He's a Girl
Author : Si HwangJae Tyaz
Genre : Romantic, Brother/Sistership
Cast :
Katara
Lee Junho
Kintaro
Hwang Chansung
Lee Eun Ji
2PM's Member
Disclaimer : Semua member 2PM di FF ini hanya milik Tuhannya masing-masing. Yang punyaku cuman ide FF ini. Happy reading. Don't forget your review, guys. Gamsahamnida.. :D
Tiba-tiba aku terbangun. Kebiasaanku yang tiba-tiba bangun di tengah malam mulai kembali lagi. Aku benci kebiasaan ini. Sesaat setelah terbangun, aku melihat sekelililngku. Aku mengernyitkan dahi. 'Bukannya aku tadi ada di balkon yha? Sapa yang mindahin? Taro kali yha. Yasudahlah.' Dan aku kembali tertidur.
Keesokan paginya, aku melakukan hal yang sama seperti kemarin, memasakkan para penghuni rumah dan bersiap-siap pergi kuliah. Kali ini aku mencoba memasak sebuah masakan Korea yang pernah ku masak di Indonesia, Gaeran Mari (telur dadar gulung) dan Japchae.
"Oppa." Aku memanggil Taro yang sedang memasukkan buku-bukunya.
"Hem?" shut Taro tanpa menoleh. Dia masih konsen dengan bukunya.
"Tadi malam, waktu Oppa pulang, aku ada dimana?"
"Di kamar. Tidur. Katanya Woo Hyung, kamu baru datang sekitar jam 6an. Makanya ga aku ganggu istirahatmu."
"Ahhh. Gitu ya. Oke deh." Aku masih penasaran siapa yang mengangkatku masuk ke dalam kamar kemarin malam.
"Emangnya..." Tiba-tiba Taro berbicara. "Kamu kemarin kemana ajja sampek baru pulang jam segitu? Jalan-jalan sama Eun Ji?"
"Ne'. Eun Ji ngajak aku keliling di sekitar kampus. Lumayan Oppa. Sekeliling kampus itu bagus banget. Kang Hee-ssi tidak mengajakmu jalan-jalan?"
"Rencananya hari ini. Jadi hari ini kamu pulang sendiri kayak kemarin yha."
"Arraseo. Aku juga mau pulang dengan Eun Ji kok." Aku berjalan keluar kamar untuk menyiapkan bekal yang akan aku bawa ke kampus saat Taro berbicara lagi.
"Oh iyha Yeosaeng. Tadi Junho Hyung mencarimu."
"Mencariku? Hmmm. Baiklah. Gomawo Oppa."
Aku keluar dari kamar dan berusaha mencari Junho Oppa. Aku mencarinya di dapur, di kamar mandi, ruang tamu, balkon. Namun, dia tak bisa kutemukan. Tiba-tiba...
"Mencariku?" terdengar suara seorang namja yang sangat ku kenal. Dan tetap dengan nada pedenya yang selangit.
"Omo...!" Aku hampir jatuh karena kaget. Untung tangan Junho Oppa berhasil memegang lenganku. Namun cepat-cepat aku lepaskan tangannya dari lenganku. "Yaaah Oppa. Kenapa muncul begitu saja di belakangku? Untung aku tidak jantungan. Hufffff..." aku mengelus dadaku dan menenangkan jantungku yang masih berdetak cepat karena kejadian tadi.
"Buktinya tidak apa-apa khan?" Junho Oppa berlalu. Cepat-cepat aku membuka suara.
"Yaah Oppa. Kata Taro Oppa, Oppa mencariku. Ada apa?"
"Tidak apa-apa. Hanya memastikan kau sudah bangun setelah setengah malam kau habiskan untuk tidur di balkon Dorm." ujarnya sambil terus berjalan menjauh.
"Mwooo? Yah Oppaaa. Jadi..." Junho Oppa berhenti. Dia membalikkan badan dan menyela ucapanku.
"Ne'. Seharusnya kau berterima padaku." Dia berbalik lagi dan masuk ke kamarnya.
Aku tersenyum malu. 'Yaah Junho Oppa. Bagaimana kau bisa begitu dingin padaku setelah kejadian tadi itu?' Cepat-cepat aku aku mengetuk kamarnya dan berkata, "Gomawo Oppa. Jeongmal Gomawo." Lalu aku pergi sambil senyum-senyum sendiri. Hihihihi...
-He's a Girl-
JUNHO
"Aku pulang." Aku menoleh ke arah pintu Dorm. Kulihat Taro masuk dan melepas sepatunya. Tak kulihat Tara bersamanya.
