Disclaimer : The characters and some plots below are belongs to Stephanie Meyer, but the story is belong to me. Thanks to Auntie Stephie for such adorable characters.


How About This

(Episode 2)

EDWARD'S POV

"Bella!"

Mataku mengerjap—begitu pelan bagaikan bulu dari sayap malaikat yang perlahan-lahan jatuh ke bumi—begitu gadis yang satunya lagi berbisik tajam ke arah si gadis berambut coklat, nadanya memperingatkan. Perlahan mataku kembali mengerjap sembari mengalihkan tatapan lamat-lamat ke arah gadis yang berbisik tadi, mencoba untuk membandingkannya dengan si gadis berambut coklat. Bagaimana pun mereka berdua kelihatan sangat mirip, kecuali warna rambut, warna mata, dan bentuk wajah mereka. Tidak, mereka sama sekali tidak mirip dalam segala hal—aku baru menyadarinya setelah benar-benar memperhatikan wajah mereka berdua dengan saksama—namun sesuatu entah kenapa membuat mereka kelihatan begitu mirip. Mungkin minusku benar-benar bertambah dan harus memakai kacamata kali ini; kemungkinan besar aku memang salah lihat karena diskapabilitas mataku.

Gadis itu—si rambut coklat—sepertinya menyadari tatapan panjangku dan kelihatannya dia berusaha untuk… entahlah… seperti orang yang hendak menyampaikan pesan lewat telepati. Kerut samar muncul di antara kedua alisnya meskipun aku yakin itu hanya bayanganku saja karena kulitnya benar-benar terlihat semulus pualam. Bukannya aku sedang melakukan perbuatan tak pantas dengan memandangi kulit seseorang, tetapi gadis itu memang benar-benar terlihat sempurna, bagaikan seorang model terkenal—begitu juga dengan gadis pirang yang bersamanya saat ini.

"Edward!"

Demi segala sesuatu yang kudus, aku hampir saja terlonjak dan berteriak bagai terkena kejut listrik saat si gadis kecil Alice menepuk punggungku dengan keras, membuat jantungku seakan terjatuh ke lantai dan napasku tercekat. Ingin rasanya kumaki gadis kecil itu seandainya aku tak teringat akan kehadiran dua gadis pucat itu. Sembari menarik lengan Alice dengan agak kasar, aku berbisik tajam padanya, "Kau! Apa yang kau lakukan, sih?" Alice tertegun menatap wajahku yang mungkin baginya terlihat begitu mengerikan, lalu kemudian mengerjapkan matanya setelah menguasai dirinya sendiri.

"Kau kenapa, Ed? Apakah kau marah sekali padaku?"

Matanya memang tak menunjukkan tanda-tanda hendak mengucurkan air mata, tetapi Edward begitu mengenal nada sedih samar dalam suara adiknya ini—sesuatu yang terjadi pada Alice saat tengah dimarahi Dad ataupun diriku sendiri. Dibandingkan dengan Emmett, sekilas sifatku memang terlihat lebih seperti kakak tertua. Oleh karena itulah, Alice lebih takut jika aku atau Dad sudah memarahinya karena sepertinya aku lebih mewarisi sifat karismatik ayahku dibandingkan Em, lagi-lagi. Tanganku yang tadinya terlipat di depan dada kini bergerak untuk menyentuh puncak kepala Alice, membelainya rambutnya dengan lembut. Perasaan iba terhadap si bungsu ini mulai merambat perlahan, membuat emosi yang tadi timbul dalam diriku akibat perbuatan Alice perlahan berkurang.

Tak dapat kupungkiri, senyumanku otomatis mengembang saat melihat sorot mata sedih Alice perlahan berubah menjadi senang, "Benarkah kau tidak marah? Maafkan aku, Ed. Aku hanya bosan… habisnya Emmett meninggalkanku sendirian demi cewek itu," ucapnya, lalu perlahan berpindah untuk memposisikan diri di sisi kananku, mengajakku berjalan bersama. Saat alice mengatakan kata 'cewek', entah kenapa pikiranku langsung tertuju pada gadis berambut coklat yang sempat membuatku terpana tadi. Siapa namanya tadi… Bella-kah?

