luigi torelli
Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya. penulis tidak mengambil keuntungan material apapun atas pembuatan karya; ditulis hanya untuk kesenangan. perhatian: ini adalah fiksi penggemar historikal; meski mengandung unsur sejarah, tetap ada aspek-aspek bersifat rekaan di dalamnya
Pairing: Romano/Liechtenstein. Genre: Adventure/Family/Romance. Rating: T. Other notes: WWII!AU, Naval Army, Regia Marina.
(Lovino dibesarkan oleh pantai, didewasakan oleh laut. Ia pulang pada pantai, siap menua di sana.)
Ada banyak cerita dari dua mulut yang sebelumnya selalu berbicara pelan.
Mulai dari petualangan yang jauh dari pesisir hingga lumpur-lumpur di dalam kamp. Mulai dari teman-teman kecil hingga rekan sejawat di atas laut.
Mereka melupakan makan malam dan menghabiskan waktu di meja makan hingga pukul satu—dan Erika baru menyadari bahwa dirinya lapar setelah Lovino menatapnya lama-lama dan berkata pelan, "Tidurlah."
Hanya tersisa sup kacang di dalam lemari, karena bahan makanan susah dicari, katanya, dan Lovino mengiyakannya saja. Erika memasaknya dengan tak sabar—ia begitu sering menengok panci dan mengaduknya dengan cepat.
Lovino berdiri di belakangnya, menjaga jarak tetapi tak berhenti menatap. Punggung Erika tak berubah banyak—ialah di sini yang menjadi sangat kurus.
Lelaki itu mengusap wajahnya dan menggosok matanya, meleburkan titik-titik yang hampir jatuh dari sudut matanya. Apa ia sekarang telah benar-benar berada di Italia? Semuanya berlalu terlalu cepat di belakangnya.
Saat mengantar Erika ke kamar—pukul tiga lewat—Lovino berhenti di depan pintu. Erika menoleh dan tersenyum. Lovino menggaruk bagian belakang kepalanya, mencoba menghindari tatapan tetapi dirinya sendiri lebih tahu dari siapapun bahwa dia tak sanggup melakukannya. Senyuman canggung terbentuk, tetapi Erika mengangguk. Menepuk pelan lengan Lovino.
"Selamat malam juga, Lovino ..."
"Ya. Mimpi indah, ya ..." Kerongkongannya kering dan dadanya terasa aneh. Ada yang kurang—tetapi ia tak berani maju. Selangkah pun. Hingga Erika masuk dan kembali tersenyum padanya.
Lovino akhirnya memasuki kamarnya sendiri dengan langkah ragu. Kamar itu begitu bersih dan rapi, hanya saja kekurangan barang. Ia tak punya pakaian yang sesuai dengan ukuran tubuhnya sekarang, sehingga tadi Erika pun meminjam dari tetangga jauh.
Ia mencoba berbaring dan membolak-balik tubuhnya di atas tempat tidur yang semakin berisik itu. Sekarang kakinya harus ditekuk sedikit, dan ia harus bergeser ketika ingin berbalik. Namun bagaimanapun, tetap lebih baik rasanya dari tempat mana pun yang ia diami selama lima tahun belakangan. Aroma yang ia hirup adalah bau apek dari kamar yang sudah begitu lama tidak ditinggali—Erika bahkan belum sempat membersihkan sarang laba-laba dan sampah-sampah atau rumput kering yang diangkut tikus dari sudut ruangan. Namun langit-langitnya begitu tinggi, tak tergapai oleh tangan—Lovino tahu apa yang hatinya butuhkan. Ini. Ini semua.
Ia bangkit karena benar-benar gelisah di tempat tidur.
Keluar dari pintu, ia tersentak. Kepala Erika menyembul dari pintu kamar di sebelahnya dan mereka saling tatap sebentar—termangu lalu gadis itu menunduk malu-malu.
"Ma-maaf—aku hanya ingin memastikan ..."
"Aku baik-baik saja," Lovino menenangkan, tangannya kembali bermain dengan aneh di belakang kepala. "Se-selamat malam!" Lelaki itu segera masuk setelah tertawa janggal dan mengangguk pada Erika.
