Fifth Wives ... By Fu For Fujoshi
Naruto.. Milik Masashi Kishimoto
Pair: Saat ini masih Kakashi X Sasuke, Naruto X Sasuke
Warn: NC-17, YAOI, BL/Sho-ai. Lemon, lime, rape (maybe). Typo, Gaje, OOC, AU, dll.
"..." talk
'...' mine
._._. X ._._.
"Nngg..." Suara erang lembut itu meluncur dari sosok pemuda berkulit putih susu itu. Bola mata obsidian yang ia sembunyikan dibalik kelopak matanya, akhirnya menunjukkan wujutnya. Ia yang baru bangun tersentak kaget melihat Kakashi, pria yang kini telah resmi menjadikan suaminya, tengah mengecupi dan menjilati punggung tangannya.
"Brengsek! Apa yang kau lakukan?" bentak Sasuke, sebisa mungkin ia berusaha menyentakkan tangannya dari genggaman pria tua itu.
"Ohayou, sayang... Tidurmu nyenyak sekali," balas Kakashi enteng. Ia tetap melakukan kegiatannya, dan malah menggigit kulit tipis tangan halus Sasuke.
"Akh.." kaget karena digigit tiba-tiba, Sasuke reflek menghentakkan tangannya, lepas dari Kakashi. "Dasar tidak waras!" serunya sambil mengusap punggung tangannya yang memerah disalah satu titik bekas gigitan Kakashi.
"Dan aku bangga, bisa menjadikanmu 'istri' lelaki gila," balas Kakashi sarkartis. Sebelah sudut bibirnya terangkat untuk mengejek, pemuda 16 tahun yang masih tiduran di atas ranjang.
"Apa maumu?" tanya Sasuke, garang.
Kakashi menyibak selimut yang dikenakan Sasuke, "Waktunya sarapan. Aku membangunkanmu hanya untuk itu, tapi melihatmu tidur, ntah kenapa libidoku jadi naik," jawab Kakashi apa adanya. Sasuke memandang tajam lelaki itu, ingin sekali menonjok wajahnya sekarang juga. "Cepat mandi, lalu segera turun ke bawah. Dan, jangan membantah!" jelas Kakashi, yang sudah tau jika Sasuke hendak memprotes, intrupsinya.
"Huh!" Sasuke mendorong pundak Kakashi agar lebih mudah baginya untuk turun dan pergi ke kamar mandi.
.
.
.
Di atas meja makan berbentuk empat persegi panjang itu, tersaji banyak makanan yang siap membangkitkan selera dan menambah energi untuk aktifitas di pagi ini. Kakashi sedang berbincang dengan Rin, istri pertamanya saat Sasuke muncul dan berjalan ke arah mereka.
"Oh.. akhirnya kau muncul juga 'istri'ku..." kata Kakashi. Sasuke tak membalas, ia lebih memilih diam dan duduk di kursi yang baru saja disiapkan oleh suaminya itu. "Nah, sebelum sarapan, aku ingin kau berkenalan dengan istri kedua dan ketigaku, Mitarashi Anko, dan Umino Iruka."
Sasuke menggulirkan bola matanya, menatap kedua orang itu bergantian. Pertama-tama, Mitarashi Anko, wanita berambut hitam pendek itu, terlihat angkuh. Nampak jelas di raut wajahnya jika ia sangat menolak kehadiran Sasuke dalam rumah ini. Pria kedua, Umino Iruka. Dia nampak lebih kalem dan bersahabat daripada Anko yang acuh. Terbukti dengan cara ia tersenyum pada Sasuke yang tengah menjabat tangannya.
"Nah, karena kalian para istriku sudah berkenalan, sekarang, kita bisa mulai sarapannya," komando Kakashi.
"Fiuh... Akhirnya, aku bisa mengisi perut keronconganku usai mengikuti 'ritual' tadi," celetuk Anko. Matanya memandang sinis ke arah Sasuke yang tak kalah dingin saat menatapnya. Menyadari aura negatif yang menguar dari sosok keduanya, Rin yang duduk disamping Sasuke mengambil inisiatif, "Ne, Sasuke-kun.. kau mau makan apa dulu? Sup atau salad?"
