumah sakit mereka datangi setelah hari berganti. Yang mengenalkan mereka pada rumah sakit itu berkata bahwa pasien saat ini jauh lebih lengang daripada yang pernah terjadi sebelumnya.

Erika tertinggal paling belakang. Erzsi bahkan lebih antusias darinya, melihat-lihat sambil bertanya pada Joachim atau pihak rumah sakit London tersebut.

Gadis itu sibuk memerhatikan bagian langit-langit rumah sakit yang ia rasa cukup tinggi untuk memberi ruang yang lebih lega bagi psikologis pasien. Sangat sibuk hingga ketika dia melewati persimpangan koridor, seorang anak yang berlari tidak dilihatnya.

"Aduh—"

"Ah, Nak ... ma-maaf!" Erika mendekati dan meraih bahu anak lelaki kecil yang terhuyung-huyung mundur.

Anak itu tidak menangis seperti yang dikira Erika, dia hanya mengusap keningnya dan cemberut berat. Erika mendekatinya dan tak peduli pada rombongan yang semakin meninggalkannya. "Tidak sakit, 'kan?"

"Tapi tetap saja menyebalkan!" anak itu memekik, masih cemberut, Erika terkesiap sampai tersentak mundur. Hanya dengan sekali dengar pun, dengan kemampuannya yang masih pas-pasan, dia langsung tahu bahwa kalimat itu benar-benar tidak baik.

"Maaf—maaf, bicaranya memang begitu," seseorang menghampiri, menggenggam kedua pundak anak itu ketika mencapainya. "Maafkan dia—ah, jadi kalian adalah rombongan Palang Merah yang datang untuk belajar di sini, ya?" Wanita itu dengan murah hatinya mengulurkan tangan. "Aku perawat di sini. Michelle. Selamat datang. Kau siapa?"

Erika cukup bersemangat menerima uluran tangan tersebut, setidaknya untuk ukuran seorang anak pendiam yang cukup pemalu. Dengan suaranya yang masih ragu-ragu untuk mencoba dialek Inggris, dia berkata, "Erika. Senang bertemu denganmu, Michelle." Ia mendadak ingat lalu menoleh. Bahunya lemas. "Sepertinya ... aku ditinggalkan ... oleh mereka ..."

"Oh, rombonganmu?" Michelle, masih merangkul anak laki-laki kecil itu, lantas tertawa kecil. "Aku bisa menggantikan tugas pemandunya untukmu. Kebetulan jam jagaku baru saja selesai."

"Tapi, Mum, bukankah kau sudah berjanji kau akan mendongeng untukku?" anak itu merajuk dengan menghentak-hentakkan kakinya.

Mata Erika membulat. Tak ada kemiripan sama sekali pada dua orang di hadapannya. Kulit non-Eropa Michelle sudah memancing rasa penasaran yang bertumpuk-tumpuk, ditambah lagi dengan hal ini. Dia tak tahan untuk tidak mengajukan pertanyaan, "Dia ... anakmu?"

"Anak, yah," ia tersenyum kecut, lantas berbisik, "angkat," lantas ia mengacak rambut si anak. "Kenalkan, Erika, dia Peter. Peter, bocah kecilku, ayo ulurkan tanganmu."

"Tidak mau!" suara cadelnya melengking lagi.

Michelle hanya tertawa, "Tolong maklumi dia, ya? Baru berusia empat tahun, dan selama dua tahun kekasihku mengasuhnya dengan cara-cara yang ... uhm, tak biasa, kurasa? Jadi dia lebih suka bicara blak-blakan. Sama dengan ayahnya itu."

Erika mengangguk-angguk. Merasa belum punya kapasitas untuk bertanya lebih banyak, dia akhirnya beralih lagi ke topik awal, "Jadi ... rombonganku ..."

"Oh! Oke, oke, baik. Mari kita berkeliling. Mau mulai dari mana dulu? Kudengar kalian akan menginap di markas Palang Merah yang sudah ditinggalkan sejak Blitzkrieg London dulu—tidak jauh, ya 'kan? Di barat bangunan ini, seratus meter, barangkali, tetapi aku kurang tahu agenda kalian. Apa saja? Supaya bisa kutunjukkan ruangan-ruangan yang kalian butuhkan."

"Um ... hanya belajar, kurasa. Membantu sebagai tenaga tambahan di sini ..." Erika langsung kehabisan kata-kata. Michelle benar-benar tak bisa diimbanginya dari segi dominasi pembicaraan.

Namun baguslah. Berarti dia tak perlu repot bersuara dan hanya perlu memasang telinga.

"Jadi ... mari kita berkeliling, Erika! Siapa tahu kita bisa bertemu rombonganmu di perjalanan. Rumah sakit ini tidak terlalu luas, jadi mari kita mulai dengan ruangan di sekitar selasar yang ada di sebelah kananmu. Nah, yang ini ..."

Michelle menjelaskan tentang bangsal-bangsal yang saling bersisian di koridor tersebut. Sebelah kanan adalah taman kecil yang hanya diisi warna hijau dan beberapa rumpun mawar yang sedang tak banyak berbunga. Tak ada pohon besar di sana. Erika bahkan susah menemukan yang setinggi dirinya.

Gadis itu berbelok dan menceritakan dengan sesuka hatinya. Erika semakin bingung soal arah, tetapi selama Michelle ada di sampingnya, dia tak memutuskan untuk bertanya sama sekali. Peter, dengan ajaibnya, diam saja saat ikut berjalan dan menggenggam tangan Michelle.

Rumah sakit itu lebih kecil daripada yang ia kira, dan mereka selesai di separuh jalan ketika Erika menemukan rombongannya kembali. Michelle mengatakan bahwa dia akan pulang ke flatnya dan berharap besok ia bisa bertemu Erika lagi ketika Erika dan yang lain mulai bekerja di sini.

"Pasien di sini cukup banyak setiap harinya, mungkin karena kehidupan yang belum bisa bangkit benar karena perang belum selesai ..." Michelle mengepalkan tangan, melepaskannya, lalu mengulangnya beberapa kali saat menutup pembicaraan mereka. "Dan banyak perempuan yang berhenti karena pekerjaan di industri amunisi lebih menjanjikan banyak uang untuk keluarga mereka yang hancur karena ditinggal ayah atau saudara laki-laki mereka. Aku sangat senang kalian datang ke sini."

Erika turut mengepalkan tangannya tanpa sadar. Industri amunisi ... dia baru memikirkan hal itu saat ini dan memakluminya walau berat.

