"Aaaaa, aku kesiangaaaaan," seru –atau lebih tepatnya teriak- Rukia setelah melihat jam weker yang menunjukkan jam 06. 45 pagi di sampingnya sambil tergesa-gesa bangkit dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi. Seperti yang sudah disebutkan tadi, Rukia kesiangan. Karena mengerjakan tugas sampai tengah malam lalu menyempatkan diri membasmi hollow di sekitar Karakura. Oleh sebab itulah dia baru tidur jam 2 pagi.

Setelah bangkit dari tempat tidur dan menggeleng-gelengkan kepala sejenak untuk memulihkan kesadaran, Rukia segera berlari ke kamar mandi di lantai 2. Terdengar bunyi 'byur byur' dari kamar mandi. Rukia hanya mencuci muka dan menyikat gigi di wastafel kamar mandi. Lagipula orang Jepang juga biasanya tidak mandi pagi 'kan?

Setelah selesai mengeringkan muka, memakai kemeja, mengancingkan kancing blazer dan menaikkan retsleting roknya, Rukia bergegas kembali ke kamar. Ichi yang –tentu saja- terbangun karena mendengar teriakan Rukia tadi cuma bisa terlongo melihat Rukia yang berlari kesana-kemari untuk mengumpulkan semua buku dan barang yang sekiranya akan dibawa ke sekolah lalu memasukkannya ke dalam tas yang diletakkannya di atas meja belajar dengan terburu-buru.

Ichi dengan kesadaran yang mulai pulih, duduk bersila kaki di atas tempat tidur yang sama sekali tidak rapi dan bertanya "Kenapa kau kelihatan buru-buru sekali, Rukia?"

"Kau nggak lihat jam?" kata Rukia, malah balik bertanya sambil memasukkan beberapa buku tulis yang sekiranya akan dipakainya hari ini dengan tangan yang sedikit gemetaran karena panik dan buru-buru. Ichi melirik jam. Jam 06.48.

"Oh," kata Ichi sebagai respon. Kemudian asyik memandangi Rukia yang benar-benar kalang kabut memasang dasi kupu-kupunya sampai-sampai dasi itu kelihatan tak simetris dan tak lurus.

"Cuma 'oh'?" tanya Rukia sambil mencoba membetulkan dasinya, tapi dasi itu malah terlihat semakin berantakan. Ichi tidak atau lebih tepatnya malas menjawab pertanyaan Rukia tadi. Menurutnya melihat Rukia yang panik lebih menyenangkan daripada menjawab pertanyaan barusan.

Kini Rukia sedang mengecek barang-barangnya, apakah sudah lengkap atau belum. Setelah dirasanya lengkap, ia pun menutup tasnya. Dengan tergesa-gesa, Rukia membuka pintu lemari dan mengambil sepasang kaus kaki baru dari dalamnya dan segera memakainya sambil berdiri. Tentu saja Rukia sedikit melompat-lompat saat memasang kaus kaki itu untuk menjaga keseimbangannya.

"Oke, aku pergi dulu, Ichi. Jangan macam-macam selama aku nggak ada. Jaga dirimu," kata Rukia sambil mencium kening Ichi. Setelah Rukia menyudahi ciuman singkat itu secara spontan Ichi bertanya dengan setengah berteriak, "Apa yang kau lakukan, Rukia?"

"Ups, maaf, untuk sesaat aku mengira kalau kau benar-benar sepupuku," seru Rukia setengah berteiak pula sambil mengambil tasnya di atas meja belajar dan berjalan –setengah berlari tepatnya- ke arah pintu. Ichi masih sempat mendengar Rukia menggumam "Atau mungkin keponakan," sebelum gadis itu keluar dari kamar.

Tepat saat Rukia mengangkat tasnya, Ichi melihat sebuah buku tulis yang tadi tertimpa tas Rukia. Di buku itu tertulis 'Buku Latihan/PR Matematika' dan di bawahnya ada tulisan 'Kuchiki Rukia, 3-3'.

'Astaga, dia melupakan buku latihan matematikanya. Bukannya hari ini ada matematika?' pikir Ichi. Sambil melompat dari tempat tidur, Ichi segera menyambar buku itu dan berlari kecil keluar kamar. Syukurlah, Rukia belum sempat menuruni tangga. Kakinya baru akan menjejak anak tangga pertama. Ichi segera mendekatinya.

"Oi, Rukia, buku latihan MTK-mu tertinggal."

Mendengar suara Ichi, Rukia pun membalikkan badan dengan cepat sambil berkata "Terima kasi–Ah."

Sayangnya Rukia kehilangan keseimbangan saat itu. . .

Mata Rukia melebar begitu ia menyadari kalau ia kehilangan keseimbangan. Dengan panik, Rukia mencoba menggapai apa pun, mencari pegangan supaya ia tidak jatuh. Sayangnya Rukia cuma bisa menggapai angin.

Ichi yang melihat hal itu refleks mengulurkan tangannya untuk menangkap tangan Rukia sebelum gadis itu jatuh. Saat tangan mereka tinggal beberapa senti lagi, Rukia tersentak kemudian buru-buru menarik tangannya dan. . .

