Tap tap tap

DAK DAK DAK

Tuing tuing tep

DAK DAK DAK

"Rukia-nee, jangan main lari-larian di dalam rumah. . ."

". . . "

Tep tep tep sreeet

DAK DAK DAK

"Kyaa, Ichi-chan, apa yang kau lakukan?"

'Ichi-chan? Nama aneh macam apa tuh?'

"Hh, hh, Ichi, ayo sikat gigi sebelum tidur. . ." kata Rukia dengan nafas putus-putus. Capek karena baru saja 'main kejar-kejaran dalam rumah' dengan Ichi.

"Nggak mau." tolak Ichi dengan raut wajah yang dibuat seimut mungkin sambil tetap bersembunyi di balik badan Yuzu yang sedang mencuci piring bekas makan malam tadi. Sedangkan Yuzu masih kaget dengan perilaku Ichi yang tahu-tahu menarik dirinya dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng.

'Oh, my, kenapa wajahnya bisa seimut itu?' rutuk Rukia dalam hati.

"Oh, ayolah. Kerjaanku bukan cuma mengawasimu menyikat gigi. Aku masih punya PR fisika yang harus dikerjakan. . ." kata Rukia dengan wajah melas dan memohon. Berharap jiwa 17 tahun Ichi bangkit dan membuatnya merasa kasihan dengan Rukia kemudian dia pun menyikat giginya. Dan semua pun senang. . .

Untuk beberapa detik, Rukia dan Ichigo saling bertatapan. Hazel bertemu amethyst. Rukia masih tetap bertahan dengan tatapan melas bin memohonnya. Sedangkan Ichi sepertinya mulai bingung harus menatap Rukia seperti apa. Dia ingin tetap dengan pendiriannya. Tidak mau sikat gigi dengan Rukia malam ini. Tapi setelah menatap iris Rukia cukup lama akhirnya pendirian Ichigo mulai goyah juga.

"Ukh, baiklah, ayo kita sikat gigi sebelum tidur. . ." kata Ichi akhirnya. Mengalah. Tidak kuat juga dia melihat mata Rukia yang begitu memelas. Sambil sedikit menunduk dan mengutuk kenapa dia bisa sampai luluh cuma karena puppy eyes milik Rukia itu, Ichi berjalan menuju Rukia, menggandeng tangannya dan mulai berjalan menuju kamar mandi di lantai 2. Meninggalkan Karin dan Yuzu yang cengo tidak percaya melihat anak berumur 5 tahun bisa mengalah seperti itu. . .

.

.

Disclaimer :: kan udah saya bilang berkali-kali, Bleach itu punya Tite Kubo. Walaupun saya mau mengubah dunia 5 kali, tetep aja Bleach itu punya Tite Kubo = =b

Claimer :: ya saya. Nama saya Asani Suzuka, panggil aja saya pake nama kecil saya, Suzuka. Salam kenal untuk minna yang baru kenal saya *membungkuk ala butler*

Rated :: T aja, nggak lebih, tapi boleh kurang(?)

Genre :: gado-gado saya rasa =.=a

Warning :: segala ketidak sempurnaan sebuah fic saya rasa ada dalam sini, plus fic ini sangat gaje binti/bin aneh. Dan satu lagi, Pepsodent bukan punya saya loh ya~. . . Silakan tekan tombol 'back' kalau tidak berkenan membaca. . .

Kalo jelek maaf ya, soalnya saya cuma seorang author amatiran tak berbakat tak berkemampuan berumur 13 tahun 11 bulan yang menjalani hidup super biasa(?) yang entah bagaimana bisa nyasar dan jadi author disini. . .

DON'T LIKE? DON'T READ! Gampang kan?

Chapter 3: Sikat Gigi Malam Bersama Kak Rukia dan Ichi~

.

.

"Nah, jadi, ayo sikat giginya." kata Rukia sambil memandang Ichi lewat cermin yang menempel di dinding di hadapannya. Melihat Ichi di sebelah kanannya yang dengan malas dan ogah-ogahannya menggerutu di depan wastafel.

