He's a Girl

Author : Si HwangJae Tyaz

Genre : Romantic, Brother/Sistership

Cast :

Katara

Lee Junho

Kintaro

Hwang Chansung

Lee Eun Ji

2PM's Member

Disclaimer : Semua member 2PM di FF ini hanya milik Tuhannya masing-masing. Yang punyaku cuman ide FF ini. Happy reading. Don't forget your review, guys. Gamsahamnida.. :D


Sesampainya di Dorm…

"Junho Oppa mana? Junho Oppa mana?" tanyaku pada Khun Oppa yang duduk bersantai di depan televisi. Menunjuk ke arah kamar Junho Oppa.

"Ada apa?" tanya Khun Oppa kepada Chan Oppa yang ada di belakangku. Chan Oppa memberikan isyarat yang langsung dimengerti Khun Oppa. "Junho-aaaaah…! YAAAAH LEE JUNHOOO…!" teriak Khun Oppa sambil berjalan menuju pintu kamar Junho Oppa dan mengetuk pintunya.

Tok tok tok tok tok… Tok tok tok tok tok…

"Ada apa ini?" Woo Oppa datang.

"Junho kumat. Ambilkan air putih. Taec Hyung mana?" Woo Oppa kaget dan langsung bergegas mengambil segelas air putih. Sedangkan Chan Oppa memanggil-manggil Taec Oppa. "Taec Hyuuuung... Hyuuuuung… Kamu dimana?" lalu dia masuk ke dalam kamar Taec Oppa dan keluar bersamanya sesaat kemudian.

"Mana dia? Dasar anak bandel." Taec Oppa terlihat kesal dan khawatir. Woo Oppa yang baru datang bersama Taro setelah mengambil air langsung berteriak membantu Khun Oppa.

"YAAAAHH JUNHO-AHH…! LEE JUNHOOOO…!"

BRAAAKKK...! Krieeeeeeettt...…

Pintu kamar Junho Oppa terbuka akibat tendangan Taec Oppa yang mulai resah. Dan seketika itu juga terlihat Junho Oppa yang terbaring lemah sambil memejamkan mata di atas lantai di samping tempat tidurnya.

"OPPAAAAA...!" teriakku sambil menutup mulut dan berlari ke arahnya. Seperti ada yang mengomando, semua anggota 2PM yang lain berlari mengikutiku dan mengangkat tubuh Junho Oppa yang lemah itu. Aku memegang keningnya. "Junho Oppa panas. Oppaaaa." laporku pada anggota 2PM yang lain sambil menggoyang-goyangkan tubuh Junho Oppa pingsan itu. Aku mulai berkaca-kaca. Taec Oppa memegangi pundakku.

"Taecyeon-ah. Ambilkan es yang ada di kulkas sama handuk di lemari kamar mandi." Khun Oppa mulai angkat bicara.

"Ne'. aku mau ambilkan obat turun panas juga." Taec Oppa bergegas. Tak lama, Taec Oppa datang sambil membawa baskom yang penuh dengan es dan handuk kecil berwarna biru muda. Baskom dan handuk itu diberikannya padaku sehingga aku bisa mulai mengompresnya. Tiba-tiba Taro datang sambil setengah berlari.

"HYUNG..!"

"Oppa..! Dari mana kamu?" ujarku setengah marah.

"Aku... tadi di... minta... tolongin Junho hyung... beli obat... soalnya... kamu... di telepon... ga di... angkat..." ujar Taro dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Sepertinya ia tadi berlari.

"Telepon? Tasku mana tasku mana?" Aku mencari tasku. Setelah menerima pesan singkat dari Junho Oppa tadi, ponselku langsung kumasukkan ke dalam tas dan tidak ku usik sama sekali. "Mwo? 11 panggilan tak terjawab? Mianhae Oppa." sesalku sambil menangis di samping Junho Oppa yang masih memejamkan mata. Woo Oppa mengelus kepalaku perlahan.

"Kamu beli obat apa, Taro-ah?" tanya Woo Oppa. Ternyata obat sakit kepala, vitamin dan obat penurun panas.

"Ini Hyung." Taro memberikan obat yang ada di tangannya. Namun tiba-tiba...

"Errhhh. Tara-ah." Junho Oppa bangun.

