He's a Girl

Author : Si HwangJae Tyaz

Genre : Romantic, Brother/Sistership

Cast :

Katara

Lee Junho

Kintaro

Hwang Chansung

Lee Eun Ji

2PM's Member

Disclaimer : Semua member 2PM di FF ini hanya milik Tuhannya masing-masing. Yang punyaku cuman ide FF ini. Happy reading. Don't forget your review, guys. Gamsahamnida.. :D


-He's a Girl-


Siang itu, aku menikmati masa rehat kami yang kurang beberapa hari lagi akan berakhir karena mulai minggu depan kami harus memulai pengambilan gambar untuk CF terbaru kami. Aku menikmatinya dengan duduk di balkon sambil merasakan sapuan angin musim gugur yang mengenai kulitku dan mendengar lalu lalang kendaraan di depan Dorm.

"Hyung..!" aku menoleh. Ternyata Taro.

"Siang ini aku mau ke tempat latihan untuk melatih dance dan suaraku. Aku titip Tara yha." ujar Taro. Aku agak ragu namun aku tetap mengangguk.

"Memangnya, ada apa dengan Tara? Kenapa kau titipkan padaku?"

"Aniya. Dia baik-baik saja. Cuman, nanti siang dia mau keluar untuk membeli beberapa keperluan untuk dapur sebelum dia pulang ke Indonesia. Begitu."

"Arraseo arraseo. Tenang saja."

"Gomawo Hyung."

"Ne' cheoma." Lalu Taro masuk lagi ke dalam. Selang beberapa saat, Tara keluar dan menghampiriku di balkon.

"Yah Oppa. Tadi Taro Oppa bilang apa?"

"Aniya. Dia hanya minta aku untuk menemanimu belanja."

"Ahhh.. Sudah ku bilang jangan merepotkan orang lain juga. Oppa tidak us..."

"Aku tidak merasa direpotkan. Mau belanja kemana?" kupotong ucapannya. Dia hanya melongo. Seperti tidak percaya.

"Jinjjayo?"

"Wajahku terlihat seperti pembohong?"

"Aniya." Lalu aku berdiri dari tempatku dan memegang pundaknya. Ku balik badannya dan kudorong dia masuk ke dalam Dorm.

"Cepat ganti baju. Aku bosan berada di Dorm lama-lama."

"Arraseo arraseo." Tara segera berlari ke kamarnya dan aku masuk ke kamarku.

Ku pilih kaos lengan panjang warna putih bergaris biru tua dan kupasangkan dengan celana selutut warna hitam. Ku ambil rompi warna biru tua dan kupakai sekalian. Aku berdiri di depan cermin sebentar lalu keluar. Ternyata Tara belum selesai. Ku tunggu dia di sofa ruang tamu sambil membaca Koran. Tak lama kemudian, Tara keluar.

"Gaja Oppa." Otomatis aku melihat ke arahnya. Dia memakai kaos lengan pendek warna putih dengan dengan gambar jerapah di bagian dadanya dan celana pendek ¾ warna hitam. Dia juga memakai rompi berwarna hitam dan kerpus.

"Hari ini, kau terlihat seperti yeoja, Tara-ah. Tidak seperti kemarin." Aku tersenyum padanya. Dia pun tersenyum padaku. Semakin terlihat cantik.

"Gomawo Oppa."

"What for?"

"Sudah bersedia menemaniku belanja."

"Yaaaahh..! Kita berangkat saja belum, kau sudah mengucapkan terima kasih. Gaja kita berangkat." Aku mendekatinya dan mendorongnya dari belakang. Entah kenapa, aku mulai bisa terbuka dengannya.


Kami pergi ke supermarket yang letaknya di Apgujeong, beberapa kilo dari Dorm. Sepanjang perjalanan, kami mengobrol, tertawa, saling mengejek, dan segala kelakuan yang belum pernah sama sekali kami lakukan sejak Tara dan Taro pindah kemari. Anehnya, selama satu jam kami menempuh perjalanan dengan menaiki motorku, kami tak pernah kehabisan bahan ejekan, obrolan bahkan bahan untuk ditertawakan. Hingga akhirnya kami masuk ke kawasan supermarket.

"Mau beli apa?"

"Sayur, daging, buah, snack buat kalian. Soalnya aku ga mau Oppa-Oppaku kelaparan saat aku ada di Indonesia."

"Kau benar-benar menyayangi kami yha?" ucapku sambil mengelus puncak kepalanya.

"Dangyongahji." Dia mengangguk mantap. "Yaaah Oppa. Kita kesana." Dia mengandeng tanganku. Hatiku berdesir. 'Ada apa ini? Ada yang salah denganku.' "Yaaaaahh..! Kenapa masih diam. Ayo...!" Dia mendorongku sama seperti caraku mendorongnya.

