._._. X ._._.

Fifth Wives ... By Fu For Fujoshi

Naruto.. Milik Masashi Kishimoto

Pair: Saat ini masih Kakashi X Sasuke, tapi pair utama ya Naruto X Sasuke, slight SasuHina...

Warn: NC-17, YAOI, BL/Sho-ai. Gaje, OOC, AU, dll.

"..." talk

'...' mine

._._. X ._._.

Ntah apa yang membuat Uchiha Sasuke merundukkan kepalanya. Semut-semut hitam yang tengah bergotong royongkah yang membuatnya terus menatap tanah? Tidak ada yang tau apa yang membuatnya enggan menengadah, atau setidaknya melihat ke arah wajah gadis manis berambut indigo panjang di sampingnya. Hyuuga Hinata. Kekasihnya.

"Uum... Sasuke-, sebenarnya apa yang terjadi? Kau, agak aneh sejak menelponku semalam?" agak gugup, gadis bermata lavender itu memecah keheningan diantara ia dan si pemuda.

Sang pemuda menghela nafas panjang, "Maaf, aku selalu membuatmu cemas," digenggamnya jemari letik gadisnya, dibingkainya salah satu sisi pipi Hinata, "Aku memang terlalu takut untuk menjelaskannya padamu semalam, tapi sekarang..." Sasuke menelan ludah, dan dengan sengaja ia membuat Hinata menatapnya dengan penasaran yang bercampur rasa khawatir. "Kau tau aku sangat mencintaimu kan? Dan aku juga tau betul jika kaupun sama," Sasuke memandang lekat-lekat ke wajah gadis ayu yang tengah mengangguk untuk menjawab peryantaan barusan. "Tapi... maaf, aku tidak bisa terus bersamamu Hinata, lebih baik kita sud-" Hinata reflek menyentakkan tangannya lepas dari genggaman Sasuke, ia menutup bibirnya dengan telapak tangannya sendiri, kedua matanya kini nampak berkaca-kaca, air matanya menggenang di pelupuknya, hanya butuh waktu untuk buliran bening itu jatuh."Ja-jangan.. bergurau Sasuke-kun?" Tanya gadis itu, dengan nada tertahan.

Sasuke mengatupkan kedua kelopak matanya erat, tak tahan melihat gadisnya memangis seperti itu, "Kita sama-sama sudah dewasa, kita sudah bisa memilih mana yang baik dan yang buruk, dan... keputusanku untuk menyudahi hubungan kita adalah yang terbaik Hinata."

"Terbaik untukmu mungkin? Tapi aku?.." Hinata terus menangis, bahkan air matanya kini mengalir lebih deras. "Kau mengambil keputusan sepihak tanpa peduli pada perasaanku?"

Deg!

Sasuke membelalakkan matanya, ulu hatinya terasa sakit usai mendengar ucapan gadisnya. "Kau... tidak akan pernah mengerti Hinata," lirihnya. Kalau boleh jujur, saat ini ia berusaha mati-matian untuk tidak menangis. Karena dia laki-laki, pantang bagi pria untuk menitikan air mata.

"La-lalu.. apa kau bisa mengerti seperti apa perasaanku Sasuke-kun?" teriak Hinata diluar kendali. Tak biasanya gadis kalem dan pemalu itu menjadi seperti saat ini. "Aku butuh alasan, aku ingin tau kenapa kau ingin menyudahi hubungan kita?"

Sasuke mengepalkan tangannya, "Aku, bukan jodohmu, aku tidak pantas untukmu. Itu alasan kenapa aku ingin putus denganmu," usai mengatakannya, Sasuke segera berdiri dari duduknya, bangun dan berujar, "Maafkan aku... Selamat tinggal."

"Ukh.. uhh... hiks.." Hinata menatap punggung Sasuke hingga menghilang dari hadapannya. Dan tangisnya makin menjadi saat ia yakin jika Sasuke tak akan pernah berubah pikiran. Atau setidaknya kembali sambil mengatakan jika semua pernyataannya barusan hanya gurauan. 'Sa-Sasuke-kun...'

._._. X ._._.

