He's a Girl
Author : Si HwangJae Tyaz
Genre : Romantic, Brother/Sistership
Cast :
Katara
Lee Junho
Kintaro
Hwang Chansung
Lee Eun Ji
2PM's Member
Disclaimer : Semua member 2PM di FF ini hanya milik Tuhannya masing-masing. Yang punyaku cuman ide FF ini. Happy reading. Don't forget your review, guys. Gamsahamnida.. :D
TARA
"Junho-ah. Kamu tidak ingin mencoba untuk menebak mana Taro yang asli?" Taec Oppa menawarkan. Chan Oppa langsung senang dan mendorong-dorong Junho Oppa agar mau ikut menebak. Sayangnya, jawaban Junho Oppa mengecewakan Chan Oppa. Termasuk aku juga.
"Buat apa melakukan hal yang tidak penting, Hyung? Gaja. Aku sudah ingin sekali mereset otakku." ujar Junho Oppa sambil berlalu. Aku melotot. 'What the...!'
"Hasssshh..! Tetap saja dengan gayanya yang sok tidak mau tahu urusan orang." ujarku sambil cemberut. Kulihat Taro tersenyum kecut.
"Kayak kamu ga tahu sifatnya Junho Hyung ajja sih, Yeosaeng. Gaja." hibur Taro sambil menggandengku mengikuti langkah Jinyoung Hyung dan 2PM. Aku tersenyum dan memeluk tangan Taro. Kulihat Junho Oppa menoleh ke arahku. Namun dengan cepat, aku menoleh ke arah lain.
Ternyata Min Jae Oppa sudah menunggu kami semua. Wajahnya terlihat agak kesal saat melihat kami semua datang. Dengan posisi tangan yang disilangkan di dada, ia berteriak pada kami.
"YAAAAHH..! Kalian lihat sekarang jam berapa? Sudah dua jam aku menunggu di sini..!" lalu dia melihat kami. "Omo~...! Apa-apaan ini?" kami hanya tersenyum ketakutan.
"Min Jae-ah." Jinyoung Oppa meggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Mereka semua terlambat karena aku. Jangan marahi mereka. Soal si kembar, biarkan mereka sperti itu. Itu memang kodrat mereka yang kembar. Gaja kita berangkat." Jinyoug Oppa masuk ke mobil.
Jinyoung Oppa duduk di depan, di sebelah Min Jae Oppa yang mendapat tugas membawa mobil. Sedangkan kami bertujuh ada di belakang. Bagian tengah ada JunBros Oppa, aku dan Taro yang notabene memiliki badan yang lebih kecil dari Chan, Khun dan Taec Oppa. Jadi, otomatis Khun, Chan dan Taec Oppa duduk di belakang. Aku berada di pinggir jendela. Sebelahku sudah jelas Taro. Lalu Junho Oppa dan Junsu Oppa. Di tempat duduk belakang, Khun Oppa ada di tengah. Sebelah kanannya ada Taec Oppa dan kirinya Chan Oppa.
"Taro-ah? Eh Tara-ah.. Eh tak taulah siapa itu yang duduk di pinggir jendela." panggil Junsu Oppa yang mulai agak frustasi dengan kemiripan kami. Aku dan Taro mulai tertawa.
"Ada apa Oppa?" aku kembali menjadi diriku sendiri. Junsu Oppa mulai tersenyum senang.
"Jadi itu kamu Tara-ah? Hahahahaha.. Buka jendelanya dan lihat keluar. Kita ada di Cheongdam Bridge. Kamu ingat tidak?" aku menggeleng.
"Di sini kau menunggu Junho Hyung menjemputmu saat kau salah turun stasiun. Ingat?" Taro menjelaskan padaku. Samar-samar, aku mengingat semuanya.
"Ahhhh...! Aku ingat sekarang. Wuaaaahhh...! Ternyata jembatan ini sangat cantik yha Oppa. tidak semenakutkan seperti saat itu." Aku mengagumi keelokan Cheongdam Bridge. Lalu aku ingat sesuatu. "Emmm.. Aku lupa mengucapkan terima kasih padamu, Junho Oppa. Jeongmal gomawo." Aku tersenyum padanya. Walaupun pencahayaan di dalam mobil agak redup, aku bisa melihat wajahnya memerah saat melihat senyumanku. Dan akupun tersipu malu juga. Untuk menyamarkannya, aku menoleh ke arah luar mobil.
"Oppaaa.. Kita ini ada dimana?" ternyata aku tertidur sesaat setelah menikmati keelokan Cheongdam Bridge tadi. Dan saat aku bangun, kami sesudah berada di jalanan yang penuh dengan pawai.
