Nakamura Mai Proudly Presents

Detective Conan Multichapter FanFiction

When Shinichi Gone ( Part 1 )

Disclaimer : Detective Conan © Aoyama Gosho

WARNING! : OOC, cerita mudah ditebak, lebay, angst failed, cerita amatiran, mirip sinetron, nggak jelas, abal-abal.

Don't Like Don't Read.

Laboratorium Kimia

Ran masih menatap Miyano. Dengan tatapan yang menunggu jawaban. Ia berharap Miyano akan menceritakan semuanya. Seolah mengerti arti dari tatapan itu, Miyano kemudian angkat bicara.

"Apa yang engkau nanti dari aku?"

"Aku harap kau menceritakan semuanya padaku."

"Memang itu tujuanku," Miyano beranjak dari kursinya. Berjalan sedikit menjauhi Ran, dan mengambil beberapa berkas dari lemarinya.

"Aku memang bertujuan untuk mengembalikan ingatanmu. Hanya saja, untukmu yang menderita amnesia karena tekanan emosi yang berlebihan, membuatku harus menggunakan metode psikologi. Kemarin, aku menanyakan hal ini kepada Prof. Kawaguchi dari Fakultas Psikologi. Teorinya membuatku pusing, sehingga aku tidak yakin metode psikologi akan berhasil, karena ..."

"Kenapa tidak kau ceritakan saja secara langsung padaku?" nada Ran yang sedikit membentak, membuat Miyano berhenti berbicara tentang teori psikologi. Ia menatap Ran tajam.

"Aku memang menyuruhmu untuk memanggilku dengan nama belakangku. Bukan berarti kau boleh seenaknya padaku." Ujar Miyano, dengan nada ketus.

"Tolong, ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Aku merasa tersiksa dengan perasaan ini. Akan kulakukan apapun untuk ini." Ran bangkit dan memohon pada Miyano yang berdiri di depannya.

"Aku akan melakukannya. Tapi perlu kau ketahui, akan terlalu menyakitkan bila aku berbicara hal ini secara langsung." Ujar Miyano meyakinkan. Ran sesaat terlihat berpikir. Namun, pada akhirnya ia meyakinkan dirinya untuk mendengar semua ini.

"Seberapapun sakit yang aku dapat nanti, aku akan siap menerimanya." Jawab Ran dengan mantap. Tatapannya semakin tajam pada Ran.

"Seperti kata Shinichi, kamu memang orang yang keras kepala."

"Jadi, apa yang telah terjadi padaku?" Miyano berjalan ke arah pintu.

"Mari kita bicarakan sambil berjalan saja. Tidak enak rasanya kalau berbicara di dalam laboratorium."

...

Kejadian naas itu, akan kembali terungkap.

Pagi itu, sangat cerah. Sinar matahari masih bisa seenaknya masuk ke dalam jendela kantor detektif yang sedang di bersihkan. Kantor Detektif Kogoro Mouri.

Ran saat itu mengenakan bandana dan celemek, yang selalu ia pakai taktala sedang bersih-bersih. Sesekali ia mengusap keningnya yang berkeringat karena lelah. Namun, ia tetap melakukan pekerjaan rutinnya itu.

Ia tengah membersihkan lemari, ketika Conan masuk ke dalam kantor.

"Ohayo, Ran-neechan." Sapa Conan.

"Ohayo, Conan-kun. Kamu sudah sarapan?" tanya Ran. Conan mengangguk.

"Sup Miso buatan Ran-neechan, tetap enak seperti biasanya." Conan dengan tawa polos anak-anaknya berkata demikian. Ran menatap tawa polosnya itu, tak kuasa untuk ikut tersenyum juga. ' Ah, kawaii!' pikirnya.

"Hahaha, Conan. Tidak biasa kau memuji masakanku. Ada apa masuk ke sini?" tanya Ran. Conan kemudian merogoh sesuatu dari sakunya, dan memberikan secarik kertas padanya.

"Aku temukan ini di kotak surat, dan tertulis untuk Kak Ran." Ran menerima surat berwarna merah yang disodorkannya itu. Ternyata, isinya mampu membuat pipi Ran bersemu.

Dear Ran,

Apa kabar, Ran? Ku dengar kau sedang berusaha untuk lulus dalam ujian masuk Unversitas Beika, kan? Aku mengetahuinya dari bocah berkacamata itu. Aku tidak sempat menanyakan padamu secara langsung, namun kudoakan agar kau sukses.

Ran, masih ingatkah dengan tempat kencan kita waktu itu? Restoran Hotel Beika. Aku ingin mengajakmu makan malam lagi di sana. Aku bisa menjamin padamu bahwa takkan ada kejadian seperti setahun yang lalu.