"Nggak mau. . ." kata Ichi setengah merajuk.

'Oh, my, ini sudah hari yang ketiga. Nggak mungkin kan hari ini aku juga membiarkannya menyikat gigi secara asal? Bisa-bisa nanti dia sakit gigi dan aku yang akan disalahkan ayahnya yang aneh itu," pikir Rukia.

"Oh, ayolah. Sudah 3 hari kita main 'kejar-kejaran' sebelum sikat gigi dan kau pun sikat giginya asal-asalan. Kalau kau sakit gigi, pasti aku yang akan disalahkan ayahmu." kata Rukia masih sambil memandang Ichi lewat cermin.

"Walaupun aku sakit gigi, si baka oyaji itu nggak akan menyalahkan siapa pun. Lagipula kalau dia memang akan melakukan itu, kau ini yang disalahkan, bukan aku." kata Ichi dengan bibir mengerucut kesal.

Rukia juga jadi ikut-ikutan kesal mendengar kalimat kedua dari omongan Ichi tadi. Menyebalkan. Begitu pikir Rukia. Ingin rasanya Rukia mencubit pipi Ichi sekencang-kencangnya. Sampai kulitnya lepas kalau perlu. . .

Sejujurnya, kata 'Ichi sudah 3 hari sikat gigi asal-asalan' itu tidak sepenuhnya benar. Ichi memang menyikat giginya asal-asalan selama 3 hari. Tapi itu cuma di depan Rukia. Kalau sudah larut malam dan Rukia sudah tidur, Ichi akan mengendap-endap ke kamar mandi dan menyikat ulang giginya dengan baik dan benar(?) barulah kemudian ia tidur.

Nah, sekarang pertanyaannya, kenapa Ichi melakukan itu? Sebenarnya sih simpel saja. Ichi sengaja melakukannya karena ingin membuat Rukia repot. Ichi benar-benar mendongkol karena kejadian beberapa hari yang lalu. . .

=Flashback=

"Rukia. . ."

"Hm?"

"Aku nggak bisa menggapai tempat sabun. Tempat sabunnya terlalu tinggi. . ." aku Ichi.

"APA? Argh, haruskah aku memandikanmu?" tanya Rukia setengah berteriak frustasi dengan wajah pucat membiru karena membayangkan dirinya yang memandikan Ichi.

"Nggak harus kok, kau cuma perlu menurunkun beberapa benda saja." kata Ichi dengan handuk yang sedikit kepanjangan terbalut dari pinggang sampai sekitar betisnya. Rambut dan tubuhnya setengah basah. Sepertinya dia tadi sudah terlanjur membuka shower tapi baru sadar kalau tempat sabunnya terlalu tinggi untuk digapai.

Rukia tanpa komentar apa-apa langsung berjalan cepat ke arah kamar mandi dan Ichi mengikutinya dari belakang. Sesampainya di sana, Rukia menurunkan tempat sabun saja. Karena menurutnya sikat gigi dan pasta giginya ada di wastafel yang –pasti- bisa digapai Ichigo karena tidak terlalu tinggi. Setelahnya Rukia segera ngacir dari sana.

Satu yang Rukia lupa turunkan, yaitu. . .

"Lho, mana shampoonya?" gumam Ichi sambil celingukan kanan-kiri, mencari shampoo yang seharusnya juga ikut diturunkan Rukia tadi. Dan bingo! Shampoo itu masih bertengger manis di tempatnya. Di rak yang tergantung di dinding. Dan letaknya tinggi sekali untuk Ichi.

Bahkan Yuzu dan Karin saja masih harus naik ke atas WC –yang ketutup tentunya, jangan lupa kalo di rumah Ichi, WC-nya itu WC duduk- untuk menggapai shampoo mereka yang diletakkan di atas rak itu juga.

'Baka! Kenapa dia bisa lupa menurunkan shampoonya? Aku kan mau keramas. Gimana nih?' pikir Ichi bingung sambil menatap shampoo yang bertengger manis itu dengan wajah madesu.

