Part 4
Pairing: SasuNaru, SasuHina, NaruGaa,
Warning: Fem Naru, DLL, ada Yaoi di pairing KakaIru, ShikaKiba..
Keterangan;
"….."Berbicara langsunag.
'…..'Berbicara dalam hati, atau ada makna tersembunyi dari kata tersebut.
Disclaimer :
Mika: Masashi Kishimoto Hibernasi ke kutub utara jadi Naruto diserahkan pada saya….
Masashi :zzzzzzzzzzzzzzz(sebenarnya cuma tidur bentar karna capek bikin komik, jadi bukan Hibernasi ) Huam …..capeknya…
Mika: Yah dia bangun….aku kabur dulu ya….
Gaara pov
Aku menjawab pertanyaan gadis-gadis yang ingin berkenalan denganku. Sesekali aku mengangguk atas pertanyaan mereka. Aku menatap gerak-gerik cewek yang ada di sampingku. Dia selalu melihat kebelakang, sebenarnya apa yang dia lihat ? Oh...dia sedang melihat sepupu jauhku, Sasuke. Hum, ternyata Sasuke sama dengan apa yang kudengar, dia itu sedikit playboy.
Aku mengamati kembali semua gerak-gerik Naruto dari sudut mataku. Kenapa dia menatap Sasuke seperti itu ?. Apa laki-laki yang ditaksirnya dan sering diceritakannya adalah Sasuke. Lalu aku membisikkan sesuatu pada Naru "Naru, cowok yang sering kau bicarakan itu, apa Sasuke ?"
Dia langsung beranjak dari bangkunya dengan lesunya. Apa aku salah bicara ?
Aku mengikutinya keluar, mengawasinya adalah tugas dari 'Dia'.
End Gaara pov
SMA KONOHA
Normal pov
Gadis berambut pirang itu merasa 'panas' berada di balam kelas. Setiap jam-jam istirahat ialah jam-jam yang panas baginya. Naruto berjalan terus tanpa melihat kedepan. Pikirannya kacau. Dan dia tidak menyadari bahwa sebentar lagi, dia akan menabrak senseinya yang sedang mengintip pujaan hatinya.
''Naruto lihat kedepan !" Teriak Gaara yang sejak tadi membuntuti Naruto.(Mika :Ha…ha…Gaara jadi penguntit )
Bruk…
Sepertinya terlambat Naru sudah menabrak sensei tersebut.
"Ah….itai…" Ringis Naruto,yang masih tepar di lantai.
"Naruto, kau tidak apa-apa ?" Tanya Gaara, dan membantu Naru bangkit dari teparnya di lantai.
" Gaara, terima kasih."
''Hum..." Sambil mengangguk .
''Naruto, kenapa kau tepar dilantai tadi ?" Oh…ternyata yang ditabrak Naru adalah Kakashi .
"Uh….Sensei, Naru jatuh karna sensei !, Lagian kenapa sensei berdiri disini ?"
"Wah…ada Gaara juga ya…?. Hm, apa kalian sudah jadian ? Kalian mesra sekali, sudah pegangan tangan begitu ."
Gaara dan Naru menatap tangan mereka yang saling bergandengan.
Loading 15 %
Loading 50 %
Loading 90 %
Loading 100 %
Gaara menatap wajah Naruto.
Naruto menatap wajah Gaara.
''KYA…." Teriak Naru setelah sadar dari loadingnya yang lama. Wajahnya sudah memerah menahan malu dan gerogi .
Dan Gaara memalingkan wajahnya ke jendela yang memampangkan lapangan basket didepan matanya.
"Ka…Kami hanya teman Sensei, Gaara ini adalah teman cetingku."
"Oh…kalian pacaran melalui cetingan ?, dasar anak muda jaman sekarang. Kalau dulu surat-suratan, sekarang cetingan ck..ck..ck…"Belagak sok tua.
"BUKAN…..!"Elak Naruto.
"Yah…kalian mengaku saja…!"
"Oh ya…sensei kenapa ada disini ? Anda dari tadi saya lihat mengintip ke ruangan ini ? " Sela Gaara yang menatap Kakashi dengan wajah penuh rasa curiga.
"Inikan ruangan Iruka Sensei, ah…Sensei mau ngintipin Iruka Sensei ya…"
"Itu…itu bukan urusan kalian, oh ya Naruto kau ingat apa yang apa hukuman yang aku berikan tadi, ayo cepat laksanakan."
"Ah….AKU LUPA…" Teriak Naru sambil cabut ke labor Biologi dan menarik tangan Gaara. Dan akhirnya Gaara ikutan Naru ke labor Biologi.