Tanggal pilihanku, adalah tanggal 23. Siapkan pakaian terbaikmu!

Shinichi Kudo

Tanggal 23. Merupakan hari ulang tahun gadis itu. Cepat-cepat ia melihat kalender yang menggantung di tembok sebelah kirinya. Empat hari lagi, menuju hari itu. Rasanya tidak sabar. Senyum merekah di bibirnya. Ia sangat bahagia.

Di sisi lain, Conan menatap Ran dengan tatapan hangat. Baginya, merupakan suatu kebahagian bisa melihat perempuan yang di cintainya tersenyum bahagia. Ia ingin selalu berada di sampingnya sebisa mungkin, tak ingin terpisah. Walau hanya dengan jalan ini saja, ia dapat melindunginya dari jauh.

Entah kenapa, suasana pagi itu terasa begitu aneh di rasakannya. Padahal ia sedang melihat orang yang di cintainya tersenyum bahagia melihat surat darinya. Pertanyaan besar yang terus muncul di pikirannya.

Hal terakhir yang bisa di lihatnya.

...

Hari minggu itu, Shibuya seperti biasa di penuhi oleh orang-orang. Ran dan Sonoko menuju toko baju langganannya. Tidak seperti biasa, Ran sangat terburu-buru, membuat Sonoko kewalahan untuk mengikutinya.

"Pelan-pelan saja, Ran!" ujar Sonoko, raut wajahnya yang lelah terpancar jelas.

"Ma... maafkan aku, Sonoko." Ia membalikkan badannya dan menghampiri Sonoko yang sedang berada di belakangnya.

"Hmm, apakah ini namanya keajaiban cinta? Keegoisan yang akan tiba-tiba saja muncul di benak kita, dan membenamkan kita ke dalamnya. Kau ini, Ran. Sungguh terlalu!" gerutu Sonoko. Ran hanya tersipu mendengar perkataan sahabatnya itu.

"Mau bagaimana lagi? Aku begini pun, gara-gara Shinichi. Ia memintaku untuk memakai baju yang bagus saat makan malam nanti. Aku gelisah memikirkannya, " ujar Ran sembari berjalan. Kali ini, dengan tempo langkahnya yang biasa.

"Memang, kau akan pergi kemana saat 'kencan' dengan Shinichi?" tanya Sonoko. Pertanyaan yang membuat Ran geli sendiri.

"Rahasia!"

"Wah, kau sudah jelas-jelas menunjukkan bahwa dia adalah suamimu padaku. Biasanya, kau akan berkata ' Sonokoo, ini bukan kencan tahu!' dengan memamerkan wajahmu yang bersemu merah itu. Bukankah begitu?" Sonoko menatap Ran, usil. Ran dengan cemberut, memalingkan wajahnya.

"Saat itu, keadaanya belum sama, kok." Ujar Ran membela diri.

"Belum pada saat Shinichi, secara tidak langsung mengatakan perasaannya. Begitu?" Ran menengok kembali pada Sonoko. Kejadian di London itu ya? Pikirnya. Pipinya kemudian bersemu merah.

"Duh, muka merahmu itu? Aku yakin, kejadian di London itu adalah sesuatu yang sangat indah bagimu. Jangan-jangan, kalian juga akan berencana menikah di London."

"Ahh, diamlah Sonoko!"

"Ahh, mukamu semakin merah!"

"Sonoko!"

...

Conan Edogawa, saat ini sedang berada di rumah Prof. Agasa. Ia tengah asyiknya bermain internet. Melihat hal itu, Haibara kemudian menegurnya.

"Lho, Kudo-kun. Sedang apa di sini?" tanyanya.

"Kantor sedang tidak ada permintaan kasus. Jadi, sekali-kali boleh kan, seorang detektif santai sedikit?" Conan bertanya balik pada Haibara, tanpa mengalihkan pandangannya dari monitor.

"Terasa aneh saja bila melihatmu sedang santai."

"Ya. Sebenarnya, aku juga tidak sedang dalam keadaan santai. Aku tengah menyelidiki kasus mengenai 'mereka'. "

"Maksudmu, anggota jubah hitam?," lelaki kecil itu mengangguk. Ia kemudian turun dari kursi komputernya, dan berjalan ke arah meja tamu. Ia memperlihatkan koran hari ini yang tersimpan di sana.

"Kau tahu kasus kode mahyong* yang sedang ramai pada minggu-minggu ini?," ia menyerahkan koran itu kepada Haibara.