Bruk

Terdengar bunyi benda jatuh yang cukup keras disertai suara rintihan dan ringisan. Yap, Rukia jatuh dari lantai dua dengan posisi tangan kanan mencium lantai terlebih dulu. Sekarang gadis itu tengah terduduk di dekat tangga sambil meringis.

"Aduh, lenganku. . ."

.

.

Disclaimer :: kan udah saya bilang berkali-kali, Bleach itu punya Tite Kubo. Walaupun saya mau mengubah dunia 5 kali, tetep aja Bleach itu punya Tite Kubo = =b

Claimer :: ya saya. Nama saya Asani Suzuka, panggil aja saya pake nama kecil saya, Suzuka. Salam kenal untuk minna yang baru kenal saya *membungkuk ala butler*

Rated :: T aja, nggak lebih, tapi boleh kurang(?)

Genre :: gado-gado saya rasa =.=a

Warning :: segala ketidak sempurnaan sebuah fic saya rasa ada dalam sini, plus fic ini adalah fic yang sangat gaje binti/bin aneh... Silakan tekan tombol 'back' kalau tidak berkenan membaca

Kalo jelek maaf ya, soalnya saya cuma seorang author amatiran tak berbakat tak berkemampuan berumur 14 tahun yang menjalani hidup super biasa(?) yang entah bagaimana bisa nyasar dan jadi author disini. . .

DON'T LIKE? DON'T READ! Gampang kan?

'Chapter 4, Her Arm's Broken'

.

.

"Ah, tahan sebentar ya, Rukia-chan. Ini pasti akan sakit," kata Isshin sambil menggips tangan Rukia kemudian membalutnya dengan perban. Rukia cuma bisa meringis menahan sakit. Gara-gara peristiwa jatuhnya Rukia dari tangga tadi, Rukia jadi batal ke sekolah. Bagaimana dia bisa ke sekolah dengan lengan yang patah?

Insiden Rukia jatuh dari tangga itu membuat lengan kanan Rukia patah. Setelah mendengar bunyi benda jatuh, Isshin segera berlari menghampiri Rukia sambil bertanya "Rukia-chan apa kau sedang 'bertarung' dengan Ichigo dan jatuh dari tempat tidur?" dengan suara lantang dan ceria khasnya. Sudah bisa dipastikan kalau Isshin berpikiran mesum saat itu.

Tapi yang didapatinya malah Rukia yang sedang terduduk di dekat tangga sambil meringis dan Ichi yang sedang menatap Rukia dengan tatapan ukh-pasti-sakit dari lantai 2. Isshin langsung bisa menyimpulkan bahwa barusan Rukia jatuh dari tangga. Dengan rasa sedikit kecewa karena bayangannya tak sesuai dengan harapannya, Isshin pun langsung membantu Rukia berdiri dan membawanya ke klinik.

"Apa nggak bisa disembuhkan dengan kidou, Paman?" tanya Rukia sambil meringis saat Isshin mulai mengikatkan kain yang menyangga tangan kanan Rukia ke leher gadis itu. Poor Rukia, pasti rasanya sakit sekali.

"Yah, bukannya tidak bisa sih. Tapi aku tidak ahli kidou penyembuhan, Rukia-chan," kata Isshin sambil menjauhkan tangannya dari leher Rukia setelah selesai mengikatkan kain yang menyangga tangan kanan gadis itu dan bergumam "Selesai.".

Isshin pun membalikkan badannya, membelakangi Rukia dan mulai membereskan alat-alat yang digunakannya tadi sambil berpesan pada Rukia untuk tidak menggerakkan tangannya terlalu sering kalau ia ingin tangannya cepat sembuh. Dan juga mengingatkan Rukia untuk banyak minum minuman dan makan makanan yang mengandung kalsium supaya cepat sembuh.

"Oh ya, aku sudah menelepon sekolah dan memintakan izin untukmu, Rukia-chan~," kata Isshin dengan riang gembira seperti biasa.

Rukia hanya mengangguk walalupun ia tahu Isshin tak akan bisa melihatnya. Kemudian ia pun melompat turun dari ranjang pasien yang sejak tadi didudukinya. Untuk sesaat ia oleng, untung saja dia masih bisa mempertahankan keseimbangannya. Isshin yang masih sibuk membereskan alat-alatnya berpesan lagi pada Rukia untuk tidak terlalu sering melompat-lompat atau berlari karena dengan tangan kanan yang diikat begitu, keseimbangan Rukia akan berkurang.

Rukia mengangguk mengerti walaupun –sekali lagi- ia tahu Isshin tak akan bisa melihatnya. Saat akan berjalan keluar klinik, Rukia baru sadar kalau sejak tadi Ichi mengintipnya dari balik pintu klinik. Tapi Rukia pura-pura tak tahu dan berjalan melewati Ichi begitu saja.

Gadis mungil itu baru sadar kalau ia belum sarapan sejak tadi. Jadi ia pun memutuskan untuk mencari makanan di dapur. Setelah sampai di sana, dia segera menuju meja makan dan yang terlihat di sana cuma piring berisi 2 tangkup roti bakar selai cokelat.