"Aku mau sup saja, Bu..."
"Hehe, 'Bu'," ledek Anko. Merasa ditertawakan Sasuke, membalas, "Apa kau keberatan, Istri kedua?" ujar Sasuke.
"Yah, sangat keberatan atau lebih tepatnya terganggu, terganggu oleh suaramu!" tandas Anko, cepat.
"Heh," Sasuke mengangkat sudut bibirnya, "Kalau begitu, sumpal saja telingamu dengan pisau, supaya kau tidak dapat mendengar suaraku dan suara-suara yang lain!" sahut si raven tak mau kalah.
"Che, dasar pria homo, murahan, pela-"
"HENTIKAN ANKO! Kau membuat keadaan disini menjadi kacau!" bentak Kakashi sambil menggebrak meja.
"Keadaan disini memang sudah kacau semenjak ada dia!" Anko menunjuk-nunjuk wajah Sasuke dengan tidak sopan. Dan hal itu makin membuat Sasuke geram.
"Brengsek! Apa maumu sebenarnya?" Sasuke turut berdiri, menyamai Anko yang lebih dahulu bangun dari duduknya. Keduanya benar-benar tersulut sekarang ini.
"Sasuke, sudah tenanglah!" Rin menarik lengan bungsu Uchiha itu, namun segera ditepis kasar oleh Sasuke. Anko menyilangkan kedua tangannya di dada, "Bertanya tentang mauku, yang aku inginkan adalah kau enyah dari rumah i-"
PLAAK
"Kalau kau tidak bisa mengubah sifat egoismu itu, lebih baik kau yang pergi dari rumah ini!" Bola mata Anko membelalak tak percaya, ia tidak menyangka jika Kakashi lebih membela 'istri' barunya dari pada dirinya yang sudah dinikahi Kakashi lebih dari 10 tahun ini.
"Ukh..." Anko meremas napkin di tangannya, sebelum melemparnya ke piring kosong miliknya dan melenggang pergi dari meja makan. Kakashi tak peduli lagi pada Anko, dia cukup sering membuat keributan dengan para 'istri'nya, tak terkecuali Iruka. Ia menghembuskan nafas, "Duduklah Sasuke! Lebih baik cepat habiskan sarapanmu!"
Sasuke menelengkan wajahnya menghadap Kakashi, "Tidak perlu, selera makanku sudah hilang!" balas pemuda itu sambil mengenakan tas ranselnya bersiap ke sekolah. "Lagipula, aku sudah terlambat!" Begitu mengakhiri kalimatnya, ia pun beranjak dari sana.
Pemuda berkulit putih itu mengerutkan keningnya, ia tak menyangka, pagi ini ia sudah disambut oleh hal seperti tadi.
._._. X ._._.
Uchiha Sasuke. Ia hempaskan tubuh lelahnya ke atas king sizenya sesaat setelah ia pulang dari sekolah beberapa waktu yang lalu. Hari ini adalah hari yang panjang baginya. Banyak hal yang membuat kepalanya berdeyut sakit jika dipikirkan. Mulai dari percekcokan antara ia dan istri kedua Kakashi. Tatapan sinis dan mencemooh dari teman-temannya di sekolah. Tugas-tugas OSIS. Dan terakhir, saat Hinata datang dan mencaci makinya dengan kata-kata yang tak seharusnya keluar dari gadis itu. Sakit sekali saat ia mendengar semua itu dari mulut Hinata. Gadis yang kini amat membencinya dan menganggapnya sebagai homoseks. Ingin sekali ia hilang ingatan daripada harus terus menerus teringat pada kenyataan yang membebaninya ini.
"Kebahagiaan, benar-benar tidak berpihak lagi padaku," gumamnya. Lelah dengan segala hal tentang hari ini, Sasuke akhirnya jatuh tertidur.
.
.
.
.
.
Kakashi's POV...