Labor Biologi
"Uawa…tanamanya cantik-cantik , dan berbunga lagi…Iya kan Gaara!" Riang Naruto yang sedang asik menyirami tanaman-tanaman di labor Biologi.
"Iya ." Jawab Gaara singkat.
Labor Biologi SMA konoha ini sangatlah indah. Ruangan yang sebagiannya terbuat dari kaca, sehingga tanaman yang senggaja ditanam di dalam ruangan mendapatkan cahaya matahari yang cukup. Tanaman rambat, jamur beraneka jenis, paku-pakuan, dan bunga-bunga yang ditata sedemekian rupa. Labor ini lebih tepat disebut taman dari pada labor.
"Gaara, kamu tinggal di Suna kan?, Suna itu seperti apa ?"
"Suna itu negri yang kering, hujan jarang turun disana. Tapi disana kalau senja sangat indah."
"Senja di Suna indah ?, aku jadi ingin melihatnya."
"Hum, di Suna sebagian daerahnya padang pasir, jadi kalau terkena cahaya matahari terbit atau terbenam, padang pasir itu akan terlihat seperti lautan emas."
"Aku jadi ingin ke Suna!"
"Rumahku di Suna terbuka untukmu."
"Aku boleh nginap di rumah Gaara, asyik….dapet penginapan gratis…he…he…" Cenggir Naruto.
"Dasar kau ini…." Kata Gaara, sambil menarik kedua pipi cabi bergaris tiga, Naruto.
"Itau...sakuit ...galla...(itai….sakit Gaara….)."
"Kau itu lucu sekali." Kata Gaara sambil melepaskan tarikannya dikedua pipi Naruto.
"Umm...pipiku Sakit." Rengek Naruto.
"Maaf deh..."Kata Gaara sambil mengacak-acak rambut Naruto.
KRING...
"Yah...sudah masuk Gaara, padahal aku belum makan...hue...ramen..." Mewek Naruto.
"Sudahlah, ayo ke kelas."
Naruto hanya menganggukkan kepala, dengan wajah yang masih cemberut.
Wajah Naru yang cemberut itu membuat jantung Gaara berdetak lebih kencang, dan semburat merah tipis di pipinya. 'Wajah cemberutnya manis sekali, entah mengapa kalau dekat dengannya aku merasa nyaman, apakah aku mampu untuk melakukan tugas ini ?' batin Gaara.
Sekembalinya Naruto dan Gaara dari labor, suasana kelas masih riuh. Terlihat wajah Sasuke yang keki, karena Naruto sekarang lebih sering berinteraksi dengan Gaara dari pada dia. Naruto tidak terlalu mengacuhkan ejekannya, yang biasanya ampuh untuk meledakkan perang dunia antara Naruto vs Sasuke, yang terjadi entah yang keseribu sekian...sekian kalinya.
Sepanjang hari ini Naruto dan Gaara mereka selalu bersama. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya gosib bahwa Gaara dan Naru pacaran. Dan gossip itu teleh tersebar keseluruh sekolah, bahwa Naruto Uzumaki pacaran dengan anak baru yang berasal dari Suna.
Sepertinya ada yang kurang suka dengan gosip tersebut. Sasuke rasanya ingin menghajar seseorang yang telah menyebarkan gossip tersebut. Dia sangat terusik dengan kehadiran Gaara. Fensnya yang berpaling, dan Dobenya yang teleh diambil, *Dobenya ?* Entahlah, dia merasa kalau Naruto adalah propertinya. Jadi tidak ada yang boleh mengambil yang telah dia klem miliknya. Itulah keegoisan seorang Uchiha.
-Skip time-
Naruto memasuki rumah Uchiha, setelah dipersilahkan oleh pelayan rumah itu, walaupun sudah sering berkunjung kerumah ini, tetap saja dekorasi dari rumah itu tidaklah membosankan untuk dinikmati terus-menerus.
Kain gorden yang berwarna krim yang disudut-sudutnya terdapat garis emas, perabotan rumah itu yang klasik dan mewah, dan beberapa lukisan dan foto-foto yang menggambarkan rupa seorang keluarga Uchiha yang menawan. Ditengah ruangan itu terdapat foto keluarga besar Uchiha.
Uchiha Fugaku, kepala keluarga dan ayah dari tiga Uchiha bersaudara. Uchiha Mikoto, Ibu dari keluarga itu, Uchiha Itachi sang anak tertua, Uchiha Sasuke anak tengah, Uchiha Sai si anak bungsu.
