He's a Girl
Author : Si HwangJae Tyaz
Genre : Romantic, Brother/Sistership
Cast :
Katara
Lee Junho
Kintaro
Hwang Chansung
Lee Eun Ji
2PM's Member
Disclaimer : Semua member 2PM di FF ini hanya milik Tuhannya masing-masing. Yang punyaku cuman ide FF ini. Happy reading. Don't forget your review, guys. Gamsahamnida.. :D
##He's a Girl##
3 hari sebelum keberangkatan Tara...
"Tara-ah. Pokoknya hari ini, kau harus berjalan-jalan dengan kami semua. Tinggal 3 hari lagi kau ada di sini." ujar Taec Oppa kepadaku. Aku hanya tersenyum.
"Ne'. Benar sekali itu. Kau, ikut kami...! Chansung-i." Ku lihat Chan Oppa mengangguk dan melemparkan tatapan evil.
"Apa apa? YAAAAAAHHHHH...!" dugaanku benar. Woo Oppa dan Chan Oppa langsung menggendong tubuhku menuju ke dalam van. "Memangnya kita mau kemana?" tanyaku setelah kami duduk santai di dalam van yang berjalan lambat. Kulihat para Oppaku mempersiapkan penyamaran mereka.
"Ikuti saja permainan hari ini. Arraseo?" aku mengangguk. Ternyata kami pergi ke Lotte World. Hahahahaha...
##He's a Girl##
2 hari sebelum keberangkatan Tara...
"Mau kemana lagiiiiiii?" teriakku lemah. Rasa capek yang ku dapatkan setelah seharian bermain di Lotte world saja masih belum hilang.
"Sudah ikut saja kami. Gaja Khunnie." ajak Junsu Oppa. Aku yang langsung di tarik Khun Oppa menuju luar Dorm, hanya bisa pasrah. Tetapi ada yang aneh. Mengapa mereka tidak memakai kostum penyamaran mereka? Aku berpikir keras. Ternyata seseorang menungguku di luar dorm. Seorang namja.
"Ini. Tapi kau harus pulang sebelum jam 9 malam, Arraseo?" namja yang menungguku itu menganggu dan tersenyuk ke arahku. Ahh... Senyuman manis yang selalu menenangkanku.
"Kita mau kemana, Oppa?" tanyaku sesaat setelah Junsu dan Khun Oppa masuk.
"Seoulsup-Seoul Forest. Lalu kita ke Achasan. Lalu kita ke Dosan. Pokoknya ita jalan-jalan berdua. Putar-putar Seoul. Arra?"
"Ne' Oppa." Aku segera naik ke atas boncengan motornya.
Yah benar. Motor yang namja ini gunakan untuk menjemputku di dekat stasiun Tteokseom. Motor yang namja ini gunakan untuk membawaku jalan-jalan ke Banpo Bridge untuk pertama kalinya hingga aku bertemu Eunhyuk dan Leeteuk Oppa. Motor yang namja ini gunakan untuk mengajakku membeli es krim di Banpo Bridge yang membuatku harus kehilangan semua cita-citaku.
Tak apa. Aku senang. Senang karena pernah mengenalnya. Pernah menyentuh wajahnya. Pernah membuatnya tersenyum, terbahak-bahak, menangis, bersedih dan pernah memeluknya. Seperti yang kulakukan sekarang. Aku memeluk erat pinggangnya. Aku tak pernah mau berpisah dengannya. Karena dialah, aku berada di sini. Semangat karenanyalah yang membawaku kemari.
"Gwaenchanhayo?" terselip nada khawatir di suaranya.
"Ne' Oppa. Biarkan aku tidur di punggungmu. Kalau sudah sampai, bangunkan aku. "
"Kau masih capek ya?"
"Iyha Oppa. Jadi biarkan aku tidur sebentaaaaaaarrr saja. Arra?"
"Arra arra. tidurlah." Dia mengunci tananku dengan jalan memegang tanganku yang bertautan di perutnya. Aku menyukainya. Aku berusaha menikmati sentuhannya dan tertidur.
Entah aku sudah tidur berapa lama saat sentuhan lembut itu mengenai pipiku. Aku terkesiap dan terbangun. Aku mengucek mataku dan membiarkan pandanganku fokus.
"Kita dimana, Junho Oppa?"
"Seoulsup. Indah khan?" aku menyesuaikan penglihatanku yang masih agak buram gara-gara tertidur tadi.
"Indahnyaaaa..." ucapku sambil emnutup mulutku dengan telapak tanganku.