Karena lapar, tanpa basa-basi lagi, Rukia langsung menarik kursi dan mendudukinya, kemudian mengambil setangkup roti dari atas meja dan mulai memakannya dengan tangan kiri. Karena tidak terbiasa makan menggunakan tangan kiri, Rukia jadi merasa sedikit aneh.

Ichi yang sejak keluar klinik tadi terus mengekori Rukia, kini sedang mencoba naik ke atas kursi di sebelah Rukia. Setelah berhasil, Ichi cuma duduk sambil membenamkan dagu di meja makan dan memandangi Rukia yang sedang makan.

"Kau nggak makan? Bukannya kau belum sarapan, hm?" tanya Rukia sambil melahap rotinya lagi dan melirik Ichi. Rukia tahu, Ichi pasti sedang merasa bersalah karena tidak bisa menangkapnya sebelum ia jatuh tadi.

"Maaf," tuh, benar 'kan?

Rukia diam saja tak menanggapi. Dia pun mengambil setangkup roti yang tersisa di piring dan memasukkannya ke dalam mulut Ichi tanpa permisi terlebih dulu. Tentu saja hal itu membuat Ichi tersedak.

Tanpa banyak omong, Rukia segera berdiri dan berjalan menaiki tangga menuju lantai 2 sambil menggumam "Astaga, bagaimana aku akan mengerjakan semua tugas-tugasku kalau aku ngak bisa memakai tangan kananku?"

Mendengar itu Ichi pun kembali merasa bersalah. . .

d(^_^)b

"Kami pulaaaang," seru Yuzu sedangkan Karin hanya menganggukkan kepalanya. Dengan kalem, Karin melepas sepatunya dan menyusunnya di rak. Berbeda dengan Yuzu yang kelihatan terburu-buru.

"Selamat datang," seru sebuah suara dari ruang TV, menyambut salam Yuzu tadi. Karin dan Yuzu berpandangan bingung. 'Yang tadi itu suara Rukia-nee 'kan? Bukankah seharusnya jam segini Rukia-nee belum pulang?' pikir keduanya bingung.

Kedua gadis itu segera berlari menuju ruang TV setelah menyusun sepatu mereka di rak sepatu dengan rapi. Sesampainya di ruang TV, mereka melihat seseorang berambut hitam yang sedang duduk di sofa dan memegang remote TV. Tidak salah lagi, itu Rukia.

"Rukia-nee kenapa bisa ada disini jam segini? Bukankah seharusnya Rukia-nee pulang sekolah nanti sore?" tanya Yuzu pada Rukia yang kini mengalihkan perhatiannya dari layar TV ke Yuzu. Yuzu pun ikut duduk di sofa. Di sebelah Rukia.

Mendengar pertanyaan Yuzu membuat Rukia menghela nafas. "Bukannya sudah pulang, aku bahkan nggak pergi ke sekolah tadi pagi," katanya sambil melirik Yuzu. Saat Rukia mengatakan itu, Yuzu baru sadar kalau tangan kanan Rukia patah.

"Eh, tangan Rukia-nee patah? Bagaimana bisa?" tanya Yuzu setengah panik. Setahu Yuzu, Rukia orang yang sangat hati-hati dalam bertindak. Jadi menurutnya, tidak mungkin Rukia jatuh bahkan sampai menyebabkan tangannya patah begitu.

Rukia menggaruk pelipisnya yang tak gatal. "Ah, tadi pagi aku jatuh dari tangga karena terburu-buru berangkat sekolah," jawab Rukia dengan cengiran gugup menghiasi wajahnya. Yuzu kaget saat mendengar penuturan Rukia sampai-sampai ia harus menutup mulutnya yang terbuka saking kagetnya. Berbeda sekali dengan kembarannya yang hanya mengangkat kedua alis.

Melihat ekspresi sepasang kembar itu membuat Rukia buru-buru menambahkan, "Aku baik-baik saja kok. Cuma patah tangan saja sih, bukan masalah bagiku."

"Sungguh?" tanya Yuzu. Ragu dengan kata-kata Rukia tadi.

Rukia mengangguk. "Besok juga aku sudah bisa masuk sekolah," kata Rukia sambil tersenyum simpul. Ichi yang baru saja dari dapur dan secara kebetulan lewat di dekat ruang TV langsung tersentak kaget.

"Ta-tadi Rukia-nee bilang apa?" tanya Ichi memastikan kalau pendengarannya tidak salah. Tak lupa ia menambahkan akhiran –nee di belakang nama Rukia seperti yang sudah dikatakan Rukia waktu itu walau sebenarnya akhiran itu masih terdengar aneh di telinganya. Mungkin karena belum terlalu terbiasa.

Rukia yang mendengar pertanyaan Ichi mendengus pelan. "Aku bilang, besok aku sudah bisa masuk sekolah," ulang Rukia kemudian kembali menatap layar TV yang selama beberapa saat sempat diabaikannya.

"Bagaimana Rukia-nee mau ke sekolah dengan tangan kanan yang seperti itu? Rukia-nee 'kan nggak bisa menulis dengan tangan kiri," kata Ichi, seakan membujuk Rukia untuk bolos saja besok. Atau mungkin dia memang berniat seperti itu?