Balasan selamat malamterdengar begitu samar. Lovino menelungkupkan wajahnya di atas bantal yang lembek dan isinya bergumpal-gumpal itu.
Ia mengubur wajahnya begitu lama hingga kemudian memutuskan untuk keluar lagi. Berjalan pelan ke pintu, keluar dengan berjingkat, dan mengintip kamar sebelah yang pintunya tak ditutup.
Erika tersenyum, meski memejamkan mata. Gadis itu mungkin telah jatuh ke dalam alam bawah sadarnya, napasnya teratur dan Lovino tak pernah melihat sesuatu yang hidup semenenangkan ini.
Lovino menghirup napas dalam-dalam, lalu kembali ke kamarnya sendiri. Mengambil bantal dan selimut lusuh yang kumal.
Ia menghamparkan selimut di lantai, lalu meletakkan tubuhnya di atas sana.
Ia selalu takut kehilangan apapun setelah Kakek pergi—dan ia harus melewati malam-malam tanpa tidur yang sangat mengerikan berhari-hari setelahnya. Selama itu, yang ia punya hanya Erika dan suara-suara yang menenangkan setiap pagi.
Dan sekarang ia tak begitu takut kehilangan lagi, karena Erika telah berada terlalu dalam di hati dan hidupnya—sehingga tak ada lagi jalan bagi wanita itu pergi dari dirinya.
"Aku akan mengantarmu ke tempatmu bekerja."
Erika menjumpai Lovino yang sedang menoleh dari tempat cuci piring. Lengan bajunya digulung dan rambut basahnya diarahkan ke belakang dengan sisiran ala kadarnya. Gadis itu refleks menunduk untuk alasan yang membuatnya bingung.
Bangkitlah hal yang membuat Erika benar-benar tidak berani memandang Lovino lebih lama—tetapi ia tetap membiarkan Lovino mengantarkannya.
Perjalanan menuju klinik dekat pasar itu benar-benar sunyi, dan desa memang belum bisa benar-benar hidup kembali setelah kekacauan besar. Erika menelan ludah berkali-kali, mencoba membangkitkan ide yang bisa dibicarakan, tetapi berkali-kali pulalah ia gagal.
"Kuharap aku bisa segera menemukan pekerjaan baru," Lovino memulai, sedikit mengejutkan Erika.
"Ah, tidak usah terlalu memikirkannya ..." Erika melirik, sedikit bersyukur ia bisa melakukannya cukup lama. "... Aku bisa menanggung semuanya hingga saat ini ... lagipula, Lovino masih sangat lelah, 'kan?"
Lovino tertawa kecil, "Yang kulakukan hanya tidur di sepanjang perjalanan, Erika. Dan hidupku selama beberapa hari di Taiwan itu benar-benar mengistirahatkan kepala dan tubuhku." Ia masih tersenyum lalu menggaruk pipinya.
Erika kembali menunduk.
Yang Lovino sadari beberapa hari berikutnya adalah—Erika yang tidak bisa memandang wajahnya secara langsung setiap kali mereka bicara.
Ia mencoba untuk bicara lebih dekat, tetapi Erika seringkali mundur atau hanya tersenyum kecil tanpa mau mengangkat kepalanya.
Lovino tak begitu bisa meraba letak kesalahannya, tetapi ia ingin mencoba satu trik.
Ia menunggui Erika di depan pintu tempat perempuan itu bekerja dan menyambutnya dengan tawaran, "Mau ikut ke pesisir setelah ini?" pertanyaannya sangat pelan, "Aku ... tiba-tiba rindu pantai dan laut ... untuk kali pertama setelah pulang."
Erika menatapnya hati-hati.
"E-eh, apa kau sudah makan? Kalau belum, nanti kutemani dulu—atau kita pulang? Ada sisa sedikit ikan untukmu—"
Erika mencoba tersenyum. "Sudah. Tenang saja. Ayo ..."
Lovino cuma nyengir dan Erika menanggapinya dengan buang muka ragu-ragu. Lantas, perjalanan itu berlangsung seperti yang Lovino perkirakan, dengan Erika yang diam saja dan ia harus menemukan cara agar suasana tetap hidup. Jika seseorang menanyakannya tentang kekhawatirannya soal perubahan, maka ia akan menjawabnya dengan banyak hal—tetapi ia belum takut akan itu semua. Ia berpikir ia masih bisa melakukan resolusi.
