He's a Girl
Author : Si HwangJae Tyaz
Genre : Romantic, Brother/Sistership
Cast :
Katara
Lee Junho
Kintaro
Hwang Chansung
Lee Eun Ji
2PM's Member
Disclaimer : Semua member 2PM di FF ini hanya milik Tuhannya masing-masing. Yang punyaku cuman ide FF ini. Happy reading. Don't forget your review, guys. Gamsahamnida.. :D
##He's a Girl##
Aku menghela nafas panjang. Mataku menerawang jauh. Aku benci keputusanku ini. Aku sangat membencinya. Namun aku harus melakukannya. Aku tidak mau membebani Taro. Aku ingin membiarkan dia terbang bebas meraih ketenarannya.
Aku menunduk. Ku biarkan angin musim gugur ini membelaiku. Mungkin ini musim gugurku yang pertama dan terakhirku di Seoul. Musim gugur pertama dan terakhirku bersama Oppa-Oppa tersayangku. Bersama keluarga kecilku di Seoul.
Air mataku sudah tak terbendung. Ia sudah membentuk anak sungai dan mulai menuruni pipiku. Terasa hangat di tengah dinginnya hembusan angin musim gugur ini. Aku mulai menggigil. Aku memang sengaja tidak memakai jaketku. Aku ingin membekukan hatiku bersama perasaan ini. Perasaan bersalah, menyesal, kecewa, dan yang lain.
Aku menghapus air mataku cepat-cepat. Aku tidak mau semua melihatku sebagai Tara yang rapuh. Aku adalah Tara yang tegas. Ini keputusanku. Keputusan final yang tidak bisa di ganggu gugat oleh siapapun. Bahkan oleh Taro, Oppaku sendiri. Ahhh... Aku butuh Eomma sekarang. Hanya Eomma yang tahu cara jitu untuk menenangkan pikiranku.
Aku mencari ponselku. Aku ingin menelepon Eomma. Sayangnya, ponselku tak dapat kutemukan. Aku kembali menghela nafas panjang. Ku angkat kedua kakiku dan kupeluk lututku. Kubenamkan wajahku di antaranya. Aku mencoba mengatur nafas agar tangisku tidak meledak.
"Memangnya kalau menangis, barang yang kau cari akan ketemu?" kurasakan sesuatu yang hangat menyentuh punggungku. Aku mendongak. Itu Khun Oppa. Aku tersenyum getir. Dia menyelimutiku dengan selimut tebal miliknya.
"Ada apa, Oppa?" aku memalingkan wajahku dan menatap langit malam yang sama sekali tak berbintang.
"Ani. Tadi aku berniat kembali ke kamar setelah mengambil minum di dapur. Tetapi aku melihat seorang yeoja masih terbangun di tengah malam seperti ini dan berdiri di balkon tanpa menggunakan jaket atau apapun untuk melindungi tubuhnya dari dinginnya angin musim gugur ini. Jadi, ku bawakan dia selimut." Khun Oppa tersenyum saat aku menatapnya.
"Sudah. Tidur saja lagi, Oppa. Nan gwaenchanha." Aku memang baik-baik saja. tidak ada yang terluka. Hanya hatiku yang sedikit berdarah karena kenyataan yang harus ku terima beberapa hari lalu.
"Jinjja? Arraseo. Tapi jangan berani-berani untuk melepas selimut itu dari tubuhmu. Yagsoghaji?"
"Hehem. Jinjeonghaeyeo, Oppa." Aku mengangguk. Tangan Khun Oppa mengelus puncak kepalaku pelan lalu berlalu.
.
Aku mendesah pelan. Ku rebahkan badanku ke sofa balkon yang empuk. "Mianhaeyo Khunnie Oppa. Aku harus pergi. Benar-benar pergi." Tiba-tiba aku merasa ada yng mengganjal di punggungku. Aku mengambilnya. "Ahhh.. Kau ini. Saat aku memerlukanmu, kau menghilang. Aisshh..." Aku mengomeli ponselku. Dengan cepat aku menekan nomor yang sudah sangat ku kenal.
"Assalamualaikum. Yeoboseyo, chagiya." Suara di seberang sana menyapaku dengan lembut.
"Waalaikumsalam. Eomma. Neomu bogoshippeoyeo."
