He's a Girl

Author : Si HwangJae Tyaz

Genre : Romantic, Brother/Sistership

Cast :

Katara

Lee Junho

Kintaro

Hwang Chansung

Lee Eun Ji

2PM's Member

Disclaimer : Semua member 2PM di FF ini hanya milik Tuhannya masing-masing. Yang punyaku cuman ide FF ini. Happy reading. Don't forget your review, guys. Gamsahamnida.. :D


##He's a Girl##


Hari ini, Taro akhirnya pulang setelah 2 minggu lebih dia pergi Indonesia. Aku bersiap-siap pergi untuk menjemput Taro di bandara.

"Kau sudah siap?" aku melongkokkan kepalaku ke kamar Tara. Tak ku dengar jawaban dari Tara. "Tara-ah.. Eodiga?" masih tidak ada jawaban. Aku memberanikan diri masuk ke dalam kamarnya.

Aku telusuri kamarnya sambil sesekali menoleh ke arah pintu. "Kau dimana Tara-ah?" aku berbisik pada diriku sendiri. Akhirnya aku memutuskan menunggunya di ruang tamu. Ku pencet tombol hijau di ponselku dan meneleponnya.


Listen to my heartbeat

(It's beating for you)

Listen to my heartbeat

(It's waiting for you)


"Bagus..! Orangnya ga ada. Ponsel ditinggal di kamar. Itu anak maunya apa sih?" aku menggerutu. Tiba-tiba dari arah balkon...

"Oppa? Gwaenchanha?" aku terkesiap. Itu Tara. Tapi...

"Yaaahhh..! Kenapa kau memakai baju yeoja? Taro kan belum pulang." aku menoleh ke arah pintu Dorm. Untung semua member, Mr. Jang, MinJae Hyung dan Jinyoung Hyung sedang ada di tempat latihan untuk mempersiapkan pesta penyambutan.

"It's okay." Dia tersenyum. Ahhhh... Ku pandangi Tara yang sedang memakai pakaian yang seharusnya memang ia pakai itu. Pakaian yeoja. Rasa rindu menelusup di hatiku. Ku dekati dia dan kupeluk tubuh kecilnya. Dia tidak melawan.

"Aku rindu yeosaengku yang menghilang sejak 2 minggu yang lalu. Untungnya dia sekarang sudah kembali. Jangan pergi lagi ya." Ku lepaskan pelukanku. Dia tersenyum.

"Memangnya kalo aku pergi kenapa?"

"Nanti kami semua kelaparan. Hahahahaha..." dia cemberut. Wajahnya menjadi lebih imut dari biasanya. "Sudahlah. Kita jemput Taro sekarang yuk. Sebelum semuanya datang dan rahasiamu ketahuan."

"Gaja gaja. Aku juga sudah kangen dengan Oppaku tercinta." Tiba-tiba aku berhenti berjalan. Tara menatapku heran. "Waeyo? Gwaenchanha?"

'Bukannya Oppa tercintamu selama ini sudah ada di sampingmu, Tara-ah?' "Aniya. Gaja gaja." Aku berjalan mendahuluinya. Tara mengekor di belakangku. Kali ini, aku pinjam mobil Jinyoung Hyung untuk menjemput Taro. Karena jika aku meminjam van milik MinJae Hyung, Hottest akan menyadari dan mengejar kami seperti dulu.


Di dalam mobil, Tara dan aku masih tenggelam dalam pikiran masing-masing hingga tak terdengar suara percakapan diantara kami. Entah mengapa dia menjadi seperti ini hari ini. Aku yang sudah tidak tahan dengan suasana ini, mencoba membuka percakapan.

"Tara-ah. Gwaenchanhayo?" dia hanya mengangguk.

"Lalu, mengapa kau diam saja? Ada yang salah?"

"Aku yang salah." jawabnya tanpa menoleh kepadaku yang sedang membagi konsentrasi antara menyetir dan memperhatikan Tara. Tatapan matanya kosong. Ku elus pundaknya pelan. Dia menoleh padaku. Aku terkesiap dan menepikan mobil Jinyoung Hyung.

"Yahh.. Ada apa?" mata Tara berkaca-kaca. Dia terdiam dan menundukkan kepalanya. Ku elus lembut puncak kepalanya. "Gwaenchanhayo? Tara-ah, jangan seperti ini."

"Ak..aku hanya merasa ini semua salah, Oppa. Aku membohongi publik. Aku sudah tak kuat. Aku ingin mengakui semuanya. Aku tak mau berbohong lebih lama lagi. Ak...aku..."

TES... Air mata itu sudah tak terbendung lagi. Yeoja di hadapanku kini menangis. Ingin sekali aku merengkuhnya dan membiarkan ia menangis di dadaku. Tetapi aku lebih memilih diam di tempatku dan melihatnya menumpahkan semua uneg-uneg yang mengganjal di hatinya.

TES... TES... TES... TES... TES... TES... Ku biarkan ia menangis sepuasnya.

"Sudah merasa lebih baik?" dia menatapku. Aku tersenyum. Aku mau melihatnya tertawa seperti biasanya.. namun yang kudapat hanya senyuman getir dengan hiasan air mata di pipi tirusnya. Aku mengulurkan tanganku dan menghapus air mata itu.

"Oppa."