"Aku sudah belajar menulis menggunakan tangan kiri beberapa jam yang lalu," kata Rukia sambil mengganti channel TV dengan remote di tangannya. "Lagipula aku bosan di rumah, jadi kupikir lebih baik besok aku sekolah saja," tambahnya tanpa memandang Ichi. Si kembar Kurosaki sudah berjalan menjauhi mereka beberapa saat yang lalu.

"Tapi. . ."

"Tidak ada penolakan," kata Rukia santai tapi penuh penekanan di setiap katanya. Membuat Ichi tidak menolaknya lagi.

Tiba-tiba saja terdengar suara Yuzu yang setengah berteriak dari arah dapur, "Karena kare kemarin masih bersisa, jadi hari ini kita makan siangnya pakai itu saja ya, aku akan memanaskannya. Nggak lama kok."

Karin yang mendengar itu menggerutu kesal. Antara kesal karena merasa agak bosan makan dengan kare dan kesal karena ia sudah sangat lapar. Akhirnya gadis tomboy itu pun memutuskan untuk duduk saja di kursi yang ada di dapur sambil memainkan PSP-nya.

Yuzu yang mendengar gerutuan Karin terkikik saja dan kemudian berkata, "Kalau kau sudah lapar, dan ingin cepat makan, bantu aku memanaskan ini, Karin-chan~.". Setelah beberapa lama memanaskan kare, Yuzu pun mematikan api di kompor, mengangkat panci tempat kare dan menuangkan kare itu ke 5 buah piring yang sudah berisi nasi. "Oke, makan siang sudah siap," seru gadis itu dengan ceria.

Setelah meletakkan 5 buah piring nasi kare di atas meja, Yuzu dan Karin segera memanggil semua penghuni rumah untuk makan. Makan siang yang heboh pun dimulai. Diam-diam Rukia memperhatikan Ichi sejak tadi. Dan akhirnya Rukia pun memutuskan untuk pergi ke 'sana' dan meminta 'itu'. . .

d(^_^)b

"Perlu kuantar ke sekolah?"

"Nggak usah. Nggak perlu," jawab Rukia singkat sambil memasang kaus kakinya, dengan sebelah tangan. 'Ah, agak sulit juga kalau cuma memakai satu tangan' pikir Rukia. Setelah dirasanya pas, dia mangambil sepatunya di rak sepatu dan mulai memakai sepatu. Ichi cuma memandanginya tanpa bisa berkata apa-apa. "Nah, aku pergi dulu, jangan macam-macam saat aku nggak ada. Jaga dirimu," kata Rukia sambil mengacak-acak rambut Ichi kemudian membuka pintu depan dan pergi.

Sejak kemarin Ichi masih merasa bersalah atas insiden jatuhnya Rukia dari tangga. Andai saja saat itu Ichi tidak memanggil Rukia. . . Andai saja saat itu Ichi berhasil menangkap tangan Rukia. . . Andai saja. . .

Lamunan Ichi buyar begitu mendengar ayahnya berkata "Good Morning, Iiichiigoooo," sambil berusaha menendangnya. Sepertinya, Isshin masih tak bisa menghentikan kebiasannya itu walaupun badan Ichi sekarang ini mengecil dan tak mungkin menerima pukulan juga tendangan darinya. Lagipula sepertinya Isshin tak bisa menahan diri untuk tak melakukan itu pada putranya.

Ichigo yang mendengar suara itu langsung saja bergeser satu langkah ke kanan dan hal itu sukses membuat Isshin menabrak dinding dengan 'lembut'. Seperti biasa, Isshin pun mengacungkan jempolnya dan berkata "Good Job, my son," dengan posisi yang masih mencium dinding.

"Urusai na, baka oyaji," kata Ichi sambil melangkah pergi menjauhi ayahnya yang konyol itu. Tapi sebelum ia sempat menjauh dari sana. Ayahnya sudah mulai bertingkah lagi.

"Oooh, Ichigo, aku tahu kau sedih karena tidak bisa bermanja-manja pada Rukia-chan karena lengannya yang patah itu. Iya 'kan~?" tanya Isshin dengan tampang polosnya. Mendengar itu membuat alis Ichi berkedut karena kesal dan wajahnya memerah.

"Sok tahu kau, baka oyaji!" kata Ichigo sambil benar-benar berlalu dari hadapan Isshin dan naik ke kamarnya. Andai saja badan Ichigo tidak mengecil, dia pasti sudah meninju muka ayahnya tadi. Andai saja. . . Andai saja. . .

Sadar kalau sejak tadi dia terus saja menggumamkan kata 'Andai saja' membuat Ichigo stress. "Aargh, kenapa sejak tadi aku terus saja memikirkan kata 'andai saja'?" tanya Ichigo pada dirinya sendiri sambil merebahkan diri di atas tempat tidur. Ichi pun mencoba untuk memejamkan matanya. Baru saja ia memejamkan matanya, ia kembali membuka matanya dan teringat betapa susahnya Rukia menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya saat mereka makan siang dan makan malam kemarin. Sekarang Ichi mulai khawatir. . . Kalau makan kemarin saja Rukia begitu kesusahan, bagaimana Rukia akan makan siang nanti?

d(^_^)b

"Lenganmu patah, Kuchiki?" tanya Tatsuki setibanya Rukia di sekolah. Tepat saat Rukia menggeser pintu kelas. Rukia pun cuma menjawab seadanya dan langsung berlalu menuju tempat duduknya. Tapi, baru saja Rukia duduk di kursinya, teman-temannya langsung merubungnya dan menanyakan berbagai macam hal.