"Sepertinya bukan itu yang ingin kau utarakan, Tara-ah. Museun iriya?" Ahh.. Eomma dapat membaca pikiranku. Aku menghela nafas panjang.
"Eomma. Mungkin ini saatnya takdirku dan Oppa terpisah."
"Apa maksudmu, chagiya? Eomma tidak mengerti. Kau ingin kembali ke Indonesia?"
"Ne' Eomma. Oppa sudah menceritakannya bukan? Lalu, untuk apa aku berlama-lama di sini, Eomma." Ku dengar nafas berat Eomma.
"Apa kau yakin?"
"Aku...aku...aku bingung Eomma."
"Junho-goon?"
"Mwo?"
"Karena Junho-goon? Jangan sakiti dirimu sendiri, chagiya." Giliran aku yang menghela nafas panjang.
"Tapi Eomma. Ada atau tak ada aku di sini, semua tidak akan terpengaruh. Tanpa akupun, mereka tetap akan bersinar."
"Tidak untuk Oppamu, chagiya. Dia saudara kembarmu. Dan aku tahu sifat masing-masing dari kalian."
"Mianhaeyeo, Eomma." Aku menunduk. Air mataku mulai membentuk anak sungai lagi dan menuruni hidungku.
"Bertahanlah lagi selama dua minggu di sana. Selasaikan urusan-urusanmu yang masih mengantung. Baru kau boleh pulang ke Indonesia." Aku terbelalak. urusan belum selesai?
"Ahh...N...ne Eomma. Satu minggu saja mungkin sudah cukup."
"Arra arra. cepat tidur. Eomma yakin, sekarang pasti sudah pukul sepuluh di sana."
"Ahh Eomma..." Aku protes. Aku masih ingin berlama-lama bersama Eomma walaupun hanya suara yang bisa kudengar.
"Besok kau harus kuliah, chagiya. Jangan pantang menyerah beginilah. Ini bukan anak Eomma yang dulu." Aku terdiam. Ahh Appa. Aku kangen Appa.
"Appa sudah tidur?"
"Anio. Kau mau berbicara padanya?"
"Ne' Eomma." Aku menunggu beberapa saat. Lalu telepon sudah berpindah tangan.
"Assalamualaikum. Yeoboseyo?" Suara bass itu terdengar
"Waalaikumsalam. Appa..." teriakku tertahan.
"Museun iriya? Jangan bilang kau mau menyerah, Tara-sshi."
"Ahh Appa... Apa yang bisa aku sembunyikan darimu?"
"Hahahahaha..." Terdengar suara tawa renyah Appa. "Appa dan Eomma jelas tak mungkin bisa membelokkan niatmu, chagiya. Jadi, kami akan menunggumu di rumah jika suatu saat kau memutuskan untuk kembali." Air mataku mulai menggenang. "Jangan menangis. Apa kau menelepon hanya untuk menangisi nasibmu? Ingat, Appa tidak perah suka orang yang gampang menyerah."
"Ne' Appa. Aku tidak akan mengecewakan Appa dan Eomma."
"Jika kau memang ingin kembali ke Indonesia, segera selesaikan semua urusanmu. Tinggallah 2 atau 3 minggu lagi. Jangan membawa pulang masalah, arraseo?"
"Arraeseo Appa."
"Tidur sana. Appa juga masih butuh istirahat yang banyak. Annyeong chagiya. Assalamualaikum."
"Annyeong Appa. Waalaikumsalam." KLIK. Aku menghela nafas panjang. Aku bergegas pergi ke kamar untuk tidur.'Aku harus menepati janjiku pada Appa dan Eomma.' Lalu aku tertidur.
##He's a Girl##
"K..ka..kau mau apa?"
"Mianhaeyeo Mr. Jang. Keputusanku sudah bulat. Aku mampu bertahan di sini 3 minggu saja. setelah itu, aku akan kembali ke Indonesia. Bantu aku menyelesaikan urusanku, Mr. Jang." Aku membungkuk dalam-dalam. Berharap Mr. Jang bisa mengerti posisiku.
"Apa kau yakin, Tara-sshi?"
"Ne'. Sangat yakin." jawabku mantap. Mr. Jang menghela nafas panjang.
"Baiklah kalau memang itu yang kau inginkan. Apa kau sudah membicarakan ini dengan orang tuamu?"
