He's a Girl

Author : Si HwangJae Tyaz

Genre : Romantic, Brother/Sistership

Cast :

Katara

Lee Junho

Kintaro

Hwang Chansung

Lee Eun Ji

2PM's Member

Disclaimer : Semua member 2PM di FF ini hanya milik Tuhannya masing-masing. Yang punyaku cuman ide FF ini. Happy reading. Don't forget your review, guys. Gamsahamnida.. :D


-He's a Girl-


"Yaaah Oppa. Gomawo. Jeongmal gomawo."

"Arra arra. Yaah Tara-ah. Ada tempat lain yang igin kau kunjungi?"

"Sebenarnya ada."

"Eodiseo?"

"Banpo Bridge. Sayangnya, ini masih jam 5. Sedangkan Moonlight Rainbow Fountainnya lebih terlihat bagus saat malam hari. Benar khan?"

"Arraseo arraseo. Kita bisa menunggunya khan? Lagipula, aku belum mau pulang sebelum orang-orang di Dorm menelepon kita. Eottae?"

"Setujuuuuuu...! Gaja gaja." Tara terlihat sangat senang. Tak pernah kulihat dia sesenang ini saat berada di hadapanku.

"Yaaahh Tara-ah. Sayang kita tidak membawa kamera ya." ujarku saat kami sudah melaju di atas jalan raya.

"Hehem. Aisshhhh..! Apa di sana tidak ada fotografer keliling?"

"Biasanya ada. Semoga saja masih ada saat malam." Dan sekitar 30 menit kemudian, kami sampai. Semburat oranye di langit barat menyambut kedatangan kami.

"Lihat Oppa lihat. Huaaaaahhh... Kyeopta..." CKRIIIK..! "Ige mwoya?"

"Aniya. Aku hanya mengabadikannya. Mana ponselmu?"

"Ini. Apa yang akan kau lakukan dengan ponselku, Oppa?" Aku mengirim foto yang baru saja ku ambil dan menjadikannya sebagai wallpaper ponsel Tara.

"TADAAA...!"

"Wuaaaaahhh...! Jeongmal gomawo, Oppa. Kyeopta.. Neomu areumdaum. Hehehe..." Tara tersenyum sambil melihat wallpaper ponselnya sesekali. Tiba-tiba...

"Junho-ah. Yeogi mwohaneungeoya?" aku menoleh. Ternyata dua orang namja yang kukenal dari Super Junior. Aku tetap mengenali mereka walaupun mereka menyamar.

"Yaah Hyung. Eotteohge jinae? Oraenmanieyo." Tara menyikutku dan membisikkan sesuatu padaku.

"Nugu ya?"

"Mwo? Kau tidak mengenali mereka?" Tara menggeleng dengan tatapan lugu.

"Mwoya, Junho-ah? Dia tidak mengenali kami?" ujar salah satu namja itu.

"Ne'. Penyamaran kalian sungguh berhasil."

"Jamkkan man jamkkan man. Sepertinya aku tahu suara itu." Tara terdiam sejenak untuk berpikir. Dua orang namja itu terlihat kaget mendengar ucapan Tara yang menggunakan Bahasa Inggris itu.

"Yeojaneun nuguya? Apa dia bukan orang Korea?" tanya namja yang lain.

"Ne' Hyung. Dia dari Indonesia. Dia salah satu penari yang lolos dari seleksi di Indonesia." Aku menoleh pada Tara yang masih berpikir keras.. "Tara-ah, they're..." belum selesai aku berbicara, Tara sudah mendahuluiku.

"Hyukkie dan Teukkie Oppa, majjyo?"

"Wuaaaaahhh..! Penyamaran kita terbongkar, Hyung."

"Ne' Hyukkie-ah. Yaahh.. Who's your name?" tanya Teukkie Hyung. Aku hanya tersenyum. Kubiarkan Tara memperkenalkan dirinya sendiri.

"Annyeong Oppa. Jeoneun Tara imnida. Katara. Bangabseumnida." Tara membungkuk. Hyukkie dan Teukkie Hyung ikut membungkuk.