"Kita di Myeongdong-gu, Yeosaeng. Kita mau lihat Myeongdong Festival." jawab Khun Oppa sambil mengelus rambut pendekku dari belakang tempat dudukku. Aku mendongak ke belakang sambil tersenyum dan mengangguk mengerti. Taec Oppa mulai ikut-ikutan. Dia mengacak-acak rambutku.
"Yaaahh Oppaaaa...! Rambutku ini mudah kusut tauuk..!" kucubit tangan Taec Oppa yang masih bertengger di atas kepalaku.
"Aduuuhh..!" rintih Taec Oppa sambil memegangi tangannya yang kucubit. Aku menghadap ke arahnya dan mengejeknya dengan cara mengeluarkan lidahku.
"Weeeeekkkk..! Kasian deeehh.."
"Akan kubalas kau, Tara-ah." ancam Taec Oppa sambil pura-pura jahat.
"Aku lho ga takut. Weeeeekkk...! Hahahahaha..." lalu Taec Oppa menjitak kepalaku. "Yaaaahh..! Sakit Oppa." ucapku sambil menggosok-gosok kepalaku yang dijitak Taec Oppa.
"Karena potongan rambutmu sudah seperti Oppamu, maka kau kuanggap sebagai Dongsaeng. Bukan Yeosaeng lagi. Arraseo? Jadi, bertahanlah dengan kejahilanku, Tara-ah. Hahahahahahahaha..." Taec Oppa tergelak sambil memegangi perutnya. Aku manyun. Dan semua yang ada di dalam mobil Min Jae Oppa tertawa terbahak-bahak. Tentu saja kecuali Junho Oppa yang hanya menyunggingkan sebuah senyum yang berhasil membuatku malu bukan kepalang.
"Naaaahhh.. Gaja, Kids. Kita turun di sini. Biar Min Jae yang mencari tempat parker yang enak." Jinyoung Oppa mengajak kami turun di dekat restoran Jajangmyeon, makan kesukaan Chansung Oppa selain pisang.
"Huaaaaaaaahhhh...! Jajangmyeon...!" teriak Chansung Oppa sesaat setelah turun dari mobil. Tepat seperti dugaanku. "Nanti kita makan di sini yha Hyung. Jebaaaaalllll..." pinta Chan Oppa. Tiba-tiba... CTAAAKKK..! Kepala Chan Oppa dipukul oleh Khun Oppa. Sambil meringis kesakitan, Chan Oppa berteriak. "Yaaahh Hyung...! Waeyo? Sakit tauk.. Aduuuhhh.."
"Kita ini baru turun dari mobil dan kau sudah memenuhi otakmu dengan makanaaaann saja. Omonaa~..." ucap Khun Oppa sambil geleng-geleng.
"Sudah sudah. Kalian tidak ingat sekarang kita dimana? Ayo kita cari tempat yang aman dan nyaman buat lihat festival ini. Gaja." ajak Min Jae Oppa.
"Neeeeee'..." Aku, Woo Oppa, Chan Oppa dan Taec Oppa berteriak bersama-sama.
-He's a Girl-
"Disitu disitu." Aku menunjuk ke arah taman yang agak tersembunyi akibat rimbunnya tanaman di tepi jalan raya di dekat taman itu. Tanpa sadar, aku berjalan mendekati taman itu dan duduk di ayunan yang langsung menghadap ke arah jalan raya yang ramai dengan pawai dari orang-orang Myeongdong. "Daebaaakk...!" aku berseru pelan saat melihat mobil yang dihiasi bunga-bunga cantik lewat.
"Arraseo kita duduk disini." Aku menoleh ke asal suara itu. Ternyata, Junho Oppa sudah duduk dengan santai di ayunan kosong sebelahku. "Aku sudah lama tidak bermain ayunan. Junsu Hyung. Dorong ayunanku. Yang keraaas..." teriak Junho Oppa. Junsu Oppa yang berada tak jauh dari kami, langsung mendekat.
"Aku ini sudah tua. Kau masih saja menyuruhku mendorong ayunanmu. Kau tidak sadar bahwa badanmu lebih besar dari aku?" ujar Junsu Oppa menggerutu. Namun dia tetap mendorong ayunan Junho Oppa. Aku yang melihat pemandangan itu, hanya tersenyum geli.