Sebenarnya dia ingin sekali naik ke atas WC dan coba loncat dari sana. Siapa tahu ia bisa dapatkan shampoonya. Tapi sayang sekali, loncat-loncat di atas WC SANGAT dilarang di keluarganya karena selain berbahaya –bisa menyebabkan jatuh karena terpleset- juga bisa mencerminkan bahwa yang loncat-loncat di atas WC itu adalah orang kurang kerjaan atau orang yang sudah miring otaknya.

Akhirnya karena menurut Ichi sudah tidak ada jalan lain, maka terpaksalah Ichi mandi tanpa keramas. . .

d(^_^)b

Selesainya mandi dan pakai kaus lengan pendek berwarna merah juga celana pendek hitam, Ichi masuk kamar dan melihat Rukia sedang duduk manis di meja belajar dengan buku terbuka di hadapannya. Mata Rukia memandang buku itu dengan tatapan kesal dan BT. Ichi bisa menebak kalau Rukia sedang mengerjakan PR dan kesusahan menjawabnya. Akhirnya karena kasihan dan merasa bisa membantu, Ichi mendekati Rukia, menawarkan bantuan.

"Ada PR ya?"

"Yah, begitulah. Baru saja diberi tahu Ishida tadi."

"Kapan?"

"Tadi saat kau sedang mandi, Ishida datang dan mengatakan tugas-tugas apa saja yang diberikan Ochi-sensei hari Rabu minggu lalu. Berhubung kita nggak masuk hari itu karena harus membasmi hollow dan gillian yang menyerang Soul Society, ingat?" kata Rukia mengingatkan. Ichi menyambut pertanyaan itu dengan anggukan. Menandakan kalau ia masih ingat.

"PR-nya susah? Mau kubantu?"

"Bole-" belum sempat Rukia menyelesaikan sesuatu, Rukia merasa dia mencium sesuatu.

"Bau apaan nih?" gumam Rukia.

Rukia mencoba mendeteksi asal bau itu dengan hidungnya. Dan sampailah ia di kepala Ichigo.

"Kau nggak keramas? Rambutmu bau." tanya plus kata Rukia penuh selidik sambil menyipitkan mata.

"Te, tempat shampoonya terlalu tinggi dan kau lupa menurunkannya tadi, makanya. . ." jawab Ichi takut-takut.

Dengan segera, Rukia menggenggam pergelangan tangan Ichi dan menariknya menuju kamar mandi tanpa bicara apa-apa. Sesampainya di kamar mandi, Rukia membuka kaus Ichi (celana pendeknya nggak dibuka loh ya) dan mengguyur kepala Ichi dengan air shower, meraih shampoo, mengeluarkan isinya dan mulai mengeramasi Ichi dengan perasaan kesal dan gemas yang bercampur jadi satu.

Sedangkan Ichi megap-megap seperti ikan yang dipaksa naik ke daratan karena tidak siap.

"Tu, tunggu Rukia, aku nggak sia-"

ZRAASH

Rukia mengguyur kepala Ichi sedikit dengan air shower.

"Fuaaahh. Rukia! Sudah kubilang tunggu, kan? Hei, hei, pelan-pelan sedikit! Kau mau merusak kepalaku ya?" tanya Ichi dengan mata terpejam untuk menghindari shampoo masuk ke mata sekaligus menahan sensasi –sangat- sakit yang Rukia berikan karena sumpah, Rukia benar-benar niat mengeramasinya. Benar-benar sekuat tenaga. Saking gemasnya dengan Ichi.

Dan karena insiden 'penganiayaan' itulah keesokan harinya Ichi harus minta sekantung plastik es batu pada Yuzu untuk ditaruh di atas kepalanya yang benar-benar terasa nyut-nyutan. . .

=End of Flashback=

Maka sejak kejadian di atas itu, Ichi sengaja membuat Rukia kerepotan. Untuk balas dendam. . .

Rukia menghela nafas, dan dalam batin bertanya 'ada apa dengan Ichi?'