"Sudah. Dan mereka menghargai keputusanku."
"Dengan 'mereka' semua?"
"Nugu?"
"Oppa-oppamu." Aku berpikir keras. Aku belum memikirkan itu.
"A..Ak..Aku belum memikirkannya, Ahjussi." Aku menggaruk kepalaku yang dama sekali tidak gatal.
"Baiklah. Akan kuatur semuanya. Dan aku berharap mereka bisa menerima ini semua seperti kedua orangtuamu."
"Ne' Ahjussi. Baiklah, aku pamit. Jeongmal gamsahamnida." Aku membungkuk.
"Ne' cheonmaneyeo." Aku keluar dari ruangan Mr. Jang. Aku ingin membicarakan ini dengan Eun Ji juga. Ku ambil ponsel di sakuku dan mengetik sebuah pesan untuknya.
To : EunJi Chagi (82621xxxxxxxx)
"EunJi-ah. Eodiga?"
Aku kembali berjalan menuju Dorm. Sekitar 5 menit kemudian, dia menjawab...
From : EunJi Chagi (82621xxxxxxxx)
"Aku ada di rumah. Museun iriya, chagi?"
Langsung ku pencet speed dial miliku. Aku meneleponnya.
"Yeoboseyo?"
"Chagi. Aku mau kembali."
"Mwo? Yaahh.. Apa maksudnya?"
"Aku mau kembali ke Indonesia."
"Apa kau mau mengunjungi orang tuamu?"
"Ani. Aku benar-benar mau kembali ke Indonesia dan tidak kembali ke Seoul lagi."
"MWO?" suaranya meninggi.
"Mianhae, EunJi-ah." Suaraku mengkerut.
"Apa yang terjadi? Apa karena keputusan dokter itu?"
"Bukan hanya itu. Ada hal lain yang membuatku harus kembali. Aku-" aku menerawangsebelum melanjutkan pernyataanku. "Aku ingin meneruskan cita-cita Eomma menjadi guru. Yah. Setelah cita-cita milikku sudah tak mungkin lagi bisa menjadi kenyataan." Suaraku melemah.
"Tara-ah. Jangan begini. Cita-citamu masih bisa menjadi kenyataan."
"Mwo? Bahkan setelah Uisa-nim berkata seperti itu? Yah EunJi-sshi. Aku bukan yeoja bodoh yang bisa kau bohongi. Hahahaha. Jangan bercanda denganku."
"Arra arra. kau memang sahabatku yang sangat keras kepala. Kapan kau akan pergi?"
"Dua minggu lagi."
"Mwo?"
"Waeyo?"
"Aisssshhh...! Yaaahhh..! Lalu kau akan meniggalkan aku saat aku berulang tahun?" DEG..! Aku sahgat lupa bahwa dua minggu lagi ulang tahun EunJi.
"EunJi-ah. Mianhae. Aku lupa mengenai ula-" sebelum aku menyelesaikan kalimatku, EunJi sudah memotongnya.
"Terserah kau sajalah...!" Tuuuuuutttt... Aku terhenyak. EunJi marah padaku? Ku tekan lagi nomor sahabatku yang sangat ku kenal itu.
"EunJi-ah. Mianhae." Ucapku sesaat setelah EunJi mengangkat panggilanku.
"Aku tidak mau tahu. Saat ulang tahunku 2 minggu lagi, kau harus ada di sampingku seharian. Ingat. SEHARIAN."
"Arraseo arraseo. Kau memaafkanku?"
"Aniyo. Aku akan memaafkanmu setelah hari ulang tahunku berhasil."
"Yaaaahhh..! Mentang-mentang kau akan berulang tahun, kau malah berulah sekarang."
"Kau tidak terima? Baiklah. Kau bukan saha-" Aku langsung menyelanya.
"Arra arra. Aisshhh kau ini. Baiklah. Aku tutup yha."
"Aku akan merindukanmu." Tuuuutttt... Aku tersenyum mendengar pernyataan terakhir EunJi sebelum menutup panggilannya tadi.
##He's a Girl##
Mianhaeeeee... *very deep bow
Mian mian mian kalo updatenya lamaaaaa banget..
Tugas kuliah bener-bener ga bisa di tinggal..
Huhuhu..
Sebagai permintaan maaf,, Author langsung kasih sampai epilognya deh..
Mind to RnR?