Pantai itu lebih lengang dari yang Lovino kira. Tak banyak kapal yang berlabuh, banyak orang masih ketakutan. Alasan mengapa harga ikan masih sangat mahal dan mereka harus menghemat dengan membeli ikan yang kecil-kecil dan hanya satu minggu maksimal dua kali saja.
Lovino menemukan beberapa perubahan—tempat-tempat berlabuh yang sudah semakin rapi. Namun tak sedikit kapal yang dibiarkan begitu saja, sudah rapuh dan bendera-benderanya sobek.
Tidak kelihatan matahari terbit dari sana, dan ini bukan tempat romantis. Lovino hanya berdiri menatap air dan gelombangnya. Sejenak ia lupa apa itu rasanya berlayar, terlalu enak tidur di kamar membuat semuanya jadi samar. Lupa bahwa ia menghabiskan begitu banyak waktu bergulat dengan gejala klaustrofobia dan dunia hitam-putih di dalam kegelapan lautan. Namun saat melihat air yang luas, dunia yang sunyi, ia sadar ia telah menjadi anak laut. Hidupnya dibentuk oleh kebersamaan dengan Feli dan Kakek, ditampar oleh kesendirian di laut lepas, diacak-acak oleh peperangan yang berkali-kali membuatnya oleng, dan kembali dibentuk oleh lautan pula—segala ketenangannya dan waktu-waktu perenungan di saat pelayaran. Tidak ada penyesalan yang tersisa; sedikit pun.
Langit menggelap, dan burung-burung pulang. Nelayan hanya ada satu-dua, hadir sekilas lantas berlalu begitu saja. Hanya ada satu yang berangkat, sepanjang pengamatannya, dan Lovino sadar ikan tak akan mudah tersedia dalam beberapa hari ke depan. Angin membawa si pelaut pergi, dan mantan pelaut yang sedang berdiri saja itu pun diterpanya dengan halus, pelan, tetapi sedikit menusuk.
Lovino mencoba mendekat dan tangannya bergerak. Dua jarinya menemukan punggung tangan Erika, lantas ia mencoba meraihnya.
Erika menariknya begitu saja. Tatapan canggung terjadi—hingga sesaat kemudian berhenti dengan berlarinya Erika.
Lovino mencoba menangkap pundaknya tetapi terlambat. Perempuan itu pergi begitu saja—tetapi keberuntungan datang pada Lovino saat Erika nyaris tertabrak seorang pria tua. Gadis itu terengah-engah dan mendapati Lovino berada di sampingnya, meminta maaf untuknya hingga pria barusan pergi.
"Sungguh-sungguh, Erika, kau kenapa?"
Erika hanya menunduk, Lovino tak tahan untuk tidak berdecak. Mengeluh diam-diam.
"Kurasa ... ada yang berubah darimu ... apa yang terjadi saat kita berpisah sehingga kau ... jadi ... begini?"
Erika menutup wajahnya lalu bergumam, sedikit gemetar suaranya, "Aku ... malu ..."
"Ma ... lu ...?" Lovino menahan diri untuk tidak terbahak, tetapi sejurus kemudian dia merasa benar-benar gelisah dan aneh. Lantas apa setelah ini? Tiba-tiba saja tidak ada yang terasa benar, dan menakutkan. Suatu hal yang menyakitkan jika Erika kemudian menarik diri dan memilih untuk tidak bersamanya, setelah segala yang terjadi—
—setelah seluruh surat itu, setelah semua kerinduan itu—
—dan Lovino meneguk ludah, tetapi masih ada sesuatu yang rasanya masih tersangkut di kerongkongannya.
"Apa itu ... artinya ...," Lovino mendapat keberanian yang entah jatuh dari arah mana, "... kau tidak ingin tinggal bersamaku lagi?"
"Tidak, bukan begitu—" Mata mereka pun bertemu.