"Kalau kau membutuhkan sesuatu, Erika, datang saja ke flatku, ya! Tepat di depan rumah sakit ini, nomor seratus tujuh puluh delapan. Aku akan membukakan pintu untukmu kapan saja kecuali di waktu-waktu piketku. Malam ini aku tidak punya jadwal, kok, jadi kalau mau berkunjung, silakan sekali!"

Erika mengangguk, "Terima kasih."

Michelle pamitan pulang karena ia bilang Peter belum makan dan harus tidur siang. Erika menghampiri Erzsi yang sedari tadi memperhatikannya.

"Kawan baru?"

"Hanya karena aku bertabrakan dengan anaknya." Perempuan itu malah tersenyum. Menoleh lagi ke arah kepergian Michelle—dan ternyata perempuan itu belum pergi terlalu jauh. Peter yang mungil masih berpegangan pada ibunya yang juga kecil—yang Erika rasa belum lolos dari usia belasannya. Atau, minimal, awal dua puluh. Entahlah.

"Yang tadi itu ... anaknya?"

"Ceritanya cukup panjang ..."


Di rumah yang sudah lama ditinggalkan penghuninya yang mencari keamanan di Amerika, tak jauh dari rumah sakit, anggota-anggota Palang Merah itu mendapati kenyataan bahwa mereka harus tidur sekamar berlima. Dan ternyata selimut tak secukup yang dibayangkan karena sebagian tertinggal di kereta karena keteledoran kecil.

Erika memutuskan untuk mencari flat Michelle dan mengharapkan perempuan itu bisa memberikan cara.

"Kuharap aku bisa ikut, tapi sayang sekali ..." Erzsi melirik pada teman-temannya yang sedang membersihkan kamar. "Semoga berhasil, ya."

"Mmm."

"Sungguh-sungguh kau tidak takut, Erika? Aku bisa memaksa mereka—"

Erika meyakinkan dengan benar-benar yakin, "Aku sudah besar, Erzsi. Kau melalui prosesnya bersamaku."


Cukup sulit untuk mencari flat Michelle karena semuanya terlihat sama. Namun ketika mengingat nomor tempat tinggalnya, dan membandingkan flat-flat lain yang kecil, dia yakin pilihannya satu di antara dua. Dua flat itu berada satu garis lurus vertikal di seberang rumah sakit, dan tentu saja pilihannya hanyalah yang terdepan.

Setelah meminta petunjuk—secara terbata-bata dan harus diulang beberapa kali—ia menemukan rumah Michelle di lantai keempat.

Perlu ketukan pintu beberapa kali hingga akhirnya Michelle membukakannya.

"Oooh, kau!" Dia yang awalnya hanya mengintip di bukaan pintu yang sangat kecil pun antusias dan segera melebarkan ruang masuk. "Maaf agak lama, tadi aku menidurkan Peter dulu."

"Ah, aku mengganggu ..."

"Tentu saja tidak, teman! Lagipula Peter juga bukan anak yang mudah terbangun hanya karena suara dua perempuan, kok. Mari, mari, duduk. Akan kubuatkan teh untukmu!" Michelle dengan halus mendorong Erika untuk duduk di sofa tua tepat di samping pintu.

"Jangan ... karena aku datang ke sini untuk meminta bantuan—jangan buat kami lebih berhutang padamu ..."

"Apakah teh bisa disebut utang? Tentu tidak! Teh adalah kewajiban tuan rumah untuk tamunya di Inggris! Tunggu sebentaaar, saja, oke?"

Erika kehabisan kata-kata. Ia ingin menyanggah lagi tetapi kosakata bahasa baru itu benar-benar menghilang untuk sementara dalam otaknya.

Ia duduk pada bagian ujung sofa. Mulai memperhatikan ruangan. Tak ada sekat dengan ruang tengah kecuali sebuah lemari rendah berkaca tebal yang berisi buku. Di ruang tengah yang kecil itu hanya ada satu jendela, dengan tirai tebal hijau kusam. Foto-foto berderet dari dekat pintu utama hingga ruang tengah. Total ada empat.

Erika mengamati semuanya dengan mata memicing. Tidak ada Michelle di satu foto pun. Foto pertama, empat laki-laki yang semuanya mirip. Foto kedua adalah sepasang suami istri. Foto ketiga dan keempat tak bisa Erika perhatikan dengan jelas—tetapi ia yakin Michelle tak ada di sana. Satu foto adalah foto banyak orang dengan satu perempuan—yang pasti bukan Michelle—dan seorang bayi di pelukannya. Yang terakhir, paling ujung, seorang laki-laki dan anak kecil, yang barangkali adalah Peter.

Selalu ada hal yang menarik dari teman baru.

Michelle menepati janjinya soal kata 'sebentar'. "Silakan, silakan. Dan katakan saja apa yang kauminta."

"Oh—"

"Mmm, foto-foto itu, ya," Michelle pun tertawa ringan. "Semuanya foto pacarku dan keluarganya. Tentu saja, karena flat ini miliknya."

"Kalian tinggal bersama?"

"Tidak pernah," lagi, ia tertawa kecil, "Aku baru pindah ke sini setelah dia pergi."

"Ah, maaf ..."

"Tidak perlu minta maaf. Dia hanya pergi dinas militer." Senyuman Michelle begitu tenang. "Terakhir kali kudengar dia ada di India, satu bulan lalu. Tapi entahlah, kabar burung. Tidak bisa benar-benar kupercaya. Aku dimintanya menjaga rumah ini, juga anaknya." Michelle menyesap tehnya sendiri, lalu setelah diletakkannya kembali ia pun mendekatkan cangkir kedua pada Erika. "Ayo, minumlah. Baru ceritakan masalahmu."

Menghormati tuan rumahnya, Erika meminum sedikit. Ketika memandang Michelle yang sudah tak sabar menantinya, Erika menebalkan wajahnya. "Kami kekurangan selimut di rumah. Apakah ... kau bisa membantu?"

Michelle diam sejenak, tak membuat Erika menunggu terlalu lama hingga akhirnya ia mengangguk cepat dan berkata singkat, "Tunggu sebentar!"

Dan Erika meminum tehnya sedikit demi sedikit sambil mendengarkan bunyi engsel lemari yang berkeriut-keriut, serta benda-benda yang ditumpuk di lantai dari kamar yang pintunya nomor dua di ujung ruang tengah. Tak lama, dia kembali dengan setumpuk kain yang nyaris menutupi wajahnya. Erika lekas-lekas bangkit dan mengambil beberapa untuk kemudian ditaruh di sofa.

