=Rukia's POV=

"RUKIAAAAAA, BAGAIMANA INIIIIIIII? AKU BERUBAH JADI ANAK-ANAK SEHABIS MINUM CAIRAN MIRIP C*CA C*LA YANG ADA DISINI!"

Eh, dia bilang 'aku berubah jadi anak-anak sehabis minum cairan mirip C*ca C*la yang ada disini?' dan warna mata juga warna rambut itu... jangan-jangan dia Ichigo?

=End of Rukia's POV=

Ichigo yang badannya –entah kenapa- mengecil itu, sedang panik tingkat wahid.

"Ru, Ru, Rukia, gimana nih?" tanya Ichigo panik tapi juga pasrah. Dia menatap Rukia dengan mata bagai seekor anak anjing yang minta untuk dipungut(?)

Tapi Rukia diam saja sambil menatap Ichigo tajam dan berjalan ke arah Ichigo. Sesampainya di depan Ichi, Rukia mensejajarkan tingginya dengan tinggi tubuh Ichi yang menyusut jadi seukuran anak umur 5 tahunan itu dengan cara berjongkok di depan Ichi.

"Kamu Ichigo? Kurosaki Ichigo?" tanya Rukia.

"Ya iyalah! Kau pikir siapa lagi yang punya rambut oranye se-nyentrik ini selain aku, hah?" kata Ichi galak.

"Kau Ichigo yang mengalahkan Aizen di Winter War? Yang punya bankai hitam? Yang punya alis berkerut? Yang kelihatan selalu cemberut? Yang keras kepala, menyebalkan, cengeng, payah, dan..." sebelum Rukia sempat menyelesaikan pertanyaannya yang berentet seperti kereta api itu, Ichi sudah lebih dulu menutup mulutnya.

"Kau mau mengurutkan sifat jelekku satu per satu ya, midget?" tanya Ichi setengah berteriak.

Rukia kelihatan kaget sesaat, kemudian dia bangkit dari jongkoknya. Berdiri di depan Ichi. Menaruh tangannya di atas kepala Ichi kemudian mengarahkan tangan itu ke badannya. Dia sedang mengukur tinggi badan Ichi sekarang. Dan ternyata Ichi sekarang ini cuma setinggi dada Rukia.

"Nah, kau lihat kan? Sekarang ini siapa yang 'midget'? Jadi, mulai sekarang jangan panggil aku midget" tanya plus kata Rukia sambil menekankan kata 'midget' dan wajah meremehkan. Mendengar itu, Ichi cuma bisa cemberut kesal.

"Sekarang, kenapa kau bisa mengecil seperti ini, hah?" tanya Rukia lembut.

Dan Ichigo menceritakan semuanya dengan wajah panik tapi pasrah. Mulai dari dia bertemu Hanatarou, melihat cairan mirip C*ca C*la itu, sampai akhirnya dia minum cairan itu tanpa mengindahkan larangan Hanatarou dan mengecil seperti ini.

"Huft, yah mau bagaimana lagi. Sudah jangan panik dan menangis" kata Rukia sambil kembali berjongkok di depan Ichi dan menatap Ichi dengan tatapan iba tapi ingin tertawa.

"Aku nggak nangis!" kata Ichi galak.

"Halah, nggak usah sok keren deh, dengan badan anak umur 5 tahunan begitu, kau bersikap sok cool pun percuma tahu. Nggak match. Lagipula kau mau bohong pun percuma. Kau panik sampai ingin menangis kan? Nih buktinya" kata Rukia sambil mengusap ujung mata Ichi yang sempat basah tadi.

'Uuh, kenapa sih perempuan ini selalu tahu?' pikir Ichi.

"Nah, mungkin lebih baik kita bilang soal ini ke sou-taichou dan juga taichou. Ayo, Hanatarou juga ikut dengan kami" kata Rukia sambil menggandeng tangan kanan Ichi dan mulai berjalan. Sedangkan tangan kiri Ichi mencoba menyeret Zangetsu yang kini kelihatan sangat besar di mata Ichi. Hanatarou mengikuti mereka dari belakang.

Tapi baru jalan beberapa langkah, Ichi menginjak ujung shihakusho-nya sendiri dan terjatuh dengan tidak elit dan suara yang cukup keras pula. Membuat Rukia dan Hanatarou kaget sesaat.