Kupandangi sosok sempurna 'istri' kelimaku yang tengah tertidur pulas, mungkin ia terlalu lelah mengurusi tugas dan kegiatan di sekolahnya seharian tadi. Sasuke begitu tampan dan manis, sangat menggemaskan. Kedekatkan diriku pada dirinya yang sama sekali tak terusik oleh kehadiranku, kukecupi kening dan pipinya, dan kuhirup dalam-dalam aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya. Mendebarkan. Di kamar Sasuke yang remang ini, aku mulai mengangkat tangan kananku untuk memeluk tubuhnya yang hangat. Kujamah tubuh ramping miliknya, dan mulai kelepas satu persatu kaitan kancing seragamnya.
"Enng...Ah? Kau, apa yang kau lakukan?" tiba-tiba Sasuke terbangun dan menyergahku, ia nampak panik saat itu.
"Ssst.. Diam dan menurut saja Sasuke, kau adalah 'istri'ku, sudah sewajarnya kalau kau melayaniku sebagai suamimu," kataku tenang. Yah, aku baru ingat, sudah genap seminggu aku menikahi Sasuke, tapi aku belum pernah meminta jatah malam pertama padanya. Aku terlalu takut ia terluka waktu itu. Tapi, malam ini, aku ingin ia melayaniku, aku ingin ia memuaskan nafsuku yang sudah tak terkendali.
"Jangan bercanda Kakashi-san!" ucapnya, wajahnya terlihat pucat dan ketakutan, sorot matanya memandangku iba, sorot mata yang ekspresi terkejut dari kedua bola matanya, namun aku tidak peduli.
.
.
.
.
.
Jelas sekali dari raut wajah Sasuke jika, ia ketakutan. Ia terdesak oleh pilihan, keluarga dan harga diri. Ia hanya dapat memohon belas kasih dariku yang mulai melucuti seluruh pakaianku dan mulai menjatuhkan diriku di sebelah Sasuke yang lebih dahulu polos, hingga tubuh indahnya yang putih mulus itu tersaji dihadapanku.
"Anggap saja, kau melakukan semua ini demi kebahagiaan keluargamu, Sasuke-chan," bisikku di telinganya.
"Tapi... aku tidak sanggup jika harus melayanimu," desis Sasuke ketakutan. Matanya terlihat berkaca-kaca membayangkan, apa yang akan aku lakukan padanya dalam beberapa menit kedepan. "Aku, tidak mau! Aku tidak bisa, Kakashi-san..."
"Harus Sasuke, kau harus memuaskanku sebagai suamimu!" tandasku dengan nada mengintimidasi. Bersamaan dengan itu, aku kegeser kedua pahanya yang langsung ia rapatkan kembali.
"Kumohon jangan, Kakashi-san..." ia menggeleng lemah, mengharap belas kasihanku, namun, kuindahkan keinginannya tersebut. "Kakashi-san, kumoh-.. anngghh..." ia tak melanjutkan kata-katanya saat tanganku mulai meremas kesejatiannya yang masih lemas, kukocok dan kuusap lembut.
Sasuke memandangku dengan tatapan horor, walau begitu, dapatku dengar ia mendesah-desah meski perlahan. "ahhh... ahhh... nnnghhh..." kudengar suara desahnya makin intens, saat aku mulai mempercepat gerakan tanganku yang sedang memanja miliknya, sementara tanganku yang lainnya sibuk memilin dan menekan-nekan puting kecil di dadanya. Kuturunkan wajahku, kukecupi kesejatian Sasuke, lalu lidahku mulai bergerak untuk menjilat ujung miliknya.
"Shhh... Kakashi-sann.. henntikkannhh..." desahnya, meski aku yakin jika ia mulai terangsang oleh perlakuan nakal lidahku. Dengan lembut, aku terus memanjakan miliknya yang menegang, dan itu berhasil. "Akhh.. ahhh..." ia mengerang tertahan saat aku meraup kesejatiannya. Kukulum dan kuhisap. "Ouhhhh..." Sasuke melenguh, kurasa ia mulai menikmatinya.
"Nnngghh... ahhh... haaa..." Sasuke terus menggeliat, tubuhnya mulai basah oleh keringat. Pantatnya naik turun sesuai irama hisapanku, dan... "Akh.. ARRGGHHH..." badannya mengejang kuat, ia jambak helai perakku, dengan kepalanya yang mendongak ke atas. Yah, tepat saat itulah, Uchiha Sasuke menyemburkan cairan kejantanannya.