Pemuda bermata onyx itu memandang kosong ke arah hamparan langir malam yang luas membentang di atasnya. Wajahnya yang pucat menunjukkan ekpresi gelisah. Kepalanya terasa sakit saat ia teringat pada kejadian siang tadi. Saat ia membuat kekasih yang paling ia cintai menangis. Juga ketika ia teringat jika esok, ia akan berdiri di altar berdampingan dengan Kakashi untuk mengucap janji suci pernikahan. Banyak bayang-bayangan suram tentang apa yang terjadi pada dirinya setelah resmi menjadi 'istri' muda Kakashi.

"Akhh..." Sasuke meremas dada kirinya yang mendadak terasa sesak. Sakit. Sakit sekali rasanya saat menyadari bahwa dirinya tak dapat berbuat banyak untuk membatalkan pernikahan gila itu. Ia memejamkan mata, berusaha mengenyahkan bayang-bayang Kakashi, Hinata, juga keluarganya, meski sulit sekali untuk mengenyahkan mereka dalam otaknya walau hanya untuk beberapa detik saja.

Bluk

"Ng?" Onyxnya kembali nampak, saat sesuatu yang hangat dan lembut jatuh menutupi separo tubuhnya. "Nii-san?"

"Apa yang kau lakukan disini? Kau bisa masuk angin, Baka!" Uchiha Itachi, pria yang baru saja menutupi badan adiknya dengan selimut bersusah payah untuk duduk disamping sang adik laki-laki karena kruk yang membantunya berjalan membuat susah geraknya.

"Pertanyaan yang sama dengan yang ingin kutanyakan padamu," balas Sasuke datar.

Suara-suara binatang malam seakan mengisi keheningan yang mereka ciptakan. Hingga Itachi yang sempat menghela nafas berat berujar, "Sasuke, apa kami menyusahkanmu?"

Sasuke melihat Itachi sang kakak dengan sudut matanya, "Apa maksudmu, dan siapa yang kau maksud 'kami'?" pemuda itu balik bertanya.

"Gara-gara membela keluargamu, kau harus menyerahkan dirimu pada Kakashi, kau tau Sasuke, seandainya bisa aku mau menggan-"

"Cukup bicaramu Baka Aniki! Aku tidak mau membahas hal itu, yang terjadi yang terjadilah, aku sudah tidak peduli lagi," ujar Sasuke sambil mengubah posisinya menjadi duduk. Dan pergi meninggalkan kakaknya yang menatap iba padanya.

"Maafkan aku Sasuke, maaf..."

._._. X ._._.

Sasuke, ia berdiri mematung menatap pantulan dirinya di cermin seluruh badan di depannya. Ia nampak begitu tampan dengan tuxedo putih yang ia kenakan. Hari ini tiba, hari dimana janji suci pernikahan konyolnya dilangsungkan di Gereja.

Ckreek

Sasuke mengalihkan pandangannya ke arah seorang wanita paruhbaya yang tidak lain adalah ibunya, "Kau sudah siap Sasuke? Karena kita harus segera berangkat!" Tak ada kata-kata yang terlontar dari mulut Sasuke, kecuali menurut dan patuh.

.

.

.

Di hadapan pendeta yang sudah berdiri di depan altar, Sasuke dan Kakashi berdiri berdampingan siap untuk mengucap janji nikah. Kakashi yang mengenakan jas hitam nampak bangga dan bahagia dengan upacara pernikahan ini. Bahkan dengan lancar dan tanpa ragu ia mengucapkan janji pernikahannya. Sementara Sasuke, ia hanya terus merunduk menahan malu pada seluruh pasang mata yang menghadiri pernikahan tidak wajar ini.

"Saudara Uchiha Sasuke, bersediakah kau menikahi Hatake Kakashi. Menemaninya saat suka maupun duka, saat sakit maupun sehat, baik miskin ataupun kaya, selamanya?" pendeta itu menatap Sasuke, yang tertunduk dengan wajah tegang dan ketakutan. Sasuke menggerak-gerakkan bola matanya, ke kanan dan ke kiri, ia ingin sekali mengatakan 'tidak', tapi reputasi keluarganya dipertaruhkan disini. 'Ya Tuhan, aku harus berkata apa?' pikirnya kalut. "Uum.. Sa-saya.." ia benar-benar ragu untuk mengucapkan janji pernikahan itu. Ia lelaki yang seratus persen normal, tapi banyak hal yang dipertaruhkan jika ia menolak untuk mengatakan satu kata penting itu.

