Hohohohoho. Chapter ketiga selesai. Tsuki minta maaf akan keterlambatannya. Tsuki harap cerita ini cukup memuaskan setelah membuat ceritanya sedih kemarin. Hehehehehe. Tanpa membuat kalian menunggu, mari balas review.
Sypudth cuwidt : maafkan Tsuki memotong cerita disaat yang tidak tepat. Wah… Tsuki juga pernah baca ff sampai nangis. Tapi untungnya ga ada yang tau. Hahahahaha. Gpp ko, banyak curcol juga boleh. *PLAK!* arigatou. Arigatou. Arigatou *membungkukan badan*
Hana chan : arigatou. Arigatou. Arigatou *membungkukan badan* aduh… Tsuki terbang nih dikatain kayak gitu. *emang bisa terbang?* semua cerita Tsuki ga bakal Tsuki gantung kok ^^ . aduh… Hana terlalu memuji nih. *PLAK!*
monkey D eimi : iya nih, Sasuke jahat mulu kerjaannya *dideathglare Sasuke* Naruto Tsuki bikin menderita asma, karena Tsuki sudah memikirkan nanti ada bagian pada saat Naruto kambuh didekat Sasuke. hahahahahahaha. arigatou. Arigatou. Arigatou *membungkukan badan*
AkemyYamato : yupz, untuk lebih tau selengkapnya baca chapter tiga yang ada dibawah. *PLAK!* arigatou. Arigatou. Arigatou *membungkukan badan*
Wulan-chan : arigatou. Arigatou. Arigatou *membungkukan badan*
misyel : tenang… Naruto bakal secara perlahan membuka hatinya. arigatou. Arigatou. Arigatou *membungkukan badan*
NanaMithrEe : hohoohoho. Narutokan seorang aktris berbakat, semua ekspresi bisa dilakukannya dengan sempurna. Tenang Sasuke udah aku iket dipohon toge. *PLAK!* XP. arigatou. Arigatou. Arigatou *membungkukan badan*
Fly Girlz : xixixixi. Tsuki ga tau namanya jadi nulisnya rumbai-rumbai. Terima kasih atas pemberitahuannya. Jadi namanya itu pom-pom ya. Hehehehehe. Tsuki langsung update 3 cerita. Soalnya semuanya sudah menunggu, jadi ga tega menunda update cerita. arigatou. Arigatou. Arigatou *membungkukan badan*
sora92 : Ada sisi angel dan devil nya. Hehehehehehe. Tsuki memang sengaja buat Sasuke temen kecil Naruto. Siiippp… Tsuki akan terima sarannya. Tsuki akan memperbaikinya di lain chapter. arigatou. Arigatou. Arigatou *membungkukan badan*
Luna : yupz, baca dibawah aja ya. *PLAK!* arigatou. Arigatou. Arigatou *membungkukan badan*
shiho Nakahara : arigatou. Arigatou. Arigatou *membungkukan badan* aduh… jadi ga enak nih. Semoga hasil ulangannya bagus ya…. Maaf… Tsuki lagi sedikit sedih waktu bikin cerita, makannya kebawa suasana kedalam cerita, maafkan Tsuki. *membungkukan badan* SIAP!
Happy reading!
DON'T LIKE, DON'T READ!
Naruto punya Masashi Kishimoto. Bukan punyaku. Tapi kalo dikasih boleh juga. hahahahaha.*di amaterasu Itachi*
Pairing : SasuFemnaru
Warning : TYPO dan OOC tingkat akut, pokoknya kesalahan ada dipenulis.
Flash back
"Hey Naru-chan… cepatlah sedikit. Aku ingin segera pulang?" seorang anak laki-laki kecil menatap Naruto dengan pandangan malas.
"Kau kira memakai sepatu tali itu gampang." Naruto membela diri.
"Lihat saja! Kau pikir aku tidak memakai sepetu tali juga?" anak kecil tadi mengibas-ngibaskan sepatunya kedepan wajah Naruto.
"Sasuke… berhenti melakukan itu." Naruto bankit dari kursinya dan mengejar Sasuke.
BRUK!
Naruto terjatuh, karena tersandung tali sepatunya sendiri.
