He's a Girl
Author : Si HwangJae Tyaz
Genre : Romantic, Brother/Sistership
Cast :
Katara
Lee Junho
Kintaro
Hwang Chansung
Lee Eun Ji
2PM's Member
Disclaimer : Semua member 2PM di FF ini hanya milik Tuhannya masing-masing. Yang punyaku cuman ide FF ini. Happy reading. Don't forget your review, guys. Gamsahamnida.. :D
##He's a Girl##
JUNHO
"Eummm Taro-ah." panggil Woo.
"Ne'?"
"Sejak kapan kau menyukai Strawberry?" aku langsung melotot. 'Omo..! Aku lupa kalau Taro tidak menyukai Strawberry.' Kulihat Tara sibuk berpikir untuk memberikan alasan pada Woo. Aku tidak tega.
"Woo-ah. Memangnya orang berubah tidak boleh? Mungkin dia sudah berani melawan ketakutannya dengan Strawberry." Lagi-lagi aku membelanya.
"Jinjjayo? Waaahhh... Chukkae Taro-ah."
"Ak...Aku hanya mencoba merasakan makanan yang sering Tara makan untuk menghilangkan rindu, Hyung."
"Ahh Taro-ah. Aku juga merindukannya. Jangan seperti ini lah. Ehh iya. Kira-kira kapan dia akan pulang?" tanya Woo lagi. Tara menggeleng. Taro memang tidak memberi tahu kapan ia pulang sampai hari ke-13 ini.
"Aku akan meneleponnya." Tara berdiri dan berlalu. Aku mengikutinya tanpa sepengetahuan Tara. Dia berhenti di tempat duduk depan café. Kulihat dia mengeluarkan ponselnya dan memencet-mencet tombolnya.
"Assalamualaikum. Yeoboseyo?"
"..."
"Miss you too, Eomma. Appa gwaenchanha?"
"..."
"Aniya. Mana Oppa?"
"..."
"Nan gwaenchanha, Oppa. Kapan pulang? Nega neomu bogosippeoyo."
"..."
"Arra arra. Jaga diri baik-baik. Jangan ketularan Appa. Arraseo?"
"..."
"See you soon here. Assalamualaikum."
Tara sudah menyelesaikan panggilannya. Aku segera masuk ke dalam dan kembali lagi ke tempat dudukku. Kulihat Banana Splitku sudah agak mencair. Segera saja ku makan dengan lahap. Tara duduk kembali ke tempatnya semula, di sampingku.
"Bagaimana?"
"Dia masih ditahan Eomma untuk kembali kemari. Tapi dari suaranya tadi, aku merasa dia sedang agak kurang sehat. Ahhh Oppa... Kau membuatku khawatir saja."
"Oppa? Oppa siapa? Kenapa kamu memaggil Oppa bukan Hyung? Kau tadi amenelepon sapa sih? Aku jadi bingung." Woo mencecar Tara dengan berbagai pertanyaan. Tara langsung terkesiap dan bingung.
"Ap..Appa. Maksudku Appa. Appaku khan sedang sakit Hyung. Aku mengkhawatirkan kesehatan beliau. Ahh..mungkin aku kecapekan jadi omonganku ngelantur." Dia meminum sedikit-sedikit milkshake yang ada di depannya itu. "Ahhh.. Rasanya aneh." ucapnya.
"Kalau kau tidak suka, biar aku yang habiskan. Pesan lagi yang baru. Bagaimana?" aku menawarkan ide itu kepada Tara. Woo terlihat gusar. "Waeyo Woo?"
"Sepertinya aku tidak bisa ikut kalian berlama-lama di sini. Aku ada janji dengan Ji Eun-ah. Aku berangkat sekarang ya."
"Tapi kau harus pamit dulu ke Min Jae Hyung, Woo."
"Tenang saja. Aku tadi sudah meneleponnya. Min Jae Hyung memperbolehkan asal tidak pulang malam. Baiklah aku berangkat. Annyeong."
"Ne' Hyung. Jalga." Woo berlalu. "Huuuufffff..." Tara menghembuskan nafas lega. Ku usapkan tanganku ke punggungnya. Dia menoleh padaku.
"Gwaenchanha?"
"Hehem. Nan gweanchanha. Jangan khawatir, Hyung."
"Cepat habiskan minumanmu."
"Aku belum mau kembali, Hyung. Aku masih ingin menenangkan diri. Kembalilah dulu ke tempat pemotretan."
"Aniya. Aku akan menemanimu. Tenang saja. Selama yang kau inginkan." Aku melihat senyum tersungging di bibir Tara.
"Gomawo. Jeongmal gomawo, Hyung."
"Hehem. Bertahanlah Tara-ah. Untuk Taro, Appamu, dan Eommamu." Dia mengangguk. "Serta untukku." ucapku lirih. Dia tersenyum.
"Pasti..!" jawabnya mantap dan menatapku tajam. Aku terkekeh.
##He's a Girl##
Aku merenggangkan ototku. Awal pekan ini mungkin Taro akan pulang dan tugas Tara akan berakhir. Aku tidak tega saat melihatnya terbebani dengan tugas itu. Tugas menggantika posisi Taro.
