Monkey Loses Bananas HONEY chapter 3

Masashi Kishimoto NARUTO

################################################################################

'Hah... sial! Kenapa hari ini semua orang menggodaku sih? Sial! Sial! Sial!' rutuk pemuda berambut raven sepanjang perjalanan menuju sekolah. Kejadian ketika santap pagi bersama keluarganya betul-betul menyebalkan. Apalagi kelakuan Itachi, kakaknya. Dengan seenaknya Uchiha yang lebih tua 3 tahun darinya itu masuk ke kamar Sasuke dan menemukan barang yang sangat mencolok. Sebuah jam beker dengan gambar adiknya sebagai latar belakang jam tersebut. Bukan... Sasuke bukannya narsis. Hanya saja jam itu pemberian dari seseorang yang baginya sangat menyebalkan. Tapi, entah kenapa dari sekian banyak jam beker yang pernah dibeli oleh ibunya dan dirinya tak pernah awet dan berakhir tragis di tempat sampah. Hanya beker hadiah dari pemuda berpupil violet itulah yang masih setia bertengger dikamarnya.

Ketika kakaknya menyadari hal itu, dia langsung membawa hal ini sebagai bahan pembicaraan bersama Uchiha yang lain ketika sarapan tadi. Untungnya sang ketua keluarga, Fugaku, sudah berangkat kerja. Kalau tidak, habislah si Uchiha bungsu satu ini digoda oleh seluruh penghuni rumah. Mentok-mentoknya paling dijodohin sama si Hyuuga yang bagi Sasuke brengsek itu. Benar-benar hari kesialannya, begitulah pikirnya saat sampai didepan gerbang Konoha Gakuen.

"Oi, Teme! Tumben sekali kau berangkat siang? Tidak latihan?" sapaan pagi yang selalu terdengar dari sang kepala duren untuk si pantat ayam ketika memasuki koridor kelasnya.

"Hari ini latihannya sore, Dobe. Bukankah sudah sering kuberi tahu kalau setiap hari kamis dan jumat latihanku hanya sore hari saja?" Sasuke rada sewot juga sama sahabatnya yang satu ini.

"Hehehe... Maaf, Teme... Lalu, apa kau sudah mengerjakan PR Kimia?" tanya Naruto, si kepala duren, penuh harap.

"Ck, Dobe... sampai kapan kau akan berhenti mengopy pekerjaanku, hah?" benar-benar sebuah rutinititas untuk si kepala duren.

"Hah...Ayolah Suke-chan... aku butuh bantuanmu." Telinga Sasuke sudah terbiasa menangkap embel-embel chan pada panggilan namanya. Itu pun kambuhnnya kalau dia butuh sesuatu pada si pantat ayam ini.

"Minta Gaara saja sana!" ucap Sasuke ketus.

"Dia sibuk untuk mengurusi proposal berbagai ekskul yang akan mengikuti lomba nanti...Kumohon Suke-chan..." kepala duren pun melancarkan jurus andalannya, puppy eyes no jutsu.

"Baiklah...," Sasuke pun terpaksa mengeluarkan buku kimia itu dan memberikannya pada anak yang katanya keturunan langsung dari kepala sekolah Konoha Gakuen, "...ini."

"Yey! Teme baik deh. Makasih ya, Teme!" teriaknya riang dan berlari menuju kelas.

"Hn..."

"Oi, Teme." Naruto yang berlari mendahului Sasuke tiba-tiba berhenti.

"Kalau mau nyari Neji, dia ada di ruang latihan. Sepertinya dia berusaha keras agar tak menyusahkanmu..." Sasuke tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Neji? Latihan? Orang yang santai begitu? Mustahil! Begitulah bunyi jeritan-jeritan hatinya.

Entah kenapa kakinya melangkah menuju tempat latihan yang biasanya didatanginya pagi-pagi buta. Apa ini karena omongan kekasih ketua OSIS itu? Entahlah... Si raven bingung. Sreg! Dibukanya pintu ruangan latihan itu dengan paksa dan hasilnya? Cowok berpupil violet itu sudah mandi keringat.

