Monkey Loses Bananas HONEY chapter 1
Masashi Kishimoto NARUTO
"Pagi, Teme!" suara layaknya toa milik anak kepsek Konoha High School menyapa si rambut pantat ayam di pagi nan cerah ini. Secara kebetulan, mereka bertemu di koridor yang terlihat sudah mulai sibuk dengan segala aktifitas.
"Ck, pagi juga Dobe," balas Sasuke dengan malas.
"Teme, bagaimana pertandingan kemarin? Apa kau sudah bisa menang dari Si Hyuuga itu?!" Naruto yang biasa dipanggil Dobe oleh bungsu Uchiha itu langsung ke pokok permasalahan. Pemuda berambut pirang ini tahu apa yang paling jadi obsesi Sasuke saat ini, mengalahkan anak baru itu yang bernama Hyuuga Neji
"Sudahlah, Dobe. Aku tahu kau sudah bisa menebak hasilnya…"
"Hm… kalah lagi, ya?!"
Sasuke hanya diam tanpa kata.
Kedatangan Neji di tahun ajaran baru benar-benar dapat menggantikan posisi Sasuke yang bisa dibilang jadi pangeran di sekolahnya itu. Sasuke sendiri tak ambil pusing mengenai fansnya yang berpindah haluan menjadi fans Neji. Hanya saja entah kenapa orang baru itu sanggup mengalahkannya di Kendo, olahraga yang ia latih mati-matian sejak SMP. Kini nilai tertinggi di tiap pelajaran pun Neji dapat menyainginya. Dan alasan Sasuke membencinya adalah… pemuda bermata lavender yang ternyata sepupu Hinata itu telah menyita banyak waktunya hanya untuk memikirkan kelakuan mesum Neji padanya.
"Pagi, Sasu-koi!!! Hari ini kamu tetap manis ya…" sebuah suara yang tak diharapkan Sasuke menginterupsi perjalanan pasangan Teme-Dobe itu menuju kelas. Siapa lagi kalau bukan makhluk-aneh-tak-berpupil-Neji. Tampaknya dia baru saja selesai latihan pagi. Ingin rasanya Sasuke menonjok pemuda aneh bertampang mesum itu. Aura hitam dengan nafsu membunuh yang intens menyebar di sekitar Uchiha bungsu itu.
"Wah… Neji. Kau hebat! Pagi-pagi begini sudah membuat Teme mengeluarkan tampang seramnya…" Naruto hanya bisa sweatdropped liat sahabatnya.
"Sasu-koi masih marah ya atas hasil pertandingan kemarin? Padahal kalau kemarin Sasu-koi bilang ingin main di turnamen seminggu lagi, aku juga bisa mengalah kok. Hanya demi Sasu-koi seorang lho… karena aku yakin, mereka tak mungkin mengalahkanmu," Neji memasang tampang manis demi gombalan pada calon uke tersayangnya itu.
"Aku nggak sudi menang dari hasil mengalah!!! Dan… aku tak suka diremehkan!!!" Sasuke benar-benar mengeluarkan amarahnya dan melempar Neji menggunakan apapun yang bisa ia jangkau. Alhasil iPod merk Apple berwarna orange milik Naruto yang jadi korban tak terselamatkan atas tindakan brutal Sasuke. Naruto shock berat. Neji meringis kesakitan karena lemparan Sasuke tepat mengenai jidatnya. Tanpa peduli ekspresi dari masing-masing orang yang telah mengganggu pagi indahnya, Sasuke meninggalkan mereka masih dengan perasaan dongkol.
Jam pelajaran telah dimulai. Semua sudah siap di tempat duduk masing-masing, kecuali… Neji. Sejak insiden di koridor tadi dia tak terlihat memasuki kelas sekalipun. Sasuke merasa bersalah padanya karena bersikap terlalu kasar. Padahal dia sendiri yang pengecut. Tak mau mengakui kekalahannya. Raut kecemasan tampak diwajah pucat itu.
'Apa lemparanku terlalu keras, ya…? Eh, barusan aku ngapain? Untuk apa mengkhawatirkannya? Lagipula dia ini aneh sekali. Bukannya dia yang paling patuh pada peraturan?! Kenapa sekarang dia nggak masuk…?' pikiran Sasuke kini dipenuhi oleh Neji dan Neji. Jadi stress sendiri memikirkan orang yang belum tentu memikirkan kita. Saking pusingnya dia mengacak-acak rambutnya sendiri. Naruto teman sebangkunya terlalu lemot untuk sadar akan kelakuan orang disampingnya.
"Teme kalau kau mengkhawatirkannya kenapa tak kau cari tau saja. Kau masih punya banyak waktu untuk menemukannya. Kau tau sendiri kan, Kakashi-sensei selalu datang 7 menit sebelum pelajaran berganti," Naruto memberi saran. Sementara Sasuke? Hanya memandang pemuda bermata biru itu penuh tanya.
