He's a Girl
Author : Si HwangJae Tyaz
Genre : Romantic, Brother/Sistership
Cast :
Katara
Lee Junho
Kintaro
Hwang Chansung
Lee Eun Ji
2PM's Member
Disclaimer : Semua member 2PM di FF ini hanya milik Tuhannya masing-masing. Yang punyaku cuman ide FF ini. Happy reading. Don't forget your review, guys. Gamsahamnida.. :D
"Tara-ah... Jeongmal saranghae..."
Wajah namja itu sepertinya ku kenal. Aku memicingkan mata. Tiba-tiba aku ingat. Itu Kak Aji. Kakak kelasku waktu SMA dulu. Orang yang selalu ada saat aku benar-benar butuh seseorang di sampingku. Orang yang paling aku kagumi karena ketegasannya saat menjadi ketua OSIS. Dia yang membuatku menyukai Korea. Dan mendapatkan takdir ini. Dia mendorongku untuk melakukan ini. Namun aku mengingat ingat lagi.
"Tara-ah... Jeongmal saranghae..."
Suaranya semakin melemah. Sosoknya semakin menjauh. Aku mengejarnya. Namun tanganku tak bisa meraihnya. Mulutku pun tak bisa meneriakkan namanya. Aku hanya bisa menangis saat kulihat sosoknya yang semakin pudar.
"Tara-ah... Sudah saatnya kau melupakan aku... Ada yang lebih baik untukmu..."
Sosoknya terbang ke angkasa. Sambil tersenyum, dia melambaikan tangannya ke arahku. Tangisku semakin menjadi. Aku hanya ingin mengatakan padanya bahwa aku juga ingin ikut dia ke Surga. Ya ke Surga. Kak Aji meninggal satu tahun yang lalu. Tepat saat pengumuman penerimaan mahasiswa baru. Saat itu, dia menitipkan pesan agar aku pergi ke Korea dan menuliskan namanya di Cheongdam Park. Itulah alasanku ke Korea.
"Annyeong Tara-ah... Jangan mengecewakan aku... Berbahagialah dengannya..."
Lalu kurasakan pipiku ditepuk pelan. Dan sosok Kak Aji berganti dengan wajah Lee Junho yang terlihat khawatir.
"Tara-ah. Tara-ah. Apa yang terjadi? Kenapa kamu nangis? Apa kamu kesakitan? Sebelah mana yang sakit?" kulihat wajahnya yang khawatir. 'Lee Junho. Apa dia yang dikirim Kak Aji buatku?' tanpa sadar aku mengelus pipinya.
"Oppa." Dia masih terlihat khawatir dan kebingungan karena pipinya ku sentuh.
"Tara-ah. Ada apa? Ada apa, Tara-ah? Jangan membuatku ketakutan begini."
"Oppa." Tiba-tiba Khun Oppa datang sambil membawa segelas air. Dia melihatku memegang pipi Junho Oppa. Dia terlihat kaget lalu tersenyum.
"Kau sudah merasa baikan Tara-ssi?"
"Sudah Oppa." Aku beralih ke Junho Oppa yang masih kebingungan. "Oppa, gomawo sudah menjagaku. Jeongmal gomawo."
"Ne' Tara-ah. Hapus air matamu itu. Nanti dikira aku yang membuatmu menangis." Aku tertawa kecil. Dan kulihat senyuman mengembang dari mulutnya.
-He's a Girl-
JUNHO
Aku mengeluarkan motorku dari garasi Dorm. Dengan segera aku menyalakan motor dan berangkat menjemput Tara. Aku yang khawatir karena dia tak segera pulang, semakin khawatir akibat tangisannya di telepon tadi.
"Oppaaaaaa... Hiks..hiks... Oppaaaaaa..." Masih terngiang-ngiang di telingaku suara tangis itu. Semakin ku percepat laju motorku. Dan 15 menit kemudian aku sampai di Cheongdam Bridge. Ku parker motorku di dekat stasiun. Aku berkeliling stasiun. Mungkin saja dia masih ada di stasiun. Ku cari sekitar 5 menitan namun hasilnya nihil. Akhirnya kuputuskan untuk mencarinya di sekitar jembatan.
Tak lama aku mencari. Dari kejauhan, kulihat seorang yeoja terduduk jarak 100 meter dariku. Sepertinya dia ketakutan. Tangan yang dia kepalkan di depan dadanya terlihat gemetar.
