Monkey Loses Bananas HONEY chapter 2

Masashi Kishimoto NARUTO

###################################################################################

Sore hari ini cukup membakar semangat para murid Konoha-gakuen yang sedang berlatih kendo. Bahkan saking semangatnya, Sasuke tak merasakan sedikitpun pandangan aneh Hyuuga Neji yang sejak tadi ia tujukan padanya. Hah, Sasuke memang sudah memikatnya sejak pertama kali bertemu. Pandangan mata yang tajam, rambut yang mencuat melawan gravitasi bumi, dan tentunya wajah yang manis. Semuanya cukup untuk menjadi alasan kenapa pemuda Hyuuga satu ini betul-betul tak bisa lepas dari Sasuke.

Sebuah seruan yang menandakan bahwa latihan hari ini berakhir bergema di seisi ruangan. Menyadarkan Neji dari dunia fantasinya yang hanya berisi tentang Sasuke. Neji pun bangkit dan mulai berkumpul mengitari Asuma-sensei, pelatih mereka, bersama yang lain. Nampaknya dia cukup puas dengan hasil latihan hari ini dan cukup optimis untuk memenangkan pertandingan seminggu kemudian. Setelah basa-basi sebentar dengan anak asuhnya, dia pun membubarkan mereka.

"Neji," Asuma-sensei memanggil pemuda tak berpupil yang -dengan kentaranya- hendak memeluk Sasuke dari belakang.

"Ah iya, Sensei. Ada apa?" Neji menoleh ke belakang menghadap senseinya. Sebenarnya dendam banget tuh dalam hati. Gara-gara senseinya itu, dia jadi kehilangan kesempatan emas.

"Kau yang jadi ujung tombak Konohagakuen minggu depan. Semangat ya...!"

"Sudah pasti, Sensei! Demi Konoha, apa sih yang nggak!" Neji mengatakannya dengan semangat. Membuat semua orang yang hendak meninggalkan ruang latihan membatu. Tak biasanya Neji tak kelihatan kalem.

Setelah merasa lega anak didiknya bisa menjamin kemenangan Konoha yang selalu tertunda, Asuma pun meninggalkan ruangan tersebut. Neji yang otaknya terhubung lagi dengan pemuda bernama Sasuke langsung berputar haluan mencari di mana pemuda itu berada. Dicarinya sampai ke ruang locker, ternyata yang dicarinya sedang duduk-duduk santai saja. Dan sepertinya dia telah selesai mengganti seluruh seragam kendo-nya dengan kaus. Ningrat Uchiha satu ini memang malas untuk diminta berlama-lama mengenakan baju resmi.

"Haah, kenapa Sasu-koi udah ganti baju sih?" terselip nada kecewa yang memang sengaja Neji masukkan dalam perkataannya.

"Huh? Justru aku takut kalau kau kesini aku sedang ganti baju. Nanti aku diapa-apain lagi..."

"Ugh, Sasu-koi pelit ah!" Neji bangkit dan mengambil tempat duduk di samping Sasuke. Hal ini membuat Sasuke terpaksa bergeser sedikit demi keselamatan keperjakaannya.

"Kenapa menjauh? Di sini hanya ada kita, Sasu-koi..." Neji berusaha menggoda.

"Kau yang kenapa dekat-dekat? Lagipula, justru tambah berbahaya kalau di sini hanya kita berdua, kan? Sudahlah, aku mau pulang. Ja!" Sasuke sedikit terkejut ketika mau bangun dari tempat duduknya, pergelangan tangannya dipegang erat oleh Neji.

"Ada apa lagi?" Sasuke pasang muka sangar agar Neji agak sedikit takut. Tapi, apa yang didapatnya? Neji malah tersenyum dan memperkecil jarak diantara mereka. Dahi Sasuke sedikit berkerut, dan perasaanya mulai tak enak. Neji pun semakin mendekat. Sasuke sudah berusaha sekuat tenaga untuk melepas genggaman Neji pada pergelangan tangannya. Tapi usahanya berbuah nihil karena Neji jauh lebih kuat. Sasuke hanya bisa pasrah dan menutup matanya. Berharap sesuatu yang buruk tak terjadi padanya. Bukan karena tak mau, tapi belum siap.

Semenit kemudian, Sasuke dibuat kaget. Kenapa dia tak menciumnya-seperti yang telah ia perkirakan sebelumnya. Neji malah hanya mengacak-acak rambut Sasuke.

"Hari ini kuantar kau pulang."

