wew, sumpah entah kenapa gw cukup lega loh bisa nyelesain nih cerita * hela napas *
yah... soalnya, pas bikin nih FF udah berapa kali nih gw hapus-hapus, dan pas bikin nih FF suka tiba-tiba " kok kayaknya ceritanya kepanjangan. ", " kok gak nyambung sih ", ama... " nih horror ato komedi sih ! " -.-"
yah... pokoknya gw cukup lega lah ngerjain ini.
Yosh, waktunya ngebales review :)
To Yuiri Lockhart :
Ahhh ! gomen kalo ceritanya kurang serem... Tapi syukurlah kalau tetap suka...* sujud *. ahahahah XD, kalo yang tentang apa yang dibilang choutaro emang bener-bener terjadi ama gw. Ternyata kita sama ya... * minta tos bareng *
To Aoryuu chanZ :
wkwkwkwk ! XD
tapi tetep bacakan...
heh ? ceritanya bagus ? arigatou gozaimasu... nanti kuusahain akan lebih bagus n lebih serem lagi * jengjengjeng *
nah ! kalo ampe cerita 10 bakal ada kejutannya loch ^^
To yukimori :
wah..senangnya dibilang seram ^^.
ah, daijoubu ^^. yukimori-san udah ngasih ide hantunya udah sangat negbanu kok. arigatou ya. * meluk *
wokeee ! pokoknya nih cerita akan kulanjutkan ampe tetes jus(?) penghabisan !
To Q-ren :
Anyaa~ makasih XD
To Nymphell :
iyaa~X3. entah kenapa, gw lumayan suka kalo choutaro deket ama Atobe * dikasih deathglare ama Shishido *
Jadinya, aku masukin dia XD
Gak apakan ?
oh ya, kalo yang tentang ngasih video keorang lain ntuh. Emang ada di the ring. nonton itu, seminggu diteror trs mati, tapi kalo kita ngasih keorg lain, kita bisa selamat, tapi yang nonton yang bakal diteror.
kalo yang tentang ntuh orang yang meninggal... nanti kayaknya bakal ada kejutan deh.
nah, selamat menikmati...
Tezuka mengerutkan alisnya ketika Atobe cepat-cepat memberitahukan kalau sekarang dialah yang giliran bercerita. Entah kenapa, Tezuka sedikit penasaran dengan orang yang diberikan DVD itu oleh Atobe.
" kenapa ? " Tanyanya lagi karena penasaran.
" itu bukan urusanmu. " ujar Atobe dingin. " lagipula, kamu tidak ingin berlama-lama disinikan ? "
" Tapikan kamu bisa kasih tahu siapa yang kamu berikan DVD itu. " Ujar Tezuka ngotot sambil melipatkan kedua tangannya. Dia benar-benar ingin sekali tahu siapa ' orang beruntung ' itu.
Atobe langsung menghela napas. " ayolah… Tezuka, lagipula ini bukan urusanmukan. Memangnya kamu mau kita berlama-lama disini hanya gara-gara itu ? " ujarnya sambil mengusap pergelangan tangan seolah-olah dia kedinginan lalu mengambil jaket regulernya yang sudah tergeletak dan menyelimuti dirinya. Tezuka mengerutkan alusnya karena melihat Atobe yang sepertinya sedang kedinginan.
Bagaimana dia bisa kedinginan disini ? Padahal jelas-jelas disini sangat lembap. Saking lembap dan panasnya, Kedua buchou ini sudah melepaskan jaket regular mereka. Tapi Atobe malah mengambilnya lagi.
" Atobe… " Panggil Tezuka. Atobe hanya menjawab panggilannya dengan memandang mukanya. " Kamu… kedinginan ? "
Atobe menggeleng, Tiba-tiba dia langsung melihat sekelilingnya dengan ketakutan. Melihat sikap Atobe yang lagi-lagi menunjukkan ada yang tidak beres. Sepertinya, Tezuka harus cepat-cepat memulai ceritanya. Lagipula, dia sudah tidak tahan lama-lama disini dan melihat kondisi Atobe yang mulai kelihatan aneh… memaksanyapun juga kelihatannya tidak berguna dan buang-buang waktu.
" baiklah… ini cerita ketika aku terpaksa pulang malam..."
Cerita 6 : pagar merah ?