"Aduh" Ichi mengusap-usap hidungnya yang terbentur lantai.

"Oh iya, ya. Kalau pakai shihakusho yang kebesaran seperti itu dan berjalan, kau pasti akan jatuh terus ya. Aduh, gimana nih?" kata Rukia kebingungan.

"Uh, kau cuma perlu menggendongku saja kok, lalu Hanatarou yang membawakan Zangetsu. Mudah kan?" kata Ichi sambil menepuk-nepuk shihakusho-nya yang kotor.

"Nah, sekarang, gendong aku" kata Ichi sambil mengangkat tangannya ke arah Rukia. Isyarat minta digendong. Sedangkan Rukia pasang tampang madesu.

Poor Rukia. Sepertinya bencana untukmu baru akan dimulai...

.

.

Disclaimer :: kan udah saya bilang berkali-kali, Bleach itu punya Tite Kubo. Walaupun saya mau mengubah dunia 5 kali, tetep aja Bleach itu punya Tite Kubo = =b

Claimer :: ya saya. Nama saya Asani Suzuka, panggil aja saya pake nama kecil saya, Suzuka. Salam kenal untuk minna yang baru kenal saya *membungkuk ala butler*

Rated :: T aja, nggak lebih, tapi boleh kurang(?)

Genre :: gado-gado saya rasa =.=a

Warning :: segala ketidak sempurnaan sebuah fic saya rasa ada dalam sini, plus fic ini adalah fic yang sangat gaje binti/bin aneh... Silakan tekan tombol 'back' kalau tidak berkenan membaca

DON'T LIKE? DON'T READ! Gampang kan?

'Chapter 2, It's begin! A disaster for Rukia!'

.

.

Rukia sedang berjalan di koridor sambil menggendong Ichi –dengan posisi tangan Rukia menopang pantat kecil Ichi dan tangan Ichi mengalung pada leher Rukia- saat dia bertemu dengan Renji. Sedangkan Hanatarou sudah kembali ke divisi-nya sambil membawa –atau lebih tepatnya menyeret- Zangetsu bersamanya.

"Yo, Rukia" sapa Renji dengan ekspresi santai seperti biasa. Tapi tak lama setelah matanya melihat Ichi kecil di gendongan Rukia, ekspresi santai-nya luntur seketika.

"Ru, Rukia, siapa dia?" tanya Renji sambil menunjuk Ichi yang sedang memperhatikan Renji dengan ekspresi datar.

'Mukanya mirip Ichigo. Nggak, ini sih terlalu mirip! Apa jangan-jangan anak yang digendong Rukia ini anaknya Ichigo dan Rukia?' pikir Renji.

"Eh, um, dia..." Rukia bingung menjawab.

"Dia bukan anakmu dengan Ichigo kan, Rukia? Katakan tidak, Rukia!" kata Renji setengah maksa sambil memegangi bahu Rukia sambil berpikir 'kalau dia benar anak Ichigo dan Rukia, maka duniaku hancur'.

'Nih orang salah makan ya?' pikir IchiRuki kompak.

"Ya jelas bukan, baka! Sudah ya, aku ada urusan" kata Rukia sambil berjalan pergi dengan susah payah karena walaupun badan Ichi menyusut, tapi tetap saja Ichi berat. Yang ada di pikiran Rukia sekarang adalah segera pergi menemui sou-taichou dan para taichou soal ini. Soal Renji sih nanti saja...

d(^_^)b

"Nggak, nggak, nggak, dan NGGAK!" kata Mayuri sambil menyilangkan tangan di depan dada dan geleng-geleng kepala.

"Saya mohon, buatkanlah penawar untuk Kurosaki Ichigo supaya dia bisa kembali seperti semula, Kurotsuchi- taichou" kata Rukia sambil berlutut dan menundukkan kepala di depan Mayuri. Sekarang ini, Rukia sedang ada di ruang rapat para taichou. Tentu saja sekarang ini, semua taichou sedang berkumpul dan mereka sudah tahu tentang Ichi yang menyusut itu.