"Arra arra." Aku membawanya ke dalam rangkulanku. Dia terdiam dan melihat ke arahku. "Waeyo?"

"Aniya." Dia menggeleng dengan pipi yang mulai agak memerah. Aku terseyum geli. Tiba-tiba, saat posisi kami sedang seperti ini, dari belakang kami...

"Tara-aaaahhh..!" serentak kami berdua menoleh. Seorang yeoja berlari ke arah kami.

"Eun Ji-ah." Tara terkesiap.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Ahh Junho Oppa. Annyeong." Yeoja itu membungkuk padaku. Aku balas membungkuk.

"Junho-ah." Aku menoleh dan di belakang yeoja itu terlihat sesosok namja yang sangat aku kenal. Chansung-i.

"Chansung-ah." Lalu kami berhigh-five. Lalu aku membisikkan sesuatu padanya. "Dangsin-ui yeoja chingu-your girlfriend?" Chansung hanya tersenyum.

"Yaaah Oppa. Ini Eun Ji, Lee Eun Ji. My bestfriend."

"Eun Ji Imnida. Bangabseumnida."

"Bangabseumnida, Eun Ji-ah. Bagaimana kau bisa mengenal Chansung-i?"

"Ungi-ah? He's my Sunbae in middle school school. Kami baru bertemu lagi sekitar beberapa minggu yang lalu. "

"Jinjjayo? Aku pikir dia bukan orang yang gampang mengingat juniornya." ucapku sambil menunjuk Chansung.

"Kami punya masa lalu yang jelas tak bisa kami lupakan, Junho-ah." Chansung membela dirinya. Eun Ji tersipu malu.

"Mwonde-apa itu?" Tara bertanya.

"Rahasia. Hahahaha..." jawab Chansung dan Eun Ji bersama-sama sambil tertawa. Aku pun ikut tertawa. Tara langsung manyun. Aku mengelus puncak kepalanya.

"Arraseo. Eun Ji-ah. Kau mau belanja apa?"

"Eomma minta dibelikan sayur dan buah."

"Waahh. Aku juga mau ke tempat sayur. Gaja." Tara menarik tangan Eun Ji.

"Gaja." Aku dan Chansung mengobrol di belakang mereka sambil mengikutinya.


-He's a Girl-


"Junho-ah. Kita sudah seperti namja yang mengikuti yeojachingunya berbelanja, majjyo? Hahahaha.."

"Yeojachingu? Kau saja dengan Eun Ji-ssi. Aku tidak."

"Yaah..! Tidak usah sok menyembunyikan perasaanmu lah. Aku sudah mengenalmu sejak kita belum menjadi apa-apa." ucapan Chansung seketika membuatku tersipu. Chansung menyenggol lenganku. "Kau menyukai Tara khan?"

"Darimana kau bisa menyimpulkan bahwa aku menyukainya?"

"Kau ingin aku menyebutkan satu-persatu bukti yang mendukung hipotesisku?"

"Gaja. Aku ingin tahu."

"Pertama, saat pertama kali ia datang kemari, kau mulai menyukainya namun karena di sudah dikelilingi oleh kami berempat, kau lebih memilih untuk membantunya menyingkir dari kami daripada ikut menggodanya bersama kami." Chansung memulai menyebutkan bukti itu.

"Kedua?"

"Kau cemburu saat aku merangkul bahu Tara saat kami akan keluar bersama. Ketiga, kau lebih memilih tinggal di rumah untuk menunggui Tara yang pulang terlambat dan menjemputnya di Ttukseom saat dia turun di stasiun yang salah.

"Aniyaaaa..." aku membantah.

"Keempat.." Chansung masih saja meneruskan ucapannya. "Kau yang paling panik saat Tara sakit waktu itu. Kelima, kau cemburu saat aku menyuapkan makanan kepada Tara saat ia sakit." Dia berhenti berhitung untuk mengambil nafas lalu melanjutkannya lagi. "Keenam, kau memilih tidak ikut makan Jajangmyeon dengan kami namun malah membelikan si kembar makanan dan makan bersama mereka. Ketujuh..."

"Stop right there..!"

"Waeyo?"

"Arra arra. Terserah kau sajalah." Aku membiarkan Chansung beranggapan seperti itu.

"Mwo?" Chansung pura-pura tak mendengar ucapanku.

"Terserah apapun anggapanmu."

"Hahahaha... Finally..." Chansung merangkul pundakku. Aku manyun.

"Yaah Ungi-ah. Nega mwohaneungeoya-what are you doing?" ternyata Tara dan Eun Ji melihat kelakuan kami. Aku was-was. 'Kira-kira, Tara mendengarnya atau tidak yha? Ahhh.. Ini semua gara-gara Chansung..!'