"Nah, ini semua kupinjamkan untuk kalian. Pacarku tidak mungkin marah, tenang saja."

Erika menggaruk pipi. Bantuan ini mungkin begitu besar dan sangat menolong mereka, tetapi mana mungkin membawanya sendirian ke rumah yang menuntutnya untuk menyeberang jalan, bukankah begitu? Namun Michelle, yang tertawa kecil, tampaknya sangat lihai membaca suasana.

"Aku akan mencarikan tas untukmu, dan kita akan membawanya berdua. Peter sudah sering kutinggal saat tidur, kok." Ia menepuk-nepuk tumpukan selimut yang sebenarnya tak terlipat begitu rapi itu. "Dengan satu syarat."

"Tolong katakanlah—akan kulakukan sebagai balasannya."

Michelle tertawa kecil lalu menepuk-nepuk bahu Erika, yang lebih rendah dari bahunya—baru Erika perhatikan—sambil berkata, "Bukan hal yang berat. Kalian akan ditempatkan di rumah sakit secara acak, bukan? Kita akan satu ruangan. Aku yang akan meminta dengan caraku sendiri. Aku kehilangan teman satu ruanganku di bagian anak—karena mereka mengundurkan diri untuk bekerja di pabrik amunisi yang gajinya lebih menjanjikan."

"Ah ... boleh ... tapi bolehkah aku juga mengajak salah satu temanku?"

"Tentu saja! Lebih banyak orang, lebih menyenangkan! Aku tidak bisa bekerja sendiri—selain kerepotan karena aku membawa Peter ke rumah sakit, saat duduk-duduk juga tidak seru karena tidak ada teman sebaya untuk diajak bicara."

Untuk sesaat, Michelle terlihat seperti seorang anak kecil sungguhan. Suaranya jauh lebih mencerminkan kekanak-kanakannya, lalu Erika sadar.

Michelle tak jauh berbeda dengan dirinya.


Erika tak pernah memikirkan soal teman lain dan dunia luar ketika ia hidup bersama Lovino, sekian tahun lalu. Ia selalu mencukupkan dunianya apa adanya, dan tak mengharapkan dunia beserta orang-orangnya membukakan banyak hal untuknya ketika ia sendiri pun tak punya banyak hal untuk dibuka.

Ketika mereka beristirahat dari beberapa pasien anak yang sudah ditangani—kebetulan ada beberapa pasien pulang hari ini sehingga mereka bisa sedikit lebih lega—Michelle bercerita banyak hal padanya. Erzsi tak bergabung. Ada banyak hal yang harus ia urus di luar, berkaitan dengan tim dan persediaan, dan ia menolak Erika yang awalnya ingin membantunya karena perempuan mungil itu kelihatan sangat kurang tidur.

Dia tak mengapa menjadi telinga, karena ia rasa hanya itulah yang bisa ia berikan.

"Pamanku bersikeras membawaku di pelabuhan saat dia diminta wajib militer dan pelatihan di Inggris untuk kemudian dikirim ke Afrika. Saat itu kakekku baru saja meninggal dunia—dan kami tidak punya siapa-siapa lagi. Karena dia mengancam, perwira yang sebelumnya adalah teman lamanya di kampung, maka dia pun mengabulkan asalkan aku dikirimkan ke Inggris, dan dididik menjadi tenaga kesehatan."

"Lalu ... kau bertemu pacarmu?"

"Mmm, hm," Michelle tersenyum kecil sambil mengangkat bahu. "Dia junior pamanku. Kami bertemu karena dia terluka. Hanya hal yang biasa, memang, dan picisan—tapi kurasa aku masih bisa tertawa karena pertemuan pertama itu. Dia mengejekku tapi dia akhirnya datang ke tendaku lagi untuk mengembalikan selimut yang kupinjamkan padanya karena stok milik relawan habis di medan belakang Blitzkrieg."

Erika mendengarkan sambil membaca tumpukan data pasien yang masih belum dibereskan di atas mejanya. Ia menyunggingkan senyum.

"Maaf, ya, aku jadi terlalu banyak bercerita. Kadang-kadang aku memang harus mengulang cerita tentang Arthur lagi dan lagi karena inilah caraku untuk meyakinkan diriku ... bahwa dia masih hidup. Setidaknya di dalam pikiranku." Michelle bertopang dagu, melemparkan tatapan ke jendela. "Penantian adalah hal yang sulit. Yang harus kulakukan dengan keras adalah meyakinkan diri—dan menjaga Peter. Agar jika dia pulang, dia tidak akan meracuniku dengan masakan buatan tangannya." Ia mengulum tawa pada akhir kalimat, tetapi gagal untuk menyembunyikan rasa gamang dari matanya.

Berbagi bukan hal yang buruk.

Ia bisa melupakan lebih banyak kekhawatiran tentang kehidupan Lovino nun jauh di sana dengan melakukan hal serupa.

"Aku juga merasakan hal yang sama."

Michelle menoleh.

"Orang yang kusukai ... berada di lautan ..."


Michelle mengundang Erika untuk minum teh beberapa hari kemudian. Erzsi dan beberapa yang lain juga turut diajak, tetapi hanya Erzsi yang bisa datang dan ternyata Peter begitu cocok dengannya.

"Ternyata kau suka dengan Bibi Erzsi, ya, hmmm." Michelle mendorong Peter masuk ketika pintu apartemen telah ia buka. "Silakan masuk, kalian berdua."

"Karena makanan yang Bibi Erzsi bawa selalu enak! Bibi Erzsi, masakkan sesuatu untukku hari ini! Masakkan sesuatu!"

Erzsi dan Michelle saling berpandangan dan Michelle tersenyum kecil. "Silakan, Erzsi, kalau kau tidak keberatan! Ada beberapa bahan di dalam lemari."

"Aah, terima kasih sekali. Jadi, Peter, mari kita lihat apakah kita bisa membuat kue kali ini." Erzsi merangkul bahu Peter dan menepuk-nepuknya—membuat anak itu melonjak-lonjak gembira dan berteriak-teriak soal kue hingga menggema.

"Aku akan membantumu membuat teh. Aku ingin belajar membuat teh Inggris." Erika merapat pada Michelle.

Peter membuat Erzsi sibuk di dunia mereka sendiri bahkan ketika Erika dan Michelle keluar dari ruangan dengan masing-masing cangkir teh di tangan.