"Nnhh..." badannya ambruk, ia lemas usai ejakulasi. "Manis, sepertimu sayangku," desah Kakashi usai menelan cairan Sasuke. "Sekarang giliranmu, untuk 'memanjaku'!" sambil berkata demikian, aku menarik kedua lengan Sasuke, kuubah posisinya menjadi menungging dengan wajahnya yang tepat berada di depan milikku yang menegang. "Hisap, dan kulum. Lakukan seperti apa yang aku lakukan padamu!"
"Aku, tidak mau.." ia menggeleng lemah, ia tatap milikku dengan risih. "Tapi kau harus Sasuke, sebagai 'istri', mematuhi perintah suami adalah kewajibanmu, umm... atau kau ingin keluargamu-" belum selesai aku berbicara, ia menyela...
"Baik, akan aku lakukan, tapi kumohon... jangan usik keluargaku," Dari ucapannya, aku sangat yakin jika Sasuke sangat menyanyangi keluarganya. Dan itu membuat tak tahan untuk tidak menyembunyikan senyum penuh kemenanganku.
Dengan tangan gemetar, Sasuke mulai meraba milikku, "Sshh..." meski lambat, kocokkannya mampu membuatku melambung, nikmat sekali. "Lebihhh... Sasuke, aku mauuhh... lebih..." mengerti maksud ucapanku, Sasukepun menyudahi gerakan tangannya, dan mulai membuka mulutnya dengan ragu. Ia tatap wajahku, dan aku balik memandangnya, dapat kulihat ekpresi jijik di wajah tampannya, tapi hanya sebentar, karena saat berikutnya ia kembali merunduk.
"Akhhh..." aku mengerang, kurasakan lidahnya mulai bergerak membasahi milikku. Rongga lembabnya terasa hangat saat itu. Mmnn... nikmat sekali.
"Hogghh..." Sasuke sempat tersedak beberapa kali ketika aku membantunya untuk memajumundurkan kepalanya. Raut wajahnya masih menunjukkan rasa jijik, namun aku tidak peduli, karena aku menyukainya.
"Mmnnhh... ahhh..." aku melenguh nikmat, tubuhku terguncang hebat. Yah, tepat saat ini, aku dilanda ejakulasi. Hnmm... nikmat sekali rasanya dapat melambung tinggi bersama orang yang aku cintai. Uchiha Sasuke.
Kakashi's POV END...
._._. X ._._.
"Ugh..." Sasuke memucat, cairan kental yang baru saja menyapa kerongkongannya membuatnya mual. "huekk.. huek..." dengan segera ia menutup bibirnya yang terkatup dengan telapak tangannya, lalu dengan gerakan cepat ia turun dari atas ranjang mewah itu. Namun, sebelum ia mencapai pinggir ranjang, Kakashi mencengkal lengannya dengan kasar, membuat tubuh Sasuke terbanting ke atas king size itu. "Mau kemana kau?" sambil menindih dada Sasuke, pria 38 tahun itu bertanya.
"Mual, huek.. aku mau.. emmhh..." Sasuke yang tidak tahan dengan sari Kakashi dalam perutnya itu kini tak dapat berkutik, ia yang sedaritadi merasa mual kini hanya dapat diam dan pasrah membiarkan cairan kental menjijikkan itu terus berada dalam tubuhnya, sebab saat ini, Kakashi sedang membenamkan wajah Sasuke di selangkangannya, kembali menjejalkan kesejatiannya dimulut kecil Sasuke. Membuat si raven kesulitan menghirup oksigen.
"ehhmmp... emmhh..." lengan putih Sasuke terkulai ke samping, dadanya terasa sesak, pandangannya memutih untuk sesaat. Dan jika beberapa detik saja Kakashi tetap berada dalam posisi itu, Sasuke yakin ia akan pingsan kehabisan nafas. "Ahhh... aaah... ahh..."
"Bagaimana? Masih mual?" tanya Kakashi pada Sasuke yang masih terengah. Dengan lemah pemuda 16 tahun itu menggeleng. "Bagus, karena aku tidak mau pasangan bercintaku memuntahkan spermaku..." ujarnya sambil menepuk-nepuk pipi halus sang Uchiha yang sudah kepayahan. "Sekarang, saatnya babak utama. Aku, ingin membobol 'keperawanan'mu Sasuke. Aku ingin merasakan lubang milikmu," bisik Kakashi setengah mendesah.