©Prince of Tennis; Takeshi Konomi
" maaf ya, buchou.. buchou jadi pulang malam.. " ujar Ryoma tidak enak. Tezuka yang mendengar permintaan maaf dari kohainya hanya bisa menghela napas.
" daijoubu " Tezuka langsung berdiri setelah memakai sepatu dan jaketnya. " yang penting kamu bisa mengerti apa yang telah kuajarkan. " Ryoma hanya mengangguk, entahlah dia mengerti atau tidak. Yang penting sang buchou ini bisa cepat sampai dirumah.
" ng.. buchou. Ini sudah jam 11 malam. Apa buchou tidak menginap saja disini ? besokkan hari minggu dan juga… jam segini pasti jalanan sudah sepi. " Ujar Ryoma yang sadar kalau jam didindingnya menunjukkan jam 11 malam tepat.
Tezuka menolak dengan halus. " tidak usah.. lagipula, besok aku ada tugas yang mesti kukerjakan. " Ryoma hanya bisa diam menatap buchounya, mau bersikeras Tezuka untuk menginap-pun juga percuma kalau mengingat buchounya ini terkenal keras kepala kalau sudah menyangkut tugas.
Ryoma menghela napas. " baiklah… kalau begitu… Tapi hati-hati ya buchou. " Tezuka menganguk mengerti, baru saja dia membuka pintunya, tiba-tiba Ryoma memegang tangan buchounya. " oh ya, buchou… kalau buchou sampai lewat rumah no.44 dan pagarnya berwarna merah. Lewati saja terus jangan melihat rumah itu dan…." ryoma menelan ludah. " kalau ada suara yang terdengar lirih jangan melihat kebelakang. "
Tezuka mengerutkan alisnya. " kenapa ? "
" pokoknya jangan ! " bentak Ryoma, Tezuka langsung tersentak mendengar bentakan Ryoma. Kalau Ryoma sampai membentaknya berarti dia tidak bercanda, Tapi… tetap saja itu membuatnya penasaran.
" kenapa ? " Tanyanya lagi. Ryoma berdecak kesal.
" Ceritanya panjang. Lagipula, buchou kelihatannya tidak akan percaya. " lagi-lagi, Tezuka mengerutkan alisnya karena tidak tahu apa yang dimaksud kohainya. Tidak akan percaya ? maksudnya ? Apa jangan-jangan sejarah rumah no.44 itu berhubungan dengan makhlus halus ? Lagipula, kalau dilihat dari no. rumah itu sepertinya memang terjadi sesuatu yang…. Mengerikan ?
Belum sempat, Tezuka membuka mulutnya. Tiba-tiba Ryoma melihat jam didindingnya. " ah ! Sudah jam 11 malam lewat ! lebih baik buchou menginap disini saja ! Kalau sudah jam segini, rumah itu makin berbahaya! " Paksa Ryoma sambil memegang tangan Tezuka.
Tezuka menghela napas kesal. " dengar. Aku senang kamu peduli sampai-sampai memaksaku untuk menginap dirumahmu. Tapi, aku punya tugas yang mesti kukerjakan. Lagipula, tenang saja aku tidak akan memandang rumah itu. Ja… " Tezuka melepas genggaman tangan Ryoma dan membuka pintu. " konbawa… " salamnya sambil menutup pintu.
Ryoma yang melihat buchounya menutup pintu depan rumahnya dan pergi hanya bisa diam. " semoga saja dia tidak bertemu dengan wanita itu… " ujarnya khawatir.
Jam 23.15
" dingin…. " erang Tezuka sambil merapatkan jaketnya. Untunglah dia membawa jaket mengingat kalau bulan ini sedang musim dingin. " Tidak heran kalau jalanan sudah sepi.. sudah jam 11 sih… " Tiba-tiba, dia langsung teringat dengan apa yang dikatakan Ryoma.
' kalau buchou sampai lewat rumah no.44 dan pagarnya berwarna merah. Lewati saja terus jangan melihat rumah itu dan kalau ada suara yang terdengar lirih jangan melihat kebelakang. '
" memangnya ada apa dengan rumah itu ? " tanya Tezuka pada dirinya sendiri. " kalaupun ada sesuatu dengan rumah itu.. pastinya Echizen akan menceritakannya… " Tidak mau pusing sendiri, Tezuka hanya berjalan santai melewati rumah dan jalan yang sudah gelap.