Duduk di ruang tengah, yang punya sepasang kursi di dekat jendela dengan meja bundar kecil tinggi, Michelle pun membuka jendela. Sore itu masih begitu terang, musim semi sudah hampir dimulai.

"Cangkir ini cangkir favorit Arthur." Michelle mengangkat cangkir miliknya dan memandangi motifnya. "Terakhir kali aku mendapatkan surat darinya ... tahun lalu. Dia masih berjuang di Burma. Entah bagaimana nasibnya. Kudengar ... pasukan gabungan Inggris dan koloni-koloninya kalah."

Erika mencengkeram pegangan cangkirnya. Melirik dengan takut.

"Tapi sampai sekarang aku belum mendapatkan surat pemberitahuan apakah Arthur gugur di medan perang atau menghilang saat tugas," terang gadis itu ringan, sambil tersenyum di bagian akhir.

Erika tak jadi minum. Bagaimana jika di rumahnya sana ... sudah ada surat serupa? Mendadak perutnya mulas dan ia ingin berlari saja menuju Italia.

"Sudah satu tahun lebih ... sedang berada di mana, ya, dia? Aku takut ketika dia berkemah di daerah tropis seperti itu, penyakit malaria bisa menjangkitinya dengan mudah."

"Malaria, ya ..."

"Sudah pernah dengar, 'kan?"

Erika mengangguk. "Pak Joachim pernah bercerita pada kami. Dia pernah menuju daerah Asia, lalu berkata bahwa sesial-sialnya pasukan di Eropa, masih lebih repot kehidupan tentara di Asia yang penuh hutan, rawa, dan nyamuk-nyamuk yang bisa saja merenggut nyawa mereka sebelum bertarung."

Michelle mengerutkan hidungnya. "Dari sanalah aku menjadi sangat takut sekaligus sebal pada nyamuk. Ingatanku tentang nyamuk hanya sampai saat aku meninggalkan pulauku, sebenarnya, tapi mereka memang sudah menjengkelkan sejak dulu."

Erika menatap Michelle, "Semoga kekasihmu baik-baik saja di sana ..."

"Semoga ..."

Keheningan di ruang tengah ditutupi oleh ributnya Peter dari dapur yang bertanya ini dan itu pada Erzsi. Erzsi kewalahan, suara Peter semakin berisik.

Michelle tersenyum geli. "Peter selalu begitu bahkan jika Arthur memarahinya."

"Ah, ya ... aku selalu penasaran ... bagaimana Peter bisa datang ke kehidupan kalian?"

Michelle menunda jawabannya untuk minum. Tehnya hampir habis. "Arthur mengajaknya tinggal bersamanya ... setelah sepupu jauh tirinya, yang sama-sama berjuang dengannya di medan Afrika, tewas di peperangan. Ibu Peter sudah meninggal saat melahirkannya—jadi anak itu benar-benar membuat Arthur kasihan. Padahal lelaki itu biasanya sangat cuek pada orang-orang di sekitarnya." Sekali lagi, dia nyaris tersenyum.

Erika sudah lelah bertanya dan berpikir tentang pengorbanan perang ... tetapi sebanyak apapun ia memikirkannya, ia selalu teringat hal tersebut dan merasa begitu kecil, begitu tak berdaya untuk melakukan apa-apa.

"Sebentar, ada yang mengetuk." Michelle beranjak.

Erika memandangi tanpa melewatkan satu hal pun. Seorang petugas pos memberikan surat, dan tiba-tiba saja air muka Michelle berubah. Ia berdiri dengan tegang dan tak membalas dengan basa-basi ketika tukang pos itu berpamitan.

Lama ia terpekur di depan pintu yang terbuka hingga Erika harus menghampirinya. Wanita itu membolak-balik surat tersebut, lantas bergumam, "Tidak ada stempel resmi militer kerajaan, sih ..."

Erika tak tahu harus mengatakan apa ketika Michelle begitu lama merenungi nama yang tertera di balik amplop. Arthur Kirkland. Dari Hong Kong. Michelle mengerutkan kening lama-lama.

"Mari kita lihat." Michelle bergegas menuju kursinya lagi. "Bagaimana bisa anak itu berada di Hong Kong? Lagipula—memangnya pengirim ini benar-benar dirinya?" Ia tak sabar menyobek bagian atas amplopnya, hingga terbelah sampai ke bagian alamatnya.

Matanya dengan cepat memindai bacaan yang hanya memakan separuh halaman lebih sedikit itu. Erika menantikan perubahan yang baik—

—dan ia mendapatkannya di akhir.

Michelle tersenyum lebar lalu memeluk surat tersebut, lantas terkekeh gembira dan menjangkau untuk memeluk Erika di seberang meja.

"Pasti ada kabar baik, ya?" Erika membalas pelukan itu dan menepuk punggung Michelle. "Boleh aku tahu tentang apa?" tanyanya setelah mereka saling melepaskan rangkulan.

"Kau boleh membacanya." Michelle memberikan kertas tersebut.

Aku terkena malaria setelah berakhirnya kampanye di Burma yang memalukan. Aku mendapati diriku dilarikan ke salah satu rumah sakit di Siam, dan tahu-tahu, tak lama setelah aku sadar, medis militer yang merawatku meminta agar aku diobati di salah satu rumah sakit Jepang yang terdekat—dan ternyata lokasinya di koloni Jepang, Hong Kong.

Aku sedang dalam pelarian. Aku sudah bisa pulang—dan aku yakin dengan kesehatanku sendiri. Aku berjalan-jalan mencari bantuan untuk pulang di pelabuhan, dan aku bertemu seorang prajurit Italia yang bekerja untuk kapal Poros, yang sedang bersandar di Hong Kong untuk memasukkan barang-barang yang akan diangkut lalu digunakan kedua negara. Aku mengeluarkan harta terakhirku, jam emas kuno dari Kakek untuk menyuapnya, dan ternyata dia memanggil dua temannya untuk memberikan bantuan padaku. Salah satu di antaranya benar-benar membuatku terkejut. Angkat kepalamu dan lihatlah pada salah satu foto di dinding apartemenku—ya, orang itu ada di sana! Lukas Bondevik, iparku sendiri! Dia menyimpan cerita tentang bagaimana dia bisa terjebak dalam pekerjaan Jepang-Jerman, untuk dia kisahkan nanti, suatu saat ketika dia sudah bebas.