"Taro-ah."
"Ne' Hyung? Museun iliya-ada apa?"
"Mana Tara? Dia tak pulang bersamamu?"
"Ohh Tara. Dia sedang ada janji dengan teman kuliah barunya. Jadi mungkin dia akan pulang telat." Ku lirik jam dinding di atas Televisi yang menunjukkan pukul 3 sore.
"Kira-kira dia pulang jam berapa? Apa dia sudah tahu jalan pulang?"
"Tenang saja Hyung. Teman barunya itu dari Wangsimni. Tempat itu dekat dari sini khan?" aku mengangguk. Entah mengapa perasaanku menjadi lega sekarang. Kulanjutkan kegiatanku yang sempat terhenti tadi, menulis lirik lagu. Sembari menulis, aku memanggil Taro.
"Taro-ah?"
"Ne' Hyung?"
"Bagaimana kuliah hari pertamamu? Sudah dapat teman baru kau?"
"Hahahahaha. Sangat menyenangkan Hyung. Banyak teman yang sama-sama bukan orang Koreanya denganku. Jadi aku tidak merasa kesepian. Oh iyha Hyung. Dimana member yang lain?"
"Junsu dan Khun Hyung ke tempat latihan untuk berlatih vocal. Chansung-i dan Wooyoung-i pergi membeli sesuatu ke supermarket. Taec Hyung, mungkin sedang tidur atau mengerjakan sesuatu di kamarnya. Jadi, kau sudah berkeliling Incheon?"
Kami melanjutkan perbincangan hingga tak terasa hari sudah sore. Junsu Hyung, Khun Hyung, Chansung-i dan Wooyoung-i juga sudah kembali. Namun Tara belum juga pulang. Rasa resah kembali menyelimutiku .
"Yaah Taro-ah. Dimana Yeosaengmu? Ini sudah jam setengah 5." Taro megeluarkan ponselnya dan menelepo seseorang. Tiba-tiba...
"Bagaimana kalau malam ini kita habiskan waktu di luar Dorm? Untuk menyambut kepulangan Junsu Hyung. Aku tahu tempat yang cocok utuk peminum seperti Taec Hyung dan Chansung-i serta penyanyi macam Junsu dan Khun Hyung. Bagaimana? Hyung, kau setuju khan? Sekalian untuk menyambut kedatangan Taro di tengah-tengah kita." Wooyoung-i mengusulkan sebuah ide.
"Aku jelas setuju degan usul Wooyoung-i." Taec Hyung mengangkat tangannya. lalu diikuti Chansung, Taro, Junsu Hyung dan Khun Hyung.
"Junho-ah. Kau tidak ikut?" Khun Hyung bertanya padaku.
"Tidak. Badanku masih belum kuat untuk ikut mabuk-mabukan dengan kalian."
"Bilang saja kau tak kuat mabuk Junho-ah." Chansung tertawa mendengar ejekan yang di lontarkan Taec Hyung. Aku hanya trsenyum.
"Baiklah. Pukul 5 tepat kita berangkat. Arraseo?" ujar Wooyoung-i.
Tepat pukul 5, mereka berenam berangkat. Aku berpesan pada Taro untuk mengirimkan pesan kepada Tara agar cepat pulang karena sudah sore. Taro mengangguk mengerti.
Sesaat setelah mereka berenam pergi, aku menuliskan sesuatu di selembar Sticky Note yang aku tempelkan di pintu kamar Tara.
"Temui aku di balkon Dorm. Aku mau mengatakan sesuatu." (Lee Junho)
Ku tunggu dia di balkon Dorm seperti yang kutulis di Sticky Note itu. Kupandangi setiap orang yang melewati gedung kami. Waktu terus berjalan cepat namun Tara belum juga.
"Mana sih ini anak. Lama banget datengnya. Jadi laper." Aku berbicara dengan diriku sendiri sambil memegangi perutku yang lapar. Lalu aku memutuskan untuk keluar dan membeli ramen. Aku menulis sebuah pesan lagi di atas Sticky Note yag ku tempel di pintu balkon.
"Karena aku sudah menunggumu terlalu lama dank au tak datang juga, aku pergi keluar sebentar untuk membeli sesuatu. Tunggu aku di sini. Jangan kemana-mana." (Lee Junho)
Lalu aku mengganti pakaianku sehingga orang-orang tak bisa mengenaliku. Saat akan berangkat, ternyata Wooyoung-i kembali ke Dorm.