"Hah? Tumben sekali? Tak usahlah. Aku masih sayang diriku. Aku lebih tenang kalau pulang sendirian dari pada bersamamu"

"Itu kan tanggung jawab seme untuk selalu memastikan kalau ukenya baik-baik saja," Neji nyengir. Beruntung, darah Uchiha mengalir di tubuhnya. Rona merah yang seharusnya tampak, tenggelam dalam kedinginan darah Uchihanya.

"Itu kan hanya alasanmu saja untuk menggodaku. Sudahlah urusi saja urusanmu sendiri," Sasuke tetap melenggang pergi meninggalkan Neji. Susah juga menyatukan 2 orang yang sama-sama keras kepala.

Selama perjalanan menuju halte, bukannya pria berambut pantat ayam ini tak sadar, hanya saja malas untuk menanggapi kepala Neji yang sekeras batu. Ia tahu, semenjak keluar dari gedung Konoha High, Neji mengikutinya dan tak biasanya Neji seoverprotektif ini padanya. Apalagi pemuda yang tergila-gila padanya memang aneh. Peralatan kendo dari baju, penutup kepala, sampai shinnai ia tinggal di dalam locker. Yang ia bawa pulang alat yang mirip seperti... raket. Dan sepatunya pun ia ganti menjadi sepatu yang khusus untuk olahraga tenis, bajunya diganti dengan seragam tenis. Seakan-akan dia baru pulang dari klub tenis saja. Dan itu terus berlangsung selama Neji berada di Konoha. Sasuke berhenti memikirkan segala macam pertanyaan yang mulai muncul dibenaknya ketika secara tak sengaja dia menabrak seseorang tak jauh dari gerbang masuk Konoha High.

Sederetan gigi runcing menyapa onyx bungsu Uchiha itu. Mata ungu violet menyala nyalang menatapnya. Hanya saja, hal itu tak cukup membuat Sasuke gentar. Dengan segala kecuekannya, Sasuke melanjutkan perjalanan menuju rumahnya. Untuk kesekian kalinya, tangan Sasuke ditarik.

"Kau... Uchiha Sasuke?" tanya pemuda bergigi runcing itu.

"Ya, kenapa?" jawab Sasuke dingin.

"Hm, aku hanya tak menyangka kau secantik ini... "

TWIT! Dahi Sasuke berkedut. 'Apa maksudnya dengan cantik? Dia nggak tahu ya, siapa Uchiha Sasuke?' bunyi suara hati Sasuke.

"Aku tak tahu apa yang mau kau bicarakan padaku. Aku hanya mau kau melepaskan tanganmu."

"Bagaimana kalau aku tidak mau...?"

"Kau akan berurusan denganku!" suara dari belakang mereka menyela.

"Hoo, rupanya kau Hyuuga. Bukankah seharusnya kita bertemu minggu depan... tapi, kenapa tiba-tiba kau ada disini?"

"Aku sudah pindah kesini sejak kelas 2 kemarin. Ada masalah?"

"Tentu saja... Dengan kedatanganmu disini, membuat kedudukanku terancam sebagai seme Sasuke."

"Hei, kenapa kalian membawaku dalam pertengkaran ini? Aku mau pulang! Permisi!" Sasuke pun menarik tangannya yang digenggam Suigetsu dan meninggalkan 2 orang yang menurutnya bertengkar masalah sepele. Kedua orang yang ditinggalkannya hanya melongo.

Neji hendak mengejarnya. Tapi, pemuda mirip hiu itu mencegahnya.

"Mau apa lagi, Suigetsu?" sungguh, Neji sudah malas berurusan dengan musuh bebuyutannya dalam kendo itu.

"Bagaimana kalau ini kita buat semakin menarik? Siapa diantara kita yang memenangkan pertandingan final nantilah yang akan mendapatkan Sasuke," tak ketinggalan seringaian Suigetsu ketika ia menyelesaikan kalimatnya.

"Heh, seperti kau akan sampai final saja," ucap Neji ringan.

"Sejarah berulang, Tuan Hyuuga. Di final hanya ada kau dan aku."

"Bagaimana jika aku menolak?"

"Ku anggap kau kalah sebelum bertanding. Dan Sasuke jadi milikku!"

"Bagaimana, bisa?"

"Bukankah itu kebiasaanmu? Tapi, kenapa kau yang paling tak terima dengan aturan itu? Atau kau mau pamanmu tahu bahwa kau masih menggeluti olahraga yang paling dibencinya? Ingat Hyuuga, aku akan melakukan apapun untuk mendapat apa yang aku inginkan. Meskipun itu harus sedikit melukai Sasuke."

DEG! Dia tak akan membiarkan orang lain melukai Sasuke seujung jaripun! Tak akan!

"Baiklah, aku terima tantanganmu!" ucapnya mantap.