"Aku benar-benar menyayangimu ... apakah karena tidak bisa membalasnya jadi kau merasa ... malu?" Rasa panas lantas menjalari wajah Lovino saat ia selesai berbicara—dan ia langsung membuang muka sambil menutup mulut dengan punggung tangan.
"Bukan ... bukan begitu ...," suara halus itu menyahut dengan wajah yang juga mengarah ke tempat lain. "Justru karena ... aku juga ... aku jadi ... ah, lu-lupakanlah ..."
Mereka berdua sama-sama membisu. Suasana menjadi benar-benar aneh—jika lirikan-lirikan sekilas dan sekian detik itu bisa dikatakan sebagai sesuatu yang tak jelas. Lovino sekali-dua kali membuka mulutnya tetapi ia tak bisa menyebutkan apa-apa.
Sampai akhirnya mereka saling berdamai dengan perasaan mereka sendiri, Lovino dan Erika saling menatap.
"Sebenarnya, apa yang kita tunggu ... selain menikah?"
Erika harus menelan ludah beberapa kali sebelum menyahut, "Apa aku pantas ...?" Tanpa pandangan, tanpa lirikan. Hanya ada suara malu-malu yang teredam.
"Seseorang yang bisa menanti dengan sabar dan bisa berjuang dengan caranya sendiri ... aku tidak bisa memikirkan orang yang lebih pantas lagi ..."
Senja itu, ketika langit sudah separuh tertidur, Erika menemukan alasan untuk tersenyum dengan sebenar-benarnya, dan itu adalah kali pertama Lovino melihatnya setelah pulang.
Erika berpura-pura tidur saat Lovino menengoknya. Setelah ia mendengar derit pintu dan bunyi ranjang berkarat itu berkeriut, ia menunggu sedikit lebih lama lagi.
Ia memasuki kamar Lovino, menyelinap melalui sela pintu dan bingkainya yang hanya menyisakan spasi kecil. Ia menghabiskan waktu cukup lama untuk memandang dan menimbang, sesaat ragu, sesaat yakin.
Ia menghampiri lemari rendah yang tak lagi berisi. Tidak ada apapun pula di atasnya, kecuali baju yang tergantung di atasnya. Erika mengelus pakaian itu, yang sudah lusuh dan bertambal di sisi tersembunyi di belakangnya, tak ada insignia seperti yang dipakainya di seragam yang terakhir kali Erika lihat bertahun-tahun lalu. Memento dari petualangan yang menyiksa Lovino dalam beberapa kasus, tetapi juga mendidiknya dengan benar-benar baik. Tak ada apapun. Seragam kelasi rendahan itu memang terlalu murah untuk sebuah harga nominal—tetapi ada yang lebih dari itu.
Apa yang ditunggu setelah semua itu terjadi?
Ia mempertanyakan dirinya sendiri yang entah mengapa menjadi begitu kaku jika memandang Lovino secara nyata—setelah seluruh kata-kata cinta di akhir surat itu. Seolah seluruh kata itu hanyalah fiksional dan ketika si penulis datang dengan nyata—hidup, tetap seperti biasa, dan membawa dirinya apa adanya—Erika kehilangan cara untuk berkata-kata.
Ia menarik napas. Tidak ada yang ia tunggu lagi setelah ini.
Erika menatap Lovino terakhir kali sebelum menyelinap keluar, dan ia tersenyum. Menemukan sisa masa lalumu yang terbaring di dalam masa depanmu adalah salah satu hal magis yang logis.
Lovino tak membuang banyak waktu.
Erika tak mau megnhabiskan banyak waktu lagi untuk berpikir.
Dua hari kemudian, mereka memasuki kamar yang sama.
Erika terbiasa tidur beramai-ramai, atau berdua-bertiga selama perjalanannya, tetapi saat merasakan tangan Lovino sebagai hal yang ia temukan di bawah selimut mereka, ia menariknya di saat-saat awal. Setelah melalui sekian jam pembiasaan dan beberapa hari penyesuaian—
—ia tahu ia tak melakukan sesuatu yang salah.
