He's a Girl
Author : Si HwangJae Tyaz
Genre : Romantic, Brother/Sistership
Cast :
Katara
Lee Junho
Kintaro
Hwang Chansung
Lee Eun Ji
2PM's Member
Disclaimer : Semua member 2PM di FF ini hanya milik Tuhannya masing-masing. Yang punyaku cuman ide FF ini. Happy reading. Don't forget your review, guys. Gamsahamnida.. :D
Tiba-tiba aku terjaga. Ku lihat jam dinding menunjukkan pukul 5 pagi dan langit di luar masih gelap. Aku menghitung-hitung. "Ahh. Di Indonesia masih jam 3 pagi." Aku bergumam. "Oppa, oppa. Kita shalat Shubuh sekarang ga papa khan yha?"
Sambil menggeliatkan tubuhnya dan setengah sadar, Taro menjawab pertanyaanku, "Iyha gapapa."
"Kamu ga shalat?"
"Iyha shalat. Ayo jamaah." Tiba-tiba dia sudah bangun dan berdiri dari tempat tidurnya, membuka pintu dan masuk ke kamar mandi yang ada di seberang kamar kami. Aku yang bingung, hanya terdiam sambil melihat dia sampai dia kembali ke kamar setelah wudhu.
"Katanya mau shalat. Ayo kok. Malah bengong. Cepet wudhu…!"
"Eh iyha iyha." Aku berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Kamar kami dekat dengan ruang tamu. Jadi, dari pintu kamar, aku sudah bisa melihat dua orang manusia tidur di ruang tamu yang pastinya kalian tahu siapa. Aku cuma bisa geleng-geleng heran.
Aku segera menyelesaikan wudhuku. Sesaat sebelum keluar kamar mandi, aku bertemu Khun Oppa di pintu.
"Sudah bangun?"
"Iyha. Aku mau beribadah dulu yha." Aku menghindari kontak fisik dengan Khun Oppa. Aku lihat dia mengernyitkan dahi.
Di kamar, Taro yang sudah memakai baju koko dan sarung, menunggu dengan melakukan dzikir. Aku memakai mukenaku dan menepuk pundaknya tanda aku sudah siap. Lalu kami shalat Shubuh. Kami tak sadar bahwa kami diperhatikan oleh sepasang mata yang penasaran.
Selesai shalat, Taro dan aku keluar menuju teras untuk menikmati udara pagi di Seoul. Walaupun bulan itu adalah bulan terpanas di Seoul, tetapi udara paginya cukup dingin juga. Taro yang sudah memakai jaket dan enggan melepas sarungnya itu santai-santai saja di terpa angin pagi di situ. Sedangkan aku, yang hanya memakai kaos lengan panjang agak tipi situ, mulai kedinginan. Akhirnya aku menyerah dan masuk utuk mengambil jaketku. Di ruang tamu, aku bertemu Junho Oppa yang baru bangun tidur.
"Sudah bangun? Taro mana?"
"Iyha Oppa. Itu di teras." jawabku agak ketus.
"Kok ga kamu temani?"
"Aku mau ambil jaket, Oppa. Mau liat aku mati kedinginan?"
"Segini dingin? Mungkin kalo kamu ketemu musim salju, kamu bakalan beku kali. Hahahaha." tawanya terdengar mengejek.
"I've just been here about 6 hours, and now you're telling me to immediately adapt to this condition? Are you crazy?" Aku nyerocos dengan bahasa Inggris yang sangat amat aku kuasai itu. Junho Oppa terlihat bingung. Lalu aku meninggalkannya begitu saja ke kamar.
BRAAAAAKKK…!
Aku membanting pintu kamarku. Aku sudah tidak mood lagi merasakan angin pagi Seoul di teras bersama Taro. Sebagai gantinya, aku duduk di jendela kamarku dan membuka daun jendelanya lebar-lebar. Jendela kamarku berbentuk seperti daun pintu yang terbuat dari kaca dan dibuka ke samping. Tiba-tiba…
Tok tok tok… Tok tok tok…
"Nugu?" tanyaku ketus.
"Chansung." Kata suara dari luar kamarku. "Boleh aku masuk, Tara-ah?"
"Masuk ajja. Ga di kunci." Jawabku tanpa menoleh ke arah pintu. Tatapanku tetap ke arah luar jendela. Ke arah jalanan Cheongdam-gu yang masih sepi sambil menikmati angin yang berhembus perlahan dan matahari yang mulai malu-malu muncul. Tiba-tiba, Chansung Oppa sudah ada di sebelahku dan duduk bersamaku.