"Kau mau di ayun juga, Tara-ah?" aku mendongak. Terlihat senyum Khun Oppa yang sangat menentramkan hati. Aku pun mengangguk. "Pegangan ya. Hana, dul, set.. Woohoo...!" Aku mulai berayun. Ku pejamkan mataku dan ku nikmati dinginnya udara musim gugur yang menerpa wajahku. Bau daun-daun kering dan bau aspal bercampur menjadi satu dan memenuhi paru-paruku. Aku menghirup udara banyak-banyak. Sayup sayup ku dengar suara Woo Oppa yang merengek ingin bermain ayunan juga.
"Hyuuuung...! Aku juga mau main ayunaaaannn...!"
"Yaaaahh...! Ingat umurmu sekarang sudah berapa. Masih saja seperti anak kecil." Woo Oppa manyun mendengar ceramah Khun Oppa. Karena ayunanku asih muat satu orang lagi, akhirnya aku meminta Khun Oppa menghentikan ayunanku.
"Oppa. berhenti berhenti." Ayunanku pun direm oleh Khun Oppa.
"Waeyo Tara-ah?" Aku langsung berdiri dan menggandeng Woo Oppa menuju ayunanku. Khun Oppa semakin bingung.
"Biar Woo Oppa ga nangis, sini se-ayunan sama aku. Arraseo? Khun Oppa ga usah dorongin aku lagi ya. Biar Woo Oppa ajja." Wajah Woo Oppa langsung cerah kembali.
"Arra arra. Gaja Tara-ah. Wooohooooo...!" teriak Woo Oppa yang diikuti suara tawa semuanya. Termasuk Junho Oppa. Baru kali ini aku melihat Junho Oppa tertawa lepas. Aku hanya tersenyum simpul melihatnya.
Kira-kira, jam tanganku sudah menunjukkan pukul 6 lebih 20 menit saat Chansung Oppa mengeluh kelaparan. Memang saat itu waktu makan malam sudah terlewat jauh karena kami asyik menikmati festival itu.
"Arraseo Chansung-ah. Kita ke restoran Jajangmyeon yang kau inginkan tadi. Gaja." ujar Jinyoung Oppa. Wajah Chan Oppa langsung sumringah. "Tara, Taro. Kalia belum pernah makan Jajangmyeon khan?" serempak kami menggeleng.
"Emmm Hyung. Apa Jajangmyeon itu memakai campuran dari babi?" tanya Taro.
"Sepertinya ada. Waeyo?" jawab Junsu Oppa yang berada di kanan Taro.
"Kalau begitu, kami berdua makan di rumah saja." Aku ikut mengangguk.
"Waeyo?" Min Jae bertanya pada kami hingga kami semua berhenti berjalan sejenak.
"Begini." Taro mencoba menjelaskan. Tetapi aku mnyuruhnya diam dan aku mulai menjelaskan.
"Aku saja Oppa. Begini Oppaku sekalian. Agama kami melarang umatnya untuk makan babi atau menggunakan barang-barang yang pernah digunakan untuk memasak, memakan bahkan memotong babi. Jadi, kami lebih baik makan di rumah. Arraseo? Kalian saja yang makan. Aku dan Oppaku menunggu di mobil." Ternyata semuanya mengerti apa yang kujelaskan. Akhirnya, aku dan Taro tinggal di mobil sambil menikmati udara malam Myeongdong.
"Yeosaeng. Nanti masakkan aku makanan yang banyaaaakkk yha? Aku laper banget." rengek Taro padaku. Aku hanya mengangguk. Tiba-tiba, kaca mobil kami diketuk dari luar. Ternyata itu Junho Oppa.
"Waeyo Oppa? kau sudah selesai makan?" tanyaku. Dia memberikanku sebuah bungkusan makan.
"Aku tidak ikut makan dengan mereka. Aku tadi mencari Gimbap dan Ddeokbokki untuk kumakan bersama kalian disini. Cepat buka pintunya. Aku sudah kedinginan di luar sini."
"Ne' ne'." kubuka pintu mobil dan ku biarkan Junho Oppa duduk di sebelahku. "Yaaah Oppa. Kenapa tidak mengajak kami? Kami kan jadi tidak enak denganmu."
"Ne' Hyung. Apalagi diluar sangat dingin. Kami akan merasa sangat bersalah jika kau sakit, Hyung."
"Nan gwaenchanha. Ayo makan. Aku sudah sangat lapar." Junho Oppa mulai membuka bungkusan makanannya dibantu oleh Taro. Secara tak sengaja, tanganku menyenggol tangan Junho Oppa. Dingin. Tangannya dingin.
"Oppa tanganmu..."
"Waeyo?"