"Sa-saya.. Uchiha Sasuke.. ber.." ia diam, tidak berani melanjutkan perkataannya. Ia menelan ludah panik sambil memejamkan mata dengan posisi kepala yang tetap tertunduk. Pendeta dan seluruh saksi di Gereja itu menjadi heran, minus keluarga Sasuke yang memang sudah mengetahui jika Sasuke memang menolak perjodohan gila ini. Dan, tingkah pemuda 16 tahun itu membuat pria paruhbaya di sebelahnya menggeram kesal. Namun...

Tep

"Akh? Ng.." seperti terbangun dari tidurnya, tepukkan Kakashi di pinggangnya seakan menyadarkannya dari sesuatu. Sasuke mengangkat wajahnya, bola mata hitamnya yang nampak mati itu menatap sayu ke arah Pendeta di depannya. Lalu, bibirnya mulai terbuka, bersiap untuk mengucapkan kalimatnya, "Saya, Uchiha Sasuke, bersedia menemani Hatake Kakashi, saat suka maupun duka, saat sakit maupun sehat, saat miskin ataupun kaya, selamanya..." ucap pemuda itu lancar, meski suaranya terdengar lemah dan monotone, seperti dikomando seseorang untuk mengatakan hal itu. Tak jauh berbeda dengan manusia yang sedang terpengaruh oleh hipnotis manusia lainnya.

"Sekarang, Hatake Kakashi dan Uchiha Sasuke, resmi menjadi sepasang pengantin." Kata-kata final Pendeta berpakaian serba hitam itu. Fugaku mengepalkan jari-jarinya, ia yakin benar jika semua ikrar yang dirapalkan sang putra bungsu dikatakan bukan karena keinginannya. Ia tau itu semua diucapkan oleh Sasuke karena pikiran anaknya itu sedang berada dalam kendali orang lain.

Semua saksi tamu yang menghadiri upacara pernikahan itu turut bahagia atas pengesahan hubungan Sasuke dan Kakashi, walaupun hubungan dan pernikahan sesama jenis sangat jarang di lakukan. Kakashi menyeringai puas atas kemenangannya untuk menaklukan sang Uchiha muda. Begitu pendeta mempersilahkan mempelai pria untuk mencium pasangannya, Kakashipun tanpa ragu lagi segera membingkai pipi halus Sasuke yang lebih rendah darinya, dan memagut bibir mungil si raven dengan bibirnya. Menciumnya dengan penuh gairah. Lidahnya bersemangat untuk mencicipi tiap inchi mulut Sasuke. Tanpa menginginkan ada satu bagianpun yang dilewatkan olehnya.

"Ukh.. Ennh?" mata sayu Sasuke mendadak membelalak, pupilnya mengecil seketika begitu ia sadar jika bibirnya telah dikulum oleh lelaki pedopil bernama Hatake Kakashi saat ini. Ia terhenyak, ia tidak mengerti dan seakan lupa dengan kejadian yang terjadi lima menit yang lalu. Seakan-akan, ia baru terbangun dari tidurnya. "ennhh..." disela ciuman yang berlangsung lama itu, setitik bening meluncur lembut dari sudut mata Sasuke. Ia yakin, jika pria dihadapannya ini telah resmi memiliknya.

._._. X ._._.

Graha dengan dekorasi khas Eropa memenuhi ruangan resepsi pernikahan Sasuke dan Kakashi yang digelar besar-besaran dan diliput oleh banyak wartawan tanpa merasa risih atau malu karena hubungan tak wajar mereka. Makanan dan minuman yang disusun di atas meja prasmanan nampak sangat lezat. Para tamu undangan yang terdiri dari kalangan pengusaha, pejabat, dan artis itu satu persatu menyalami Kakashi dan Sasuke yang berdiri di atas pelaminan dengan Tuxedo putih yang diranjang dengan mewah.

"Selamat ya, Kakashi. Selamat ya Sasuke-kun." Semua ucapan selamat yang diberikan para tamu, hanya mampu dibalas dengan senyum tipis yang terkesan dipaksakan oleh Sasuke. Ia lelah dengan semua ini. Cobaan yang ia lalui akhir-akhir ini membuat pikirannya agak kacau, dan menganggu nafsu makannya. Onyx miliknya melirik ke arah Kakashi yang nampak bahagia itu. Kepalanya terasa sakit sekali jika harus memikirkan kejadian yang ia alami saat ini. Menikah dengan orang yang tidak ia cintai bukan keinginanya, apalagi menikahi seorang pria, itu bukan cita-citanya. Ia lelaki normal, ia ingin menikahi seorang perempuan, memilik anak-anak yang lucu, hidup bahagia sampai mati dengan keluarganya. Namun semua yang terjadi sekarang inin, benar-benar sudah melenceng jauh dari mimpinya. Membuatnya berfikir, jika semua yang menimpanya ini adalah takdirnya, takdir dan mimpi buruk seorang Uchiha Sasuke.