"Sejak kapan kalian ada di sana?"

"Baru saja. Wae? Kalian membicarakan kami?" tanya Eun Ji penuh curiga.

"Aniya. Yaaah Tara-ah. Kau tidak mendengar apa-apa saat berdiri di situ khan?" tanya Chansung. Sepertinya dia bisa membaca pikiranku.

"Ani. Aku tak mendengar apa-apa. Saat kami datang, aku hanya melihat Chansung Oppa memeluk Junho Oppa. Wae?" jawab Tara. Aku langsung menghembuskan nafas. Leganya.

"Ne'. Waeyo?" Eun Ji sepertinya ingin sekali tahu apa yang aku dan Chansung perbincangkan.

"Ada masalah yang hanya boleh diketahui oleh sesama namja, Eun Ji-ah. Yeoja tidak boleh tahu. Benarkan Chansung-i?" jawabku sambil meminta persetujuan Chansung-i.

"That's right. Gaja kita pulang, Chagiya." ucap Chansung-i sambil memeluk Eun Ji. Dia meninggalkan aku dan Tara sendirian.

"Emmm... Kau mau kemana lagi setelah ini?" aku mencoba memulai percakapan saat kami berjalan ke arah kasir.

"Nado molla. Oppa?"

"Me too. Tapi aku merasa agak bosan di Dorm seharian. Lagipula.." aku melihat jam tanganku. "Ini masih jam 2 siang." Dia juga melihat jam tangannya.

"Yeah right. Yahh Oppa. Do you know a great place for refreshing?"

"Emmm..." Aku berpikir sejenak. "Mau ke Itaewon-dong?"

"Ada apa di sana?"

"Ada banyaaaaaak sekali restoran yang menjual makanan yang bisa dan boleh kau makan. Tertarik?" aku menawarkan padanya. Memang di Itaewon adalah pusat muslim terbesar di seluruh Seoul. Di sana banyak sekali restoran yang menyediakan makanan khas India, Pakistan, Mesir, Turki, Malaysia, Thailand, dan semua makanan yang tidak ada di Korea.

"Jinjjayo? Gaja gaja." Aku mengangguk. Setelah semua belanjaan sudah kami bayar di kasir, aku dan Tara berangkat ke Itaewon. Sebenarnya, kami mengajak Chansung dan Eun Ji. Sayangnya, mereka sudah memiliki tempat yang ingin mereka kunjungi sendiri.


-He's a Girl-


Sekitar satu jam perjalanan dari Apgujeong-dong ke Itaewon-dong. Namun sebelumnya, kami sempat pulang ke Dorm dulu untuk menaruh barang-barang belanjaan kami. Sesampainya di Itaewon, kami berputar-putar sebentar sampai kami menemukan restoran yang menjual nasi lemak dari Malaysia.

"Yaah Oppa. Mau itu?" Tara menunjuk ke arah restoran yang menjual nasi lemak itu.

"Apa itu?"

"Namanya nasi lemak. From Malaysia. Want some?" aku mengangguk. "Gaja gaja." Tara menarik tanganku masuk ke dalam restoran itu. Nafasku tercekat. "Wae?" tanya Tara saat melihatku diam saja.

"Aniya aniya. Gaja." Kami berjalan masuk bersama. Tara masih belum melepaskan pegangan tangannya. Dan degup jantungku mulai tak terkontrol.

"Annyeong. Museum jumunhalkkayo-what do you want to order?" seorang pelayan bertanya pada kami dalam bahasa Korea. Tara langsung menoleh padaku.

"Jamkkan man. Can you let us choosing for a moment?" Aku membuka suara.

"Jusibsio. I'll be back later."

"Ne'. Gamsahamnida. Ahh iie. Mianhaeyo. She can't speak Korean fluently. So, use English, please?"

"Okay Mr." Setelah pelayan itu pergi, kami mulai memilih menu yang tersedia.

"Oppa."

"Ne'?"

"Gomawo."

"Ige mwoya? What for Tara-ah?"

"Soal pelayan tadi."

"Aniya. Aku hanya tak ingin menjadi translatormu."

"Jinjjayo? Karena itu? Yaaaahh..! You're so rude, you know that."

"Hahahaha... Andwae andwae. Sudahlah, pilih saja makanan yang kau mau. Kau sudah lama ada di sini. Jelas kau merindukan masakan di tempat tinggalmu di sana."

"Yaahh Oppa. Kau tahu saja apa yang kurasakan." ucapnya sambil tersenyum. Sangat amat cantik. Neomu yeppeo...


-He's a Girl-


Yo yo yo..

Chap 12 has uploaded..

tunggu chap 13 yaaa...

RnR jangan lupaaa.. :D

Love you all... *ciumin reader