Tidak terasa udara malam semakin menusuk, Tezuka makin mengeratkan jaketnya dan memasukkan tangannya kedalam kantong celana jinsnya agar tangannya tetap hangat. " sampai dirumah… minum teh dulu deh. " Ujarnya sambil berjalan melewati jalan yang sudah sepi dan yah… bisa dibilang gelap karena lampu penerangannya Cuma sedikit. Sampai dia melewati sebuah rumah….
" Aku.. kesepian…. "
Tezuka langsung menghentikan langkahnya, dia mengerutkan alisnya karena tiba-tiba saja ada suara yang terdengar lirih. " tunggu… tadi sepertinya ada suara… " melupakan apa yang dibilangi Ryoma, Tezuka langsung mencari asal suara itu dengan melihat kebelakang.
Dibelakangnya terlihat seorang wanita yang terlihat remaja dan memakai gaun biru ber-rok pendek. Wanita itu menutup mukanya dengan kedua tangannya, mukanya makin tidak terlihat karena rambut pirangnya yang panjang menutup mukannya. Tezuka heran melihat wanita itu. ' kenapa masih ada orang jam segini ? ' pikirnya bingung.
Melihat wanita itu menunduk didepan sebuah rumah. Tezuka berpikir jangan-jangan wanita itu diusir dari rumahnya ? ingin rasa tahunya terjawab, dengan hati-hati dia mendekati wanita itu.
" gomennasai… kenapa menangis ? " Tanya Tezuka setelah dia sudah berada didepan wanita itu. " kamu diusir… ? " Wanita itu menggeleng menandakan tidak.
" lalu kenapa… ? "
" AKHIRNYA KETEMU ! " Teriak wanita itu tiba-tiba sambil menunjuk kearah Tezuka, orang yang diteriakinya malah melonjak kebelakang. " Kamu jadi pasangan dansaku ! Ayo ! " Belum sempat Tezuka mengelak, wanita itu sudah memeluk dan menarik tangannya dengan manja, tanpa sadar sang buchou ditarik masuk kedalam rumah berpagar merah.
Didalam rumah.
Tezuka hanya bengong melihat tangannya ditarik plus dipeluk oleh wanita yang benar-benar tidak kenal. Ingin ngomong-pun tidak bisa, entah kenapa mulutnya terasa dikunci. Bahkan sampai didalam rumah itu… Tezuka masih tidak bisa bicara, sampai wanita itu angkat bicara.
" Kamu haus ya ? kubawakan minum untukmu ya ! Tunggu sebentar ! " Ujar wanita itu manja sambil melepas pelukannya dan berlari kearah tempat minum. Tezuka menghela napas lega. Capek karena ditarik paksa oleh wanita aneh tadi, sang buchou langsung mencari tempat duduk.
" apa-apaan wanita tadi… " erang Tezuka kesal, sambil membuka resleting jaketnya. " tapi… aku baru tahu kalau ada pesta disini… " Tezuka melihat-lihat sekelilingnya, dia baru sadar kalau daritadi orang-orang yang berada didalam pesta itu memakai kimono dan juga gaun. Mungkin.. ini memang terlihat seperti pesta biasa.. Tapi, ada satu hal yang membuatnya beda.
Hawa…. Entah kenapa, hawa mereka sepertinya berbeda.. Yah, memang mereka melakukan pesta seperti biasa, bercanda, dansa, makan-minum, mengobrol. Tapi hawanya itu… seperti…
Baru saja Tezuka memikirkan tentang ' hawa ', wanita bergaun biru itu datang dengan membawa 2 gelas plastic dan duduk disebelahnya " gomen aku telat ! " ujarnya ceria dan memberi salah satu gelas yang dia bawa. Tezuka ingin mengatakan ' daijoubu ' tapi masalahnya, mulutnya lagi-lagi tidak bisa diajak kerja sama untuk bicara. Jadi dia hanya bisa mengangguk dengan senyum. Baru saja, Tezuka ingin meminum minumannya, Buchou ini langsung minumannya berisi darah.
" jaa… kenapa kamu tidak minum ? " Tanya wanita itu. Tezuka memekik kaget melihat wanita itu bisa meminum minumannya sampai habis. Padahal jelas-jelas kalau dilihat isinya juga darah. " mau kuminumkan ? " Tezuka menggeleng tidak mau, tapi wanita itu sudah mengambil gelasnya dan memaksa Tezuka untuk meminumnya.