.

.

.

"Ukh!" Sasuke menyibak poni di keningnya ke belakang dengan frustasi. Wajah pucatnya memandang nanar ke depan, dimana pria dan wanita nampak sangat bahagia ditengah deritanya. Pandangannya agak memburam saat ini, sejak semalam sampai menjelang malam, hanya beberapa teguk air putih dan sedikit camilan yang menyentuh kerongkongannya. Ia lemah saat ini.

"Sasuke..."

Hn?" Sasuke menengadah untuk bertatap muka dengan sang Hatake.

"Ayo kita kesana, mari kita nikmati pesta ini!" ajak Kakashi sambil menunjuk para koleganya yang tengah berbincang-bincang ntah urusan apa. Sasuke yang merasa tidak enak badan saat ini ingin sekali menggeleng, tapi belum sempat ia menolak, Kakashi sudah menggamit jari-jarinya yang langsung di tarik kasar olehnya sambil berujar, "Aku bisa jalan sendiri," ujarnya. Kakashi tersenyum, mencoba terlihat baik di depan pemuda 16 tahun itu.

.

.

.

Sasuke berjalan lemah di belakang Kakashi yang satu langkah di depannya, kepalanya terasa berat dan sekelilingnya seperti berputar. Keramaian dan suara riuh rendah para tamu makin membuatnya pusing. "Nngh..." tubuh ramping Sasuke terhuyung ke depan. Tapi dengan reflek yang cepat, Kakashi memutar tubuhnya menghadap ke belakang, dan segera ia menangkap tubuh Sasuke yang sudah tidak sadarkan diri itu sebelum jatuh. "SASUKE!" Mikoto yang kebetulan berada di sekitar sang anak langsung berseru menyebut nama putranya dengan panik.

._._. X ._._.

Sasuke sedang terbaring lemah di atas kingsize mewah yang dihiasi oleh pita dan buket bunga dipinggir-pinggir ranjang. Menambah semarak dekorasi kamar yang memang sudah banyak dihiasi oleh macam-macam pernak-pernik khas pengantin baru. Di samping tubuh Sasuke, duduk seorang wanita paruhbaya, berambut coklat sepundak ang sedang memeriksa tekanan darah Sasuke. Usai menyimpan tensimeternya, ia segera mengompres kening sang Uchiha muda yang memang sedang demam itu. Lalu dengan lembut ia merapikan kancing baju Sasuke yang sudah berganti dengan piyama warna biru tua.

"Ughh..." Sasuke mengerjap-erjapkan matanya sesaat setelah sadar dari pingsan. Ia meraba keningnya yang terasa lebih dingin sementara sekujur tubuhnya yang lain begitu panas.

"Syukurlah kau sudah sadar." Sasuke menelengkan wajahnya menghadap wanita seumuran ibunya yang sedang tersenyum lembut padanya dengan tangan yang sedang membawah sebuah nampan berisi obat dan air putih.

"Anda, siapa?" tanyanya. Tak segera menjawab pertanyaan Sasuke, perempuan itu lebih dahulu meletakkan nampan di laci samping tempat tidur dan duduk disebelah Sasuke. "Aku, Rin. Aku.. istri pertama Kakashi.." jawab wanita itu lembut. Walaupun, ia yakin jika kalimat terakhirnya mampu membuat Sasuke sedikit membelalak matanya.

Sasuke terdiam, rasa bersalah menyeruak tiba-tiba dari lubuk hatinya, ia merasa menjadi orang yang paling kejam karena sudah merebut suami orang, walau ia tidak pernah menginginkannya. "Kau cuma demam biasa, pasti pernikahan dadakan ini membuatmu kelelahan ya?" perempuan 36 tahun itu sibuk mengangganti kompres di dahi Sasuke dengan yang baru.