"Oppa." reflek aku memegang tangannya. Taro dan member 2PM yang lain pun langsung mendekat. Wajah Junho Oppa terlihat sangaaaaaat pucat. Bibirnya benar-benar berwarna kebiruan. "Mianhae Oppa. Gara-gara Tara ga tahu kalo Oppa telepon, Oppa jadi kayak gini." Air mataku meleleh walaupun aku sudah tak menangis. Tangan Junho Oppa yang masih panas menghapus air mata yang meleleh di pipiku.

"Tara-ah. Aghhh...!" Junho Oppa mencoba bangun dari tempat tidurnya amun karena badannya yang masih lemah, dia tidak kuat. Khun Oppa hanya menggeleng dan memberikan isyarat agar Junho Oppa tidak bangun untuk saat ini.

"Yah Lee Junho. Kamu mau mati? Kamu pasti belum sarapan kan tadi pagi?" tanya Taec Oppa yang ada di belakangku. Junho Oppa mengangguk lemas. Lalu aku punya ide untuk membuatkan Junho Oppa bubur dan member 2PM serta Taro makan siang.

"Oppa. Aku buatkan bubur yha. Sekalian aku buatkan makan siang buat kalian. Masakan khas Indonesia. Oke?" aku berjalan menuju dapur namun aku lupa sesuatu. Jadi aku cepat-cepat berbalik. "Taec Oppa, Woo Oppa. Bantu aku masak. Gaja." Kedua orang yang aku panggil itu langsung sigap berdiri dan mengikutiku ke dapur. Sedangkan Khun Oppa, Chan Oppa dan Taro menemani Junho Oppa di kamar sambil terus mengompresnya agar suhu tubuhnya menurun.


-He's a Girl-


"Kamu mau masak apa, Tara-ah?" tanya Taec Oppa sesampainya di dapur.

"Buat Junho Oppa mau aku buatin Mix Porridge. Bubur yang suka dibuat dikeluargaku kalo lagi ada yang sakit. Terus buat makan siang kalian... Hemmm... Kalian mau apa?" tanyaku pada Taec dan Woo Oppa. Woo Oppa yang sedang membongkar barang belanjaanku langsung berteriak,

"AYAM GOREEEENG...!" CTAAK...! "Yaaah Hyung. Kenapa kau memukul kepalaku?" ucap Woo Oppa sambil mengusap kepalanya yang dipukul Taec Oppa.

"Ini bukan saat yang tepat untuk makan ayam goreng. Memangnya apa yang biasa kamu masak saat musim panas di Indonesia, Tara-ah?" tanya Taec Oppa padaku.

"Bukan musim panas Oppa namanya. Musim kemarau. Banyak sih yang aku masak. Salah satunya sop ayam tahu. Mau?" tanyaku pada mereka.

"Mauuuu...! Pokoknya ada ayamnya. Hihihihihihihihi..." ucap Woo Oppa sambil ketawa ketiwi. Taec Oppa mengangguk tanda menyetujui pilihan Woo Oppa.

"Memangnya yang lain suka sup?"

"Khun Hyung suka sup. Kalo si Magnae, kamu tahu sendiri lah kalo dia sama sekali tidak pernah menolak makanan apapun yang disajikan. Hahahahaha..."

"Gaja kalo begitu. Yang kita butuhkan ada di tas belanjaanku itu. Oppa, tolong keluarkan dan bawa kesini." Woo Oppa mulai mengeluarkan sayuran dan segala kebutuhan yang tadi aku beli bersama Chan Oppa.


JUNHO

"Hyung. Mau kemana sama yeosaengku?" tanya Taro yang ada di sebelahku. Entah, tiba-tiba ada rasa tak nyaman di dalam hatiku saat kulihat Chan keluar dari Dorm sambil memeluk Tara.

"Mau nemenin si cantik ini belanja di supermarket. Kalian darimana saja?" tanya Chan sambil memakai masker dan kacamatanya serta memasang tudung kepalanya untuk penyamaran. Sedangkan Tara menggunakan Dorky Glasses. Aku sudah tak tahan dengan pemandangan ini.

"Aku masuk dulu." kataku sambil berusaha untuk tetap cool. 'Aghh. Kepalaku. Kenapa lagi ini.' Aku mulai sempoyongan. Kepalaku terasa beraaaaaat sekali. 'Sepertinya ini karena aku belum sarapan. Agghhhhh...!' Aku berhasil meraih handle pintu kamarku dan masuk ke dalam. Langsung ku jatuhkan badanku ke atas kasurku yang empuk. Tangan kiriku sudah mati rasa.