"Lho? Sasu-koi? Bukannya hari ini latihannya sore ya?" tanyanya dengan ekspresi kaget.

"Hyuuga Brengsek. Justru aku yang seharusnya menanyakan itu, kan?"

"Hehehe..." Neji hanya nyengir. Sial! Cowok ini benar-benar membuat Sasuke kesal. Kesal karena dia tak mempedulikan keberadaan si raven sekarang. Terbukti, sekarang dia sudah mulai latihan lagi.

"Sasu-koi mau jadi sparing partnerku?" tawarnya ketika melihat Sasuke yang enggan beranjak dari ruang tersebut.

"Hah? Boleh saja. Tapi jangan menyesal kalau aku yang mengalahkanmu,ya?"

"Hm, tentu saja. Tapi, jika aku menang, kau harus mau jadi pacarku!"

"Hah? Aku menolak!"

"Baiklah. Kuperingan. Bagaimana kalau aku minta pertanggungjawabanmu atas lukaku yang kemarin ini?" ucap pemuda Hyuuga ini sambil memperlihatkan bekas lukanya yang kemarin.

"Jangan mimpi Hyuuga brengsek!" sampai kapan pun Sasuke tak mau dikalahkan oleh manusia satu ini. Tanpa menunggu perintah dari Neji, Sasuke langsung menyerangnya dengan shinai yang ia temukan di pinggir pintu.

'Rasakan Hyuuga brengsek! Jangan kau pikir aku akan membiarkanmu menang dengan mudah...'

Pertarungan itu berlangsung singkat namun sengit. Tak ada satu pun yang mau mengalah diantara kedua ningrat itu. Keduanya sama-sama tipe penyerang, jadi selesai serangan satu akan datang serangan-serangan yang lagi. Lima belas menit sebelum bel masuk berbunyi, keduanya pun berhenti dan duduk berhadapan untuk mengistirahatkan badan dan memulihkan tenaga.

"Tak kusangka Sasu-koi hebat juga, ya...?" ucapnya di sela-sela helaan nafasnya yang belum teratur itu.

"Heh, kau pikir aku hanya merengek pada orang tuaku untuk membelikan shinnai hanya untuk mainan?"
"Tapi, Sasu-koi tetap kalah lho. Seranganku banyak yang masuk. Serangan Sasu-koi hanya sempat menyerempetku saja"

"Che..." tentu saja Sasuke tak mengeluarkan sepatah katapun. Apa yang diomongkan Neji benar semua. Serangan-serangannya memang kurang akurat karena tadi dia langsung serang saja tanpa pemanasan dulu.

"Sasu-koi..." Sasuke kaget dengan panggilannya yang terkesan lembut itu.

"Huh...?" tiba-iba saja Neji sudah jongkok didepannya.

"Arigatou dan..." Neji mengacak rambut ravennya.

"Hontou ni gomenasai..." dikecupnya pipi Sasuke lembut dan dipeluknya erat. Mata Sasuke membelalak lebar akan perlakuan yang diterimanya. Tapi sayang, tubuhnya enggan bergerak dari posisinya yang sekarang. Ketika Neji menjauhkan dirinya, Sasuke dapat menangkap gurat penyesalan di mata yang tak berpupil itu. Sasuke tahu Neji menyembunyikan sesuatu. Sasuke tahu itu.

"Neji..." panggilnya lirih. Sayangnya, Neji sudah bangkit dan berjalan memunggungi Sasuke.

"Teme, bagaimana?" tanya si kepala duren pada si pantat ayam ketika mereka sedang lari ringan untuk pemanasan saat jam olah raga.

"Bagaimana apanya...?" Sasuke yang berlari di samping Naruto pun bingung apa maksud dari pertanyaannya itu.

"Kau dan Neji..."

"Hah? Maksudmu?"

"Huh, baru saja bermesraan langsung lupa..."

"Aku tidak..." Sasuke pun kemudian sadar, "Dobe... kau menguntitku ya...?"