"Hiks. Hiks. Hiks. Hua….." Naruto menangis sangat kencang. Sasuke yang melihat itu menengok kekanan kekiri. Berharap tidak ada siapapun disekitarnya. Bisa gawat jika ada yang tau. Bisa-bisa dia disangka banci karena membuat seorang gadis kecil menangis. Itulah yang dikatakan oelh kakaknya Itachi, bahwa membuat seorang gadis kecil menangis itu sama seperti banci.
" sudah jangan menangis. Dasar lemah. Aku gendong saja." Sasuke menghapus air mata Naruto. Naruto mengangguk lalu dia naik keatas punggung Sasuke. Sasuke menggendong Naruto hingga depan gerbang. Karena disana sang supir sudah menunggu.
"Kau berat sekali, Naru-chan." Sasuke pura-pura mengeluh.
"Xixixixixi. Aku suka makan soalnya, kata Kaa-san aku tidak boleh pilih-pilih makanan. Jadi semuanya ku makan." Naruto tertawa kecil di punggung Sasuke.
Sasuke terus menggendong Naruto hingga gerbang. Dapat dilihat sang supir sudah menunggu mereka.
"Tuan, Nona." Supir itu menghampiri mereka. Karena tidak tega sang supir mengangkat Naruto dari punggung Sasuke.
"Biar bapak yang gendong." Sang supir tersenyum ramah kepada Naruto dan Sasuke. Naruto tertawa kecil dan mengangguk kepada supirnya. Naruto masuk kedalam mobilnya begitu pula dengan Sasuke. mereka mengobrol bersama. Naruto dan Sasuke sekarang duduk dibanku SD kelas 2. Walaupun masih kecil mereka sudah mandiri. Mereka tidak lagi dijemput oleh orang tua mereka.
"Sasuke, Sasuke akan ada didekat Naru terus kan?" Naruto menarik seragam Sasuke.
"Tentu." Sasuke mengacak-ngacak rambut Naruto.
"Janji?" Naruto mengangkat jari kelingkingnya.
"Janji!" Sasuke mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Naruto.
~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~
Sasuke berlari kearah Naruto dan memeluk Naruto.
"Ada apa, Sasuke?" Naruto menatap Sasuke heran.
"Aku tidak mau pergi." Sasuke mempererat pelukannya kepada Naruto.
"Sasuke mau kemana?" tanya Naruto polos.
"Aku tidak akan pergi." Sasuke memeluk erat sangat erat Naruto.
Sasuke menarik tangan Naruto dan masuk kedalam kamar Naruto, mereka bersembunyi di lemari Naruto.
"Ssssttt…. Kita bersembunyi disini saja." Sasuke berbicara kepada Naruto.
"Kenapa?" Naruto memiringkan kepalanya.
"Kita sedang bermain petak umpet." Sasuke menatap lembut Naruto.
"Ok. hihihhihi. Ssstttt." Naruto terkikik geli.
Sasuke dan Naruto terus disana hingga tanpa tersadar mereka terlelap tidur disana.
Naruto membuka matanya dia menengok kekanan dan kekiri, dia tidak dapat menemukan Sasuke dimanapun. Tapi yang Naruto tau setelah dia membuka mata, dia sudah ada diranjangnya. Naruto bangun dan segera berlari keluar kamar. Naruto kecil berhenti setelah melihat Kaa-san dan Tou-sannya. Dia mengintip dari celah kecil yang ada dipintu. Dia dapat melihat Kaa-san dan Tou-sannya sudah berpakaian rapih. Naruto membuka pintu kamar orang tuanya dan menghampiri mereka.
"Kaa-san mau kemana?" Naruto menarik-narik baju Kaa-sannya.
"Naru sudah bangun ya…. Ayo ganti baju, Naru-chan." Kaa-san Naruto menggandeng Naruto menuju kamarnya kembali. Sedangkan Tou-san Naruto hanya tersenyum kepadanya. Setelah mengganti baju, Naruto, Kushina dan Minato segera menuju mobil yang sudah disiapkan didepan rumah mereka. Mereka akan pergi menuju sebuah tempat.
"Mau kemana, Kaa-san?" Naruto bertanya lagi. Tapi pertanyaan Naruto hanya dijawab senyum oleh Kushina. Naruto kecil benar-benar tidak mengerti dengan semua ini. Setelah beberapa lama didalam mobil akhirnya Naruto turun dari mobilnya dan tangan kecilnya digenggam erat oleh ibunya.