Awalnya Mayuri marah besar saat tahu obat khusus buatannya itu sudah diminum Ichi secara sembarangan. Tapi setelah dijelaskan berkali-kali, akhirnya kemarahan Mayuri mereda walau cuma sedikit. Dan saat Ichi bertanya 'sebenarnya cairan yang kuminum itu apa?', Mayuri tertawa psycho dan berkata 'cairan itu adalah cairan yang kubuat khusus untuk menyembuhkan diriku dan kurancang agar menjadi racun bagi orang lain shishishi' disertai gaya khas Mayuri saat menerangkan barang ciptaannya.

"POKOKNYA TIDAK! Itu kan salahnya sendiri" kata Mayuri.

"Ta, tapi..."

"POKOKNYA TIDAK!" kata Mayuri ngotot, sementara Rukia menghela nafas.

"Sudahlah, Kuchiki Rukia. Aku dan juga para taichou yang lain sudah sepakat bahwa..." Yamamoto menarik nafas sebentar sebelum melanjutkan kata-katanya.

"Kau yang akan mengurus Kurosaki Ichigo untuk sementara ini sampai Kurosaki Ichigo bisa kembali seperti semula. Untuk penawarnya, karena Kurotsuchi Mayuri tidak mau membuatkan, maka kalian mintalah pada Urahara"

"Wha?" kata Ichigo dan Rukia berbarengan.

"Ke, kenapa harus saya?" tanya Rukia sambil menunjuk dirinya sendiri.

Semua taichou yang ada disana –kecuali Mayuri- menghela nafas sejenak.

"Karena kau adalah shinigami yang paling dekat dengan Kurosaki Ichigo" kata mereka semua kompak.

Segera setelah pengambilan keputusan oleh sou-taichou tadi, rapat itu pun berakhir. Para taichou mulai keluar dari ruangan itu.

"Rukia-san, ayo keluar" ajak Unohana sambil menepuk bahu Rukia yang masih menundukkan kepala.

"Ah, terima kasih atas ajakannya, Unohana-taichou. Tapi saya masih ingin disini sebentar" kata Rukia lirih, dan Unohana pun cuma tersenyum iba kemudian meninggalkan Rukia dengan Ichi yang masih setia berdiri di samping Rukia.

Setelah merasa ruangan sepi. Rukia mulai mencubiti pipi Ichi dan menariknya dari atas-ke bawah dan kiri ke kanan.

"Kenapa sih kau harus minum cairan aneh ituuuu? Kenapa sih kau selalu membuatku repot? Kenapa sih kau nggak bisa berhenti jadi orang keras kepala dan nggak mau mendengarkan orang lain?" kata Rukia menumpahkan kekesalannya sambil terus mencubiti pipi Ichi. Kalau boleh jujur, sebenarnya Rukia ingin sekali mencekik Ichi atau menendang dan memukul Ichi seperti biasanya, tapi mana mungkin kan?

Ichi-nya sendiri tidak bilang apa-apa. Pasrah saja diperlakukan seperti itu. Yah, habis mau bagaimana lagi? Walau bagaimana pun, ini semua salahnya yang tidak mendengarkan larangan Hanatarou.

"Ha~h, percuma ya aku marah-marah padamu, walaupun aku mencekik lehermu sampai mati pun, semuanya nggak akan berubah. Sekarang, ayo kita cari shihakusho yang pas untukmu kemudian beritahu ayahmu soal ini dan minta Urahara-san membuatkan penawar racun untukmu. Zangetsu-mu dititipkan pada Hanatarou saja dulu" kata Rukia sambil menggandeng tangan Ichi, mengajaknya berjalan.

Tapi Ichi tidak mau jalan dan tetap saja berdiri di tempatnya.

"Ichi, ayo cepat jalan. Kau mau cepat pulang nggak?"

"Aku nggak mau jalan. Aku mau-nya digendong olehmu, Rukia. Makanya, gendong aku" kata Ichi sambil mengangkat tangannya. Minta digendong seperti tadi.

Kembali. Rukia kembali memasang tampang madesu-nya.

'Argh, ternyata bukan cuma badannya saja yang jadi seukuran anak umur 5 tahun. Tapi psikisnya juga' pikir Rukia kesal.

"Ya, ya, baiklah" kata Rukia sambil mengangkat Ichi dan menggendongnya dengan malas-malasan dan tampang yang seolah mengatakan aku-benar-benar-terpaksa-melakukan-ini. Sedangkan Ichi sih senyum-senyum saja. Keenakan digendong.