"Dingin..." dengan setengah takut, aku mengucapkan hal itu. Aku takut jika Junho Oppa tidak suka aku memperhatikan keadaanya saat itu. Namun, dugaanku melaset. Kulihat Junho Oppa tersenyum padaku.
"Nan gwaenchanha. Aku hanya sedikit kedinginan. Gaja. Makan saja makananmu." ujarnya sambil meneruskan makannya. Lalu aku membuka tasku dan mengambil sarung tangan yang sengaja aku bawa untuk jaga-jaga.
"Pakai saja ini, Oppa. Supaya tanganmu tetap hangat." Aku memengang kedua tangannya sambil memberikan sarung tanganku.
"Tidak usah. Hanya dengan kau pengang saja, tanganku sudah merasa hangat. Gaja kita makan dulu. Nanti, pegang saja tnganku agar tetap hangat. Arraseo?" Dia kembali tersenyum. Jantungku serasa berhenti. Tiba-tiba.. "Buka lebar-lebar mulutmu Tara-ah. Aaaaaahhhh..." ujarnya sambil menyuapkan satu Gimbap kepadaku. Aku merasa aneh namun aku tetap melakukan apa yang ia suruh. Lalu kami tertawa bersamaan.
"Kalian ini. Cepat habiskan makanan kalian. Aku saja sudah habis." ujar Taro tiba-tiba.
"Mwo?" teriak aku dan Junho Oppa bersama-sama. Taro hanya tersenyum sambil memperlihatkan deretan giginya. Aku dan Junho Oppa hanya geleng-geleng. Lalu kami mulai makan lagi.
Tak lama kemudian, makanan kami habis namun yang kami tunggu belum juga muncul. Kulirik jam tanganku. Pukul 9 lewat 30 malam. Udara di luar terasa lebih dingin. Pawai sudah selesai dari 1 jam yang lalu. Aku menghela nafas panjang. Mataku sudah agak berat. Ku toleh Taro yang sudah tidur dari beberapa saat lalu. Ku kancingkan sweaternya yang masih terbuka. Aku mencium pipi Taro sambil membisikkan sesuatu ke telinganya. "Tara sayang Oppa selalu. Sampaikan salam Tara ke Appa, Eomma dan Tari ya?" Kulirik Junho Oppa yang tersenyum melihat tingkahku. Aku pun ikut tersenyum.
"Yeoboseyo? Yaah Hyung.. Ini sudah malam. Kasian si kembar. Sekarang, Taro saja sudah tidur. Lagipula, disini sangat dingin. Kalian tega melihat kami membeku?" Junho Oppa terdiam sejenak mendengarkan lawan bicaranya menjawab pertanyaan yang ia lontarkan. "Arraseo. Akan kutunggu." KLIK.. Ia tutup ponselnya. Aku sandarkan kepalaku di pundak Taro yang tengah tertidur. Sudah beberapa kali aku menguap. Jujur, aku sangat capek saat itu.
"Biarkan Taro tidur degan lelap. Kalau kau mengantuk, bersandar saja di pundakku agar Taro tidak terganggu." Aku yang sudah setengah mengantuk, menuruti saja apa yang diucapkan Junho Oppa. Kusandarkan kepalaku di pundaknya. Hmmm.. Lumayan hangat. Mugkin karena merasa nyaman, aku jatuh tertidur.
Aku tiba-tiba terbangun dan menyadari bahwa aku sudah berada di kamarku. 'Sepertinya, Junho Oppa yang membawaku kemari. Ahhh.. Aku banyak merepotkannya.' bathinku. Kulirik jam dinding yang menunjukkan jarum panjang di angka 12 dan jarum pendek di angka 4. Taro masih tidur dan keadaan rumah juga masih sepi. Jelas baru aku yang terbangun.
Ku langkahkan kakiku ke arah lemari pendingin namun ku urungkan. Akhirnya aku menuju dapur untuk membuat segelas Insamcha-Korean ginseng tea. Setidaknya, selain menghilangkan dahagaku, teh ini juga membuat badan dan otakku segar. Kuambil laptop Toshibaku di kamar dan duduk di meja makan untuk melanjutkan laporanku.
"Kau sudah bangun atau belum tidur?" aku kaget hingga hampir menumpahkan tehku. Namun ada tangan yang terulur untuk memegangi cangkirku. Aku menoleh. Ternyata Junho Oppa. Sepertinya dia juga terbangun sepertiku.
"Omonaa~.. Yaah Oppa. Kau sudah membuatku kaget setengah mati. Apa yang kau lakukan shubuh-shubuh begini?" ujarku sambil memukul lengannya. Dia masih tak bergeming. Malahan dia duduk di seberang tempat dudukku sambil menyangga dagunya. Wajahnya masih terlihat mengantuk.