"TARA-AH..!" Ku teriakkan namanya sambil terlari mendekat. Dia menoleh dengan air mata masih tersisa di pipinya. 'Tara-ah. Jangan menangis lagi. aku sudah di sini.' bathinku. Ingin sekali aku memeluknya dan membawanya pulang segera. Udara malam ini tidak seperti biasanya. Malam ini udara terasa lebih dingin.
"Oppaaa..." Dia hanya melambaikan tangannya dengan posisi yang tetap terduduk di tepi jembatan.
"Tara-ah." Aku berlutut di depannya sambil memegang pundaknya. "Kau tidak apa-apa?" Tiba-tiba ia memelukku. Aku kaget. 'Apa dia bisa membaca pikiranku?' aku masih bingung dengan pikiranku sendiri hingga ku dengar dia terisak di dadaku.
"Oppaaaaaaaa..." Aku membiarkannya memelukku beberapa saat. Aku tahu dia sangat ketakutan. Setelah agak lama, baru dia melepasnya. Ku hapus air mata yang meleleh di pipinya.
"Ayo kita pulang, Tara-ah. Aku ga mau kamu sakit." Aku membantunya berdiri. Namu tiba-tiba dia terhuyung seperti akan pingsan. Aku kaget dan langsung merangkulnya. "Tara-ah. Neo gwaenchanhni?"
"Aku pusing Oppa. Kepalaku sakit." Aku yang semakin khawatir dengan keadaan Tara, langsung menggendongnya di punggungku. Sepertinya dia sama sekali tidak melawan. Lalu aku berjalan ke motorku yang ku tinggalkan di stasiun.
"Dengarkan aku baik-baik, Tara-ah. Aku akan membawamu ulang dengan segera. Pegang erat-erat pinggangku. Jika kau merasa mau pingsan, bilang aku. Aku akan berhenti sebentar. Arraseo?" ujarku setelah menaikkannya ke atas boncengan motorku.
"Ne' Oppa." Dan dia melakukan apa yang ku perintahkan tadi. Dia benar-benar memeluk pinggangku erat-erat. Entah mengapa aku nyaman dengan posisi seperti ini. 'Tenang Tara-ah. Aku akan membawamu pulang dengan segera. Bertahanlah. Bertahanlah. Bertahanlah untukku. Untuk Lee Junho.' dan roda motorku mulai berputar menjauhi Cheongdam Bridge.
15 menit kemudian kami sudah berada di garasi Dorm. Tara terlihat pucat dan semakin lemah untuk berjalan menaiki tangga menuju Dorm kami. Matanya terpejam namun dia masih dengan posisinya semula. Namun nafasnya menjadi tidak teratur. Ku pegang keningnya. Panas.
"Tara-ah. Peluk leherku. Tetaplah sadar. Aku akan membawamu ke Dorm." Aku mengangkat badannya. Dia sama sekali tak merespon kata-kataku barusan. Wajahnya semakin memucat. Aku yang khawatir, memanggil-manggil namanya. "Tara-ah. Tara-ah. Bangun Tara-ah. Tara-ah." Ternyata suaraku terdengar Wooyoung-i yang sedang membuang sampah ke depan Dorm kami.
"Junho-ah. Apa yang terjadi?"
"Wooyoung-i. bantu aku membukakan pintu Dorm. Cepat cepat. Tara sakit."
"Mwo? Ayo cepat bawa ke kamarnya." Wooyoung-i berlari di depan kami dan la gsung membukakan pintu Dorm untukku. Di ruang tamu saat itu ada Khun dan Junsu Hyung.
"Yaah Junho-ah. Apa yang kau lakukan padanya?" penyakit cerewet Junsu Hyung kambuh lagi setelah melihat Tara yang terkulai lemas digendonganku.
"Museun ilieyo-what's wrong?" Khun Hyung terlihat bingung.
"Nanti saja ku ceritakan, Hyung. Cepat siapkan es dan kompres." Junsu Hyung langsung berlari ke dapur. "Mana Taro?" Wooyoung-i membukakan pintu kamar Tara lalu Junho dengan hati-hati menidurkan Tara ke tempat tidurnya.