"Ban-Da-Ra." eja Naruto. Kushina dan Minato menatap Naruto sebentar lalu tersenyum. Sepertinya mereka belum terlambat sekarang. Minato menggendong Naruto dan Kushina menggandeng tangan Minato. Mereka berjalan dengan cepat, mereka akan melepas teman baik mereka. Naruto melihat kesana kemari. Banyak sekali orang disini dan itu membuat Naruto kecil tersenyum.
"Tou-san? Kita mau kemana?" Naruto menatap tou-sannya.
"Naru-chan akan segera mengetahuinya." Minato tesenyum kepada Naruto. Naruto mengangguk lalu kembali melihat orang-orang yang hilir mudik berjalan. Naruto sedikit berharap Sasuke ada disini. Karena Naruto suka sekali melihat banyak orang. Melihat banyak orang membuatnya berfikir tentang pesta dan Naruto suka itu. Naruto menghadap kedepan dan wajahnya langsung ceria ketika melihat seseorang didepannya.
"Untunglah belum terlambat, Mikoto." Kushina bercipika-cipiki dengan Mikoto.
Naruto meronta dari gendongan ayahnya. Dia ingin turun dan menemui Sasuke. Minato yang mengerti langsung menurunkan Naruto. Naruto yang sudah diturunkan dari gendongan Tou-sannya berlari kearah Sasuke.
"Sasuke, kau tahu. Disini banyak sekali orang." Naruto berkata kepada Sasuke dengan mata yang berbinar. Tapi itu semua diacuhkan oleh Sasuke dan itu membuat Naruto sedikit sedih.
"Sasuke kenapa?" Naruto menatap Sasuke.
"Aku akan pergi, Naru-chan!" Sasuke mengalihkan pandangannya kearah yang lain.
"Pergi? jalan-jalan? Kapan pulang? Naru ikut ya?" Naruto bertanya lagi.
"AKU TIDAK AKAN PULANG. KAU TAU! DAN KAU TIDAK BOLEH IKUT." kata Sasuke ketus. Naruto menatap Sasuke dengan pandangan yang sulit ditebak. Lama kelamaan muka Naruto berubah menjadi sangat sedih.
"Hua…. Sasuke mau pergi… dan Naru nggak diajak… HUA…." Naruto menangis keras. Minato yang melihat hal itu langsung menghampiri Naruto dan menggendongnya.
"Ada apa Naru…" Minato menenangkan Naruto.
"Tou-san… Tou-san, Sasuke ingin pergi dan Naru nggak diajak." Naruto menangis dalam gendongan tosannya. Minato tersenyum dan mengacak-ngacak rambut Naruto dengan penuh kasih sayang.
"BAGI PENUMPANG PESAWAT 543 HARAP SEGERA MEMASUKI PESAWAT."
Terdengar pemberitahuan dari pengeras suara. Dan itu cukup mendapat perhatian dari mereka.
"Sepertinya kita harus pergi sekarang. Ayo Sasuke." Itachi menggandeng tangan Sasuke. Naruto yang melihat Sasuke akan pergi menangis bertambah kencang.
"Hua….. Aku ingin turun. Tou-san." Naruto meminta turun, Minatopun menurunkan Naruto. Minato benar-benar tidak mengerti dengan anaknya itu. setelah diturunkan Naruto berlari mengejar Sasuke.
"NARU-CHAN." Minato dan Kushina berteriak.
"SASUKE! SASUKE! SASUKE!" Naruto berteriak memanggil Sasuke.
BRUK!
Naruto terjatuh dan Naruto menangis lagi.
"Hiks. Hiks. Hiks, Sasuke!" Naruto terus memanggil nama Sasuke.
Sasuke memberhentikan langkahnya, dia merasakan ada seseorang yang memanggilnya, dan dia tahu yang memanggilnya itu adalah Naruto. Dengan cepat Sasuke melepaskan gandengan Itachi dan berlari kebelakang, dia mencari Naruto, dia ingin mengatakan sesuatu kepada Naruto dan dia ingin meminta sesuatu kepada Naruto, Sasuke berlari kebelakang dan matanya menemukan sosok Naruto yang sedang duduk dilantai dan menangis.
"Kau memang lemah, Naru-chan." Sasuke membantu Naruto berdiri.
"Sasuke, Sasuke, Sasuke." Naruto terus memanggil nama Sasuke.