"Hei, kau itu berat tahu, jadi jangan sering-sering minta gendong ya. Nanti badanku yang kecil bisa tambah kecil" kata Rukia sambil mencubit pipi Ichi.

Dan sejak saat itulah hari-hari berat Rukia dimulai...

d(^_^)b

"Ichi, mulai sekarang, minimal kau harus memanggilku Rukia-nee" kata Rukia masih dengan posisi menggendong Ichi. Mereka sudah sampai di dunia fana setelah melewati senkaimon. Dan sekarang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Ichi setelah mampir ke toko Urahara.

Ternyata badan Ichi yang dititipkan pada Kon juga mengecil di saat yang bersamaan. Saat IchiRuki baru saja keluar dari senkaimon, Kon –dengan baju yang kebesaran- berlari ke arah mereka dengan panik, di belakangnya Chappy mengikuti. Kon berkata 'Nee-san, nee-san, bagaimana ini? Badan Ichigo mengecil!'

Setelah dijelaskan, akhirnya Kon dan Chappy mengerti. Kemudian, Rukia masuk ke dalam gigai-nya menggantikan Chappy, sedangkan Ichi masuk ke tubuhnya sendiri. Dan mereka berdua pun segera menuju toko Urahara.

Awalnya semua orang di toko Urahara –termasuk Yoruichi- kaget bahkan cengo melihat Ichi kecil yang dari tadi terus-terusan pasang wajah datar. Bahkan Urahara berkata 'whoa, whoa, Kuchiki-san, apa anak ini adalah anakmu dan Kurosaki-san?'

Mendengar itu membuat IchiRuki memerah dan Rukia segera berkata 'bukan, dia ini Ichi yang badannya mengecil karena minum cairan aneh punya Kurotsuchi-taichou. Makanya, Urahara-san, bisakah kau membuatkan penawarnya? Dan bolehkah aku minta baju yang seukuran dengan Ichi? Bajunya kebesaran sekali'

Urahara berkata dengan 'riang'nya kalau ada baju bekas Jinta di belakang dan soal penawar dia bisa saja membuatkan, tapi karena dia punya banyak urusan, maka penawar itu mungkin akan lama jadinya. Walaupun saat mengatakan itu Urahara menutupi sebagian wajahnya dengan kipas, tapi IchiRuki tahu kalau Urahara sedang menahan tawa.

Dan IchiRuki tahu kalau Urahara pasti akan dengan sengaja membuat penawar itu lama jadinya, karena dia pasti ingin lihat bagaimana kehidupan IchiRuki setelah kejadian aneh ini. Mantan taichou divisi 12 itu memang kadang menyebalkan...

"Eh, kenapa aku harus memanggilmu begitu?" kata Ichi tidak terima.

"Karena sebenarnya umurku jauh lebih tua darimu kan? Lagipula dengan badan seumuran anak 5 tahun begitu, kau nggak mungkin memanggilku Rukia saja. Nanti orang akan curiga. Ingatlah, yang boleh tahu soal badanmu yang menyusut ini cuma orang-orang Soul Society, Urahara-san CS, dan ayahmu saja"

"Oh, iya ya" gumam Ichi sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Jangan lupa memanggil Yuzu dan Karin dengan tambahan nee atau nee-chan" nasihat Rukia lagi.

'Konyol sekali, masa' aku memanggil adikku sendiri dengan sebutan nee-chan?' pikir Ichi dengan tampang BT, membuat Rukia ingin tertawa.

"Sabar ya Ichi, cuma buat sementara kok" kata Rukia sambil tersenyum dan mengelus kepala Ichi dengan tangannya yang tidak dipakai untuk menopang pantat kecil Ichi.

d(^_^)b

"Aku pulang" kata Rukia sambil menurunkan Ichi dari gendongannya sesampainya mereka di rumah Ichi.

"Selamat datang Rukia-cha..." sambutan Isshin terpotong saat melihat Ichi.

"Rukia-chan, dia siapa? Mirip sekali dengan Ichigo ya? Apa jangan-jangan dia anakmu dengan Ichigo?" kata Isshin sambil berjongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan Ichi dan tersenyum mesum.

'Kenapa semua orang yang melihatku dengan Ichi selalu berkata begitu?' pikir Rukia heran, kesal, dan BT.