"Tentu saja aku tahu. Kasus pembunuhan secara acak, dimana pelaku dengan 'belagu'-nya meletakkan kode mahyong di samping korban, sebagai ejekan untuk polisi," Conan tersenyum kecil ketika mendengar satu kata terlontar dari mulut tajamnya.

"Bukan sebuah ejekan saja, juga merupakan tantangan si pelaku untuk polisi. Dan, kasus ini memang bukanlah kasus yang harusnya di anggap sepele. Karena itulah, aku menyuruh Paman Takagi untuk tidak menawarkan kasus ini pada Paman Kogoro."

"Aku yakin, Paman Takagi tidak akan menawarkan kasus ini dari Kogoro, apalagi karena perintah darimu. Tapi bagaimana dengan anggota kepolisian yang lainya?"

"Bukan Shinichi Kudo kalau aku tidak mengantisipasi semua itu. Aku sudah menggunakan suara paman dan menelepon ke kantor polisi untuk menolak kasus itu. Aku juga sudah yakinkan Paman Kogoro untuk tidak menerima kasus itu." Ujarnya bangga.

"Bagaimana caranya?," Haibara menatap heran.

"Dengan memberikan daftar acara kesukaan paman yang berlangsung selama dua minggu. Aku katakan padanya jika ia gunakan waktunya untuk kasus saja, ia akan melewatkan semuanya."

"Bagaimana dengan Ran? Bukankah ia orangnya sangat sensitif apabila ayahnya menolak pekerjaan memecahkan kasus."

"Ia memang menolak keras. Tapi, beruntung Paman Kogoro dapat meyakinkannya. Sudahlah, bukan itu yang akan ku bahas," menyadari bahwa pembicaraanya sudah melebar kemana-mana.

"Akupun berpikir demikian. Jadi, apa hubungan kasus ini dengan organisasi hitam?" Conan dan Haibara duduk berdampingan. Conan menghela napasnya lebih dulu sebelum memulai ceritanya.

"Ya, untuk itulah aku menggunakan internet di komputer profesor untuk mencari berita mengenai kasus ini," Conan membuka buku catatannya. " Ini adalah daftar orang yang mati secara misterius dalam kasus ini." Ia memperlihatkan catatannya itu pada Haibara. Haibara memperhatikan deret nama yang di sajikan di depannya. Ia tampak sangat teliti, sampai pada akhirnya ia menemukan sesuatu yang membuatnya sedikit tersentak.

" Adakah salah satu dari mereka yang sangat kau kenal?"

Haibara mengangguk," Aku pernah mengenal orang yang bernama Masato Fuyumi ini. Namun, ia tidak terlalu ada hubungannya dengan organisasi. Aku sempat kaget melihat namanya ada di daftar yang kau buat."

"Tidak. Justru ia ada hubungannya dengan organisasi, bahkan ia ada hubungan kuat dengan Vermouth." Saat mendengar nama Vermouth disebut, jantung Haibara berdetak lebih cepat.

"Ve... vermouth? Apa maksudmu?"

"Ketika aku melihat kasus ini, terpaksa aku juga harus mencari kebenaran kasus ini dengan mengetahui latar belakang korban itu sendiri. Ketika aku tengah mencari tahu tentang Masato, aku menemukan sebuah pengamatan yang membuat adrenalinku meninggi." Haibara dengan tatapan cemas, menanti kelanjutan cerita Conan.

"Aku melihat Vermouth tengah asyiknya mencari-cari sesuatu di sana. Aku yakin sebenarnya ia menyadari keberadaanku, namun tetap membiarkanku. Akhirnya, beberapa menit kemudian ia menemukan sesuatu yang dicarinya itu."

"Apa itu?"

"Ternyata, sebuah kartu memori. Ia sengaja memberitahukanku dengan melalui pembicaraannya dengan Gin di telepon. Ia sengaja dengan keras mengatakan, bahwa kartu memori itu berisi data penawar APTX 4869."

"Jangan bilang, kalau kau ingin mengambil kartu memori itu!"

"Mau bagaimana lagi? Inilah saatnya. Itu alasannya aku meminta paman untuk tidak menerima kasus ini. Terlalu berbahaya." Tiba-tiba, Haibara memegang tangan Conan cukup keras. Ekspresi kekhawatiran muncul pada wajah manisnya itu.

"Kumohon Kudo, jangan pernah melakukan hal berbahaya lagi. Cukup sudah dengan semua bahaya yang kau dapat akibat berhadapan dengan mereka." Sejenak Conan menatap Haibara, dan kemudian perlahan melepaskan pegangan tangan Haibara, dan membalasnya dengan lembut.