Lukas dan dua temannya membantuku mendapatkan kapal dagang untuk pulang. Saat kau membaca surat ini, aku sudah berada di lautan dalam identitas sebagai pelarian, Michelle—katakan pada Peter bahwa aku akan segera pulang.

Prajurit Italia pertama yang memberiku bantuan menolak menerima jam emas itu. Berkata bahwa yang dia inginkan bukan harta, tetapi dia hanya ingin melihat seseorang pulang pada orang yang disayanginya—karena dia ingin melakukan hal serupa. Ingatlah namanya, Michelle, kita akan mencarinya suatu saat nanti ketika perang sudah selesai: Lovino Vargas.

Aku akan segera tiba. Setelah ini kita pindah ke Irlandia. Sesuai permintaan Lukas, ia ingin agar aku menyampaikan pada Ennis bahwa dia baik-baik saja—dan kuputuskan agar kita tinggal di sana saja. Memasuki negara netral adalah jalan terbaik. Aku pulang, Michelle, Peter.

Tangan Erika gemetar dan ia nyaris tak bisa menyelesaikan bacaannya. Michelle yang tak mengerti apa-apa masih tersenyum lebar dan menatap Erika, menunggu tanggapan yang menyenangkan.

Sadar ada yang kurang beres, ia mengedipkan matanya lebih cepat. "Erika, ada yang salah?" Michelle tiba-tiba menjadi panik saat airmata meleleh dari pipi Erika, dengan perlahan tetapi mengejutkan. "Erika, kenapa?!"

Ia menyerahkan kertas tersebut masih dengan tangan gemetaran. "Lovino ... Lovino Vargas ..."

"Ah, orang itu—kau mengenalnya?"

Erika tersenyum, masih terharu, bibirnya masih terlalu gemetar untuk membentuk kata-kata.

"Siapa dia?"

"Dia ..." Erika menyeka matanya dengan cepat. "... orang yang selalu kuceritakan padamu ..."

"Dia masih hidup! Astaga—senang sekali mendengarnya!" Michelle pun melonjak, memeluk Erika sekali lagi. "Orang yang kita sayangi masih hidup!"


.

[ few weeks ago ]

Lovino akhirnya keluar dari toko kelontong serba ada itu. "Menyebalkan sekali. Aku tidak akan membeli apapun di sini lagi!"

Ia memasuki toko lain dan menemukan barang serupa, dengan pemilik—yang sama-sama orang Asia—tetapi jauh lebih bijak dan ramah. Meski hanya berinteraksi lewat bahasa isyarat, ia bisa mendapatkan sepaket pakaian dan selimut baru sesuai dengan harga yang tertulis di rak barang-barang tersebut.

Tidak seperti di tempat sebelumnya, ketika dia menyerahkan sejumlah koin yang baru saja ia tukar, pemilik toko mulai mengoceh dengan bahasa yang ia tidak mengerti dan mengembalikan uangnya. Perdebatan aneh dimulai antara orang yang menggunakan dua bahasa yang sama sekali tidak nyambung dan Lovino mengakhiri semuanya dengan membanting barang-barang ke atas konter dan meninggalkan toko dengan muka cemberut.

Destinasi berikutnya hanyalah kantor pos. Ia bersyukur perhentian sementara untuk mengambil barang-barang dari koloni Jepang yang lain kali ini berada di Hong Kong, di mana sisa-sisa peninggalan Inggris masih ada di beberapa tempat. Lokasi-lokasi tertentu belum menanggalkan papan nama bahasa Inggrisnya.

Lovino masuk sebentar ke dalam gang yang kecil dan mengeluarkan sisa uangnya. Menghitung uang di keramaian baginya selalu menjadi hal yang memalukan.

Berjongkok dengan meletakkan barang-barang belian di atas pangkuan, ia menaruh koin-koin itu satu per satu ke atasnya, sembari bibirnya menghitung jumlah demi jumlah. One, two, three ... dia bergumam tanpa sadar, dengan bahasa yang sampai saat ini masih cukup asing di lidahnya, tetapi karena Lukas terus mengajaknya berbahasa Inggris dan Francisco turut bersekongkol, dia mau tak mau turut terpengaruh. Manfaatnya besar, kata Lukas, karena dengan mencampur bahasa maka atasan Jerman dan Jepang mereka tak akan mengerti apa yang sedang mereka coba katakan.

"Aku bisa membuatmu kaya dan tak lagi menghitung uang demi uang yang sedikit seperti itu."

Lovino menoleh cepat ke kanan dan kiri, waspada. Ia meraup uang-uangnya dengan gerak protektif sambil memicingkan mata ke dalam bagian gang yang lebih sempit dan gelap. Ada seseorang di sana, rambutnya pirang dan dia juga tengah berjongkok.

Tiba-tiba saja lelaki itu berdiri, mendekatinya dengan sangat cepat dan membekap mulut Lovino.

"Jangan bicara sebelum kupersilakan." Salah satu tangannya kemudian menjangkau saku bagian kanan jaketnya. Lovino memperhatikan wajahnya yang mulai jelas kelihatan. Inggris sekali ...

"Ini terbuat dari emas asli. Silakan tanyakan pada toko emas terdekat dan kau akan menjadi orang kaya, Pelaut."

Lovino mengumpat dalam hati mengapa ia masih memakai seragamnya saat sedang bebas dinas. Jadinya ketahuan seperti ini, bodoh ...

"Tapi kau harus melakukan sesuatu untukku."

Lovino memberontak. Memukul tangan tersebut.

"Katakan, siapa namamu?"

Lelaki itu tak mau menghabiskan waktu untuk basa-basi. "Arthur Kirkland. Sersan Kepala untuk pasukan Inggris. Aku sedang dalam pelarian dan jangan tanyakan alasanku. Aku baru saja sembuh dari malaria berat dan aku harus kembali pada rumahku sendiri, sebelum perang yang gila ini mengambil nyawaku—lalu membuatku gagal menikah dan menjadikan anakku yatim-piatu." Arthur pun menarik tangan Lovino lalu menaruh jam emas itu dengan paksa, sembari mengepalkan tangan tersebut.

Lovino bergantian memandang si jam dan wajah Arthur. Jam itu masih kelihatan sangat baru dan mengkilap, bersinar di tengah remang-remang. Dan Arthur, sebaiknya tak seorang pun menanyakan mengapa dia begitu pucat dan matanya begitu sayu.