"Hehehe… aku tau semuanya lho, Teme…" Naruto tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang kemilau. Merasa mendapat dukungan, Sasuke pun beranjak dari kelas yang penuh dengan bocah autis dan idiot itu. Masih dengan gaya cueknya yang tak mempedulikan tatapan heran dari seluruh penghuni kelas. Sepanjang koridor yang terlihat lengang, Sasuke berlari. Pasrah kemana kakinya beranjak.
Di ujung koridor belok kanan lalu kemudian menuruni tangga. Sebentar lagi dia akan sampai ke sebuah ruang kecil bertuliskan UKS di pintu tersebut. Pemuda stoic itu membuka pintu dengan kasar. Terpaksa seorang penghuni UKS berambut pink berdahi lebar mengalihkan perhatiannya dari tugas sehari-harinya.
"Sasuke-kun… ada perlu apa? Bukannya bel masuk sudah berbunyi?? " tanya Sakura, si penjaga UKS dengan nada heran.
"Hh…Apa Neji kesini?" tanya Sasuke ngos-ngosan (lagi-lagi) menghiraukan pertanyaan terakhir dari kekasih pemuda maniak hijau.
"Tidak. Memang Neji-kun kenapa?"
"Anoo… itu…" Sasuke menggaruk rambut belakangnya yang tidak gatal itu sembari menyembunyikan malunya, "hanya kecelakaan kecil kok."
Sakura hanya ber-oh ria sebagai respon dari pernyataan Sasuke. Sasuke hendak melangkah pergi meninggalkan UKS yang sepi itu sebelum namun dicegah oleh panggilan Sakura kepadanya.
"Mungkin lebih baik Sasuke-kun bawa kotak P3K ini, alih-alih Neji terluka," Sakura menyodorkan kotak mini berwarna putih dengan tanda plus merah besar dan tulisan P3K tertera diatasnya. Cukup lama Sasuke memandangi kotak putih itu. Menimbang-nimbang antara menerimanya atau ia tolak.
"Kau punya plester? Ku rasa lukanya tak terlalu parah, di plester saja cukup," Sasuke memutuskan.
"Ada," Sakura membuka kotak P3K ditangannya dan menyodorkan deretan benda coklat mungil,"ini…"
"Hn. Terima kasih Sakura," Sasuke menerimanya dan langsung melesat pergi. Kembali. Sasuke bingung kemana lagi dia harus mencari pemuda-yang-baginya-mesum-bermata-lavender-itu.
Sasuke kembali menjelajah gedung SMAnya. Mencoba mencari di setiap sudut sekolah yang sanggup menyembunyikan badan atletis Neji. Iseng Sasuke berlari ke atap sekolah, namun hasilnya tetap saja nihil. Di kamar mandi pun tak ia temui sosok yang sudah mengganggu tidur malamnya itu. Di dorong rasa lelah yang amat sangat, Sasuke memutuskan untuk beristirahat di kantin. Di pesannya jus tomat favoritnya sebagai penghilang dahaga.
Maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. Begitulah perumpamaan yang berlaku saat ini. Ketika tangan Sasuke hendak meraih gelas yang telas disediakan Ibu Painem, sebuah tangan pucat lain bergerak menyambar gelas tersebut dengan kecepatan 69 km/jam. Ok ngawur dan tak mungkin. Pokoknya tangan itu lebih cepat dari Sasuke. Menyebabkan tanda plus urat kemarahan muncul di dahi mulus Sasuke.
Tanda itu nambah lagi ketika Sasuke memalingkan muka hanya untuk mengetahui si-tersangka-perebut-jus-tomat-Sasuke yang dengan cueknya menenggak habis tanpa sisa.
"Che! Kurang ajar," begitulah bunyi umpatan dalam hati Sasuke yang sudah di loudspeaker.
"Ah, segar!! Terima kasih, ya Bi… bayarannya serahkan dia saja," ucap si pelaku menunjuk orang disampingnya yang tampangnya sudah kusut ibarat kulit nenek yang keriput dan belum disetrika. Si empunya kantin hanya tersenyum kecut.
Habis sudah kesabaran Sasuke. Yang awalnya niat baikan kini malah tuh cowok nambah masalah saja.
"Hyuuga kurang ajar!! Akan ku bunuh kau bila bertemu lagi!!" Sasuke berteriak menyerukan sumpah serapahnya. Neji, si tersangka hanya tersenyum jahil mendengar calon ukenya itu di luar kendali.
"Den, Sasu… jadi nggak pesen jus tomatnya? Tapi jangan lupa bayar yang tadi sekalian ya…" Bu Painem menginterupsi kegiatan mesra-mesraan mereka.
"Jadi dong, Bi… Bibi ini gimana sih? Kan yang minum dia kenapa aku yang harus bayar?" pertama kali dalam sejarah, Sasuke nyolot. Meskipun cara bicara si ningrat Uchiha begitu, tapi tetap saja dia membayar gelasnya yang pertama. Neji yang masih saja berdiri di depan Sasuke memandanginya penuh makna. Ugh, Sasu-koi makin manis aja waktu minum jus tomat, pikirnya.