"Jangan... jangan disana, kumohon!" Sasuke menggeleng lemah, wajahnya menyiratkan rasa iba. Tapi, Kakashi sama sekali tidak menghiraukannya. Ia hempaskan tubuh Sasuke ke atas ranjang dengan kasar. "Cepat berbalik!" perintahnya.
"Tidak! Aku tidak mau!" tolak Sasuke, berusaha melawan. Namun... ntah kenapa saat melihat bola mata black pearl Kakashi, pikirannya mendadak menjadi kosong. Rasa takutnya sirna. Perasaannya mendadak menjadi tenang.
'Sebenarnya, aku tak mau menggunakan cara ini, tapi... aku benar-benar tidak dapat menahan diri untuk tidak 'memerawanimu' Sasuke,' desisnya dalam hati. Saat ini, dengan kemampuannya, ia hipnotis sang istri kelima. Berusaha mengosongkan pikiran Sasuke dan membuat pemuda itu hanya patuh dan mengikuti kata-katanya.
"Bangun, dan mendekatlah padaku!" komando Kakashi sambil menarik lengan putih Sasuke. Pemuda itu hanya patuh. Mata hitamnya yang nampak mati memandang Kakashi dengan tatapan yang tak bisa dimengerti.
"Aahhaa... aahhh..." lidah Kakashi terjulur untuk menjilat puting kecil Sasuke, menghisapnya kuat-kuat seakan memerah sesuatu. Tangan kekarnya memeluk pinggung Sasuke, dengan jari-jarinya yang sibuk merababongkahan pantat Sasuke, dan...
"AKKHHH..." Sasuke terhentak kaget ketika satu jari Kakashi berhasil mencoblos lubang senggamanya. "ukh... ennnhhaa..." dua jari sekaligus turut masuk. Mengocok dan mengoyak liang Sasuke, membuat gerakan-gerakan zig-zag hanya untuk memperbesar lubang sempit itu walau sedikit. "akhh.. ogghhh... mmnnhh..." Sasuke menggeliat resah merasakan rasa sakit di bawah sana, namun ia juga tak bisa membendung kenikmatan yang Kakashi berikan saat Kakashi menjilat twinball dan batang kesejatiannya.
Merasa jika ini saatnya, Kakashi segera membaringkan Sasuke ke atas kingsize dengan posisi tengkurap. Sementara dirinya duduk diantara kedua paha putih Sasuke yang terkangkang. Ia raih miliknya sendiri dan ia gesekkan dengan bibir lubang Sasuke. Si raven hanya diam saja kala itu. Sebab dalam pikirannya, hanya dipenuhi oleh kata 'patuh' saja. Kakashi menyeringai penuh rasa bangga saat mengarahkan miliknya di liang Sasuke. Ia bangga karena hendak 'memerawani' pemuda itu. Ia bangga karena menjadi orang pertama yang mencicipi nikmatnya dihimpit oleh lubang sempit itu.
"Nikmatilah milikku Sasu-"
Ckleek
Tiba-tiba pintu kamar mereka terbuka. Sosok pemuda berambut hitam dengan pupil senada muncul sambil menyunggingkan senyum seringai, "Ops, apa aku menganggu?" pemuda yang sedang menyandarkan punggungnya di daun pintu dengan kedua tangan menyilang di dada. Kakashi melotot tidak percaya memandang sosok pemuda itu, "Kau? Kenapa kau bisa ada disini?" tanyanya tak percaya.
"Uum, apa kau lupa Kakashi-san? Ini juga rumahku, karena aku 'istri'mu," ujarnya dengan nada penekanan dikata istri. "Dan lagi, kamar yang kau gunakan untuk bercinta ini adalah kamarku, apa kau lupa?" Dengan santainya, lelaki masuk ke dalam kamar dan duduk di samping Sasuke yang masih terengah-engah dengan kelopak mata separo terpejam. Bahkan, ia tidak peduli pada tatapan tajam Kakashi yang tertuju padanya.