"Jadi, apa yang kamu rasakan pagi ini, Tara-ah? Pagi pertamamu di Seoul?"
"Jengkel." jawabku singkat.
"Karena si Hwang Jae? Si penggerutu itu? Aissshh." Seketika itu juga, Chansung Oppa memegangi kepalanya. "Aku beritahu. Junho pernah mengalami kegagalan saat menjalin hubungan dengan wanita di masa lalu. Makanya dia kayak gitu sekarang. Maklumi sajalah."
"Jinjja? Kasian banget. Hahaha." Aku menertawakan Junho Oppa. Rasa jengkelku mulai berkurang. Chansung Oppa ternyata orang yang lucu. Dia yang menghiburku pagi itu hingga kemarahan dan rasa jengkelku hilang.
"Hari ini apa rencana kalian berdua?"
"Aku dan Taro?" aku mendadak menjadi linglung.
"Bukan. Kamu dan Junho. Yha jelas kamu sama sodara kembarmu lah."
"Hahahahaha. Kami mau mengajukan surat transfer biar bisa kuliah di sini. Teruss…"
"Terus?" Chan Oppa penasaran dengan jawabanku. Aku berpikir sebentar.
"Kalian siang ini ada di rumah khan? Ga kemana-mana khan?"
"Iyha. Ini khan minggu-minggu libur 2PM. Jadi jelas ga kemana-mana. Kecuali Mr. Park atau Mr. Jang mengajak kami liburan."
"Oke kalo gitu. Pulang dari kampus, aku mau masak."
"Masak? Buat siapa?" Chan Oppa sedikit bersemangat. Aku menoleh padanya dan menekan hidungnya yang mancung.
"Yha buat Oppa-oppaku donk. Buat siapa lagi."
"Asiiiiikk. Masak yang banyak yha. Nanti aku temani belanja deh."
"Jinjja? Oppa mau nganter aku belanja ke supermarket?" Chan Oppa mengangguk. "Yaudah. Aku ntar masak banyak khusuuuus buat Chan Oppa." Chan Oppa mengacungkan kedua jempolnya tanda setuju.
-He's a Girl-
"Aku berangkaaaaat. Annyeong." Aku berpamitan pada Khun, Woo n Chan Oppa. Taec Oppa yang sedang ada di dapur hanya melambaikan tangannya. Aku tak melihat Junho Oppa. 'Masa bodoh lah dengan dia' batinku. Taro sudah terlebih dahulu masuk mobil Mr. Jang.
"Ne'. Jalga Tara-ssi." Woo Oppa yang sedang berada tak jauh dariku langsung mengacak-acak rambutku. Aku tersenyum dan mengangguk. Aku keluar dari Dorm dan turun ke bawah ditemani Chan Oppa. Sesampainya di bawah…
"Jalga Tara-ah. Jangan lupa janji kita untuk nanti siang. Ok?" Chan Oppa mengacungkan jempolnya.
"OK…!" aku menjawab tegas dan mengacungkan jempolku juga. "Bye Oppe. See you at 12." Aku masuk ke dalam mobil dan melambaikan tanganku ke arah Chan Oppa.
Sesaat setelah aku masuk mobil, Mr. Jang yang terlihat sedang berbicara dengan Taro, menoleh ke arahku dan bertanya dalam bahasa Inggris,
"Tara-ssi, jurusan apa yang kamu ambil saat ada di Indonesia dulu?"
"Jurusan Biologi, Mr. Ada apa?" setelah mendengar kata 'Biologi', seseorang yang ada di sebelah supir langsung menoleh dan ternyata JUNHO OPPA…! Aku yang kaget langsung membentaknya tanpa sadar, "Yaaa.. Junho Oppa. Kenapa kamu ikut?" Mr. Jang dan Taro yang kaget mendengar teriakanku langsung menoleh bebarengan. Sedangkan Junho yang aku bentak tampak biasa saja.
"Taro yang mengajakku." Aku langsung menoleh dengan tatapan tajam ke arah Taro dan mulut Taro membentuk kata 'Apa?' dan Junho menoleh ke arahku serta meneruskan kata-katanya. "Kenapa? Ada yang salah kalo aku ikutan kalian ke kampus? Mr. Jang ajja ngijinin kok. Kenapa kamu sewot?" lalu dia menghadapkan badannya ke depan lagi.
Aku terdiam. Jengkel, marah, dan banyak perasaan lain yang terbersit di otakku sehingga tak ada kata-kata yag mampu aku keluarkan untuk membela diri. Taro mengelus rambutku dan berbisik,
"Jangan kayak gini dong, Yeosaeng. Junho Oppa itu jenuh kalo di rumah terus. Dia orangnya baik kok. Tenang ajja."