Deg! Jantung Naruto serasa berhenti berdetak mendengar penuturan Sasuke. Dirinya ketahuan telah menguntit sahabat karibnya.

"Hehehe... maaf, Teme..."

"Mati saja kau sana!" Sasuke pun langsung mempercepat langkah larinya dan meninggalkan Naruto.

Sasuke pun meninggalkan Naruto yang jelas-jelas niatnya mau menggodanya. Tanpa diduganya, kini ia berada di sebelah Neji. Sasuke langsung merasa ada yang aneh. Tak biasanya Neji hanya mendiamkannya seperti ini. Biasanya dia akan heboh dan menempel terus padanya. Ekspresinya seperti orang sedang memikirkan sesuatu.

"Hari ini cuacanya cerah, ya...?" Sasuke berusaha menguji pendapatnya.

"Hah...?" tumben sekali Neji hanya merespon dengan 'hah'.

"Huh, Hyuuga. Apa yang terjadi dengan telingamu itu? Apa karena seranganku yang tadi pagi jadi rusak saraf telingamu hingga merubahmu jadi tuli? Padahal hanya menyerempet saja."

"Hehe... Sasu-koi mengkhawatirkanku, ya...?"

"Che! Jaga bicaramu, Brengsek!"kembali meninggalkan rekan berlarinya. Kali ini dia yakin, ada yang aneh dengan Neji. Awalnya dia berpikir kalau Neji hanya kelelahan karena latihan tadi pagi hingga ia hanya bengong saja di kelas. Bahkan saat guru Kurenai menanyakan beberapa soal tentang fisika yang diajarkannnya, Neji hanya nyengir dan menjawab kalau dia tak bisa. Sungguh, bukan style Neji sekali.

Selama jam pelajaran Olahraga, Sasuke tak henti-hentinya memikirkan keanehan Neji hari ini. Sampai-sampai saat Neji mendapat giliran praktik tolak peluru hasilnnya lebih buruk dari Naruto. Tapi, hasil yang Sasuke dapat masih lebih mending daripada Neji yang hendak merelakan kepalanya sendiri tertimpa peluru tersebut. Sungguh tak bisa dipercaya. Semalam dia menelepon dan mengatakan kata aneh, maaf, yang diucapkannya berulang. Mau tahu yang lebih aneh lagi? Hari ini kerjaannya hanya mencari-cari Sai. Si cowok bermuka dua yang sangat mirip dengan Sasuke hanya berbeda model rambut dan warna kulit. Hal ini membuat Sasuke sedikit err... cemburu?

Keadaan makan siang pun sama saja. Tak ada yang berubah. Neji yang entah pergi kemana dan Sasuke yang masih merasa sepi.

"Teme, kau kesepian ya?" Naruto yang duduk disamping Sasuke untuk menikmati makan siang yang rutin mereka lakukan di atap bertanya dengan tampang tanpa dosanya.

"Hah?"

"Kau jangan bohongi dirimu sendiri, Teme... aku tahu. Sejak awal kau sudah tertarik padanya karena dia satu-satunya yang pernah mengalahkamu di kendo kan?"

"Jangan mengambil kesimpulan seenaknya sendiri,Dobe."

"Hahahaha... Teme, aku mengenalmu bukan setahun dua tahun. Aku mengenalmu sejak kita masih bayi,Teme..." yah, mau bagaimana lagi? Itu memang kenyataannya dan... Sasuke benci dengan fakta itu. Baginya itu sangat menyebalkan.

Sasuke bergeming mendengar penuturan Naruto. Memang benar Sasuke telah tertarik dengan Neji. Dimulai sejak pertama kalinya Sasuke bertemu Neji di final pekan olahraga tahun kemarin. Rival abadi Neji, Suigetsu, yang berasal dari salah satu sekolah di kota sebelah, tiba-tiba saja hilang dan tak mengikuti pertandingan. Bukan Neji saja yang dibuat terkejut. Tapi seluruh sekolah menengah atas pun sama tak habis pikir dengan menghilangnya Suigetsu. Otomatis, Sasuke yang baru saja mengikuti pertandingan level nasional itu tak menyiakan kesempatan ini hingga dia bisa melenggang ke final dengan mulus.