"Hyung. Nanti sore kita... YAH HYUNG...!" Taro yang masuk ke kamarku secara tiba-tiba, langsung memanggilku setengah berteriak. Aku langsung memberinya isyarat agar diam dan mendekat. "Hyung. Kamu kenapa?" Aku hanya menggeleng.

"Chan sama Tara udah berangkat?" Taro mengangguk dengan mimik yang sedikit takut. Kepalaku rasanya seperti diinjak-injak. Sakit sekali. Aku memejamkan mata sejenak menahan rasa sakit di kepalaku. "Tolong ambilkan ponsel di tasku. Lalu kirimkan pesan kepada Tara. Aku titip obat sakit kepala dan vitamin."

"Baik Hyung." Taro dengan sigap langsung mengambil ponselku dan mengetikkan beberapa kata. Lalu ia mengeluarkan ponselnya. Aku lupa bahwa aku tak punya nomer Tara. "Sudah aku kirim, Hyung. Hyung butuh apa lagi? Aku ambilkan minum yha." Taro berlari tanpa persetujuan dariku dan kembali membawa segelas air putih untukku.

"Taro-ah." Aku mencengkeram tangannya sambil menahan rasa sakit. Taro mendekatkan wajahnya kepadaku. "Jangan sampai yang lain tahu aku seperti ini. Aku ga mau mereka bingung." Taro mengangguk paham.

15 menit berlalu dan Tara belum datang juga sedangkan kepalaku sudah tak bisa lagi diajak kompromi. Taro mulai bingung lagi melihat aku yang mulai kesakitan di atas tempat tidurku.

"Hyung, daripada menunggu Tara yang ga dateng-dateng, aku belikan obat sendiri yha. Toko sebelah sini yang penjualnya tahu bahasa Inggris dimana?"

"Jarak 2 blok dari sini, ada toko yang agak besar. Kamu kesana ajja. Belikan aku obat sakit kepala, obat penurun panas dan vitamin."

"Baik Hyung. Tunggu yha." Taro segera berlari keluar kamarku.


Sesaat setelah Taro keluar dari kamarku, kerongkonganku terasa sangaaat kering. Aku haus sekali. Aku ingin meraih minum yang diambilkan oleh Taro tadi. Aku paksakan badanku yang lemah dan semakin lemah ini. Namun saat aku mecoba untuk bangun dan meraih gelas itu, pandanganku menjadi gelap dan aku tak ingat apa-apa lagi.

"OPPAAAAA...!" sayup-sayup aku dengar suara Tara. Tapi mataku masih tak bisa untuk terbuka. "Junho Oppa panas. Oppaaaa." 'Tara-ah... Tara-ah...' kataku dalam hati.

"Taecyeon-ah. Ambilkan es yang ada di kulkas sama handuk di lemari kamar mandi." Ku dengar suara Khun Hyung.

"Ne'. aku mau ambilkan obat turun panas juga." Suara Taec Hyung juga. Namun percakapan mereka setelahnya sudah tak dapat kudengar lagi. Kepalaku yag kembali pusing telah mengambil alih pikiranku. Namun tiba-tiba ada kekuatan yang datang hingga aku berusaha untuk membuka mataku.

Dan yang pertama kali kulihat adalah wajah Tara yang sedang menunduk sambil menangis. Aku tak tega melihatnya menangisiku. Jadi, kucoba untuk bangun dan berbicara.

"Errhhh. Tara-ah."

"Oppa." Tara memegang tanganku. Taro dan member 2PM yang lain pun langsung mendekat padaku. "Mianhae Oppa. Gara-gara Tara ga tahu kalo Oppa telepon, Oppa jadi kayak gini." Kuhapus air mata yang meleleh di pipinya. Aku tak mau dia bersedih. 'Mianhae Tara-ah. Ini salahku karena membuatmu menangis.' batinku. Kucoba untuk bangun dari tempatku berbaring dan mendekat kearahnya.

"Tara-ah. Aghhh...!" namun aku tidak kuat. Khun Hyung hanya menggeleng dan memberiku isyarat agar tidak bangun dulu untuk saat ini.

"Yah Lee Junho. Kamu mau mati? Kamu pasti belum sarapan kan tadi pagi?" tanya Taec Hyung yang terlihat sangat bingung. Aku mengangguk lemah.