"Aku disini." Sasuke menghapus air mata Naruto dan tersenyum lembut kearahnya.
"Naru-chan, aku akan kembali. Tapi tidak dengan waktu dekat. Kau mengerti!" Sasuke menggendong Naruto di pundaknya.
"Benarkah?" Naruto memajukan kepalanya untuk melihat wajah Sasuke.
"Tentu. Hihihihi…" Sasuke tertawa kecil. Tawa itu membuat Naruto tersenyum digendongan Sasuke.
"Kau membuat semua orang khawatir." Sasuke menatap kedepan dan menemukan kedua orang Naruto yang terlihat sangat cemas. Sepertinya mereka menyadari Sasuke dan Naruto. Mereka segera menghampiri mereka berdua.
"Syukurlah…" Kushina melihat Naruto bersama dengan Sasuke. Naruto diturunkan dari gendongan Sasuke setelah Kushina dan Minato datang.
"Kau harus segera pergi, Sasuke." Minato menatap khawatir Sasuke. Sasuke mengangguk kearah Minato. Tapi dia berjalan kearah Naruto terlebih dahulu.
"Naru-chan, tersenyumlah untukku, sekali ini saja." Sasuke tersenyum kepada Naruto yang sepertinya ingin menangis lagi. Sasuke memandang Naruto penuh harap.
"Aku akan terus tersenyum untuk Sasuke." Naruto mengeluarkan senyuman tertulusnya. Sasuke juga ikut tersenyum. Setelah itu Minato menggandeng tangan Sasuke dan membawanya kekeluarganya yang mungkin sekarang sangat khawatir dengannya.
~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~
"KAU AKAN SETUJU JIKA TAU SIAPA TUNANGANMU!" Kushina membentak Naruto yang sangat sulit sekali diberi tahu.
"Aku tidak mau dijodohkan. TITIK." Naruto keluar dari rumahnya dan tidak berniat untuk kembali. Naruto mengambil handphone disaku bajunya dan menekan nomor seseorang. Dia akan menelfon Sakura. Dia ingin meminta membantunya. Meminta bantuannya untuk kabur dari rumah.
Setelah Naruto keluar rumah, Kushina menatap Minato dengan pandangan sedih. Minato tersenyum kearah Kushina dan memeluk istrinya dengan hangat.
"Bukankah dia akan senang jika mengetahui bahwa dia ditunangkan dengan Sasuke?" Kushina menangis dipelukan Minato. Minato hanya bisa membelai rambut Kushina dengan lembut dan sayang.
Dan setelah hari itu, Naruto tidak lagi kembali ke rumahnya, dia terlalu takut bertemu kedua orang tuanya dan dia juga takut, jika dipaksa bertunangan dengan orang yang tidak dikenalnya. Karena dia masih menunggu seseorang. Seseorang yang berjanji akan kembali.
SATU TAHUN KEMUDIAN
Naruto mendongakan kepalanya menatap langit yang sangat luas. Dia sekarang berada diatap sekolah barunya. Ini semua berkat Sakura yang sangat membantunya untuk pergi dari rumah dan meninggalkan seluruh rutinitasnya.
"Kau bodoh! Dimana dirimu saatku membutuhkanmu, Kau memang tidak akan kembali selamanya. Lebih baik kau tidak usah kembali selamanya." Naruto memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya dan melihat awan yang berjalan sangat lambat.
CKLEK
Seseorang datang, dia berlari kearah Naruto, dia menghampiri Naruto dengan wajah yang sangat gembira.
"Naruto! Kau terpilih menjadi presiden."
Flash back off
~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~
Naruto berjalan menuju ruangannya dia harus berganti pakaian menjadi seorang princess. Dia tidak akan masuk kelas walaupun hanya sebentar. Dia sangat benci kepada Sasuke dan sangat tidak ingin bertemu dengan Sasuke. sesekali dia mengutuk dirinya sendiri. Mengapa dia tidak mengenali Sasuke. bahkan Nama mereka sama seharusnya dia menyadari bahwa itu memang Sasuke, Sasukenya. Atau mungkin Naruto memang sudah melupakan Sasuke? Narutopun tidak mengetahui jawabannya. Yang dia tahu, sekarang dia tidak mau lagi bertemu dengan Sasuke. karena menurutnya Sasuke yang dulu menjadi sahabat masa kecilnya sudah mati, sejak mereka berpisah di bandara.