"Junho-ah. Mau kemana?"
"Keluar bentar beli minum. Kenapa balik lagi?"
"Ambil ini." sambil menunjukkan dompet yang sangat ku kenali. Dompet Khun Hyung.
"Yaudah. Aku mau keluar duluan yha. Nanti kalo Tara pulang, bilang kalo tak cariin yha." Wooyoung-i mengangguk. Lalu aku keluar Dorm.
Aku berjalan ke arah supermarket terdekat dari Dorm. Sepanjang jalan, aku terus memikirkan Tara yang belum pulang sambil bergumam pada diriku sendiri.
"Anak ini sebenarnya kemana sih? Jam segini masih belum pulang juga." Tiba-tiba aku sadar akan sesuatu dan mulai bergumam lagi. "Lha..! Terus ngapain aku ngurusin dia? Aduh mulai gila nih aku. Aishhh...!" Aku memasuki supermarket dan langsung menuju ke tempat ramen. Tetapi aku berhenti sejenak dan menggumam lagi.
""Tapi kalo dia kenapa-kenapa gimana? Kan dia gatau Seoul. Hasssshhh. Wanita ini menyusahkanku saja." Lalu aku melihat jam tanganku. "Mwo? Jam 6? Dia sudah di rumah atau belum yha? Ahhh.. Aku harus cepat-cepat pulang ini." Aku segera bergegas ke kasir.
Sesampainya di Dorm, Dorm terlihat sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan namun pintu depan tak terkunci.
"Tara-ah?" tak terdengar suara. "Tara-ah..." masih hening. Aku berjalan ke arah balkon Dorm. Lalu aku meemukan Tara yang tertidur pulas di atas sofa yang ada di balkon. "Aisssshhhh...! Apa yang di pikirkan anak ini? Tidur di luar tanpa selimut?" Akupun menggendongnya ke dalam kamar.
Ku pandangi wajahnya yang terlihat letih itu. Aku tersenyum. Aku lega dia sudah ada di rumah. Ku elus lembut keningnya. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di hatiku.
"Tidur yang nyenyak, Tara-ah. Gomawo sudah menjagaku saat aku sakit. Ini caraku membalasnya." Aku menyelimutinya persis seperti ia menyelimutiku. Ku matikan lampu kamarnya dan aku keluar dari kamarnya.
-He's a Girl-
"Aaaahhhh...!" aku merenggangkan ototku saat bangun dari tidurku. Tiba-tiba wajah Tara muncul di benakku. "Apa anak itu sudah bangun yha?" aku turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar.
Saat akan menuju kamar Tara, aku bertemu Taro yang baru selesai mandi.
"Hyung. Bagaimana tidurmu semalam?"
"Sangat nyenyak. Oh iyha Taro-ah. Mana yeosaengmu?"
"Sedang memasak di dapur. Ada apa Hyung?"
"Ani ani. Hanya bertanya. Bilang kalo aku mencarinya yha."
"Arraseo Hyung."
Aku pergi ke balkon dan menikmati udara pagi sambil tiduran di sofa. Lalu ada Chansung datang dengan wajahnya yang terlihat masih mengantuk.
"Chansung-ah."
"Hem?"
"Kalau masih ngantuk, tidur sana."
"Hari ini aku ada kuliah. Makanya aku bangun pagi."
"Kuliah? Musim panas? Apa dosenmu sudah gila?"
"Huhuhuhuhuhu... Sepertinya iyha." Chansung memasang wajah memelas. Aku bangkit dari sofa dan menyuruhnya tidur di sofa itu lalu aku masuk ke dalam. Saat itu juga aku melihat Tara sibuk mencari sesuatu. Aku mendekatinya.
"Mencariku?" Sepertinya, suaraku membuat dia kaget.
"Omo...!" Dia hampir jatuh karena kaget. Untung tanganku berhasil memegang lengannya. Namun cepat-cepat dia lepaskan tanganku dari lengannya. "Yaaah Oppa. Kenapa muncul begitu saja di belakangku? Untung aku tidak jantungan. Hufffff..." Kulihat dia mengelus dadanya karena kejadian tadi.
"Buktinya tidak apa-apa khan?" Akupun berlalu.
"Yaah Oppa. Kata Taro Oppa, Oppa mencariku. Ada apa?" Dia membuka suara. Aku yang masih terus berjalan hanya tersenyum. Aku menjawab dengan nada bicara kesukaanku, nada bicara yang datar.
"Tidak apa-apa. Hanya memastikan kau sudah bangun setelah setengah malam kau habiskan untuk tidur di balkon Dorm."