"Apaan liat-liat?" tanya Sasuke sinis setelah menyadari pendangan mesum Neji. Habis sudah gelas kedua jus tomat itu. Melihat lawan bicaranya tak mempan dengan tatapan Sasuke, dia pun menyerah. Kasihan juga, bekas lebam dijidatnya belum hilang.
"Tadi aku mencarimu ke UKS, kau tidak ada. Aku hanya ketemu Sakura. Dia menitipkan ini padaku…" Sasuke menyodorkan sederetan benda mungil coklat kepada Neji yang bengong melihat apa yang di sodorkan Sasuke. Dalam hati agak shock juga mendengar penjelasan Sasuke yang tanpa diketahuinya terselip sedikit kebohongan.
"Sasu-koi…mengkhawatirkanku?!" Neji tak sanggup lagi menyembunyikan kegembiraannya. Ketika Sasuke merasakan pertanda buruk bahwa Neji akan memeluknya bukan mengambil plester tersebut, dengan sengaja ia mundur dan mengagalkan rencana Neji. Duo sejoli ini sudah tak peduli lagi pada ibu penjaga kantin yang bagai sinetron remaja.
"Aku kesini hanya untuk menyampaikan itu," Sasuke meletakkan plester di tempat paling dekat yang dapat ia jangkau. Langkah Sasuke yang hendak meninggalkan kantin tercegat oleh tangan Neji yang menarik pergelangan pemuda berambut gelap. Sasuke memutar tubuhnya hingga mereka berhadapan lagi.
"Mau apa lagi?"
"Aku mau kau mempertanggungjawabkan perbuatanmu tadi pagi…" Neji berkata dengan nada serius.
"Aku kan sudah memberikan plester itu untuk mengobatimu…" Uchiha mencoba protes.
"Itu… titipan Sakura bukan?!" pernyataan pemuda berambut coklat ini membuat Sasuke bungkam seketika merutuki kebodohannya akan kebohongan yang ia ucapkan.
Sejenak Sasuke diam. Berpikir untuk mengalah. Percuma melawan orang egois macam Hyuuga satu ini. Sebelum bicara Sasuke menghebuskan nafas ringan.
"Lalu kau mau aku melakukan apa?" pertanyaan Sasuke membuat sebuah seringai lebar hinggap di wajah pemuda tampan itu.
"Aku mau kau menciumku…" mendengar hal itu, wajah Sasuke memucat seketika. Dan tanpa ia sadari semburat merah merayap di kedua pipinya. Neji akhirnya tertawa tak tahan melihat wajah imut Sasuke. Huff… sejak kapan Neji suka ngakak?!
"Huh! Menyesal aku mengkhawatirkanmu!!" ujar Sasuke kesal sembari memalingkan muka, tangannya dilipat di depan dada. Tawa Neji makin keras saja dibuatnya. Sasuke berpikir segera. Sebentar lagi jam pertama Kakashi akan habis. Paling tidak dia harus dikelas sebelum guru berambut perak yang kadar mesumnya tinggi itu sampai terlebih dahulu. Tanpa basa-basi Sasuke langsung mengambil plester dan melepas perekatnya. Langkahnya terlihat canggung mendekati Neji yang masih tertawa sambil memejamkan mata itu.
PLEK! Sebuah benda asing mendarat di luka lebamnya yang disertai dengan sentuhan lembut tangan pucat Sasuke. Secara otomatis tawa Neji berhenti. Di mata lavendernya kini ada sebuah sosok tampan—manis bermata onyx dengan jarak yang sangat dekat. Pipi pucatnya masih dihiasi warna merah, namun kali ini lebih merah. Sama dengan jus tomat yang Sasuke pesan. Sebuah senyum tulus tersungging diwajah Neji. Dan sayangnya Sasuke kehilangan kesempatan langka itu.
"Begini cukup, kan?!" tanya Sasuke setelah beres dengan luka lebam Neji.
"Yang ku inginkan ciuman dari Sasu-koi!" protesnya menggoda.
"Bodo,ah! Aku mau balik lagi ke kelas!" kali ini Sasuke benar-benar pergi meninggalkan Neji yang menyeringai aneh.
#######################################TBC########################################
Author's Note TIME!!!
hehehe, entah setan apa yang merasukiku ketika nulis fic tentang ni pair... ini pasti setan dari Ao-nee yang sudah menguasai pikiranku tentang pair ini... Gak nyangka dalam waktu 10 hari menuju UN, kupublish ni fic gaje en bersambung pula! Kapan ya mau bikin SuiSasu???
Buat para senpai yang sudah meluangkan waktunya, mohon kesediannya untuk meREVIEW fic kouhai anda ini.
TELL ME WHAT YOU THINK^_^
REVIEW
REVIEW
REVIEW