"Joha?"
"Neomu joha."
"Ayo kita berjalan-jalan di sekitar sini." ajak Junho Oppa. Akhirnya kami berjalan berdampingan layaknya sepasang kekasih. Sesekali di mengusap puncak kepalaku dengan lembut. Terkadang aku juga mencubit kedua pipinya hingga memerah.
"Hahahahaha... Junho Oppa... Hahahahaha.."
"Ayo kita ke Achasan. Kita sudah berada di sini hampir 2 jam."
"Arraseo Oppa."
Lalu kami meninggalkan Seoulsup dan menuju Achasan. Di Achasan pun kami tidak melakukan apa-apa. Kami hanya berjalan-jalan, mengobrol, berkejaran, duduk di bawah pohon maple dan menikmati sapuan dingin angin musim gugur.
"Ayo ke Dosan."
"Ahh.. Seperti kembali ke rumah setelah sempat berjalan agak jauh. Huuuuufff...!"
"Ahahaha... Kau memang lucu, Tara-ah." Junho Oppa mencubit pipiku. Aku mengaduh pelan sambil pura-pura marah dan mengejarkan.
.
Dan akhirnya di sini lah kami. Banpo Bridge. Tempat penuh kenangan kami.
"Aku mau es krim, Oppa. Belikan yaaaa..." pintaku sambil merajuk.
"Aisshhhh... Arraseo arraseo. Ini sebagai permintaan maaf karena gara-gara aku yang babo ini, kau harus kembali ke Indonesia dan meninggalkan aku." Junho Oppa menunduk.
"Oppaaa..." suaraku melemah. Tanganku menyentuh pipinya. Ia mendongak. Aku tersenyum padanya. "Gwaenchanha. Ini sudah keputusan Tuhan untukku. Jangan menyalahkan diri sendiri."
"Tapi..."
"Ssssstttt...! Cepat mengantri sana." Aku mendorongnya menuju antrian pembeli es krim. Aku berdiri memandangi Rainbow fountain yang sangat indah itu. Tak lama kemudian, dia kembali membawa dua es krim di tangannya, coklat vanilla dan vanilla strawberry.
"Ini untukmu, tuan puteri cantik."
"Oppaaaa..." aku tersipu malu. Aku langsung memakan es krimku. Tanpa sadar, Junho Oppa memperhatikanku. Aku menoleh. "Waeyo?"
Tiba-tiba wajahnya mendekat. Wajahku memanas. 'Apa-apaan ini? Apa yang mau dia lakukan?' reflek, aku menjauhkan kepalaku.
.
Semakin dekat...
.
Semakin dekat...
.
Sedikit demi sedikit ia mengeliminasi jarak wajahnya dari wajahku...
.
Hingga...
CUP...!
"Oppaaaa..." suaraku tertahan. Dia memandangiku dan berhenti di kedua mataku. Dia menyelami kedua mataku. Aku gelagapan. Jantungku berdetak lebih cepat hingga mengalirkan lebih banyak darah yang berdampak pada pipiku yang mulai merona. Dia mendekatkan bibirnya ke telingaku.
"Saranghae Tara-ah. Jeongmal saranghae. Maaf baru mengatakannya sekarang." Lalu dia mengecup pelipisku. Aku menunduk. Dia terlihat kebingungan. "Gwaenchanhayo, Tara-ah?" aku mengangkat kepalaku dan memeluk pinggangnya.
"Mengapa baru sekarang? Mengapa membuatku menunggu terlalu lama?" dia terkesiap. "Nado.. Nado saranghae, Oppa." Aku mencium pipinya.
"Ta..Tara-ah.." dia sepertinya shock. Namun tak lama. Lalu dia tersenyum dan balik memelukku. Aku tidak peduli saat banyak mata memperhatikan kami berpelukan atau bahkan beberapa pasang orang membicarakan kami saat ini. Yang ku tahu, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Saranghae, Junho Oppa.
##He's a Girl##
Hari keberangkatan Tara...
"Tara-aaaaahhhh...! Kau ini lambat sekali. Gaja gaja..! Nanti telat."
"Arra arra. Aku masih capek, Eun Ji-ah. Ini juga kesalahanmu."
"Lho kok aku?"
"Siapa yang menahanku untuk merayakan ulang tahunnya sampai larut malam? Aku jadi kurang tidur. Dan ini semua gara-gara kau."
"Yaaaahhhh..! Kita akan berpisah dalam jangka waktu yang tidak pendek. Aku juga ingin menghabiskan malam terakhir denganmu."