Glek ! Mata Tezuka langsung membesar setelah darah yang ada didalam gelasnya masuk ketenggorokannya. Ingin mendorong wanita itu, tapi dia benar-benar tidak bisa menggerakkan badannya, jangankan badan. Satu jari pun sama sekali tidak bisa digerakkan. Tezuka hanya pasrah sampai wanita itu melepas pegangan tangannya dan aliran darah yang mengalir ditenggorokannya berhenti.
" enak tidak ? " Tanya wanita itu yang lagi-lagi dengan wajah ceria. Tezuka langsung berusaha mengeluarkan darah yang masih bertahan ditenggorokannya dengan memuntahkannya.
' wanita ini gila ! ' Teriak Tezuka dalam hati sambil memegang mulutnya. ' kenapa dia langsung memasukkan darah itu kemulutku ! Tunggu… Apa para tamu disini tidak sadar kalau apa yang mereka minum itu darah ? ' Tezuka benar-benar kaget melihat tamu lain dengan santainya meminum minumannya. Padahal jelas-jelas mereka juga sama-sama meminum darah.
Ingin rasanya lari, tapi kakinya terasa tertahan dan badannya seolah-olah diikat ditempat duduknya. Tezuka masih ketakutan sambil memandang wanita yang duduk disebelahnya sambil memeluk tangannya.
" kamu tahu ? " wanita itu mulai bicara lagi sambil memeluk tangannya plus menyandarkan kepalanya dipundak Tezuka dengan manja. " sebenarnya pesta ini aku yang adakan loh. " Tezuka langsung kaget mendengar kalau wanita itu yang mengadakan pesta ini. Terus kalau ini adalah pestanya untuk apa dia meringkuk sendirian diluar kalau ini adalah pestanya ? Tunggu dulu… kalau tidak salah, pagar rumah ini berwarna…
Baru saja Tezuka berpikir tentang pagar rumah ini. Tiba-tiba ada seorang wanita yang sama-sama memakai gaun tapi kali ini dengan warna pink dan lebih terlihat mewah datang dengan muka angkuh dan sombong. Wanita yang daritadi memeluk tangan tezuka langsung mempererat pelukannya dan raut mukanya berubah seolah-olah dia benci dengan wanita sombong ini.
" akhirnya, kamu bisa membuat pesta mewah juga pelacur. " Tezuka kaget mendengar kata pelacur yang ditujukan kearah wanita ' aneh ' yang masih memeluk tangan Tezuka. " oh ya, omong-omong siapa laki-laki tampan ini ? " Tanyanya angkuh. " pacarmu ? kamu bertemu dengannya ditempat pelacuran mana ? oh ya, tampan. Mau coba tidur denganku ?"
Wanita sombong itu langsung memegang pipi Tezuka bermaksud untuk menciumnya. Oke ! Ini semakin gila ! Tadi wanita gila ini memaksanya untuk meminum darah ! dan sekarang ada wanita gila lain yang memanggil wanita itu ' pelacur ' malahan dia mau mengajaknya tidur bersama ! Berusaha untuk mendorong wanita sombong itu. Tiba-tiba, wanita yang dari tadi memeluknya makin mengeratkan pelukannya.
" MENJAUH DARINYA ! DIA MILIKKU ! " Teriak wanita bergaun biru itu tiba-tiba. Tezuka dan wanita sombong itu langsung kaget dan dua-duanya memandang wanita itu dengan tatapan kaget. Kaget karena wanita yang memeluk tangan Tezuka berteriak, wanita sombong itu berdecak kesal lalu pergi meninggalkan Tezuka dengan wanita itu.
Setelah wanita sombong itu pergi. Tezuka langsung memalingkan wajah kearah wanita yang masih memeluknya. Wajahnya yang awalnya marah langsung mereda setelah wanita itu pergi. " aku muak dengan wanita itu… " ujarnya lirih sambil menyandarkan kepalanya lagi dipundak Tezuka. Tezuka hanya bisa menghela napas ketika wanita itu menyandarkan kepalanya dan mulai curhat padanya.