"Tenang, Haibara. Aku akan baik-baik saja. Lagipula, aku sudah terlibat jauh dengan permainan mereka. Akupun sebenarnya ingin segera kembali ke wujudku yang asli, karena satu alasan," ia melepas pegangan lembutnya. Ia menatap langit-langit rumah itu sejenak, kemudian menunduk lemas.

"Kau menjadi semakin melankolis saja setelah berpacaran dengan Ran." Ejek Haibara. " Gadis itulah yang membuatmu hanyut seperti ini. Bukankah lebih baik menunggu saja 9 tahun lagi. Saat itu kau sudah 17 tahun dan Ran berumur 27 tahun, kalian sudah dewasa. Kalian bisa menjalin kasih kapan saja," Conan menatap Haibara, seperti terperangah.

"Benar sekali. Namun, dengan itu ia harus membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menunggu. Aku tak mau membiarkannya terus menunggu. Itu juga berarti, dunia tidak akan pernah damai, dan kau tetap tidak aman."

"Kudo-kun."

"Bukankah kau juga ingin membalaskan dendam kakakmu? Lebih baik kau mendukungku."

Aku tak mau kau menghilang, Kudo-kun, pikirnya.

Sinar senja, masuk melalui jendela rumah menerpa wajah melankolis seorang detektif yang terlalu mencintai kekasihnya itu. Sherlock Holmes, yang amat mencintai Irene Adler-nya.

"Jadi, kau takkan melarangku bukan? Kumohon, jangan halangi aku untuk saat ini." Haibara mendengar permintaan itu kemudian hanya mengangguk pasrah.

"Baiklah, tapi kami tidak mau kehilanganmu."

"Haibara, kau berbicara seperti itu seakan-akan aku akan mati esok. Tidak sopan!" ujar Conan, kembali ke nada biasanya. Haibara tersenyum pahit.

Suasana saat itu hening. Hanya kicau burung sore yang terdengar jelas di telinga mereka. Keheningan mendalam, mendalami perasaan masing-masing. Haibara. Ia tidak dapat mengerti akan perasaannya ini. Ada apa? Apa yang akan terjadi?

Semua ini mengenai takdir.

...

Taman Universitas

Ran menunduk, mencoba menahan harunya. Ia tidak bisa menahannya sama sekali. Entah apa yang dirasakannya saat itu juga. Ada penyesalan dalam dirinya, yang amat besar. Miyano menatap pemilik hati rapuh itu dalam. Ia ingin juga merasakan apa yang di rasakannya saat ini. Namun, ia tidak bisa.

Miyano menatap langit sore musim semi. Entah kenapa, ia teringat akan kata-kata yang pernah ia ucapkan pada detektif itu.

Kami tidak ingin kamu menghilang.

Apa ia tidak mengerti? dasar bodoh!, makinya dalam hati. Namun, makian itu sepertinya tidak ada gunanya sekarang.

Luruh dari pelupuk matanya. Ia juga merasakan apa yang di rasakan si pemilik hati rapuh itu.

Kau tahu, hati wanitamu ini sangat rapuh, Shinichi.

Next : When Shinichi Gone ( Part 2 )

Coretan (tidak) penting, seorang author T.T ! –-

Tes, tes, 1, 2, 3. Ehem...ehem. #check sound

Akhirnya, sampai juga di part 1. Saya hampir saja mati kutu karena kehabisan ide di tengah ceritanya, dan akhirnya berakhir dengan cerita gak jelas saat perbincangan haibara dan conan. Habisnya saya sendiri tidak mengerti harus memulai dari mana klimaks akan dimulai. Jadi, jalan pintasnya cuma kasus dadakan yang sebelumnya tidak di ceritakan dalam cerita.

Maaf jikalau ada kejanggalan dalam penciptaan klimaks. Apalagi saya bukanlah ahli pembuat klimaks yang bagus. Jujur, saya benci konflik. Sebisa mungkin saya itu orangnya ingin menciptakan karakter yang damai tanpa masalah. Nggak kayak sinetron #jadi curhat?.

Kasus kode mahyong sendiri, saya dapatkan inspirasinya dari Detective Conan Movie 13. Kata-kata Haibara mengenai umur itu saya copas, dari kata-katanya Haibara di Detective Conan Live Action 2.

Kritik dan saran positif, kembali di tunggu oleh saya. Jangan terlalu pedas, dan jangan terlalu asin ( emangnya mau pesen baso? ). Tolong di review.

Terimakasih telah membaca.

Mata Ashita!

Nakamura Mai