He's a Girl

Author : Si HwangJae Tyaz

Genre : Romantic, Brother/Sistership

Cast :

Katara

Lee Junho

Kintaro

Hwang Chansung

Lee Eun Ji

2PM's Member

Disclaimer : Semua member 2PM di FF ini hanya milik Tuhannya masing-masing. Yang punyaku cuman ide FF ini. Happy reading. Don't forget your review, guys. Gamsahamnida.. :D


TARA

Kubuka mataku. Aku mengerjapkan mata dua kali sebelum aku benar-benar bangun dan sadar bahwa aku tidur di atas sofa.

"Lho, aku kok jadi tidur sini?" bisikku pelan. Kulihat Junho Oppa masih tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Jam dinding menunjukkan pukul 5 pagi. Sebelum aku pergi, ku betulkan selimut Junho Oppa. Lalu aku beranjak dari sofa dan masuk ke kamarku. Kulihat Taro sedang shalat Shubuh. Akupun segera mengambil air wudhu dan shalat.

Pukul 5.30 waktu Seoul, aku keluar dari kamar dan akan menuju dapur. Kulihat Chan dan Woo Oppa masih 'tergeletak' di lantai ruang tamu. Aku masih merasa itu adalah pemandangan yang lucu. Namun aku harus bergegas untuk memasakkan mereka semua sarapan. Kali ini aku memasakkan mereka Sosis gulung telur. Aku juga membuat acar dari wortel dan kubis yang diberi mayonnaise dan sup tahu. Sedangkan untuk Junho Oppa, aku membuatkan bubur beras merah. Aku harus bergerak cepat, sebab pukul 7.30, aku harus sudah sampai di kampus untuk kuliah perdanaku.

"Oppa, mandi sana. Terus habis mandi, bangunin Oppa-oppa yang lain. Aku mau buat sarapan dulu."

"Emang kamu sendiri udah mandi?" tanya Taro padaku.

"Udah donk. Cepetan mandi sana."

Lalu aku mulai memasakkan mereka sarapan. Tepat pukul 6.15, masakanku sudah matang semua. Saat aku menatanya di meja makan, seseorang menghampiriku.

"Baunya enak nih. Pasti rasanya juga enak."

"Oppa...! Kapan datang dari Daegu?"ternyata itu Junsu Oppa.

"Tadi malem. Kamu udah nemenin Junho tidur kok." Tanpa sadar, aku melotot ke arah Junsu Oppa. Junsu Oppa yang melihatku melotot ke arahnya, langsung mundur satu langkah. "Yaaah...! Meng... mengapa kau mel...melotot padaku?"

"Op..Oppa barusan bilang a...ap...apa?" Aku tergagap.

"Kamu udah nemenin Junho tidur. Kenapa?"

"Ja...ja...jadi...semua pada lihat aku tidur di kamar Junho Oppa?" Junsu Oppa mengangguk sambil mencoba supku. Aku menunduk lemas.

"Kenapa, Tara-ah?"

"Malu Oppa. Malu banget." Junsu Oppa tertawa pelan. Aku menoleh ke arahnya dan memukulnya pelan. "Oppaaaaa...!" belum sempat Junsu Oppa berhenti tertawa, Khun dan Taec Oppa datang.

"Ada apa ini?" tanya Khun Oppa. Belum sempat aku jawab, Taec Oppa sudah mengendus-endus bau masakanku.

"Hmmm. Baunya enak. Nyoba ahhh." Tiba-tiba Taec Oppa sudah mengambil sendok dan menyendok sup dan buburnya. "Aigoo... Enak nih. Hyung, cobain cobain. Tara-ah. Ini bubur buat Junho?"

"He'eh. Tapi masih ada sisa kok di atas kompor. Kalo mau, ngambil ajja. Aku mau nganter makannya Junho Oppa dulu yha." Aku beranjak ke kamar Junho Oppa. Terdengar suara rebut-ribut dari arah dapur. Aku hanya tersenyum.

Tok tok tok… Tok tok tok…

"Oppa?" tak ada balasan.

Tok tok tok… Tok tok tok…

Masih tak ada balasan. Aku bimbang di depan pintu kamar Junho Oppa. 'Masuk..enggak..masuk..enggak..ehmmm..ngetuk sekali lagi ajja deh baru masuk.' Namun, belum sempat tanganku mengetuk, pintu kamar Junho Oppa sudah terbuka.

"Oppa." ucapku pelan. Jantungku berdetak kencang karena kaget.

"Tara-ah. Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Junho Oppa dengan raut muka yang datar. Aku mengernyitkan dahi melihat mimik Junho Oppa yang begitu datar. Namun aku berusaha tetap tenang dan tak terpancing emosi.