'Uuh, apa aku harus melakukan 'taktik' itu supaya dia mau sikat gigi? Sungguh memalukan, tapi sepertinya nggak ada pilihan lain,' pikir Rukia yang berkeringat dingin sambil tetap menatap Ichi yang masih saja ngedumel. Tidak mau sikat gigi bareng Rukia lagi malam ini.

"Tahu nggak?" tanya Rukia dengan gugup dan keringat dingin yang tidak berhenti mengalir. Rukia memulai 'taktik'nya.

Pertanyaan spontan Rukia tadi berhasil menarik perhatian Ichi untuk menatap Rukia lewat cermin di hadapannya. Alis Ichi berkerut heran. Heran melihat Rukia yang begitu. . . gugup? Atau tegang mungkin? Tapi dengan sabar, Ichi menunggu kelanjutan kata-kata Rukia barusan.

Rukia menarik nafas sebanyak-banyaknya lewat hidung dan mengeluarkannya dari mulut. Menghasilkan helaan nafas yang cukup panjang. Ichi di sampingnya terus memperhatikan Rukia. Masih menunggu kelanjutan pertanyaan Rukia tadi.

"Don Kanonji atau Karakuraiser nggak bisa ngalahin kuman dalam mulut. . ." Rukia memberi jeda sejenak. Wajahnya merah padam saat mengatakan itu. Sedangkan Ichi yang mendengarnya kelihatan benar-benar berusaha keras untuk tidak tertawa terbahak.

"Hmph, huahahaha," tapi sepertinya pertahanan yang sudah susah payah dibangun itu jebol juga.

"Kau pasti mencontohnya dari iklan Peps*dent yang kau lihat di TV kan? Hahaha, kau itu bodoh ya. Nggak mungkin kata-kata itu berhasil padaku! Walaupun tubuhku tubuh bocah 5 tahun, tapi jiwa dan cara pemikiranku masih 17 tahun lho! 17 tahun! Huahahahaha." Sumpah, Ichi benar-benar tertawa terbahak-bahak. Istilah kasarnya 'ngakak'.

"Ya habis, aku nggak tahu lagi harus bagaimana. Kemarin aku lihat iklan itu di TV, dan di TV cara itu berhasil dengan sangat baik. Aku pikir aku bisa melakukan hal yang sama untuk membuatmu sikat gigi malam ini. . ." aku Rukia dengan tangan kanan menutupi wajahnya yang benar-benar merah seperti kepiting rebus diberi saus. Andaikata bisa, Rukia ingin sekali melompat ke jurang paling dalam saking malunya. . .

"Lagipula coba deh pikir, orang bodoh seperti Kanonji itu mengatasi hollow saja nggak bisa. Apalagi kuman dalam mulut? Huahahaha lalu, kau tahu nggak sih siapa pemeran Karakuraiser itu? Yang memerankannya itu Kon tahu! KON! Makhluk berotak mesum seperti dia memangnya bisa apa?" kata Ichi lagi masih dengan tertawaannya yang 'ngakak' itu. Sekarang Ichi mulai memegangi perutnya yang terasa kram karena terlalu banyak tertawa.

Sedangkan Rukia semakin menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Malu. Maluuuuuu sekali rasanya.

"Lalu menurutmu aku harus bagaimana? Urusanku bukan cuma merawat dan mengawasimu saja tahu! Di saat tubuhmu mengecil seperti itu Ochi-sensei memberi banyak sekali tugas dan semuanya itu susah-susah. Makanya, tolong jangan mempersulitku. . ." kata Rukia dengan nada super memohon. Dengan wajah masih tertutup telapak tangan.

Ichi diam sejenak. Entah kenapa keinginannya tertawa jadi hilang begitu mendengar kata-kata Rukia tadi. Ada rasa kasihan terbersit dalam hati Ichi saat mendengarnya. Mereka berdua diam sejenak.

"Hm, Aku akan menyikat gigiku dengan baik dan benar secara sukarela dan berusaha untuk nggak merepotkanmu. . . " kata Ichi. Jeda sejenak. Ichi tahu Rukia meliriknya dari celah jari tangannya yang sedikit terbuka.