"Kau lama sekali, Naruto!" Sakura menyilangkan tangannya dan menatap Naruto yang baru masuk kedalam ruangannya.
"Aku tidak tidur semalam." Naruto berdiri disamping ruang ganti diruangannya, menunggu baju yang akan dilemparkan oleh Sakura.
"Pakai ini!" Sakura melemparkan baju yang akan dipakai Naruto.
Sekarang Naruto harus memberi semangat untuk anak-anak yang akan mengikuti lomba olimpiade, Naruto harus mendukung mereka belajar. Walaupun dia tahu ada satu anak yang akan sulit sekali dibujuk. Orang yang menurutnya sangat merepotkan. Naruto keluar dari ruang ganti. Dia memakai baju seorang maid. Naruto menaruh kedua tangannya dipinggang.
"Sakura! Kau pikir aku seorang pelayan." Naruto sedikit kesal dengan Sakura.
"Kau harus melayani mereka, seperti memberikan teh hijau, susu ataupun makanan, seperti cake, biskuit dan makanan ringan." Sakura mengingatkan Naruto akan tugasnya sekarang.
Naruto menghela napas sebentar sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu. Naruto berjalan menuju kelas dimana semua anak pintar berkumpul. Dia sedikit berharap dia akan menemukan salah satu kandidat presiden disana.
"Selamat pagi…." Naruto membuka pintu dan tersenyum kearah semuanya.
Gaara dan Neji memandang Naruto, dan seperti biasa mereka harus dengan segera menekan hidung mereka sebelum cairan berwarna merah keluar dari sana. Tapi senyum itu ternyata tidak menganggu tidur seorang siswa yang sedang tertidur. Naruto tau siapa orang itu. Naruto berjalan menuju orang itu, aura presidennya kembali, dia tidak ingin sekolahnya kalah dan harus menyerahkan piala bergilir yang sudah berada dilemari sejak 10 tahun yang lalu.
"Ku harap kau bangun dan segera belajar, SHI-KA-MA-RU." Naruto menekankan kata-kata terakhirnya.
"Yang aku perlukan hanya menang bukan? Jadi, biarkan aku tidur. Aku akan menjamin bahwa kita akan menang. Toh disekolah ini ada Gaara dan Neji juga." jawab Shikamaru tanpa membuka matanya.
"Begitu?" Naruto menyeringai dan dengan gerakan refleks Naruto menarik telinga Shikamaru, dan ternyata hal itu berhasil membuat sang raja tidur bangun. Naruto tersenyum puas dengan pekerjaannya. Dan setelah itu, shikamaru mau belajar, karena sekali saja dia ingin tertidur, aura sang presiden langsung keluar dari tubuh Naruto dan menurut Shikamaru akan sangat merepotkan dan akan terjadi hal yang buruk jika dia tidak mematuhi apa yang dikatakan oleh san presiden.
Naruto berjalan kesana kemari, dia membawakan makanan dan minuman yang diminta oleh Gaara, Neji dan Shikamaru. Dia menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Kadang Naruto menyenderkan badannya ditembok dan menyilangkan tangannya mengawasi semua tingkah laku mereka. Naruto duduk disalah satu meja disana. Dan menopang dagunya.
"Jika kau capek. Tidur saja dulu." Shikamaru berkata kepada Naruto yang matanya sedikit terpejam.
"Tapi kau tetap belajar." kata Naruto kembali membuka matanya.
"Hn." Shikamaru berkata kepada Naruto.
BLETAK!
Kepala Naruto langsung terbentur meja. Dia sudah tertidur sekarang. Dia merasa sangat mengantuk karena dia tidak bisa tidur semalam. Itu semua gara-gara Sasuke yang selalu ada dikepalanya, setiap memejamkan matanya, muka Sasuke dan bayangan masa kecilnya langsung teringat. Bahkan dulu dia menjadi model itu semua demi Sasuke. dia ingin menjadi model terkenal dan menunjukan bahwa dia baik-baik saja ditinggalkan oleh Sasuke dan memberitahu Sasuke untuk tidak menghawatirkannya. Bahkan dia berharap Sasuke akan bisa melepas rindunya dengan melihat wajah Naruto dimajalah. Dia sempat berharap Sasuke akan menelfon dan bertanya tentang keadaannya. Tapi itu tidak pernah terjadi, Narutopun jadi putus asa untuk menunggu Sasuke walaupun dalam hati dia masih menunggu Sasuke pulang.