"Sampai bertemu lagi di final, Hyuuga!" Suigetsu melambaikannya pada Neji yang masih diam mematung. Geram dengan keputusan yang diambilnya sendiri.

(^_^)

"Tadaima!" Neji menyapa siapapun yang ada di dalam rumah. Rumah Neji – paman Neji maksudnya – bisa dibilang mewah dengan segala teknologi canggih yang ada. Neji tak perlu merasa kekurangan. Apalagi jika tugas datang menumpuk dan harus diketik. Notebook dan jaringan internet selalu siap digunaklan setiap saat. Yang membuat keluarga Hyuuga ini istimewa adalah, tradisi keluarga dijunjung tinggi.

"Okaeri!" jawaban dari seorang gadis, Hinata Hyuuga, sepupunya.

"Neji-nii baru pulang?"

"Hari ini latihan klub lumayan berat jadi agak sedikit lama. Maaf, ya niisan terlambat..." Neji pun mengganti sepatunya dengan kabuki. Itu lho... sandal yang sering dipakai dalam rumah sama orang jepang.

"Um... Mana Hanabi?" Neji baru sadar. Biasanya yang selalu menyambutnya adalah sepupunya yang masih SD itu. Tapi, tumben sekali.

"Oh, dia diajak Tou-san jalan-jalan," Hinata menjelaskan sembari menata meja makan.

"Paman sudah pulang? Tumben sekali..."

Hinata hanya mengangkat bahu sebagai respon atas komentar Neji.

Pemuda bermata lavender itu pun langsung melesat menuju kamarnya. Rasanya sudah tak nyaman sekali. Ingin sekali ia merasakan air shower yang begitu menyegarkan. Hari ini Asuma-sensei habis-habisan melatihnya. Sampai-sampai nyaris membuat Neji tepar. Untungnya setiap melihat wajah tampan Sasuke, baterai semangat dalam dirinya seakan dicharge kembali. Ditaruhnya sembarang raket yang ia bawa itu. Neji segera menuju kamar mandi dan membersihkan pikirannya. Berharap dapat melupakan sejenak pertemuannya dengan Suigetsu dan meringankan bebannya. Yah, beban penipuan terhadap pamannya yang sudah mengasuhnya sejak kecil. Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia.

"Neji-nii! Makan malam sudah siap. Hanabi dan Tou-san juga sudah pulang," suara Hinata dari lantai bawah cukup terdengar jelas oleh Neji. Padahal dia tahu, Hinata tak mungkin berteriak. Atau mungkin karena suasana yang entah kenapa terasa sangat sepi di kamar Neji ini. Neji yang memang sudah selesai mandi sejak beberapa menit yang lalu pun turun menuju ruang makan. Dimana anggota keluarga yang lain berkumpul.

Suara cempreng Hanabi langsung menyambut remaja paling tua di keluarga Hyuuga itu.

"Neji-nii! Lihat! Hanabi dibelikan boneka barbie terbaru sama Tou-san!" serunya ceria sambil pamer boneka barbie yang ada di film barbie and the three musketers. Neji hanya tersenyum menanggapi kelakuan adik sepupunya yang hiperaktif itu. Ruangan sederhana yang masih tradisional dan biasanya terasa hangat itu serasa bagai kobaran api yang hendak membakarnya. Bagaimana tidak, penipuannya akan dimulai sebentar lagi.

Neji mengambil tempat duduk yang berseberangan dengan pamannya. Berusaha menguatkan mentalnya akan apa yang terjadi setelah ini. Sejenak memandang makanan yang tersaji. Kemampuan masak Hinata memang tak diragukan lagi. Membuat orang yang memandangnya kelaparan.

"Tumben sekali paman pulang cepat," Neji berusaha mencairkan suasana.

"Hari ini aku memang sengaja mengurus segala sesuatunya di kantor dengan cepat. Hanabi menagih janji jalan-jalan terus dari kemarin," pria paruh baya pemimpin Hyuuga corp itu menjelaskan.

"Habisnya Tou-san sibuk terus, sih! Aku kan juga ingin jalan-jalan sama ayah sendiri! Nggak melulu sama Hinata-nee dan Neji-nii," Hanabi yang duduk disamping ayahnya sedikit memprotes kesibukan sang ayah. Hinata yang duduk disamping Neji hanya diam. Perempuan satu ini memang kurang aktif dalam bersosialisasi.