"Mwooo?" Dia berteriak. "Yah Oppaaa. Jadi..." Aku yang tak tahan untuk tidak melihat ekspresinya pun berhenti. Aku membalikkan badan dan menyela ucapannya.
"Ne'. Seharusnya kau berterima padaku." Aku berbalik lagi dan masuk ke kamarku. Ku tutup pintu kamarku dan tersenyum bangga seperti pahlawan yang sudah menyelamatkan nyawa kekasih hatinya. Tiba-tiba pintuku di ketuk.
"Gomawo Oppa. Jeongmal Gomawo." Terdengar suara Tara dari luar kamarku. Lalu aku semakin bangga dengan diriku dan melakukan tarian bodoh di depan cermin. Hihihihi...
-He's a Girl-
Hari ini, hanya aku yang tinggal di rumah. Semua member, termasuk Taro, pergi ke tempat latihan. Mereka semua berlatih dance untuk Fan Meeting kami 2 minggu lagi dimana acaranya adalah perkenalan member kami yang ke-8, yaitu Taro. Mengapa ke-8? Karena kami masih menganggap bahwa Jaebum-i Hyung adalah salah satu dari kami. Leader kami. The one and only Leader for 2PM.
Taro sudah mengatakan padaku bahwa Tara akan pulang terlambat. Jadi aku tak perlu khawatir. Dia juga meminta tolong padaku untuk menjemput Tara di stasiun. Of course, dengan senang hati aku menyanggupinya. Hahahahahaha...
Jam menunjukkan pukul 8 lewat 30 menit. Tara masih belum pulang juga. Aku mulai khawatir. Entah mengapa, dari tadi sore perasaanku sudah tak enak.
"Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Tara. Aku harus meneleponnya." Aku mencari ponselku dan menelusuri nomor demi nomor di kontak ponselku mencari sebuah nomor. Katara.
Tuuuuuuuuuut... Tuuuuuuuuuuut...
"Oppaaaaaa... Hiks..hiks... Oppaaaaaa..." Ku dengar suara tangisan itu sesaat setelah panggilanku di angkat. Aku terkesiap.
"Tara-ah? Neo gwaenchanhni? Tara-ah? Apa yang terjadi?"
-He's a Girl-
TARA
"Oppa. Aku pulang telat." SEND... SENDING DELIVERED...!
Ahhh... Aku sudah mengirimkan pesan pada Taro bahwa aku akan pulang telat. Aku di ajak Eun Ji untuk mengunjungi Ajumeoninya di Bupyeong-gu. Lalu aku belajar pulang sendiri naik kereta karena Eun Ji harus menginap disana.
"Eun Ji-ah. Ayo ikut pulang bersamaku." rengekku pada Eun Ji sesaat sebelum keretaku datang di stasiun Bupyeong-gu Office. Tetapi Eun Ji menggeleng. Aku memasang wajah pasrah.
"Yaah Tara-ah. Sudah saatnya kau tahu jalan pulangmu sendiri. Lagipula, kereta ini hanya ada di satu jalur saja. Line 7. Apa yang kau takutkan?"
"Aku takut ketiduran di dalam kereta. Jika kau ikut aku, kau pasti membangunkan aku saat di stasiun Gangnam. Ayolah Eun Ji-ah." Eun Ji masih menggeleng. Lalu keretaku datang.
"Bye Tara-ahhhh." Eun Ji melambaikan tangan padaku sesaat setelah aku masuk dan pintu kereta di tutup. Ahhh... Eun Ji tak tahu bahwa aku sangat ngantuk sekali saat itu. Ku paksakan mataku untuk tetap terjaga. Namun, aku jatuh tertidur saat kepalaku bersandar pada kursi yang ku duduki. Lalu aku tak ingat apa-apa.
Tiba-tiba aku terjaga. 'Ini sudah sampai mana?' Aku mencoba bertanya pada ibu-ibu sebelahku.
"Excuse me. Where is this?"
"Mwo?" tanya ibu itu.
"Where is this?"
"Dangsini malhaneun geoseul ihae haji anhseubnida- aku tak mengerti apa yang kamu katakan. Mianhae." Kata ibu itu dalam bahasa korea yang cepat. Aku yag bingung langsung menjawab sekenanya.
"Mianhae, Ajumeoni."
"Ne'. Gwaenchahnayo."
Tiba-tiba kereta melambat. 'Ahh. Sepertinya sudah sampai. Hihihihi.' Lalu aku melangkah keluar saat kereta sudah benar-benar berhenti. Aku melihat sekelilingku.