Bukan kesalahan Naruto jika dia kabur dari rumah. Itu semua salah kedua orang tuanya yang menurutnya sangat kuno. Dijaman modern masih saja dia harus menjalani adat istiadat pejodohan. mereka bahkan tidak diberitahu siapa tunangannya. Kaa-sannya hanya tersenyum jika ditanya siapa tunangan dirinya. Setelah Naruto pergi, Naruto berkomunikasi dengan keluarganya menggunakan surat. Setiap bulan secara rutin dia mengirim surat kepada orang tuanya, memberitahu bahwa dirinya baik-baik saja. Disetiap surat dia akan melampirkan beberapa foto dirinya. Tapi tentu saja. Dia mengirim surat itu dari tempat yang berbeda-beda dan jauh dari tempat tinggalnya. Dia tidak akan mungkin bisa dilacak, karena dia yakin semuanya sudah sangat sempurna.
Naruto membuka matanya dan menemukan semuanya masih belajar.
"Kalian istirahat dulu, aku tidak ingin memaksakan. Aku sadar aku sedikit egois." Naruto merapikan rambut dan pakaiannya.
"Tidak apa Princess." semuanya menatap Naruto.
"Terima kasih." Naruto mengeluarkan jurus andalannya, senyuman seorang princess.
"Aku keluar sekarang. aku baru ingat bahwa aku harus masuk kelas sekarang." Naruto mengedipkan matanya sekali lalu pergi dari sana. Dia memang tidak ingin bertemu dengan Sasuke. tapi dia harus masuk kelas sekarang. Dia harus masuk kelas minimal 3 hari seminggu.
"Naruto! Aku ingin bicara sebentar." seseorang memanggil Naruto dari belakang. Naruto segera berbalik tetapi setelah melihat siapa yang memanggilnya Naruto langsung berbalik lagi dan pergi.
"Ku bilang aku ingin bicara!" orang itu mengejar Naruto.
"Tapi aku tidak mau, Sasuke." Naruto menghiraukan Sasuke.
"Hanya sebentar." Sasuke mencoba menyamakan langkahnya dengan langkah Naruto.
"Dan sayangnya aku tidak mau." Naruto lebih mempercepat langkahnya.
"AWAS…." Seseorang didepan Naruto berteriak.
BRAK!
Orang itu menabrak Naruto. 'Empuk?' batin orang itu. Orang itu mendongak dan melihat ternyata dirinya berada diatas tubuh Naruto. Dan wajahnya tadi tepat didada Naruto. Dahi Naruto berkedut begitu pula dengan Sasuke.
"Kau harus segera bangun." Sasuke mengeluarkan aura yang sangat hitam pekat dan menarik tangan orang itu untuk segera bangun. Naruto bangun dan menatap orang itu.
"KAU?" Dahi Naruto benar-benar muncul banyak siku-siku bahkan aura hitamnya sama dengan Sasuke.
"Presiden. Mengapa aku merasakan sesuatu yang empuk?" tanya orang itu polos.
Dahi Naruto dan Sasuke benar-benar tidak bisa dihilangkan dan malah bertambah banyak, aura yang mereka keluarkanpun tambah hitam dan pekat, tanpa pemberitahuan dan aba-aba. Sasuke dan Naruto secara bersamaan memukul orang itu.
BRAK!
orang itu dipukul sampai terbang dan membuat sebuah lubang besar diatap. Naruto dan Sasuke saling pandang. Aura mereka saling beradu. Naruto segera pergi dan masuk kedalam ruangannya. Sakura yang merasakan aura tidak enak sebelum Naruto masuk segera minggir kebelakang menuju pojok ruangan. Dia tahu Naruto sedang bad mood. Setelah Naruto masuk dan mengganti pakaian, Sakura tidak berani menatap ataupun berbicara kepada Naruto. Dia tidak ingin menjadi sasaran.
"Ayo masuk!" kata Naruto yang masih dipenuhi aura hitam dan banyak siku-siku didahinya.
"I-i-iya." jawab Sakura terbata-bata.