"Kuchiki, bagaimana lenganmu bisa patah? Apa kau habis 'bertarung' dengan Ichigo lalu jatuh dari atas tempat tidur?" pertanyaan ini sudah bisa dipastikan meluncur dari si mesum Keigo. Dan pertanyaan itu disambut anggukan antusias dari Chizuru. Bahkan mata Chizuru sudah mulai berbinar seperti anak kecil yang disuguhi permen atau gelas wine yang terkena matahari pagi sehingga kelihatan 'bling bling'. Oke, kembali ke topik awal.

'Astaga, pertanyaan mereka sama dengan Paman Isshin. Dasar orang-orang mesum. . .' pikir Rukia ber-sweatdrop ria. Kemudian dia menjawab "Nggak kok. Ichigo sedang nggak ada di rumah untuk beberapa minggu. Jadi nggak mungkin 'kan?" dengan senyum ala Drama Queen andalannya terpasang di mukanya. Kemudian gadis mungil itu pun menjelaskan garis besar cerita 'Jatuhnya Rukia Dari Tangga'. Mendengar itu, Keigo dan Chizuru langsung mengangguk. Antara mengerti cerita Rukia dan mengakui kata-kata Rukia. Beberapa saat kemudian mereka berjalan menjauh dengan langkah gontai sambil mendesah. Sayang sekali Bung, sepertinya penonton kecewa. . .

"Acuhkan saja mereka, Kuchiki," kata Tatsuki dengan tatapan horror yang mengarah ke dua sejoli itu sambil menepuk bahu Rukia. Rukia hanya menganggukkan kepala saja menanggapinya.

"Oh, ngomong-ngomong mana Inoue? Biasanya dia sudah datang jam segini 'kan?" tanya Rukia sambil menengok ke kiri dan kanan. Mencari-cari sosok gadis berambut oranye kecoklatan itu, kemudian kembali menatap Tatsuki.

"Aaah, bibinya Hime sedang sakit keras, jadi Hime berinisiatif untuk merawatnya dan minta izin untuk nggak masuk sekolah selama kira-kira seminggu. Dia sudah nggak masuk sejak kemarin," jelas Tatsuki sambil menggaruk pelipisnya yang tak gatal dengan telunjuk. Rukia kembali menganggukkan kepala tanda mengerti walau sebenarnya dia mendesah kecewa dalam hati.

Tujuan utama Rukia datang ke sekolah pagi ini adalah untuk minta bantuan Inoue untuk menyembuhkannya dengan kemampuan Shun Shun Rikka-nya itu! Tapi sayang sekali, gadis itu malah tidak masuk untuk kira-kira 6 hari ke depan. Poor, Rukia. . .

Sebenarnya Rukia sudah mencoba untuk menyembuhkan tangannya sendiri dengan kidou.Tapi mungkin karena sudah lama tidak menggunakan kidou penyembuhan dan selalu bergantung pada Shun Shun Rikka milik Inoue membuat kemampuan penyembuhannya jadi menurun. Ingin minta bantuan Isshin, tapi Isshin tak pandai memakai jurus kidou penyembuhan. Sepertinya Rukia memang cuma bisa bersabar menghadapi nasib. . .

"Kenapa kau masuk sekolah kalau tanganmu seperti itu, Kuchiki?"

"Ah, aku cuma tak mau ketinggalan pelajaran," jawab Rukia tentu saja jawaban itu ditaburi dengan sedikit bumbu kebohongan.

Tak lama setelah itu, bel tanda masuk sekolah pun berbunyi.

d(^_^)b

Tap tap tap

Ichigo berjalan memasuki gerbang SMA Karakura. Ada rasa rindu terbersit begitu melihat gedung SMA yang begitu megah itu. Kira-kira sudah berapa lama dia tak pergi menuntut ilmu ke sana? Sekitar seminggu mungkin. Ichigo menghela nafas.

Tujuan utamanya ke sini bukan untuk bernostalgia dengan gedung sekolahnya tapi untuk membantu Rukia makan siang. Sambil mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan, dia segera masuk ke dalam gedung SMA itu. Karena saat ini jam istirahat makan siang baru saja mulai, sekolah jadi terlihat ramai.

Ada beberapa siswi yang cekikikan melihat Ichigo. Ichigo sempat menangkap beberapa ucapan dari siswi-siswi itu. Kalau tidak salah dengar mereka mengatakan sesuatu tentang 'imut' dan 'aneh'. 'Ah, paling-paling mereka membicarakan rambutku' pikir Ichigo cuek sambil lalu.

Ada juga siswa yang menatap Ichigo dengan tatapan kebingungan saat melihat Ichigo melintasi lorong menuju kelas 3-3. Mungkin mereka heran, kenapa bisa ada bocah oranye yang 'nyasar' di SMA mereka? Tapi Ichigo tidak peduli dan terus saja berjalan.