"Ini terlihat seperti stasiun Cheongdam, tempatku turun kemarin. Hemmm... Baiklah. Pulang pulang." Aku keluar dari stasiun dan menyadari bahwa diriku sedang tidak berada di stasiun yang benar. "Dimana ini?" aku berjalan agak lama dan kutemukan jembatan besar yang melintasi sebuah sungai yang lebar. Aku mulai merasa takut. Air mata mulai menggenangi pelupuk mataku. Aku mulai menangis di tengah-tengah jembatan yang memiliki jalan raya di sisi lainnya. Tiba-tiba...
Listen to my heartbeat
(It's beating for you)
Listen to my heartbeat
(It's waiting for you)
Itu panggilan dari nomer yang sangat ku kenal. Junho Oppa. Langsung ku angkat panggilan itu tanpa babibu...
"Oppaaaaaa... Hiks..hiks... Oppaaaaaa..." Aku berteriak padanya sambil menangis.
"Tara-ah? Neo gwaenchanhni? Tara-ah? Apa yang terjadi?" Dari suaranya, dia terdengar sangat khawatir.
"Aku kesasar. Aku gatau sekarang aku dimana. Hiks..hiks.. Oppaaaaaa... Aku takuuuut..." tangisku semakin menjadi-jadi. Jalanan yang kulalui ini sangat sepi karena sekarang sudah pukul 9.30 waktu Seoul.
"Tara-ah. Tenang yha. Aku akan mencarimu. Kau ada di daerah mana?"
"Aku tidak tahu Oppa. Aku belum bisa membaca Hangeul. Oppaaa... Hiks..hiks..hiks.."
"Ahhh aku lupa. Bagaimana ciri-ciri tempatmu berdiri sekarang?" Aku yang masih terisak berusaha melihat sekelilingku.
"Aku tadi turun di stasiun yang dekat dengan sungai besar. Sekarang aku ada di atas jembatannya. Dekat dengan resort juga. Oppaaaa... Cepat jemput aku. Aku takuuuut..."
"Cheongdam Bridge." Dia menggumam. "Aku kesana dalam waktu 10 menit. Tunggu aku Tara-ah. Jangan menangis."
"Cepat datang Oppa."
10 menit... 20 menit...25 menit...
"TARA-AH..!" Ku dengar teriakan dari kejauhan. Itu Junho Oppa.
"Oppaaa..." Aku yang sudah tak kuat berjalan karena capek dan shock akibat tersesat hanya bisa terduduk sambil melambaikan tangan padanya tanpa bisa berteriak. Ku lihat ia mendekat.
"Tara-ah." Dia memegang pundakku. Aku tersenyum. "Kau tidak apa-apa?" entah karena apa, tiba-tiba aku memeluknya. Dia terlihat sangat kaget.
"Oppaaaaaaaa..." Aku menangis tak bersuara. Dia masih membiarkanku memeluknya. Setelah agak lama, baru aku melepasnya. Air mataku masih meleleh di pipiku. Dengan tangannya yang dingin, ia mengusap air mata itu. Ku lihat sisi lain Junho Oppa malam ini. Sisi hangat yang salama ini ia sembunyikan.
"Ayo kita pulang, Tara-ah. Aku ga mau kamu sakit." Dia membantuku berdiri. Tiba-tiba, pandanganku mulai agak kabur. Aku terhuyung namun tangan Junho Oppa menahanku agar tidak jatuh. "Tara-ah. Neo gwaenchanhni?" Dia membopongku.
"Aku pusing Oppa. Kepalaku sakit." Tanpa banyak bicara, dia menggendongku di pundaknya. Ternyata letak ia memarkir motornya dan tempat kami bertemu tadi lumayan jauh.
"Dengarkan aku baik-baik, Tara-ah. Aku akan membawamu ulang dengan segera. Pegang erat-erat pinggangku. Jika kau merasa mau pingsan, bilang aku. Aku akan berhenti sebentar. Arraseo?"
"Ne' Oppa." Aku memegang pinggangny erat-erat dan saat itu juga motornya mulai melaju. Kepalaku semakin pusing. Wajahku terasa panas seperti terbakar. Aku sudah tak ingat apa-apa lagi setelah itu. Yang ku degar hanya suara Wooyoung Oppa yang berteriak namun setelah itu aku sama sekali tak mengenali suara siapapun.
PS : Pesannya masih sama kayak part 1. D butuhkan kritik dan saran yang membangun. Gomawo all. :)