"Sejak kapan kau ada disini?"
"Sejak kau hendak memasukkan benda 'itu' ke dalam lubang sempitnya," balas Naruto sambil memainkan jari telunjuknya, dan menunjuk milik Kakashi yang berdiri tegak, serta lubang sempit Sasuke yang hendak dikoyak.
"Hmm... kamar ini tetap tidak berubah ya? Tetap nyaman seperti biasa," kata lelaki itu, sambil mengedarkan pandangannya untuk melihat inci demi inci kamarnya. Hingga, pupil hitamnya berhenti pada sosok Sasuke yang tengah tengkurap dengan mata terpejam di sampingnya. Pemuda itu tersenyum, atau lebih tepatnya menyeringai, dan ia berkata, "Hai, 'Nona'... namaku Namikaze Naruto, salam kenal." Yah ia mempernalkan sosok dirinya, hanya saja itikat baiknya tak disambut baik oleh sang Uchiha. "Uum... kelihatannya, kau tidak mendengarku," ia menautkan sebelah alisnya, sejurus kemudian ia dekati wajah Sasuke -yang tanpa disadari oleh siempunya- dan...
PLAAK
Kakashi menampar keras pipi Naruto hingga memerah, "Jangan coba-coba menyentuh Sasuke!" bentak lelaki tua itu. Emosinya membuncah saat Naruto -dengan lancangnya- hendak mencium Sasuke. Naruto mengelus pipinya yang terasa panas, namun raut wajahnya tak menunjukkan rasa jera, "Jangan ya? Hm, baiklah, akan kupikirkan lagi requesmu itu, Suamiku..." balasnya dengan nada sarkastik.
"Kau be-"
"Hoaam... Sudah larut, ini waktunya untuk tidur? Jadi bisa tidak kau tinggalkan tempat ini?" tanya Naruto yang terdengar seperti perintah. Dengan jelas ia dapat melihat jika sang Hatake benar-benar marah padanya. Namun, bukan Namikaze Naruto namanya jika peduli dengan sekitarnya.
"Kau menganggu 'acara'ku!" umpat Kakashi sambil turun dari ranjang ukuran besar itu. "Kau bisa lanjutkan 'acara'mu lain kali bukan?" timpal Naruto. Kakashi menatap tajam ke arah Naruto yang sudah mengambil posisi tiduran, lalu ia gulirkan bola matanya pada Sasuke yang sama sekali tak bergeming ditempatnya, "Sasuke, ayo kita keluar da-"
"Dia sudah tidur, lebih baik kau pergi saja sendiri!" sahut Naruto usai tanpa sengaja mendengar dengkuran halus dari bibir Sasuke. "Tenang saja, aku takkan mengambil jatahmu, kau tak perlu khawatir!" lanjutnya karena merasa dicurigai oleh Kakashi.
"Baiklah, tapi awas kalau kau berbuat macam-macam padanya!" ancam Kakashi sebelum melenggang pergi dari dalam kamar mewah bercat orange itu.
.
.
.
.
"Haaa..." Naruto membuang nafas, ia bentangkan bedcover di dekat kakinya untuk membalut tubuh polos di sampingnya.
"Aku datang diwaktu yang tepat bukan?" ia miringkan badannya agar dapat melihat langsung wajah tertidur Sasuke. "Harusnya kau berterima kasih padaku 'Nona' Uchiha, sebab aku sudah menolongmu dari Kakashi yang siap menyobekmu. Yah, kau tau maksudku 'kan?" Naruto tau Sasuke sama sekali tak menggubris perkataannya, tapi ntah kenapa ia sedang ingin bicara banyak di depan sosok 16 tahun itu. Naruto menghempaskan tubuhnya hingga membuat badannya terguncang beberapa kali, pupil hitamnya menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih, lalu bergumam, "Baiklah, kita harus tidur, karena sepertinya kau cukup kelelahan. Konbawa, Hime-chan... Oyasuminasai," usai berkata begitu, Naruto turut memejamkan matanya. Dan mencoba menemukan sosok Sasuke untuk mendekap dan memeluknya meski hanya dalam mimpi.
._._. X ._._.