Akhirnya Ichigo sampai juga di depan pintu kelas 3-3, pintunya dalam keadaan tertutup. Setelah memikirkan sejenak cara untuk menyapa Rukia, Ichigo pun menggeser pintu di depannya. "Rukia-neecha~n," panggil Ichigo –pura-pura- ramah sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas.

Kelas itu terlihat tak terlalu ramai. Masih ada beberapa anak disana. Paling tidak, masih ada Ishida, Chad, Keigo, Tatsuki, Chizuru, Michiru, dan tentu saja Rukia juga ada. Tatsuki, Chizuru dan Michiru sedang merubung tempat duduk Rukia. Mengajaknya untuk makan siang bersama sepertinya.

Begitu mendengar suara Ichigo, Rukia langsung tersentak dan mengarahkan pandangannya ke arah pintu kelas. Tanpa sadar, Rukia langsung berteriak "Ichigo, apa yang kau lakukan disini?" sambil berlari kecil ke arah pintu.

"Ichigo?" tanya teman-temannya serentak sambil menolehkan kepala mereka ke pintu kelas. Rukia buru-buru menutup mulutnya yang keceplosan tadi. Dia menolehkan kepala ke belakang. Terlihatlah teman-temannya sudah berdiri tepat di belakangnya. "Mana Ichigo?" tanya mereka lagi sambil menengok ke kanan dan kiri.

"Ah, yang kumaksud itu bukan Kurosaki Ichigo. Tapi Shirosaki Ichigo, sepupuku," kata Rukia menjelaskan (baca: berbohong) sambil menunjuk Ichigo yang berdiri di belakangnya. Teman-temannya pun serentak menjulurkan kepala mereka untuk melihat sosok Ichigo di belakang Rukia.

"Dia mirip sekali dengan Kurosaki," kata Chizuru sambil menyipitkan matanya. Disambut anggukan dari Tatsuki, Ishida, Chad, Keigo, dan Michiru. Tiba-tiba saja Keigo dan Chizuru tersentak, seakan menyadari sesuatu. Kemudian mereka tersenyum-senyum tidak jelas.

"Oi, Kuchiki, jangan bohong pada kami."

"Hah? Bohong? Apanya?"

"Kami tahu kau bohong, Kuchiki-san. Ayo jujurlah, katakan pada kami, kalau anak yang mirip Ichigo ini sebenarnya bukan sepupumu, tapi anakmu dengan Ichigo," kata Keigo sambil menyikut pinggang Rukia dan tersenyum-senyum. Menyeringai sih lebih tepatnya.

Ke-6 orang yang ada di sana langsung memerah wajahnya mendengar pernyataan Keigo barusan. Reaksi ke-6 orang itu berbeda-beda. Rukia dan Ichigo mulai berasap kepalanya, Chad diam saja, Michiru menundukkan kepala dalam diam tapi wajahnya jelas merah, Ishida berulang kali menaikkan posisi kacamatanya yang sebenarnya baik-baik saja sambil menggumamkan "Kemungkinan itu ada, kemungkinan itu ada,", wajahnya pun memerah. Sedangkan Tatsuki diam dengan mulut sedikit terbuka.

"Benarkah itu, Kuchiki?" tanya Tatsuki dengan alis berkerut dalam.

"Tentu saja nggak! Dia benar-benar sepupuku. Sudah ya, aku ada perlu dengannya. Ja ne," kata Rukia sambil terburu-buru menarik Ichigo ke atap. Tapi sebelum ditarik Rukia, Ichigo masih sempat berlari ke meja Rukia dan mengambil kotak bekal dari kolong mejanya. Sesampainya di atap, Rukia buru-buru menutup pintu atap. "Apa yang kau lakukan disini, baka?' tanyanya dengan nafas terengah-engah.

"Membantumu. . . makan siang?" kata Ichigo, sedikit ragu dengan jawabannya sendiri. "Ya, aku kesini untuk membantumu makan siang," kata Ichigo menambahkan. Rukia buru-buru menolak dengan mengatakan kalau ia bukan bocah lagi jadi Ichigo tak perlu membantunya makan.

"Hei, aku tahu kalau tadi pagi Yuzu membuatkan bekal untukmu, tapi Yuzu lupa kalau tanganmu patah dan dia memasukkan sumpit ke dalam kotak bekalmu, bukan sendok. Kau pasti akan kesusahan makan dengan sumpit," kata Ichigo sambil membuka kotak bekal di tangannya. "Lihat?" Ichigo menunjukkan isi kotak bekal itu pada Rukia. Memang benar kata Ichigo tadi, Yuzu tidak menaruh sendok disana, melainkan sumpit.

"Kalau begitu aku nggak akan makan bekal itu."

"Terus kau mau makan apa? Aku yakin kau sudah lapar."

"Aku akan beli roti di kantin."

"Rotinya sudah habis diserbu begitu bel istirahat makan siang berbunyi. Aku sudah mengecek ke sana tadi."

"Kalau begitu aku akan makan ramen dari kantin."

"Ramen di kantin juga dimakan dengan sumpit."

"Aku akan minta garpu."