Ichi menarik kedua tangan Rukia turun dari wajahnya dan terlihatlah wajah Rukia yang merah. Entah merah karena malu, kesal, atau karena menahan tangis. Tapi walaupun begitu, wajah Rukia terlihat sedikit berbinar.

"Tapi ada syaratnya." kata Ichi menyambung perkataannya tadi.

Rukia yang tadi sudah merasa senang bahkan merasa seakan melayang di udara, kini merasa seakan jatuh bebas dari ketinggian seribu kaki. Dengan pipi menggembung dan bibir mengerucut kesal, Rukia bertanya.

"Apa syaratnya?"

"Emm, kau harus menuruti dua permintaanku." kata Ichi sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.

"Eh? Kok dua?" tanya Rukia tidak terima.

"Permintaan yang pertama sebagai bayaran bagiku yang sudah bersedia untuk berusaha nggak merepotkanmu lagi, dan yang kedua sebagai permintaan maaf darimu karena sudah mengeramasiku sekuat tenaga dan membuat kepalaku nyut-nyutan beberapa hari yang lalu." jelas Ichi. Walaupun tipis, tapi disana, di keningnya, ada urat-urat yang menegang membentuk 4 sudut siku-siku.

Rukia tidak bisa membantah, kata-kata Ichi tadi memang benar adanya. Rukia akui kalau beberapa hari yang lalu dia mengeramasi Ichi secara berlebihan. Akhirnya dengan sangat terpaksa, Rukia menganggukkan kepalanya. Melihat itu Ichi tersenyum senang. . . atau mungkin tersenyum licik?

Kemudian sambil tersenyum-senyum tidak jelas, Ichi mulai menggosok giginya dengan baik dan benar. . .

d(^_^)b

Tep!

Rukia menutup buku cetak fisikanya. Menandakan kalau dia sudah selesai belajar sekaligus mengerjakan PR fisika untuk besok. Segera setelahnya Rukia menguap lebar dan melihat ke arah jam weker yang ada di atas meja belajar Ichi yang baru saja dipakainya.

Jam itu menunjukkan pukul 11 malam. Rukia berharap tidak ada hollow yang menyerang Karakura malam ini, jadi dia bisa tidur sepuasnya sampai pagi. Dan semoga juga Ichigo tidak membangunkannya secara tiba-tiba nanti.

Rukia pun beranjak dari atas kursi menuju lemari Ichi a.k.a tempat tidurnya. Tapi sebelum ia sempat menggeser pintu lemarinya. Ichi sudah berdiri di depan pintu itu. Menahan Rukia untuk tidak membukanya. Rupanya Ichi belum tidur.

"Nggak ada tidur dalam lemari lagi mulai hari ini." kata Ichi sambil menggelengkan kepalanya. Rukia yang melihat dan mendengar kata-kata Ichi membelalak kaget. Kalau tidak tidur di lemari Ichi, lalu dia mau tidur dimana? Di kamar Yuzu dan Karin yang sempit?

"Lalu aku mau tidur dimana, bocah?" tanya Rukia kesal. Aku sudah ngantuk berat, nggak bisa apa kau membiarkanku tidur? Begitulah pikir Rukia.

"Jangan panggil aku 'bocah'. Umurku 17 tahun. Sekarang waktunya bagimu mendengarkan permintaan pertamaku sebelum tidur." kata Ichi tegas.

"Cepat katakan supaya aku bisa lekas tidur!" kata Rukia setengah membentak karena kesal sambil menggembungkan pipi dan mengerucutkan bibir.

'Semoga saja permintaannya masuk akal. . .' pikir Rukia sedikit cemas. Takut kalau Ichi meminta yang aneh-aneh seperti. . .

"Permintaan pertama, aku ingin kau tidur denganku di atas tempat tidurku mulai hari ini. Nggak ada penolakan."

. . . Tidur bersama. . .

"Fiuh, syukurlah. Tadinya kupikir kau akan minta yang aneh-aneh seperti. . . APA?" Rukia baru sadar kalau permintaan Ichi tadi TIDAK RASIONAL. Menurut Rukia tentunya.