"Ini aku bawain bubur." ujarku sambil tersenyum. Namun Junho Oppa tetap dengan ekspresi datarnya. Aku menyodorkan semangkok bubur yang kubawa padanya. Junho Oppa yang masih terlihat pucat menerimanya namun...

"Kayaknya aku udah ga butuh makan bubur lagi. Jadi, makan ajja sendiri. Ini." Dia langsung pergi meninggalkan aku yang masih terbengong-bengong di depan pintu kamarnya. 'MWO? Ini yang aku dapat setelah aku bela-belain bangun pagi dan masakin dia? What the...!' Tiba-tiba pundakku ditepuk dari belakang.

"Tara-ah?" aku menoleh dan terlihat pemandangan 2 orang manusia dengan wajah khas orang bangun tidur dan rambut acak-acakan.

"Omo...!" aku mundur selangkah gara-gara kaget. "YAAAAHHH...! What are you doing here, Oppa? Mandi atau sarapan sana...!"

"Ne'..." jawab Chan dan Woo Oppa dengan suara yang malas.

"Aigooo~... Apa ini?" Chan Oppa yang mencium bau makanan langsung sadar dan mengambil semangkok bubur yang pada awalnya akan kuberikan pada Junho Oppa. "Aku makan yha? Asyiiiikk..."

"YAAAAAHH...!" teriakku sambil merebut mangkoknya lagi.

"Tara-ah. Ini masih pagi. Jangan teriak-teriak." ucap Woo Oppa sambil menggosok-gosok matanya.

"Cepat mandi sana. Baru kalian boleh makan. Dasar pemalas." Aku meninggalkan mereka berdua yang sepertinya langsung mematuhi perintahku. Aku masuk kembali ke dapur. Kulihat Taec, Khun, Junsu dan Junho Oppa serta Taro sudah menyelesaikan sarapannya. Lalu aku berjalan ke arah kompor dan mengembalikan bubur yang terlanjur aku taruh di mangkok itu.

"Tara, kita berangkat habis ini yha? Kamu makan dulu sini."

"Aku bawa bekal ajja, Oppa." sambil menunjukkan bekal yang sudah kupersiapkan." Ini udah jam setengah 7. Kita harus cepat ke stasiun."

"Oke deh." Aku lalu masuk kamar dan keluar sambil membawa tasku dan tas Taro.

"Ini Oppa. Gaja kita berangkat." kataku sambil berjalan ke arah pintu. "Kami berangkaaaat. Annyeong."

"Jalga, twins." Semua member melambaikan tangan pada kami kecuali Junho Oppa. Seperti biasanya, dia hanya diam sambil melihat kami pergi.


-He's a Girl-


Tepat pukul 7.15 kami sampai di kampus kami, Universitas Incheon Department Ilmu Pengetahuan Alam atau Natural Sciences. Jurusan kami berdua berbeda sehingga kami harus berpisah saat memasuki gedung. Gedungku, Biologi berada di sebelah kiri Gedung Taro, Fisika. Namun, Taro dan aku sama-sama memasuki kelas internasional dimana banyak mahasiswa yang berasal dari luar Korea Selatan.

"Annyeong." sapaku kepada mahasiswa-mahasiswa lain yang ada di dalam kelas. Saat aku sampai, mereka sudah terlebih dahulu datang. Setelah mengucap salam, aku mencari tempat duduk yang menurutku pas.

"Do you come from out here?" tanya seorang mahasiswi yang duduk di sebelahku. Dia memakai kacamata yang memiliki frame full berbentuk persegi panjang. Rambutnya di ekor kuda sepertiku. Kulitnya putih. Sepertinya dia orang Korea. Atau bisa juga dari Jepang.

"Ne'. You too?" tayaku balik.

"Ani. I totally came from Seoul. Tapi aku ingin bekerja di luar Korea. Jadi aku masuk kelas Internasional. Where are you come from?"

"I come from Indonesia. Tara imnida. Katara. And you?"

"Ahh. I forgot to introduce myself. Eun Ji imnida. Lee Eun Ji. Bangapseumnida, Tara-ah."

"Mannaseo Eun Ji-ah." dan kami bersalaman.

"Tara-ah. Kenapa kamu pindah kesini?" kami melanjutkan perbincangan.

"Sebenarnya..." dan aku menceritakan bahwa aku dan Taro bekerja di JYPE office.

"MWO? Jinjja?"

"Sssssttt...! Aku ga mau ada yang tahu kalo aku kerja disana. Ini rahasia kita berdua, okay? Jangan bilang siapa-siapa."

"Janji janji. Aigoo~ Tara-ah. How lucky you are." Dia menepuk pundakku. Aku tersenyum hingga mataku yang sipit, semakin tak terlihat. Tiba-tiba...