Di final itu, Sasuke benar-benar kalah oleh Neji. Dirinya yang tak terkalahkan hingga level provinsi ini harus merelakan harga dirinya menempati urutan kedua. Urutan pertama diperoleh Neji dengan kemenangan telak. Neji yang sering berhadapan dengan Suigetsu otomatis akan menang mudah dengan absennya pemuda bergigi runcing itu. Sasuke masih terlalu hijau baginya untuk mengenal dunia kompetisi kendo. Tetapi, ada yang menarik perhatian Neji di diri Sasuke. Entah apa itu Neji sendiri tak mengetahuinya. Yang jelas ada rasa penasaran yang amat sangat ketika memandangi wajah Sasuke yang cemberut karena kalah olehnya. Sehingga muncul hasrat untuk menjadikan ekspresi itu hanya miliknya. Ya, hanya miliknya.

"Oi, Teme! Kau melamun?"

Tak ada respon dari si target.

"Temeeee.."

Masih tak ada respon.

"Kalau kau masih melamun ku jamin Neji akan jadi milik Sai sepenuhnya!"

"Haaah?"

'Yes! Berhasil!' bunyi teriakan hati Naruto.

"Kira-kira apa yang dibicarakan Neji dengan Sai,ya? Sepertinya serius..." tampak Sasuke mengerutkan dahinya atas perkataan Naruto. Sementara Naruto hanya menunjuk tujuan yang dibicarakannya dengan dagu. Tampak dikejauhan seorang pria yang bisa dibilang mirip dengannya itu sedang berbincang serius dengan seorang yang sangat mengganggu pikiran si raven akhir-akhir ini.

"Biarkan saja. Toh bukan urusanku ini..."

"Eh? Kau yakin, Teme?"

"..." Sasuke tak mampu membalas pertanyaan Naruto. Sasuke sendiri tak tahu apa yang harus diperbuatnya melihat kedekatan mereka berdua. Ada rasa tak suka melihat Neji seolah sangat membutuhkan keberadaan Sai didekatnya. Semakin tak tahan dengan pemandangan yang tak menyenangkan didepannya, bungsu Uchiha itu pun langsung pergi meninggalkan kantin dan menyisakan Naruto yang semakin memperlebar seringainya.

Bel pulang sekolah pun berdentang nyaring di seluruh penjuru sekolah. Menyesapkan rasa bahagia karena bisa mengatakan sampai nanti pelajaran-pelajaran sial, kita ketemu besok lagi. Hal ini pun berlaku pada pemuda jabrik rambut durian.

"Teme! Ayo pulang!"

"Berisik, Dobe. Ini pun aku sedang siap-siap. Buru-buru sekali. Kemana Gaaramu?"

"Gaara memintaku pulang lebih dulu karena masih banyak urusan."

"Ayo..." mereka pun berjalan beriringan dalam diam. Tumben sekali si pirang hanya diam. Sepertinya dia sedang kesal dengan kekasihnya yang tak pernah menomorsatukan kekasihnya dan lebih mendahulukan tugas-tugasnya – yang menurut Naruto bisa dikerjakan di rumah – daripada dirinya.

"Sifat workaholic-nya memang sudah ada sejak lahir. Jadi, kau harus menerima sifatnya yang seperti itu," Sasuke selalu tahu apa yang sedang dipikiran oleh sahabatnya ini.

"Ah, memang sih. Tapi kadang sifat itu membuatku kesal. Dia seakan menganggapku teman saja. Bahkan saat valentine dia tak memberiku apa pun. Aku hanya ingin meminta waktunya yang sedikit itu untukku."

"Kau sudah pernah mengatakan semua itu padanya?" Naruto hanya menggeleng.

"Coba katakan saja, mungkin dia akan mengerti walaupun sedikit."

"Hn."

Mereka pun semakin dekat dengan gerbang. Langkah Sasuke terhenti ketika ditangkapnya suara seorang yang membuatnya gila. Ya, itu suara Neji. Naruto yang berada disamping Sasuke pun ikut menghentikan langkah.