"Aku tak tahu kau dari negara mana dan bertugas untuk siapa, tetapi sebagai sesama prajurit, apapun kubu kita dan dari manapun kita berasal, kita punya satu identitas yang sama. Dan aku sudah terlalu lama berada di medan perang sehingga aku benar-benar merasa menjadi manusia yang tak punya daya. Sekarang," ia mencengkeram salah satu bahu Lovino, "sebagai sesama pejuang, kaulah manusia dengan daya yang kuharapkan."

Lovino meneguk ludah. Sekali lagi melakukan hal yang sama; memandangi dan menimbang.

Tak lama kemudian Lovino menarik lagi tangan Arthur dan mengembalikan jamnya. "Tunggulah di sini. Jangan ke mana-mana."

Lovino mengantongi kembali uangnya dan berlari kembali menuju pelabuhan. Lukas dan Francisco menjauhkan diri dari para perwira Jerman, dengan berbicara dalam bahasa Inggris di dekat tiang lampu tak jauh dari dermaga. Lelaki itu memegang bahu keduanya secara mengejutkan dari belakang, dan belum sempat Francisco selesai dengan ceramah meremehkannya, dia sudah mencegah,

"Kalian bisa membantuku menyelundupkan seseorang?"

Francisco langsung terperangah. Lukas menatap dengan mata menyipit menyelidik.

"Siapa yang ingin kaumasukkan ke dalam kapal kita?"

"Mau bunuh diri ya kau, Lovi? Sudah untung nyawamu diselamatkan oleh mereka!"

"Bukan itu," sanggahnya sambil menggeleng kesal. "Kapal apapun. Kapal dagang, kapal penumpang, kapal Palang Merah, peduli setan! Yang penting seseorang harus bisa keluar dari sini!"

Francisco melirik pada petinggi-petinggi. Salah satunya melirik ke arah mereka dan ia langsung menarik Lovino untuk menjauh.

"Siapa?"

"Aku menemukan seorang pelarian di gang pertokoan. Arthur Kirkland. Prajurit Inggris. Dia ingin kembali ke rumahnya—dan yang kudengar dia baru saja sembuh dari malaria."

Selesai bicara, Lovino menunggu reaksi kawan-kawannya—dan di saat itulah ia berani bertaruh. Baru kali ini ia melihat perubahan ekspresi Lukas yang benar-benar mengejutkan. Matanya membulat dan ia langsung terlihat marah.

"Cepat tunjukkan padaku di mana dia."

Lovino menghentikan Lukas yang sudah berjalan tanpa tujuan yang pasti. "Kauingin membunuhnya?! Wajahmu terlihat seperti itu, tahu!"

"Justru sebaliknya," suara Lukas tegas dan nyaring sekali. "Kita akan melakukan sesuatu padanya. Pasti. Tapi terlebih dahulu, berikan aku waktu untuk menemuinya."

Kening Francisco mengerut. "Kau berkata dan bertingkah seolah kau sudah mengenal orang itu."

"Tentu saja." Lukas mengepalkan tangannya. "Dia adalah kakak istriku."


Begitu Lovino mempertemukan kedua kawannya dengan Arthur, Arthur yang sangat terkejut dan mematung tak percaya saat Lukas menghampirinya.

Pelukan mereka membuat Lovino emosional. Ia mendekati tembok untuk mencari pertahanan dan kemudian ia mendongak. Masih ada banyak sisa kenangan Feliciano yang tak terusir dari kepalanya, dan pertemuan Lukas-Arthur hanya membuat dirinya menjadi buruk.

Tak begitu lama menunggu pembicaraan lepas rindu Arthur dan Lukas. Lovino menghampiri keduanya dan langsung bertanya, "Siapa yang punya kain putih di sini?"

Dua orang tersebut mengerutkan kening.

"Dan cat merah. Dari apapun itu! Kita butuh benda itu untuk Arthur!"

"Ha?"

Lovino berdecak karena ia pikir Arthur sama cerdasnya dengan Lukas.

"Buatlah dirimu menjadi seorang petugas kesehatan yang tersesat. Fran," panggilnya, mendadak berbalik, "Cari benda itu sekarang juga!"

"Oh—baiklah."

Ketika Francisco pergi dan kedua orang di sampingnya hening, Lovino tersadar hingga kemudian tersenyum. Ini kali pertama ia membuat Francisco melakukan perintahnya dengan wajah takut-takut dan kaget seperti itu. Lantas tawanya dalam hati terwujud menjadi seringai tipis yang singkat. Akhirnya.

Lovino menyimak pembicaraan Arthur dan Lukas. Soal kabar istri Lukas dan putra mereka, yang ternyata Arthur pun tak tahu banyak karena ia sudah begitu lama tinggal ribuan mil dari rumah. Dan tentang anak angkat Arthur ... banyak hal. Semuanya membuat Lovino semakin gelisah karena Francisco pun begitu terlambat.

"Nih." Yang ditunggu itu pun kemudian datang dengan terburu-buru. Sekaleng cat langsung dia buka. Selembar kain panjang dia sobek begitu saja dengan tangan kosong. "Barangkali dengan jumlah sebanyak ini kita bisa membuat untuk diri kita sendiri dan melarikan diri dengan identitas baru."

Sementara Francisco melakukan tugasnya, Lovino bertanya, "Apakah ada rekanmu yang lain yang berada di Hong Kong?"

"Tidak ada. Hanya aku yang dilarikan karena malariaku paling parah dan aku sempat tidak sadarkan diri." Arthur lalu menerima kain dari Francisco. Mengikatkannya di lengan kanan atasnya. "Malaikat yang menyuruhku dilarikan dari Siam ke Hong Kong menghilang entah ke mana setelah aku bisa duduk di Hong Kong. Katanya dia petugas medis militer Inggris, tetapi aku tak pernah bisa ingat wajahnya. Sementara itu perawat di rumah sakit Jepang tidak begitu ramah padaku."

"Sekarang, masalah utamanya adalah—bagaimana caranya agar kaubisa pergi dari sini?" Lovino mengetukkan kakinya keras-keras di tanah. "Ayo kita keluar dari sini."

Lovino berjalan memimpin dan memandangi pelabuhan yang tak begitu ramai. Dia bertaruh pada dirinya sendiri dengan mendekati seorang pedagang yang mengurusi barang-barang dalam peti.

"London, London!" ucapnya begitu saja.

Pedagang Asia itu mengerutkan keningnya. Arthur dan yang lain datang mendekat, Lovino langsung menarik laki-laki itu. "London, London," ulangnya sambil menunjuk badge Palang Merah di lengan Arthur.