"Okay. We'll start this class from now on. Open your book and write my explaination if you want it." itu Prof. Baek Jun Hee, dosen mata kuliah Pengetahuan Lingkungan. Jadi mau tak mau, aku dan Eun Ji menghentikan perbincangan kami. Dan perbincangan kami berlanjut sesaat setelah mata kuliah Prof. Jun Hee selesai.

"Tara-ah. Apa kamu benar-benar memiliki saudara kembar?"

"Kamu masih tidak percaya bahwa aku kembar?" Eun Ji menggeleng. "Baiklah. Aku panggilkan dia yha. Dia ada di gedung sebelah kok." Aku mencari ponselku di tas. Ku cari nomor Taro di kontak ponselku.

Tuuuuuut... Tuuuuuut... Tuuuuuut...

"Assalamualaikum. Yeoboseyo, yeosaeng?"

"Waalaikumsalam. Oppa, kamu sibuk?"

"Ani. Ada apa?"

"Datang ke gedungku sebentar. Mau? Aku ada di taman depan gedung."

"Baiklah. Tunggu sebentar. Aku turun."

Klik...! Taro menutup teleponnya.

"Tunggu sebentar, Eun Ji-ah. Dia mau turun kesini."

"Huaaaaaahhh...! Aku tak sabar melihatnya. Hahahahaha..."

"Dasar Eun Ji. Hahahahahahaha..." Aku dan Eun Ji seketika itu juga menjadi teman. Saat kami ngobrol, kami terterlihat seperti teman lama yang sudah lama tak bertemu. Banyaaaak sekali yang bisa kami jadikan bahan pembicaraan.

"Yeosaeng...!" Aku dan Eun Ji menoleh ke asal suara itu. Teryata itu Taro. Aku lagsung cepat-cepat menoleh ke arah Eun Ji. Wajah Eun Ji terlihat agak shock dan tidak percaya. Aku terkekeh.

"Ne', Oppa. Yeogie. Aku kenalkan teman baruku." Eun Ji memukul pelan pundakku dan berbisik padaku.

"Ka...ka...kalian benar-benar mirip, Tara-ah. Daebaakkk...!" Eun Ji mengangkat jempolnya. Aku hanya bisa tertawa lebar. Taro semakin mendekat dan tangan Eun Ji semakin kuat meremas lenganku.

"Eun Ji-ah. Sakit." Aku berbisik kepadanya. Dia langsung melepas tangannya dan tersenyum. Aku langsung beralih ke Taro. "Oppa, ini Eun Ji. Lee Eun Ji." Lalu aku menoleh kearah Eun Ji. "Eun Ji-ah. Ini Oppaku, Taro. Kintaro. Jusibsio, Oppa."

"Mannaseo Eun Ji-ah." Taro mengulurkan tangannya.

"Bangapseumnida Taro-ah." Eun Ji menyalami tangan Taro. Aku tersenyum.

"Oppa. Eun Ji pada awalnya sama sekali ga percaya kalo aku punya kembaran. Makanya aku telepon Oppa tadi. Mianhae kalo aku ganggu acara Oppa di atas tadi."

"Ahhh. Aku sedang tidak melakukan apa-apa tadi. Jadi, ini lebih baik. Aku bisa sekalian jalan-jalan." Eun Ji yang sedari tadi diam karena shock, langsung angkat bicara.

"Wuaaaaaahhhh...! Kalian berdua memang daebaaakk...!" Tawaku dan Taro langsung meledak mendengar kata-kata Eun Ji barusan. Eun Ji yang bingung langsung bertanya. "Mwo? Apa aku salah?"

"Eun Ji-ah. Kau sungguh lugu. Neomu sunjin." Tiba-tiba dari kejauhan, ada yang memanggil Taro.

"Taro-aaah...!" serempak kami menoleh.

"Taro-ah. Itu siapa?" Eun Ji menunjuk seorang namja yang memanggil Taro.

"Ahhh. Kang Hee-ah. Yeogie yeogie." Namja yang bernama Kang Hee itu mendekat.

"Apa yang kau lakukan di sini, Taro-ah?" lalu dia menoleh padaku. "Omo. It's your twins?" dia terlihat kaget saat melihat wajahku.

"Ne'. Ini Tara yang tadi aku ceritakan." Taro menunjukku. Aku hanya membungkuk.

"Tara imnida. Katara."

"Ohh. Kang Hee imnida. Hwang Kang Hee. Bangapseumnida."

"Mannaseo." ucapku sambil tersenyum dan bersalaman dengan namja itu.


-He's a Girl-


Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Jarumnya menunjukkan pukul 5.30 sore. Namun saat itu aku masih ada di dalam kereta bersama Eun Ji. Taro sudah pulang lebih dahulu karena hari ini setelah pulang kuliah, aku dan Eun Ji ingin berjalan-jalan di sekitar lingkungan universitas dulu. Namun, tak terasa waktu berjalan begitu cepat sehingga kami harus pulang.