"Aku haus. Minta minummu." dengan enaknya, dia merebut cangkir teh dari tanganku.
"Yaaaahh.. Sebentar aku buatkan." Aku berjalan menuju dapur. Kubuatkan dia segelas teh yang sama denganku.
Saat aku kembali, dia malah sudah terlelap di atas meja makan. "Dasar ini orang. Udah tau masih ngantuk. Kenapa ga balik ajja ke kamarnya. Malah tidur sini." Ku taruh secangkir teh itu di dekatnya dan aku mengambilkan dia selimut. Ku pandangi wajahnya dengan seksama.
"Oppa, gomawo buat semuaaaa yang udah Oppa perbuat buat aku. Jeongmal gomawo." Aku mencium keningnya. Kuselimuti badannya agar tidak kedinginan. Ku tinggalkan dia tidur di atas meja makan. Sedangkan aku kembali ke kamarku.
-He's a Girl-
JUNHO
Aku dibangunkan oleh suara kendaraan-kendaraan yang lewat di depan Dorm.
"Hoaaaaahhh... Jam berapa ini? Omona...! Kenapa aku masih tidur disini?" aku kaget karena aku masih ada di depan meja makan. Ku ingat-ingat kejadian tadi malam.
-Flasback-
Aku terbangun karena kehausan. Aku lirik jam dinding di kamarku. Masih jam 4. Kalau bukan karena haus, aku tidak akan bangun jam segini. Aku bangkit dari tempat tidurku dan menuju dapur dengan sempoyongan. Namun,saat sampai di dekat meja makan, kulihat sosok seseorang dengan babydoll warna kuning. Sudah pasti itu Tara-ah.
"Kau sudah bangun atau belum tidur?" sepertinya, suaraku mengagetkannya hingga ia hampir saja menumpahkan isi cangkirnya. Dengan cepat, aku pegangi cangkirnya agar tidak jatuh. Lalu dia menoleh kearahku sambil berteriak namun pelan, sehingga hanya kami berdua yang bisa mendengarnya.
"Omonaa~.. Yaah Oppa. Kau sudah membuatku kaget setengah mati. Apa yang kau lakukan shubuh-shubuh begini?" dia memukul lenganku yang masih terulur memegangi cangkirnya. Aku yang masih setengah mengantuk langsung duduk di seberangnya sambil menyangga daguku. Kulihat wajahya terheran-heran.
"Aku haus. Minta minummu." Ku rebut cangkir di tangannya.
"Yaaaahh.. Sebentar aku buatkan." Teriaknya sambil beranjak ke dapur. Karena hausku sudah hilang, mataku yang masih mengantuk langsung membimbing otakku untuk tidur di tempat itu juga.
"Hoaaaaaaahhhhmmmm..." dan aku terlelap.
-Flasback End-
"Tara-ah." Aku langsung bangun dari tempatku dan seketika itu juga tercium bau masakan yang sangaaaaaat harum. Arahnya dari dapur. Langsug saja aku berjalan ke dapur. Kulihat Tara sedang memasak sarapan. "Tara-ah?" dia menoleh.
"Oppa. Sudah bangun? Mianhae tadi ga aku bangunin. Oppa keliatan capek banget." ucapnya sambil tersenyum.
"Gwaenchanhayo. Masak apa?"
"Miyeok guk-seaweed soup. Mau jadi taster?"
"Mau mau. Ahhhhh." Tara tertawa melihat kelakuanku yang seperti anak-anak itu. Namun, akhirnya dia menyuapkan sesendok kuah sop yang ia masak. "Bastaaa.." ucapku sambil mengacungkan kedua jempolku kearahnya.
"Jinjjayo? Arraseo arraseo. Yah Oppa. Cepat mandi sana. Bangunkan juga Oppa yang lain. Gajaaaa..." ucap Tara sambil mendorongku keluar dapur.
"Taro bagaimana?"
"Tenang saja. Dengan suaraku yang lembut, aku mampu membangunkannya. Hahahahaha..." Lalu tiba-tiba aku mengerem langkahku. "Waeyo Oppa?"
Aku berbalik sehingga aku dan Tara berhadapan. Tara langsung terlihat bingung dan salah tingkah. Aku tersenyum. Lalu aku berbalik lagi dan berjalan menjauh. Entah apa yang aku pikirkan tadi. Aku hanya ingin melihat wajahnya. Wajah Tara.
PS : Pesannya masih sama kayak part 1. D butuhkan kritik dan saran yang membangun. Gomawo all. :)