"Kantin SMA Karakura menganut prinsip 'Garpu Hanya Untuk Anak TK', jadi tak akan ada garpu disana."

Rukia menggertakkan giginya karena kesal. Ugh, kenapa Ichigo bisa jadi sepintar ini sih? Rukia tidak ingin Ichigo membantunya makan karena ia akan terlihat sangat lemah. Rukia benci itu. Tapi di satu sisi, Rukia merasa kata-kata Ichigo ada benarnya. Dia memang tak bisa makan menggunakan sumpit jika memakai tangan kiri. . .

"Baiklah, aku menyerah. Jadi kau mau membantuku dengan cara apa?" tanya Rukia sambil mulai duduk. Ichigo mengikuti. Ia duduk di berhadapan dengan Rukia. Kemudian Ichigo mulai mengambil sumpit dalam kotak bekal Rukia yang sejak tadi terbuka dan membelahnya jadi dua bagian. Lalu menjepit daging dari dalam kotak bekal itu dan menyodorkannya tepat di depan mulut Rukia.

"Aku akan menyuapimu. Ayo buka mulutmu."

d(^_^)b

'Astaga, hari ini benar-benar hari yang melelahkan' pikir Rukia sambil memijit pelipisnya. Bagaimana tidak? Tadi Ichigo tiba-tiba datang ke kelas dan membuat orang-orang mesum itu (baca: Keigo dan Chizuru) mengira Ichigo anaknya. Lalu Ichigo memaksa untuk menyuapinya makan. Astaga, apa yang akan dilakukan Nii-sama-nya jika ia melihat Ichigo menyuapi Rukia tadi? Mungkin Nii-sama-nya akan mencincang Ichigo. Ya, mungkin. . .

Setelah kejadian tadi, Keigo dan Chizuru tak henti-hentinya menggoda Rukia, bahkan sampai mereka benar-benar meninggalkan kelas beberapa saat yang lalu. Astaga. . .

Rukia baru saja melangkah keluar dari gerbang SMA Karakura saat ia menyadari ada Ichigo yang bersandar di dinding pagar sekolah yang tak jauh dari gerbang yang baru saja Rukia lewati. "Apa yang kau lakukan disini, Ichigo?" tanya Rukia sambil berjalan mendekati Ichigo.

"Mungkin menjemputmu pulang," jawab Ichigo. Oke, mendengar jawaban Ichigo membuat kepala Rukia berdenyut. Antara berdenyut kesal dan pusing. Akhirnya Rukia tak menanggapi kata-kata Ichigo barusan. Gadis itu langsung saja berjalan ke arah yang berlawanan dengan arah pulang ke rumah. "Oi, Rukia, kau mau kemana? Rumahku bukan ke arah situ!" seru Ichigo sambil berlari mendekati Rukia.

"Aku mau ke toko Urahara-san sebentar. Kau bisa pulang duluan," kata Rukia sambil terus berjalan. "Dari hari ke hari kau semakin aneh saja, kau tahu? Kemarin-kemarin bahkan sampai bilang iri pada Kaien-dono dan Nii-sama," gumam Rukia menambahkan sambil mengingat-ingat perkataan Ichigo beberapa hari yang lalu kalau bocah oranye itu iri pada Kaien dan Byakuya. Tapi saat Rukia bertanya "Kenapa?", Ichigo tak mau menjawab.

"Apa kau bilang barusan? Maaf, aku nggak dengar," kata Ichigo sambil berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan langkah Rukia.

Rukia diam, tidak menanggapi perkataan Ichigo beberapa saat yang lalu dan melirik ke arah bocah oranye itu. Tanpa sadar Rukia menghela nafas. "Nggak, aku nggak bilang apa-apa tadi," jawab Rukia akhirnya. Kemudian hening sejenak.

"Kau pasti merasa bersalah karena tak bisa menangkapku sebelum aku jatuh dari tangga kemarin 'kan? Kau tahu, kau tidak usah merasa bersalah seperti itu. Aku jatuh dari tangga itu bukan salahmu. Lebih tepatnya, saat itu aku jatuh karena keputusanku sendiri, kau ingat saat aku menarik tanganku beberapa saat sebelum jatuh?" Rukia mulai mengalihkan topik.

Ichi menganggukkan kepalanya tanda ia ingat. Tatapan matanya berubah sendu.

"Itu karena aku yakin kau nggak akan bisa menarikku saat itu. Yang ada malah nanti kau ikutan jatuh bersamaku, baka. Lagipula kau nggak usah sekhawatir itu, sampai datang ke sekolah cuma untuk menyuapiku makan siang dan menjemputku segala. Seperti bukan kau saja, Ichigo," kata Rukia sambil mendengus dan melirik Ichi yang berjalan di sampingnya.