"Bukannya kau sudah ngantuk? Ayo tidur." ajak Ichi sambil naik ke atas tempat tidurnya. Mengacuhkan kata-kata Rukia barusan.

"Nggak bisakah aku menolaknya?" tanya Rukia sedikit menuntut belas kasih dari remaja pendek(?) di hadapannya.

"Tadi sudah kubilang kan? Nggak ada penolakan. Dan kau harus tidur dekat jendela. Nggak ada penolakan juga untuk yang satu ini." Rukia yang baru saja membuka mulutnya untuk protes jadi menutup mulutnya kembali. Dia mulai merengut kesal.

"Aku nggak mau!" tolak Rukia sambil melipat tangan di depan dada dan membalikkan badannya sehingga posisi dia sekarang jadi tepat membelakangi Ichi.

"Oh, gitu? Ya sudah, nggak apa-apa. Tapi siap-siap saja, besok kau akan kubuat super repot. . ." ancam Ichi yang sudah duduk di atas tempat tidur dengan nada datar. Walaupun nada suara Ichi sama sekali tidak terdengar sedang mengancam, tapi itu cukup untuk membuat Rukia berpikir ulang.

Akhirnya dengan sangat berat hati, Rukia naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya yang dari tadi sudah minta diistirahatkan. Kemudian Ichi menyusul, merebahkan tubuhnya di samping kiri Rukia. Karena merasa posisinya kurang enak a.k.a nggak PW, Rukia memiringkan tubuhnya ke arah kiri. Menghadap Ichi.

Tiba-tiba saja, tanpa basi-basi, tanpa minta persetujuan, tangan Ichi memeluk pinggang Rukia. Membuat Rukia berjengit kaget.

"Ichi, apa yang kau lakukan?" tanya Rukia dengan wajah memerah.

"Aku memeluk pinggangmu. Kau tidak tahu apa itu 'memeluk' ya?"

"Te, tentu saja aku tahu! Tapi kan. . ."

"Permintaan kedua. Kau nggak boleh menolak kalau aku ingin memelukmu, minta digendong olehmu, menggandeng tanganmu atau apa pun yang ingin kuperbuat terhadapmu asal nggak melanggar batas. Nggak ada penolakan." kata Ichi singkat kemudian membenamkan kepalanya di dada Rukia.

Rukia ingin sekali protes, tapi tidak bisa. Kalau dia protes dan menolak, bisa-bisa kehidupan normalnya besok dan seterusnya akan terganggu oleh ulah setan kecil bernama Kurosaki Ichigo. Walaupun author ragu kalau kehidupan Rukia itu normal. . .

"Hm, jadi begini ya rasanya memeluk perempuan. Yah, walaupun aku ragu kalau kau itu perempuan. . ." gumam Ichi. Masih dalam posisi yang sama.

"Kurang asem kau. . ." kata Rukia sambil menjitak pelan kepala Ichi.

Bahu Ichi bergerak naik-turun. Kelihatannya sih Ichi sedang terkekeh. Setelah bahu Ichi berhenti bergerak-gerak, Ichi makin membenamkan kepalanya ke dada Rukia.

"Oh ya, Rukia, selama aku nggak masuk, apa kau merasa kesepian karena nggak ada yang duduk di sebelahmu?" tanya Ichi, suaranya tidak terdengar begitu jelas karena dia berbicara dalam posisi kepala yang terbenam dada Rukia.

"Nggak juga. Sejak kau nggak masuk, Ochi-sensei memondahkan tempat duduk Ishida jadi ke tempat dudukmu. Jadi selama kau nggak ada, Ishida-lah yang menggantikanmu," jawab Rukia santai. Entah karena terbawa suasana atau apa, tapi Rukia mulai mengelus rambut langka milik Ichi.

"Dan kau tahu? Dia hebat sekali, dia selalu bisa menerangkan pelajaran yang nggak kumengerti dengan cara lebih sederhana. Bahkan kalau aku masih nggak mengerti juga, dia nggak mengeluh dan tetap mengajariku sampai aku bisa." kata Rukia. Nada suaranya terdengar sangat senang.