"Taro-AAAAHHH...!" Wooyoung-i langsung berteriak sesaat setelah keluar dari kamar Tara. Lalu kulihat Taro masuk tergesa-gesa ke kamarnya.
"Ada apa ini Hyung?" di saat yang sama, Junsu dan Khun Hyung datang membawa es batu di dalam baskom dan kompres. Chansung-i dan Taec Hyung yang terbangun mendengar suara teriakan Wooyoung-i tadi, hanya berdiri di pintu dengan wajah mengantuk.
"Tadi dia ga turun di stasiun yang seharusnya. Jadi dia kesasar. Dia biasanya turun di Cheongdam tapi tadi dia turun di Ttukseom Resort. Mungkin dia masih shock." Lalu Wooyoung-i datang membawa sekotak obat.
"Mwo? Ttukseom? Itu di seberang Cheongdam Bridge khan? Terus kamu ketemu Tara dimana?" tanya Wooyoung-i sambil membantu Khun Hyung mengompres Tara.
"Di tengah-tengah jembatan. Kayaknya dia emang bener-bener bingung."
"Ya sudah. Biarkan dia istirahat. Taro-ah. Kau tidur bersamaku saja. Di tempat tidur Chansung. Chansung kan tidur di ruang tamu. Iyha kan Chansung-i?"
"Hemm..." jawab Chansung-i dengan mata setengah ngantuk.
Aku memandangi wajahnya yang setengah tertutup oleh kompres itu. Wajahnya terlihat masih sedikit pucat. Aku mengelus pipinya. Sepertinya, panas tubuhnya sudah turun. Aku membetulkan letak selimutnya. Lalu aku duduk di sisi tempat tidurnya.
"Tara-ah. Jangan sakit yha. Kamu harus sembuh besok. Kamu kan yeoja yang kuat." ujarku sambil menggenggam tangannya yang dingin. Tiba-tiba...
"Uuuugggghhh..." Tara mengerang seperti kesakitan dan ia meneteskan air mata.
"Tara-ah? Tara-ah...!" aku menggoyang-goyangkan badannya. Dia masih belum membuka matanya. Aku semakin bingung saat erangan Tara semakin keras. Ternyata Chansung-i yang belum tidur, mendengar suaraku yang mulai meninggi karena khawatir itu.
"Ada apa Junho-ah?"
"Tara kayaknya kesakitan. Bagaimana ini Chansung-i?" tiba-tiba Chansung berlari keluar kamar dan kembali membawa obat penurun panas.
"Mungkin ini akibat dari panas tubuhnya. Berikan dia selimut yang lebih tebal dan minumkan obat ini setelah dia bangun nanti lalu biarkan dia tidur lagi. mungkin dia juga masuk angin akibat terlalu lama berada di Cheongdam Bridge." Saat berbalik, Khun Hyung sudah berada di belakang Chansung. "Omo..! Apa yang Hyung lakukan?"
"Sudah tidur lagi sana." Sambil mendorong Chansung menjauhi pintu. Lalu sesaat kemudian ia kembali. "Apa yang Chansung pikirkan? Dia membawa obat tetapi tak memberikan segelas air. Sebentar aku mau ambil air." Aku mengangguk. Aku mencoba membangunkan Tara lagi dengan menepuk-nepuk pipinya.
"Tara-ah. Tara-ah. Apa yang terjadi? Kenapa kamu nangis? Apa kamu kesakitan? Sebelah mana yang sakit?" Tiba-tiba, ia membuka matanya. Dia menatap mataku lekat-lekat. Lalu dia memegang pipiku. Lebih tepatnya mengelus pipiku. Aku mengernyitkan dahi.
"Oppa." Dia mulai mengeluarkan suara tanpa melepas tangannya dari pipiku.
"Tara-ah. Ada apa? Ada apa, Tara-ah? Jangan membuatku ketakutan begini." Aku mulai khawatir karena tatapannya yang begitu aneh bagiku.
"Oppa." Dia memanggilku lagi. Tiba-tiba Khun Hyung datang sambil membawa segelas air. Dia melihat Tara yang sedang memegang pipiku. Awalnya dia kaget, namun langsung tersenyum.
"Kau sudah merasa baikan Tara-ssi?" tanyanya dengan suara yang lembut sambil mendekat ke arah Tara dan menaruh gelas yang dibawanya.