"Aku tahu kau selalu ingin melindungi orang-orang yang kau sayangi, teman-temanmu, termasuk aku, tapi ada kalanya juga orang-orang yang kau sayangi ingin melindungimu. Kalau saat seperti itu tiba, biarkanlah mereka –atau aku- melindungimu. Lagipula kau sudah terlalu sering melindungi kami. Sekali-sekali kami juga ingin membalasnya. Mengerti?" tanya Rukia mengakhiri penjelasan singkatnya pada Ichigo sambil mengelus rambut oranye Ichigo. Ichigo memang diam saja, tapi setelah mendengar kata-kata Rukia tadi dia merasa sedikit lega. Ya, sedikit lega karena kata-kata Rukia memang benar. Dan membuat Ichigo bisa tersenyum untuk sesaat.

d(^_^)b

"Oh, Kuchiki-san sudah datang rupanya~. Ayo, silakan masuk," seru Urahara begitu melihat Rukia dan Ichigo di depan tokonya. Urahara mempersilakan kedua orang itu untuk masuk, tapi Rukia menolak dengan alasan kunjungan mereka cuma sebentar saja.

"Jadi, mana pesananku? Sudah jadikah?" tanya Rukia straight to the point pada Urahara. Setelah mendengar itu, Urahara pun langsung masuk ke dalam tokonya selama beberapa saat kemudian keluar lagi sambil menggenggam sesuatu di tangannya.

"Ini dia pesanannya, Kuchiki-san~, efeknya mungkin cuma sekitar 5-7 hari saja. Jadi berhati-hatilah. Membuatnya sangat susah, kau tahu? Aku cuma mengetahui setengah dari seluruh formula cairan buatan Mayuri yang waktu itu diminum Kurosaki-san, itu pun aku mengetahuinya dengan susah payah dari Kurotsuchi Nemu-san," jelas Urahara panjang lebar sambil menyerahkan sebuah pil berwarna putih ke arah Rukia kemudian ia melakukan kebiasaannya. Menutup setengah dari wajahnya dengan kipas. Rukia menerimanya setelah berkata "Terima kasih.".

Ichigo yang mendengar percakapan antara dua orang itu pun jadi bingung. Apa maksudnya ini? Kenapa Urahara memberi Rukia pil? Kenapa komandan divisi 12 yang gila dan wakilnya itu disebut-sebut? Sebenarnya ada apa ini?

"Oh ya, Urahara-san, akhir-akhir ini Ichigo jadi benar-benar bertingkah seperti bocah. Apa jangan-jangan cairan yang waktu itu diminum Ichigo nggak cuma mengecilkan badannya tapi juga mempengaruhi jiwanya?" tanya Rukia sambil menggenggam pil pemberian Urahara kuat-kuat kemudian memasukkannya ke dalam saku roknya.

Urahara pun dengan riang menjawab, "Ya, Nemu-san sih bilang begitu. Waktu kami bertemu, dia berkata, kalau kemungkinan besar, jiwa Kurosaki-san akan terpengaruh badannya yang mengecil. Singkat kata, lama-kelamaan, Kurosaki-san akan bertingkah seperti bocah sesungguhnya~.".

Setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi, Rukia segera beranjak dari sana, lagipula dari awal Rukia juga tidak berniat untuk lama-lama disana. Ichi yang masih agak bingung langsung saja mengejar Rukia yang sudah berjalan duluan meninggalkannya. Dia tahu kalau tadi Rukia dan Urahara membicarakan badannya yang mengecil. Tapi lantas, pil pemberian Urahara tadi itu untuk apa?

"Hei, Rukia, apa maksud pembicaraanmu dengan Urahara-san tadi? Pil apa yang Urahara-san beri padamu?" tanya Ichigo setelah ia berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Rukia.

"Kulihat kau kesusahan mengerjakan pekerjaan sehari-hari dengan badan yang mengecil itu. Dan akan semakin kesusahan saat tanganku tak bisa digunakan seperti ini. Naik ke atas kursi saja kau kesusahan," Rukia mengeluarkan sebuah pil berwarna putih dari saku roknya. "Makanya aku meminta Urahara membuatkan ini kemarin. Dengan ini, badanmu mungkin akan kembali normal, tapi efeknya sementara. Cuma untuk sekitar 5-7 hari seperti yang dikatakan Urahara-san tadi, berhubung ia masih belum tahu seluruh formula cairan 'pengecil' buatan Kurotsuchi-taichou yang kau minum waktu itu. Nah, mau coba meminumnya?"

.

~Masih setia berstatus TBC~

.

Minna, I'm back! Yah, paling nggak, saya balik sebelum hiatus lagi hahaha XD -plakk- maaf buat veritanya yang aneh, garing, dan makin gak jelas. MAAAAAAAAAP DDD'X -ditimpuk kucing sama tetangga karena teriak malem-malem-

maaf hiatusnya kelamaan, kemaren itu rada. . . kebablasan, niatnya cuma mau hiatus 2 minggu, eh, nggak taunya malah nyaris 2 bulan = ="a

oke, abaikan curcol author di atas. Karena besok saya UAS, jadi hiatus lagi, tapi insya allah bakal update pas liburan. Maaf karena nggak bisa bales review satu-satu. Maaaaf banget (_ _) *bow* aku ngucapin beribu-ribu -halah- terima kasih buat yang udah berbaik hati me-review dan baca :3 arigatou minna-san -peluk minna-

segitu aja ya ngomongnya, ngetiknya ngumpet-ngumpet nih, supaya nggak ketahuan XDD -don't try this at home!-

.

Mind to RnR, minna?

.