Entah kenapa kata-kata Rukia tadi membuat telinga Ichi panas.

"Aku juga bisa mengajarimu kalau kau mau. . ." gumam Ichi. Gumaman Ichi tadi terlalu pelan sampai-sampai Rukia tidak bisa mendengarnya.

"Hei, besok hari Sabtu ya?" tanya Rukia.

"Ya, memangnya kenapa?" tanya Ichi sambil mengangkat wajahnya dan menatap Rukia.

"Aku ada kerja kelompok dengan Inoue, Tatsuki, Chad, Ishida, Chizuru, Keigo, dan Mizuiro," kata Rukia.

"Nggak apa-apa kan kalau kau kutinggal seharian besok?" tanya Rukia.

"Eh, memangnya aku nggak boleh ikut?" tanya Ichi dengan wajah tidak rela. Kenapa aku nggak boleh ikut? Toh itu cuma acara kerja kelompok. Begitulah pikir Ichi.

"Sebenarnya sih boleh, hanya saja. . ."

"Kalau begitu aku ikut!" kata Ichi memotong perkataan Rukia dengan semangatnya.

"Nggak bisa! Kalau kau ikut, coba bayangkan bagaimana reaksi Chizuru dan Keigo begitu melihatmu. Mereka kemungkinan besar akan bilang hal yang sama dengan Urahara-san dan ayahmu katakan waktu pertama kali melihatmu,"

"Chizuru, dan Keigo pasti akan mengira kau anakku! Dan coba bayangkan bagaimana perasaan Inoue kalau dia sampai mendengar itu. Mungkin hatinya bisa hancur karena patah hati, Ichigo." jelas Rukia. Penjelasannya begitu panjang kali lebar.

"Lho, memangnya Inoue kenapa sampai bisa patah hati kalau mendengar kata-kata itu?" tanya Ichi dengan polosnya.

"Dia menyukaimu, baka!" kata Rukia setengah membentak.

Sesaat kemudian mata hazel Ichi membelalak, mulutnya membulat dan dari sana keluar kata 'o'. Hanya 'o'. Itu saja tanggapan Ichi atas kata-kata Rukia barusan. Rukia memutar bola matanya bosan. Anak lelaki itu selalu tidak peka pada cinta, begitu pikir Rukia. Tak sadarkah ia kalau ia juga tidak peka pada yang namanya cinta?

"Oh, ya, Ichi. Aku tahu kau selalu bertingkah aneh. Tapi menurutku kelakuanmu selama 3 hari ini semakin aneh," kata Rukia. Membuat alis Ichi mengernyit heran.

"Kau bilang kau sengaja membuatku repot beberapa hari ini karena kesal dengan perlakuanku beberapa hari yang lalu. Tapi kurasa ada alasan lain selain itu. Jadi, ayo jujur padaku." kata Rukia.

Ichi tersentak kaget dan dia berpikir 'bagaimana dia bisa tahu?'. Ichi mulai berpikir seharusnya Rukia jangan jadi shinigami, lebih baik Rukia jadi psikolog saja. Atau lebih baik, dibuat satu divisi lagi di Seiretei, divisi 14. Divisi yang khusus untuk tempat konsultasi atau tempat curhat para shinigami. Dan tentu saja Rukia yang jadi taichou-nya. . .

"Emm, nggak ada alasan lain kok, sungguh. Aku cuma mau membuatmu repot saja." kata Ichi sedikit gugup.

"Aku tahu kau bohong. . ."

"Baiklah, kau menang. Aku memang punya alasan lain. . . . . . Aku. . . . aku iri. . ."

~Masih setia berstatuskan TBC~

Akhirnya! Akhirnya! Akhirnya saya lepas dari jeratan tali(?) UTS yang bisa diibaratkan bagai asma(?) yang menyesakkan dada! XDDDD Akhirnya saya balik minna-sa- *ditimpuk pake batu bata*

Ups, kayaknya berlebihan ya? *baru nyadar* But, who cares anyway? Nggak ada kan? Ya udah *lah?*

Ukh, aku kangen minna-san! XD yah walaupun selama UTS aku masih boleh buka ffn tapi tetep aja kangen *peluk minna-san, dijitak massal*

ehm*dehem* daripada sifat SKSD saya mulai kumat, mending bales review aja dulu. Pengalihan bahasa dimulai~

Purple and Blue: nggak usah formal-formal ngomong sama aku mah *'saya'* maaf nggak bisa update kilat, minggu kemaren aku UTS = =" tapi udah update nih, review lagi ya?

