He's a Girl
Author : Si HwangJae Tyaz
Genre : Romantic, Brother/Sistership
Cast :
Katara
Lee Junho
Kintaro
Hwang Chansung
Lee Eun Ji
2PM's Member
Disclaimer : Semua member 2PM di FF ini hanya milik Tuhannya masing-masing. Yang punyaku cuman ide FF ini. Happy reading. Don't forget your review, guys. Gamsahamnida.. :D
TARA
"Aku akan melayanimu, Tara-ssi. Seperti tuan Putriku. Hahahahahaha..." Aku mengernyit. 'Apa yang sedang dilakukan namja ini?'
"Yaah Oppa. Apa yang kau bicarakan?" aku memukulnya pelan.
"Aaaaaahhhh...!" Chan Oppa memberikan aku kode untuk membuka mulutku saat ia berusaha menyuapiku. Aku tersenyum lalu aku memakan yang ada di atas sendoknya. Tiba-tiba Junho Oppa berdiri dari tempat duduknya.
"Aku mau jalan-jalan bentar yha. Udah lama ga keluar rumah pagi-pagi."
"Yaah Junho-ah. Cepat sekali makanmu. Tidak seperti biasanya. Ada apa?" tanya Junsu Oppa padanya. Aku melihat wajahnya yang terlihat agak sedikit jengkel.
"Aku sudah ketularan kebiasaan makan cepat milik Chansung-i dan Taec Hyung. Hahaha." Dia mencoba membuat kami tertawa. 'Kenapa terburu-buru Oppa? Aku pengen kamu yang nyuapin aku. Ihhh. Ini orang ga sadar banget sih.' bathinku. Tanpa menoleh kepadaku, dia berpamitan "Baiklah. Aku duluan." Tiba-tiba aku ingat sesuatu.
"Oppa. Makan semangkamu dulu. Sudah aku potong-potong. Ada di dalam kulkas." Tadi setelah memasak, aku sempatkan untuk memotong semangka yang ada di dalam kulkas. Aku tahu Junho Oppa suka semangka seperti Taro dan aku.
"Tidak usah. Nanti saja." Dia menjawab dengan datar. Lalu berlalu. Aku tercengang. Ada rasa sakit di ulu hatiku. 'Oppa... Kamu kenapa?' aku menunduk. Lalu terdengar bisikan di telinga kiriku.
"Junho cemburu padaku. Jangan khawatir." Aku menoleh cepat. Kulihat Chan Oppa tersenyum. Lalu mulutnya membentuk suatu kata-kata. 'Ayo makan makananmu.' Aku mengangguk dan tersenyum.
Setelah selesai makan, aku menelepon Eun Ji.
Tuuuuuuuuut... Tuuuuuuuuut...
"Yeoboseyo Tara-ah?"
"Eun Ji-ah. Aku hari ini ga masuk kuliah. Besok aku pinjam catatan untuk kuliah hari ini yha?"
"Kamu kenapa? Sakit?"
"Yaaa begitulah. Hehehehehe."
"Yaaaahh...! Ini baru hari ketigamu kuliah tapi sekarang kau sudah sakit? Ckckckckckck...! Apa yang terjadi?"
"Besok saja ku ceritakan di kampus. Okey?"
"Nanti saja aku mampir ke Dormmu. Apa lelaki-lelaki itu menyakitimu ha?"
"Apa yang kau bicarakan Eun Ji-ah? Hahahahaha... Sudah kuliah yang rajin sana. Annyeooooong..!" KLIK..! Aku mengakhiri panggilanku. Tiba-tiba...
"Kamu jangan kemana-mana dulu. Istirahat yang banyak." Junho Oppa melintas di depanku tanpa menoleh. Dia mengingatkanku untuk banyak beristirahat. Aku yang masih mengingat kata-kata Chansung Oppa, hanya tersenyum. Entah karena malu atau senang.
Siang itu, aku yang ditinggal Oppa-oppaku latihan di studio, duduk di sofa balkon. Dan menggumam pada diriku sendiri.
"Apa Junho Oppa meyukaiku? Geuga nal johahae-dia menyukaiku? Ahhhhh...!" aku mengacak-acak rambutku sambil menghela nafas panjang. "Andwae andwae..!" Tiba-tiba ponselku berbunyi.
Listen to my heartbeat
(It's beating for you)
Listen to my heartbeat
(It's waiting for you)
"Yeoboseyo?"
"Tara-ah. Aku sudah ada di depan gedungmu."