"Sebenarnya ... beberapa hari ini aku memikirkan sesuatu," katanya, setelah cerita tentang Erika yang baru saja menangani seorang pasien kecil yang patah kakinya selesai. Lovino tergagap sebentar, sebelu akhirnya menarik napas dan melirik untuk memastikan Erika menyimaknya. "Hidup baru ... dimulai di tempat baru ... kedengarannya sangat menyenangkan."
Erika membiarkan Lovino menunggu, hingga ternyata pemuda itu malah menyanggah dirinya sendiri, "Tapi kalau kau tidak mau—sungguh, tidak apa-apa! Aku sungguh-sungguh tidak memaksa—kalau kau tetap ingin di sini untuk mengenang kakakmu dan segala hal yang kausayangi ... aku tetap senang berada di sini ..."
Erika memandang jauh-jauh pada jalanan yang sudah remang, pada senja yang sudah hilang di depan sana. "Kalaupun pergi ... ke mana?"
Lovino menahan napas. "Dunia baru yang lebih luas ... dan barangkali akan memberikan penghidupan yang lebih baik. Amerika."
Lovino kehabisan kesabaran untuk menunggu hingga ia melupakan ide itu. Menggantinya dengan mudah; malam ini mereka akan makan apa, atau apa saja yang harus ia lakukan untuk memulai kembali hidupnya, setelah setengah bulan mengistirahatkan diri.
"Boleh."
"Ah—benarkah?"
"Aku ... mengenal seseorang yang tinggal di sana dalam perjalananku di daerah Polandia."
"Ah, Alfred—yang membebaskan aku dan yang lain waktu itu, ingat ceritaku, 'kan? Barangkali kita bisa mencari dua orang yang kita kenal itu."
"Ya. Tentu saja."
Lovino menjamah rambut Erika yang mulai memanjang kembali. Ia tak akan mengemukakan ide sedikit pun soal pemangkasan mahkota pirang itu, karena Erika terlihat lebih segar dan siap dengan hal-hal baru dengan sesuatu yang berbeda. Terlebih, ketika menyentuhnya, menyusurinya pelan-pelan sambil menatap betapa wajah itu tak memberikan kesan perubahan yang Lovino takutkan, meski ia telah mengalami malam-malam horor dan sekian jam di dalam penjara—serta menyaksikan kehidupan manusia yang mengerikan.
Tangan Lovino turun dari punggung Erika ke tangan perempuan itu, menggenggam jari-jarinya. Mereka saling menatap, mengangguk. Dan tak peduli pada jalanan yang tak punya tiang-tiang lampu ataupun kehidupan yang membunuh sunyi.
Tidak apa-apa gelap, setidaknya ketakutan mereka telah berlalu.
.
.
luigi torelli: end.
.
a/n: UGH TAMAT UGH. AAAAK. finally, after almost a year with this ... :") ditulis mulai dari aku masih jadi mahasiswa, ngelewatin masa tugas akhir, trus sekarang udah kerja aja. luigi torelli has gone through a lot with me, along with my life. fiksi terpanjang yang pernah kubuat seumur hidup.
and guys, i can't thank you all enough. semua review, fave, follow, aku nggak mungkin menyebutkan semuanya satu-satu karena ada nama-nama yang tak tercantum secara resmi di situs tetapi mendukung sepenuhnya — jadi kalian semua, semua yang melihat tulisan ini, pantas untuk ucapan terima kasih ini. i love you guys. ;_;
aku nggak tahu harus ngomong apa atas tamatnya ini, perasaanku ke lovino, erika ... karena sebenarnya terlalu banyak hal untuk diungkapkan. yasud mungkin lain kali saja (or, i'll be trashing in fb status box eheheh).
mungkin, kalo sebuah sekuel dibuat, akan terkesan akunya 'gagal move on' atau mungkin 'ngga membebaskan akhir yang diingini pembaca' atau mungkin simply 'janggal', ya, tapi ... sejujurnya, menurut kalian, perlukah? aku punya ide untuk kehidupan baru mereka di amerika dan aspek-aspek yang bisa digali (re: imigran, keadaan post-war di amerika serikat, dan perekonomian pemenang perang), tetapi aku nggak bisa memutuskan sendiri.
so, semuanya, sekali lagi; berjuta kali lagi: terima kasih. :")