-He's a Girl-


"Jadi sekarang sedang kalian berkencan?" tanya Hyukkie Hyung.

"Mwo? Aniya. Yaaahh Hyung. Jangan berpikiran aneh-aneh dulu lah." ucapku meyangkal. Padahal...

"Yaaaahh.. Kalian sudah seperti sepasang kekasih saat berada di Banpo tadi." Ujar Teukkie Hyung.

"Aniya Oppa. Selama sebulan ada di Seoul, aku belum sempat berjalan-jalan agak jauh dari Dorm. Jadi, Junho Oppa mengajakku keluar dari Dorm."

"Jadi begitu." Hyukkie Hyung mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.

"Yaah Hyung, mana member yang lain? Mengapa hanya kalian berdua yang sampai ke Banpo?" tanyaku mengalihkan percakapan.

"Kyu sedang kurang enak badan. Maklum, setelah kecelakaan waktu itu, badannya jadi sering drop." Teukkie Hyung berhenti dan mengambil nafas panjang. Hyukkie Hyung mengelus-elus punggungnya.

"Gwaenchanha?"

"Nan gwaenchanha." Sesaat, ia tersenyum ke arah Hyukkie Hyung. "Ahh. Si Wookie dan Yesung, emmm.. Apa perlu aku ceritakan apa yang mereka lakukan? Hahahaha..."


-He's a Girl-


TARA

"Jadi sekarang sedang kalian berkencan?" tanya Hyukkie Oppa tiba-tiba.

"Mwo? Aniya. Yaaahh Hyung. Jangan berpikiran aneh-aneh dulu lah." ucap Junho Oppa. Aku tertunduk. 'Heeeehh... Lagi-lagi aku berpikiran yang tidak mungkin terjadi. Tara-ah. Ini bukan kencan.'

"Yaaaahh.. Kalian sudah seperti sepasang kekasih saat berada di Banpo tadi." Ujar Teukkie Oppa.

"Aniya Oppa. Selama sebulan ada di Seoul, aku belum sempat berjalan-jalan agak jauh dari Dorm. Jadi, Junho Oppa mengajakku keluar dari Dorm." 'Padahal aku berharap ini adalah sebuah kencan, Oppa. Sayangnya, ini bukan.'


"Tara-ah. Ige mwoya?" aku berjalan lebih cepat. Aku ingin segera pulang ke Dorm.

"Aniya."

"Tara-ah." Namun di aberhasil memegang lenganku dan menariknya sehingga kini kami berhadapan. "Igemwoya? Kau marah padaku?"

"Aniya Oppa. Nan gwaenchanha." Aku berusaha melepaskan cengakeraman tangannya dari lenganku. Sayang, usahaku sia-sia. Cengkeramannya terlalu kuat.

"Geojimar. Katakan padaku apa yang terjadi."

"Aku hanya capek. Lihat, sekarang sudah sangat larut." Aku memperlihatkan jam tanganku padanya. "Junho Oppa. Let's go home." Aku berjalan menuju tempat motor Junho Oppa diparkir dan memasang helm di kepalaku.

"Kau pikir aku akan tertipu dengan alasanmu?" ucapnya tiba-tiba di dekat telingaku.

"Mwo? Alasan? Ani." Aku masih menyangkal bahwa aku masih sedikit marah padanya.

"Kau marah padaku?"

"Yahh Oppa. Apa aku terlihat seperti orang yang sedang marah?" dia menggeleng. "So? Apalagi yang Oppa takutkan? Ayo kita pulaaaaang." Aku merengek dan tiba-tiba wajahnya berubah cerah kembali.

"Gaja gaja. Kau memang yeoja yang manja, Tara-ah." Ucapnya sambil naik ke atas motornya dan memakai helmnya.

"Mwo? Yaaaahhh... Kau lebih senang aku manja atau menjadi seorang namja?"

"Sudahlah sudahlah. Cepat naik."

"Arraseo arraseo." Aku naik ke motor dan bersiap.

"Mana tanganmu?" tiba-tiba Junho Oppa meminta tanganku.