"Hyuuuuuung..! Sarapaaaann..!" Suara Tara terdengar dari arah ruang makan. Aku berjalan keluar kamar dengan malas. Kulihat Chan dan Woo juga masih bergelung dengan selimutnya di lantai ruang tamu.
"Tara-ah." Aku memanggilnya dengan pelan. Dia menoleh.
"Cepat duduk sana." Dia mengusirku dari dapur. "Makan terus mandi."
"Waeyo? Ini masih setengah 7 pagi."
"Kau tidak ingat? Hari ini kita ada pembuatan CF di Myeongdong. Baboya."
"Yaaahhh..! Aku ini Hyungmu." Aku cemberut. Dia terkikih.
"Hyung babo. Udah cepet makan. Aku mau membangunkan yang lain." Tara berlalu. Tak lama setelah itu, terdengar suara Tara yang sedang membangunkan member yang lain. Aku tersenyum geli saat Woo dan Chan datang ke meja makan dengan wajah acak-acakan.
"Taro sekarang cerewetnya mengalahkan Tara ya. Haduuuhhh..." ujar Woo.
"Ne'. Mengalahkan Tara." Aku terkekeh mendengar jawaban Chan.
"Sudah makan saja. Enak kok." Aku memakan sarapanku dengan lahap.
Tak terasa, jam menunjukkan pukul 9. Saatnya kita berangkat ke Myeongdong. Kami akan melakukan flashmob untuk shooting CF kita yang terbaru. Aku yang sudah berlatih keras selama hampir dua pekan ini sangat menantikan hari ini. Mengapa? Karena hari ini akan ku saksikan Tara menari. Di sampingku.
"Hyung. Apa yang sedang kau lakukan di balkon? Cepat siap-siap." Suara Tara mengagetkanku. Aku menoleh. Ternyata dia sudah siap. Aku berjalan ke arahnya dan merangkul bahunya. Dia terlihat risih dan takut. "Yahh Hyung."
"Gwaenchanha. Kita kan sesama lelaki. Ini sudah biasa."
"Jinjja?" dia terlihat berpikir. "Apa mereka tidak akan menganggap kita aneh? Seperti pasangan... Ehmmm.. Kau tau khan Hyung?"
"Ne'. Aku tahu maksudmu." Aku menatap wajahnya dan membisikkan sesuatu ke telinganya. "Aku rindu kau yang dulu, Tara-ah." dia terlihat bingung. Lalu dia menatapku.
"Aku yang dulu? Apa maksudnya Hyung?"
"Aku rindu saat rambutmu masih panjang, rindu saat kau memakai pakaian yeoja, rindu saat kau marah-marah padaku sebagai seorang yeoja. Hmmmm... Banyak yang ku rindukan darimu, Tara-ah."
"Banyak?" dia terlihat tersipu malu. Pipinya yang putih sudah dihiasi semburat kemerahan. Aku tersenyum.
"Ne'. Nega neomu bogoshipoyeo. Rindu melihatmu menangis saat di Cheongdam Bridge juga. Hahahaha..."
"Yaaahhh..! Hyung ini. Suka melihatku menangis?"
"Ddayonghaji-of course. Kau seperti anak balita saat kau menangis. Hahahaha..." Tara cemberut. "Yaaahh..! Aku hanya bercanda Tara-ah. Jangan menangis sekarang."
"Sapa yang mau nangis. Weeeekkk...!" ujarnya sambil berlari menjauh dariku. "Udah, ganti baju sana."
"Arra arra. Cerewet." Aku tersenyum. Tiba-tiba...
"Junho-ah. Ikut aku. Aku mau bicara." Wajah Khun Hyung terlihat serius.
"N..Ne' Hyung." 'Ada apa ya?Kenapa wajah Hyung sebegitu seriusnya? Jangan-jangan...' Aku mengikuti langkah Khun Hyung. Ternyata aku dibawanya ke dapur.
"Jaga Taro baik-baik. Tariannya masih agak amburadul. Ahh satu lagi. Dari kemarin kulihat makannya sedikit. Bujuk dia untuk makan lebih banyak hari ini. Arra?" Huffff... Aku menghela nafas lega. Ternyata Khun Hyung masih belum tahu soal Tara.
"Ddangyeonghaji Hyung. Tenang saja. Aku pasti akan menjaganya." Khun Hyung menatap mataku dalam-dalam seakan-akan ia berkata bahwa aku harus benar-benar menjaga Tara denga baik. Aku mengangguk.
"Hyuuuung...! Ini sudah jam berapa? Ayo berangkaaaaatttt..!" suara Tara terdengar dari arah ruang tamu. Aku dan Khun Hyung segera masuk kamar masing-masing dan ganti baju.
##He's a Girl##
Aduuuuhhh...
Jelek sekali chappie ini..
Mianhamnida yeorobeun.. TT-TT
Tapi tetep RnR yaa... :D
Sampai jumpa di chappie berikutnya...
Annyeong...