"Ehem, Naru-Chan kamu sudah ditunggu Mikoto di dapur." Kata seorang laki-laki yang ialah kepala keluarga di keluarga ini.
"Om Fugaku, selamat sore..." Sambil membungkukkan tubuhnya.
"Naru-chan jangan terlalu formal begitu..."
"He...abis Om mempunyai aura yang gimana gitu...he...he..."
Drap...drap...bruk...
"Naru Nee-chan !" Sorak Sai yang menghambur kepelukan Naruto.
"Sai ? "
"Ayo, Nee-chan Kaa-san sudah nungguin dari tadi di dapur."Kata Sai sambil menarik tangan Naruto dengan tangan mungilnya.
"Kalau begitu permisi Om..." Sambil berlalu dari hadapan Fugaku.
"Hum..." sambil menganggukkan kepala.
'...Gadis manis nan menarik, apa sebaiknya aku mempercepat pembicaraan pertunangan dengan Minato ?' Batin Fugaku.
'Tapi mereka masih terlalu muda, sebaiknya menunggu sebentar lagi.'
"Naru-chan gulanya sedikit saja ya..." Kata Mikoto. Mikoto dan Naruto sedang mencampurkan gula dengan tepung.(Mika: Menjadi tepung gula.)
"Apa dua sendok saja cukup Tante ?"
"Iya itu sudah cukup."
"Tapi apa nanti kuenya tidak ambar ?"
"Tidak kok..., Sasuke, Gaara, dan Fugaku tidak suka manis, jadi gula segitu saja sudah cukup."
"Oh..." Sambil menganggukkan kepala.
"Eh...Gaara? jadi keponakan Tante itu Gaara ?'' Tanya Naruto heboh.
"Iya...bukannya kalian sekelas kan, kebetulan sekali ya...?"
'Iya...kok kebetulan sekali ya...' batin Naruto
"Hum, apa Gaara gak tinggal disini Tante ?"
"Tidak, dia bilang sih gak mau merepotkan kami, dia mau hidup mandiri dan tinggal sendiri di apartemen."
"Hum...'' Kata Naru sambil mengambil minum untuk melepaskan dahaganya.
"Oh iya Naru-chan, kemarin malam ada apa kok ribut-ribut di balkon kamar bersama dengan Sasuke ?"
Trang...
Naruto menjatuhkan gelas yang tadinya dia pegang.
'A...aku lupa...kalau tujuan keduaku kesini untuk mengambil beneka rubahku...^o^ '
"Naru-chan kau tidak apa-apa ?" Tanya Mikoto dengan wajah cemas.
"Ti...tidak apa-apa Tante . Ah...sebaiknya Naru cari sapu dulu ya... untuk membersihkan pecahan gelas ini." Sambil ngabur.
'Ini saatnya untuk merebut bonekaku...'
"Eh, tapi Naru-chan ruangan untuk menyimpan sapu bukan arah situ,...Hah...dia sudah pergi."(Mika:dasar orang kaya sapu aja punya ruangan)
"Eh...? Kaa-san, mana Naru-nee ?"
"Katanya mau ambil sapu, tapi ruangan menyimpan alat bersih-bersihkan arak kanan, tapi si Naruto pergi kearah kiri." Kata Mikoto.
"?" Sai bingung.
"Nah, Sai mana buah blue berry yang kau petik tadi dikebun belakang ?"
"Ini dikeranjang." Sambil menyerahkan keranjang ditangannya.
"Loh ?, Sai ini bukan buah blue berry tapi tomat."
"Tapi tadi kata Sasu Nii-san ini buah blue berry, ja...jadi Sai salah ya...hiks...hue..." Sai malah nangis.
Mikoto membungkukkan badannya dan mensejajarkan tingginya dengan Sai.
Mikoto mengelus kepala Sai "Sudah...sudah jangan nangis..."
'Dasar Sasuke suka sekali menjahili adiknya...' Batin Mikoto dan menghela nafas.
Ditempat yang lain dan waktu yang sama. Naruto sedang mengendap-endap dan tingkahnya itu seperti seorang maling.
Naruto sedang mengendap-endap dan sesekali menggintip apakah ada orang disetiap persimpangan lorong dirumah ini.
Puk...
"Kya !" Dia berteriak.
Ketika merasakan seseorang telah menepuk bahunya, Naruto menoleh patah-patah, berharap bukan Mikoto atau Sai atau bahkan bukan Sasuke yang menepuk dan melihat hal konyol yang sedang dia lakukan tadi.