"Yeah right…!" jawabku sambil menggerutu. Tanpa ku sadari, Junho Oppa berbisik pada dirinya sendiri, 'Mianhae, Tara-ssi.' sambil menunduk. Mr. Jang mengetahui apa yang dibisikkan Junho pada dirinya sendiri. Tetapi Mr. Jang lebih memilih diam saja.
-He's a Girl-
"Aku pulaaaaaaanng." teriakku dari pintu Dorm.
"Tara? Kok sendirian? Mana Taro sama Junho?" tanya Taec Oppa padaku yang sedang melepas sepatu.
"Ehh Taec Oppa. Taro sama Junho Oppa jalan-jalan. Ga tauk kemana. Ga bilang sih."
"Terus kamu pulang naik apa tadi? Mobilnya Mr. Jang.?" tanya Taec Oppa lagi. Dari nada suaranya, sepertinya dia khawatir padaku. Aku menatapnya. Taec Oppa menjadi salah tingkah karenanya.
"Oppa. Ga usah terlalu khawatir deh sama aku. Aku udah kuliah semester 3, bukan anak kecil lagi. Lagian kalo aku nyasar, tinggal panggil taksi terus minta anterin ke JYPE office kan beres." Aku tersenyum. Begitu pula Taec Oppa. "Oh iyha, Chan Oppa mana?"
"Lagi ganti baju, habis mandi. Katanya mau keluar sama kamu yha? Kemana? Ikut yha?" Taec Oppa merajuk.
"No, no, no. aku udah janjian ke supermarket cuma sama Chan Oppa. Oppa tunggu di rumah ajja. Nanti Oppa bagian bantuin aku masak ajja. Okey?" aku mengacungkan jempolku meminta persetujuan.
"Okey." Taec Oppa menempelkan jempolnya ke jempolku. Dan di saat yang sama, Chan Oppa keluar dari kamar tidurnya dengan menggunakan kaos lengan panjang bertudung kepala berwarna biru tua yang di tekuk hingga siku dan memakai rompi putih dengan kotak-kotak warna abu-abu serta celana pendek selutut warna hitam. Pemandangan yang sangat menyegarkan mata.
"Tara-ssi. Kamu udah pulang?" Chan Oppa menyadari kehadiranku.
"Udah, Oppa. Ehmm… Aku ganti baju dulu yha." Aku berusaha pergi dari situ. "Gilaaaaaa. Cakep bener itu orang kalo pake baju kayak gitu? Aigo~" bisikku pada diriku sendiri setelah berada di dalam kamar. Aku berusaha mencari baju yang sepadan dengan baju Chan Oppa agar orang-orang mengira kami adalah sepasang…ehem…ya kalian tau lahh. Hahahaha.
Akhirnya keputusanku jatuh pada kaos lengan 3/4 warna abu-abu bergambar kucing dengan celana pendek selutut berwarna biru tua dengan kotak-kotak kecil warna putih. Rambutku kukepang jadi satu dan kupakai bandoku. Aku mengaca sekali lagi lalu aku ambil tas ransel kecilku yang berwarna hitam bergambar kucing juga.
"Ayo Oppa." Aku keluar dari kamar dan mengajak Chan Oppa berangkat. Chan Oppa dan Taec Oppa yang sedang ngobrol di sofa ruang tamu menoleh.
"Wooow." kata mereka bebarengan. Lamaaa sekali mereka melihatiku dari atas ke bawah ke atas lagi dan kebawah lagi. Aku bingung dan salah tingkah. Belum pernah aku diperlakukan seperti ini walaupun oleh saudara kembarku.
"Cute ahh…" Taec Oppa berteriak. "Yaaah Tara-ah. Kamu suka kucing?" aku melihat kaosku dan mengangguk sambil tersenyum.
"Gaja, Oppa." Aku berjalan menuju pintu. Chan Oppa langsung menyusulku dan merangkulku dari belakang. Aku kaget sekaligus tersipu malu.
"Wajahmu kenapa?" ternyata Chan Oppa melihat wajahku yang memerah.
"Panas nih Oppa. Hehehehe…" jawabku dengan melirik tangan Chan Oppa yang masih ada di pundakku. Tiba-tiba Taro datang bersama Junho Oppa dan melihatku dalam keadaan seperti ini. Terlihat sekali mimik wajah Junho Oppa berubah drastis. Sedangkan Taro terlihat tenang-tenang saja.
"Hyung. Mau kemana sama yeosaengku?" tanya Taro.