"Sudah Oppa." Tara menoleh ke Khun Hyung sambil melepas tangannya dari wajahku dengan perlahan. Lalu dia menoleh padaku. "Oppa, gomawo sudah menjagaku. Jeongmal gomawo."
"Ne' Tara-ah. Hapus air matamu itu. Nanti dikira aku yang membuatmu menangis." Aku mencoba membuat lelucon kecil dan berhasil. Tara tertawa kecil. Aku tersenyum. Sesaat kemudian aku baru sadar bahwa Khun Hyung sudah kembali ke kamarnya.
"Apa ini Oppa?" Tara mengamati obat turun panas yang diberikan Chansung.
"Itu obat turun panas. Minum itu. Air putihnya ada di sana." Tara mengangguk tanda mengerti. "Setelah itu, tidurlah lagi.
"Oppa tidur saja. Aku baik-baik saja."
"Aku tidur di sini. Aku mau memastikan kau tidur atau tidak." Suara bernada datarku kembali lagi ketempatnya. Ternyata Tara menuruti kata-kataku tadi.
-He's a Girl-
"Oppa... Oppa..." aku mendengar suara yeoja memanggilku. Aku mengerjapkan mata bebrapa kali hingga aku bisa melihat dengan jelas siapa yang membangunkanku. Aku langsung berdiri dari sofa yang kutiduri saat menjaga Tara di kamarnya.
"Tara-ah?" aku menuntunnya ke arah tempat tidur. "Mengapa kau sudah berjalan kemana-mana? Istirahat yang banyak. Agar cepat sembuh."
"Yahh Oppa..! Aku sudah memasakkan kalian sarapan. Apalagi yang membuatku seperti orang sakit? Sudah, makan sarapanmu sana." Tara menarik tanganku untuk keluar dari kamar. Sesaat setelah keluar dari kamar, semerbak wangi masakan sudah tercium.
"Ini bau masakanku. Aku membuat Gaeran Mari dan nasi rumput laut. Cepat makan sana." Dia mendorongku hingga ke meja makan. Dan di depan meja makan sudah ada Junsu, Khun dan Taec Hyung.
"Mana Chansung-i, Wooyoung-i dan Taro?"
"Aku di sini..."
"Aku juga di sini..." suara Chansung dan Wooyoung terdengar dari belakangku.
"Taro masih menyiapkan buku-bukunya di kamar. Sudahlah.. Kalian makan saja dulu. Nanti aku yang menemani Oppaku." Tara menyuruh kami semua memulai sarapan tanpa dia dan Taro. Namun tiba-tiba Taro datang dan langsug mengambil tempat di antara Junsu dan Khun Hyung.
"Nhaaa.. Karena sudah lengkap, kita makan bersama-sama. Gaja Tara-ah, Junho-ah." Wooyoung mempersilahkan kami. Akhirnya aku duduk di sebelah kanan Tara dan Chansung di sebelah kiri Tara.
"Aku akan melayanimu, Tara-ssi. Seperti tuan Putriku. Hahahahahaha..." entah mengapa, suara Chansung terdengar menyakitkan di telingaku.
"Yaah Oppa. Apa yang kau bicarakan?"
"Aaaaaahhhh...!" Chansung-i memberikan Tara kode untuk membuka mulutnya saat ia berusaha menyuapi Tara. Aku yang jengkel segera menyelesaikan sarapanku lalu pamit untuk pergi.
"Aku mau jalan-jalan bentar yha. Udah lama ga keluar rumah pagi-pagi."
"Yaah Junho-ah. Cepat sekali makanmu. Tidak seperti biasanya. Ada apa?" tanya Junsu Hyung padaku.
"Aku sudah ketularan kebiasaan makan cepat milik Chansung-i dan Taec Hyung. Hahaha." Aku mencoba bercanda. Kulihat mata Chansung-i dan Taec Hyung membulat. Sedangkan yang lainnya tertawa renyah. "Baiklah. Aku duluan."
"Oppa. Makan semangkamu dulu. Sudah aku potong-potong. Ada di dalam kulkas." Ujar Tara tiba-tiba.
Dengan datar aku menjawab, "Tidak usah. Nanti saja." Lalu aku berlalu.
PS : Pesannya masih sama kayak part 1. D butuhkan kritik dan saran yang membangun. Gomawo all. :)