"Oppa. Aku buatkan bubur yha. Sekalian aku buatkan makan siang buat kalian. Masakan khas Indonesia. Oke?" ujar Tara. Aku tersenyum. Kompres yang ada di kepala mulai mendinginkan suhu tubuhku yang meninggi dan mulai berpengaruh ke pikiranku yang semakin membaik.

Namun tiba-tiba Tara berbalik dan berkata, "Taec Oppa, Woo Oppa. Bantu aku masak. Gaja." Kedua orang yang aku panggil itu langsung sigap berdiri dan mengikutiya ke dapur. Sedangkan Khun Hyung, Chan dan Taro menemaniku di kamar sambil terus mengompresku.

"Jeongmal gomawo Chan-ah, Taro-ah, Hyung." ujarku.

"Baboo yaa. Lee Junho Baboo. Apa yang sedang kau pikirkan? Udah tahu punya sakit seperti ini, masiiiih ajja coba-coba ga sarapan." kata Chan padaku. Dia memang member 2PM yang paling dekat denganku. Kami sudah saling mengenal satu sama lain sejak Superstar Survival yang dulu ku menangkan.

"Yaah Junho-ah. Jangan diulangi lagi kelakuanmu ini. Kasian badanmu."

"Mianhae Hyung, Chan-ah. Tadi pagi aku benar-benar ga sempat untuk sarapan. Lagi pula, Taec Hyung juga barusan masak. Sedangkan Taro udah nunggu di bawah." Aku menyesal.

"Hyung, sebenarnya aku yang salah. Saat jalan-jalan tadi, Junho Hyung sudah mengajak aku buat nyari makan. Tapi aku nolak gara-gara aku masih kenyang. Mianhae." Taro mulai merasa bahwa dia yang bersalah. Namun Khun Hyung menengahi kami.

"Tidak ada yang bersalah disini. Ini murni sebuah kecelakaan. Tapi jangan coba-coba kamu ulangi lagi, Junho-ah. Mungkin jika ini terulang lagi, kau akan masuk RS." Khun Hyung mengingatkan aku. Aku hanya mengangguk.


"Makanan dataaaaanng. Oppa, makanan kalian sudah ada di meja. Sana gabung sama Taec dan Woo Oppa. Junho Oppa biar aku yang nyuapin." ucap Tara dengan gaya yang lucu. Khun Hyung, Chan dan Taro yang dikomando langsung berdiri dan beranjak pergi. Tinggal aku dan Tara saja di kamarku. Aku merasa kikuk. Entah Tara tahu atau tidak.

"Kamu buat apa?" tayaku sambil melongok ke mangkok yang Tara bawa.

"Udah cobain dulu. Oppa suka sayur kan?" Tara tersenyum. Aku mengangguk. Tara mulai menyuapiku bubur yang ia buat. Enak. Tak kusangka dia bisa masak.

"Enak, Tara-ah. Kamu pinter masak yha."

"Iyha dong. Tara kan cewek. Jadi harus bisa masak. Apalagi sekarang Tara tinggal sama cowok-cowok yang pada males masak. Daripada beli kan enak masak sendiri." jawab Tara. Aku tersenyum simpul. Dan sakit kepalaku semakin lama semakin membaik diikuti dengan turunnya suhu tubuhku kembali ke angka normal.

Setelah selesai makan, Tara menyuruhku istirahat dan menyelimutiku. Persisi seperti yang dilakukan Eomma saat aku sakit.

"Oppa harus banyak istirahat biar pulih kayak biasanya. Nanti Tara bangunin pas waktunya makan malam." Dia tersenyum. Dan aku mulai memejamkan mata tepat saat dia beranjak pergi dari kamarku.


-He's a Girl-


Tiba-tiba aku terjaga. 'Jam berapa ini?' batinku. Kulihat jam dinding yang menunjukkan jam 9. Aku sudah tertidur selama 2 jam setelah Tara membangunkanku untuk makan malam. Tanganku menyenggol sesuatu saat akan bangun untuk mengambil minum. Ternyata kepala Tara yang tertidur di pinggir tempat tidurku.

"Tara-ah." bisikku kaget. "Aduh. Ngapain ini anak tidur sini?" lalu aku mengangkatnya dan membaringkannya di sofa yang ada di kamarku. Lalu ku ambil selembar selimut di lemariku dan menyelimutkan pada Tara. Kupandangi wajahnya yang polos. Lalu kulanjutkan tidurku setelah mengambil minum di dapur.


PS : Pesannya masih sama kayak part 1. D butuhkan kritik dan saran yang membangun. Gomawo all. :)