Pagi itu mentari bersinar dengan terangnya. Dan sinarnya yang memancarkan kehangatan itu tak luput untuk masuk kesela-sela kamar sang Uchiha muda. Menyorot wajah dan tubuhnya, mengusik si pemuda hingga terbangun dari alam bawah sadarnya.
"Unng?..." Sasuke mengerjab-erjabkan matanya beberapa kali, sebelum beringsut turun dari ranjangnya. Tanpa rasa khawatir jika ada orang lain dalam kamar itu, Sasuke, dengan santainya berjalan ke kamar mandi dalam keadaan polos. Sampai akhirnya...
"Suiit Suuiitt..." Pemuda bermata onyx yang sedaritadi berjalan merunduk reflek mengangkat kepalanya, shock. Ia edarkan pandangannya hanya untuk mencari tau siapa seseorang yang bersiul padanya. "Pagi, Uchiha-chan!" Pupilnya mengecil, ia hampir dibut jantungan saat melihat sosok pemuda yang sedang duduk santai di sofa kamar tersebut tengah menatap mesum padanya. "Penampilan itu... kau sengaja ya membuatku mandi dua kali?" Sasuke menatap nyalang seseorang berkaos lengan panjang orange itu, ia tidak menyangka jika pria yang sedang duduk dengan satu kaki diletakkan di atas lutut itu telah luput dari penglihatannya.
"Siapa kau? Dan sejak kapan kau ada disini?" tanya Sasuke, atau lebih tepatnya bentakkan.
"Akan kujawab pertanyaanmu itu Uchiha-chan, tapi bisakah kau untuk setidaknya menyembunyikan 'P'mu itu, melihatnya membuatku gerah!" Dengan impuls cepat, Sasuke yang baru saja mendengar ocehan pemuda berambut hitam berantakkan itu otomatis menarik bedcover dari atas ranjang. Dengan wajah memerah ia balut tubuh putih nan mulusnya agar tidak terlalu lama menjadi tontonan gratis seseorang yang sedang tersenyum genit padanya. 'Kusoyaro...'
"Hahaha, kau terlihat begitu imut jika sedang malu," Naruto terkekeh. Ia puas membuat Sasuke yang baru bangun itu kalang kabut. "Brengsek! Kuulangi pertanyaanku, siapa kau dan sejak kapan kau ada di kamarku?" Naruto memutar bola matanya, dan berkata-kata, "Pertama, harus kupertegas Uchiha-chan, ini adalah kamarku. Milik Namikaze Naruto, 'istri' keempat Hatake Kakashi plus orang yang sudah menolongmu dari pria tua yang hendak menyodomimu!" jelas Naruto sejelas-jelasnya. Sasuke diam, mencoba mereka ulang kejadian semalam. Dan tunggu, ada yang mengganjal pikirannya, 'Apa jangan-jangan semalam dia...'
"Kalau kau berpikir tentang aku tidur seranjang denganmu atau tidak jawabannya adalah, 'Yah'. Aku tidur bersebelahan denganmu semalam!" Sasuke menatap tajam lelaki yang terkesan santai itu. "Jangan khawatir, aku bukan tipe yang suka 'menyerang' tiba-tiba kok, aku-"
BLAAMM
Naruto tak melanjutkan kata-katanya, karena bunyi debaman pintu yang cukup keras dari arah kamar mandi. Sepertinya, Sasuke yang enggan mendengar 'kiacuan' Naruto lebih memilih menghindari sosok berisik itu. Lagipula, ia harus menyiapkan dirinya untuk pergi ke sekolah. Mau tau reaksi Naruto? Pemuda berlensa hitam itu tersenyum penuh arti. Ia senang sudah mengerjai Sasuke, ia puas sudah membuat pemuda yang empat tahun lebih muda darinya itu malu dan kesal padanya.
"Uchiha Sasuke-chan yang... menarik," ujarnya sambil menutup buku bacaan yang sempat terbengkalai selama ia berdepat dengan Sasuke beberapa waktu yang lalu.
._._. X ._._.
TBC
._._. X ._._.
Maaf belum bisa balas review, dan mengenai knapa Naruto jadi seperti itu, jawabannya ada dichapter depan...hehe. Terakhir, silahkan review...