Pedagang itu semakin sebal. Ia melambaikan tangan dengan cepat dan mengoceh cepat dalam bahasa Mandarin. Satu-satunya kata yang dimengerti Lovino hanya 'Sabang', dan itu mengecewakan. Ia menunjuk ke arah lain, pada pedagang lain yang kelihatan lebih muda dan badannya lebih besar di sisi lain dermaga. Lovino berdecak lalu pergi menjauh.

Hanya Lovino yang mendekati orang itu. Lovino menunjuk-nunjuk ke arah Arthur dan kembali mengucapkan tujuannya.

Si pedagang menanyai orang kepercayaannya yang sedang mengikatkan barang-barang di kapal, dengan bahasa Jepang yang sangat nyaring.

"Igirisu!" teriaknya.

Pekerja itu lalu mencibir. Ia memberi isyarat tangan melintang di lehernya.

Lovino mengartikannya sebagai, mati kita jika nekat ke sana.

Untuk kedua kalinya, Lovino menyerah. Mendatangi mereka bertiga, dia sama sekali tak mendapat harapan pula.

"Mengharapkan pasukan Palang Merah datang ke sini rasanya hampir mustahil. Urusan volunter kesehatan di Jepang jauh lebih sulit daripada negara-negara lain di Eropa," tegas Lukas, tak memberikan pemecahan pula.

Lovino pun duduk di tepian dermaga sambil mengacak rambutnya. "Pasti ada kapal dagang negara lain yang singgah di sekitar sini. Aku akan berjalan."

"Hei!" Arthur membuat Lovino menoleh. "Tidak perlu. Kita bisa lanjutkan setelah berpikir."

"Tidak akan!"

"Kalau kau mencari dengan nekat seperti itu, bisa-bisa kita akan ketahuan! Kau akan celaka karena menyelundupkan penipu dan aku akan dibunuh!"

"Maka bersikaplah seperti seorang Palang Merah yang tidak berisik! Aktingmu masih buruk!"

Lukas dan Francisco berpandangan.


"Terakhir kali aku mencium Emil adalah saat ia baru bisa merangkak. Entah dia masih bisa mengenaliku atau tidak saat aku pulang nanti."

"Ennis tidak cukup bodoh untuk membuat anaknya lupa akan ayahnya sendiri, tahu," Arthur tertawa kecil, sedikit sinis dan menyindir. "Dia pasti bercerita setiap hari tentang pertemuan seorang laki-laki dan seorang perempuan di perpustakaan dinas militer Kerajaan Inggris."

Lukas hanya mengusap wajahnya. Arthur sempat mendengar nama Emil dan Ennis meluncur dari bibir lelaki itu, tapi ia tak cukup yakin.

"Aku ingin pindah ke Irlandia saja setelah aku menikahi Michelle—jika aku bisa pulang setelah ini. Lalu kubawa saja Peter. Aku benar-benar ingin memulai kehidupanku sendiri."

"Seandainya aku bisa pulang cepat ...," Lukas merenung. "Aku hanya ingin mengajak mereka pindah ke pedesaan atau migrasi ke Amerika."

"Perang sialan ini ... sepanjang melakukan kewajiban di hutan lebat dan gunung-gunung yang lembab ... aku terus mempertanyakan hidupku. Jika negaraku bebas dari aksi penjajahan, maka apa yang kudapatkan? Jika negaraku kalah dan Jerman memenangkan perang, maka apa juga yang akan kudapatkan? Selama kesempatanku untuk hidup masih ada, maka di sisi manapun aku berada, aku akan tetap bertahan."

Lovino yang pergi cukup lama membuat Francisco akhirnya tak bisa menyembunyikan kegelisahannya dan memotong pembicaraan Lukas dan Arthur.

"Anak itu memang sering membuat khawatir. Aku akan mencarinya—"

"Kurasa tidak perlu," Arthur mengedikkan dagu ke arah kiri.

Lovino berlari ketika tatapannya dan Arthur bersirobok. Seorang lelaki yang tampak tak muda mengikutinya, berupaya mengikuti gerak lari Lovino yang semakin cepat.

Lelaki itu menyalami mereka semua sebelum Lovino sempat mengenalkannya.

"Dia Wang Yao." Lovino menunjuk lelaki itu, berucap dengan lebih sopan. "Dia sudah lama tinggal di Hong Kong dan sering berdagang dengan orang-orang Inggris saat mereka masih bercokol di tempat ini."

"Ya. Saya juga beberapa kali berkunjung ke Inggris dengan kapal saya sendiri. Jadi ... yang mana yang ingin pulang ke London?"

"Orang ini." Lovino maju dan menepuk bahu Arthur.

"Rutenya ... bagaimana?" Arthur mencoba tetap terlihat tegas tetapi gagal.

"Memang, cukup berbahaya berlayar di laut di saat-saat seperti ini. Namun jika kau meragukan Wang Yao, pedagang sedari kecil yang sudah menempuh berbagai badai di laut-laut yang berbeda ini, kau salah!" Lelaki itu terkekeh sambil menepuk-nepuk bahu Arthur. "Aku bahkan sudah tiga kali berlayar ke Amerika setelah Pearl Harbor dihajar Jepang, dan aku baik-baik saja. Tuhan masih menyelamatkan jiwa-jiwa ksatria sepertiku!"

"Rutenya, tolong jelaskan rutenya! Dan bendera apa yang kaupakai ketika berlayar di saat-saat seperti ini?"

"Jangan pakai bendera, apa susahnya?" tanya Yao balik dengan begitu entengnya. "Mereka akan menjadi ragu dan tidak jadi menyerang. Tapi jangan bosan dengan perjalanan, ya, aku akan singgah di banyak tempat untuk mengambil barang dagangan—karena aku berangkat dengan kapal kosong, nih."

Arthur diam sebentar, mulai memahami mengapa lelaki itu mau menampungnya. Hanya kebetulan karena dia memang akan berangkat dan dia memang sudah berpengalaman dengan orang-orang Sekutu. Dia menarik napas.

"Aku akan membayar berapapun—apalagi jika kaumau menungguku sebentar di London untuk mengambil uang di rumahku."

"Tidak usah repot-repot memikirkan bayaran." Yao melambaikan tangan di udara dengan cepat. "Asalkan kau membantuku di kapal—misalnya, ya ... bersih-bersih atau mengurus dagangan, aku dengan senang hati memberimu tumpangan."


Arthur menemui Lovino lagi pagi itu, sebelum berangkat bersama Yao.