"Hahaha, rupanya Hyuuga ini sudah mau menyerahkan pujaan hatinya dengan cuma-cuma. Bagaimana kalau si cantik Uchiha itu mendengarnya? Dia pasti akan sedih dan membencimu," suara itu suara seseorang yang beberapa hari lalu pernah mengganggunya. Suara si gigi runcing.

"Jangan harap! Jika itu maumu, aku akan datang ke pertandingan itu dan memenangkan taruhan ini! Sasuke akan jadi milikku!"

"Jadi, aku hanya barang taruhan bagimu, Hyuuga Brengsek?" sebuah suara menginterupsi pembicaraan mereka.

"Eh?" keduanya menoleh ke arah sumber suara. Seorang bungsu Uchiha dengan aura hitamnya yang intens. Disamping Uchiha ada seorang yang berambut duren dengan senyum inosennya.

"Sasu-koi...?" Neji hanya terperangah melihat sang obyek mimpinya ada dihadapannya.

"Ayo pulang, Dobe," ajak Sasuke pada pemuda berambut duren.

"Eh, ah, baik..." Naruto yang merasa masih terkejut itu agak kaget juga mendengar ajakan sahabatnya dan melenggang pergi meninggalkan si nigrat Hyuuga dan si Hiu.

Sepanjang perjalanan Sasuke hanya diam dan tak mengeluarkan suara. Hatinya kesal dengan kenyataan tadi. Beraninya Hyuuga brengsek itu mempermainkannya. Kurang ajar! Dia pikir aku ini barang yang bisa dipertaruhkan apa? Seenaknya saja. Begitulah gerutuan yang keluar dari hatinya. Sementara si kepala duren hanya diam saja dan tak melakukan apa-apa. Dia takut kalau saja kemarahan Sasuke bisa meledak dan membanting apa saja yang ada seperti tokoh Shizuo Hewajima di salah satu anime favoritnya 'Durarara!'. Yah, Naruto bisa dibilang otaku juga sih. Dikamarnya banyak poster dan action figure dari berbagai tokoh anime yang dia sukai.

Jadi begitulah akhir hari Sasuke yang dibumbui dengan kekesalannya pada Neji yang menurutnya tak punya hati hingga menjadikannya barang taruhan.

"Tadaima..." seru pemuda Hyuuga lesu. Hari ini di depan kekasih err... masih calon sih, citranya hancur sudah. Mungkin besok tak ada lagi tatapannya yang – menurutnya – lembut dari Sasuke. Ingin sekali dia menenggelamkan dirinya di segitiga bermuda agar dirinya tak harus bertatap muka dengan orang yang sudah ia sakiti.

"Okaeri!" seru Hinata dan Hanabi. Neji hanya menghela nafas. Rasanya akan sangat susah jikalau dirinya harus terus berada disini dan menanggung semuanya sendirian ditambah lagi perlombaan kendo yang akan diadakan sebentar lagi menambah beban dirinya. Beruntunglah dirinya yang pertandingan tahun lalu bertepatan ketika pamannya pergi keluar negeri. Paling tidak pamannya tidak akan lagi-lagi meng-update berita mengenai olah raga. Beda dengan tahun ini. Tahun ini, pamannya dengan senang hati meluangkan waktunya untuk kedua putrinya disamping pekerjaannya di luar negeri sudah selesai.

"Neji-nii, tumben pulangnya cepat. Bukannya biasanya latihan dulu." Hinata bukannya tahu tentang Neji yang masih bermain Kendo. Dia hanya tahu kebiasan Neji saja.

"Entahlah, hari ini minatku untuk latihan lenyap begitu saja."

"Ada masalah?"

"Ehm, sedikit."

"Sungguh?"

"Kau tenang saja... Nii bisa mengatasinya kok."

"Baiklah kalau Neji-nii bilang begitu. Sekarang Neji-nii mandi, ganti baju, dan bantu aku buat makan malam, ya," pinta Hinata, halus.