"Iie. Jamkkan man." KLIK. Aku menutup ponselku dan bergegas menjemput Eun Ji yang sudah ada di bawah.
"Eun Ji-ah...!" aku memanggilnya sambil melambaikan tangan setelah sampai di depan pintu. Dia menoleh dan tersenyum lalu mendekat kepadaku.
"Tara-ah. Kamu sakit apa?" tanya Eun Ji sambil menggandeng lenganku sambil berjalan menuju Dorm. Aku hanya tersenyum.
Sesampainya di dalam Dorm, tanpa basa basi ku ceritakan kejadian tadi malam hingga pagi ini pada Eun Ji. Saat ceritaku sampai pada kejadian di meja makan pagi ini, mata Eun Ji langsung membulat. "Mwo? Jinjjayo? Geu dangsineul joha-dia menyukaimu? Yaaaahh...! Nega eolmana haengun-How lucky you are."
"Yaaaahh..! Kau pikir aku senang? Dia sama sekali tak pernah melirikku saat aku dalam keadaan sehat seperti ini...! Huuffff...!" aku cemberut. Eun Ji menahan suara tawanya. "Yaaaaaahhh...! Kau berani menertawakanku Eun Ji-ah?" tiba-tiba...
"Ada apa ini?" ternyata Chansung Oppa pulang latihan lebih awal karena luka di kaki yang ia dapat beberapa hari yang lalu belum sembuh benar.
"Oh Chansung Oppa. Gwaenchanhayo?" aku berdiri dari sofa. Namun Chansung Oppa masih melihat ke arah Eun Ji. Eun Ji pun demikian. "Ahh. Ini Eun Ji, Chansung Oppa. Nae chinhan-sahabatku."
"Bangabseumnida Eun Ji-ah."
"Ne' Oppa. Bangabseumnida." lalu mereka bersalaman. Chansung Oppa menyalami Eun Ji masih dengan wajah bingung. Tanpa melepas tangan Eun Ji, Chansung Oppa bertanya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya, Eun Ji-ah? Aku merasa familiar dengan wajahmu?"
"Aniya Oppa. Aku hanya orang biasa."
"Tetapi aku yakin kalau kita pernah bertemu sebelumnya."
"Mungkin orang yang berbeda, Oppa."
"Mungkin. Arraseo, aku masuk dulu. Mau istirahat." Chansung Oppa tersenyum dan berlalu. Ku lihat Eun Ji menunduk. Aku merasa ada yang tidak beres.
"Eun Ji-ah. Ada apa? Ayo ke kamarku." Sesampainya di dalam kamar, Eun Ji mulai bercerita tentnag rahasianya.
"Sebenarnya..."
-Flashback-
"Jiji-ah...!" terdengar suara namja kecil yang berlari ke arah seorang yeoja kecil yang bernama Jiji itu. Mungkin mereka masih berusia 12 tahun atau setara dengan SD kelas 6.
"Ungi Oppa." yeoja kecil itu tersenyum sambil memanggil nama namja kecil itu.
"Gwaenchanhayo?" namja yang bernama Ungi itu memegang tangan Jiji. Dari wajahnya, terlihat dia sangat kelelahan setelah berlari tadi.
"Ne'. Kenapa kamu berlari-lari seperti ini?"
"Saengil Chukka Hamnida, Jiji-ah." Ungi memberikan sebuah hadiah kecil kepada Jiji.
"Oppaaa.. Apa ini?"
"Buka buka buka." Saat itu juga, hadiah yang diberikan Ungi, ia buka. Terlihat sebuah kalung putih dengan bandul sebuah cincin berwarna hitam. "Joha-suka?"
"Ungi-ah...!" Jiji melihat ke arah Ungi sambil tersenyum. "Nega neomu johaeyo. Gomawo. Jeongmal gomawo, Ungi-ah." kata Jiji sambil memeluk kalungnya.
"Sini aku pakaikan di lehermu." Jiji mengangguk dan memberikan kalungnya. "Lihat, aku juga memakai kalung yang sama. Kalung ini, adalah ikatan kita. Saat kau merindukanku, genggam saja bandulnya sambil memanggil namaku. Aku pasti akan datang. Arraseo?"
"Em. Nan arra."
Namun, takdir berkata lain. Jiji harus ikut orang tuanya ke Daegu dan meninggalkan Wangshimni untuk waktu yang lama. Ungi yang tidak bisa menerima kepergian Jiji, mulai menjadi seorang Bad namja. Kehilangan Jiji membuatnya menjadi seorang Playboy. Ungi merasa bahwa tidak ada wanita yang lebih baik dari Jijinya. Hingga dia selalu mempermainkan wanita yang dekat dengannya. Sampai pada akhirnya ia melupakan Jiji karena sudah terlalu lama mempermainkan wanita.