"Paman, sebenarnya dia ini Ichigo. Badannya menyusut sehabis minum cairan aneh yang ada di divisi 12. Tolong rahasiakan soal ini ya paman" jelas Rukia.

"Uhm, baiklah. Eh, ngomong-ngomong, makan malam sudah disiapkan Yuzu. Ayo kita makan" ajak Isshin sambil berbalik dan berjalan duluan. Rukia menggandeng tangan kanan Ichi, mengajaknya ke ruang makan.

"Bersikaplah seperti bocah usia 5 tahun sungguhan" bisik Rukia di telinga Ichi.

"... Un..." kata Ichi sambil mengangguk.

"Ah, Rukia-nee, sudah pulang? Eh, dia siapa?" sambut plus tanya Yuzu yang sedang menyendok nasi ke dalam mangkuk.

"Ah, dia... dia sepupuku, namanya Shirosaki Ichigo. Orangtuanya menitipkan dia padaku. Iya, begitulah. Jadi, bolehkah dia tinggal disini untuk sementara?" kata plus tanya Rukia sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Uwah, lucunya. Tentu saja boleh Rukia-nee" kata Yuzu sambil memperhatikan Ichi dari dekat. Meninggalkan pekerjaannya sebelumnya, menyendok nasi ke setiap mangkuk. Kata-kata Yuzu barusan menyita perhatian saudaranya, Karin, dari acaranya memainkan PSP di meja makan sambil menunggu Yuzu selesai menyiapkan makan malam.

Karin meletakkan PSP-nya di atas meja makan, dan ganti menatap Ichi lekat-lekat.

"Entah kenapa dia kelihatan mirip Ichi-nii ya? Ngomong-ngomong, Ichi-nii mana, Rukia-nee? Bukannya tadi siang dia meninggalkan rumah bersama Rukia-nee?" tanya Karin berturut-turut.

"Ah, aku juga nggak tahu kenapa Ichi sepupuku ini bisa mirip dengan Ichigo kalian. Mungkin sudah takdir? Em, kalau soal Ichigo, tadi kami berpisah di tengah jalan, katanya beberapa hari ini dia ada urusan, jadi dia nggak akan pulang"

"Eh, urusan apa? Nggak biasanya Ichi-nii sesibuk itu sampai nggak pulang ke rumah..." kata Karin curiga.

'Ah, sial! Kenapa adik Ichigo yang satu ini selalu peka sih?' pikir Rukia.

"Ayah juga nggak tahu dia itu sesibuk apa sekarang. Tapi yang jelas, dia sudah bilang pada ayah kalau dia sibuk dan nggak akan pulang beberapa hari. Dia nggak bilang sama sekali tentang hal yang sedang ditanganinya" kata Isshin, membela Rukia.

'Arigatou gozaimashita, paman Isshin, kau penyelamat hidupku!' kata Rukia dalam hati.

"Oh" kata Karin ber-oh ria. Walaupun sebenarnya dia masih curiga.

"Hei, makan malamnya sudah siap. Cepat dimakan, nanti keburu dingin" ajak Yuzu sambil menarik kursi di hadapannya dan duduk. Karin dan Isshin melakukan hal yang sama. Sedangkan Rukia harus mendudukkan Ichi ke atas kursi dulu baru dia duduk. Maklum, tinggi Ichi cuma sekitar 110 centi, jadi agak susah kalau mau naik ke atas kursi...

"Itadakimasu"

Dan acara makan malam itu pun berlangsung dengan tenang...

d(^_^)b

"Uwah, Ichi pintar! Nasi kare-nya dihabiskan" kata Yuzu sambil tersenyum lebar.

"Arigatou, Yuzu... –nee" kata Ichi sedikit ragu. Entah kenapa di telinganya akhiran 'nee' itu terdengar tidak pantas diucapkan olehnya.

"Huft, pintar sih pintar. Tapi makannya jangan belepotan begitu dong Ichi" kata Rukia sambil menarik sehelai tisu dari kotak tisu yang ada di tengah meja makan dan membersihkan mulut Ichi dari sisa-sisa kare yang menempel.

"Paman Isshin, boleh aku pakai kamar Ichigo?"