"Tenang saja Tara-ah. Kamu akan sampai dorm tepat pukul 6. Kirim pesan saja terlebih dahulu pada Taro. Dia akan mengerti. Lagipula, rumahku kan dekat dengan dormmu. Aku akan mengantarmu sampai ke depan gedung JYPE lalu aku baru naik bis untuk pulang. Okay?" Eun Ji melihat kegelisahanku. Aku mengangguk dan tersenyum.

"Eun Ji-ah."

"Ne'?"

"Rumahmu dimana? Apa benar dekat dengan dorm?"

"Hemmm... Sebenarnya ga bisa dibilang dekat. Lebih tepatnya sejalan. Rumahku di Wangsimni. Kita hanya terpisahkan oleh sungai Han."

"Wangsimni? Like Chansung Oppa? Aigo~... Apa kalian tak saling kenal?"

"Chansung Oppa dari Wangsimni?"

"Kamu tidak tahu?"

"Ani, nado molla. Jinjja?"

"Yaaaahh...! You kidding me, right? Tadi kamu bilang kalo kamu suka dengan wajah Chan Oppa. Mengapa sekarang kamu tidak tahu dia darimana?"

"Hahahahahaha..." Eun Ji tertawa keras dan semakin keras saat melihatku manyun. "Tara-ah. Sudah pasti aku tahu dimana rumah Chansung Oppa. Lagipula, kami ini berasal dari daerah yang sama. Wangsimni. Tapi aku tidak tahu dari Sangwasimni-dong atau Hawangsimni-dong."

"Lho, Wangsimni-dong itu terbagi dua? Ohhhh..." aku mengangguk-angguk tanda mengerti. Lalu tak lama kemudian, kereta yang ku tumpangi berhenti di stasiun Cheongdam.

"Kali ini, aku akan nganterin kamu sampek depan JYPE office. Terus aku pulang. Tapi besok-besok, aku harus turun di Stasiun Gangnam-gu office terus aku harus ganti kereta." ujar Eun Ji sesaat setelah turun dari kereta.

"Kenapa ga ikut aku turun di Cheongdam terus naik bus ajja?"

"Lebih murah naik kereta sayang. Sudah, ayo kita jalan. Ini sudah jam 5.40."

"Gaja."


10 menit kemudian, aku sudah sampai di Dorm. Dorm terlihat sepi. Tak ada suara terdengar dari dalam. Sepertinya semua keluar. Tiba-tiba pintu terbuka.

"Omo...!" terlihat seorang namja keluar dari dalam Dorm degan tergesa-gesa.

"Oppa. Mau kemana?"

"Aku mau menyusul Chansung, Taro, Khun Hyung dan Junsu Hyung ke tempat karaoke di dekat Cheongdam Park. Kau baru pulang Tara-ah?"

"Iyha. Aku habis jalan-jalan sama temen baruku."

"Baiklah. Ini kunci Dormnya." sambil meletakkan kunci itu di tanganku. "Junho tidak ikut kami. Tapi dia baru saja keluar untuk membeli sesuatu. Aku berangkat. Annyeong Tara-ah." ujarnya sambil melambaikan tangan dan berjalan menjauh.

"Jalga, Wooyoung Oppa." Aku melangkah masuk dan menuju kamarku. Namun aku melihat sesuatu tertempel di daun pintu kamarku.

"Temui aku di balkon Dorm. Aku mau mengatakan sesuatu." (Lee Junho)

"Balkon? Bukannya tadi Woo Oppa bilang dia keluar yha? Apa dia sudah kembali?" aku berbicara dengan diriku sendiri. Lalu aku melihat ke arah pintu balkon yang terbuka. Tanpa sadar aku berjalan mendekat ke arah balkon. Tetapi aku tak melihat ada siapa-siapa di sana. Namun saat berbalik, lagi-lagi ada sesuatu yang tertempel di bagian luar pintu balkon.

"Karena aku sudah menunggumu terlalu lama dank au tak datang juga, aku pergi keluar sebentar untuk membeli sesuatu. Tunggu aku di sini. Jangan kemana-mana." (Lee Junho)

"Yaaaahhh...! Apa yang sedang dipikirkan lelaki dingin ini? Apa dia tidak tahu betapa capeknya aku? Aiisssshhhh..!" teriakku sambil menjatuhkan diri di sofa yang ada di balkon. Angin malam semilir membuat mataku berat. Aku memejamkan mata untuk mengistirahatkan badanku yang lelah ini. Namun aku jatuh tertidur.


PS : Pesannya masih sama kayak part 1. D butuhkan kritik dan saran yang membangun. Gomawo all. :)