He's a Girl
Author : Si HwangJae Tyaz
Genre : Romantic, Brother/Sistership
Cast :
Katara
Lee Junho
Kintaro
Hwang Chansung
Lee Eun Ji
2PM's Member
Disclaimer : Semua member 2PM di FF ini hanya milik Tuhannya masing-masing. Yang punyaku cuman ide FF ini. Happy reading. Don't forget your review, guys. Gamsahamnida.. :D
##He's a Girl##
"Kembalilah Tara."
Aku tak tahu aku dimana beberapa hari ini. Yang kutahu, aku sekarang berada di taman yang penuh dengan mawar putih. Mawar putih tak berduri. Hingga aku bebas berbaring dimanapun tanpa takut kulitku tergores durinya.
Aku menoleh ke arah suara itu. Terlihat seorang namja berjas putih yang tersenyum kearahku. Aku tak tahu siapa dia. Yang kutahu, dialah yang menemaniku beberapa hari ini.
"Apa harus? Aku masih ingin di sini lebih lama."
"Jika kau di sini sehari lagi, aku akan membawamu pergi."
"Kemana?"
"Ke tempat yang jauh hingga kau tak akan bisa kembali."
"Tapi..."
"Kau memilih pergi atau kembali?" tanyanya dengan tegas. Tiba-tiba wajah Junho Oppa, Taro, Eomma, Appa, Tari, Eun Ji dan semua orang yang pernah ku kenal melintas di pikiranku. Ahh... Aku merindukan mereka.
"Aku akan kembali."
"Kembalilah." Tiba-tiba aku berada di ruangan gelap. Tak ada yang terlihat kecuali diriku sendiri. Aku berdiri. 'Aku dimana?' bathinku. Sayup-sayup ku dengar seseorang memanggil namaku. Suara itu sangat familiar di telingaku.
"Tara-ah. Buka matamu. Aku ada di sini. Jangan tinggalkan aku."
"Junho Oppa." ucapku. Aku mencari suara itu. Aku berlari mencarinya. Keadaannya masih sama. Gelap. Sepi. Sendiri. Aku menghela nafas. Suara itu datang lagi.
"Tara-ah. Bangunlah. Ayo kita jalan-jalan ke Banpo lagi. Ayo kita jelajahi Seoul. Jangan tinggalkan aku sendirian, Tara-ah. Jangan buat aku menyesal karena sudah hidup."
Nafasku tersenggal. Rasa sesak itu datang lagi untuk kesekian kalinya. Tiba-tiba kulihat setitik cahaya putih yang semakin lama kurasa semakin mendekat. Aku memberanikan diri mendatanginya. Cahaya putih itu membuatku silau dan semakin silau. Aku menutup mataku...
Aku membuka mataku dan mengerjap. Aku dalam sebuah ruangan dan tertidur di atas sebuah kasur. Alat bantu pernafasan menempel di sekitar mulutku. Di tanganku ada selang infus yang menempel.
Di dadaku tertempel beberapa kabel-kabel yang menghubungkannya dengan layar monitor yang terus memperlihatkan kerja jantungku. Kepalaku diperban. Di sampingku, Junho Oppa sedang tidur sambil menggenggam telapak tanganku.
"Oppa..." suaraku lemah karena sakit yang kurasakan sesaat setelah mataku terbuka tadi. Kulihat ia menggeliat dan menegakkan badannya, menggosok matanya. Wajahnya terlihat tirus.
"Oppa..." panggilku lagi. Matanya yang sipit itu tiba-tiba membulat.
"Tara-ah... TARA-AHH..!" dia memelukku.
"Uhukk...!" dadaku sesak. "Op...Oppaa... Da...Dadakuuhh..."
"Mianhae mianhae.." Junho Oppa melepas pelukannya. Aku melihatnya tersenyum. Aku merindukannya. Merindukan senyumannya.
"Oppa... Apa yang terjadi padaku?"
"Ka...kau... Gomawo Tara-ah. Jeongmal gomawo." Dia menggenggam tanganku. Aku bisa merasakan air matanya yag hangat jatuh ke tanganku.
"Museun iriya, Oppa?"
"Ka...Kau telah menyelamatkanku malam itu..."
-Flashback-
"Oppaaaaaaaa..." Tara berteriak dari kejauhan karena saat itu dia sadar bahwa ada mobil yang melaju cepat KEARAH JUNHO.
Namun Junho tak beranjak dari tempatnya. Dia hanya melihat mobil yang semakin dekat dengannya itu. Lalu dia memejamkan mata. Entah apa yang merasuki tubuh Tara. Dia langsung berlari dan mendorong Junho hingga Junho terjatuh dan membentur aspal. Lampu mobil itu menyilaukan mata Tara. Hingga...
BRAAAAAKKKKK...!
"KYAAAAAA...!"
Junho berdiri dan melihat kerumunan orang-orang itu. Junho mendekat. Nafasnya naik turun. 'Tara.. Tara.. Tara..' Namanya berulang-ulang muncul di otaknya. Ia mendekati kerumunan itu dan menyibaknya hingga ia bisa melihat siapa yang menolongnya.
DEG..! "Tara-ah." ucapnya lirih. Tak terasa air mata Junho mengalir.