" aku tahu kalau marie-chan adalah wanita yang cukup populer, kaya pula. " Tezuka mengerutkan alisnya, tunggu. Berarti nama wanita sombong tadi marie ? " tapi aku tidak suka dengan sikap sombongnya. Dia selalu menganggap dirinya paling cantik dan dia juga yang membuatku tidak punya teman. " Mendengar ceritanya, Tezuka jadi merasa iba dengan wanita yang menyandarkan kepalanya dipundaknya.
" kamu tadi dengarkan ucapannya padaku ? " Tezuka mengangguk. " Aku tidak tahu kenapa dia suka memanggilku pelacur. Aku…. Aku… " perlahan-lahan wanita itu mulai mengeluarkan air mata, kaget karena tiba-tiba dia menangis. Dengan cekatan, sang buchou ini mengeluarkan saputangan dari celana jinsnya dan memberikannya pada wanita itu.
" arigatou… " ujarnya senang sambil mengusapkan airmatanya dengan saputangan pemberian Tezuka. " aku tidak tahu kenapa dia suka memanggilku seperti itu… " wanita itu masih melanjutkan curhatannnya yang sempat terputus. " kata teman sekelasku… dia suka memanggilku karena bisa-bisanya aku mempunyai harta dan rumah sebagus ini. Padahal aku ini anak yatim piatu… Tapi.. Tapi… "
Tezuka makin merasa kasihan padanya, dia ingin mengatakan hal yang dapat menghibur wanita itu. Tapi karena mulutnya masih terasa dikunci jadi dia hanya bisa menghibur dengan menepuk pundaknya. Sadar kalau Tezuka menghiburnya, Wanita itu tersenyum senang kearahnya. " asal kamu tahu saja, aku mendapat rumah sebagus ini karena ini memang warisan dari orang tuaku. "
" dia curiga kalau aku mendapatkan rumah sebagus ini. Dia mengira kalau aku berkerja menjadi wanita penghibur mengingat aku menjadi mengalahkannya dalam ratu disekolah. " Tezuka makin mengerti kenapa wanita sombong itu mengejeknya. " bahkan gara-gara dia, pacarku memutuskan aku dan Teman-temanku menjauhiku karena mengira aku benar-benar wanita pelacur, akukan…. Akukan… kesepian…. " wanita itu makin mengeratkan pelukan pada tangan Tezuka.
" gomen ya, aku tanpa sopan memaksamu menjadi pasanganku. Ano…. Apa kamu mau jadi temanku… ? " Tezuka mengangguk, Wanita itu langsung tersenyum senang dan makin mengeratkan pelukannya. Seolah-olah, dia benar-benar tidak ingin kehilangan Tezuka disisinya.
" selama aku sendirian… aku selalu berpikir, pasti dialam sana ayah dan ibu sedang bersenang-senang.. aku jadi ingin menyusul mereka… " entah kenapa, Tezuka mulai punya perasaan tidak enak. " aku ingin menyusul mereka… Tapi aku tidak mau sendirian kesana… " Tunggu ! maksudnya ? Tezuka makin tidak mengerti apa yang dikatakan wanita itu, dan juga kenapa perasaannya makin tidak enak ?
" jadi, aku ingin mengajak mereka semua untuk menemaniku menemui ayah dan ibu. Pasti akan menyenangkan apalagi, warna ruangan ini akan serasi dengan pagar merah ku… "
Mendengar kata 'pagar merah' muka Tezuka langsung berubah pucat, Dia langsung teringat apa yang dikatakan Ryoma. Perasaan Tezuka langsung ketakutan dan benar-benar panik. Ingin rasanya lari, tapi kakinya benar-benar terkunci apalagi wanita itu masih memeluk tangan Tezuka dengan erat.
" ne… " ujar wanita itu lagi, kali ini Tezuka tidak berani menatap mukanya. " show time…. "
Disaat bersamaan, terdengar suara ledakan dan suara teriakan. Tezuka langsung terbelak melihat pemandangan yang mengerikan didepan matanya. Satu-persatu tamu yang ada didalam pesta itu meledak, badan tamu itu hancur lebur sampai-sampai organ tubuh mereka berpisah, bahkan ada yang muntah darah sambil memegangi lehernya, begitu juga dengan wanita sombong itu. Dia ikut meledak dengan tamu-tamu lainnya.
Perlahan-lahan, ruangan itu mulai bemandikan darah dan teriakan para tamu.