Tak berpanjang lebar, Neji pun menuruti kemauan Hinata. Lagipula, ini bukan satu dua kalinya dia membantu mereka memasak. Melihat keriangan kedua adik sepupunya, rasanya perasaan Neji sedikit ringan. Sejenak dia melupakan kesalahannya yang membuat Sasuke pasti membencinya.

Tut... tut... tut...

"Moshi-moshi," suara diseberang menyapa gendang telinga pemuda berambut pantat ayam itu. Suara yang menyebalkan.

"Hn, aku ingin menanyakan beberapa hal padamu Sai," ucap Sasuke dingin.

"Tumben sekali seorang Uchiha sepertimu mau menelepon sepupu yang tak pernah dianggap ini," ucap Sai sarkastis.

"Tak usah berbasa-basi. Apa hubunganmu dengan Hyuuga-bastard itu?"

"Ah, Uchiha Sasuke tak rela kekasihnya bergaul dengan teman sejak SMP-nya. Posesif sekali," seperti biasa, Sai selalu saja punya jurus untuk mengalahkan mulut tajam Sasuke.

"Che, aku bukan kekasihnya!"

"Sungguh?"

"Aku..." omongan Sasuke terpotong oleh sederet kalimat Sai.

"Ha? Ceroboh sekali sampai lupa bawa handuk." Sasuke hanya diam saja. Mendengar dengan tenang pembicaraan antara Sai dan seorang lagi di seberang sana.

"Kau punya roommate sekarang?"

"Apa urusanmu? Lagipula dia bukan hanya roommate-ku. Dia kekasihku," ucap Sai dengan santainya.

"Huh, kalau saja kau bukan Uchiha, sudah kupenggal lehermu!"

"Atas dasar apa... Akh, Neji menelepon. Sudah ya. Aku lebih senang meladeninya daripada pria dingin sepertimu. Oh ya, kuharap kau jangan cemburu kalau-kalau malam ini Neji akan menginap di apartemenku. Jaa, Sasuke." Belum sempat Sasuke merespon, sambungan telah ditutup.

Panas. Bukan, bukan hawa panas yang ia rasakan. Hatinya panas bagai terbakar mendengar perkataan Sai tadi. Padahal Sasuke tahu kalau si muka rubah itu sudah punya kekasih tapi entah kenapa rasanya ingin membunuhnya. Memotong bagian-bagian tubuhnya menjadi tak berbentuk lagi. Sasuke kesal! Apalagi jika teringat kejadian tadi sore ketika pulang sekolah. Kesalnya sejuta kali lipat! Akhirnya bantal gulingnya tersayanglah yang jadi sasaran kemarahan Sasuke.

"Hyuuga Baka! Apa maumu sih? Brengsek! Idiot! Sialan! Monster!" semua umpatan ia tumpahkan pada bantal guling tak bersalahnya itu.

"Em, Honey. Telepon dari siapa? Sepertinya aku belum pernah melihatmu sesenang ini..." seseorang yang baru keluar dari kamar mandi apartemen salah satu Uchiha itu heran melihat ekspresi kekasihnya yang entah kenapa dia bisa bedakan mana yang tersenyum senang, tersenyum licik, dan sebagainya. Padahal, untuk orang awam, senyumnya akan tampak sama.

"Telepon dari bunga yang mekar dan sedang menunggu lebah mengambil madunya."

#######################################TBC#####################################

Author's Note TIME!

Saya harap pembaca yang nungguin fic ini*PD overload* nggak merasa kecewa dengan apdetannya. Saya sendiri baru ada ide kalau kepepet ujian. Entah kenapa selalu begini, kalau deket-deket ujian pasti banyak ide yang muncul. Walaupun telat, Selamat merayakan NejiSasu Day!^^

Kalau tidak keberatan, nikmati fic NejiSasu saya yang lain(hanya satu sih). Arigatou^^

Buat para senpai dan reader yang sudah meluangkan waktunya, mohon kesediannya untuk meREVIEW fic kouhai Anda ini.

TELL ME WHAT YOU THINK^_^

REVIEW

REVIEW

REVIEW