"Oleh karena itu. Jangan marah-marah."
"Arra arra." Eun Ji merangkul tubuhku yang agak limbung karena kurang tidur. Tiba-tiba.. "Ungi-aaaahhh..." dia berteriak. Aku terkesiap kaget.
"Yaaaaahhh..! Aku masih ingin mendengarkan suara Oppa-oppaku yang bagus, Eun Ji-ah..! Aishh.." ucapku sambil menggosok-gosok telingaku. Eun Ji hanya tertawa.
"Mian chagiya. Hehehehe..."
"Yaaaahhh...! Kalian ini kemana saja? ini sudah hampir waktunya take off..!" Kulihat Taro berkacak pinggang.
"Mian Oppa. Eun Ji megajakku membeli ini." Ku perlihatkan gelang berwarna perak dengan bandul Yin di pergelangan tanganku dan berbandul Yang di pergelangan tangan Eun Ji.
"Bagus kan?" tanya Eun Ji. Taro dan Chan Oppa mengangguk. Junsu, Khun dan Woo Oppa yang berada di situ pun juga mengangkat jempolnya pertanda setuju.
"Mana Junho Oppa?" tanyaku sambil mencarinya di antara mereka.
"Tadi aku mencoba meneleponnya. Tapi sayangnya tidak diangkat. Entah kenapa." Ujar Woo Oppa. Aku menunduk. Junsu Oppa mengelus kepalaku.
"Tenang saja. dia pasti datang."
Flight number 13067 will depart soon... Please to all passengers to board...
Aku menghela nafas. 'Mungkin dia tidak ingin datang. Ahh jangan menangis, Tara-ah.' Aku mengangkat kepalaku dan berusaha tersenyum kepada mereka semua. Kulihat senyum mereka yang tiba-tiba merekah. 'Ada apa ini?' Eun Ji memberiku isyarat untuk berbalik.
Saat aku membalikkan badanku, tiba-tiba...
GREP..! Tubuhku di peluk oleh seseorang. Kita wajahku tenggelam di dada bidangnya. Kuhirup aroma parfumnya. Aroma parfum yang sangat ku kenal.
"Junho Oppa..." Dia melepas pelukannya dan menatap mataku dalam-dalam. Dadanya naik turun karena aku tahu dia pasti berlari tadi. Aku menatap dan mengusap dadanya. Kurasakan debaran jantungnya yang sangat kentara.
"Gajima, Tara-ah. Gajima. Stay here with me."
"Oppaaa.. Jangan membuatku semakin berat untuk meninggalkan Seoul."
Flight number 13067 will depart soon... Please to all passengers to board...
"Hmm... Sepertinya ini waktunya ya." Dia terlihat terpukul. Aku memeluk pinggangnya erat. "I'm gonna miss you so much, chagiya." Dia mencium puncak kepalaku.
"Tenang saja Oppa. Kalau ada libur, aku akan sering berkunjung, Arra? Jangan selingkuh ya." Aku sedikit bercanda untuk menghilangkan kesedihan ini. Tiba-tiba ia berlutut. "Oppa..."
"I'm promise. I will never cheating on you. I'm yours and you're mine, Tara-ah." Dia memasangkan cincin berwarna perak itu di jari manisku. Aku tak tahu harus berbuat apa. "Nah, sekarang kita saling memiliki, Arraseo?" aku mengangguk.
"Saranghae, Oppa. Jeongmal saranghae."
"Nado, Chagiya. Nado saranghae."
Dan inilah saatnya. Setelah berpamitan dengan mereka semua dan saling berpelukan, aku memasuki pesawat yang akan membawaku kembali ke Indonesia. Ku cari tempat dudukku di dalam pesawat. Beruntung, aku mendapatkan kursi yang dekat dengan jendela.
Aku menatap keluar jendela setelah take off dan kami di perbolehkan melepas sabuk pengaman ini. Aku tersenyum menatap Incheon yang semakin lama semakin tak terlihat itu. Kutatap juga cicin yang sekarang melingkar indah di jari manisku.
"Saranghamnida, Lee Junho-goon. Jeongmal saranghamnida." gumamku kepada diriku sendiri hingga aku jatuh tertidur.
"Saranghamnida, Lee Junho-goon..."
FIN
.
Ahh akhirnya tamat juga ini FF geje..
Gomawo buat semua reader baik yg tampak maupun tak tampak..hahahaha..
Tanpa kalian, aku ga akan bertahan..hehehe..
Gomapseumnida yeorobeun..