"Bangun Tara-ah. Ini aku Junho. Tara-ah.. Tara-ah.. Anybody. Call ambulance..!"
Setengah jam kemudian, Junho sudah berada di Rumah Sakit bersama Taro dan member 2PM lainnya. Wajah mereka terlihat sangat tegang. Ya mereka sedang menunggu dokter untuk bisa mengetahui keadaan Tara.
KRIEEETTTT...!
Pintu ruang Gawat Darurat terbuka. Seorang dokter keluar denga wajah yang kurang menyenangkan. Junho terlihat semakin muram.
"Yang mana keluarga dari Tara-sshi?"
"Sa..saya Dok. Saya saudara kembarnya." Taro angkat bicara.
"Bisa ikut saya?"
"Apa tidak keberatan jika kami semua tahu bagaimana keadaan yeosaeng kami?" Nichkhun memberanikan diri untuk berbicara.
"Apa kalian semua Oppanya?"
"YA..!" jawab semua member 2PM bersamaan.
"Arraseo." Dokter itu sejenak menghela nafas panjang. Suasana semakin menegang. "Tara-sshi selamat. Tetapi banyak sekali luka yang ia derita. Dia juga mengalami gegar otak yang agak berat akibat benturan keras antara Craniumnya dengan aspal jalan. Costae kirinya retak. Pergelangan kakinya juga. Tulang betis kanannya atau dalam kedokteran adalah Os Fibula miliknya juga retak. Dan yang paling parah lagi adalah dia sekarang mengalami. . . . . . . . . . . KOMA."
DEG...!
Ucapan terakhir Dokter itu membuat semua namja yang ada di situ terbelalak. Mereka sama sekali tidak percaya. Junho sudah tak bisa lagi menahan air matanya. Ia menangis sesenggukan.
"Ini semua salahku. Seharusnya kami tidak pergi. Seharusnya aku mendengar larangan Junsu Hyung." Junho menyesali keputusannya. Junsu mendekati Dongsaengnya dan mengelus pelan punggungnya.
"Gwaenchanha Junho-ah. Ini bukan salahmu. Tuhan sudah menulis ini semua bahkan sebelum ini semua terasa olehku."
"Baiklah. Saya pamit dulu. Kalian boleh masuk tetapi jangan mengganggunya karena banyak alat bantu kedokteran yang kami pasang di tubuhnya untuk mempertahankan hidupnya selama ia koma." Dokter itu berjalan menjauh.
-Flashback End-
"Memangnya aku sudah terbaring di sini berapa hari, Oppa?"
"Sudah lebih dari 3 minggu. Bahkan tadi, denyut jantungmu sudah berhenti selama 2 menit. Itu sudah ketiga kalinya selama satu minggu ini. Aku mengangguk.
"Mana yang lain?"
"Mereka akan segera datang, Tara-ah."
##He's a Girl##
"MWO?"
"Mianhae, Tara-sshi. Kau memang benar-benar tidak bisa menari lagi. Tulang betis dan pergelangan kakimu yang retak sudah tidak bisa secara normal menumpu tubuhmu saat menari." ucapan KangHee Uisa-nim mengejutkanku.
"Apa ini semua tidak bisa sembuh? Mungkin dengan terapi?" Junho Oppa mulai angkat bicara. Namun KangHee Uisa-nim menggeleng. Dan saat itulah air mataku yang sedari tadi ku tahan benar-benar tumpah. Akhirnya kami pamit pulang.
"Lalu, apa yang ku lakukan di sini jika menaripun aku sudah tak mampu?"
"Tara-ah. Janga begitu. Kau harus terus kuat dan mendampingi kami. Mendampingiku di sini." Junho Oppa memeluk tubuhku yang bergetar akibat tangisanku.
"Sepertinya ini saatny aku kembali ke Indonesia, Oppa. Aku sudah tak berguna di sini."
"Yaaahhh..! Apa yang ada di pikiranmu? Untuk apa kau kembali ke Indonesia?"
"Lalu untuk apa aku di sini? Melihatmu menari dengan INDAH? SHIREO OPPA..!" kemarahanku memuncak. Aku berlari menjauh. Namun, kepalaku mendadak pusing dan mataku berkunang-kunang. Tubuhku ambruk.
"Tara-ahhhh..." hanya suara itu yang dapat di tangkap telingaku sebelum semuanya menjadi gelap.
Dan tiba-tiba aku sudah berada di kamarku. Wajah Tarolah yang pertama kali kulihat. Lalu Junho Oppa, Khun Oppa, Woo Oppa, Junsu Oppa, Chan Oppa, dan Taec Oppa.
"Apa yang terjadi?"
"Kau pingsan, Tara. Junho Hyung yang menggendongmu dari RS Gangnam hingga Dorm. Apa sekarang kau masih pusing?"
"Ani."
"Aku keluar dulu." Junho Oppa beranjak dari tempatnya dan berjalan keluar. dia sempat melirikku saat berada di ambang pintu. Wajahnya menyiratkan kekecewaan. 'Mianhaeyo, yaeya Oppa.'
##He's a Girl##
Jeongmal Gomawo ku ucapkan buat kangkyumi yang selalu ngikutin FF ini sampek sejauh ini...
Hehehehehe...
Jangan lupa buat terus RnR FF ini yha...
Annyeong.. :D