Hingga suatu ketika Jiji kembali ke Wangshimni dan masuk ke SMA yang sama dengan Ungi. Namun, karena sudah terlalu lama bermain, Ungi sama sekali sudah lupa dengan Jiji. Dan sekarang, Ungi sudah menjadi salah satu member BoyBand ternama di Korea Selatan, 2PM. Hingga jarak Ungi dan Jiji semakin jauh dan jauh.
-Flashback End-
"Ungi itu, Chansung Oppa khan?" aku bertanya setelah Eun Ji menceritakan kisahnya. Eun Ji hanya mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. "Lalu kalung itu?"
"Masih tersimpan rapi di sini." ujarnya sambil menunjuk lehernya. Aku terperanjat. Kalung itu masih terpasang anggun di leher Eun Ji. Kalung dengan bandul cincin hitam. Persis seperti ceritanya barusan.
"Eun Ji-aahh.." aku memeluknya. Air mata Eun Ji menetes. Eun Ji menangis tanpa bersuara. Ku eratkan pelukanku. Aku tahu apa yang di rasakan Eun Ji.
"Tara-ah. Aku tidak apa-apa." ujarnya setelah aku melepaskan pelukanku. Ku hapus air mata yang meleleh di pipinya. Dalam hati, aku berjanji untuk membantu Eun Ji mendapatkan Unginya kembali.
-He's a Girl-
Tak terasa, satu bulan sudah aku dan Taro lewatkan di Seoul. Usahaku untuk mengingatkan Chansung Oppa kepada Eun Ji belum juga berhasil. Selain itu, kata-kata yang Chansung Oppa katakan sebulan yang lalu tentang Junho Oppa juga belum terbukti.
Malam itu, aku berada di balkon Dorm. Sekarang sudah memasuki musim gugur. Pohon-pohon mulai merontokkan daunnya dan bersiap untuk menghadapi musim dingin. Angin dingin yang berhembus malam itu mulai terasa sangat dingin. Jaket yang kupakai hanya membantu sedikit untuk menghalau dinginnya angin yang berhembus.
"Kamu ga takut masuk angin, Tara-ah?" suara Chansung Oppa terdengar jelas di antara bisingnya kendaraan di jalan raya depan Dorm kami. Aku menoleh.
"Aniya. Jaket ini masih memabantuku bertahan." Tiba-tiba ponselku berbunyi. Tertera nama Eun Ji di layan ponselku. Lalu aku mendapatkan akal saat melihat Chansung Oppa yang masih berdiri di sebelahku.
"Yeoboseyo? Ada apa JIJI-AH?" aku setengah berteriak saat menyebut nama panggilan Eun Ji. Kulihat Chansung Oppa menoleh dengan wajah bingung. Aku merasa, taktikku berhasil.
"Mwo? JIJI-AH. Suaramu putus-putus. Apa di WANGSHIMNI sinyalnya jelek?" aku juga menyebut nama tempat itu dengan setengah berteriak. Chansung Oppa semakin terlihat penasaran.
"Besok kau akan ke DAEGU? Apa yang kau lakukan di sana? Jangan bilang kau akan PINDAH LAGI kesana?" permainan ini semakin asyik. Eun Ji yang sudah bisa menebak apa yang kulakukan, mulai membantuku dari seberang sana. Jarak antara aku dan Chansung Oppa semakin dekat karena Chansung Oppa mendekat padaku.
"Arraseo JIJI-AH. Besok aku akan ikut kau membeli KALUNG dengan BANDUL CINCIN itu. Annyeong." KLIK. Aku menutup ponselku dan melihat dengan heran ke arah Chansung Oppa yang berada tepat di sebelahku. "Ada apa Oppa?"
"Jiji? Nugu ya?"
"Eun Ji. Memangnya ada apa?" Chan Oppa masih bingung
"Mengapa kau memanggilnya Jiji?"
"Itu panggilan kecilnya saat masih tinggal di Wangshimni. Lalu setelah dia pindah ke Daegu, Eomma Appanya lebih senang memanggilnya Eun Ji. Baiklah Oppa. Aku masuk dulu. Aku kedinginan." Lalu aku berbalik dan pergi dengan tersenyum. Aku yakin, Chan Oppa sudah mulai mengingat Eun Ji. Hahahahaha...