"Lalu, bagaimana dengan klub tenismu, Neji? Apa berjalan lancar?" DEG! Jantung Neji sepertinya mau copot saja. Selama ini dia beruntung pamannya, Hiashi, pulang telat dan tak pernah menanyakan hal ini pada Neji. Walau setiap hari minggu pamannya yang selaku pemimpin itu meminta cuti untuk bersama keluarganya, beliau tak pernah menanyakannya. Hanya mengajaknya bermain tenis tanpa banyak kata.

"Baik-baik saja, Paman. Justru Gai-sensei titip salam untuk paman," kebohongan Neji pun dimulai. Bagaimana mungkin guru yang tak pernah ia temui itu titip salam.

"Baguslah. Ku harap kau tetap tekun belajar tenis..."

"Haha, pasti paman! Aku tak akan mengecewakan paman," muncul kebohongan yang lain lagi.

Hiashi Hyuuga mungkin bisa disebut sebagai orang tua yang kolot. Dimana semua anaknya harus menuruti perkataannya. Semuanya ada aturannya. Begitulah menurutnya. Sampai-sampai kebebasan Neji sangat terbatas. Waktu awal-awal pindah ke Konoha, Hyuuga muda ini merayu dan berusaha keras supaya dirinya diperbolehkan di sekolah umum di Konoha. Juga memohon agar dia tak diantar jemput dengan mobil mewah itu. Dia ingin jadi anak normal. Ke sekolah naik angkutan permintaannya dikabulkan.

Waktu dia memilih klub. Hiashi langsung mendaulat Neji untuk masuk tenis. Bukan kendo, olahraga yang disukainya sejak kecil. Neji kecil yang menyukai Samurai X tentu saja ingin suatu hari menggunakan pedang. Sejak saat itu dia pun memutuskan untuk mencintai kendo. Beruntungnya lagi, Gai-sensei orang yang pengertian akan minat dan bakat anak didiknya. Neji memang berbakat dalam tenis karena asuhan pamannya. Tapi, apa ssalahnya membiarkan anak yang berbakat itu berkembang sesuai keinginannya? Bukankah akan jadi sesuatu yang menakjubkan nantinya?

Makan malam berakhir dengan segala kemelut di hati Neji. Pemuda berambut coklat itu pun undur diri dan pamit untuk mengerjakan PR. Semuanya hanya untuk memberi kesempatan bagi Neji untuk beristirahat dari semua kebohongan yang telah ia lakukan. Langkah kakinya terasa begitu berat. Ia ingin menceritakan perasaannya. Dia butuh pendengar.

BRUG! Neji menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur berukuran king size itu. Aroma lily tak sanggup membiusnya untuk pergi ke alam mimpi. Neji pun mengambil handphone-nya dan berniat menghubungi seseorang.

"Angkat, Sai!" ya, Sai. Sahabat Neji di Konoha. Orang yang tahu segala sesuatu tentangnya. Sayangnya, orang yang dituju tak berniat mengangkatnya. Membuat kesabaran Neji makin habis saja.

TREK! Neji menutup sambungan telepon yang berulang kali telah ia lakukan dan tak mendapat hasil apa pun. Dia pun mencoba menekan nomor lain. Nomor orang yang disukainya. Baru sebentar nada sambung terdengar, orang yang di ujung sana mengangkatnya.

"Ya, kenapa Hyuuga? Tumben sekali kau meneleponku!"

"Gomen..." hanya itu yang bisa diucapkan Neji.

"Hei, Neji! Kau kenapa?"

"Gomen..." lagi.

"Hei, hei! Jangan coba-coba menakutiku, ya!"

"Gomen..."

Trek. Sasuke meutuskan sambungan tersebut.

'Gomen ne... Sasuke. Gomen ne... Paman. Aku bodoh! Telah mempertaruhkan orang kucintai dan mengkhianati orang yang mengasuhku,' Neji hanya mengucapkannya dalam hati.

Entah sihir apa yang Sasuke punyai. Suaranya sanggup membuat Neji munguap karena ngantuk. Apakah itu pengaruh fisiknya yang sudah terlalu lelah atau memang suara Sasuke yang sanggup membiusnya.

#######################################TBC########################################

Author's Note TIME!

Hehehe, ampun... ampun... untuk para pecinta NejiSasu... AMPUNI SAYA! Romancenya nggak kerasa n nggak ada! Banyak typo! GAJE! Trus, di chapter ini tokoh utamanya memang Neji! Pokoknya, beda jauh sama yang chapter 1. Mungkin ini karena saya stres nggak dapet kampus. Padahal saya pingin cepet-cepet kuliah!T.T

Buat para senpai yang sudah meluangkan waktunya, mohon kesediannya untuk meREVIEW fic kouhai Anda ini.

TELL ME WHAT YOU THINK^_^

REVIEW

REVIEW

REVIEW