"Mau nemenin si cantik ini belanja di supermarket. Kalian darimana saja?" tanya Chan Oppa sambil memakai masker dan kacamatanya serta memasang tudung kepalanya untuk penyamaran. Ponselnya pun ia matikan agar tidak ada panggilan masuk yang dapat mengacaukan penyamarannya. Aku juga di suruh memakai Dorky glasses milik Khun Oppa agar terlihat lucu.
"Aku masuk dulu." kata Junho Oppa dingin. Lalu dia berlalu di sampingku dan masuk ke dalam Dorm. Chan Oppa melihatnya dengan heran.
"Kenapa dia?" tanya Chan Oppa sambil menunjuk ke arah pintu Dorm. Mungkin maksudnya ingin menunjuk Junho Oppa tapi keburu orangnya masuk. Taro menggeleng.
"Aku sama Junho Oppa tadi juga habis jalan-jalan. Muter-muter di sekitar sini terus ke Cheongdam Park. Yaudah aku masuk dulu. Capek. Mau istirahat. Kalian hati-hati yha. Hyung, jaga Yeosaengku." pesan Taro pada Chan Oppa.
"Siap bos." Chan Oppa melihatku sambil tersenyum dan masih pada posisi semula yaitu merangkulku. "Gaja, Tara-ssi."
Sesampainya di supermarket, penyamaran kami (Chan Oppa lebih tepatnya) berhasil. Tidak ada seorangpun di supermarket itu yang mengenalnya. Kami pun asyik memilih bahan makanan yang kami perlukan. Tiba-tiba…
Listen to my heartbeat
(It's beating for you)
Listen to my heartbeat
(It's waiting for you)
Ponselku berbunyi tanda ada pesan masuk. Dari nomer yang tak ku kenal. Aku berpikir, 'Perasaan, ini nomer hape baru aku ganti kemarin waktu sampek sini deh. Yang tahu juga cuma Taro, Mr. Jang sama Mr. Park. Nomer hape mereka pun aku tahu. Ini siapa terusan?'
"Pesan? Dari siapa?" Chan Oppa berbisik di telingaku. Takut suaranya dikenali orang. Aku hanya menggeleng. "Coba sini aku lihat nomernya. Mungkin aku tahu." Kata Chan Oppa sambil melihat nomer yang tertera di layar ponselku dan menuliskan di ponselnya. "Junho." Tiba-tiba Chan Oppa menyebut nama itu.
"Mwo?" aku yang tidak paham, bertanya lagi.
"Ini nomer Junho. Cepat buka pesannya dan balas. Sebelum dia marah." sambil menyenggol lenganku. Aku mulai paham dan membuka pesan Junho Oppa.
From : Junho Oppa (82621xxxxxxxx)
"Aku titip obat sakit kepala dan vitamin."
"Apa yang dia katakan?" tanya Chan Oppa sambil melongok ke arah ponselku, penasaran. Aku menunjukkan ponselku padanya. "Kenapa lagi dia ini. Haduh. Gaja kita belikan dia obat dan cepat pulang." Chan Oppa terlihat bingung.
"Oppa." Aku menarik tangannya. Chan Oppa berhenti dan menoleh ke arahku. Masih ada raut khawatir di wajahnya. "Ada apa sebenarnya?"
"Kita belikan Junho obat dulu. Nanti di perjalanan pulang, aku ceritakan." Chan Oppa langsung bergegas ke arah kasir. Sesampainya di kasir, dia menyuruhku berkata seperti yang ia bisikkan.
"Dutong ui uihag juseyo-a headache medicine, please." Kasir itu segera mengambil obatnya dan memberikannya kepadaku. Aku mencoba bertanya dalam bahasa Inggris. "Can you speak English." Kasir itu kaget lalu tersenyum.
"Yes, I can speak English but not to much." Aku bernafas lega. Kudengar Chan Oppa juga begitu. Aku menoleh padanya dan ia mengelus rambutku perlahan.
"So, how much is this?" aku menunjuk belanjaanku.
"50.000 won." Aku menyerahkan uangku dan sesaat setelah si kasir memberikan belanjaan kami, Chan Oppa langsung menarikku keluar dari supermarket.
"Junho Oppa sebenernya kenapa sih, Oppa?" tanyaku polos. Chan Oppa terlihat sedikit bingung. Lalu dia membisikkanku sesuatu. "MWO…? Ayo cepat pulang kalo gitu Oppa." Gantian aku yang menyeretnya pulang. Chan Oppa yang masih dengan wajah kebingungannya itu melangkahkan kakinya lebar-lebar.
PS : Pesannya masih sama kayak part 1. D butuhkan kritik dan saran yang membangun. Gomawo all. :)