Zanpaku-nee: nggak ah, fic canon-ku selalu ancur kok = = nggak apa-apa sih, aku maklum, orang kan punya urusannya sendiri-sendiri. Wkwkwk emang bukan cuma badannya aja yang mengecil, tapi jiwanya juga wahaha XDD *ketawa nista* nggak tau kenapa tapi aku emang sengaja bikin kayak gitu, supaya Rukia menderita *dibekuin Rukia* wkwkwk review lagi ya?

ichigo4rukia: uwaaa~ makasih do'anya *mata berbinar, gaploked- kemanjaan Ichi kuusahain makin banyak, supaya Rukianya makin repot hahaha XDD *ditampol Ruki* review lagi ya?

Jee-zee Eunry: uwa~ Jee-san dateng me-review? mimpi apa aku semalem? XDD *taboked karena SKSD* ehm, SKSD-ku kambuh lagi = = maaf buat gangguan teknis(?)nya. Masa' sih ideku lucu? O.o ini udah update ne, review lagi ya~?

Ichi Nightray: suka Pandora Hearts ya? :D -ditabok karena melenceng dari topik* ehm, maaf, mulai lagi nih sikap SKSD sama sikap nggak jelasku = =" eh, ce, cerita ini nggak ada keren-kerennya DX tapi makasih udah review, muji pula ^^ Nih udah update . Review lagi ya~?

Riruzawa Hiru15: serius tuh gemes O.o Ichi disini rada nyebelin loh *dijitak Ichi sekuat tenaga* soal kesalahan itu udah mulai kuperbaiki mulai chapter ini dan seterusnya, makasih buat kritiknya yang sangaaaaat membangun *hug, tendanged* boleh minta review-nya lagi kan?

HAna RUna onNa: wkwkwk makasih buat saran genre yang kemaren itu ya, bener-bener membantu \(^o^)/ ini udah update, boleh minta review-nya lagi kan? *puppy eyes*

siapa aja boleh: butuh tisu? *nyodorin tisu buat ngelap mimisannya* kalo mau digendong kayak Ichi tinggal minta aja sama Rukia~ wkwkwk cerita ini nggak keren kok ^^ tapi makasih buat pujian dan reviewnya \(^o^)/ review lagi ya?

Nakamura Chiaki buru-buru: akan kuusahakan supaya bisa update cepet ^^ ini udah update, boleh minta review lagi kan?

tya kuchiki: makasih buat review-nya ^_^ review lagi ya?

beby-chan: uwa, makasih karena udah bilang fic ini lucu. Ini udah update. Review lagi ya~ :DD

Kurosaki OrangeBerry: nggak apa-apa ne ^^ setiap orang kan punya urusan masing-masing. Fic ini nggak keren kok. Soal Ichi sama Rukia tidur sekamar sih, liat aja di ata~s, review lagi ya? ^^

Sesi bales review selesai. Serius, saya nggak nyangka lo yang nge-review bisa sampe segitu. Intinya, makasih buat yang udah review, fav, dan alert! Arigatou Gozaimashita ne, minna-san *bows* (_ _)

Nah, sekarang coba tebak, di atas itu kan Ichi bilang Ichi iri. Kalo menurut minna-san Ichi ngiri sama siapa? Kalo betul jawabannya, nggak dapet apa-apa XD -plakk- yah, pengennya sih ngejanjiin minna-san buat update cepet sebagai hadiah buat yang jawabnya betul, tapi sayang seribu sayang(?) saya nggak bisa = =

Ne, akhir kata aku cuma bisa bilang . . .

Bersediakah minna-san me-review fic jelek ini?