"Ada apa?" tanyaku saat menyerahkan tanagnku. Tiba-tiba tangannya menarik tanganku untuk memeluk pinggangnya. Jantungku terasa berhenti. "I..ige mw..mwo..mwoya?"

"Diam dan taruh tanganmu yang lain di sini juga." Aku menuruti kata-katanya.

"Su...sudah Op...pa..."

"Yaaahh.. Kau kedinginan? Mengapa gemetaran?"

"Nan gwaenchanha. Gaja Oppa. Aku sudah mengantuk." Ku lontarkan alasan yang cukup masuk akal. Tak lama kemudian, motor Junho mulai berjalan.

Aku tersenyum. Ku eratkan peganganku. Aku nyaman dengan posisi ini. Aku tak mau melepaskannya. Aku ingin terus seperti ini. Aku memejamkan mata.


-He's a Girl-


'Aji Oppa. Gwaenchanhayo? Nan gwaenchanha. Gomawo. Jeongmal gomawo. Kau sudah mengirimkanku malaikat yang bisa menggantikanmu di hatiku. Sekarang, bantu aku memenangkan hatinya, Oppa. Bantu aku menyembuhkan traumanya. Bantu aku berdiri di sisinya. Oppa, saranghanta. Neomu bogoshippeoyo.'Tak terasa air mataku menetes. Otomatis, aku menarik tanagn kananku untuk mengusapnya.

"Waeyo? Kau mengantuk?"

"Aniya Oppa. Mataku kemasukkan debu."

"Kau menangis?" Junho Oppa langsung menepikan motornya dan berhenti tepat di sisi Banpo Bridge. Dia menoleh kepadaku yang masih mengusap air mata. "Waeyo?"

"Nan gwaenchanha." Aku masih sibuk menghapus air mataku saat tiba-tiba daguku di angkat oleh Junho Oppa hingga wajahku benar-benar berhadapan dengan wajahnya.

"Nan gwaenchanha? Apanya yang baik-baik saja? Aku tak melihat sesuatu yang baik di wajahmu sekarang, Tara-ah. Yang kulihat hanya air mata yang meleleh di pipimu. Apa yang terjadi?" aku menggeleng lemah. Tiba-tiba Junho Oppa memelukku. Nafasku tercekat.

"Op..Oppaa.."

"Sudah merasa lebih baik?" tanyanya masih dengan posisi yang tak berubah. Aku mengangguk grogi. Lalu dia melepas pelukannya dan memegang bahuku dan melihat kedua mataku. "Jangan pernah menyembunyikan rahasia dariku, Tara-ah."

"Ne' Oppa. Nan gwaenchanha. Aku hanya merindukan Eomma dan Appaku. Apalagi Appaku sedang sakit saat ini."

"Lusa khan hari keberangkatanmu. Jangan bersedih lagi, arraseo?"

"Hem.." aku mengangguk mantap. 'Mianhae Oppa. Aku berbohong lagi padamu.'


-He's a Girl-


Hari ini, hari keberangkatan Taro untuk pulang ke Indonesia. Dari pagi, aku sudah mempersiapkan diri untuk menggantikan Taro di sini.

"Apa kau sudah siap, Tara-ah?"

"Hem. Aku siap Oppa. Sampaikan salamku pada Eomma, Appa dan Tari." Taro mengangguk. Terdengar suara Min Jae Oppa memanggil kami.

"Twins, sudah siap?"

"Jamkkan man Hyung." jawab Taro "Tara-ah. Bertahanlah. Aku hanya akan pergi selama satu minggu. Atau paling lama 2 minggu. Jamkkan man di sini, arraseo?"

"Ne' Oppa. Aku akan bertahan." Kami berpeluukan. Kami berusaha menjaga rahasia perbincangan kami di kamar tadi. Sayangnya, seseorang sudah mendengarnya dari balik pintu.

"Mereka benar-benar akan bertukar tempat seperti yang kukatakan dulu? Apa mereka sudah gila?"


-He's a Girl-


Chap 13 sudah..

Chap 14 tinggal post..

Ahhhh..

Tinggal nunggu RnR dari sodara-sodara reader..

Gomawo gomawo gomawo buat semuanya.. :D