Naruto berjalan duluan dan Sakura berada dibelakang Naruto dengan jarak 10 meter. Dia tidak mau berada didekat Naruto sekarang. semua anak yang merasakan aura tidak enak langsung berbalik kebelakang dan menemukan Naruto dengan auranya. Mereka segera berlari masuk menuju kelas mereka masing-masing dan bagi mereka yang terlambat. Sungguh sial bagi mereka. Mereka akan terjatuh dilantai, mereka pingsan akibat tidak kuat merasakan aura yang sangat kuat yang keluar dari tubuh Naruto.
Naruto membuka pintu kelasnya. Semua anak sudah berkumpul dipojok ruangan. Semua tempat duduk kosong. Hanya ada Sasuke yang dududk. Tetapi suasana Naruto sama dengan suasana Sasuke. Aura pekat masih menyelimuti tubuh mereka dan siku-siku didahi mereka tidak hilang. Naruto duduk dikursinya. Sedangkan Sakura ikut berkumpul dipojok ruangan bergabung dengan yang lain. Semua penghuni kelas minus Naruto dan Sasuke merasa tertekan dengan semua ini. mereka benar-benar takut, tidak sedikit dari mereka yang pingsan atau bergetar hebat.
"Mengapa kalian tidak duduk?" tanya Naruto menatap dan tersenyum kepada teman kelasnya. Senyuman itu membuat bulu kuduk mereka semua berdiri.
"Ti-ti-tidak."
BRUK!
Orang yang berbicara itu langsung pingsan.
CKLEK!
"Anak-anak-" suara seorang guru terpotong begitu masuk. Dia dapat merasakan aura yang tidak enak. Setelah satu langkah maju dia dapat merasakan begitu panas dan suram kelas itu. dia menatap Sasuke dan Naruto. Kemudian dia kembali menutup pintu kelasnya. Dia lebih sayang dengan nyawanya, lebh baik dia sekarang langsung ke UKS dan meminta obat penenang.
Semua teman yang ada dikelas akhirnya mempunyai inisiatif untuk keluar. lebih baik berusaha keluar walaupun mereka akan terkena pertemuan aura kuat Naruto dan Sasuke yang bisa menyebabkan mereka pinsan. Daripada berkumpul dipojok ruangan dan merasakan aura mereka semakin bersatu yang membuat mereka merasa panas dan merasa seperti di neraka.
"AKU INGIN HIDUP…." semua anak berlari secara serempak menuju pintu kelas, walaupun ternyata tidak sedikit dari mereka yang tumbang ditengah jalan, karena setelah mereka merasakan pertemuan aura kuat itu, mereka dapat merasakan bahwa pintu kelas itu terlihat seperti sangat jauh dan tidak bisa dijangkau oleh tangan.
Naruto menatap Sasuke, begitupula sebalikya. Hanya tinggal mereka berdua disana. Walaupun kenyataannya tidak, tapi kita anggap semua siswa yang pingsan disana tidak ada. Mereka melempar deathglare mereka masing-masing.
"Kau terlalu lemah." kata Sasuke.
"Melihatmu membuatku ingin segera memukul wajahmu." kata Naruto.
Mereka mengucapkan kata itu bersamaan. Naruto merasa kesal dengan kejadian tadi yang secara tidak sengaja terjadi kecelakaan yang megakibatkan dirinya menjadi korban. Sedangkan Sasuke merasa marah karena orang itu telah secara tidak sengaja menyentuh Naruto bahkan wajahnya telah menyentuh 'itu'. dan itu membuatnya sangat marah dan cemburu. Dia tidak terima tunangannya atau calon istrinya yang belum resmi itu disentuh oleh orang lain, walaupun kejadian itu disengaja ataupun tidak menurutnya sama saja. Tidak boleh ada yang meremehkan dan melecehkan Naruto selama dirinya masih hidup di dunia ini. Naruto dan Sasuke saling melempar senyum menyeramkan mereka dan tangan mereka mengepal dengan sangat kuat.
To be continued
Hahahahaha. Chapter ini selesai. Fyuh… xixixixixixi. Lucu juga nulis cerita ini. maafkan Tsuki karena update lama. Tsuki lagi sedikit sibuk soalnya. Hehehehe. Tapi chapter selanjutnya, Tsuki harap, Tsuki bisa update cepat. Ok, Tsuki tunggu reviewnya… ~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~