"Ehm...Naru-Chan ? Mengapa jalannya mengendap-endap gitu...?" Kata sesosok laki-laki muda yang mirip dengan Sasuke tetapi ada sedikit perbedaan pada rambut dan wajah, laki-laki itu mempunyai garis seperti KERIPUT.(Itachi: Awas kau ya.. akan aku Ameterasu kau !)(Mika ; Ampun DJ)
"Eh..Itachi Nii-san, em...em...tidak ngapa-ngapain kok he...he..."
''Hah..." Itachi hanya menghela nafas menghadapi keanehan Naruto.
"Hi...Hi..." Naruto memampangkan cengiran bodoh diwajahnya.
"Ehe...tidak aku mau cari Sasuke, mau pinjam buku catatan." Bohong Naruto.*Bohong jangan ditiru ya... tapi untuk hal 'tertentu' Mika izinin kok..* *Reader: Ajaran yang tidak baik.*
"Oh...Pergi saja ke kamarnya, dia ada disana sekarang."
"Baiklah...aku pergi dulu ya...Ita Nii-san."
"hum..."
Lalu Naruto pun pergi kekamar Sasuke.
Naruto Pov
Huh, bisa juga lolos dari Itachi Nii-san. Akhirnya sampai juga ke kamar Sasuke setelah melewati beberapa lorong, pembantu, naik bus-turun bus, naik mobil-turun mobil, naik becak-turun becak ( Mika: 3 hal kejadian terakhir yang disebutkan bohong ).
Aku melihat pintu kamar Sasuke sedikit tersingkap. Aku mengintip di celah-celah dari pintu yang terbuka itu. Wah...Sasuke sedang tidur...Saatnya untukku beraksi...
Aku membuka perlahan pintu kamar itu. Iyak...pelan-pelan...pelan-pelan... pelan-pelan...yap akhirnya aku bisa masuk juga. Aku melihat kesana kemari mencoba mencari dimana keberadaan bonekaku. Ah...itu dia bonekaku, tapi mengapa Sasuke memeluk bonekaku?,(Naru: Mengapa tidak aku aja yang dipeluk) baiklah Naruto, rebut kembali tahananmu...(maksudnya bonekanya)
Aku mendekat ke kasur Sasuke, mudah-mudahan dia tidak bangun. Aku berjalan jin-jit supaya tidak terdenggar suara langkah kakiku. Kulepaskan tangan Sasuke dari bonekaku, yak tinggal satu tangan lagi, ayo Naruto berjuang, demi tidurmu yang nyenyak dan damai.
Grem...
Aku merasakan seseorang meremas tanganku.
"Oi...Dobe kamu agresif juga ya..." Kata seseorang yang sedang memegang tanganku.
"Kya... Sasuke kau tidak tidur!" Histerisku.
" Huam...rencananya begitu, tapi aku merasakan seseorang memegang tanganku, aku tidak jadi tidur."
"Yah...Sasuke sana tidur lagi. "
"Yah mana bisa begitu." Kata Sasuke kepadaku.
"Hum..tapi kalau kau yang temaniku tidur, aku mau." Kata Sasuke dengan nada suaranya terdengar sexy.*Huek, Author dipaksa ngomong ama Sasuke*
"Ti...tidak mau...!" Kataku dengan semburat merah di wajahku.
"Ayolah Dobe...sini...sini.. pus..pus..*Emangnya kucing?*" Sasuke mulai bangkit dari tempat tidurnya, sementara aku semakin mundur, menjauh dari Sasuke.
"Ayo sini...sini.."katanya semakin menggodaku.
"Ti...tidak..." Jawabku panik dan semakin menjauh dari Sasuke.
Set...
Aku merasakan keseimbanganku goyah, ternyata aku telah nenginjak kulit pisang. Siapa sih yang buang pisang di sini...?(Mika; aku...*menunjuk tangan*) (naruto :Dasar Mika ber****, awas kau ya...)
''NARUTO !" teriak Sasuke.
Grep...
Eh...kenapa gak sakit...? dan ada yang menimpa bibirku. Aku membuka mataku yang sebelumnya aku pejamkan sesaat akan jatuh.
Eh...?Eh...? kok rasanya dingin, tapi... ada hangatnya...
Aku masih binggung melihat posisiku dengan Sasuke yang berada di bawahku. Dan...Dan...bibir kami saling bersentuhan...?
Hening_
Ada apa ini...kenapa rasanya darah semuanya pergi ke kepalaku,...kepalaku...pusing...dan panglihatanku kabur, semuanya gelap.
TBC
Huh... akhirnya selesai juga part 4 ...kritik dan sarannya ditunggu...
Sampai jumpa lagi di chap berikutnya...^-^