Sasuke diam tak membalas, sampai akhirnya ia bergumam, "Maafkan aku, aku pasti sudah membuatmu sedih," ucapnya penuh sesal. Wanita bermata coklat itu mengernyitkan keningnya, "Apa maksudmu a-.."

"Aku salah, aku sudah merebut suamimu, aku sudah merusak rumah tanggamu. Tapi sungguh ini bukan kemauanku, aku tidak mau menikahi suami, tapi aku tidak punya pilihan, keluargaku bisa menderita jika aku menolak, dan aku tidak mau itu terjadi... Jadi kumohon maafkan aku Bi..." tangis penyesalan pecah saat itu juga. Ia yang kini tak lagi berbaring tenang di atas ranjang malah berlutut di depan kaki perempuan berambut sebahu itu untuk meminta maaf.

Pluk

Spontan Sasuke mengangkat wajahnya saat kepalanya ditepuk dan diusap oleh Rin, "Apa kau tau, Sasuke. Baru kau suami Kakashi yang berlutut minta maaf sampai seperti ini." Sasuke menegakkan punggungnya, lalu mengusap lelehan air matanya dengan punggung tangannya. "Ketiga pasangan Kakashi yang lain tidak pernah melakukan hal yang seperti barusan, tanpa beban mereka merebut Kakashi dariku, perhatiannya, kasih sayangnya, mereka dengan tanpa dosa menikmati status mereka tanpa peduli padaku sebagai istri pertama. Tapi kau berbeda, aku tau kau dipaksa, dan kau melakukan pernikahan konyol ini demi keluargamu, jika aku ada dalam posisimu, mungkin aku juga takkan memiliki pilihan," Rin tersenyum lembut pada Sasuke sambil mengelus pipi halus pemuda itu. "Ini bukan salahmu, ini sudah takdir-Nya. Lagipula, aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri, karena kau tau sendirikan, jika aku juga memiliki seorang anak seumuranmu, jadi kuharap kau tidak keberatan dengan itu?"

Sasuke balas tersenyum, "Kalau begitu, boleh aku memanggilmu 'Ibu'kan?" Rin mengacak-acak rambut pemuda berkulit putih itu, lalu tanpa ragu, ia membentangkan kedua tangannya untuk memeluk Sasuke, "Haha, 'Ibu' ya? Aku sudah lama tidak mendengar seseorang memanggilku dengan sebutan itu. Rasanya aku bahagia sekali." Sasuke yang balas memeluknya berkata, "Kalau begitu aku akan terus memanggilmu begitu, agar kau senang, Ibu.." saat itu ia memejamkan matanya, kehangatan dekapan Rin itu sungguh menenangkan hatinya, ia seakan mendapatkan setitik kebahagiaan saat bersama wanita itu. Wanita yang penyayang seperti ibu kandungnya sendiri.

.

.

.

"Tidurlah, kau harus banyak istirahat untuk memulihkan kesehatanmu!" pesan Rin sambil membetulkan posisi bantal yang digunakan Sasuke untuk merebahkan kepalanya yang baru saja diserang rasa pening. "Aku akan buatkan kau bubur, jadi tunggu saja disini ya!" Anggukan kecil Sasuke tadi seakan mempersilahkan perempuan yang tetap terlihat cantik itu untuk meninggalkan kamar mewah dengan berbagai hiasan khas ranjang pengantin. Tak berapa lama kemudian, Sasuke memejamkan kedua kelopak matanya. Ia lebih memilih tidur saat ini, dengan harapan ketika ia bangun esok hari, semua yang terjadi padanya hanyalah mimpi buruk.

._._. X ._._.

CKLEEK

Tak lama setelah Sasuke jatuh ke dalam alam mimpi. Kakashi yang masih mengenakan jas lengkap itu masuk ke dalam kamar. Ia dekati sosok 'istri' kelimanya yang terbaring di atas ranjang dengan langkah pelan tanpa dentuman. Dengan perlahan ia mendudukkan diri di samping tubuh Sasuke, tangan-tangan keriputnya terangkat untuk mengusap pipi halus Sasuke yang kontras dengan telapak tangannya yang kasar, bola mata pearl blacknya mengamati wajah tampan sang Uchiha dengan penuh kasih sayang, meski lama-kelamaan, sorot mata itu berubah menjadi nafsu. Ia tak tahan untuk 'meraup' sosok itu, mencicipi betapa bangganya saat dapat menandai Sasuke dengan kissmark karyanya. Terutama, di bagian leher jenjang Sasuke, yang cocok untuk menjadi media tempatnya menciptakan 'karya seni'. "Sayang hari ini, aku tidak dapat melakukan malam pertama denganmu Sasuke," ia longgarkan sampul dasi yang seakan membelenggu lehernya. "Tapi esok, saat kau bangun... akan kubuat kau takluk dan kecanduan 'Seks' Sayang..." lirih Kakashi, setengah mendesah. Usai mengatakan hal tersebut, ia beringsut dari tempat tidur Sasuke menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

._._. X ._._.