Lagi-lagi dia memberikan benda yang sama. "Ini untukmu. Kau berhak mendapatkannya."

Lovino mengembalikannya dengan cepat, bahkan menekan pergelangan tangan Arthur sendiri. "Aku tidak butuh ini."

"Tapi aku belum membayarmu dengan apapun!"

"Yang kubutuhkan adalah apa yang kaubutuhkan. Kaubutuh kebebasan, dan ketika kau mendapatkannya, aku juga. Pulanglah dengan hati lapang, dan aku akan merasakannya dari sini."

"Lovino Vargas—"

"Aku tidak butuh lebih banyak kata-kata darimu." Lovino menepuk pundak Arthur beberapa kali, sebelum menyunggingkan senyuman yang benar-benar tipis dan memberikan salam terakhir berupa hormat ringan. Lantas meninggalkan Arthur.

Lovino melambaikan tangan dari kejauhan.

Luigi Torelli, sekarang UIT-25, sudah siap berangkat kembali. Arthur sudah berada di lautan bersama Yao ketika Torelli mulai berlayar dengan barang-barang hasil transaksi Jepang dan Jerman.


Suatu pagi, Erzsi membangunkan Erika lebih pagi daripada biasanya. Akan ada pengarahan penting dari Joachim, katanya, dan ia pun baru diberi tahu sekian menit yang lalu.

Berkumpul di tengah-tengah rumah yang mereka diami, Joachim mengatakan bahwa mereka diberikan cuti beberapa bulan, hingga nanti berkumpul lagi di tempat ini sebisa mungkin pada awal musim semi 1945. Erzsi, setelah pengumuman itu diberikan dan yang lain mulai berkemas, mulai menangis dan memeluk Erika. Berkata betapa dia rindu suaminya tetapi tanpa Erika yang sama-sama berjuang dengannya, ia tahu akan ada banyak hal yang akan berubah.

Erika memang menantikan bagaimana rasanya pulang, tetapi tanpa Erzsi pun ia tahu akan ada yang kosong dari perjalanannya.

Ia bermaksud untuk pamitan pada Michelle pula sore hari itu, karena tidak sempat bertemu di rumah sakit akibat jam jaga yang berbeda. Erika mengetuk pintu flat Michelle dengan harap-harap cemas, berharap semoga gadis itu tak sedang tidur atau mungkin Peter sedang beristirahat.

Ketika pintu dibukakan, Erika nyaris terlonjak.

"Siapa kau? Mencari siapa?"

"A-aku ... a-apa Michelle ada? Aku Erika, temannya di rumah sakit ..."

"Tunggu sebentar. Dia sedang memasak. Akan kupanggilkan. Masuklah."

Erika masih mematung bahkan ketika orang itu pergi. Ia menutup mulutnya.

Tidak salah lagi ...

"Ah, Erika! Kenapa masih berdiri di situ? Masuklah, ayo masuk! Arthur, kau tidak menyuruhnya masuk, ya?!" Ia menarik Erika agar melangkah masuk.

Erika berbisik ketika Michelle membawanya, "I-itu Arthur ...? Kapan dia pulang?"

"Tadi malam," senyuman Michelle tak bisa dibandingkan dengan apapun. "Aku sampai tidak percaya dia yang datang karena ketukannya begitu halus, seperti bukan dirinya saja."

Erika menggigit bibir bawahnya, tak yakin dengan pikirannya sendiri—tetapi sisi lain hatinya berkata bahwa dia harus melakukannya saat ini juga. "Boleh aku bicara padanya?"

Michelle mengerti dengan mudah, "Pasti soal Lovino, hm? Arthur! Kemarilah! Kami memerlukan sesuatu!"

Arthur datang lebih cepat daripada Erika berkedip—atau hanya perasaannya saja, dia tak mau memikirkannya.

"Tuan Arthur—" dia mendekat dan menatap seolah memohon, "Bagaimana Lovino? Apa dia baik-baik saja—tanpa cacat?"

Arthur mengerutkan kening. "Kau mengenal Lovino Vargas?"

"Lovino teman masa kecilnya," Michelle bantu menjelaskan sambil mengedikkan dagu, tahu Erika sama terkejutnya dengan dirinya tadi malam untuk berkata-kata panjang. "Dia tahu surat yang kaukirimkan padaku sebelum berangkat dari Hong Kong."

"Ah, jadi kau ..." Arthur mengelus dagunya, menatap Erika dari kaki hingga kepala sekilas. "Aku hanya mendengar satu kali Lovino bercerita tentang kehidupan pribadinya saat kami makan bersama, setelah aku menemukan tumpangan untuk pulang. Dia bercerita tentang satu-satunya perempuan yang membuatnya bertahan hidup, dan ia ingin segera pulang pada orang itu jika saja ia bisa."

"Dia baik-baik saja?" sambar Erika tak sabar.

Arthur tersenyum begitu samar. "Tentu. Meski dia benar-benar cerewet, aku tahu dia sedang berada dalam keadaan terbaiknya."

Michelle menepuk-nepuk punggung Erika, dan untuk sesaat Erika lupa soal tujuannya datang ke sini.


Erika diajak makan malam bersama keluarga kecil itu. Ia berkata soal maksudnya untuk pulang ke Italia, dan sayang sekali Michelle menjawabnya dengan hal yang tidak begitu bagus.

"Mungkin ... kau tidak akan menemukan kami lagi di sini ketika kau kembali." Michelle pun melirik Arthur. "Kami benar-benar sudah memutuskan soal migrasi ke Irlandia. Hal ini adalah hal pertama yang kami bicarakan saat Arthur datang ... dan keputusan kami benar-benar bulat."

"Apakah itu artinya aku bisa bertemu dengan anak kecil yang kata Mum namanya Emil itu? Aku mau! Aku mau!"

"Peter, jangan menyela pembicaraan orang! Apa yang Dad ajarkan padamu sebelumnya, hm?"

Michelle memutar bola mata. "Arthur, jangan membentaknya." Lantas ia kembali pada Erika, "Jadi ... maaf, ya? Tapi akan kuberikan alamat Ennis, saudara Arthur. Untuk sementara kami akan tinggal di sana, dan kau bisa mengirimkan surat pada kami kapan saja."

"Semua itu adalah keputusan kalian ... aku senang mendengarnya." Erika menatap dua tuan rumah secara bergantian. "Semoga kita semua bahagia."

"Ya. Bahagia," ulang Michelle, penuh penghayatan, mendapat anggukan dari Arthur.

tbc.