Melihat pemandangan mengerikan didepan matanya, Tezuka hanya bisa lemas ditempat duduknya. Ingin bergerak, tapi rasanya masih seperti terkunci. Dalam beberapa menit, pemandangan peledakan orang dan muntahan darah makin menjadi-jadi. Tidak kuat dengan pemandangan berdarah didepannya, cepat-cepat Tezuka melepaskan tangannya yang masih dipeluk wanita 'aneh' itu dan memuntahkan semua cairan menjijikkan yang sudah menggumpal dilehernya.
Puas memuntahkan semuanya, tiba-tiba wanita bergaun biru itu memegang wajahnya dan mengangkatnya supaya mata mereka saling bertemu. Tezuka langsung ketakutan karena mata wanita itu bukan lagi menunjukkan kepolosannya, tapi malah menunjukkan dia sedang lapar akan 'sesuatu'.
" kamu sudah berjanjikan… " ujar wanita itu dengan lirih, Tezuka makin ketakutan mendengarnya. " katanya kamu mau jadi temanku… " mulut wanita itu mulai menyeringai licik dan terlihat seorang pembunuh kejam. Tezuka makin ketakutan melihatnya, dia ingin menutup matanya agar tidak bertemu dengan mata wanita itu, tapi percuma !
" KATANYA KAMU MAU MENEMANIKUKAN ! KYAHAHAHAHAHAHA ! "
" setelah wanita itu tertawa… kesadaranku langsung menghilang. " ujar Tezuka dengan serius, sedangkan Atobe yang asyik mendengar ceritanya menelan ludah. " tiba-tiba, ketika sadar aku sudah berada didepan rumah itu dan orang-orang mengelilingiku dengan keheranan, begitu juga dengan Echizen. "
Atobe mengerutkan alisnya " ada Echizen ? " Tezuka menggangguk.
" dan ternyata yang mereka herankan adalah… kenapa aku tidur didepan rumah itu dengan darah yang berada didua pipiku dan dimulutku. Seolah-olah, aku habis muntah darah. Kaget karena aku melihat darah diwajahku… cepat-cepat aku melihat rumah itu… "
Tezuka terdiam sebentar sambil memegang tekuk lehernya. " dan ternyata memang benar.. rumah itu sudah kosong melompong padahal seingatku tadi malam rumah itu masih terlihat bagus. Tapi yang kukagetkan… no rumah itu… 44.. "
" tunggu dulu… bukannya no.44 itu… angka kematian… " ujar Atobe sedikit bergidik. " dan oh ya, apa yang dikatakan Echizen setelah tahu kamu tertidur didepan rumah hantu itu ? apa dia sudah bilang sejarah tentang rumah itu ? "
Lagi-lagi, Tezuka terdiam sebentar dan melihat sekelilingnya dengan sedikit ngeri. " katanya dulu memang ada remaja perempuan yang sudah yatim piatu tinggal disitu. Bisa dibilang dia frustasi dengan teman sekelasnya dan dia bermaksud untuk bunuh diri sambil membunuh teman-temannya dan orang-orang yang dia undang kepesta berdarahnya. Dan rencananya berhasil sampai dia ikut meledak juga. "
Atobe menelan ludah mendengarnya. " setelah perencanaan bunuh diri itu, rumah itu dijual dan mendapat pembeli tapi… "
" tapi ? " Tanya Atobe penasaran.
" pembelinya langsung membatalkan pembelian karena para pembelinya suka melihat bayangan-bayangan merah yang bergerak-gerak dan sepertinya minta tolong. Dan dari itu, rumah itu jadi kosong dan tidak ada yang membelinya walaupun harganya sudah diturunkan dari harga maksimal. " Setelah Tezuka menjelaskan, cepat-cepat dia menjetikkan jarinya " cerita 6 selesai. "
Atobe yang mendengarnya jadi tidak bisa bilang apa-apa, melihat manusia meledak… tubuh yang hancur lebur… lautan darah… mungkin, kalau dia mengalami hal yang sama mungkin dia juga akan muntah-muntah dan pingsan seperti Tezuka. Tiba-tiba Atobe sadar kalau gilirannya yang bercerita sekarang. " berarti sekarang giliranku ? "
Tezuka mengangguk sambil mengambil jaketnya yang tergeletak dan memakainya seperti Atobe. " Atobe… apa kamu merasa makin kedinginan ? "
TBC
Yosh ! Tinggal 4 cerita lagi ! Berjuang !
nah, reviewnya please...