Sementara, di tempat yang berbeda diwaktu yang sama. Dalam ruangan minim penerangan, nampak pemuda berpupil hitam dengan rambut hitam yang tak kalah legam dari malam tengah menyaksikan siaran berita pernikahan Kakashi dan Sasuke. Kedua sudut bibirnya terangkat, dan berkata, "Uchiha Sasuke. 16 tahun. Seorang heteroseksual, menikah dengan Hatake Kakashi, 48 tahun, seorang biseksual," racaunya. "Hmmpf... HWAAHAHAHAHA... Uchiha yang malang..." tawanya meledak-ledak saat ia menyaksikan sorot luka di wajah Sasuke yang kebetulan di-zoom oleh salah satu kameramen. "Dan, Hatake yang 'curang'..." desisnya ketika melihat Sasuke merapalkan sumpah nikah dengan tatapan kosong usai ditepuk oleh pria tua berambut perak itu. "Selamat untukmu 'nona' Uchiha, selamat untuk gelarmu sebagai istri kelima," kembali tawa pemuda itu membahana di seluruh ruangan tersebut. Tapi, sedetik kemudian, ekpresi bahagianya berubah murung. Sorot matanya menyiratkan luka. "Hatake Kakashi brengsek!" umpatnya sejurus kemudian. "Akan kubuat kau sadar jika Uchiha hanya milikku, UNTUKKU!"

._._. X ._._.

TBC

._._. X ._._.

Saatnya bales review...

Ryuuka Uchiha: Yang nabrak Naru bukan ya? Fu juga bingung *plak*. Baca aja terus, ntar juga tau kok. Gomen kalo apdetnya kelamaan.

N.h: Sayangnya, pernikahan tetap berlangsung, hehe.. Tapi tenang aja N.h-san, KakaNaru nggak akan kejam kok ke Sasu.. mungkin agak licik, *puak*. Makasih sudah mereview.

niro: Hai, Niro-san, salam kenal juga. Yang nabrak Sasuke emang masih dirahasiakan, dan sayangnya pernikahan masih tetap berjalan sesuai jadwal. Maaf apdetnya lama, dan thanks sudah review.

Nee-chan: Nee-chan, Kakashi itu gak jahat, tapi licik..kekeke *devil mode*. Siapa juga yang bilang kalau nabrak 'Suke itu Naru, bisa aja Minato, atau Deidara, atau *dibekep*. Oke, Nee-chan, nih udah Fu update, Suke ga menderitakan?..hehe

XC: Naru pasti muncul, tapi belum sekarang. Anda taulah, pahlawan kan munculnya akhir. Emang, orang tua yang mau matikan banyak pengennya *diraikiri*. Udah Fu apdetkan? Semoga puas...

Pena Hitam: 'Suke kan emang masih perawan *disusano'o. Yang nabrak Sasu itu masih dipertanyakan emang, *plak* Oke, Fu dah lanjutkan nih. Makasih sudah review.

Mee: Udah update keduanya, semoga nggak kecewa.

Mei chan: Ahh, Fu puas bisa buat Mei-san nangis *dGampar*. Naruto ada hubungan apa ya? Wez, baca terus ae, ntar juga tau...hehe. Tenang, Sasuke nggak akan semenderita yang biasanya kok. Makasih sudah review.

MikisasUKE naruSAME fans: Gomen ya updatenya lama, disini Suke jadi 'istri'nya pak tua Hatake..hehe, Untuk usulan kamu, Fu akan pikirkan lagi *sok*.

Oke, makasih sudah review. Terakhir, makasih buat Mr X yang sudah suruh Fu tobat... Dan terakhir, siapakah pria bermata dan berambut hitam itu? Mohon berkenan untuk R-E-V-I-E-W