Ah, aku ingat… mereka tadi masih berada di… kemana mereka?

Mataku mungkin terlihat seperti hampir keluar dari rongganya karena mendapati dua sosok misterius itu tak lagi berada di tempat mereka semula karena sedetik kemudian Alice bertanya heran padaku, "Ed? Kau baik-baik saja?"

Kemana mereka? Kenapa… mereka bisa lenyap begitu saja? Bahkan setelah menolehkan kepala ke segala jurusan, aku tak juga menemukan tanda-tanda keberadaan mereka. Seharusnya mereka masih berada tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi—mungkin hampir mencapai ujung koridor—dan bukannya benar-benar menghilang tanpa jejak seperti sekarang ini. Alice kelihatannya ingin sekali menanyaiku, tetapi dia kelihatan menahan diri. Baguslah, karena aku tak cukup sabar untuk menjawab pertanyaannya sekarang.

"Ayo kuantar," desakku, menarik lengan Alice begitu cepatnya hingga gadis itu harus berjalan tersaruk-saruk di sepanjang koridor menuju kelasnya.

"Dasar cowok-cowok sinting," sindir Alice di belakang punggungku—agak terlalu keras, mungkin dirinya sengaja melakukan itu agar aku bisa menjelaskan perbuatan anehku padanya—tetapi aku toh tak terpengaruh. Setelah bertemu dengan dua orang aneh tadi, entah kenapa pikiranku mendadak kacau—seolah kabel-kabel dalam benakku saling membelit dan kusut—sehingga tak bisa berpikir dengan benar. Oke, mungkin memang aku telah terkena sihir gadis cantik misterius itu—hal yang biasa terjadi pada pria remaja—tetapi tak seharusnya seaneh ini, kan?

Tak seharusnya di sepanjang perjalanan menuju kelas Biologi aku memikirkan apakah dia sudah punya pacar atau belum. Dan tak seharusnya aku berangan-angan untuk mengajaknya kencan atau makan malam romantic saat menyerahkan kertas pada guru biologinya, Mr. Jetkins. Dan… tak seharusnya aku melihat delusi gadis itu pada hari pertama masuk kelas, membuatku sukses menjadi bahan tertawaan seisi kelas karena tak menjawab panggilan Mr. Jetkins yang memintaku untuk segera duduk karena pelajaran segera dimulai.

Kau, Gadis, adalah orang yang benar-benar berbahaya bagiku.

Rasanya diriku benar-benar berharap lantai di bawahku berubah menjadi pasir hisap saat melihat gadis itu—ya, si gadis rambut coklat—ikut menertawai kebodohanku; jenis tawa yang bisa membuatku terkena serangan jantung saking cepatnya otot-ototnya memompa darah menuju pembuluh darahku, membuat dadaku terasa seperti ditusuk berkali-kali. Sejenak kukira tawa gadis berhenti karena melihat ekspresiku yang mulai terlihat seperti orang yang sedang meregang nyawa, tetapi semakin lama entah kenapa aku melihat iris hitamnya menjadi semakin gelap dan mulai menyorotkan sinar yang lain—sinar kelaparan yang aneh.

Dia menatapku seolah aku merupakan makanan terlezat di dunia.

Kabel-kabel di otakku semakin kusut, kali ini tubuhku benar-benar membeku di bawah tatapan yang diberikan gadis itu padaku. Kakiku jelas-jelas begitu ingin lari dari sini segera, seolah gadis di depanku ini monster yang siap menerkamku kapan saja. Namun tatapanku tak bisa dialihkan—terkunci dalam tatapan iris hitamnya yang begitu membelenggu jiwa dan ragaku. Suara-suara lain di sekitarku mulai memelan dan akhirnya aku hanya dapat mendengar deru napasku sendiri, seolah hanya akulah satu-satunya orang yang berada di tempat ini.

Kemudian aku mendengar suaranya yang seperti dentang lonceng bergema memenuhi ruang pendengaranku—bahkan dapat mengalahkan deru napasku sendiri, "Duduklah denganku, Edward."


Sorry for making you waiting too long. Phew, finally I made it! Well, thanks for reading my fanfiction. If you like it, let me know RnR pleeease :D Thank youuuu - Vampirelasting