-He's a Girl-
Keesokkan harinya, aku pamit pergi keluar untuk jalan-jalan dengan Eun Ji karena hari itu hari Sabtu. Sebelum aku sempat keluar dari Dorm, Chan Oppa sudah menarik tanganku dan memohon untuk ikut aku jalan-jalan. Karena memang itu rencanaku, aku pun membolehkan.
"JIJI-AH...!" Aku melambaikan tanganku setelah melihat Eun Ji turun dari stasiun Gangnam. Eun Ji langsung berlari ke arahku dan Chan Oppa.
"Annyeong Oppa." Dia sempat mengucapkan salam pada Chan Oppa. Kulihat wajah Chan Oppa berbeda. Bukan lagi bingung atau penasaran. Lebih kearah wajah yang senang.
"Annyeong Eun Ji-ah."
Singkatnya, aku dan Eun Ji serta Chan Oppa bersenang hari itu. Aku yang tak tahan melihat Chan Oppa yang diam saja tapa melakukan apa-apa, langsung mengambil keputusan yang berani dengan meminta Eun Ji untuk memperlihatkan kalungnya.
"Jiji-ah. Boleh aku melihat kalungmu? Aku sangat ingin membelikan seseorang kalung seperti itu. Jebaaalll.."
"Arraseo arraseo. Ini." Eun Ji melepasnya dan menaruhnya di tanganku.
"Oppa Oppa. Bagus ga kalung ini?" tepat saat Chan Oppa menoleh dan melihat kalung itu, wajah Chan Oppa terlihat shock.
"In...in...ini kalung siapa?"
"Jiji-ah. Ada apa Oppa?" Chan Oppa menyentuh kalung itu dengan tatapan seperti tidak percaya.
"Ne' Oppa. Itu kalungku. Dulu seseorang memberikan padaku saat aku berulang tahun ke-12. Sayangnya kami harus berpisah." Tiba-tiba Chan Oppa langsung menarik tangan Eun Ji menjauh dariku.
Tanpa mereka sadari, aku mengikuti mereka dan bersembunyi di pohon besar dekat tempat mereka berbicara. Jadi aku bisa mendengar suara percakapan mereka dengan jelas.
"Apa benar kamu Eun Ji? Lee Eun Ji?" tanya Chan Oppa pada Eun Ji.
"Ne'. Aku Lee Eun Ji, Oppa. Bagaimana Oppa bisa tahu namaku?"
"Apa kau tinggal di Wangshimni dan pernah tinggal di Daegu?"
"Ne'. Benar sekali Oppa."
"Saat masih kecil, kau kau dipanggil Jiji?"
"Ne'. Waahh. Kau tahu banyak hal tentangku. Pasti ini semua Tara yang ..." Eun Ji belum menyelesaikan kalimatnya saat tubuhnya dipeluk oleh Chan Oppa. Aku yang menyaksikan kejadian itu, terkejut dan menutup mulut dengan telapak tanganku.
"Jiji-ah. Tidak ingatkah kau padaku? Sudah lama aku menunggumu kembali." Chan Oppa benar-benar memeluk erat tubuh Eun Ji.
"Oppaaa... Ungi Oppaaa.. Aku tidak bisa bernafas..." mendengar kata 'Ungi' disebut, Chan Oppa langsung melepas pelukannya dan menatap tajam ke mata Eun Ji.
"Kau mengenaliku?"
"Sudah sejak kau menjadi kakak kelasku di SMA, Oppa. Sayangnya kau tak pernah sekalipun melirikku. Kau terlalu sibuk dengan wanita-wanitamu." Chan Oppa terlihat menyesal.
"Mianhaeyo Jiji-ah. Jeongmal mianhae." ucapnya sambil memeluk dan menciumi rambut Eun Ji. Aku melihat Eun Ji mengangguk.
"Apa kalungnya masih kau simpan, Oppa?"
"Masih berada di tempat yang sama seperti 10 tahun yang lalu." Eun Ji memeluk pinggang Chansung Oppa.
Dan adegan selanjutnya jelas sudah bisa kalian tebak. Apa lagi yang akan dilakukan pasangan kekasih yang sudah terpisah selama bertahun-tahun dan akhirnya bertemu? Hahahaha... Chan Oppa mencium bibir Eun Ji dengan lembut. Aku hanya tersenyum senang di balik pohon dan menggumam pada diriku sendiri.
"Sahabat dan Oppaku yang paling kusayangi sudah bahagia. Lalu kapan giliranku?"
PS : Pesannya masih sama kayak part 1. D butuhkan kritik dan saran yang membangun. Gomawo all. :)