"Ya, boleh saja"

"Kalau begitu, aku dan Ichi masuk kamar duluan ya" pamit Rukia pada Isshin, Karin, dan Yuzu. Sebelum beranjak ke kamar Ichi, Rukia bertanya pada Isshin apa masih ada baju Ichi saat kecil dulu. Dan Isshin ada, dia menyimpannya di kamar Ichi. Setelah menanyakan itu, Rukia menggandeng tangan kecil Ichi menuju lantai 2.

"Ichi, biasanya habis makan kau ngapain?"

"Um, mandi"

"Ya sudah mandi sana" kata Rukia.

Setelah mengalungkan handuk di leher dan membawa baju ganti, Ichi pergi ke kamar mandi sedangkan Rukia tidur-tiduran di atas kasur di kamar. Belum ada 5 menit sejak Ichi pergi tadi, Ichi kembali lagi ke kamar.

"Rukia..."

"Hm?"

"Aku nggak bisa menggapai tempat sabun. Tempat sabunnya terlalu tinggi..." aku Ichi.

"APA? Argh, haruskah aku memandikanmu?" tanya Rukia setengah berteriak frustasi dengan wajah pucat membiru karena membayangkan dirinya yang memandikan Ichi.

Dua kata dari author buat Rukia, sabar ya...

=TBC Lagi Ne~=

Anoo, maaf ya, saya nyampah lagi, aduh maaaaaaaaf banget T^T

Tapi minna-san juga minta keep kan? jadi ya beginilah...

Daripada banyak bacot mendingan bales review dulu ne~

yang pertama buat siapa ja boleh, itu, si Ichi panik stadium akhir, makanya sampe mau nangis gitu XD -ditabok Ichi- ehm, makasih reviewnya~, review lagi ya? -ngarep-

terus buat Reiji Mitsurugi, eh, jangan panggil senpai, aku ini masih middle ('.')a ara, ide Reiji-san bagus juga, Rukia jadi babysitter-nya bayi-bayi di Seiretei -ketawa nista, ditabok Rukia- wkwkwk makasih review-nya ya Reiji-san, review lagi? :D

yang ketiga buat rukishiro kurosaki, eh, serius tuh sampe gregetan begitu? -kaget tingkat 1- oke, itu lebay, tapi serius aku emang kaget, hehehe(?) makasih buat support dan review-nya, review lagi ya?

terus juga buat Kurousa Hime, maaf pendek, soalnya yang kemaren itu baru prolog ne~, ah, yakin nih Kurousa-san pengen tau kelanjutannya (O.o) soal IFA pengen ikut sih, nanti diusahain lah, tergantung tugas soalnya -ngelirik tumpukan tugas- makasih review-nya ya~, minta review lagi boleh?

terus, terus, terus buat RiruzawaStrife Hiru15 yang akhir-akhir ini rajin review penpic(?) saya hehe, makasih reviewnya ne~, sebenernya kemaren itu mau pajang genre humor, tapi begitu dipikir humornya nggak terasa banget (_ _)a nanti tinggal diganti lah, review lagi?

buat d3rin, eh, serius kamu pengen ketawa? padahal kan nggak lucu ('.')a Ne, makasih support-nya, nih udah update, review lagi ya?

dan yang terakhir buat HAna RUna onNa, serius? lucu? nggak salah? yakin? -digeplak karena kebanyakan nanya- ah, ano, soal genre itu awalnya pengen pasang humor cuma rasanya humornya itu nggak berasa, jadi ya gitu deh, tapi udah diganti kok, sesuai permintaan HAna-san :D nah, fic-nya udah update nih, bersediakan HAna-san review lagi?

ya akhirnya selesai juga sesi bales review-nya~, oh ya, mungkin saya bakal hiatus dulu sementara soalnya minggu depan udah UTS -tebar-tebar bunga, digaplok karena nyampah- makanya saya harus belajar keras banting tulang(?) tapi saya kasih spoiler dikit deh buat minna-san.

Di chapter 3 nanti, Rukia nyuruh Ichi gosok gigi sebelum tidur, tapi Ichi nggak mau dan akhirnya mereka kejar-kejaran keliling rumah. Nah, besoknya, Rukia ngeliat iklan Peps*dent yang taktik sikat gigi malam ayah Adi dan Dika di TV dan akhirnya Rukia mutusin bakal pake cara yang sama. Berhasilkah rencana Rukia itu? Atau justru malah gagal? yah liat aja nanti ne~

Nah, sekarang bersediakah anda me-review fic nista ini, minna-san?