"Ne'?"

"Gomawo. Jeongmal gomawo."

"Untuk apa?"

"Untuk semuanya. Untuk waktu yang Oppa luangkan untuk menungguku di Dorm saat aku pulang telat, menjemputku di bridge bahkan menggendongku serta merawatku saat aku sakit, menghiburku yang sedang kesepian tanpa Taro di sini, memahami keadaanku dan Taro, mendukungku selama Taro tidak di sampingku, saat..." aku menempelkan telunjukku di bibirnya.

"Hey, aku juga Oppamu. Kau yeosaengku. Tak bolehkah aku membantu yeosaengku bertahan?" dia menunduk.

"Mianhaeyo Oppa."

"Untuk apa kau meminta maaf? Aku akan melakukan hal yang sama jika aku berada di posisi kalian sekarang. Sekarang, angkat kepalamu, hapus air mata itu. Aku tak mau orang-orang menganggapku sebagai orang jahat karena sudah membuatmu menangis." Tara tersenyum.


##He's a Girl##


Sudah satu minggu setelah kepulangan Taro ke Dorm. Tara sudah kembali menjadi Tara. hubunganku dan Tara semakin dekat. Kami sudah sering keluar berdua dan semua member serta MinJae Hyung pun tahu. Seperti malam itu. Kami sedang keluar berdua. Namun, aku tak tahu bahwa malam ini seharusnya aku mendengarkan larangan Junsu Hyung untuk tidak keluar Dorm.

"Tidak Hyung. Aku mau mengajak Tara jalan-jalan."

"Tapi perasaanku tidak enak, Junho-ah."

"Ahh Hyung. Gwaenchanha. Aku akan menjaga Tara seperti biasanya. Kami akan pulang tepat pukul 10. Arraseo. Gwaenchanha."

"Junho-ah..."

"Annyeong Hyuuuung." Tara sudah menungguku di depan Dorm.

"Museun iriya?"

"Anio. Gwaenchanha. Gaja kita berangkat."

"Kali ini kita mau kemana Oppa?"

"Ayo ke Banpo lagi. Lalu kita ke Namsan. Eottae?"

"Gajaaaaa..." Tara menggandeng lenganku sambil berjalan ke garasi Dorm.


5 menit kemudia, aku sudah berada di Banpo. Kami sedang mengantri untuk membeli es krim. Karena giliranku lama, aku rebut es krim yang sudah ada di tangan Tara.

"Yaaaahhh..! Itu kan es krimku." teriak Tara.

"Apa apa apa?" ku bawa es krimnya berlari menjauh. Karena terlalu asyik berlari, aku tidak sadar kalau sekarang aku sudah berada di tengah jembatan yang notabene adalah jalan raya.

"Oppaaaaaaaa..." aku dengar teriakan Tara dari kejauhan dan saat itulah aku sadar bahwa ada mobil yang melaju cepat KEARAHKU.

Kakiku tak bisa di gerakkan. Aku mematung di tengah jalan. Aku memejamkan mata dan berharap saat mobil itu menyentuhku, tak ada rasa sakit yang terasa. Namun, aku merasa ada seseorang yang mendorongku hingga aku jatuh tersungkur. Bibirku terluka akibat terbentur aspal.

BRAAAAAKKKKK...!

"KYAAAAAA...!"

Aku berdiri dan melihat kerumunan orang-orang itu. Aku mendekat. Nafasku naik turun. 'Tara.. Tara.. Tara..' Namanya berulang-ulang muncul di otakku. Aku mendekati kerumunan itu dan menyibaknya hingga aku bisa melihat siapa yang menolongku.

DEG..! "Tara-ah." ucapku lirih. Tak terasa air mataku mengalir.

"Bangun Tara-ah. Ini aku Junho. Tara-ah.. Tara-ah.. Anybody. Call ambulance..!"


##He's a Girl##


TARA

"Yaaaahhh..! Itu kan es krimku." teriakku pada Junho Oppa..

"Apa apa apa?" Dia berlari membawa es krimku menjauh. Tanpa sadar, dia menuju tengah jalan raya.

"Oppaaaaaaaa..." aku berteriak dari kejauhan kareana saat itu aku sadar bahwa ada mobil yang melaju cepat KEARAHNYA.

Dia tidak beranjak dari tempatnya. Dia hanya melihat mobil yag semakin dekat dengannya itu. Lalu dia memejamkan mata. Entah apa yang merasuki tubuhku. Aku langsung berlari dan mendorongnya hingga ia terjatuh dan membentur aspal. Lampu mobil itu menyilaukan mataku. Hingga...

BRAAAAAKKKKK...!

Aku merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhku. Aku juga merasakan pusig yang teramat sangat saat kepalaku berbenturan dengan aspal.

"KYAAAAAA...!" suara wanita itu masih bisa ku dengar walaupun mataku sudah tertutup rapat. Sayup-sayup kudengar Junho Oppa memanggil namaku. 'Oppa.. Pergilah. Jangan pedulikan aku.' Lalu semakin lama suara-suara mereka di telan kegelapan yang menyelimutiku.


##He's a Girl##


Chappie 17 sudah dataaaang...

Makasih udah sudi baca FFku sampek sejauh ini..

Gomawo..

Jeongmal gomawo.. :D